Peta Asia Tenggara yang dibuat orang Bugis kira-kira pada tahun 1828 memberi kesan betapa jauh dan luas wilayah pelayaran orang-orang Bugis dan Makassar pada waktu itu. Pada peta yang pernah diterbitkan C.C.F.M. Le Roux pada tahun 1935, di bagian Utara Australia masih terbaca bagian kata "ge" yang menurut Prof. Dr. A. A. Cense selengkapnya harusnya berbunyi "Marege", yaitu nama penduduk Australia Utara seperti yang dikenal dalam bahasa Makassar dan Bugis.
Hubungan antara Sulawesi Selatan dan tanah Marege inilah yang juga menjadi sejarah dan kebudayaan maritim Indonesia, misalnya terkait dengan pengumpulan dan perdagangan teripang yang memegang peranan penting dalam lalu lintas maritim di Asia Tenggara pada masa lampau.
Buku Pelayaran dan Pengaruh Kebudayaan Makassar-Bugis di Pantai Utara Australia oleh A.A. Cense tentang pelayaran orang Indonesia ke Australia dalam sebuah catatan Alexander Dalrymple dari tahun 1768. Menemukan sesuatu yang mungkin dapat menunjukkan tentang adanya hubungan yang terjadi kira-kira pada tahun 1645, orang-orang Belanda menemukan, bahwa orang-orang Makassar agak sering juga datang dipulau-pulau yang letaknya di sebelah Tenggara, Selatan dan Timur pulau Banda untuk berdagang.
Selain itu juga tulisan yang berjudul Pelayaran dan Pengaruh Kebudayaan Indonesia di Australia oleh H. J. Heeren yang membahas salah satu peristiwa yang lain juga terjadi di pulau Brouse (sebuah pulau kecil yang terletak di pantai Barat Australia, di mana tinggal beberapa orang nelayan bangsa Indonesia. Ini juga membuktikan adanya hubungan yang telah berlangsung lama antara nelayan-nelayan penangkap teripang yang asalnya Makassar dan Bugis dengan pantai Barat Australia sehingga memberikan pengaruh penting terhadap kebudayaan penduduk asli Australia.
Seorang pengelana berbangsa Inggris Sir Metthew Flinders yang pertama kali menjumpai pelaut Indonesia yang pertama mencapai pantai Australia, untuk menangkap teripang. Selain itu juga pada tanggal 17 Februari 1803 di Kepulauan English Company, ia bertemu dengan enam buah perahu layar Makassar yang dipimpin seseorang yang bernama Po Bassu. Menurut Po Bassu, pelayaran tersebut dimulai kira-kira sejak 20 tahun sebelum itu (terjadi pada tahun 1780), disebabkan oleh karena ada sebuah perahu yang hanyut dari dangkalan Sahul.
Tulisan ini memberikan gambaran tentang masuknya beberapa unsur kebudayaan Indonesia (Makassar) ke dalam kebudayaan Australia. Sebaliknya: tentang pengaruh kebudayaan Australia terhadap kebudayaan Makassar tidak dapat diketahui. Unsur-unsur kebudayaan yang diterima seperti: kano dari batang pohon, kapal besi, pipa; dibidang kebudayaan rohaniah: bahasa (setidaknya beberapa patah kata), beberapa upacara pemakaman, pembuatan patung-patung kayu dan lukisan-lukisan di atas kulit kayu dengan lukisan-lukisan Makassar.
Sebab tidak ditemukan pengaruh kebudayaan Australia karena kurang eratnya hubungan, baik dari sudut waktu dan sudut ruang. Sebab lainnya karena kecilnya penguasaan satu terhadap yang lain, tetapi terlalu besar untuk mengarah kepada peleburan yang lebih intensif.
Penulis: A. A. Cense, H.J. Heeren
Penerbit: Bhratara
Tempat terbit: Jakarta
Tahun Terbit 1972
* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar











