Oleh: Desy Selviana
Provinsi Sulawesi Selatan letaknya sangat stategis karena berada pada titik sentral kepulauan Indonesia bagian timur sehingga menjadi pusat ekonomi, politik dan budaya sejak dahulu. Provinsi ini berbatas pada sebelah timurnya dengan teluk Bone (Sulawesi Tenggara), sebelah selatannya dengan laut Flores (NTB dan NTT), sebelah baratnya dengan selat Makassar (Kalimantan) dan sebelah utaranya dengan provinsi Sulawesi Tengah/Sulawesi Utara. Dengan demikian Provinsi Sulawesi Selatan disebut dengan daerah Maritim karena tiga sisinya berbatas dengan laut. Oleh karena itu, di daerah ini laut merupakan sarana lalu lintas yang lebih umum digunakan dibandingkan dengan lalu lintas darat atau udara. Hubungan dengan daerah luar lebih banyak dilakukan melalui laut, keadaan inilah yang membentuk jiwa penduduknya menjadi pelaut ulung dan terkenal sejak dahulu kala.
Provinsi Sulawesi Selatan hanya 4 daerah tingkat II yang tidak berbatasan langsung dengan laut yaitu: Tana Toraja; Enrekang; Sidrap; dan Soppeng. Dengan letak geografisnya inilah yang menyebabkan penduduk Sulawesi Selatan, utamanya suku Bugis, Makassar, dan Mandar hidup sebagai nelayan yang sejak dahulu terkenal keberaniannya mengarungi lautan luas. Tidak hanya dalam wilayah Nusantara, tetapi mereka bahkan sampai ke benua Austalia, Malaysia, Singapura, Pilipina, Cina hingga ke Madagaskar.
Sebagaimana dijelaskan oleh A. A. Cence bahwa:
"Nelayan-nelayan penangkap teripang Bugis-Makassar telah sampai ke Australia Utara pada akhir abad ke-XVIII. Mereka berangkat dari Sulawesi Selatan pada musim barat dan kembali pada musim timur."
Jadi mereka menganggap "maddilau" (turun ke laut) adalah merupakan sebahagian dari hidupnya, hal ini disebabkan karena laut sebagai tempat mencari ikan dan juga merupakan sebagai lalu lintas untuk pedagangan ke luar negeri dengan menggunakan alat transportasi buatan sendiri.
Sejak dahulu kala orang Bugis-Makassar sudah membuat Hukum Pelayaran dan Perdagangan guna mengatur hubungan atau interaksi di perahu antara nahoda, jurangan dan sawi, antara nahoda dengan pedagang serta sewa-menyewa dan jual-beli barang, yang dikenal dengan nama "HUKUM PELAYARAN DAN PERDAGANGAN AMANNA GAPPA."
Disamping itu mereka juga memiliki sistem pengetahuan seperti: Ilmu Astronomi dengan melihat (tanda-tanda bintang), pengetahuan tentang arus laut, angin topan, kedalaman laut dan letak batu karang. Kesemuanya itu merupakan warisan budaya yang telah dimiliki sejak dahulu kala. Selain sebagai alat transportasi barang atau manusia perahu tersebut juga digunakan untuk menangkap ikan di laut.
Kepandaian orang Bugis-Makassar dalam berlayar dan mengembangkan perahu layar terbukti dengan adanya suatu hukum niaga dalam pelayaran yang ditulis dalam naskah lontara ade’ Allopi-loping Bicaranna Pabbalu oleh Amanna Gappa pada abad ke 17.
Adapun jenis-jenis perahu yang banyak digunakan di Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut:
- Perahu pinisi
- Perahu lambo
- Perahu patorani
- Perahu lepa-lepa palewai sewali (sebelah)
- Perahu lepa-lepa palewai pimbali (sebelah-menyebelah)
- Perahu batangeng
- Perahu layar motor (sejak tahun 70-an)
Perahu batangeng ini adalah perahu nelayan yang pembuatannya langsung dari batang kayu yang utuh. Bagi nelayan-nelayan di pesisir pantai, perahu batangeng merupakan peralatan utama setiap hari. Untuk mencari ikan di laut mereka berangkat pada malam hari dan kembali di waktu pagi, atau berangkat pagi hari dan pulang siang hari dengan membawa hasil tangkapannya ke pelelangan ikan atau langsung dijajakan ke kampung-kampung sekitar tempat tinggalnya.
Adapun perahu patorani dan perahu lepa-lepa yang memakai palewai pimbali (sebelah-menyebelah) digunakan oleh para nelayan untuk mencari ikan di laut dalam yang jauh dari pantai.
Sedangkan perahu patorani adalah perahu yang digunakan untuk menangkap ikan terbang (ikan tarawani/tuing-tuing) yang biasanya dilengkapi dengan alat yang disebut "pakkaja".
Untuk menangkap ikan terbang (ikan tarawani/tuing-tuing) sudah jarang dijumpai dipasaran bebas, sebab para nelayan langsung menjualnya kepada pengusaha-pengusaha yang akan mengeksportnya keluar negeri.
Selain penangkapan ikan dengan cara seperti tersebut di atas, juga para nelayan di Sulawesi Selatan menangkap ikan dengan menggunakan peralatan yang disebut "bagang". Bagang terdiri dari 4 atas macam, yairu:
- Bagang tancap
- Bagang satu perahu
- Bagang dua peahu, dan
- Bagang rakit
Bagang tancap tidak dapat dipindah-pindahkan, sedangkan bagang perahu dan bagang rakit dapat dipindah-pindahkan ketempat-tempat yang diperkirakan banyak ikan.
Nelayan bagang adakalanya tinggal di laut sampai beberapa hari lamanya baru mereka kembali ke darat. Karena sudah merasakan kehiduopannya bersatu dengan laut. Itulah sebabnya sehingga mereka lebih senang tinggal di laut sampai beberapa hari lamanya daripada tinggal di darat.
Nelayan Bugis Masyarakat juga melakukan ritual adat sebelum melaut atau mencari ikan. Sebelum melaut terlebih dahulu melaksanakan upacara Maccera tasik/ Maccera tappareng (untuk danau dan sungai), upacara dipimpin oleh Ponggawa Pokkaja atau penghulu nelayan dan pada upacara ini pula pemotongan hewan, seperti: kambing, sapi, atau kerbau kemudian disajikan bersama dengan Sokko patan rupa ( ketan 4 rupa) putih, hitam, merah dan kuning. Tradisi ini bertujuan untuk memohon doa restu yang mahakuasa agar selama masa penangkapan akan diberi rezeki dan keselamatan
Adapun perahu pinisi merupakan kebanggaan dari masyarakat Sulawesi Selatan utamanya suku Bugis-Makassar. Penamaan perahu pinisi diambil dari nama suatu pelabuhan terkenal di Italia, yaitu "Venisia". Dengan dialeg suku Bugis-Makassar. Venisia berubah menjadi "pinisi". Selain dari pada itu ada pula yang memperkirakan bahwa nama tersebut dari nama sejenis ikan yang terdapat dan hidup diperairan Selat Makassar yang disebut "ikan pinisi".
Ikan ini kecepatan larinya dalam air melebihi ikan-ikan lainnya. Mungkin dari sinilah asal-mula sehingga perahu pinisi disebut juga nama "palari" yang artinya perahu yang cepat larinya.
Perahu tradisional Bugis-Makassar sebagai alat transportasi antar bangsa dan nelayan, asal-mulanya selalu dihubungkan dengan suatu mitos atau ceritera tentang: Sawerigading, yaitu seorang tokoh mitologis Bugis. Ceritera ini umumnya dijumpai di Sulawesi Selatan bahkan sampai ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Rangkuman ceriteranya adalah sebagai berikut:
Sawerigading mencintai saudara kembarnya yang bernama We' Tenri Abeng yang semenjak lahirnya berpisah. Sawerigading memadu cinta dengan saudara kembarnya We' Tenri Abeng tetapi tidak dibenarkan oleh adat, karena hal yang demikian tidak pernah terjadi dalam sejarah Luwu dan dianggap sebagai suatu pebuatan tercela, dan jika hal ini terjadi pada Kerajaan Luwu maka negara akan mengalami kehancuran dan rakyat akan musnah.
Hal ini akhirnya sampai ketelinga raja dan permaisuri. Raja akhirnya menjadi murka, maka dipanggilah seluruh anggota adat serta pembesar kerajaan Luwu untuk membicarakan dan membaha peristiwa tersebut. Akhirnya keputusan diserahkan kembali kepada Sawerigading bersama saudara kembarnya We' Tenri Abeng untuk meminta pendapatnya tentang keputusan musyawarah Kerajaan Luwu. Akhirnya Sawerigading dinasehati oleh We' Tenri Abeng agar ia pergi saja ke tanah Cina untuk mencari jodoh yang wajar serta bentuk tubuhnya menyerupai We' Tenri Abeng, yaitu gadis yang bernama "We' Cudai".
Saweringading sangat khawatir akan nasehat saudara kembarnya. Karena untuk berlayar ke tanah Cina perahu tidak memungkinkan, hal ini lantaran perahu Saweringading sudah sangat tua dan rapuh. Untuk itu We' Tenri Abeng menyarankan kepadanya agar mengganti perahunya dengan perahu yang baru. Untuk itu ditunjukkanlah kepadanya sebuah pohon yang bernama "Welengrenge" di Mangkutu yaitu sebuah pohon dewata untuk dibuat perahu yang akan menggantikan perahu yang sudah rapuh yang akan digunakan dalam perjalanan menuju ke tanah Cina.
Untuk maksus tersebut, maka ditentukanlah hari untuk menebang pohon tersebut. Pada mulanya ternyata pohon itu tidak bisa terpotong, maka oleh We' Tenri Abeng menyarankan supaya dilaksanakan upacara besar-besaran. Dari upacara inilah diperkirakan asal-mula atau cikal bakal adanya upacara pada setiap pelaksanaan penebangan pohon yang akan digunakan untuk pembuatan perahu. Dan upacara ini masih berlaku sampai sekarang.
Setelah upacara dilaksanakan maka pohon dewata "welenrenge" dengan mudah dapat ditebang. Tetapi setalah tumbang pohon itu langsung masuk ke perut bumi, dan disanalah pohon itu dibuat perahu. Setelah selesai barulah perahu tersebut diapungkan ke atas permukaan laut di pantai Kerajaan Luwu. Akhirnya ditentukanlah hari keberangkatan Sawerigading ke tanah Cina, segala perlengkapan sudah disiapkan. Dan sebelum berangkat Sawerigading bersumpah "Tidak akan menginjakkan kakiku lagi di tanah Luwu kecuali tulangku yang di bawa tikus atau berita yang dibawa oleh angin ke tanah Luwu".
Setelah melanjutkan berbagai rintangan atau hambatan di laut lepas, maka sampailah Saweringading dengan perahunya di pantai pelabuhan tanah Cina. Dengan menyamar sebagai seorang pedagang, Sawerigading sempat bertemu pandang dengan We' Cudai. Pada mulanya lamaran Sawerigading dengan senang hati diterima, tetapi lantaran ulah dari dayang-dayang We' Cudai sendiri, maka akhirnya We' Cudai menolak lamaran Sawerigading dan tak mau kawin dengannya. Karena lamarannya ditolak dengan sendirinya Sawerigading merasa tersinggung, yang mengakibatkan peperangan antara Sawerigading dengan Opunna Cina (ayah We' Cudai). Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Sawerigading, maka dengan sendirinya perkawinan antara Sawerigading dengan We' Cudai sudah dapat terlaksana. Maka perkawinanpun dilakukan secara besar-besaran.
Setelah sekian lama menetap di tanah Cina, tergugalah hati Sawerigading untuk kembali ke tanah asalnya, tanpa mengingat sumpahnya yang penah diucapkan dahulu sebelum berangkat menuju ke tanah Cina.
Dalam perjalanan kembali ke tanah asalnya, Sawerigading bersama isterinya dan perahu yang ditumpangi pecah dan akhirnya terdampar di tiga kampung, yaitu:
- Di Ara terdampar seluruh papan serta lunas perahunya;
- Di Bira terdampar tali-temali dan layar perahunya;
- Di Lemo-lemo terdampar sotting atau lunas bagian belakang perahunya.
Ketiga daerah tersebut, sekarang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bulukumba. Konon itulah sebabnya sehingga orang Ara, Bira dan Lemo-lemo pandai membuat perahu dan menjadi pelaut ulung sejak dahulu kala, sehingga muncul pula pepatah orang Bugis-Makassar yang berbunyi sebagai berikut:
"Panre patangnga'na Bira,
Pasingkolo Tu' Araiya
Pabingkung Tu' Lemo-Lemoa". (BP)
Maksudnya:
Ahli membentuk adalah orang Bira
Ahli merapatkan papan, orang Ara
Ahli melicinkan papan, orang Lemo-Lemoa
Dalam perkembangan perahu pinisi selanjutnya, maka muncullah jenis baru yang disebut "lambo". Setelah perahu pinisi dan lambo, masih banyak lagi perahu kayu lainnya yang juga digunakan sebagai alat transportasi laut, antara lain:
- Perahu Padewakang
- Perahu Baggo
Adapun jenis kayu yang digunakan sebagai bahan dalam pembuatan perahu, antara lain:
- Kayu Bitti
- Kayu Jati
- Kayu Pude
- Kayu Seppu
- Kayu Bakau
- Kayu Sappang
Sedangkan peralatan yang digunakan dalam pembuatan perahu, yaitu:
- Pahat bermacam-macam ukuran
- Gergaji bermacam-macam ukuran
- Singkolo
- Bor
- Bingkung
- Palu
- Ketam
- Becci
Dengan bahan dan peralatan tersebut orang Bugis-Makassar membuat perahu besar dan kecil.
Pelaut-pelaut Bugis, Makassar dan Mandar yang dikenal dengan istilah "passompe", dengan keberanian dan ketabahannya mengarungi lautan dengan menggunakan semboyang yang diwarisi secara turun-temurun yang berbunyi sebagai berikut:
"Narekko takkala mallebbani SompeE
Ulebbirenni telengnge nanreweE". (Bugis)
"Punna Allabbami sombalaka
Kuallenna tallanga natoaliya". (Makassar)
"Takkalai di sombalang dotai lele ruppu
Dadi nalele tuali di lolangan". (Mandar)
Dengan semboyang-semboyang tersebut di atas mereka dapat akrab dengan laut. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan perahu "Pinisi Nusantara" sampai ke Vancover (Canada), dan perahu padewakang "Hati Merege" sampai ke Darwin (Australia).