Pada tanggal 18 November 1892, pasangan suami-istri La Mattulada dengan Andong Lolo Daeng Ranni' melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdul Hay. Ia kemudian akrab dipanggil dengan nama Hayyung, dan nama itulah yang melekat di dirinya sampai ia wafat. Ia lahir di Barugaiya, ibukota Distrik Bonea, Onderafdeling, Selayar yang sekarang menjadi Desa Barugaiya, Kecamatan Bonto Manai, Kabupaten Selayar.
Melihat masyarakat mengalami penjajahan baik secara fisik maupun aqidah. Secara fisik mereka dipaksa bekerja untuk kepentingan ekonomi penjajah dengan upah yang sangat rendah dan bahkan tidak dibayar sama sekali. Dan secara aqidah masyarakat yang umumnya beragama Islam tidak diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memahami dan menyebarkan agama Islam. Bahkan ada usaha dari pihak penjajah untuk merusak aqidah ummat Islam, yaitu dengan menyebar ulama dari kalangan masyarakat setempat yang merupakan kaki tangan penjajah. Para ulama tersebut dalam menyebarkan ajarannya banyak memasukkan unsur takhayul, bid'ah dan khurafat yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Keterbatasan pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat yang sangat rendah menyebabkan dengan mudah menerima ajaran tersebut. Masyarakat sangat taklid (patuh) dengan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama mereka.
Alasan-alasan inilah yang mendorong H. Hayyung untuk melakukan pembaharuan dari segala sendi kehidupan masyarakat, khususnya dibidang aqidah. Pembaharuan di bidang aqidah dianggap yang paling utama karena aqidah merupakan dasar setiap orang yang beragama. Dan keterpurukan dalam bidang sosial lainnya sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman aqidah masyarakat. Gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh H. Hayyung dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
- Membersihkan aqidah dan syariat ummat Islam dari pengaruh takhayul, bid'ah dan khurafat, yang begitu kuat pengaruhunya dalam kehidupan masyarakat.
- Menumbuhkan kesadaran sebagai ummat Islam yang merdeka baik secara fisik maupun aqidah yang memiliki hak yang sama sebagai manusia, sehingga mereka merasa sejajar dan setaraf dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
- Mendirikan sebuah perserikatan yang dapat dijadikan sebagai wadah yang dapat mendukung gerakan pembaharuannya.
Nasehat A.G.H. Hayyung kepada santrinya, "Selama kita masih membiarkan bangsa lain menjajah bangsa kita, maka selama itu pula Ibadah kita tidak akan menemui kesempurnaan". Pesan terakhir A.G.H. Hayyung, "Tidak ada lagi yang saya titipkan kepada kamu sekalian, kecuali Muhammadiyah dan Indonesia merdeka. Milikilah itu seumur hidupmu. Suatu saat, bukan hanya Irian Barat saja yang dapat kita tarik ke dalam wilayah Republik Indonesia, tetapi juga Pulau Timor dan Borneo Utara".
Buku ini SELAYAR DAN PERGERAKAN A.G.H. HAYYUNG membahas tentang tokoh pemberontak pemberontak atas kungkungan budaya dan penjajahan yang menimpa bangsanya, khususnya perjuangan dalam panggung sejarah Muhammadiyah dan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layana Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
(Pemberontakan terhadap Kungkungan Budaya dan Penjajah)
Penyusun: Firman Syah
Tahun Terbit: 2010














