August 31, 2022

LONTARA BILANG RAJA BONE KE-16

Lontara Bilang (catatan harian raja) merupakan naskah yang biasanya ditulis langsung oleh raja (penguasa) yang bersangkutan atau ditulis oleh orang-orang di sekitar raja. Isi naskah Lontara Bilang berisi catatan peristiwa yang tersusun sangat rinci berupa informasi nyata berdasarkan fakta/kejadian yang sebenarnya yang berlangsung pada saat itu, seperti hari, tanggal, bulan, dan tahun Masehi maupun Hijriah. 

Catatan peristiwa di dalam Lontara Bilang bukan hanya memuat keterangan tentang kunjungan dan kematian, tetapi juga kelahiran, perkawinan dan peristiwa lain di kalangan keluarga raja. Selain itu urusan kenegaraan, ekspedisi perang, perjanjian, peristiwa tentang gejala alam yang dianggap luar biasa (gempa bumi, gerhana matahari/bulan).

Buku LONTARA BILANG (CATATAN HARIAN) RAJA BONE KE-16 LA PATAU MATANNA TIKKA WALINONOE MATINROE RI NAGAULENG (JANUARI 1692 - SEPTEMBER 1714) berisikan naskah India Office Library (IOL) Bugis dalam bentuk manuskrip yang ditulis dalam aksara lontara. Naskah ini memuat secara lengkap informasi sejarah penting dalam kurun waktu (tahun 1692 - 1714) pada masa pemerintahan Arung Palakka sampai La Patau Matinroe ri Nagauleng. 

Di dalam naskah ini terdapat dua peristiwa penting dalam kurung waktu tahun 1692-1714 yakni: 1) wafatnya Arumpone (raja Bone) Arung Palakka Petta To Risompae; 2) suksesi/pemilihan La Patau Matinroe ri Nagauleng menjadi raja Bone menggantikan pamannya. 

Selain itu ada berbagai macam peristiwa yang melibatkan banyak orang atau lebih bersifat umum dan mencakup bidang yang luas karena isinya bukan hanya berisikan peristiwa sehari-hari, seperti jalan-jalan, berburu rusa, menyambung ayam dan lain-lain. Selain itu, berisi catatan peristiwa yang bersifat politis dan diplomatis. Beberapa peristiwa-peristiwa berikut:

  1. Musyawarah dalam pengambilan keputusan. Dalam naskah ditandai dengan adanya kata "nasitudangeng" yang artinya duduk bersama untuk membicarakan sesuatu.
  2. Raja berhak menetapkan dan memutuskan bahwa seorang yang berbuat kejahatan menjadi terpidana mati. Dalam catatan harian ini ada tiga peristiwa yang dicatat yang berkaitan dengan orang yang dibunuh karena perintah raja. Dalam naskah ditandai dengan adanya kalimat "kuassuro mpunoi”.
  3. Peristiwa perang dan penguasaan atas wilayah kerajaan lain. Dalam catatan harian ini disebutkan peristiwa penyerangan Bone terhadap Toraja dan Mandar yang dipimpin langsung oleh penulis dalam hal ini La Patau Matanna Tikka' MatinroƩ ri Nagauleng.

Selanjutnya, Lontara Bilang IOL Bugis juga berisi hal-hal yang berkaitan dengan diri pribadi dan keluarga. Di samping itu, aktivitas yang berhubungan dengan ritual atau upacara, yaitu ritual yang berhubungan dengan ibadah dan ritual yang berhubungan dengan pesta. Adapun ritual yang berhubungan dengan ibadah adalah: 1) awal bulan Ramadhan (puasa pertama); 2) hari raya Idul Fitri, Idul Adha; 3) Maulid Nabi Muhammad S.A.W; 4) dan perayaan hari Asyura.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARA BILANG (CATATAN HARIAN) RAJA BONE KE-16 LA PATAU MATANNA TIKKA WALINONOE MATINROE RI NAGAULENG (JANUARI 1692 - SEPTEMBER 1714)
Penyusun: Basiah
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-623-200-106-0


SEJARAH DAERAH SINJAI

Daerah Sinjai sebagai salah satu ibukota Kabupaten di Sulawesi Selatan, tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini, mempunyai latar belakang sejarah masa lampau. Sinjai pada masa lampau dikenal sebagai pusat Kerajaan Tellu LimpoE, yakni Tondong, Bulo-Bulo dan Lamatti. Namun dalam perjalanan waktu berikutnya Sinjai berada di bawah pengaruh dua kerajaan besar yang mengapitnya yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. 

Laporan Penelitian SEJARAH DAERAH SINJAI membahas membahas sejarah perkembangan daerah Sinjai dari berbagai aspek yang kompleks dengan berbagai permasalahan seperti pertumbuhan, perkembangan, pemerintahan, budaya, agama/kepercayaan, organisasi kemasyarakatan, hubungan daerah luar dan lain-lain

Sinjai pada masa awal perkembangan yang dimulai penyelidikan tentang penduduk pertama; mitos to - manurung; dan penamaan Sinjai. 

Persekutuan kerajaan-kerajaan Tellu Limpoe mengenai Tondong Bulo-Bulo Lamatti; Masuknya Islam dan Proses Islamisasi; serta Hubungan dengan Kerajaan Tetangga.

Sinjai dari abad ke-19 hingga terbentuknya Daerah Tingkat II Sinjai mengenai perlawanan terhadap Belanda hingga tahun 1942; Sinjai dari masa pendudukan Jepang hingga Revolusi Kemerdekaan; serta Masa transisi pemerintahan ke sistem republik sistem pemerintahan kolonial.

Sinjai sesudah terbentuknya daerah Tingkat II di mulai pada periode masa jabatan BKDH Sinjai Abdul Latief  tahun 1960-1963; periode masa jabatan BKDH Sinjai A. Azikin tahun 1963-1967; periode masa jabatan BKDH Sinjai Drs. H. Muh. Nur Tahir tahun 1967-1971; serta periode masa jabatan BKDH Sinjai Drs. Andi Bintang M tahun 1971-1983.

Buku ini menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala' salapang-Makassar.


SEJARAH DAERAH SINJAI
Penyusun: H. Abu Hamid, Amiruddin, Halilintar Lathief
Penerbit: Pemerintah Daerah Sinjai dengan Yayasan Kebudayaan "Pusaka Sinjai"
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2002

August 30, 2022

CARITA TAU KONJO riolo na kunni-kunnina

Masyarakat Konjo mendiami daerah perbatasan desa-desa yang berbahasa yang berbahasa Bugis dan Makassar. Masyarakat suku Konjo terdiri atas dua kelompok yaitu KONJO PEGUNUNGAN, mendiami daerah pegunungan Kabupaten Barru, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Gowa, Kabupaten Sinjai dan Bulukumba di sekitar pegunungan Latimojong Bulukumba di pesisir teluk Bone. Sebagai upaya pelestarian bahasa daerah masyarakat Konjo yang berada di kawasan timur Kabupaten Bulukumba melalui tulisan-tulisan bahasa daerah tentang dongeng, kisah, sejarah dan nasehat. 

Buku CARITA TAU KONJO riolo na kunni-kunnina: Karangang Nukaminang Balloa merupakan hasil Pa'tandingang A'karang Bicara Konjo yakni sayembara mengarang cerita bahasa daerah orang Konjo khususnya mengungkapkan liku-liku hidup orang Konjo terdahulu. Berikut hasil sayembara tersebut:

  • Dongeng atau Cerita Fiksi
  1. Susa Nibalasa Rannu (Susah dibalas gembira) oleh Muh. Ilyas 
  2. Saba' Narie' Nikua Ata Sossorang (Sebabnya ada budak keturunan) oleh Abd. Wahid DM 
  3. Gori-Gori Katimbusang (Tempayan ajabi) oleh Muhammad Syurkati
  4. iPadosa oleh Tajudding dengan Tonang
  5. Asu Bolong (Anjing hitam) oleh Tamrin dengan Bonro' 
  6. Tuborroa (Orang berlebih-lebihan) oleh Alimin bin Kampang
  • Sejarah dan Pengalaman
  1. Kajariang Anumaing Nigaukang (Keadaan yang pernah dilaksanakan) oleh Hasanudding 
  2. A'rungang Katallasanna iAbd. Halil (Jalan kehidupan Abd. Halil) oleh Abd, Halil
  3. Pu Tamparang na Pu'Binanga (Bapak laut dan Ibu Kuala. oleh Tallasa Lalo
  4. Saba'na Nikua Hila-Hila (Sebabnya dikatakan Hila-Hila) oleh Hasan M.
  5. Ri Bungasa'na Rie' Nikua Hero na Ada Pa buntinganga (Pertama kala ada Hero dan adat perkawinan) oleh Syamsul Alam.
  • Nasehat, Pengajaran, dan Nyanyian
    1. Tau Nipela' ri Ana'na na Nipainro Pole (Orang yang dibuang dn dikembalikan juga oleh anaknya) oleh Parenrengi Wahaf
    2. Pa'painga' iareka Pa'deppo' Mange ri Tau Buntinga oleh Muh. Nasir H. 
    3. Pasang Tau toa Naturuki oleh Baso' 
    4. Kelong Tradisional oleh Nurman dan Asdar

    Buku ini salah satu jalan untuk mengingat dan mempelajari cerita nenek moyang yang sudah lampau, dan sebagai pelajaran bagi anak-anak masa sekarang, khususnya anak-anak orang Konjo dan  menjadi  koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    CARITA TAU KONJO riolo na kunni-kunnina
    Karangang Nukaminang Balloa
    Redaktur: Timothy Friberg, Barbara Friberg, UNHAS-SIL
    Penerbit: Kantor DEPDIKBUD Kabupaten Bulukumba
    Tempat Terbit: Bulukumba
    Tahun Terbit: 1990





    August 29, 2022

    ANDI BURHANUDDIN: Riwayat Hidup dan Perjuangannya

    Andi Burhanuddin (alm) adalah tokoh sejarah yang dikenal kepeloporannya dalam perjuangan kemerdekaan (1944-1951), bukan hanya di daerah Pangkep tapi juga pada tingkat kawasan Sulawesi Selatan, bahkan beliau pernah menjadi orang nomor satu, sebagai Gubernur Sulawesi (1954-1955). Andi Burhanuddin-lah yang pertama kali mengumumkan secara resmi bahwa Pangkep (Pangkajene dan sekitarnya) adalah bagian dari NKRI, dalam bulan September 1945 dan hal tersebut beliau tindak lanjuti dengan pendirian Barisan Pemuda Merah Putih (BPMP), wadah kelaskaran pejuang sebagai resistensi terhadap upaya masuknya kembali Belanda yang ingin kembali menjajah dengan membonceng pada pasukan sekutu / NICA.

    Ketika Andi Burhanuddin  ditempatkan sebagai residen diperbantukan di Kantor Gubernur Sulawesi (1946-1953), beliau bersama-sama pejuang kemerdekaan lainnya seperti Dr Ratulangi, Lanto Daeng Pasewang, Henk Rondonuwu, A. Karim Dg Manaba, H. A. Patoppoi, H. Mattewakkang Karaeng Binamu bahu membahu dalam perjuangan politik lewat diplomasi, kepartaian, dan parlemen untuk menekan sekutu/Belanda serta membubarkan negara boneka bentukannya, Negara Indonesia Timur (NIT). Tidak hanya itu Andi Burhanuddin pun berperan penting dalam lapangan pemerintahan dan pembangunan paska pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS) dan stabilitasi pemerintahan daerah.

    Dari berbagai catatan sejarah yang ada tersebut, Andi Burhanuddin tidak hanya perlu dihargai dengan pengangkatannya sebagai PNS tetap yang telah diperolehnya di akhir masa tuanya, ataupun hanya sekedar pengakuan sebagai anggota veteran pejuang kemerdekaan RI Golongan "A" dengan nomor anggota (NPV) 433105 / P, ataupun penghargaan sebagai tokoh sejarah yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang Makassar, tapi beliau layak dan pantas mendapatkan pengakuan nasional secara resmi dari Pemerintah RI sebagai "Pahlawan Nasional" asal Kabupaten Pangkep.

    Buku ANDI BURHANUDDIN: Riwayat Hidup dan Perjuangannya sebagai salah satu perintis dan pejuang kemerdekaan RI Angkatan 45 dalam wilayah Sulawesi Selatan. Berikut beberapa dokumen yang diperoleh Andi Burhanuddin:

    • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin telah pernah/telah bekerja sebagai Ketua Dewan Daerah Sulawesi Selatan, Anggota Parlemen Negara Indonesia Timur, dan Anggota Panitia Penyelesaian Pembubaran Negara Indonesia Timur sejak tanggal 1 Januari 1950 s.d 1 Februari 1951.
    • Pengakuan Pemerintah R.I. cq. Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi bahwa Andi Burhanuddin adalah veteran pejuang Kemerdekaan R.I.
    • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin tidak pernah terlibat dalam G30S/PKI.
    • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin pernah menjadi anggota staf Gubernur Sulawesi Selatan alm. Dr. Ratulangi di Makassar sejak 1 April s.d. 1 Januari 1950.
    • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin telah/pernah bekerja sebagai KLERK pada Contreal Kantor Landschapskassen di Makassar sejak tanggal 1 Januari 1939 s.d. 23 Maret 1942.
    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    ANDI BURHANUDDIN: Riwayat Hidup dan Perjuangannya
    Penulis: M. Farid W. Makkulau
    Penerbit: Pemerintah Kabupaten Pangkep
    Tempat Terbit: Pangkep
    Tahun Terbit: 2007



    KELASKARAN DI MANDAR SULAWESI BARAT

    Pembentukan organisasi perjuangan berupa kelaskaran, tidak hanya bertujuan untuk menentang kehadiran dan usaha NICA (Nederland Indische Civil Administratie) yang hendak memulihkan kembali kedudukan pemerintahan kolonial Belanda di wilayah bekas jajahan (Hindia Belanda). Akan tetapi juga bertujuan menegakkan, membela, dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, pembentukan organisasi kelaskaran tersebut juga dilatarbelakangi oleh sikap Sekutu yang tidak mengakui sepenuhnya proklamasi kemerdekaan dan pemerintahan Republik Indonesia. 

    Buku KELASKARAN DI MANDAR SULAWESI BARAT berusaha mengungkapkan peran organisasi kelaskaran (Kris Muda Mandar dan GAPRI) 1945-1950 dalam perjuangan menentang kehadiran dan usaha NICA yang hendak memulihkan kembali kedudukan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga dalam perjuangan membela dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di daerah Mandar. Daerah ini merupakan salah satu basis perlawanan yang paling gigih terhadap NICA di luar Jawa. Itulah sebabnya daerah ini dinyatakan dalam keadaan darurat perang (staat van orlogen beleng) oleh pemerintah Belanda dan menjadi salah satu sasaran dari pasukan Westerling ketika melancarkan aksi militer di jazirah selatan Sulawesi.

    Perlawanan yang ditampilkan oleh rakyat melalui kedua wadah perjuangan tersebut, menunjukkan bahwa proklamasi kemerdekaan dan pembentukan negara Republik Indonesia yang dicanangkan tokoh-tokoh pendiri negara adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat di daerah Mandar kini telah yang menjadi Provinsi Sulawesi Barat. Perjuangan rakyat secara menyeluruh itulah yang telah mengabsahkan proklamasi kemerdekaan dan pembentukan negara Republik Indonesia. Sebab jika rakyat Indonesia tidak bangkit berjuang dengan jiwa kesatria dan semangat nasionalisme Indonesia, niscaya kemerdekaan dan pembentukan negara Republik Indonesia tidak dapat terwujud. 

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang- Makassar yang memuat data dan fakta kesejarahan selama perang kemerdekaan.


    KELASKARAN DI MANDAR SULAWESI BARAT
    Kajian Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
    Penulis: Muhammad Amir
    Penerbit: Kerja sama Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar dengan 
    Penerbit Dian Istana
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2010
    ISBN: 978-602-96815-3-6




    August 25, 2022

    YUSRIL VERSUS CRIMINAL JUSTICE SYSTEM

    YUSRIL VERSUS CRIMINAL JUSTICE SYSTEM karya Prof. Dr. Achmad Ali, S.H., M.H ini bukanlah buku yang sepenuhnya ilmiah, tapi sekedar bacaan ringan yang ditujukan bagi masyarakat Indonesia. Meskipun bukan bacaan populer dan genrenya disenangi oleh seluruh pihak, buku ini sarat akan ilmu pengetahuan mengenai Criminal Justice System atau Sistem Peradilan Pidana. Buku ini dimaksudkan agar masyarakat luas dapat lebih mengenal CJS di Indonesia dan bagaimana amburadulnya realitas penegakan hukum di Indonesia. Salah satu contoh dari berantakannya hukum di Indonesia adalah fenomena pengalihan isu oleh para koruptor dan rekayasa isu dari para penegak hukum.

    Referensi penulis buku banyak mengambil acuan dari karya Marwan Effendy yang berjudul “Kejaksaan RI : Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. Menurut penulis, karya tersebut adalah literasi terbaik yang membahas mengenai kejaksaan dan disusun secara ilmiah pula. Tidak hanya itu, acuan tersebut juga memuat teori tentang Negara Hukum yang sangat pas untuk dibaca oleh para mahasiswa S3 Hukum pada mata kuliah “Konstruksi Teori Hukum”. Buku ini juga terinspirasi dari tokoh-tokoh lainnya yang berpengaruh pada sistem hukum yang ada di Indonesia.

    Penulis mengaitkan buku ini dengan Yusril Ihza Mahendra karena dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Agung RI. Penulis berharap agar penyidik memeriksa dengan baik dan professional serta memberikan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) kepada Yusril jika tidak memiliki bukti yang kuat selama masa pemeriksaan.

    Seseorang hanya dapat dianggap bersalah ketika keputusan hakim telah bersifat in kracht van gewijsde (berkekuatan hukum tetap)  dan telah benar-benar terbukti kesalahannya, seperti yang dikatakan oleh Charles Louis de Montesquieu bahwasanya kalimat-kalimat hukum harus bermakna sama terhadap seluruh manusia.

    Buku ini berisi beberapa tulisan yang ditulis sendiri oleh Achmad Ali yang dibagi ke dalam 8 bab dan dilengkapi dengan Epilog. Inti buku ini adalah mengharapkan agar semua petinggi Negara, petinggi hukum, penegak hukum dan warga masyarakat menghormati keseluruhan asas-asas hukum, norma-norma hukum dan aturan hukum yang berlaku di Negara ini, tidak hanya menjadi lip service semata. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

     

    YUSRIL VERSUS CRIMINAL JUSTICE SYSTEM

    Penulis : Prof. Dr. Achmad Ali, S.H., M.H

    Penerbit : Umitoha Ukhuwah Grafika

    Tempat Terbit : Makassar

    Tahun Terbit : 2010

    ISBN : 978-602-8828-02-4

    SUREK MANAJENG TOGAGGANA TANA WAJO

    La Toa merupakan sastra yang berbentuk prosa seperti istirahara, Indra Putra, Saehe Maradang dan sebagainya. Sedangkan puisi adalah sastra yang bersifat terikat, memiliki syarat-syarat tertentu, khususnya puisi klasik "gubahan Galigo". Gubahan Galigo terdiri dari tiga baris, masing-masing baris terdiri dari delapan, tujuh, enam (8,7,6) huruf aksara lontara. Jenis-jenisnya antara lain: Galigo, Elong, Moseng, Enjaeja, Ulu Ada dan termasuk Tolok, Meongpalo, Manajeng dan sebagainya.

    Salah satu sastra yang berbentuk puisi yang perlu diangkat adalah "Surek Manajeng To Gagaggana Tana Wajo". Manajeng adalah salah satu bentuk karya sastra daerah di daerah etnis Bugis yang bertendensi roman (roman Bugis). Bahasanya indah menarik dan termasuk puisi yang memiliki syarat-syarat tertentu. Manajeng merupakan untaian kalimat bersambung seperti bacaan yang berbentuk prosa. Pada Manajeng, setiap kalimatnya terdiri atas delapan (8) huruf aksara lontarak, sama dengan Tolok dan Meongpalo Karellae.

    Buku SUREK MANAJENG TOGAGGANA TANA WAJO Transliterasi dan Terjemahan Naskah Tua merupakan  milik I Seni (almarhuma), tante saudara Muhammad Hatta yang berdomisili di Siwa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

    Isi Surek Manajeng bersifat romantis. Mempunyai hubungan erat dengan suasana hati, perasaan dan pikiran bagi orang yang melahirkannya. Kata- katanya amat halus, indah dan menarik. Kalimatnya padat dan tepat kepada sasarannya. Sebab itu surek Manajeng merupakan media komunikasi untuk mencurahkan perasaan dan pikiran kepada seseorang. Pemegang peran dalam Manajeng tersebut, ialah seorang bangsawan yang terpikat hatinya terhadap seorang gadis pujaan yang bernama Bunga Sitambol. Informasi di kalangan keluarga terdekat I Seni, menyebutkan bahwa bangsawan di maksud adalah turunan Petta Ranreng Talotenreng Andi Samalangi. Dia memiliki beberap nama samaran dengan gelar: arung lolo magaggae, passaung lele pojie, betta lele angkurue, puanna sengerengede. Kesemuanya itu bermakna gagah, yakni bahasa yang benilai sastra.


    SUREK MANAJENG TOGAGGANA TANA WAJO 
    Transliterasi dan Terjemahan Naskah Tua 
    Penulis: H. Palippui, Muhammad Hatta, Aminuddin Palippui
    Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
    Tempat Terbit: Ujung Pandang
    Tahun Terbit: 1993


    KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT

    Orang Toraja hidup di kawasan pegunungan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Akar-akar agama tua mereka, aluk toyolo, berasal dari masa sebelum agama Hindu dan agama Buddha masuk di Indonesia sekitar 1500 tahun lalu. Aluk toyolo memiliki ciri-ciri yang berhubungan dengan perbedaan antara unsur-unsur perempuan dan laki-laki. 

    Buku KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT membahas kosmologi dan klasifikasi ritual-ritual keagamaan Toraja Mamasa yang berhubungan dengan kepercayaan orang terhadap dewa-dewa serta berkat yang diharapkan oleh orang yang menjalankan ragam ritualnya. 

    Pembahasan selanjutnya mengenai struktur kepercayaan lama orang Toraja, seperti ritual kematian, ritual perkawinan serta ritual kelahiran. Pada ritual kematian yang sangat khusus bagi golongan bangsawan dari kasta tinggi, yaitu pendirian tugu-tugu batu, yang menegaskan status khusus dari yang meninggal itu semasa hidupnya.

    Beberapa ritual sebagai upaya memahami struktur dalam upaya memahami struktur kepercayaan orang Toraja, ritual tersebut antara lain: ma'dondi, mekolong dan pa'bisuan.

    • Ma'dondi: ritual yang berlangsung di sawah di mana wanita mengundang laki-laki dengan memberi isyarat untuk berpartisipasi dengan mereka
    • Mekolong: ritual yang memisahkan ritual kematian dan ritual kehidupan. 
    • Pa'bisuan: ritual perempuan yang dipimpin oleh pendeta perempuan toburake di mana perempuan bergabung dengan dewa-dewa belantara.

    Selain itu juga membahas fungsi dan jabatan dari imam perempuan, toburake, yang memimpin ritual-ritual tersebut. Terdapat pula ritual 'berburu kepala' oleh kaum laki-laki, bulu londong, yang masih dijalankan di daerah Mamasa. 

    Buku ini merupakan hasil studi antropologi yang dipertahankan di Up Leiden, Belanda, pada tahun 2004 dengan judul Powers of E from the Wilderness and from Heaven. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7- Makassar.


    KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT
    Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja
    di Mamasa Sulawesi Barat

    Judul asli: Powers of transformations in the religion of the Toraja
    in the Mamasa area South Sulawesi

    Penulis: Kees Buijs
    Penerjemah: Ronald Arulangi
    Penerbit: Ininnawa
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2009
    ISBN: 978-602-95231-2-6


    August 23, 2022

    PERLAWANAN LAPPALOGE WATAN LIPU/PANGLIMA PERANG KERAJAAN SOPPENG TERHADAP BELANDA

    Semenjak kedatangan Belanda di Indonesia, sejak itu pula selalu mendapatkan perlawanan dari raja-raja. Keadaan inilah yang mendorong pemerintah Belanda berusaha mempelajari keadaan dan kondisi setiap daerah yang dikunjungi. Sehingga kedatangannya di daerah Pemerintahan Kerajaan Datu Soppeng dengan saksama terlebih dahulu berusaha mendapatkan informasi tentang letak atau pusat pangkalan dari Menteri/Panglima Angkatan Perang Datu Soppeng, yaitu Watan Lipu La Palloge.

    Dalam usaha mempertahankan kedaulatan Kerajaan Soppeng terhadap campur tangan pemerintah Kolonial Belanda, maka La Palloge selaku Menteri/Panglima Kerajaan Soppeng sangat menentang kehadiran Belanda dalam daerah kekuasaan Kerajaan Soppeng. Hal ini didasarkan oleh beberapa faktor, seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.

    Dalam menghadapi pasukan militer Belanda, sistem perlawanan yang digunakan oleh La Palloge, ada tiga macam yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiga macam bentuk perlawanan tersebut adalah penggalangan massa, taktik dan strategi perang gerilya dan bekerja sama dengan raja-raja terutama dari daerah daerah terdekat. Sistem penggalangan massa, yaitu dengan cara menggalang persatuan bersama rakyat dengan membentuk pasukan inti atau pasukan khusus, yaitu pasukan pembunuh yang berani mati yang tidak kenal mundur atau menyerah, dikenal dengan nama pasukan passiuno. 

    Sedangkan taktik dan strategi sistem perang gerilya yaitu menghindari pertempuran secara frontal dengan pasukan militer Belanda yang memiliki peralatan persenjataan yang lebih lengkap dan modern serta dengan taktik perang yang sudah cukup terlatih dan berpengalaman di medan perang.

    Selanjutnya sistem kerja sama dengan raja-raja di Sulawesi Selatan yang juga menentang kehadiran imperialisme dan kolonialisme Belanda, terutama hubungan raja-raja terdekat.

    Pasukan La Palloge berusaha menempati tempat-tempat yang strategis, seperti pada puncak puncak gunung atau tempat ketinggian serta persimpangan persimpangan jalan yang diperkirakan akan dilewati pasukan tentara Belanda. dalam usahanya menyerang untuk merebut pusat pertahanan La Palloge.

    Demikian pula, penggalangan massa dalam rangka propaganda untuk melakukan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda tersebut tidak mengalami kesulitan, karena di kalangan masyarakat daerah wilayah kerajaan Soppeng, masih sangat kuat berlaku budaya panutan yang lazim disebut "Polo pang, polo panni, assalaeng puangkumuwa, narekko naposirini puatta, napomatennitu joana". Artinya, saya merelakan paha dan sayap atau tangan saya patah, asalkan demi membela rajaku/pemimpinku, kalau rajaku sudah merasakan sesuatu yang memalukan, maka rakyat/pengikutnya sudah harus bersedia mati.

    Buku PERLAWANAN LAPPALOGE WATANLIPU/PANGLIMA PERANG KERAJAAN SOPPENG TERHADAP BELANDA membahas perlawanan pahlawan khususnya putera-putera Soppeng yang telah berjasa dan berkorban demi membela dan mempertahankan bangsa dan daerahnya dari serangan-serangan kerajaan lain atau bangsa lain. Buku ini merupakan salah sati koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    PERLAWANAN LAPPALOGE WATANLIPU/PANGLIMA PERANG KERAJAAN SOPPENG TERHADAP BELANDA
    Penulis: Nonci
    Penerbit: CV. Aksara
    Tempat Terbit: Makassar






    LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN

    Lontara’ atau lontaraq adalah salah satu karya Bugis yang sudah memasyarakat ditengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Sebagaimana sastra budaya bahasa lainnya, sastra Bugis juga memiliki sifat-sifat tertentu yang harus diperhatikan, selain itu sastra Bugis juga potensial dalam membentuk kebudayaan nasional yang akan memberikan corak dan warna bagi karakteristik pembentukan kepribadian bangsa.

    Lontara’ merupakan lembaran yang berisi tulisan yang telah terhimpunkan. lontara’ juga salah satu peninggalan kerajaan Bugis-Makassar yang pernah berjaya di masa lalu. Naskah lontara’ awalnya dituliskan di atas daun Lontar yang kemudian digulung dan disimpan. Teknik penulisan seperti ini juga dilakukan di berbagai daerah lain yang ada di Indonesia. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa aksara lontara’ merupakan aksara turunan dari Pallawa yang berasal dari India dan dibawa ke Nusantara pada masa penyebaran agama Hindu. Dari kepenulisan aksara lontara di masa lalu jugalah epos La Gagaligo lahir dan menjadi epos terpanjang di dunia melebihi panjang epos Mahabharata yang berasal dari India.

    Naskah lontara’ memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat Bugis, sebab di dalamnya terdapat catatan sejarah, juga terhimpun catatan mengenai nailai-nilai dan kearifan lokal yang dipahami oleh orang-orang terdahulu seperti adab-adab kerajaan, ucapan para cendekiawan terdahulu hingga cerita-cerita ritual adat dahulu kala. Sayangnya dari waktu ke waktu, keberadaan naskah ini juga semakin jarang ditemukan.

    Penulisan dan pencetakan naskah lontara’ juga dilakukan pada masa Belanda menduduki Indonesia. Naskah yang dihasilkan saat itu kini masih tersimpan di perpustakaan Leiden, Belanda. Proses penerjemahan dan penelitian naskah lontara’ masih jarang karena penggunaan dan pembelajaran bahasa daerah semakin tergerus oleh zaman. Belum lagi penggunaan bahasa yang digunakan pada naskah kuno tersebut menggunakan bahasa daerah klasik yang sarat dengan kata-kata isyarat dan tidak langsung menunjuk pada arti sebenarnya, jadi untuk membaca dan menerjemahkannya sangat membutuhkan keahlian khusus.

    Andi Maryam dan Nur Ilmiyah memberikan usaha dan upaya khusus dalam melakukan penerjemahan naskah LONTARA’ MINRURANNA SUPPA. Selain itu, dorongan untuk melestarikan dan merakyatkan bahasa dan aksara Bugis juga semakin kuat sebab sumbernya sudah hampir punah. Maka dari itu, kebudayaan ini harus diselamatkan agar budaya lontara’ dapat terus terjaga dan dilestarikan. Rasa tanggung jawab untuk melestarikan budaya ini seharusnya bukan hanya dimiliki oleh penulis dan penerjemah buku ini, namun oleh seluruh generasi lintas usia khususnya generasi muda suku Bugis.

    Adapun tujuan yang ingin dicapai dan hasil-hasil yang diharapkan dalm penerjemahan naskah Lontara’ mengenai sejarah daerah Suppa yaitu :

    1.     Melestarikan salah satu nilai budaya yang sudah hampir punah.

    2.    Memasyarakatkan kembali lontara’ dikalangan masyarakat, peneliti dan memperkenalkannya pada masyarakat luar.

    3.    Menyajikan salah satu bentuk nilai sastara budaya daerah di Indonesia.

    Buku transliterasi ini dapat dibaca lebih lengkap pada Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

     

    LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN

    Penulis : Andi Maryam ; Nur Ilmiyah

    Penerbit : De La Macca

    Kota Terbit : Makassar

    Tahun Terbit : 2014

    ISBN : 978-602-263-065-4

    August 22, 2022

    MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH

    Betapa sulitnya mengidentifikasi tokoh-tokoh ada pada silsilah dan buku La Galigo yang telah penulis lukiskan. Sama sulitnya untuk menetapkan pernah "ada" atau "tidak adanya" Sawerigading. Hanya satu hal yang perlu diketahui seperti dikemukakan oleh Gouvernuer van Celebes Couvreur-bahwa Raja-Raja dahulu di Sulawesi (sebenarnya juga di Bima dan Sumbawa) mengakui berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Batara Guru.

    Buku MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH terdari dari dua bab. Bab pertama membahas tentang:

    • Perbandingan Silsilah Versi Wajo dengan La Galigo; 
    • Sejarah Cina ri Aja dan Cina Ri Lauq atau Tana Uniq Menurut Buku La Galigo; 
    • Hubungan Luwu, Cina, Tomoq Tikkaq dan Wadeng serta Kerajaan-Kerajaan Pubra di Sulawesi Tengah; 
    • Kedatuan Cina Menurut Lontaraq Attoriolongnge ri Pammana 
    • Berdasarkan Temuan arkeologis OXIS Project; 
    • Perbandingan Silisilah Versi Wajo dan Silisilah Versi Luwu; 
    • Silisalah Versi Wajo dam Tuhfat Al-Nafis

    Bagian Kedua:
    • Kontroversi di Seputar Latar Cina Dalam Lagaligo
    • Teks La Galigo Antara Sakral dan Profan

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang membahas tentang lontaraq Penguriseng (silsilah) yang isinya berbeda dengan daftar silsilah yang tergantung di Museum Batara Guru di Palopo, berbeda pula dengan cerita awal mula raja pertama di Luwu berdasarkan naskah di Luwu yang telah di pergunakan oleh Gilbert Harmonic (1983: 13-40). Sangat berbeda nama-nama raja yang terdapat di dalam buku Tuhfat al Nafis yang disusun oleh (Alm) Raja Ali Al-Haji Riau (Transfer. 1965), yang merupakan naskah paling penting dalam penulisan sejarah negeri-negeri Melayu (Zainal Abidin bin Wahid. Kata Pengantar. 1965).

    Naskah silsilah ini disaling oleh (Alm) Andi Paramata, dari Lontaraq Panguriseng milik Andi Makkaraka, yang semasa hidupnya memangku jabatan sebagai Arung Bettempola Wajo, seorang ahli Lontaraq yang memiliki naskah-naskah berbagai kerajaan yang tidak dapat dijumpai di daerah asalnya.


    MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH
    Penulis: Zainal Abidin Farid, Nurhayati Rahman, Sudirman Sabang
    Penerbit: Lampena Intimedia
    Tempat Terbit: Sengkang
    Tahun Terbit: 2010
    ISBN: 978-602-8151-40-8


    DESKRIPSI DAN TRANSKRIPSI SEJARAH LISAN JEPANG DI SULAWESI SELATAN

    Masa pendudukan Jepang di Sulawesi Selatan tergolong relatif singkat,  yakni tiga tahun 6 bulan. Namun telah menciptakan kesan yang mendalam bagi kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, tidak hanya menyangkut masalah sosial ekonomi dan sosial politik tetapi semua aspek kehidupan manusia, antara lain kedisiplinan, kepastian hukum, kejujuran, etos kerja, toleransi, keterampilan kerja, profesionalisme, bahkan juga mencakup hal-hal yang esensial pada diri manusia seperti masalah keagamaan dan budaya.

    Penelitian sejarah lisan Jepang yang direkam dari berbagai informan menunjukkan bahwa keberadaan Jepang di Sulawesi Selatan, mempunyai keunikan khusus bila dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Indonesia. Keunikan tersebut bukan hanya karena posisi Makassar sebagai pusat armada perang Angkatan Laut Jepang dalam perang Dunia kedua, tetapi juga terkait dengan sistem birokrasi di Sulawesi Selatan. yang umumnya diperankan oleh para kelompok bangsawan.

    Buku DESKRIPSI DAN TRANSKRIPSI SEJARAH LISAN JEPANG DI SULAWESI SELATAN menghimpun sebanyak 25 kaset sejarah lisan Jepang dalam bentuk alih media CD, yang kemudian diolah dalam bentuk Transkripsi dan Deskripsi. Sejarah lisan Jepang tersebut bersumber dari 10 kaset Kab. Enrekang; 12 kaset Luwu; serta 3 kaset Kab. Sinjai. Dokumentasi sejarah lisan Jepang yang bisa dibaca secara tertulis ini memuat informasi yang beragam. Keragaman ini bukan saja atas taktik dan strategis Jepang dalam memenangkan perang dunia ke dua, tetapi juga menyangkut hal-hal yang mendalam seperti kondisi wilayah geografi dan berbagai rana kehidupan sosiokultural masyarakat Sulawesi Selatan. Setiap daerah mengandung bobot informasi yang menonjol, seperti bobot informasi buruh pertambangan dan romusa dari Kabupaten Enrekang dan bobot informasi menyangkut kelautan dari Luwu dan Sinjai. Bobot informasi yang disampaikan memuat kesan bahwa aktivitas jepang pada wilayah pertambangan, lebih ramah lingkungan. 

    Buku ini merupakan kerja sama Pusat Multikultural dan Pengembangan Regional Divisi Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Pusat Kegiatan Penelitian UNHAS dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, yang dapat di akses di Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    DESKRIPSI DAN TRANSKRIPSI SEJARAH LISAN JEPANG DI SULAWESI SELATAN
    Penyusun: Pusat Multikultural dan Pengembangan Regional Divisi Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Pusat Kegiatan Penelitian UNHAS dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
    Penerbit: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Peovinsi Sulawesi Selatan
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2018


    August 18, 2022

    LITERASI DARI DESA LABBO

    LITERASI DARI DESA LABBO merupakan karya bunga rampai bergenre sosial, buku ini ditulis sendiri oleh warga desa Labbo dan disunting oleh Sulhan Yusuf. Labbo adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Tompobulu, Bantaeng, Sulawesi Selatan. Butuh proses yang panjang dalam mengumpulkan, menyunting dan menerbitkan buku ini hingga menjadi bacaan. Penerbitan buku ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah desa Labbo dan komunitas Boettae Ilmoe. Sulhan Yusuf menganggap buku ini semacam gangang sangka lau, yakni sayur yang lengkap bahannya. Buku ini mencerminkan keragaman unsur pembentuk sayur dalam satu mangkok yang siap santap.

    Terdapat 30 penulis yang ikut menulis dalam buku ini, karya mereka berupa artikel, cerita, esai dan puisi. Keberadaan buku ini merupakan bukti kesadaran masyarakat desa Labbo dalam berliterasi. Ragam tulisan yang ditulis oleh masyarakat desa Labbo di dalam buku ini terbentuk dari pengalaman dan kenyataan yang ada ada disana serta menjadi salah satu wujud kemandirian desa Labbo.

    Penerbitan buku ini merupakan sesuatu yang potensial. Potensi yang dimaksud yaitu kemampuan masyarakat desa Labbo dalam menulis, jika kemampuan ini digarap dengan telaten maka akan menghasilkan bahan bacaan atau produk literasi.

    Program bermula dari kesadaran kepala desa Labbo mengenai literasi. Program tersebut berimbas pada penguatan peran perpustakaan desa disana. Koleksi perpustakaan diperlengkap, pelatihan literasi semakin diperkuat baik untuk kaum muda, pelajar dan mahasiswa serta warga masyarakat pada umumnya. Dengan begitu, minat baca juga akan semakin meningkat karena sarana dan prsarana yang semakin memadai. Program literasi yang berkesinambungan ini memunculkan pengusulan untuk menulis dan terbentuklah program workshop kepenulisan dan dilatih langsung oleh Sulhan Yusuf. Program ini berhasil merangkul masyarakat dari berbagai lapisan dan kalangan serta memantik semangat mereka dalam menulis.

    Sebagai argumen penutup dalam Catatan Penyunting, Sulhan Yusuf berharap di masa berikutnya lahir karya-karya yang lebih spesifik. Tidak lagi dalam bentuk gangang sangka lau. Moncerlah literasi di Labbo, jayalah gerakan literasi Bantaeng, pungkasnya.

    Bunga rampai ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

     

    LITERASI DARI DESA LABBO

    Penyunting : Sulhan Yusuf

    Penerbit : Liblitera Institute

    Tempat Terbit : Makassar

    Tahun Terbit : 2018

    ISBN : 978-602-6646-17-0

    August 16, 2022

    ANDI PANGERANG PETTA RANI

    Andi Pangerang Petta Rani (Andi Pangerang Daeng Rani) lahir pada tanggal 15 Mei 1903 yang berasal dari dua orang turunan bangsawan, Andi Mappayukki bangsawan Bone-Gowa dengan I Batasai Daeng Taco bangsawan Gowa.

    Bila diperhatikan dari silsilah Andi Pangerang Petta Rani, nenek Pangerang atau ibu dari Andi Mappanyukki bernama I Cella We Tenripada Arung Alita. Dia anak Raja Bone XXVII bergelar La Parengrengi Ahmad Saleh Arumpoungi Matinrowe ri Aja Benteng, dan istrinya bernama Pancai Tana Basse Kajuwara Tenriwaru Matinrowe ri Majannang. Pancaitana Basse kemudian menggantikan suami dan sekaligus sepupunya menjadi raja (ratu) Bone XXVIII.

    Andi Pangerang Petta Rani semasa hidupnya dikenal sebagai pemimpin yang bijak dan merakyat. Sifat kepemimpinannya seperti itu, pantas dimiliki oleh generasi sekarang dalam membawa bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik.

    Buku ANDI PANGERANG PETTA RANI terdiri dari tujuh bab yang membahas tentang jasa-jasa beliau selama mengabdi pada bangsa dan negara. Bab-bab tersebut membahas tentang:

    Bab I berkaitan dengan profil yang berkaitan dengan siapa Andi Pangerang Pettarani; Erang-erang, Inspirasi sebuah nama; Umur 3 tahun hidup di pengasingan; Cokkoi assalanu', Suka berpakaian putih; serta Gemar Pallu Butung.

    Bab II berkaitan dengan Kepemimpinan yang membahas tentang Perjalanan karier seorang birokrat; Pemimpin sahabat rakyat; Berkorban untuk rakyat; dan Pemimpin yang jujur.

    Bab III berkaitan dengan Perjuangan menghadapi pergolakan; Rela dipecat demi perjuangan bangsanya; Selamat dari kekejaman Westerling; dan Menjadi anggota PPKI.

    Bab IV berkaitan dengan Membangun Sulawesi dengan Menanamkan kedisiplinan; Membangun SDM; Mengejar keterbelakangan; Bangkitkan kejantanan PSM; serta Membangun transportasi laut.

    Bab V berkaitan dengan berasal dari keluarga pejuang yakni I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka; I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang; Lapawawoi Karaeng Segeri; Andi Mappanyukki Segeri; Andi Mappanyukki; Andi Jemma Datu Luwu; I Mangimangi Dg. Matutu Karaeng Bontonompo; Andi Abdullah Bau Massepe; Andi Makkasau Datu Suppa; dan Moh. Tahir Daeng Nompo.

    Bab VI berkaitan cetak kader pemimpin yakni Prof. Dr. Andi Zaenal Abidin Farid, SH; Prof. Dr. H. A. Amiruddin; dan H.Z.B. Palaguna.

    Bab VII berkaitan dengan penuturan keluarga yakni Tongi Pangerang.

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    ANDI PANGERANG PETTARANI 
    Penulis: Rimba Alam A. Pangerang, Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam
    Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
    Tempat Terbit: Sungguminasa
    Tahun Terbit: 2007


    SULAWESI 1940-1960 : Dari Ratulangi ke Andi Pangerang Petta Rani

    Sulawesi sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 mengalami berbagai kekacauan dan berkat ketabahan pemimpin yang berjiwa patriot dan didukung segenap masyarakat, kekacauan itu semuanya dilalui dengan semangat persatuan.

    Buku SULAWESI 1940-1960 : Dari Ratulangi ke Andi Pangerang Petta Rani mencoba mengurai pengalaman Gubernur Dr. Ratulangi, Lapian, Sudiro, Lanto Dg Pasewang dan Andi Pangerang Petta Rani dalam mengatasi tantangan-tantangan yang dialaminya, dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

    Pada masa akhir jabatan Gubernur Andi Pangerang Petta Rani, Sulawesi mengalami berbagai bentuk dan sistem pemerintahan. Terakhir, Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua Provinsi, yakni Provisi Sulawesi Utara dan Tengah dan Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.

    Selama 15 tahun, Provinsi Sulawesi dipimpin oleh lima Gubernur, mulai dari Gubernur Dr Ratulangi, Acting Gubernur Lapian, Gubernur Sudiro, Gubernur Lanto Dg Pasewang sampai Gubernur Andi Pangerang Petta Rani. Empat tahun lamanya berada dalam lingkungan Negara Indonesia Timur dengan Presiden dan Kabinetnya sendiri. Pembangunan hampir-hampir semua bidang terbengkalai. Lepas dari persoalan Untaris vs Federalis, Sulawesi dilanda lagi masalah otonomi vs sentralisasi dan keamanan.

    Silih berganti operasi militer dilancarkan untuk menciptakan keamanan, namun sampai akhir masa jabatan Gubernur Andi Pangerang gangguan keamanan belum berhasil diatasi sepenuhnya. Pemberontakan Kahar muzakkar dengan DI/TII-nya belum berhasil diatasi sepenuhnya. Pembangunan di semua bidang belum menunjukkan kemajuan yang berarti.

    Buku ini memberikan gambaran tantangan yang berbeda dari setiap gubernur. Ratulangi menghadapi Belanda dengan "devide et emperanya", Lapian dihadapkan dengan akibat yang ditimbulkan peristiwa Andi Aziz dan Peristiwa Makassar, Sudiro harus berhadapan dengan peristiwa Kahar Muzakkar dan DI/TII-nya, Lanto Dg Pasewang berhadapan dengan tuntutan otonomi daerah dan penyelenggaraan Pemilihan Umum, Pertama 1955, dan Andi Pangerang menghadapi Permesta dan Demokrasi Terpimpinnya Sukarno di samping peristiwa-peristiwa yang lain yang menyita konsentrasi pemerintahannya.


    SULAWESI 1940-1960 : Dari Ratulangi ke Andi Pangerang Petta Rani 
    Penulis: Zainuddin Taha
    Penerbit: Pusaka Almaida
    Tempat Terbit: 2021
    ISBN: 978-623-226-277-5


    August 10, 2022

    NILAI-NILAI UTAMA KEBUDAYAAN BUGIS

    Kebudayaan Bugis adalah salah satu kebudayaan tertua di Nusantara, dan menjadi perhatian berbagai bangsa. Pada pertengahan abad ke-16 sifat dan watak manusia Bugis Makassar sudah ditulis oleh Portugis, Prancis, Inggris dan yang lebih banyak mendalaminya adalah sarjana-sarjana Belanda. 

    Buku NILAI-NILAI UTAMA KEBUDAYAAN BUGIS membahas usaha pengungkapan khazanah kebudayaan Bugis yang banyak menarik perhatian berbagai bangsa, baik di kawasan Nusantara dan Semenanjung maupun di kalangan orang-orang Eropa.

    Nilai-nilai utama dalam budaya Bugis terdapat dalam pau-pau rikadong yang ditemukannya dalam Boegineesch Chrestomatie yang dihimpun oleh B.F. Matthes, pendeta Belanda yang sangat besar perhatiannya pada budaya masyarakat di Sulawesi Selatan. Berikut beberapa artikel mengenai masyarakat dan budaya Sulawesi Selatan serta berbagai naskah lokal, seperti: Paupau Rikadong, Nilai Budaya, Adat (Ade) dan Pannaderreng. Selain itu juga membahas mengenai nilai budaya: Alempureng (kejujuran), Amaccang (kecendekiaan), Asitinajang (kepatutan), Agettengeng (keteguhan), Reso (usaha) dan Siri' (malu, harga diri).

    Buku ini juga membahas Sure' Galigo yang menceritakan tentang awal mula dihuninya negeri Bugis, ketika Batara Guru dari Bottinglangi (dunia atas) bertemu di Tana Luwu dengan We Nyili' Timo dari Buri'liung (dunia bawah). Simpuru'siang di Luwu, Senging Ridi di Bone, Petta Sekkanyili di Soppeng, Putri Temmanlate di Gowa, semuanya Tomanurung yang membentuk masyarakat Bugis-Makassar.

    Sumber nilai lainnya yang termuat dalam lontara-lontara yakni pappanngaja dan paseng sedangkan nilai utamanya yang disebut uluada; ada pula amanat dan nasehat dari cendekiawan Luwu, serta perjanjian antar kerajaan (perjanjian persahabatan) antara Bone, Wajo dan Soppeng.

    Adapun nilai-nilai utama, yang menentukan manusia ialah berfungsi dan berperannya sifat-sifat kemanusiaan, sehingga orang menjadi manusia: kejujuran, kecendekiaan, kepatuhan, keteguhan  dan usaha.


    NILAI-NILAI UTAMA KEBUDAYAAN BUGIS
    Penulis: H. A, Rahman Rahim
    Penerbit: Ombak
    Tempat Terbit: Yogyakarta
    Tahun Terbit: 2011
    ISBN: 978-602-8335-71-3


    August 8, 2022

    KERAJAAN LUWU (MENURUT CATATAN D.F. VSN BRAAM MORRIS)

    Salah satu naskah kuno atau buku lama yang mengandung ide-ide, gagasan-gagasan utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan seperti ajaran agama, sejarah dan unsur-unsur lain yang mengandung nilai-nilai luhur yang dituturkan sesuai dengan tradisi masyarakat bersangkutan, ialah naskah Het Lands chap Luhu yang ditulis oleh Gubernur Selebes D. F. Van Braam Morris tahun 1888. 

    Naskah tersebut diperoleh dalam bentuk foto copy dari koleksi Perpustakaan Nasional R.I, termasuk kategori buku lama karena berusia lebih 50 tahun berdasarkan Monumen Ordenansi STLB 238-1931.

    Buku KERAJAAN LUWU (MENURUT CATATAN D.F. VSN BRAAM MORRIS) membahas tentang Negeri Luhu yang juga dinamai Luwu, berbatasan di sebelah selatan dengan Pitumpanuwa yang termasuk dalam wilayah Bone, Wajo dan Poleang, serta wilayah Buton yang terletak di dataran Sulawesi.

    Penduduk dari Luhu terdiri dari orang-orang Luhu dan Toraja, yang pertama adalah orang Bugis (To Woegi atau To Oegi) dan yang terakhir orang-orang gunung, beberapa suku di antaranya masih sangat biadab. 

    Kepala negeri adalah seorang raja yang bergelar Pajung. Di dalam tangannya terletak kekuasaan tertinggi, yang mengatur tentang hidup atau mati. Kepala negeri harus seorang aru matasa' (dari raja berdarah murni) dan lahir asli dari keturunan raja (wija manurung), yang dipilih oleh hadat dan dihormati sebagai makhluk langit, tetapi baru dapat memakai gelar pajung, apabila telah dilantik (rilante). Kalau tidak dia hanya di gelar datu.

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang juga membahas mengenai sejarah Luwu yang hanya di kenal, menurut sumber lisan dari mulut ke mulut dari kaum ke kaum, Luhu dahulu dinamai Wara, tempat kelahiran dan peradaban Bugis pada abad ke 10 sampai ke 14 dan menjadi kerajaan terkuat di Sulawesi. Syair-syair La Galigo banyak menyebutkan keadaan Luhu pada masa itu yang memiliki kekuasaan atas semua kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi. 


    KERAJAAN LUWU (MENURUT CATATAN D.F. VSN BRAAM MORRIS)
    Penerjemah: HAM Mappasanda
    Editor: Muh. Yun us Hafid
    Penerbit: Balai Kajian dan Nilai Tradisional
    Tempat Terbit: Ujung Pandang
    Tahun Terbit: 1992


    August 4, 2022

    ULAMA PERINTIS: Biografi Mini Ulama Sulsel

    Ulama adalah aktor utama sejarah kehidupan umat Islam. Ulama hadir dalam setiap denyut kehidupan umat. Mereka melakonkan skenario kehidupan yang diwahyukan Allah SWT. Sebagian besar skenario itu lakonnya dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW; sebuah mata rantai yang menempatkan ulama sebagai ahli waris nabi. Ulama bisa hadir dalam beragam sosok; sebagai seorang faqih, sebagai da'i, sebagai sufi, sebagai pejuang, dan beragam bentuk aktivitas pembinaan umat.

    Buku ULAMA PERINTIS: Biografi Mini Ulama Sulsel membahas lima ulama yang riwayat hidup dan suka duka perjuangannya untuk menebarkan aroma syiar Islam, ulama tersebut adalah:

    1. Muhammad As'ad: Maha Gurunya Ulma Sulsel
    2. Abdurrahman Ambo Dalle: Pendiri Darul Dakwah wal-Irsyad
    3. Abdul Djabbar Asyiry: Perintis Pesantren Darul Arqam
    4. Ahmad MArzuki Hasan; Perintis Pesantren Darul Istiqamah
    5. Abdul Muin Yusuf; Ulama Pejuang dari Sidenreng
    Kelima ulama tersebut dikategorikan termasuk dua belas kriteria ulama akhirat menurut Imam al-Gazali, yaitu ulama yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai sufistik. Kriteria yang dimaksud adalah:

    1. tidak mencari dunia dengan ilmu agamanya
    2. perbuatannya tak menyalahi omongannya
    3. tekun mencari ilmu yang berguna untuk akhirat dan menghindari ilmu yang membawa kepada pertengkaran
    4. hidup sederhana dalam makan, minum, tidur, berpakaian dan sebagainya
    5. menjauhi pergaulan dengan para penguasa
    6. tidak tergesa-tega memberi fatwa
    7. banyak perhatian terhadap ilmu batin dan berusaha menyingkapkannya dengan mujahadat dan muraqabah
    8. bersungguh-sungguh memperkuat keyakinannya
    9. selalu merasa sedih, menundukkan kepala karena kerendahan hatinya dan senang berdiam diri.
    10. kebanyakan uraian ilmunya tentang amalan-amalan dan hal-hal yang merusakkannya.
    11. berpegang pada ilmu berdasarkan penglihatan batin melalui hati yang bersih
    12. berhati-hati dari perbuatan bid'ah.
    Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    ULAMA PERINTIS
    Biografi Mini Ulama Sulsel
    Editor: Waspada Santing
    Penerbit: Pustaka Al-Zikra
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2010
    ISBN: 978-979-99747-2-3









    August 3, 2022

    TRIALIANCI TELLUMPOCCOE

    Peristiwa Trialianci (Perjanjian persekutuan antara Bone, Soppeng dan Wajo) yang kemudian disebut Perjanjian Tellumpoccoe/merupakan suatu persekutuan tiga kerajaan Bugis dengan menancapkan batu di Timurung (Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone sekarang) yang terjadi pada tahun 1582 M. Timurung pada waktu itu berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan Bone yang mempunyai letak geografis yang cukup strategis dan berdekatan pula dengan ibukota Kerajaan Soppeng dan kerajaan Wajo.

    Perjanjian persekutuan ketiga kerajaan Bugis itu dihadiri oleh Raja Bone La Tenri Rawe Bongkangnge Matinroe ri Gocinna yang didampingi oleh penasihatnya sekaligus sebagai staf ahlinya To Sualle Kajaolaliddong dan Raja Soppeng La Mappaleppa Patolae Arung Belo yang didampingi oleh penasihatnya To Tongeng To Pacaleppa sedangkan Raja Wajo adalah Arung Matoa Wajo La Mungkace Taudama yang didampingi oleh penasihatnya To Madualleng dengan bersama-sama menancapkan batu.

    Penanaman batu di Timurung pada hakikatnya adalah untuk menantang politik ekspansi dari Kerajaan Gowa yang sejak dahulu untuk menanamkan pengaruhnya dan kekuasaannya di Daerah Bugis, di samping itu juga diharapkan dapat saling menghargai hak dan kewibawaan masing-masing ketiga kerajaan bersaudara serta dapat menjaga keamanan masing-masing wilayah.

    Buku TRIALIANCI TELLUMPOCCOE membahas tentang perjanjian persaudaraan antara Raja Bone, Wajo dan Soppeng untuk membendung ekspansi Kerajaan Gowa terhadap daerah-daerah Bugis. Penggabungan kekuatan melalui perjanjian persaudaraan dan persekutuan tersebut mempunyai implikasi terhadap pengembangan dan pembinaan stabilitas politik bagi setiap negeri anggota, misalkan Wajo dapat melepaskan diri dari penghambaan Gowa, sementara Soppeng sebagai kerajaan kecil praktis menjadi kuat, dan Bone sebagai salah satu kerajaan terbesar di antara Gowa dan Luwu (Tellumpoccoe) terhindar dari gangguan Wajo dan Soppeng, bahkan dengan persekutuan tersebut Kerajaan Bone lebih kuat di antara Luwu dan Gowa.

    Perjanjian Tellumpoccoe di Timurung itu juga membawa pengaruh terhadap proses penerimaan Islam di Soppeng, Wajo, dan Bone, sehingga Islam sebagai agama resmi kerajaan di masing-masing kerajaan tersebut berturut-turut memeluk Islam mulai pada tahun 1609 di Soppeng dan Wajo pada tahun 1610 M sedang Bone pada tahun 1611 M.

    Proses Islamisasi di daerah-daerah Bugis tidak terlepas dari pengaruh dan peranan Kerajaan Gowa sebagai salah satu kerajaan besar yang menerima Islam sebagai agama resmi kerajaannya pada tahun 1605 M. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    TRIALIANCI TELLUMPOCCOE
    Tri Aliansi Kerajaan Bone-Soppeng-Wajo

    Penulis: H. Azhar Nur
    Penerbit: Cakrawala
    Tempat Terbit: Yogyakarta
    Tahun Terbit: 2009
    ISBN: 978-979-18727-2-0

    LONTARA LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN

    Salah satu wilayah yang banyak memiliki naskah-naskah kuno lontara di daerah Sulawesi Selatan ialah Luwu. Luwu merupakan daerah bekas kerajaan yang cukup tua jika dibandingkan dengan kerajaan lainnya di kawasan ini.

    Menurut lontara pemimpin pertama di kalangan umat manusia di daerah Luwu, ialah Sang To Manurung yang disebut Batara Guru. Kepemimpinannya kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bernama Batara Lattu, sebagai Maharaja di Kerajaan Luwu. Baginda Maharaja Luwu itulah yang melahirkan Sawerigading, sebagai putra pangeran mahkota pewaris Kerajaan Luwu.

    Putera Pangeran Kerajaan Luwu, Sawerigading lalu berlayar ke negeri Cina di tanah Bugis dan menikah dengan putri raja setempat yaitu I Wecudai Daeng Risompa Punna Bolae Ri Latanete, putri mahkota pewaris takhta kerajaan Cina. Dari perkawinan ini lahirlah putranya yang bernama I Lagaligo. Menurut kisah "'Pau-Paunna Sawerigading", I Lagaligo-lah yang melahirkan La Tenritatta yang kemudian menjadi raja di Kerajaan Luwu. Sekali waktu Sawerigading sekeluarga, mengantarkan cucunya, yaitu Latenritatta Raja Luwu menuju ke negeri kerajaan leluhurnya, Tanah Luwu. Tiada berapa lama sesudah itu, maka Sawerigading bersama seluruh sanak keluarga dan kerajaannya karam atau gaib, tanpa ada tanda-tanda apa pun yang tertinggal (Pananrangi Hamid, 1989 : 249-253).

    Pemberitaan-pemberitaan dalam lontara kemudian menyebutkan, bahwa selama tujuh turunan sesudah gaibnya Sawerigading, barulah berdiri kerajaan-kerajaan lokal di berbagai tempat di Sulawesi Selatan. Salah satu di antaranya, ialah Kerajaan Bone di bawah pimpinan Raja Bone-I Mata Silompok e yang "bertahta selama kira-kira 32 tahun, yaitu kira-kira dalam tahun 1326 s/d 1358" (A. Muh. Ali, 1969: 6).

    Uraian tersebut di atas menggambarkan, bahwa Tanah Luwu memang sudah lama berdiri sebagai satu wilayah pemerintahan kerajaan, sehingga wajar kalau di daerah ini terdapat naskah kuno lontara dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satu dari sekian banyak lontara yang dapat ditemukan dalam rangka penelitian ini ialah Lontara Luwu yang memuat catatan tentang perantauan salah seorang Raja Luwu yang memuat catatan tentang peraturan salah seorang raja Luwu bernama Setia Raja Matinroe Ri Tompo Tikka, ke berbagai negeri seperti Bone, Wajo, Sidenreng dan sekitarnya. Selain itu ditemukan dalam lontara tersebut tata persyaratan bagi abdi, sistem pengetahuan tradisional, berbagai perjanjian perkerabatan dan perdamaian antar kerajaan lokal. Semua itu memuat aneka ragam nilai-nilai luhur, gagasan vital, ide-ide serta pengetahuan tradisional yang cukup potensial bagi upaya melestarikan nilai-nilai di daerah Sulawesi Selatan.

    Buku LONTARA LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN memuat 21 nilai budaya yang pada dasarnya adalah nilai-nilai yang menyangkut pesan agar manusia harus dapat menjaga hubungannya:

    1. dengan alam semesta
    2. dengan sesama manusia
    3. dengan Tuhannya dan agama (Islam)

    Lontara Luwu penuh berisi petuah-petuah dari raja-raja, para ulama yang arif bijaksana dan silsilah keturunan Raja Tomanunungingiri Luwu, Raja Manurungngi ri Pet tung dll. dan juga berisi pengetahuan tentang diri manusia serta alam semesta. Lontara Luwu juga membuka rahasia manusia dan rahasia alam dan menjadi pedoman bagi masyarakat Luwu sampai sekarang, di samping berisi sejarah kehidupan suku-suku bangsa di daerah Sulawesi Selatan yang diungkap melalui adanya perjanjian antara Raja Iqatiuroe ri Tompo Tikka serta daerah kekuasaan kerajaan Luwu.

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang memberikan gambaran bagaimana pentingnya peranan naskah kuno lontara bagi pengungkapan nilai-nilai sosial budaya sebagai sumber kekayaan budaya bangsa, maka dengan sendirinya penerjemahan dan pengkajian naskah kuno lontara dimaksud, mutlak diperlukan untuk mengangkat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. 


    LONTARA LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN
    Penulis: H. Ahmad Yunus, Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari, et.al.
    Tempat Terbit: Jakarta
    Tahun Terbit: 1991


    August 2, 2022

    MONETER INTERNASIONAL : BEBERAPA KASUS KRISIS MONETER DI ASIA TENGGARA DAN TIMUR


    Abdul Rachman Panetto menerbitkan buku ini karena didorong oleh kenyataan bahwa buku-buku yang khusus membahas mengenai moneter internasional dalam kaitannya dengan fluktuasi nilai tukar dan serangan spekulan serta teori-teori yang dapat menjelaskan tentang konsep-konsep moneter dan langkah-langkah yang telah diterapkan pemerintah serta bisa dikembangkan dalam mengatasi masalah perekonomian.

    Pembangunan ekonomi yang dilaksanakan pada berbagai negara di dunia pada dasarnya menggunakan pengimplementasian teori, karena pembangunan yang diinginkan berlangsung sistematis dan berkesinambungan dari tahun ke tahun agar menimbulkan dampak  yang maksimal terhadap perkembangan masyarakat. Kekeliruan yang terjadi dalam penerapan konsep dan ketentuan teori sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan dan peingkatan ekonomi suatu negara.

    Sama halnya dengan beberapa Negara di luar sana yang mengatur manajemen utang luar negeri, Indonesia juga menggunakan sumber dari ekspor untuk membayar cicilan pokok dan bunga pinjaman. Sayangnya, Indonesia kurang akurat dalam mengendalikan perekonomian yang sesuai dengan ketentuan internasional sehingga dikategorikan sebagai Negara over-debt pada tahun 1998.

    MONETER INTERNASIONAL : BEBERAPA KASUS KRISIS MONETER DI ASIA TENGGARA DAN TIMUR merupakan bunga rampai yang diterbitkan 2 kali pada tahun 1998 dan terus dikembangkan sesuai dengan keadaan yang terjadi pada saat itu. Di era itu, perkembangan moneter internasional berproses cukup cepat dan menimbulkan permasalahan ekonomi pada beberapa negara di  Asia Tenggara dan Timur. Buku ini berisi 15 karya tulis ilmiah dengan total 16 bab. Karya tulis di dalamnya memiliki tema yang sama namun dikaji dari sudut pandang yang berbeda oleh Abdul Rachman Panetto.

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar. Layanan Deposit adalah salah satu jenis layanan yang ada di perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang menyimpan segala jenis karya intelektual dari penulis yang ada di pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan. Koleksi yang ada di Layanan Deposit hanya  bisa dibaca di tempat dan tidak dipinjamkan.

     

    MONETER INTERNASIONAL : BEBERAPA KASUS KRISIS MONETER DI ASIA TENGGARA DAN TIMUR 

    Penulis : Abdul Rahman Panetto

    Penerbit : Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS)

    Kota Terbit : Makassar

    Tahun Terbit : 2001

    ISBN : 979-530-041-5

    KELUARGA SAKINAH PERINDU JANNAH : Ikhtiar Cinta Sekeluarga Agar Semua Masuk Surga

    Keluarga sakinah diartikan sebagai keluarga yang harmonis dimana nilai-nilai ajaran islam ditegakkan dan saling menghormati serta saling menyayangi. Dalam keluarga yang sakinah, anggota keluarga mampu menjalankan kewajibannya dan selalu saling membantu satu sama lain. Keluarga sakinah juga memahami satu sama lain sehingga jika terjadi konflik dalam keluarga maka konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

    Dalam keluarga sakinah akan selalu tercium aroma  Baiti Jannati 'Rumahku Surgaku'. Dalam keluarga itu, ada tiga pedoman yang selalu dijaga. Pertama, menjadikan takwa sebagai sebaik-baik bekal. Kedua, memelihara diri dan keluarga dari siksa neraka. Ketiga, agar kelak bisa masuk surga sekeluarga.

    Keluarga sakinah akan membangun visi bersama yaitu : Sekeluarga Pulang ke Surga. Untuk itu, tak mengapa berlelah-lelah di dunia. Sebab, kelak di surga kita akan bebas dari segala bentuk kepayahan. Karena itu, desainlah keluarga dengan bercermin kepada "Wajah Sakinah Keluarga Rasulullah SAW". Dengan cara itu, Insya Allah akan terwujud keluarga qurrata a'yun yang sakinah dan penuh berkah.

    Peran kepala keluarga-suami bagi istri dan ayah bagi anak-anak besar-besar. Karena itu, jadilah suami yang mencintai dan memuliakan istri. Sebagai ayah, berperanlah seperti Luqman saat mendidik anak. Saat yang sama, istri harus bisa menjadi penyemangat dan pemberi inspirasi bagi suami dan anak-anaknya. Tidak hanya suami yang berperan sebagai pemimpin dalam keluarga, istri juga pemimpin dalam urusan rumah tangga suami. Karena itu, terus jalin kerja sama antara suami dan istri dalam mengasuh anak-anak. Kerja sama itu akan terbangun dengan baik dan indah jika antara suami dan istri memiliki kesamaan visi dan misi dalam mendidik anak.Dalam hal ini, menjadi sangat penting adanya semacam rumusan bersama atas tujuan pengasuhan anak-anak pada langkah awal berkeluarga. Dalam kepakatan itu, aturlah pembagian tugas dalam usaha mencapai tujuan mulia tersebut dalam bingkai saling bekerja sama. 

    Penting juga bagi anak untuk meposisikan diri "dari batu uji menjadi permata hati". Dalam perspektif islam, kedudukan orang tua di hadapan sang anak sangat istimewa. Oleh karena itu, mereka harus menghormati dan memandang orang tuanya. Nilai dan ketaatan kepada orang tua bahkan lebih utama dari berjihad di jalan Allah.

    Buku KELUARGA SAKINAH PERINDU JANNAH : Ikhtiar Cinta Sekeluarga Agar Semua Masuk Surga  merupakan  salah satu koleksi Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Dalam buku ini terdapat pesan Qur'ani : Masuk surga jangan sendirian bersama keluarga, menyongsong saat indah bertemu Allah di surga. Bersama menyatakan insan yang berjiwa muthma' innah, "reuni" di jannah.


    KELUARGA SAKINAH PERINDU JANNAH : Ikhtiar Cinta Sekeluarga Agar Semua Masuk Surga

    Penulis : Bachtiar Nasir

                   M.Anwar Djaelani

    Penyunting : Irin Hidayat

    Tempat Terbit : Yogyakarta

    Tahun Terbit : 2019

    Penerbit : Pro-U Media

    ISBN : 978-623-7058-35-9