January 28, 2021

ANJUNGAN SULAWESI SELATAN: TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA)

Tongkonan (rumah adat Toraja) adalah salah satu anjungan yang terdapat di wilayah Taman Mini Indonesia Indah. Pengunjung anjungan Sulawesi Selatan, di sambut dengan suatu pemandangan di mana ada orang-orang sedang berburu rusa, yang mengingatkan kepada ketangkasan putra Sulawesi Selatan dalam ketangkasan berkuda dan berburu.

Rumah adat Toraja dikenal dengan sebutan Tongkonan. Menurut cerita orang tua-orang tua kata Toraja mempunyai berbagai makna, seperti:

  • TORAA berarti - TO = orang; RAA = murah jadi Toraa adalah orang pemurah.
  • TORAYA berarti - TO = orang; RAYA = besar jadi Toraya adalah orang yang besar atau dapat diartikan orang yang terhormat.

Sehingga dapatlah diartikan bahwa Orang yang pemurah dan Orang yang terhormat ini dapat disamakan dengan Ksatria, karena ada juga orang yang mengartikan RAA dan RAYA itu sebagai raja sehingga TORAJA sama artinya dengan ORANG RAJA yang tentu maksudnya adalah orangnya raja.

Menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut orang Toraja yang sekarang adalah turunan dari keturunan suku bangsa yang datang pada sekitar abad ke-6 di Rana Toraja dan menguasai Tondok Lepongan Bulan Tana matarik Allo, dengan menggunakan perahu melalui sungai-sungai besar, terus menuju pegunungan Sulawesi Selatan dan akhirnya menguasai juga Tana Toraja.

Kedatangan suku bangsa ini bergelombang dan masing-masing menguasai suatu daerah tertentu dan membangun kelompoknya sendiri dengan dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut AMBE' ARROAN yang berarti : AMBE = bapak; ARROAN = Kelompok Manusia.

Karena pertambahan keluarga maka setelah dirasakan daerah tempat mereka tempati itu sudah sempit maka kelompok demi kelompok mereka mencari tanah subur lainnya untuk hidup, kelompok yang menyebar ini dinamai PARRARAK dengan dipimpin oleh seorang tertua atau kepala kelompok yang disebut PONG.

Pengertian Pong dan Ambe menjadi gelar keturunan di Tana Toraja. Kedatangan suku bangsa lain juga dengan perahu menjadikan suasana semakin meriah, karena suku ini kemudian menjadi penguasa-penguasa dengan menggunakan nama PUANG LEMBANG yang berarti : PUNG = yang empunya, LEMBANG = perahu.

Karena terhalang oleh derasnya arus sungai dan batu-batuan yang berada disungai maka suku bangsa ini kemudian menetap di tepian sungai dengan menambat perahu mereka ke tepian sungai, ada juga yang menariknya ke dataran sedang sebagian lagi membongkar dan mengangkut perahu mereka ke dataran-dataran yang subur dan kemudian di tempat mereka yang baru perahu-perahu dipasang kembali untuk dijadikan tempat tinggal.

Dari sinilah permulaan terjadinya bentuk rumah Toraja tidak pernah besar dan berbentuk perahu. Buku ANJUNGAN SULAWESI SELATAN: TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA) membahas tentang adat dan kebudayaan Toraja, Tongkonan (rumah adat Toraja), bentuk bangunan Toaja, Arsitektur bangunan Toraja, potongan kayu dan ukuran, ukiran Toraja, peralatan rumah tangga, kuburan adat keluarga dan bahasa dan kutipan diperoleh. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ANJUNGAN SULAWESI SELATAN
TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA)

Penulis: Benny Lumowah
Penerbit: Aksara Baru bekerjasama dengan Taman Mini Indonesia Indah
Tahun Terbit: 1985





January 27, 2021

SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DI SULAWESI SELATAN

Sebelum agama Islam dijadikan agama resmi di Kerajaan Gowa dan Tallo, ajaran agama ini telah meluas dikalangan masyarakat di Sulawesi Selatan. Pada waktu Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, banyak pedagang-pedagang Islam yang mencari pelabuhan lain untuk menjalankan perdagangan. Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah Sulawesi Selatan. Ketika itu sudah ada beberapa kerajaan besar di daerah ini, misalnya Kerajaan Siang. Jauh sebelumnya ajaran agama ini para pedagang dari Sulawesi Selatan yang ketika itu telah banyak melakukan banyak kontak dagang dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.

Raja Tallo dan Raja Gowa memeluk agama Islam pada awal abad-17 sebagai suatu pertanda bahwa Islam sudah diakui sebagai agama kerajaan, bukan berarti ajaran Islam baru masuk di Sulawesi Selatan. Sedangkan Kerajaan Bone menjadi kerajaan terakhir yang diserang Kerajaan Gowa karena menolak menerima agama Islam. Sewaktu Kerajaan Soppeng dan Wajo menerima agama Islam, Raja Bone ke-10, We Tenri Tuppa (1602-1611) secara diam-diam berangkat ke Sidenreng untuk bertemu dengan Addatuang Sidenreng La Pattiroi yang sudah memeluk memeluk Agama Islam. Tidak berapa lama berada di Sidenreng ia jatuh sakit dan meninggal, kemudian dikenal dengan Mattinroe ri Sidenreng.

La Teni Ruwa diangkat menjadi Raja Bone ke-11 menggantikan We Tenri Tuppu pada tahun 1611, Sultan Alauddin, Raja ketika itu berkunjung ke Bone untuk memberi penghormatan atas pelantikan itu. Dalam kunjungan itu juga dibicarakan tentang bagaimana sebaiknya sikap Kerajaan Bone terhadap Islam. Pada prinsipnya ajakan yang dilontarkan oleh Sultan Alauddin dapat diterima, namun ia sendiri tidak dapat memutuskan karena ada Dewan Adat di Kerajaan Bone yang memutuskan segala sesuatu tentang jalannya pemerintahan di Kerajaan Bone.

Dalam satu pertemuan yang dilakukan antara Raja Bone dan Ade Pitu dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya, Raja Bone mengatakan:

"Wahai, rakyatku ...... Sultan Kerajaan Gowa telah datang sendiri mengunjungi kita sekalian. Kebaikan yang tidak ada taranya ..... Oleh sebab itu adalah suatu keutamaan dan kemuliaan bagi Kerajaan Bone, bilamana kita sekalian menerima seruan baginda Sultan, supaya memeluk Islam. Bahwa menolak ajakan yang baik, akan sama artinya dengan siap mengadakan perkawinan".

Buku SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DI SULAWESI SELATAN membahas tentang pengenalan tentang Islam, sebelum masuk Islam, keyakinan terhadap agama Islam, kedatangan Bangsa Portugis menguatkan hati menerima kebenaran Islam, penyiatan agama Islam di Luwu serta penyiaran agama Islam di Gowa. Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DI SULAWESI SELATAN
Penulis: H. Nonci
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar



January 26, 2021

KISSANA ANAKNA KARAENG RI BANUASANG

Kissanna Anakna Karaeng Ri Banuasang atau Kisah Putra Raja Banuasang merupakan karya sastra lisan Makassar yang bercorak agama. Kisah ini diangkat dari naskah Lontara yang berusia sudah cukup tua dengan pemilik naskah T. Syarifah Assaggaf, yang tinggal sebuah desa di Kabupaten Pangkajenen dan Kepulauan. Berikut sinopsis "Kissanna Anakna Karaeng Ri Banuasang":

"Nur Muhammad" terpancar pada wajah dan dada Abdullah bin Abdul Muthalib. Setelah diciptakan Allah, "Nur" yang ada pada Abdullah itu, Patimasang atau Fatimah jatuh cinta kepadanya, bahkan ia rela diperistrikan. Abdullah tidak berani mengambil keputusan sebelum dibicarakan dengan ayahnya.

Dalam perjalanan pulang kerumahnya, Abdullah bertemu panandang dengan Aminah. Pada saat itu juga, dengan takdir Allah, "Nur" itu pindah kepada Aminah. Sementara itu, berbagai persiapan telah dilakukan Patimasang untuk hari pernikahannya Fatimah dengan Abdullah. Akhirnya, persiapan itu sia-sia dan berantakan karena "Nur" yang diidam-idamkannya telah pindah kepada Aminah.

Dalam versi ini tidak digambarkan secara jelas tentang pernilahan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah. Namun, yang diceritakannya hanyalah perpindahan "Nur" itu kepada Aminah hingga Muhammad lahir. Dalam perjalanan hidup Muhammad, salah seorang yang berjasa kepadanya adalah Halimah. Ia adalah ibu susu dan ibu angkatnya.

Oleh karena berbagai peristiwa yang menimpa Muhammad dan sangat mencemaskan Halimah, seperti ditangkapnya Muhammad kemudian dadanya dibelah oleh dua orang laki-laki malaikat Jibril dan malaikat Mikail, Halimah mengembalikannya kepada neneknya, Abdul Muthalib di Mekah.

Ketika Muhammad menginjak remaja, ia berangkat ke Banuasang untuk membawa dagangan Hatijah atas permintaan tantenya Atikah. Hatijah yang mengatahui banyak tentang berita dan tanda-tanda nabi terakhir melalui kitab-kitab terdahulu, seperti Taurat, mulai menaruh curiga kepada Muhammad. Sejak pertemuannya yang pertama Hatijah sudah melihat tanda-tanda yang mencurigakan itu, seperti yang diceritakan dalam kitab Taurat. Oleh karena itu, untuk lebih meyakinkan dirinya, Hatijah memerintahkan seseorang bernama Mubassiran untuk menemani Muhammad dalam perjalanan ke Banuasang. Tugasnya adalah mencatat seluruh kejadian yang berkaitan dengan pribadi Muhammad.

Sekembali dari Banuasang, Mubassiran melaporkan seluruh kejadian pada diri Muhammad, seperti adanya awan putih yang selalu menaungi kemanapun ia pergi, dan pengakuan serta perlakuan istimewa yang diterimanya dari penguasa Banuasang. Seluruhnya dilaporkan kepada Hatijah. Dari laporan tersebut, Hatijah lebih yakin dialah Muhammad yang bakal dilantik menjadi nabi akhir zaman.

Hatijah mulai jatuh cinta kepada Muhammad. Kontak pembicaraan antara Hatijah dan pihak keluarga Muhammad mulai berjalan. Namun hambatan dan rintangan selalu saja ada terutama pihak keluarga Hatijah, dalam hal ini ayahnya. Akan tetapi, satu persatu hambatan dan rintangan tersebut dapat diatasi. Akhirnya, Hatijah dan Muhammad dipertemukan Allah dalam suasana rukun dan damai dalam rumah tangga yang bahagia. Biaya pernikahan tersebut sebagaian besar ditanggulangi Hatijah.

Perkawinan Muhammada dengan Hatijah selain dihadiri keluarga dari kedua belah pihak juga dihadiri oleh malaikat Jibril dan sejumlah besar malaikat yang segaja turun ke bumi, atas perintah Tuhan, untuk menyaksikan pernikahan tersebut. Selain para malaikat, juga dihadiri sejumlah besar bidadari dari surga.

Dalam kapasitasnya selaku nabi, Muhammad, tidak sedikit mendapat tantangan dan hambatan untuk mengembangkan dan menyiarkan agamanya. Tantangan yang paling gencar justru berasal dari pamannya sendiri, yaitu Abu Jahal dan Abu Lahab. Namun, tantangan dan hambatan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Di balik para penentang yang dipelopori Abu Jahal dan Abu Lahab, tidak sedikit pula kaum bangsawan dan pembesar yang ikut di belakang Nabi, bahkan Habib bin Malik, penguasa Mekah rela menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Muhammad. Abu Jahal dan kawan-kawan terus menentang kebijakan Raja (Habib bin Malik). Namun, raja tetap pada keputusannya.

Pada bagian akhir diceritakan tentang kedatangan malaikat Jibril kepada Nabi untuk memberitahukan bahwa Nabi tidak akan lama lagi hidup. Sebentar lagi ia akan menghadap ke hadirat Allah, Rabbul alamin. Semua sahabat yang hadir bersama Nabi ketika itu menangis tatkala mengetahu pesan yang dibawa oleh malaikat Jibril. Dalam bagian ini juga dipaparkan dialog antara Nabi dengan Aisyah, istri beliau yang terakhir, tentang keadaan manusia di hari kiamat.

Nakanamo Nakbita, "E, Aisa taena tau anngerangi kalakbiranna siagang kakalumannyanganna mange anjoreng anne linoa ammotereng ngasengi sallang mange ri assalakna kamma tonji antu rupa taua. Anne lino pakrasangang majannang satunggu-tunggu. Jarreki laloi anne kammana. Aisa, kammami anjo sallang gauka ri rewasaya ri allo kiamaka."

Artinya:

Nabi berkata, "Aisyah, tidak ada orang yang akan membawa kemuliaan dan kekayaan ke akhirat, semuanya akan kembali keasalnya, demikian pula halnya manusia. Dunia ini tempat sementara (akan lenyap), sedangkan akhirat adalah tempatnya atau negeri yang kekal abadi. Aisyah, yakinlah dengan hal ini. Demikianlah keadaan manusia di akhirat, di hari kiamat".

Buku Kissanna Anakna Karaeng Ri Banuasang ini bukan hanya membicarakan putra rasa Banuasang, tetapi banyak menampilkan kisah Nabi Muhammad. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang berisi terjemahan Putra Raja Banuasang dan transliterasi Kissanna Anakna Karaeng Ri Banuasang. 


KISSANA ANAKNA KARAENG RI BANUASANG
Penejemah: Zainuddin Hakim
Penyunting: Nikmah Sunardjo
Penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 1995

January 21, 2021

UPACARA TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN ALAM DAN KEPERCAYAAN

Di kalangan para petani penyelenggaraan upacara biasanya dikaitkan dengan masalah kesuburan tanah, banyaknya hujan yang turung, dan hama yang mungkin akan menyerang tanaman. Mereka mengharapkan dengan adanya upacara tersebut, hasil panen akan melimpah. Di kalangan nelayan penyelenggaraan upacara bertujuan, semoga mereka selamat dalam perjalanannya menangkap ikan dan akan kembali dengan membawa hasil laut yang memuaskan.

Demikian pula dengan upacara tradisional lainnya seperti, upacara gerhana, baik pada gerhana bulan maupun gerhana matahari. Semuanya dihubungkan pada suatu kepercayaan terhadap kekuatan gaib di luar kekuasaan manusia yang bersifat super natural, yang dapat menentukan nasib manusia, dapat menimbulkan mala petaka, namun dapat juga mendatangkan keuntungan kebahagiaan, dan keberhasilan dalam usaha.

Selain upacara yang tersebut di atas terdapat pula semacam upacara yang erat kaitannya dengan salah satu agama yang terbesar penganutnya, yaitu agama Islam. Penyelenggaraan upacara tersebut sangat berbeda dengan penyelenggaraannya dengan daerah-daerah lainnya. Upacara tersebut adalah upacara "maudu lompoa" di Cikowang.

Sehubungan dengan banyaknya upacara tradisional yang berkaitan dengan alam dan kepercayaan seperti tersebut di atas. Berikut beberapa upacara yang berkaitan dengan alam dan kepercayaan di Sulawesi Selatan.

  • Maulid tradisional "maudu lompoa" di Cikowang.
Bagi masyarakat Cikowang perayaan mauduk (Maulid) bukan hanya sekedar peingatan tentang kelahiran Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W. melainkan upacara mauduk mengandung falsafat hidup yang erat hubungannya dengan kejadian alam semesta dan permulaan penciptaan roh manusia.
  • Upacara tradisional "tudang sipulung" di Kecamatan Pancarijang Kabupaten Rappang
Upacara tudang sipulung yang dilakukan di Kecamatan Panca Rijang sama tujuannta dengan upacara mappalili yang dilakukan di Sigeri. Bedanya terletak pada rangkaian upacaranya. Tudang sipulung merupakan suatu musyawarah menghadapi musim tanam, sedangkan upacara mappalili adalah upacara yang dilakukan setelah warga masyarakat sudah mulai membajak sawahnya. Jadi bila keduanya dihubungkan, maka tudang sipulung merupakan rangkaian langkah pertama dan mappalili merupakan rangkaian kedua. Oleh karena kedua upacara tersebut bertujuan untuk meningkatkan hasil panen pada musim tanam tahun itu.
  • Upacara tradisional "mappalili" di Sigeri, Kabupaten Pangkajene Kepulauan
Upacara tradisional mappalili adalah suatu adat yang dilakukan oleh masyarakat di Sigeri dengan membawa arajang berkeliling kampung sampai ke sawah yang akan di bajak. Untuk membawa arajang ini perlu dilakukan upacara, maka upacarannya itu disebut mappalili. Masyarakat di Sigeri percaya bahwa tanpa upacara mappalili, maka segala yang akan diharapkan. Oleh karena itu upacara mappalili perlu diselenggarakan setiap tahun apabila masyarakat akan mulai menanam padi.
  • Upacara tradisional "patorani" di Galesong Utara, Kabupaten Takalar
Upacara tradisional patorani adalah suatu adat yang dilakukan masyarakat di Galesong Utara bagi nelayan yang pergi menangkap ikan torani atau ikan terbang, dengan tujuan untuk mencapai keselamatan dalam operasi penangkapan ikan torani dan untuk keberhasilan/kesuksesan dalam operasi penangkapan ikan torani.
  • Upacara gerhana "songka bala" di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Upacara songka bala dilakukan pada saat terjadinya gerhana. Masyarakat Bajeng masih banyak yang percaya pada makhluk-makhluk halus yang ada disekeliling mereka. Mereka menganggap bahwa dunia ini penuh dengan makhluk-makhluk halus yang mempunyai kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Oleh karena itu adanya gerhana merupakan suatu tanda akan munculnya makhluk-makhluk halus yang akan membawa kecelakaan bagi manusia, seperti akan muncul bermacam-macam penyakit; dunia akan kacau; dan usaha pertanian akan gagal. Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka seluruh warga masyarakat harus melakukan songka bala, yaitu usaha untuk menolak segala bahaya yang akan menimpa umat manusia.

Buku UPACARA TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN ALAM DAN KEPERCAYAAN DI SULAWESI SELATAN membahas model-model upacara dengan segala pengertian dan pemahaman nilai-nilai serta gagasan-gagasan vital yang terdapat di dalamnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar dalam rangka pembinaan sosial dan budaya warga masyarakat serta pertumbuhan dan pengembangan kebudayaan. 


UPACARA TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN ALAM DAN KEPERCAYAAN
DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: Abd. Kadir Manyambeang, Wiwiek P. Yoesoef, Mustamin Alwi, et al
Penerbit: Proyek Inventaris dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1984


 

January 20, 2021

TRADISI KEBAHARIAN MASYARAKAT SULAWESI SELATAN



Oleh: Desy Selviana

Provinsi Sulawesi Selatan letaknya sangat stategis karena berada pada titik sentral kepulauan Indonesia bagian timur sehingga menjadi pusat ekonomi, politik dan budaya sejak dahulu. Provinsi ini berbatas pada sebelah timurnya dengan teluk Bone (Sulawesi Tenggara), sebelah selatannya dengan laut Flores (NTB dan NTT), sebelah baratnya dengan selat Makassar (Kalimantan) dan sebelah utaranya dengan provinsi Sulawesi Tengah/Sulawesi Utara. Dengan demikian Provinsi Sulawesi Selatan disebut dengan daerah Maritim karena tiga sisinya berbatas dengan laut. Oleh karena itu, di daerah ini laut merupakan sarana lalu lintas yang lebih umum digunakan dibandingkan dengan lalu lintas darat atau udara. Hubungan dengan daerah luar lebih banyak dilakukan melalui laut, keadaan inilah yang membentuk jiwa penduduknya menjadi pelaut ulung dan terkenal sejak dahulu kala.

Provinsi Sulawesi Selatan hanya 4 daerah tingkat II yang tidak berbatasan langsung dengan laut yaitu: Tana Toraja; Enrekang; Sidrap; dan Soppeng. Dengan letak geografisnya inilah yang menyebabkan penduduk Sulawesi Selatan, utamanya suku Bugis, Makassar, dan Mandar hidup sebagai nelayan yang sejak dahulu terkenal keberaniannya mengarungi lautan luas. Tidak hanya dalam wilayah Nusantara, tetapi mereka bahkan sampai ke benua Austalia, Malaysia, Singapura, Pilipina, Cina hingga ke Madagaskar.

Sebagaimana dijelaskan oleh A. A. Cence bahwa:

"Nelayan-nelayan penangkap teripang Bugis-Makassar telah sampai ke Australia Utara pada akhir abad ke-XVIII. Mereka berangkat dari Sulawesi Selatan pada musim barat dan kembali pada musim timur."

Jadi mereka menganggap "maddilau" (turun ke laut) adalah merupakan sebahagian dari hidupnya, hal ini disebabkan karena laut sebagai tempat mencari ikan dan juga merupakan sebagai lalu lintas untuk pedagangan ke luar negeri dengan menggunakan alat transportasi buatan sendiri.

Sejak dahulu kala orang Bugis-Makassar sudah membuat Hukum Pelayaran dan Perdagangan guna mengatur hubungan atau interaksi di perahu antara nahoda, jurangan dan sawi, antara nahoda dengan pedagang serta sewa-menyewa dan jual-beli barang, yang dikenal dengan nama "HUKUM PELAYARAN DAN PERDAGANGAN AMANNA GAPPA."

Disamping itu mereka juga memiliki sistem pengetahuan seperti: Ilmu Astronomi dengan melihat (tanda-tanda bintang), pengetahuan tentang arus laut, angin topan, kedalaman laut dan letak batu karang. Kesemuanya itu merupakan warisan budaya yang telah dimiliki sejak dahulu kala. Selain sebagai alat transportasi barang atau manusia perahu tersebut juga digunakan untuk menangkap ikan di laut.

Kepandaian orang Bugis-Makassar dalam berlayar dan mengembangkan perahu layar terbukti dengan adanya suatu hukum niaga dalam pelayaran yang ditulis dalam naskah lontara ade’ Allopi-loping Bicaranna Pabbalu oleh Amanna Gappa pada abad ke 17.

Adapun jenis-jenis perahu yang banyak digunakan di Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut:

  • Perahu pinisi
  • Perahu lambo
  • Perahu patorani
  • Perahu lepa-lepa palewai sewali (sebelah)
  • Perahu lepa-lepa palewai pimbali (sebelah-menyebelah)
  • Perahu batangeng
  • Perahu layar motor (sejak tahun 70-an)
Perahu batangeng ini adalah perahu nelayan yang pembuatannya langsung dari batang kayu yang utuh. Bagi nelayan-nelayan di pesisir pantai, perahu batangeng merupakan peralatan utama setiap hari. Untuk mencari ikan di laut mereka berangkat pada malam hari dan kembali di waktu pagi, atau berangkat pagi hari dan pulang siang hari dengan membawa hasil tangkapannya ke pelelangan ikan atau langsung dijajakan ke kampung-kampung sekitar tempat tinggalnya.

Adapun perahu patorani dan perahu lepa-lepa yang memakai palewai pimbali (sebelah-menyebelah) digunakan oleh para nelayan untuk mencari ikan di laut dalam yang jauh dari pantai.

Sedangkan perahu patorani adalah perahu yang digunakan untuk menangkap ikan terbang (ikan tarawani/tuing-tuing) yang biasanya dilengkapi dengan alat yang disebut "pakkaja".

Untuk menangkap ikan terbang (ikan tarawani/tuing-tuing) sudah jarang dijumpai dipasaran bebas, sebab para nelayan langsung menjualnya kepada pengusaha-pengusaha yang akan mengeksportnya keluar negeri.

Selain penangkapan ikan dengan cara seperti tersebut di atas, juga para nelayan di Sulawesi Selatan menangkap ikan dengan menggunakan peralatan yang disebut "bagang". Bagang terdiri dari 4 atas macam, yairu:

  1. Bagang tancap
  2. Bagang satu perahu
  3. Bagang dua peahu, dan
  4. Bagang rakit
Bagang tancap tidak dapat dipindah-pindahkan, sedangkan bagang perahu dan bagang rakit dapat dipindah-pindahkan ketempat-tempat yang diperkirakan banyak ikan.

Nelayan bagang adakalanya tinggal di laut sampai beberapa hari lamanya baru mereka kembali ke darat. Karena sudah merasakan kehiduopannya bersatu dengan laut. Itulah sebabnya sehingga mereka lebih senang tinggal di laut sampai beberapa hari lamanya daripada tinggal di darat.

Nelayan Bugis Masyarakat juga melakukan ritual adat sebelum melaut atau mencari ikan. Sebelum melaut terlebih dahulu melaksanakan upacara Maccera tasik/ Maccera tappareng (untuk danau dan sungai), upacara dipimpin oleh Ponggawa Pokkaja atau penghulu nelayan dan pada upacara ini pula pemotongan hewan, seperti: kambing, sapi, atau kerbau kemudian disajikan bersama dengan Sokko patan rupa ( ketan 4 rupa) putih, hitam, merah dan kuning. Tradisi ini bertujuan untuk memohon doa restu yang mahakuasa agar selama masa penangkapan akan diberi rezeki dan keselamatan

Adapun perahu pinisi merupakan kebanggaan dari masyarakat Sulawesi Selatan utamanya suku Bugis-Makassar. Penamaan perahu pinisi diambil dari nama suatu pelabuhan terkenal di Italia, yaitu "Venisia". Dengan dialeg suku Bugis-Makassar. Venisia berubah menjadi "pinisi". Selain dari pada itu ada pula yang memperkirakan bahwa nama tersebut dari nama sejenis ikan yang terdapat dan hidup diperairan Selat Makassar yang disebut "ikan pinisi".

Ikan ini kecepatan larinya dalam air melebihi ikan-ikan lainnya. Mungkin dari sinilah asal-mula sehingga perahu pinisi disebut juga nama "palari" yang artinya perahu yang cepat larinya.

Perahu tradisional Bugis-Makassar sebagai alat transportasi antar bangsa dan nelayan, asal-mulanya selalu dihubungkan dengan suatu mitos atau ceritera tentang: Sawerigading, yaitu seorang tokoh mitologis Bugis. Ceritera ini umumnya dijumpai di Sulawesi Selatan bahkan sampai ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Rangkuman ceriteranya adalah sebagai berikut:

Sawerigading mencintai saudara kembarnya yang bernama We' Tenri Abeng yang semenjak lahirnya berpisah. Sawerigading memadu cinta dengan saudara kembarnya We' Tenri Abeng tetapi tidak dibenarkan oleh adat, karena hal yang demikian tidak pernah terjadi dalam sejarah Luwu dan dianggap sebagai suatu pebuatan tercela, dan jika hal ini terjadi pada Kerajaan Luwu maka negara akan mengalami kehancuran dan rakyat akan musnah.

Hal ini akhirnya sampai ketelinga raja dan permaisuri. Raja akhirnya menjadi murka, maka dipanggilah seluruh anggota adat serta pembesar kerajaan Luwu untuk membicarakan dan membaha peristiwa tersebut. Akhirnya keputusan diserahkan kembali kepada Sawerigading bersama saudara kembarnya We' Tenri Abeng untuk meminta pendapatnya tentang keputusan musyawarah Kerajaan Luwu. Akhirnya Sawerigading dinasehati oleh We' Tenri Abeng agar ia pergi saja ke tanah Cina untuk mencari jodoh yang wajar serta bentuk tubuhnya menyerupai We' Tenri Abeng, yaitu gadis yang bernama "We' Cudai".

Saweringading sangat khawatir akan nasehat saudara kembarnya. Karena untuk berlayar ke tanah Cina perahu tidak memungkinkan, hal ini lantaran perahu Saweringading sudah sangat tua dan rapuh. Untuk itu We' Tenri Abeng menyarankan kepadanya agar mengganti perahunya dengan perahu yang baru. Untuk itu ditunjukkanlah kepadanya sebuah pohon yang bernama "Welengrenge" di Mangkutu yaitu sebuah pohon dewata untuk dibuat perahu yang akan menggantikan  perahu yang sudah rapuh yang akan digunakan dalam perjalanan menuju ke tanah Cina.

Untuk maksus tersebut, maka ditentukanlah hari untuk menebang pohon tersebut. Pada mulanya ternyata pohon itu tidak bisa terpotong, maka oleh We' Tenri Abeng menyarankan supaya dilaksanakan upacara besar-besaran. Dari upacara inilah diperkirakan asal-mula atau cikal bakal adanya upacara pada setiap pelaksanaan penebangan pohon yang akan digunakan untuk pembuatan perahu. Dan upacara ini masih berlaku sampai sekarang.

Setelah upacara dilaksanakan maka pohon dewata "welenrenge"  dengan mudah dapat ditebang. Tetapi setalah tumbang pohon itu langsung masuk ke perut bumi, dan disanalah pohon itu dibuat perahu. Setelah selesai barulah perahu tersebut diapungkan ke atas permukaan laut di pantai Kerajaan Luwu. Akhirnya ditentukanlah hari keberangkatan Sawerigading ke tanah Cina, segala perlengkapan sudah disiapkan. Dan sebelum berangkat Sawerigading bersumpah "Tidak akan menginjakkan kakiku lagi di tanah Luwu kecuali tulangku yang di bawa tikus atau berita yang dibawa oleh angin ke tanah Luwu".

Setelah melanjutkan berbagai rintangan atau hambatan di laut lepas, maka sampailah Saweringading dengan perahunya di pantai pelabuhan tanah Cina. Dengan menyamar sebagai seorang pedagang, Sawerigading sempat bertemu pandang dengan We' Cudai. Pada mulanya lamaran Sawerigading dengan senang hati diterima, tetapi lantaran ulah dari dayang-dayang We' Cudai sendiri, maka akhirnya We' Cudai menolak lamaran Sawerigading dan tak mau kawin dengannya. Karena lamarannya ditolak dengan sendirinya Sawerigading merasa tersinggung, yang mengakibatkan peperangan antara Sawerigading dengan Opunna Cina (ayah We' Cudai). Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Sawerigading, maka dengan sendirinya perkawinan antara Sawerigading dengan We' Cudai sudah dapat terlaksana. Maka perkawinanpun dilakukan secara besar-besaran.

Setelah sekian lama menetap di tanah Cina, tergugalah hati Sawerigading untuk kembali ke tanah asalnya, tanpa mengingat sumpahnya yang penah diucapkan dahulu sebelum berangkat menuju ke tanah Cina.

Dalam perjalanan kembali ke tanah asalnya, Sawerigading bersama isterinya dan perahu yang ditumpangi pecah dan akhirnya terdampar di tiga kampung, yaitu:
  • Di Ara terdampar seluruh papan serta lunas perahunya;
  • Di Bira terdampar tali-temali dan layar perahunya;
  • Di Lemo-lemo terdampar sotting atau lunas bagian belakang perahunya.
Ketiga daerah tersebut, sekarang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bulukumba. Konon itulah sebabnya sehingga orang Ara, Bira dan Lemo-lemo pandai membuat perahu dan menjadi pelaut ulung sejak dahulu kala, sehingga muncul pula pepatah orang Bugis-Makassar yang berbunyi sebagai berikut:

"Panre patangnga'na Bira,
Pasingkolo Tu' Araiya
Pabingkung Tu' Lemo-Lemoa". (BP)

Maksudnya:
Ahli membentuk adalah orang Bira
Ahli merapatkan papan, orang Ara
Ahli melicinkan papan, orang Lemo-Lemoa

Dalam perkembangan perahu pinisi selanjutnya, maka muncullah jenis baru yang disebut "lambo". Setelah perahu pinisi dan lambo, masih banyak lagi perahu kayu lainnya yang juga digunakan sebagai alat transportasi laut, antara lain:
  • Perahu Padewakang
  • Perahu Baggo
Adapun jenis kayu yang digunakan sebagai bahan dalam pembuatan perahu, antara lain:
  • Kayu Bitti
  • Kayu Jati
  • Kayu Pude
  • Kayu Seppu
  • Kayu Bakau
  • Kayu Sappang
Sedangkan peralatan yang digunakan dalam pembuatan perahu, yaitu:
  • Pahat bermacam-macam ukuran
  • Gergaji bermacam-macam ukuran
  • Singkolo
  • Bor
  • Bingkung
  • Palu
  • Ketam
  • Becci
Dengan bahan dan peralatan tersebut orang Bugis-Makassar membuat perahu besar dan kecil.

Pelaut-pelaut Bugis, Makassar dan Mandar yang dikenal dengan istilah "passompe", dengan keberanian dan ketabahannya mengarungi lautan dengan menggunakan semboyang yang diwarisi secara turun-temurun yang berbunyi sebagai berikut:

"Narekko takkala mallebbani SompeE
Ulebbirenni telengnge nanreweE". (Bugis)

"Punna Allabbami sombalaka
Kuallenna tallanga natoaliya". (Makassar)

"Takkalai di sombalang dotai lele ruppu
Dadi nalele tuali di lolangan". (Mandar)

Dengan semboyang-semboyang tersebut di atas mereka dapat akrab dengan laut. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan perahu "Pinisi Nusantara" sampai ke Vancover (Canada), dan perahu padewakang "Hati Merege" sampai ke Darwin (Australia).





KUBU DI ATAS BUKIT

Tojeng adalah pahlawan muda dari Makassar, seorang pemberani, pantang mudur dalam menghadapi berbagai hal terutama menghadapi pertempuran melawan penjajah Belanda. Ia ditugaskan oleh pamannya mengantar beberapa bungkusan yang berisi makanan untuk keperluan penghuni kubu.

Pada suatu waktu, selagi Tojeng mengatar makanan, di perjalanan ia bertemu dengan pemuda penghuni kubu yang bernama Daeng Bote. Keduanya menjadi bersahabat dan bekerja sama dalam merencanakan strategi perang.

Dengan modal semangat yang tinggi dan benda pusaka peninggalan ayahnya serta lencana merah putih yang digantungkan di kantong bajunya, bersama Tentara Bajeng, ia mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Lambat laun Belanda mundur, maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tentara Bajeng untuk mengadakan upacara mengibarkan bendera sebagai tanda pembebasan diri dari penjajah.

Dibalik kebahagiaan, penderitaan dan kesedihan pun dirasakannnya pula oleh masyarakat Kubu. Salah seorang dari tentara Bajeng yang sudah lama berjasa ditangkap oleh Belanda dan dihukum mati. Dia adalah Robert Wolter Monginsidi dengan sebutan sehari-hari Daeng Bote.

Buku KUBU DI ATAS BUKIT salah satu koleksi novel tentang pahlawan Robert Wolter Monginsidi. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KUBU DI ATAS BUKIT
Penulis: S. Sinansari Ecip
Penerbit: Alumni
Tempat Terbit: Bandung
Tahun Terbit: 1991
ISBN: 979-414-183-6

SISTEM PENGUASAAN WILAYAH PERIKANAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA HAYATI LAUT OLEH MASYARAKAT NELAYAN BUGIS MAKASSAR

Perairan Selat Makassar, Teluk Bone, dan laut Flores adalah beberapa wilayah perairan yang mengelilingi Provinsi Sulawesi Selatan sudah sejak lama berlangsung penguasaan perairan pantai untuk keperluan penangkapan ikan. Untuk penguasaan perairan pantai seperti itu, masyarakat nelayan Bugis Makassar dan Mandar secara umum menggunakan istilah ongko. Ongko juga digunakan oleh nelayan di danau di Danau Sidenreng untuk mengklain lokasi-lokasi perikanan tertentu di perairan pantai Teluk Bone di Luwu, nelayan bagang (penangkapan ikan teri) menggunakan istilah solo sebagai pranata yang mengatur sistem penguasaan wilayah perikanan di laut.

Terkait dengan pranata ongko, nelayan Bugis Makassar dan Mandar juga menerapkan teknik penangkapan ikan (yang terkenal adalah rompong) yang dinilai produktif dan adaptif, yang sekaligus tanda pemilikan suatu lokasi perikanan. Nelayan Bugis Makassar bersama dengan nelayan-nelayan setempat sejak dahulu menggunakan teknik rompong yang mengandung unsur pranata pemilikan dan penguasaan teritorial perikanan tertentu. Dalam zaman pemerintahan Hindia-Belanda menurut literatur lama, terbukti bahwa teknologi perikanan laut Belanda yang paling modern pada masa itu (pukat boomkor, tannekor, trawl, ottertrawl) tidak mampu menyaingi teknik rompong yang produktif dan adaptif lingkungan.

Buku SISTEM PENGUASAAN WILAYAH PERIKANAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA HAYATI LAUT OLEH MASYARAKAT NELAYAN BUGIS MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN membahas mengenai ongko dan rompong yang dikelola oleh nelayan Bulukumba di Kampung Nipa dan Kassi', dengan beberapa kesimpulan diantaranya:

  1. Ongko dan rompong merupakan unsur kebudayaan maritim masyarakat nelayan Bugis-Makassar yang bertahan (surviva) dalam proses evaluasi dan perubahan kebudayaan yang panjang. Ongko mengacu pada pranata atau aturan adat yang mengatur sistem penguasaan wilayah perikanan di laut, sedangkan rompong berfungsi dua. Pada satu segi, rompong merupakan salah satu unsur pranata ongko, yaitu sebagai tanda kepemilikan seseorang atau masyarakat/kelompok terhadap suatu lokasi, dan pada segi lainnya rompong merupakan unsur teknologi dalam rangka pemanfaatan sumber daya hayati laut, khususnya ikan.
  2. Masyarakat nelayan Bugis-Makassar merupakan salah satu masyarakat etnis di dunia yang mampu mengubah bagian-bagian perairan di laut sebagai milik umum menjadi milik kelompok atau individu. Dengan pranata adat berupa ongko dan rompong tersebut masalah-masalah persaingan dan konflik antara nelayan di laut dapat dihindari, dan keseimbangan sumber daya hayati serta kelestarian lingkungan laut dapt dipertahankan.
  3. Dengan analisa mengenai komponen-komponen dan proses adaptif, produktif dan berwawasan lingkungan. Keunggulan adaptif mengenai kondisi bio dan abiotik laut yang bisa berubah-ubah sesuai dengan dan menciptakan kelompok-kelompok dan organisasi sosial dengan pembagian kerja yang ketat; menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja yang banyak; adaptif terhadap tingkat-tingkat kehidupan sosial ekonomi yang subsistensi dan ekonomi pasar yang kapitalis dan industrial, dan terdapat perkembangan teknologi perikanan. Keunggulan produktif dari teknik rompong mengenai dua segi, yaitu pada jumlah tangkapan dan terjaminnya daya dukung atau persediaan sumber ikan yang akan diproduksi dalam jangka waktu yang lama. Wawasan lingkungan yang terkandung dalam rompong berwujud sebagai rangkaian ide dan teknik-teknik perikanan yang rasional dan canggih tanpa menganggu kondisi keseimbangan sumber daya hayati dan sistem ekologi laut, sebaliknya rompong lebih banyak mengandung ide perkembangan (reproduction) daripada ide penangkapan ikan (production).
  4. Oleh karena dinilai fungsi reproduksi rompong lebih tinggi daripada fungsi produksinya, maka perikanan dengan rompong lebih banyak menyerupai usaha perikanan budidaya laut daripada usaha perikanan dengan memburu ikan-ikan liar di laut. Melihat lapangan dan kondisi lingkungan fisik-geografis kerjanya, pengelola rompong tepat disebut sebagai nelayan rompong dan bukan petani rompong.
  5. Proses usaha perikanan dengan rompong di berbagai tempat di Bulukumba menunjukkan fenomena yang berbeda-beda. Diperairan pantai selatan dan barat Bulukumba, yang dikenal sebagai lokasi-lokasi lama, rompong mengalami kemerosotan ialah diterapkannya teknik penangkapan ikan berupa rengge' yang tidak mengindahkan pranata penguasaan wilayah/lokasi-lokasi perikanan di laut. Munculnya lokasi-lokasi rompong todang di perairan pantai Selayar dimungkinkan oleh tumbuhnya kesadaran para nelayan rangge' akan keunggulan teknik rompong di atas teknik rangge', yang menggunakan sinar lampu. Tumbuhnya kesadaran tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan rangge' beralih keteknik rompong dan sebagian lainnya masih mengkombinasikan kedua teknik tersebut pada lokasi-lokasi yang saling berjauhan.
Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang Ongko dan Rompong yang dinilai merupakan unsur teknologi laut nelayan Bugis Makassar khususnya berkaitan dengan pengelolaan sumber budidaya laut dan pengaturan wilayah-wilayah perairan pantai, unsur-unsur teknik rompong dan ongko yang mempunyai prospek yang sangat baik dikembangkan. 


SISTEM PENGUASAAN WILAYAH PERIKANAN DAN PEMANFAATAN 
SUMBER DAYA HAYATI LAUT OLEH MASYARAKAT NELAYAN BUGIS MAKASSAR 
DI SULAWESI SELATAN 
Penulis: Munsi Lampe, Hamka Naping, Mustamin Naping, Hetty De Lopez
Penerbit: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi Selatan
Tempet Terbit: Ujung pandang
Tahun Terbit: 1996


January 18, 2021

PERMAINAN RAKYAT SULAWESI SELATAN

Permainan rakyat Sulawesi Selatan seperti Maddaga/Aklaga, Maggasing/Akgasing, Makkaddaro/Maggale/Aggale, Mamencak/Akmencak, Matteba, Mallogo/Allogo.

Maddaga/Akraga

Maddaga berasal dari kata raga menurut bahasa Bugis, akraga juga berasal dari kata raga menurut bahasa Makassar. Dalam bahasa Indonesia, juga disebut raga. Istilah raga bersumber dari makna dan fungsi permainan itu. Dalam bahasa Bugis disebut siraga-raga artinya saling menghibur.

Permainan maddaga/akraga adalah salah satu jenis permainan rakyat yang merupakan perpaduan unsur seni dan olah raga. Permainan ini memerlukan ketangkasan, kecekatan, dan kelincahan seseorang. Permainan ini juga merupakan salah satu sarana pertemuan di kalangan muda-mudi, antara pemain dan penonton. Seorang pemuda biasa dianggap belum sempurna (sukku), jika belum mampu bermain raga dengan baik. 

Maggasing/Akgasing

Maggasing (Bugis) atau akgasing (Makassar) berasal dari kata gasing. Maggasing/akgasing adalah nama dari permainan rakyat dengan menggunakan gasing. Dalam bahasa Indonesia disebut permainan gasing.

Permainan maggasing/akgasing biasanya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu senggang. Permainan ini biasanya juga dirangkaikan dengan pesta panen.

Makkaddaro/Maggale/Aggale

Makkaddaro, maggale, aggale suatu permainan yang menggunakan tempurung kelapa sebagai alat permainan. Di daerah Selayar, permainan ini disebut attende. Permainan ini umumnya dilakukan sesudah panen. Selain ini, permainan itu berfungsi untuk mengisi waktu-waktu senggang, baik pagi hari maupun sore hari. Suasana permainan cukup menimbulkan kegembiraan. Namun, sering pula menimbulkan ketegangan karena permainan ini juga bersifat kompetitif.

Mamencak/Akmencak

Mamencak berasal dari kata mencak (Bugis), sedangkan akmenca berasal dari kata mancak (Makassar). Mencak atau mancak artinya pencak atau silat. Jadi maksud mamencak atau akmancak adalah permainan pencak silat.

Permainan ini umumnya dilaksanakan pada saat diadakan pesta-pesta adat, misalnya perkawinan, keselamatan, dan pesta panen.

Matteba

Matteba berasal dari kata teba yang berarti permainan. Matteba maksudnya adalah melakukan suatu permainan dengan meenggunakan alat teba (sejenis panah). Anak teba adalah yang diluncurkan untuk menerbangkan induk teba (sasaran), yang dapat diselesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Permainan ini dilakukan pada saat-saat menjelang masyarakat memulai turun sawah. Dimainkan pada siang hari.

Mallogo/Allogo

Mallogo berasal dari kata logo (Bugis)

Allogo juga dari kata logo (Makassar)

Logo adalah suatu alat permainan rakyat Sulawesi Selatan. Mallogo/allogo adalah satu jenis permainan rakyat. Permainan mallogo/allogo ramai dipermainkan pada waktu selesai panen. Juga dilaksanakan pada waktu-waktu senggang. Dimainkan oleh laki-laki, remaja, dan orang dewasa.

Buku PERMAINAN RAKYAT (1) SULAWESI SELATAN untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran disekolah dan memperluas jati diri sebagai masyarakat Bugis. Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


PERMAINAN RAKYAT (1) SULAWESI SELATAN 
Penulis: Drs. Nonci, S. Pd.
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar

January 12, 2021

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SULAWESI SELATAN

Masyarakat Sulawesi Selatan merupakan masyarakat majemuk, terdiri atas empat suku bangsa, yaitu suku bangsa Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Setiap suku bangsa tersebut di atas secara geografis menempati wilayah-wilayah tertentu dalam keadaan terpisah-pisah, dimana masing-masing membentuk kelompok sosial serta mengembangkan kebudayaannya sendiri-sendiri. Kelompok-kelompok sosial ini memiliki pula norma-norma sosial tersendiri yang senantiasa mengatur pola tingkah laku mereka dalam hubungan bermasyarakat. Norma-norma umumnya bersumber dari adanya istiadat maupun agama, kebiasaan serta nilai-nilai sosial lainnya yang ada.

Kebudayaan Sulawesi Selatan yang menyangkut kenyataan/pola aktual dalam hal-hal yang berkaitan hubungan kekerabatan pada masyarakat suku bangsa di Sulawesi Selatan dengan fokus perhatian yang dititik beratkan kepada suatu kompleks masalah, menyangku: lapangan pekerjaan; hubungan kekerabatan serta pegeseran kedudukan dan peranan individu-individu dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga sebagai unit sosial, setelah mendapat pengaruh dari unsur modernisasi khusunya suku bangsa Toraja yang bertempat tinggal di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kota Ujung Pandang.

Buku DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SULAWESI SELATAN menjelaskan tentang penyesuaian diri orang-orang Toraja terhadap pola kehidupan kota, terutama yang berkaitan dengan lapangan kerja telah mengalami pula perubahan pola hubungan kekerabatan mereka, perubahan-perubahan itu sendiri, seperti dalam kenyataannya telah menimbulkan terjadinya pergeseran-pergeseran, baik menyangkut kedudukan maupun peranan dan orientasi terhadap kerabat dalam lingkungan keluarga suku bangsa orang Toraja di daerah Sulawesi Selatan. Buku tersebut membahas lima bab. 

Bab pertama merupakan pendahuluan, termuat uraian tentang: masalah tujuan; ruang lingkup; dan pertanggungan jawab penelitian. Selanjutnya Bab dua beisikan: pandangan penduduk suku bangsa Toraja baik di daerah asal maupun di Ujung Pandang: sistem mata pencarian dan sistem kekerabatan mereka. Pada Bab tiga diuraikan mengenai lapangan kerja; tenaga kerja; pola pemukiman tenaga kerja dan sifat hubungan dan kesempatan kerja. Setelah itu, Bab empat menguraikan mengenai hubungan kekerabatan orang Toraja di Ujung Pandang, berisi: pola hubungan kekerabatan dalam rumah tangga; hubungan kekerabatan diluar keluarga batih; hubungan kekerabatan dalam keluarga luas. Akhirnya Bab lima: mengemukakan beberapa analisa yang terdiri atas: pergeseran kedudukan dan peranan suami; pergeseran kedudukan dan peranan isteri; dan pergeseran kedudukan dan peranan isteri; dan pergeseran kedudukan dan peranan anak dalam lingkungan keluarga.

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang, Makassar membahas mengenai pola hubungan kekerabatan suku bangsa Toraja mulai dari jenis-jenis lapangan kerja sampai mengenai pergeseran kedudukan dan peranan individu dalam lingkungan keluarga dan rumah tangga pada masyarakat suku bangsa Toraja di Kota Ujung Pandang yang timbul karena pengaruh dari perkembangan lapangan dan kesempatan kerja. 


DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN 
DAERAH SULAWESI SELATAN
Penulis: Pananrangi Hamid, M. As'ad Bua, Malik Djumali, et. al
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986



January 11, 2021

TATA BAHASA BUGIS

Aksara Lontara ditemukan dalam buku I Lagaligo yang ditulis oleh orang dahulu kala pada daun aka (banyak dianyam jadi tikar, balesse dan sebagainya). Kemudian digulung-gulung merupakan ceritera tua (lama) yang terdiri atas 18 (delapan belas) pokok huruf, yaitu huruf:

ka,ga, nga

pa ba ma

ta da na

ca ja nya

ya ra la

wa sa a

Kemudian di Gowa, di Tallo menulis pada daun lontara yang dikenal dikalangan orang Makassar daun lontara bergulung-gulung. 

Kemudian setelah datangnya Agama Islam ditanah Makassar dan ditanah Bugis, barulah oleh pelopor Agama Islam Datur Ri Bandang pada waktu itu menyuruh menambah sebuah huruf yaitu huruf "ha". Rupanya disesuaikan dengan pertambahan kata-kata dan istilah-istilah asal Bahasa Arab yang banyak memakai huruf "ha" seperti haji, haram, hakekat dan sebagainya.

Pada zaman Collik Puji-e', Arung Pancaitana yang kemudian bergelar Matinro-e' di Puce-e Lamuru, bekerjasama dengan orang Melayu pendatang ketanah Bugis, huruf-huruf itu ditambah lagi jumlahnya menjadi 23 (dua puluh tiga) macam, huruf baru ada 4 (empat), yaitu ngka, mpa, nra dan nca. Isi lontara meliputi semua aspek kehidupan misalnya Lontara silsilah, pemerintahan, hukum, ekonomi, pertanian, sejarah, ramalan cuaca dan sebagainya.

Buku TATA BAHASA BUGIS membahas tentang Perkembangan Aksara Lontara, Penguasaan Bahasa Daerah, Membaca Aksara Lontara, Menulis Aksara Lontara, serta Imbuhan (Afiks) dan Pemajemukan, selain itu Kalimat Dasar Bahasa Bugis. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang, Makassar.


TATA BAHASA BUGIS
Penulis: Tim Aksara
Penerbit: Aksara
Tempat Terbit: Makassar



January 10, 2021

Layla Majnun

 


Layla Majnun

Kisah “Layla Majnun” adalah kisah roman dua anak manusia yang saling jatuh cinta namun takdir tidak mempersatukan mereka sampai akhir hayat. Ditulis dengan sangat indah dan puitis oleh Syekh Nizami (1141 – 1209 M), seorang pujangga atau sastrawan Persia dari daerah yang bernama Ganja di negara Azerbaijan sekarang ini. Pada masa itu Azerbaijan masuk dalam kekuasaan Kesultanan Selcuk. Syekh Nizami dengan nama lengkap Nizam Ad-Din Abu Muhammad Ilyas ibn-Yusuf ibn-Zaki ibn-Muayyid, selama hidupnya menulis banyak kisah kisah dengan aliran epic romantic khas Persia. Diantara sekian banyak karyanya, kisah Layla Majnun inilah yang paling terkenal di dunia terutama di negara negara Islam. Karya karyanya banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.  

Kisah ini dihimpun dan kemudian ditulis pada tahun 1188. Pada awalnya, kisah cinta Layla Majnun ini hanya dikisahkan dari mulut ke mulut secara lisan (oral), oleh karena itu, ada beberapa versi yang ada. Namun yang dihimpun dan ditulis oleh Syekh Nizami inilah yang paling lengkap dan yang kita kenal sampai sekarang ini. Menurut catatan pengantar buku ini, tokoh Qays (alias si ‘gila’ atau ‘majnun’) adalah seorang pemuda yang memang pernah ada dan hidup dimasa lalu, dan bukan tokoh fiktif rekaan penulisnya. Nama aslinya adalah Qays bin Al-Mulawwah dari marga Amir, hidup pada masa Daulah Amawiyah (Bani Umayyah). Diriwayatkan bahwa Qays meninggal pada tahun 65 H dalam kesendirian dan kesepian didaerah terpencil, meninggal dengan membawa serta rasa cintanya yang membara kepada Layla Al-Amiriyah dari kabilah Qhatibiah. Kisah penderitaan dan duka yang dialami Qays dan Layla ini semua diungkapkan lewat syair syair yang indah dan menggugah hati orang yang mendengarnya, dikisahkan antara generasi ke generasi berikutnya, dari waktu kewaktu, sampai akhirnya  syair syair itu terkumpul dan dituliskan oleh Syekh Nizami.

Buku versi bahasa Indonesia diterjemahkan dari dua bahasa sumber yaitu Arab dan Inggris, namun demikian novel roman ini-pun terasa sangat indah dan puitis, artinya, tidak sekedar diterjemahkan begitu saja, namun keindahan kata katanya, pilihan kosa katanya (diksi) sungguh luar biasa sehingga kita pembacapun akan terlena dengan kisah kasih tak sampai ini yang penuh duka derita dan airmata.  Salah satu kisah klasik terbaik yang pernah ada. Rekomended bagi anda pencinta karya sastra klasik.

Buku koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

Call No.: 808.3 SYA L.

ISBN : 978-623-94476-0-1





January 6, 2021

AKSARA LONTARA MAKASSAR

Gowa pada abd ke-17 merupakan sebuah kerajaan besar yang menguasai dan mendominasi separuh nusantara, mulai dari Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Australia barat (Marege) dan Kepulauan Maluku (Pulau Tinimbar). Pada masa pemerintahan Gowa XIV Sultan Alauddin dan Raja Gowa XV Sultan Malikussaid mengalami masa keemasan (Golden Eeum), dan puncaknya semasa pemerintahan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa XVI. Barulah Gowa pada tahun 1667 (sesudah penjanjian Bungaya) Gowa mengalami kemunduran.

Sebelum itu, pada masa Pemerintahan Karaeng Tumapa'risi'Kallonna (Raja Gowa IX), Gowa sudah memiliki aksara Lontara yang banyak dipakai sebagai bahan komunikasi, catatan bersejarah (Lontara bilang) yang menandakan ilmu pengetahuan dan teknologi di Gowa yang menandakan ilmu pengetahuan dan teknologi di Gowa sudah berkembang sejak abad 14 silam.

Lontara yang merupakan aksara yang lahir di Butta Gowa pada masa Pemerintahan Raja Gowa IX Karaeng Tumapa'risi Kallonna (1510-1546). Aksara tersebut diciptakan oleh Daeng Pamatte yang saat itu menjabat Syahbandar Somba Opu merangkap Tumailalang. Ini merupakan satu hasil karya yang sangat langka. 

Buku AKSARA LONTARA MAKASSAR membahas tentang Sejarah Lontara; Asal Usul Nama Lontara; Falsafat Lontara; Daeng Pamatte, Pencipta Aksara Lontara; Dari Lontara Jangan-jangan ke Belah Ketupak; Aksara Lontara Mangkasara Masuk Lima Besar Dunia; "Katojengang" Karaeng Pattingalloang dalam Lontara; Lontara Tak Hanya Milik Orang Makassar; Memasyarakatkan Aksara Lontara; Lontara Bilang; Ero'na Lontaraka ri Agamata; Pappasang Tumalabbriri'na Butta Gowa; Pandangan Orang Barat tentang Lontara; Lontara dan Perkembangan IPTEK; Warisan Lontara pada Anak Cucu; Lagaligo, Bukti Kebesaran Lontara di Masa Silam; Surek Galigo Lebih Tua dari Lontara; Lontara dan Manfaatnya; Mari Belajar Lontara; Pesan-pesan Tetua; Pesan-pesan Lontara dalam Kepemimpinan; Makna Demokrasi dalam Lontara; Demokrasi dan HAM dalam Lontara; serta Rekaman Peristiwa Penting dalam Lontara Kerajaan Gowa.

Buku ini merupakan layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar dalam rangka menggali dan mengungkapkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa.


AKSARA LONTARA MAKASSAR
Penulis: Syarifuddin Kulle, Zainuddin Tika
Penerbit: Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Gowa
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2003






SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN


Sejak masuknya Islam sekitar abad XVI, tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan, sangat dipengaruhi oleh tatanan dan nilai ajaran Islam yang menjadi panutan masyarakat melalui pendekatan kekuasaan. Islam diterima dan disebarkan melalui pendekatan raja-raja, sehingga secara cepat mempengaruhi tatanan sosial, masyarakat yang akhirnya membentuk tradisi baru atau terjadi alkulturasi tradisi dan akhirnya mewarnai budaya Sulawesi Selatan.

Seni tradisional, bertahan, tumbuh, berkembang dan melekat pada tradisi masyarakat sesuai perkembangan zamannya. Namun yang penting ditegaskan bahwa, seni tradisional selalu memiliki makna religius. Memiliki makna spritual yang dalam, karena hakekat tradisi masyarakat Sulawesi Selatan yang religius, terutama setelah masuknya pengaruh Islam.

Seni tradisional yang semula milik kerajaan dan dilakonkan oleh para "Bissu" serta petugas-petugas kerajaan, kemudian keluar dari lingkungan istana menjadi milik masyarakat luas, hingga kini melekat dalam komunitas adat atau kelompok masyarakat sesuai rumpun budayanya, sebab sistem pemerintahan 'adat' telah melebur dalam pemerintahan modern di Republik Indonesia.

Buku SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN membahas seni tradisi Sulawesi Selatan dan kilas balik seni tradisional yang terdiri dari 4 (empat) rumpun serta prospek dan masalah seni tradisional Sulawesi Selatan. Berikut peta seni tradisional Sulawesi Selatan berdasarkan rumpun:

Rumpun Bugis

  • Pajaga Makkunrai
  • Pajago Angkong
  • Sere Bissu Manggiri
  • Sere Bissu
  • Maddoja Bine
  • Pejaga Bone Balla
  • Tari Pangayo
  • Kaliao
  • Pasere
  • Mappadendang Ogi
Rumpun Makassar
  • Upacara Adat Gaukang
  • Salonreng
  • Paddekko
  • Sere Jaga
  • Dengka Tulembang
    Kondo Buleng
  • Gandrang Bulo
  • Pa'sempa
Rumpun Mandar
  • Tudduq Sarabadang
  • Sayyang Patuddu
  • Tari Pallake
  • Mappande Banua
Rumpun Toraja
  • Pa'randing
  • Pa'gellu
  • Ma'badong
  • Ma'papangan
  • Burake
Selain itu alat musik tradisional Sulawesi Selatan:
  • Kecapi
  • Suling Bulatta
  • Gesong Kesong
  • Bacing-Pacing
  • Gendrang Ogi
  • Anak Baccing
  • Appo
  • Suling Lembang
  • Gandang Simbuang
  • Pompang
Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar untuk menumbuhkan kesadaran semua pihak untuk menjadikan Seni Tradisional Sulawesi Selatan sebagai sumber gerakan pembelajaran dalam menggali dan mengungkap serta mengembangkan nilai luhur budaya lokal Sulawesi Selatan.


SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penyusun: Goenawan Monoharto, Nurlina Syahrir, Pangeran Paita Yunus, et al
Penerbit: Lamacca Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-97452-0-9

January 5, 2021

ASTRONOMI DAN METEOROLOGI TRADISIONAL DI DAERAH SULAWESI SELATAN


Masyarakat Bugis masih menerapkan sebagian unusr-unsur pengetahuan astronomi dan meteorologi tradisional baik di dalam kehidupan ekonomi, sosial maupun budaya. Dalam kehidupan ekonomi pengetahuan astronomi dan meteorologi tradisional yang digunakan sebagai pedoman adalah peredaran matahari dan bulan, gugusan bintang, dan cuaca. Bagi kegiatan pertanian pengetahuan itu, khususnya digunakan sebagai pedoman untuk memulai satu tahapan kegiatan.

Tahapan kegiatan digunakan sebagai pedoman untuk mengetahui situasi dan kondisi cuaca saat akan melakukan kegiatan. Bagi kegiatan pelayaran dan penangkapan ikan yang merupakan suatu pekerjaan yang berat dan berbahaya cuaca sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dan keselamatan kerja. Angin yang kencang dan gelombang yang kuat dapat merusak perahu yang digunakan. Sehingga kegiatan pertanian dan pelayaran unsur astronomi dan meteorologi tradisional dalam hal ini hari dipercaya mempunyai sifat-sifat sendiri seperti hari baik dan hari buruk.

Dalam kehidupan sosial budaya pengetahuan astronomi dan meteorologi  tradisional diterapkan pada upacara siklus kehidupan manusia, pemburuan, pindah rumah, dan ramalan, pada umumnya pengetahuan itu dikaitkan dengan kepercayaan tentang hari baik dan buruk. Setiap kegiatan atau pekerjaan yang dianggap penting selalu dicari hari baiknya.

Berikut pengetahuan warga masyarakat tentang astronomi dan meteorologi tradisional khususnya di daerah Barru Provinsi Sulawesi Selatan:

  • Matahari dan Bulan
Menurut catatan kuno dalam naskah lontara', pengistilahan matahari identik dengan kata "walinono", "tikka", dan "esso". Pengetahuan orang Bugis tentang peredaran matahari, antara lain tercantum dalam lembaran-lembaran daun lontara' dan dari warisan budaya leluhur yang masih tersimpan dengan aman dalam ingatan para pawang, dukun, serta tokoh-tokoh dan cendekiawan tradisional.

Peredaran matahari dalam putaran tahunan disebut "bilanna taunnge". Menurut konsep tersebut, waktu setahun dibagi menjadi 8 (delapan) bagian. Untuk itu akan diuraikan nama-nama tahun, disamping perhitungan hari dan bulan jatuhnya serta arti dan makna yang terkandung. Nama-nama tahun tersebut adalah sebagai berikut: "Taung Alepu" (Tahun Alif); "Taung Ha" (Tahun Hamzah); "Taung Jin" (Tahun Jin); "Taung Zet" (Tahun Z); "Taung Dalen-rioloi"(Tahun Dal di Depan); " Taung Bai" (Tahun Ba); "Taung Wau" (Tahun al Wawu); "Taung Dalen-Rimunri" (Tahun Dal belakang atau Dal akhir).

Sedangkan Bulan bagi kehidupan masyarakat Bugis bukan hanya sekedar dihayati sebagai ratu malam yang memberikan cahaya, tetapi dipandang pula sebagai pedoman yang sangat bermanfaat dalam proses kegiatan atau aktivitas hidup. Konsepsi peredaran bulan masyarakat Bugis mengikuti kelender Islam. Dalam setiap bulan ada hari-hari tertentu dianggap naas atau tidak baik untuk melakukan segala bentuk kegiatan. 

  • Perbintangan
Pengetahuan mengenai perbintangan, umumnya digunakan sebagai pedoman di sektor pertanian, penelayaan dan perikanan. Masyarakat Bugis mengenal berbagai jenis gugusan bintang, antara lain: "Sulobawie", "tuttung-Pajae" (nintang pajar), "Wara-Warae", "Woromporonge", Tellu-Tellue, dan "Mangiwenge".

  • Gejala-gejala Alam Lainnya
Orang Bugis membaca cuaca ke dalam 2 macam, yaitu cuaca tenang atau "lakka" dan cuaca mendung atau "rettang". Cuaca tenang berarti langit terang suatu pertanda bahwa cuaca stabil dan segala kegiatan dapat dilakukan dengan baik. Cuaca mendung pada siang hari ditandai dengan terhambatnya sinar matahari ke bumi, sedangkan pada malam hari ditandai dengan tidak tampaknya kerlipan bintang.

  • Kaitan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern
Secara modern, ada lembaga yang menangani pengolahan data-data meteorologi serta menginformasikan ke masyarakat, dalam hal ini masyarakat pelayaran dan nelayan belum memanfaatkan informasi tersebut. Mereka masih menggunakan tanda-tanda alam seperti munculnya gugus-gugus bintang dan gejala-gejala lainnya.

Disamping menerapkan unsur pengetahuan tradisional dalam menjalankan kegiatan hidupnya, masyarakat Bugis juga menerapkan unsur pengetahuan dan teknologi modern. Dalam kegiatan pertanian, unsur pengetahuan dan teknologi modern. Dalam kegiatan pertanian, unsur pengetahuan teknologi modern yang mereka terapkan tercermin antara lain pada penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, insektisida. Sedangkan pada penggunaan bibit unggul, puput kimia, insektisida.

Sedangkan di dalam kegiatan pelayaran atau menangkap ikan unsur pengetahuan dan teknologi modern yang diterapkan, adalah penggunaan penentu arah kompas, penggunaan alat menangkap ikan jaring dan lain sebagainya. Sementara itu didalam kegiatan berburu, penerapan unsur pengetahuan dan teknologi modern nampak pada penggunaan senapan dan mesin.

Penerapan pengetahuan dan teknologi modern di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bugis, tercermin antara lain dalam kegiatan kelahiran yang dilakukan melalui pelayanan medis, dan kegiatan perkawinan yang nampak dalam tata rias pengantin. Rupanya disamping masih menggunakan unsur pengetahuan astronomi dan meteorologi tradisional, unsur pengetahuan dan teknologi modern diterapkan pula oleh masyarakat Bugis Kabupaten Barru dalam kehidupannya, di mana kedua unsur itu dapat berintegrasi dan tidak menimbulkan konflik bagi masyarakat pendukungnya. Sehingga keadaan demikian menunjukkan antara kedua unsur itu ada kesesuaian dan saling mendukung untuk mencapai kehidupan yang dianggap baik bagi masyarakat pendukungnya.


ASTRONOMI DAN METEOROLOGI TRADISIONAL 
DI DAERAH SULAWESI SELATAN
Penulis: Pananrangi Hamid, Mappasere, Hermin Batong
Penyunting: Ernayanti, Sumarsono
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Pengembangan Nilai-nilai Budaya
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1988





January 4, 2021

FUNGSI KELUARGA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SDM SULAWESI SELATAN


Fungsi keluarga dalam masyarakat Bugis-Makassar terdiri atas keluarga batih (nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Khusus untuk keluarga batih  yang didukung oleh ayah, ibu dan anak-anaknya yang belum kawin, lebih khusus lagi yang memiliki anak yang berusia 15 tahun ke bawah. Yang mana anak tersebut masih membutuhkan penanganan serius dari orang tuanya. Begitupun fungsi keluarga dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya di kelurahan Aliritenngae Kabupaten Maros. Berikut fungsi keluarga untuk meningkatkan kualitas SDM yang terdiri atas:

  1. Pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun luar sekolah
  2. Sosialisasi norma keluarga
  3. Kesehatan dan gizi
  4. Moralitas
  5. Peran Keluarga; dan
  6. Peran media elektronik

Berdasarkan fungsi tersebut dapat disimpulkan beberapa pokok pikiran, sebagai berikut:

Pertama, Kelurahan Aliritenngae merupakan wilayah stategis dengan arus informasi cukup lancar melalui jalur transportasi maupun melaui media cetak dan elektronika, serta sarana komunikasi lainnya. Sebagai konsekuensinya, masyarakat menjadi dinamis dengan heterogenitas baik dari segi pendidikan maupun mata pencaharian yang setiap harinya akan mengarah kepada kesibukan dan kepentingan masing-masing secara pribadi.

Kedua, Struktur keluarga dari setiap unit keluarga batih masih terdapat sebahagian diantaranya disusun atas hubungan perkawinan yang dianggap ideal oleh leluhurnya, yaitu perkawinan didalam lingkungan hubungan kekerabatan, dengan jumlah anggota relatif banyak berkisar antara 6 sampai 10 orang. Akibat masih tingginya kelahiran dan didukung pula oleh adanya anggota keluarga lain yang turut menetap dan bertempat tinggal serumah dengan keluarga batih tersebut.

Ketiga, Kualitas SDM bukan hanya menyangkutt persoalan kematangabn pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah yang dimiliki setiap orang, tapi juga sangat didukung oleh kematangan moral seperti: berbudi pekerti luhur, berkepribadian, beretos kerja, bertanggung jawab, jujur dan disiplin, serta sehat jasmani dan rohani.

Keempat, Dalam pelaksanaan penanaman norma-norma keluarga, cara-cara hidup, dan nilai-nilai agama terdapat anak yang dilakukan oleh anggota keluarganya (ayah, ibu dan anak yang lebih tua) kelihat dari tingkat persentase tentang sikap, perilaku dan tutur kata dari setiap anak dalam suatu unit keluarga batih pada umumnya  menunjukkan nilai rata-rata cukup baik. 

Kelima, Keberhasilan pencapaian kematangan moralitas anak yang pembinaannya dilakukan oleh anggota keluarga (ayah, ibu dan anak yang lebih tua) tidak diiukuti oleh keberhasilan dari fungsi dan peran tetangga, teman bermain dan media elektronik utamanya televisi. Oleh karena kadangkala di dalam perannya itu menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan kepribadian anak. Khususnya menyangkut dampak negatif akibat dari tayangan-tayangan acara televisi utamanya televisi swasta, banyak diakibatkan oleh tidak adanya selektivitas mengenai acara-acara televisi yang dapat ditonton oleh anak. Selain itu kurangnya kesadaran dan perhatian para orang tua untuk mendampingi anak-anaknya sewaktu menyaksikan acara siaran televisi.

Keenam, Upaya pencapaian kematangan intelektual dan keterampilan anak yang didapat dari pendidikan persekolahan maupun di luar sekolah, kurang mencapai hasil yang optimal, akibat rendahnya mutu pendidikan anak yang diperoleh dari bangku sekolah, serta kurang/tidak didukung oleh pendidikan luar sekolah berupa keterampilan-keterampilan penguasaan teknologi canggih yang sangat dibutuhkan dalam dunia usaha. Selain itu ada kecenderungan bagi para orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya hanya pada jenjang SLTA, mereka pada umumnya kurang memiliki inisiatif dan keinginan untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya yang lebih tinggi di Perguruan Tinggi. Oleh karena mereka berharap dengan pendidikan SLTA tersebut anaknya sudah dapat memasuki dunia kerja, yang kebanyakan diharapkan untuk membantu mengelola usaha maupun dagangan orang tuanya.

Buku FUNGSI KELUARGA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SDM SULAWESI SELATAN merupakan hasil penelitian sebagai usaha dan kegiatan yang berorientasi untuk mengungkapkan fenomena sosial budaya yang erat kaitannya dengan fungsi keluarga bagi masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan khusunya di Kelurahan Aliritenngae Kabupaten Maros. Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


FUNGSI KELUARGA DALAM MENINGKATKAN 
KUALITAS SDM SULAWESI SELATAN 
Penulis: Muhammad Arfah, Faisal, Alimuddin
Penerbit: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1997