August 26, 2021

SELAYAR DAN PERGERAKAN A.G.H. HAYYUNG

Pada tanggal 18 November 1892, pasangan suami-istri La Mattulada dengan Andong Lolo Daeng Ranni' melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdul Hay. Ia kemudian akrab dipanggil dengan nama Hayyung, dan nama itulah yang melekat di dirinya sampai ia wafat. Ia lahir di Barugaiya, ibukota Distrik Bonea, Onderafdeling, Selayar yang sekarang menjadi Desa Barugaiya, Kecamatan Bonto Manai, Kabupaten Selayar.

Melihat masyarakat mengalami penjajahan baik secara fisik maupun aqidah. Secara fisik mereka dipaksa bekerja untuk kepentingan ekonomi penjajah dengan upah yang sangat rendah dan bahkan tidak dibayar sama sekali. Dan secara aqidah masyarakat yang umumnya beragama Islam tidak diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memahami dan menyebarkan agama Islam. Bahkan ada usaha dari pihak penjajah untuk merusak aqidah ummat Islam, yaitu dengan menyebar ulama dari kalangan masyarakat setempat yang merupakan kaki tangan penjajah. Para ulama tersebut dalam menyebarkan ajarannya banyak memasukkan unsur takhayul, bid'ah dan khurafat yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Keterbatasan pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat yang sangat rendah menyebabkan dengan mudah menerima ajaran tersebut. Masyarakat sangat taklid (patuh) dengan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama mereka.

Alasan-alasan inilah yang mendorong H. Hayyung untuk melakukan pembaharuan dari segala sendi kehidupan masyarakat, khususnya dibidang aqidah. Pembaharuan di bidang aqidah dianggap yang paling utama karena aqidah merupakan dasar setiap orang yang beragama. Dan keterpurukan dalam bidang sosial lainnya sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman aqidah masyarakat. Gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh H. Hayyung dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Membersihkan aqidah dan syariat ummat Islam dari pengaruh takhayul, bid'ah dan khurafat, yang begitu kuat pengaruhunya dalam kehidupan masyarakat.
  2. Menumbuhkan kesadaran sebagai ummat Islam yang merdeka baik secara fisik maupun aqidah yang memiliki hak yang sama sebagai manusia, sehingga mereka merasa sejajar dan setaraf dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
  3. Mendirikan sebuah perserikatan yang dapat dijadikan sebagai wadah yang dapat mendukung gerakan pembaharuannya.
Untuk menjalankan semangat pembaharuan ini, karena begitu kuatnya penjajah menanamkan pengaruhnya dalam segala sendi kehidupan masyarakat, terutama pengrusakan yang dilakukan di bidang aqidah. Disamping itu, juga karena sulitnya orang yang mampu dan dapat dipercaya untuk membantu mewujudkan gerakan tersebut. Berikut gerakan pembaharuan Islam yang dilakukan oleh H. Hayyung dengan memberikan semangat pembaharuan, membentuk lembaga dakwah, mendirikan cabang Muhammadiyah, gerakan pembaharuan, gerakan pemurnian Ajaran Islam dan membangun kesadaran berfikir. 

Nasehat A.G.H. Hayyung kepada santrinya, "Selama kita masih membiarkan bangsa lain menjajah bangsa kita, maka selama itu pula Ibadah kita tidak akan menemui kesempurnaan". Pesan terakhir A.G.H. Hayyung, "Tidak ada lagi yang saya titipkan kepada kamu sekalian, kecuali Muhammadiyah dan Indonesia merdeka. Milikilah itu seumur hidupmu. Suatu saat, bukan hanya Irian Barat saja yang dapat kita tarik ke dalam wilayah Republik Indonesia, tetapi juga Pulau Timor dan Borneo Utara".

Buku ini SELAYAR DAN PERGERAKAN A.G.H. HAYYUNG membahas tentang tokoh pemberontak pemberontak atas kungkungan budaya dan penjajahan yang menimpa bangsanya, khususnya perjuangan dalam panggung sejarah Muhammadiyah dan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layana Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SELAYAR DAN PERGERAKAN A.G.H. HAYYUNG 
(Pemberontakan terhadap Kungkungan Budaya dan Penjajah)

Penyusun: Firman Syah
Tahun Terbit: 2010


 

August 24, 2021

BIOGRAFI PERJUANGAN A. BIRITTA BIN BASO ENREKANG PUANG TOSANG TOALALA'


A. Biritta merupakan salah satu pejuang yang mempunyai keberanian dan kelebihan dalam memimpin rakyat Enrekang berjuang. Pengungkapan mengenai perjuangan Biritta Bin Baso Enrekang tidak lain agar semangat patriotisme dan jasa perjuangan dapat dihayati oleh generasi muda selaku penerus cita-cita perjuangan bangsa Indonesia. Sejarah perjuangan Biritta dalam melawan Belanda pada awal abad XIX dapat dianggap peristiwa nasional. Karena itu perlu diungkapkan agar dapat diterima sebagai rangkaian sejarah perjuangan menentang Kolonial Belanda dari tahun 1905-1907.

Sistem perlawanan Biritta menghadapi pasukan militer Belanda, yaitu dengan tiga cara yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Adapun ketiga macam bentuk perlawanan Puang Tosang tersebut, yaitu:

  • Penggalangan massa
Dengan cara menggalang persatuan dan kesatuan dengan rakyat membentuk pasukan inti atau pasukan khusus, yaitu pasukan berani mati yang tidak kenal menyerah dengan pasung Tandung Mataran, Taji Malela Pallaping Arona.

  • Perang Gerilya
Perang gerilya yaitu menghindari pasukan dengan pasukan Belanda yang memiliki peralatan persenjataan yang lebih lengkap dan modern dibanding senjata tradisional yang dimiliki para pejuang. Cara taktik perang gerilya yaitu menyerang musuh disaat lengah dan istirahat serta mundur setelah musuh menyerang.

  • Sistem Kerjasama dengan raja-raja baik dikerajaan Limae Masenrengpulu, maupun dikerajaan Lima Ajattapareng dan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, yang anti terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda khususnya mengusir Belanda dari tanah air tercinta.
Beliau dilahirkan di Enrekang sekitar tahun 1830 dari pasangan suami istri Baso Enrekang Bin Toalala' Raja Enrekang ke IX dengan Yellang. Berkat pembinaan yang dilakukan oleh Puang Baso dan segenap anggota kerabat keluarganya serta keluarga Toalala' kemudian dimatangkan oleh kondisi kehidupan masyarkat sekitarnya, akhirnya beliau sampai pada kepuncak karirnya menjadi raja di Kerajaan Tondalun Papi Bambapuang. Ketika itu Kerajaan Massenrengpulu dalam keadaan genting karena militer Belanda menyerang kerajaan-kerajaan di Lima Masserengpulu. Perlawanan terbilang cukup lama dan berlangsung bertahun-tahun bukan hanya peranan dan kemampuannya Biritta dalam mengorganisir perlawanan dan taktik perang gerilya saja, tetapi juga berkat lindungan Allah SWT dan dukungan penuh dari rakyat serta keadaan geografis yang memungkinkan untuk melancarkan perang gerilya.

Dengan semangat pantang menyerah semboyang beliau Bannang Kapa Mappesona, Malea Mamminasa Bidang Pa Passaranna, artinya "merah tanda berani kain kafan memisahkan saya dalam perjuangan, walaupun hancur lebur itulah cita-cita suci mengusir penjajah Belanda"

Buku BIOGRAFI PERJUANGAN A. BIRITTA BIN BASO ENREKANG PUANG TOSANG TOALALA' membahas tentang sejarah perjuangan menentang penjajah Belanda di Kabupaten Enrekang pada masa lalu yang difokuskan pada Kerajaan Tindalun Papi dengan rajanya yang bernama Arung Tosang penggelaran beliau sama dengan nama perjuangannya. Buku ini salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BIOGRAFI PERJUANGAN A. BIRITTA BIN BASO ENREKANG PUANG TOSANG TOALALA' SEJARAH PERJUANGAN MENENTANG PENJAJAH BELANDA 
DI ENREKANG DAN SEKITARNYA TAHUN 1905-1906
Penyusun: Hj. R. Buapala


August 20, 2021

KONSEPSI AJARAN TASAWUF SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY

Syekh Yusuf Al-Makassary, seorang tokoh spiritual kebanggaan Sulawesi Selatan dan Indonesia. Kekhasan konsep tasawuf Syekh Yusuf yang mampu diterima oleh masyarakat awam telah melahirkan banyak pengikut di berbagai belahan dunia. Hal tersebut menunjukkan jalan menuju Tuhan melalui pembersihan hati memiliki dimensi halus yang harus menyentuh hati manusia, sehingga mereka menerimanya. Berikut beberapa ibadah harian yang dianjurkan Syekh Hajj Yusuf Taj al-Munjalawi al-Makassary q.s. termaktub dalam risalahnya yang berjudul "Wasiat al-Munjiyat al-Madarat an Hijaiba" sebagai berikut:

Inilah wasiat-wasiat kami untukmu, yaitu: mereka harus percaya kepada apa yang ada di dalam ayat Laisa ka mitslihi shaiun (Dia zat Allah, tiada serupa-rupa dengan sesuatupun), karena semua ayat kembali kepada ayat tersebut. Jangan bergeser dari keyakinan ini.

Harus pula meyakini apa yang termaktub pada Surat Ikhlas, yang di dalamnya terdapat semua kepercayaan mengenai Allah Taala. "Dia zat Allah tak serupa dengan sesuatupun".

Wajib atas engkau menegakkan shalat lima waktu, tak boleh meninggalkannya.

Wajib pula atasmu, memperbanyak zikir Laa ilaaha illallaah dengan jumlah yang tak terhitung banyaknya, karena zikir itu paling mulia, berdasarkan sabda Nabi: "Zikir termulia ialah zikir Laa ilaaha illallaah. Sabdanya pula: "Yang diucapkan olehku dan nabi-nabi sebelumku, ialah lafal: Laa ilaaha illallaah.

Wajib pula engkau mengucapkan lafal zikir Alah, Allah, Allah beserta Huwa, Huwa, Huwa secara bersamaan 10.000 kali tiap hari dan malam, jangan kurang dari itu. Ini jika engkau termasuk mutajarrabin, bukan ahli kasab.

Pada hakekatnya 10.000 ini sedikit. Jika mereka termasuk ahli iktisab, maka separuhnya, sepertiga atau seperempat, tetapi jangan kurang dari itu. Jikalau tak begitu, mereka hanya pura-pura mencari jalan kepada Allah. Dengan kepura-puraan, ia tak akan sampai, ia rendah jiwanya. Jiwa yang rendah tak akan membawa kebaikan samasekali.

Wajib pula bershalawat kepada Nabi s.a.w, tiap-tiap hari dan malam 1.000 kali, tak kurang dari itu. Juga mengucapkan: Subhana Allah wal hamdu lillah wa laa ilaha illallah wa Allah akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah al aliyul adzim 1.000 kali tiap hari dan malam.

Buku KONSEPSI AJARAN TASAWUF SYAKH AL-MAKASSARY berisi pokok-pokok ajaran tasawuf Syekh yang masih terpelihara dan diamalkan oleh mereka yang masih terpelihara dan diamalkan oleh mereka yang masih meyakini ajaran tasawuf Syekh, juga dari beberapa risalah utama karya Syekh yang masih dapat terpelihara keutuhannya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'Salapang-Makassar.


KONSEPSI AJARAN TASAWUF SYAKH AL-MAKASSARY 
(Dinukil dari Karya-karya Utama Syekh)
Penulis: Hajj Jamaluddin Aziz Paramma Dg. Jaga
Penerbit: Orbit Publishing
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2011
ISBN; 978-602-99404-1-1



August 18, 2021

PAU-PAUNNA I MASE-MASE RI TANA UGI


Lontarak yang merupakan hasil sastra lama di kalangan suku Bugis memegang peranan penting karena mengandung nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman dalam hidup dan keluarga. Sebagai salah satu khazanah budaya, seperti naskah I Mase-mase, yang naskahnya berbahasa Bugis dan teksnya menggunakan aksara lontarak Bugis yang ditulis tangan dengan penulis naskahnya itu anonim. Naskah sastra Bugis ini berisikan rekaman kejadian lama yang berisi pranata sosial kemasyarakatan yang mengandung nilai pedagogis, ekonomis dan sosial.

Buku PAU-PAUNNA I MASE-MASE RI TANA UGI disusun sebagai berikut. Bagian pertama adalah pendahuluan yang berisikan latar belakang dan masalah, sumber data, transliterasi, terjemahan dan sistematika penulisan. Bagian kedua adalah sinopsis yang berisi ringkasan isi cerita. Bagian ketiga adalah terjemahan dan transliterasi. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala Salapang-Makassar. Berikut para pelaku dalam naskah sastra Bugis PAU-PAUNNA I MASE-MASE RI TANA UGI:

  • I Mase-mase, sering disebuit I Besse atau I Singkeruang Ugi
  • Datu Irong atau Datu Tana Ugi (Datu Tanah Bugis), ayah I Mase-mase.
  • La Baso Jawa atau sering digelar Datu Lolo, putra Datu Tanah Jawa yang menjadi suami I Mase-mase
  • Datu Tanah Jawa. Istri Datu ini bersaudara dengan ibu I Mase-mase di Tanah Bugis
  • Datu Padaelo berkedudukan di Jawa, saudara sepupu I Mase-mase.
Naskah I Mase-mase dengan lokasi cerita di Tanah Bugis dan Tanah Jawa. Buku ini memberikan sempilan episode, yang menceritakan tentang seorang raja bernama Datu Iron. Istrinya bernama Datu Tana Ugi. Suatu ketika Datu Irong bermaksud pergi berdagang ke Tanah Jawa. Ia mempersiapkan perbekalan, perlengkapan dan barang dagangan yang akan dibawa. Setelah siap semua, bersama dengan pengikut-pengikutnya, ia pun berlayarlah mengarungi Selat Makassar dan Laut Jawa. Sampai di Jawa, mereka menjual barang dagangannya, lalu membeli pula barang dagangan yang lain. Demikian sedikit sinopsis epidose I dari buku ini.



PAU-PAUNNA I MASE-MASE RI TANA UGI 
Penulis: Abdul Kadir Mulya
Penerbit: Pusat Bahasa Departemen Nasional
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2000





 

WASIAT-WASIAT DALAM LONTARAK BUGIS

Orang Bugis adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai bahasa dan aksara daerah yang disebut Aksara Lontarak. Selain aksara Lontara yang mereka punyai juga dikenal sebuah aksara lain ialah huruf Saeran. Sesunggunya huruf Saerang ini adalah huruf Araf yang dikenal di daerah Sulawesi Selatan melalui Pulau Seram. Dengan dikenalnya kedua aksara ini sehingga orang Bugis dapat mencatat kejadi-kejadian yang pernah mereka alami pada masa silam. Selain mencatat kejadian-kejadian yang pernah mereka alami itu juga mereka mencatat apa yang disampaikan orang tua-tua yang berupa pesang-pesang, nasehat-nasehat, petua dan sejenisnya, kesemuanya ini disebut wasiat-wasiat.

Wasiat yang dicatat ditinggalkan sampai sekarang yang dikenal dengan nama Lontarak atau naskah lama. Berikut beberapa wasiat dari beberapa cerdik-cendekia pada zaman dahulu yang ada di Sulawesi Selatan (Bugis):

Nenek Allomo di Sidenreng

Hukum tidak mengenal anak. Artinya dalam menegakkan hukum, tidak ada kecuali walau anak sekali pun kalau bersalah, ia harus di hukum juga. Ucapan Nenek Allomo ini, telah dibuktikannya sendiri kepada anak kandungnya.

Macae ri Luwu

Dirikulah kujadikan cupak/takaran, timbangan. Kutempatkan di bawah yang di bawah, kutempatkan di tengah yang di tengah, kutempatkan di atas yang di atas. Menurut Macae ri Luwu, kemakmuran, kedamaian dan ketentraman akan dicapai apabila segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya. Terutama para pemimpin apabila hendak bertindak maka hendaklah mengembalikan pada dirinya dahulu barulah melaksanakan tindakannya itu.

P. Rimanggalatung

Aku tidak pernah mengambil keputusan sendiri-sendir. Apabila aku mengadili perkara seseorang, aku tidak pernah lupa menghadapkan kepada Dewata. Nantilah Dewata memberikan petunjuk kepada saya bagaimana duduk persoalan itu dan dari padanya datangnya petunjuk bagaimana penyelesaiannya, itulah yang saya lakukan.

Buku WASIAT-WASIAT DALAM LONTARAK BUGIS  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala Salapang-Makassar. Buku ini membahas mengenai wasita-wasiat orang-orang dahulu sebagai media untuk memperkenalkan isi wasiat dan dijadikan media untuk memperkenalkan buah-buah pikiran orang tua-tua dahulu kala yang berdiam di Sulawesi Selatan. Berikut pengelompokan isinya, mengenai:

  • Kewajiban raja atau pemimpin, apa yang harus dilakukan dan apa pula yang harus dihindari agar negerinya merasa aman, makmur dan tenteram.
  • Kerukunan berumah tangga. Apa kewajiban suami dan apa kewajiban isteri serta sifat-sifat apa dan yang bagaimana masing-masing harus dimilikinya.
  • Ketentuan seorang hakim apa dan bagaimana sikap dan tindakannya di dalam menegakkan keadilan. Akibat-akibat apa yang mungkin terjadi apabila hakim sendiri yang berbuat curang.
  • Tugas dan kewajiban bagi seorang utusan atau kepercayaan raja.
  • Pelanggaran yang harus diberikan hukuman mati.
  • Ketakwaan kepada Tuhan Yang Masa Esa.

WASIAT-WASIAT DALAM LONTARAK BUGIS
Penulis: Ambo Gani, Husna G.S, Baco. B, Ahmad Yunus
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1990



August 13, 2021

SUREK UGI SAKKE RUPA I


Alih aksara dan terjemahan yang berjudul "Surek Ugi Sekke Rupa I" (Bunga Rampai Sastra Bugis) ini memuat (1) Bicara Atturiolong, (2) Rapang ri Lenna Bone ri Palilikna, (3) Pau Kotika, (4) Panggajakna Abdul Ibadi dan (5) Panggajakna Nabitta Muhammad SAW. Naskah ini diangkat dari buku Boeginesche Chretomathie, Jilid II Tahun 1872, disusun oleh Dr. B.F, Matthes. Buku ini tertulis dalam aksara Lontarak dan bahasa Bugis. Ringkasan isinya adalah sebagai berikut:

1. Bicara Atturiolong
Bicara atturiolong yang artinya undang-undang orang dahulu, berisi pokok undang-undang nasyarakat Bugis pada masa dahulu. Undang-undang atau hukum itu harus ditaati dan dijalankan secara pasti tanpa pengecualiaan. Apabila hukum itu tidak dijalankan atau ditaati, hal itu akan membawa konsekuensi yang berat bahkan masyarakat akan menanggung resikonya. Suatu contoh, apabila raja atau penegak hukum tidak berlaku adil, hal itu akan membawa petaka bagi masyarakat. Kemarau panjang akan terjadi, bunga dan buah pepohonan akan berguguran, tanaman pangan tidak menjadi, rakyat melarat, negeri kacau balau, dan masyarakat selalu resah.

2. Rapang ri Lalenna Bone ri Palilikna
Rapang ri Lalenna Bone ri Palilikna memuat (1) hukum pidana dan perdata dalam Kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan kecil yang ada disekitarnya, (2) adat persahabatan, (3) keputusan bersama yang cenderung merupakan perjanjian kerjasama antar Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa.

3. Pau Kotika
Pau Kotika merupakan ilmu peramal, yang dalam naskah ini isinya berupa (1) hari-hari baik dan naas, (2) perbintangan bulan baik dan tidak baik untuk mendirikan rumah, (3) hari-hari baik untuk menggunting pakaian dan memotong kuku, (4) takwil mimpi dan (5) alamat yang akan terjadi jika rumah atau kampung dimasuki binatang tertentu dan jika rumah ditumbuhi tanaman tertentu. 

4. Panngajakna Abdul Ibadi
Panngajakna Abdul Ibadi berisi tanya jawab Abdul Ibadi dan Nabi Muhammad SAW. Di dalam soal jawab itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ada tujuh keputusan dalam genggaman Allah, yakni (1) keadilan, (2) ketegasan, (3) kejujuran, (4) sosial, (5) kesabaran, (6) kesederhanaan dan (7) tidak membeda-bedakan.

5. Panngajakna Nabitta Muhammad SAW
Panngajakna Nabitta Muhammad SAW berisi nasehat bagi umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya. Nasehat itu digambarkan melalui kisah perjalanan hidup manusia di dunia sampai di akhirat. Manusia yang tidak beriman dan yang beriman, apabila telah mati, akan mengalami hari akhirat, tempat pembalasan dan ganjaran segala perbuatan ketika hidup di dunia. Semua manusia, apabila telah di akhirat, akan menyesali diri karena tidak melaksanakan perintah Allah secara sempurna ketika ia di dunia. Akan kembali ke dunia lagi untuk melaksanakan semua perintah Allah sudah tidak mungkin lagi.

Buku SUREK UGI DAKKE RUPA I merupakan salah satu koleki Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, dan menjadi salah satu karya sastra Indonesia lama yang berbahasa Bugis yang berisikan:

  1. "Ianae surek poada- adaengi bicara atturri olonnge" artinya inilah surat yang membicarakan tentang undang-undang orang dahulu.
  2. "Ianae surek poada-adaengi rapang ri lalenna Bone ri Palilikna", artinya Inilah surat yang membicarakan undang-undang dalam kerajaan.
  3. "Ianae pau kotika", artinya inilah kata-kata ramalan.
  4. "Ianae surek penngajak na Abdul Ibadi", artinya inilah surat nasehat Abdul Ibadi.
  5. "Ianae surek panngajakna Nabitta Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam", artinya surat nasehat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam.

SUREK UGI SAKKE RUPA I
Penulis: Abdul Kadir Mulya
Penerbit: Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1993
ISBN: 979-459-323-0



August 10, 2021

PANGNGAJAK TOMATOA


Berikut salah satu contoh PANGNGAJAK TOMATOA: "Issengi mennang, majeppu lempuk-e kui ri arung mangkauk-e namakessing; naia laboe kui ri tosugik-e namakessing; naia amalek-e kui ri tupannritae namakessing; naia sakbarak-e kui pakkerek-e namakessing". 

Artinya Ketahuilah bahwa kejujuran itu sebaiknya dimiliki oleh raja atau penguasa; sifat dermawan itu sebaiknya dimiliki oleh orang kaya; amal itu sebaiknya dimiliki oleh ulama, sedangkan kesabaran sebaiknya dimiliki oleh orang miskin.

"Naia arung mangkauk-e nadek lempuk-na, padatoisa ebarakna saloe nadek uaena. Naia tosugik-e nadek labona pada toisa ebarakna ellung maumpeng nadek bosina. Naia to panritae nadek amalakna padatoisa ebarakna bolae nadek lisekna. Naia pakkerek-e nadek sakbarakna padatoisa ebarakna buwunnge nadek serokna".

Artinya: Raja atau penguasa yang tidak jujur bagaikan sugai tak berair. Orang kaya tanpa sifat dermawan laksana awan tebal tanpa membawa hujan. Ulama yang tidak beramal ibarat rumah tanpa perabot. Adapun orang miskin tanpa kesabaran laksana sumur tanpa timba.

Pangngajak tomatoa atau wasiat orang-orang dahulu adalah salah satu sumber penggambaran watak orang Bugis dan sifat kebudayaannya. Di antara sekian banyak bentuk sastra klasik Bugis, pangngajak termasud salah satu diantaranya. Secara harfiah pangngajak itu bermakna sesuatu yang diwasiatkan atau dinasehatkan. Wasiat itu dapat berupa ungkapan yang berbentuk kata-kata hikmah atau melalui cerita yang didalamnya dihiasi dengan berbagai nasihat, peringatan dan tatanan hidup yang harus dipatuhi pendukungnya.

Penutur pangngajak dilakukan oleh orang-orang tua kepada anak cucunya, oleh kiai (guru) kepada santri-santrinya, dan raja beserta pembesar kerajaan kepada rakyatnya. Akan tetapi, tidak jarang pula seorang raja yang bijaksana minta dinasehati atau diberi petunjuk. Wasiat itu selanjutnya menjadi norma yang harus ditaati. Orang yang mematuhinya akan selalu terpandang di masyarakat. Sebaliknya,  orang yang melanggarnya akan menanggung sanksi sosial yang sangat berat, namanya ikut tercemar dan status sosialnya menjadi turun sehingga sukar sekali untuk meraih kembali nama baiknya.

Pangngajak disampaikan secara lisan kemudian di tulis ke dalam huruf lontarak. Di kalangan orang Bugis ada yang mengambil inisiatif untuk menyalinnya karena kepentingan pewarisan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam kedudukannya sebagai salah satu bentuk karya sastra Bugis, pangngajak berfungsi sebagai sumber nilai. Artinya, didalamnya kita dapat menemukan berbagai macam nilai yang harus dihormati terutama ortang-orang yang berlatar belakang budaya Bugis. Nilai-nilai itu sekaligus merupakan dasar penilaian, apakah seseorang masih wajar disebut tau (manusia yang sebenarnya) atau hanya sekedar rupa tau (hanya berbentuk manusia). Hal seperti ini dapat diukur melalui nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai itu antara lain: sirik, kejujuran, keteguhan, etos kerja dan keagamaan.

Pangngajak tomatoa yang sempat terjaring dalam buku sebanyak 312 butir yang menyangkut berbagai bidang kehidupan. Sumber tulisan ini dari berbagai naskah lontarak Bugis antara lain Boeginesche Chrestomathie bagian yang membicarakan Latoa (sebagian). Disamping naskah tertulis, juga digunakan sumber lisan yang langsung di jaring dari tokoh-tokoh adat atau pemuka masyarakat. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PANGNGAJAK TOMATOA
Penulis: Zainuddin Hakim
Penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 1992


ERONG DI TORAJA


Dalam mitologi orang Toraja, bahwa sistem upacara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip menurut sistem kepercayaan. Di dalam sistem kepercayaan Aluk Todolo, dikenal adanya tiga oknun yang disembah dan diberi upacara.

Sedangkan konsep tentang hidup dan mati menurut ajaran Aluk Todolo, antara keduanya merupakan suatu kesinambungan proses kehidupan. Kesinambungan itu tidaklah membentuk semacam lingkaran yang tidak ada putus-putusnya. Antara hidup dan mati tidak ada batas yang jelas, dan mati itu merupakan peralihan bentuk, peralihan tempat dimana manusia melakukan aktivitas hidupnya dan peralihan wujud. Hidup adalah jembatan yang harus dilalui sampai kealam gaib, dimana kehidupan di sana tetap menjalin hubungan dengan kehidupan alam nyata. Dan alam ini adalah wadah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu di dunia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mengumpulkan kebaikan dan harta.

Orang Toraja mengenal dan percaya kepada kepercayaan Aluk Todolo. Ajaran Aluk Todolo, percaya bahwa sesudah orang meninggal arwahnya (roh) pergi ke alam baka sebagai tempat perkumpulan arwah-arwah. Adapun kurban-kurban persembahan yang dikurbankan pada waktu pemakamannya berupa hewan-hewan seperti kerbau, babi, ayam dan harta benda lainnya yang dimasukkan ke dalam bungkusan jenasahnya.

Pembuatan Erong di Tana Toraja, hanya dilakukan pada saat ada orang yang meninggal dunia. Pembuatan erong tersebut mereka lakukan dengan cara atau teknik antara lain: teknik pahat dan teknik pembakaran. Berikut beberapa ukiran dan ragam hias pada erong, yaitu: Pa' ambollong, Pa' Baba Gandang, Pa' bulu Londong, Pa' Bare Allo, Pa' Bombo uai, Pa' Daun Bolu, Pa' Daun Telinga Tedong, Pa'Doli Langi, Pa'Kapuk Baka, Pa'London, Pa'Pollo Gayang, Pa'Sura' Lembang, Pa'Sekong, Pa' Sepu Torongkong, Pa' Tanduk Ra'pe, Pa' Tedong dan Pa' Rangga Ulu.

Adapun bentuk Erong yang terdapat pada kompleks atau situs Desa Boriparinding terdiri dari lima bentuk, bentuk rumah adat (tongkonan), kerbau, babi, perahu dan lesung. Erong yang berbentuk rumah adat dan kerbau diperuntukkan khusus bagi kaum bangsawan dan keluargannya, sedangkan erong yang berbentuk perahu, babi dan lesung diperuntukkan bagi kaum atau masyarakat biasa dan keluarganya.

Pada erong tersebut memiliki ragam hias yang berbagai jenis bentuknya yang sangat penting, terutama pada saat-saat mereka melaksanakan upacara-upacara pemakaman pada masyarakat pendukung tradisi megalitik, khususnya pada saat upacara penguburan. Kerbau memiliki fungsi yang kompleks, adapun peranan kerbau antara lain: 

  1. Kerbau meruapakan jembatan luas untuk sampai ke dunia seberang sana yaitu surga, di samping kurban-kurban lainnya.
  2. Kerbau dapat menentukan hadirnya roh orang yang telah meninggal secara wajar di alam gaib.
  3. Kerbau merupakan kurban yang menentukan tingkatan upacara kematian
  4. Kerbau yang telah dikurbankan pada saat upacara kematian (pemakaman) dapat menentukan stratifikasi seseorang dalam lingkungan masyarakatnya.
Buku ERONG DI TORAJA membahat tentang erong sebagai wadah kubur yang digunakan oleh masyarakat di Tana Toraja, baik itu segi bentuk, bahan dan fungsi serta ragam hias dan makna yang terkandung didalamnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang- Makassar


ERONG DI TORAJA
Penyusun: Baharuddin Bunru, Lenora, Dian Cakrawaty
Editor: Sahriah Muhammading
Penerbit: Pembinaan dan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tepat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1998




August 9, 2021

ADA SULSANA UGI MASAGALAE

 

Salah satu kesusastraan daerah yang berupa kata-kata susastra daerah tersebut ruang lingkupnya dibedakaan atas dua bagian yaitu bersifat materi dan bersifat ruang/waktu dan lokasinya. Dibidang materi dimaksudkan adalah susatra daerah yang berupa kata-kata sulsana meliputi paseng (wasiat), pangaja (nasehat) fatwa (penjelasan operasional bagi paseng, pangaja dan uluada)

Kata-kata sulsana yang dimaksud itu diangkat dari naskah lontarak/naskah tua yang pernah diucapkan oleh orang tua (to matoa-e), to sulsana/cendekiawan atau raja.  Salah satunya Lontara Ada Sulsana Ugi Massagalae yang isinya mencakup wasiat, nasehat dan fatwa yang telah diungkapkan oleh La Tenribali, La Tiringeng To Taba, La Tadangpare Puang ri Maggalatung, La Mungkace To Uddamang, La Sangkuru Patau Mulajaji dan La Salewangen To Tenriruwa. Mereka itu adalah raja yang berkuasa dan berwibawa dalam melaksanakan tugasnya baik sebagai raja yang berkuasa dan berwibawa dalam melaksanakan tugasnya baik sebagai raja maupun sebagai orang yang dituakan atau selaku cendikiawan (to sulsana) pada jamannya.

Pada masa pemerintahan La Tenribali selaku Arung Cinnongtabi dan selanjutnya menjadi Batara Wajo, beliau sangat terkenal kearifannya dan kebijaksanaan serta kejujurannya. Ungkapannya banyak terkenal, tetapi yang banyak diangkat disini antara lain bahwa negara Wajo hendaklah dibuka seluas-luasnya (Ripangolo risaliwengngi jongekna porona Wajo). Maksudnya supaya penduduk dari lain negeri berdatangan tinggal dan menetap di negeri Wajo.

La Tiringeng To Taba Arung Simettempola adalah raja yang memiliki bakat dan kuwalitas pribadi yang menonjol di abad ke-15. Cara berpikirnya tajam, cakrawala pandangnya luas sehingga dia mampu mempunyai karya besar  “ade ammaradekangenna to Wajo’e” (hak-hak kebebasan orang Wajo) pada tahun 1469.

Pada masa pemerintahan La Tadangpare Puang ri Maggalatung (1491-1521) Kerajaan Wajo mengalami puncak kejayaan usahanya mendapatkan kesuksesan yang luar biasa. Keberhasilannya itu diperoleh karena keuletan dan kekuatan serta kemampuan yang ada padanya. Kekuatan diperoleh karena kesepakatan membina persatuan dan kesatuan yang utuh. Beliau adalah seorang pemberani karena itu sebagai panglima perang senantiasa meraih kemenangan dalam berbagai pertempuran. Dalam tempo 20 tahun saja telah berhasil menaklukkan sekitar 30 negeri. Sehubungan dengan itulah maka beliau mendapat julukan negarawan dan ahli stategi perang.

La Mungkace To Uddamang menjadi raja di negeri Ciung disamping itu ia pula mengembangkan kariernya di bidang kemiliteran. Kariernya itu kian hari kian menonjol yang membuatnya menjadi panglima perang. Sebagai panglima perang ia memiliki jiwa patriotik yang menyebabkan beliau meraih serentetan kemenangan dalam pertempuran. Kerajaan Batulappa dan Bulobulo yang terkenal laskarnya, dimana laskar Gowa telah beberapa kali menyerang namun tidak dapat ditaklukkan. Akan tetapi laskar Wajo yang dipimpin Panglima La Mungkace mampu menaklukkannya. Raja Gowa ke-10 mengakui kekuatan laskar Wajo dan kepatriotan La Mungkace.

La Sangkuru Patau Mulajaji adalah keturunan langsung La Tadangpare Puang ri Maggalatung. La Sangkuru Patau adalah raja di negeri Peneki, kemudian terpilih menjadi Arung Matowa Wajo menggantikan pamannya La Mungkace To Uddamang. Ia memerintah selama kurang lebih 3 tahun (1607-1610).

La Salewangeng To Tenriruwa adalah seorang bangsawan keturunan langsung La Tadangpare Puang ri Maggalatung, Arung Matowa Wajo. Ia adalah raja di negeri Kampiri (Arung Kampiri). Ia mempunyai reputasi dan prestasi yang kian hari kian menanjak menyebabkan terpilih menjadi Arung Matowa Wajo ke-30 menggantikan La Tenriweru Puanna Sangaji. La Salewangeng memangku jabatan Arung Matowa selama kurang lebih 24 tahun (1712-1736). Terkenal pandai berdiplomasi, cerdas dan berbakat di bidang persawahan/pertanian.

Gubahan Galigo termasuk kesusastraan yang terkenal di masa lampau, sejenis puisi klasik. Dilihat dari bentuknya gubahan galigo ada yang terikat dan ada pula yang berbentuk bebas. Gubahan galigo yang terikat terdiri atas tiga baris. Baris pertama terdiri atas delapan suku kata  (aksara lontarak 8 huruf). Baris kedua terdiri atas tujuh suku kata (aksaran lontarak 7 huruf). Dan baris ketiga terdiri atas enam huruf (aksara lontarak 6 huruf).

Gubahan Galigo dimasa lampau banyak diminati orang lelaki dan wanita. Sering dilagukan dalam meramaikan pesta, bahkan sering juga dilombakan akan tetapi kenyataannya akhir-akhir ini peminat galigo jarang ditemukan lebih-lebih orang yang pandai melagukan telah terbilang langkah

Buku ADA SULSANA UGI MASAGALAE berasal dari naskah-naskah tua yang mengandung wasiat, nasehat dan kata-kata sulsana yang bermutu tinggi sebagai hasanah budaya bangsa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

ADA SULSANA UGI MASAGALAE
Penulis: H. Palippui, Muhammad Hatta, Moch. Said Mappa, Andi Pabarangi
Penerbit: Yayasan Kebudayaan Mini Latenribali
Tempat Terbit: Sengkang
Tahun: 1992

August 6, 2021

NAVIGASI BUGIS

Tanda-tanda alam yang digunakan para nakhoda, mulai pola bintang, arah angin, mahluk-mahluk laut, lanskap pesisir hingga gerak permukaan laut. Seperti masyarakat Bugis Balobaloang, sebuah desa di Laut Flores, tengah jalan antara Sulawesi Selatan dan Sumbawa, sama seperti hanya  komunitas pelaut Bugis lainnya, keahlian seni navigasi membawa praktek dan simbolik, dan merupakan alat terpenting yang berguna untuk menarik pengikut dan memperlihatkan potensi. Karena nilai pentingnya bagi masyarakat Bugis, maka perlu memahami bagaimana keahlian ini dipelajari. Berbeda dengan para nahkoda Mikronesia yang mempelajari sebahagian besar keahlian tradisional mereka melalu pengajaran secara berkelompok yang berlangsung di darat dan dibawakan oleh nakhoda yang ahli, para nakhoda Bugis menerima hampir seluruh pelatihannya secara sendiri-sendiri langsung di atas perahu. Melalui kombinasi pengajaran langsung oleh nakhoda dan pengalaman selama berjam-jam secara praktik, seseorang baru bisa diakui sebagai nakhoda.

Anak kecil, khususnya anak laki-laki, biasanya akan belajar melaut dan akhirnya bisa mengemudi perahu-perahu besar. Sejak usia empat atau lima dan berakhir tak lama sebelum masa akil balig, anak laki-laki mandi dan bermain di perairan dangkal dekat pantai. Bagian dari permainan ini adalah melayarkan perahu mainan yang dibuatkan ayahnya, paman atau kakek, dari pelepah kelapa hingga kayu ukiran. Pada usia tujuh atau delapan, mereka diizinkan mendayung sampan sendiri dekat pantai. Setahun atau dua tahun kemudian mereka mulai menemani saudara laki-laki atau ayahnya mencari ikan dengan sampan bercadik.

Dalam satu atau dua tahun setelah menyelesaikan sekolah dasar, sebahagian besar anak laki-laki telah menjadi awak perahu dagang setempat, sekalipun tengah melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah di kota, mereka sering menghabiskan seluruh masa liburan di laut. Disepanjang masa kanak-kanak, mereka bepergian dengan perahu bersama anggota keluarga lain mengunjungi kerabat di pulau lain atau di kota-kota pelabuhan, saat ayah dan saudara mereka kembali dari laut, mereka mendengarkan cerita-cerita tentang bagaimana perahu-perahu mereka mencapai pelabuhan-pelabuhan yang jauh. Seiring dengan menyatunya mereka dengan kehidupan pelaut dan perdagangan, sebagian besar pemuda pulau itu merasa cukup alami saat menjadi pelaut, dan mereka sering berkomentar bahwa saat paling bahagia adalah saat di laut.

Buku NAVIGASI BUGIS adalah sebuah kajian etnografi yang mencatat pengetahuan dan praktik navigasi komunitas pelaut Bugis yang bermukim di sebuah pulau di Laut Flores, tengah jalan antara Sulawesi Selatan dan Sumbawa, yang berisikan pengetahuan dan praktik navigasi komunitas pelaut Bugis, menjadikan tanda-tanda alam (pola bintang, arah angin, makhluk laut, lanskap pesisir, hingga gerak permukaan air) sebagai basis pengetahuan mereka dalam melakukan aktivitas pelayaran. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. 


NAVIGASI BUGIS
Penulis: Gene Ammarell
Penerjemah: Nurhady Sirimorok
Editor: Anwar J Rachman
Penerbit: Hasanuddin University Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-530-065-2


 

August 5, 2021

PITU BABANA BINANGA (MANDAR)

 

Wilayah kerajaan-kerajaan PITU BABANA BINANGA dan sekitarnya meliputi wilayah onderafdeling Mamasa dan kerjaan-kerajaan PITU BABANA BINANGA yang wilayahnya meliputi wilayah onderafdeling-onderafdeling  Majene, Mamuju dan Polewali.

Kerajaan-kerajaan PITU BABANA BINANGA, terdiri dari kerjaan-kerajaan:

  • BALANIPA (Kabupaten Polewali Mamasa)
  • SENDANA (Kabupate Majene)
  • MAJENE atau BANGGAE (Kabupaten Majene)
  • PAMBOANG (Kabupaten Mamuju)
  •  TAPALANG (Kabupaten Mamuju)
  • MAMUJU (Kabupaten Mamuju)
  • BINUANG (Kabupaten Polewali)

Kerajaan-kerajaan PITU BABANA BINANGA arti harfiahnya TUJU/MUARA SUNGAI, tetapi maksudnya TUJUH KERAJAAN DI BAGIAN PENGUNUNGAN DAERAH MANDAR,  dan sebaliknya PITU ULUNNA SALU arti harfiahnya TUJUH HULU SUNGAI maksudnya TUJUH KERAJAAN DI BAGIAN PENGUNUNGAN DAERAH MANDAR.

Tentang asal nama MANDAR, ada beberapa pendapat yang dikemukakan dan ditulis, misalnya oleh Saiful Sinrang dikatakan berasal dari kata MANDARA yang artinya cahaya, oleh Darwis Hamzah dikatakan berasal dari kata MANDAQ artinya kuat, dan ada pula yang berpendapat bahwa diambil dari nama SUNGAI MANDAR, yang bermuara di pusat Kerajaan Balanipa (Pitu Babana Binanga) dan hulunya di bagian Pitu Ulunna Salu. Mungkin dari nama Sungai Mandar juga dinamai Teluk Mandar.

Buku MENGENAL PITU BABANA BINANGA (MANDAR) DIANTARA KERAJAAN GOWA-BONE DAN LAIN-LAIN DI SULAWESI SELATAN membahas tentang penegasan I Manyambungi (Todilaling) Maradia Balanipa I  dan memegang tegu budaya siri dengan tidak mengingkari janjinya kepada rakyat, juga membahas tentang pembentukan kerajaan-kerajaan lokal (swapraja) seperti di Pitu Babana Binangan (Mandar bagian pantai), Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, di Sidenreng (Ajataparang), di Rappang (Ajataparang); hubungan antara kerajaan satu dengan kerajaan lain; hubungan dengan Belanda; susunan pemerintahan swapraja; pemilihan/pengangkatan pejabat; pengadilan swapraja; keuangan/kas dan pegawai swapraja; masa-masa peralihan sampai kepada penghapusan swapraja; kabupaten, kecamatan dan desa di Sulawesi Selatan; daftar urutan-urutan pemegang jabatan Raja Balanipa mulai dari Todilaling sampai kepada yang terakhir.

Buku ini juga dilampirkan daftar nama raja-raja di Sendana, Gowa, Bone, Luwu, Soppeng, Sidenreng, Wajo, Rappang serta contoh surat pengukuhan seorang anggota hadat dan gambar tugu di Tammejarra Napo, menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

MENGENAL PITU BABANA BINANGA (MANDAR) 
DIANTARA KERAJAAN GOWA-BONE DAN LAIN-LAIN DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Saharuddin

August 4, 2021

LONTARAK SOPPENG


Lontarak sebagai naskah kuno merupakan salah satu sumber data dan informasi kebudayaan daerah yang dapat memberikan rekonstruksi kehidupan masyarakat masa lampau. Naskah kuno tersebut, disusun oleh Bahariawan, Amanna Gappa, seorang Bahariawan Wajo, Gowa, Puang Rimaggalatung di Wajo, Kajao Lallido di Bone, To Acca di Luwu, Boto Lempangan di Gowa dan Arung Bila di Soppeng. Lontarak tersebut berisi sejarah lokal, sistem pemerintahan, hukum, ekonomi, pertanian, adat istiadat dan lain-lain.

Buku LONTARAK SOPPENG berisikan huruf Lontarak Bugis dan huruf latin (di Indonesiakan). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makasar. Berikut sistematika Lontarak Soppeng, sebagai berikut:

  1. To Manurung 
  2. La Wadeng Arung Bila 
  3. Pappaseng Arung Bila
Aksara Lontarak Bugis terdiri atas 23 huruf, semuanya huruf vokal. Konsonan yang terdapat pada ahir kata tidak dinyatakan secara eksplisit. Salah satu Lontarak Bugis adalah Lontarak Soppeng yang lontarak aslinya merupakan koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Perpustakaan Nasional Indonesia. 


LONTARAK SOPPENG
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003




MAKASSAR DALAM SEJARAH (1510-1700)


Pertumbuhan Makassar sebagai kota, ibu negeri Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo), memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan kerajaan dengan segala kebutuhan dengan dorongan-dorongan, baik dalam lapangan politik, maupun dalam ekonomi, sosial dan kultural. Dengan banyaknya catatan dan lontara' dan arsip-arsip Belanda, bahwa hampir semua peristiwa yang menyangkut hubungan negeri ini keluar, Kota Makassar yang didepankan namanya. Tempat baginda raja-raja Gowa bersemayam dalam Kasteel Somba Opu di Kota Makassar.

Bandar niaga Makassar, adalah bandar niaga Kerajaan Kembar Gowa-Tallo. Di bahagian selatan terbilang daerah Gowa, di sebelah  utara terbilang daerah Tallo. Akan tetapi setelah bandar Makassar diserahkan pengurusannya kepada DaEngta Sabannaraka (syahbandar), maka semua kampung, desa atau daerah yang terbilang daerah Gowa (dekat Barombong sekarang) sampai Benteng Ujung Pandang di utara, dan dari Ujung-Tanah di ujung utara sampai ke daerah perbentengan Mangara'bombang, Agangpancaya di sebelah timur Tallo, yang terbilang daerah Tallo, termasuk wilayah Sabannara' Makassar, yang mengurus kota pelabuhan ini atas nama kerajaan.

Ujungpandang atau Jumpandang, adalah salah satu bagian kecil bandar Makassar dalam semangat 9 November 1607. Barulah setelah perjanjian Bungaya (18 November 1667), ketika Belanda menduduki Benteng Ujung Pandang dan mengganti namanya menjadi Vlaardingen, semuanya itu untuk memperingati jasa Speelman, maka disekitar tempat-tempat itulah menjadi pusat kegiatan dan keramaian. Bahagian inilah bersama daerah-daerah perkampungan sekitarnya yang disebut Bontoala dan Karebosi, menjadi peserta yang terpenting dalam perkembangan baru yang diselenggarakan oleh Belanda. Semua bahagian yang ramai itu, yang berpusat di Kota Vlaardingen, karena sukarnya disebut dengan lidah Makassar, maka kabarnya ada yang menyebutnya Palandingang tetapi sebahagian besarnya menyebut Jumpandang saja. Orang-orang Bugis dari pedalaman terutama orang Bone yang mengikuti kebesaran Bone berpindah ke Bontoala, menyebut bahagian Kota Makassar yang diduduki oleh Belanda Aruppalakka, Juppandang/Jumpandang, yang menjadi pusat kegiatan politik ekonomi yang berada di bawah pengaruh dan kekuasaan Belanda.

Setelah itu, barulah menyusul Bontoala, tempat kedudukan Aruppalakka dan beberapa orang Arumpone berikutnya. Sebagai bahagian Bandar Makassar, yang sudah sepi pada bagian-bagian selatannya yaitu perkampungan Panakkukang dan Somba Opu dengan kampung Mangallekana.

Karena Jumpandang menjadi pusat kekuatan Belanda di negeri ini yang sudah dirobah namanya menjadi Fort Rotterdam dan Vlaardingen, maka Jumpandang-lah dalam waktu singkat berikutnya menjadi sebutan umum masyarakat yang menjadi wilayah bekas ibu kota negeri Kerajaan Kembar (Gowa-Tallo) dikurangi daerah-daerah bekas Benteng Somba Opu Mangallekana dan Panakkukang yang telah menjadi kampung-kampung sepi dan mati.

Ketika Belanda dapat menstabilisir keadaan di kota ini dan tersusunnya organisasi kekuasaan Hindia-Belanda, maka pada tanggal 1 April 1906, Makassar dalam isi seperti itu dijadikan Gemeente dalam struktur organisasi kekuasaan Hindia-Belanda. Dalam semangat kolonia maka Kota Makassar disempitkan, kepengertian UJUNGPANDANG dan kampung-kampung sekitarnya, agar terhapus kenangan  kepada Makassar dalam arti yang sesungguhnya.

Akan tetapi dalam semangat Nasional, yang bertitik tumpu pada tonggak peristiwa 9 November 1607, maka Makassar adalah bandar niaga Makassar, yang berwilayah dari Panakkukang di selatan sampai Mangarabombang di Ujung timur Tallo dan Somba Opu menjadi titik sentralnya.

Buku MAKASSAR DALAM SEJARAH untuk menyusuri kembali jejak kehadiran Makassar dalam sejarah, yang membahas tentang arti Makassar baik sebagai kelompok etnik maupun negeri yang ikut mengukir kehadiran Sulawesi Selatan pada abad ke 16-17 dalam mempertahankan Makassar sebagai pusat Kerajaan Gowa, bandar niaga dan benteng pertahanan terpenting di Indonesia Timur.


MAKASSAR DALAM SEJARAH
Penulis: Mattulada
Penerbit: Bhakti-Berita Utama
Tahun Terbit: 1982






August 3, 2021

SEJARAH KEKARAENGAN BONTOA DI MAROS

Bontoa sebenarnya adalah nama yang 'masahoro' (Makassar: masyur, terkenal) ditiap daerah Bugis-Makassar dapat dipastikan ada kampung atau wanua yang dinamai Bontoa atau Bonto, sama hanya dengan nama Tanete atau Tanatea, seperti Bontoa Marusu berada di Maros kecamatan paling utara 'Butta Salewangan' (nama lain Kabupaten Maros). Dalam sejarah merupakan salah satu wilayah kekaraengan dalam lingkup Kerajaan Toddo Limayya ri Marusu, satu kerajaan kecil penerus Dinasti Kerajaan Marusu setalah kerajaan ini ditaklukkan dan dijadikan bawahan Kerajaan Gowa sejak masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapakrisika Kallonna.

Dalam 'Lontaraq Patturioloanga ri Gowa', disebutkan eksistensi Kerajaan Marusu, raja pertamanya bernama Karaeng Loe Ripakere. Dalam perjalanan historis Kerajaan Marusu telah memberi pengaruh psikologis dan disegani, sehingga pemerintah kolonial Belanda tidak mudah menaklukkannya. Namun dalam perkembangan selanjutnya terjadi persaingan diantara kerajaan karena masing-masing mempunyai kepentingan serta menginginkan agar nama kerajaannya ditetapkan sebagai nama ibukota Kabupaten Maros. Sistem Pemerintahan Adat yang disepakati tersebut bernama Toddo Limayya, Gallarang Appakka dan Lebbo Tengngae'. Salah satu pusat pemerintahan kekaraengan dalam Toddo Limayya ri Marusu' tersebut adalah Kekaraengan Bontoa yang berada diantara perbatasan Maros-Pangkep saat ini.

Kekaraengan Bontoa merupakan salah satu sejarah kekaraengan yang mewarnai Sejarah Daaerah Maros. Berdasarkan riwayat J.A.B. Van De Broor tentang Randji silsilah Regent van Bontoa (1928) mengisahkan kehadiran I Mannyarrang dari Kerajaan Bangkala (Jeneponto) sebagai utusan Somba Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya, inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kekaraengan Bontoa dari Karaeng Bontoa I sampai Karaeng Bontoa XXII, Andi Muhammad Yusuf Daeng Mangngawing (Hoof District). Berikut silsilah karaeng Bontoa I - XXII:

  • I MANNYARANG KARAENG BONTOA I (Generasi pertama dari Karaeng Labbua Talibannanna)
  • I MANNYUWARANG KARAENG BONTOA II
  • I DAENG SIUTTE KARAENG BONTOA III
  • I DAENG MANGNGUNTUNGI KARAENG BONTOA IV
  • I PAKANDI DAENG MASSURO KARAENG BONTOA V
  • I PANDIMA DAENG MALIONGI KARAENG BONTOA VI
  • I DAENG TUMANI KARAENG BONTOA VII
  • I MANGNGAWEANG DAENG MANGGALLE KARAENG BONTOA VIII
  • I REGGO DAENG MATTIRO KARAENG BONTOA IX
  • I PAREWA DAENG MAMALA KARAENG BONTOA X
  • I SONDONG DAENG MATTAYANG KARAENG BONTOA XI
  • I BAUSAD DAENG SITABA KARAENG TALLASA KARAENG, KARAENG BONTOA XII
  • I BAMBO DAENG MANAI (PETTA TEKKO) KARAENG BONTOA XIII
  • ANDI RADJA DAENG MANAI (Hoof District) KARAENG BONTOA XIV & XVI
  • ABDUL MAULA INTJE DJAMALUDDIN (Hoof District) KARAENG BONTOA XV
  • ANDI MUHAMMAD DAENG SISILA (Hoof District) KARAENG BONTOA XVII & XIX
  • ANDI DJIPANG DAENG MAMBANI (Hoof District) KARAENG BONTOA XVIII & XX
  • ANDI RADJA DAENG MANAI KARAENG LOLOA (Hoof District) KARAENG BONTOA XXI
  • ANDI MUHAMMAD YUSUF DAENG MANGNGAWING (Hoof District) KARAENG BONTOA XXII (terakhir).

Buku SEJARAH KEKARAENGAN BONTOA DI MAROS membahas dinamika sejarah yang terjadi dari Kerajaan Marusu sampai terbentuknya Toddo Limayya ri Marusu dimana Kekaraengan Bontoa adalah salah satunya dan menjadi bagian silsilah langsung dari Syekh Yusuf al-Maqassary. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. 


SEJARAH KEKARAENGAN BONTOA DI MAROS
Penulis: Muhammad Aspar
Editor: M. Farid W. Makkulau
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-979-3570-36-5

SIRIK NA PACCE

Buku LA TOA sebahagian besar berisikan peranan SIRIK dalam pola hidup atau adat istiadat Bugis-Makassar, misalnya: SIRIK sebagai harga diri atau kehormatan, MAPPAKASIRI' (artinya dinodai kehormatannya), RITAROANG SIRIK (artinya ditegakkan kehormatannya), PASSAMPO SIRIK (artinya penutup malu), TOMASIRI'NA (artinya keluarga pihak yang dinodai kehormatannya) dan SIRIK sebagai wujud sikap tegas demi kehormatan tersebut.

SIRIK dapat juga diartikan sebagai pernyataan sikap tidak serakah (Bugis-Makassar atau MANGOWA) dan SIRIK sebagai prinsip hidup (pendirian) di daerah Bugis-Makassar, SIRIK NARANRENG dipertaruhkan demi kehormatan, SIRIK PASSIRIKKIA (bela kehormatan saya), NAPAKASIRIKKA (saya dipermalukan), TAU DE'SIRIKNA (orang tak ada malu tak ada harga dirinya). Bahkan SILARIANG (minggat) adalah salah satu aspek daripada SIRIK yang erat hubungannya dengan harga diri.

Ungkapan-ungkapan sikap orang-orang Bugis yang termanifestasikan lewat kata-kata: TARO ADA' TARO GAU (satunya kata dan perbuatan). Yakni setiap tekad atau cita-cita ataupun janji yang telah diucapkannya, pasti dipenuhinya (dibuktikannya) dalam perbuatan nyata. Sejalan pula dengan prinsip ABBATTIRENG RIPOLIPUKKU (asal usul leluhur senantiasa dijunjung tinggi, segalanya kuabadikan demi keagungan leluhurku). 

Sedangkan kata "Pacce" (Makassar) atau "Pesse" (Bugis), secara harfiah berarti pedis atau pedih. Jadi "Pacce" atau "Pesse" adalah suatu perasaan yang menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesama warga masyarakat atau keluarga atau sahabat ditimpa kemalangan (musibah). Perasaan ini merupakan suatu pendorong ke arah solidaritas dalam berbagai bentuk terhadap mereka yang ditimpa kemalangan seperti ditempelen di muka umum, diperkosa, kelaparan dan sebagainya, maka dapat disimpulkan Sirik atau Pacce atau Pesse tersebut adalah sama tetapi yang terakhir ini lebih rendah tingkatannya.

Namun demikian antara keduanya sangat erat hubungannya dan tak dapat dipisahkan, seperti dalam ungkapan-ungkapan berikut:

"Punna tena Sirikta pacceta-seng ammantang" (Makassar) atau "Rekkuade' siritta messa pesseta" (Bugis) yang artinya jika tak ada sirik niscaya masih ada pesse/paccenya.

Buku SIRIK NA PACCE menggambarkan Bugis-Makassar sebagai suku bangsa yang berbudaya memiliki tingkah laku sejalan dengan pola budaya-adat istiadat. Pola budaya tersebut melahirkan unsur-unsur sirik yang dijiwai dengan prinsip-prinsip hakekat harga diri (kehormatan), identitas (pride). Namun dalam perkembangannya, sirik itu sendiri berkembang dalam berbagai aspek. Menurut faktor-faktor kondisi yang melahirkan atau menjadi sumber-sumber sebab (causalitetnya secara kompleks). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. 


Menggali Nilai-Nilai Budaya Bugis-Makassar: SIRIK NA PACCE
Penulis: A. Moein MG
Penerbit: Yayasan Makassar Press 
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1984


August 2, 2021

PERANG LOEWOE 1905-1906




Perlawanan rakyat Sulawesi terhadap Belanda, yang mau kembali menjajah Indonesia, di Afdeling Luwu termasuk yang paling gigih. Selain di Afdeling Makassar, Bonthain, Mandar dan Pare-Pare, Luwu memegang urutan yang melakukan perlawanan gigih.

Keluarga Raja Luwu Andi Djemma yang mengunsi di Latou setelah perlawanan dalam Kota Palopo tak mungkin lagi. Rakyat di Afdeling ini telah membentuk pemerintahan Republik lengkap dengan Dewan Pertahanan.

Di Latou kekuatan tentara ini bertemu dengan kekuatan-kekuatan dari Kolaka dan membentuk satu organisasi ketentaraan, kurang lebih 10 peleton. Tentara ini melakukan serangan terhadap Kolaka, tetapi dihadang oleh pasukan KNIL dibawah pimpinan Letnan Venniks. Pasukan ini terpencar-pencar.

Untuk mengatur perlawanan ini Belanda mengirim kapal perang Irebe di teluk Bone, sebelum Datu Luwu meninggalkan Palopo, terjadi ketegangan-ketegangan karena tentara Australia membawa serta tentara Belanda untuk mengembalikan kekuasaan kepada Belanda. Dan pada permulaan Januari pasukan Luwu mengirim ultimatum kepada tentara Australia yang berbunyi sebagai berikut:

Dalam tempo 2 x 24 jam pasukan Australia harus memerintahkan kepada pasukan-pasukan KNIL, yang berkeliaran di dalam dan di luar Kota Palopo mengadakan patroli-patroli, untuk segera menarik seluruh anggota-anggotanya bersama senjata-senjatanya masuk kedalam tangsi, keamanan tetap dalam tangan pemerintah Republik Indonesia Luwu sesuai dengan penjanjian dengan komandan kontingen Autralia Lay Wright, jika sampai batas waktu yang tidak diindahkan oleh yang bersangkutan, maka ketertiban dan keamanan tidak dapat dipertaggungjawabkan, karena rakyat Luwu tidak dapat mentolelir kekejaman-kekejaman dan kebiadaban pasukan KNIL yang telah sering terjadi di dalam dan di luar Kota Palopo. 
(Surat tersebut ditulis oleh Andi Djemma selaku Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 21 Januari 1946 jam 23.00 di Palopo). 

Dalam semester pertama 1946 pertempuran dengan KNIL telah dimulai, tentang KNIL yang terlambat mendarat di Kolaka memberi kesempatan pada para pejuang, memperoleh senjata dan membentuk 10 peleton, mereka bertempur melawan pasukan Letnan Venniks. Meraka dipukul mundur ke utara dan bertempur di Latou yang sementara itu telah menjadi tempat penyingkiran Raja Luwu yang meninggalkan Palopo. Belanda mendatangkan kapal perang Irene diperairan Luwu.

Latou diserang Belanda dan berhasil menawan Raja Luwu berserta benda-benda kerajaan (Arajang), pertempuran disekitar Latou ini berjalan selama 4 bulan dan menurut laporan officier Van Justitie Makassar 125 orang tewas dan kurang lebih 1.100 ditawan.

Kegigihan perlawanan Luwu ini untuk kemerdekaan tidak berdiri sendiri, Luwu mau melepaskan diri dari Belanda, mau mengulangi perlawanan Luwu terhadap Belanda tahun 1905-1906. Untuk mengetahui sedikit tentang perang 1905-1906 maka di bawah ini mengungkapkan episode-episode dari perang itu 

Buku PERANG LOEWOE 1905-1906 membahas tentang kegigihan perlawanan Luwu melepaskan diri dari Belanda, yang mana literaturnya diperoleh dari Koninklyk Instituut Voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Manai Sophiaan: PERANG LOEWOE 1905-1906
Penulis: Manai Sophiaan
Penerbit: Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

SEJARAH GEDUNG MULO

 

Mulo (Middlebare Uitbruik Lagere Onderwijs) pertama munculnya pada tahun 1910. Pimpinan Mulo adalah juga pimpinan sekolah ELS dan guru yang mengajar adalah juga guru dari ELS. Pada tahun 1914 usulan Mulo untuk menjadi Sekolah Mulo di terima. Sejak itu Mulo kemudian mengalami kemajuan dalam jumlah murid. Meskipun demikian, kebijakan tersebut jelas membuat kaum bumiputra tidak puas. Ketidakpuasan terjadi karena tamatan sekolah Mulo hanya diperuntukkan untuk melanjutkan pendidikan pada sekolah menengah  kejuruan tetapi tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Selanjutnya tidak diketahui nomor dan tahun keputusan tentang kapan tamatan sekolah Mulo dapat melanjutkan pendidikannya ke pendidikan tinggi.

Sekolah Mulo Makassar dibuka pada tahun 1920. Pembukaan tersebut sebenarnya terlambat karena di Pulau Jawa, Mulo sudah ada sejak tahun 1910. Sekolah Mulo Makassar dibuka dalam status yang sudah mapan dengan akses tamatan dapat melanjutkan ke sekolah menengah lain yang bisa lanjut ke pendidikan tinggi. Proses panjang dunia pendidikan khususnya sekolah Mulo di Hindia Belanda merupakan sebuah gambaran perlawanan kaum bumiputra terhadap sistem dualisme pendidikan Belanda.

Dari segi arsitektur, bangunan sekolah Mulo yang sekarang masih utuh merupakan kategori benda cagar alam budaya. Spesifikasi arsitektur yang tampak pada rancangan ruangan  yang tinggi (5,39 M) dengan ventilasi dan jendela yang memenuhi dinding. Ruang belajar dengan sistem penghawaan silang (cross ventilasi) adalah rancangan yang tepat untuk sekolah. Untuk mengisolasi panas, dibuat selasar yang memanjang di depan ruangan.

Unsur tradisional juga terlihat pada bentuk atap dan selasar tritisan. Bentuk  atap limasan adalah unsur lokal dengan kemiringan yang tidak terlalu terjal, kemiringan yang ideal mengisolasi panas, sangat cocok dengan iklim tropis. Selasar tritisan dengan deretan kolom dan konsol sangat miring dengan yang ada pada bangunan-bangunan tradisional di Makassar.

Secara garis besar, arsitektur gedung Mulo termasuk dalam gaya Eropa Klasik Langkah penyelamatan sangat dibutuhkan untuk mengawetkan bangunan tersebut. Alasan penyelamatannya sangat jelas, selain memiliki nilai arsitektur yang berspesifikasi tinggi, nilai sejarah sangat padat dikandung oleh bangunan tersebut.

Buku SEJARAH GEDUNG MULO berisi tentang Sejarah Pendidikan Masa Kolonial Belanda yang membahas tentang Sejarah Pendidikan di Sulawesi Selatan dan arsitektur gedung Mulo serta pemanfaatannya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH GEDUNG MULO
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005