Pinrang merupakan sebuah negeri yang telah dikenal sejak abad XIV, meski namanya pada waktu itu dikenal dengan nama Sawitto. Istilah Pinrang, barulah dikenal pada abad XVI atau sekitar tahun 1540 setelah raja ke IV Sawitto yakni Lapaleteang kembali dari kerajaan Gowa. Nama pinrang yang berasal dari bahasa Bugis yaitu, kata "Pinra" yang secara etimologi: bahasa berarti "perubahan". Akan tetapi jika dilihat dari latar belakang lahirnya istilah "Pinra" tersebut, maka ada beberapa makna yang terkandung dalamnya yaitu :
- Bahwa nama Pinrang lahir dari suatu peristiwa heroik, di mana putra-butra terbaik Sawitto memperlihatkan sikap dan wataknya dalam membela negerinya.
- Adanya usaha dan kemampuan Sawitto membebaskan rajanya tanpa menunggu belas kasihan dari kerajaan.
- Adanya dinamika masyarakat Pinrang sejak dahulu hal ini terbukti dengan usaha masyarakat mencari pemukiman yang baik dimasa lalu.
Addatuang Savwitto yang pertama kali memeluk secara resmi agama Islam adalah Addatuang Suwitto ke IX merangkap Datu Suppa ke VIII yakni We Pasulle Daeng Bulaeng Datu BissuE pada tahun 1909 Masehi. Sedangkan agam Islam mulai diterima sebagai agama resmi kerajaan Sawitto adalah pada Addatuang Sawitto ke X di bawah pemerintahan La Tenri Pau (Putra We Pasulle, Addatuang Sawitto ke IX).
Pada masa lampau, kerajaan-kerajaan yang termasuk wilayah Pinrang adalah kerajaan Sawitto, Batulappa, Kassa, Suppa dan Alitta. Selain tercipta kerja sama yang baik di antara mereka, di antara kerajaan-kerajaan ini terlibat pula dalam persekutuan Lima Ajattappareng dan Massenrengpulu. Yang termasuk dalam Lima Ajattappareng adalah kerajaan Sawitto, Suppa, Sidenreng, Rappang dan Alitta. Persekutuan ini mulai berdiri sejak terjadinya perjanjian persekutuan yang diadakan di Suppa pada abad ke XV. Sedangkan yang termasuk persekutuan Massenrengpulu adalah kerajaan Batulappa, Kassa, Enrekang, Maiwa dan Duri.
Belanda mulai memasuki wilayah Pinrang pada tahun 1903 melalui pendaratan di JampuE. Maksud kedatangan Belanda tersebut adalah untuk menyerang kerajaan Sawitto, di mana pada waktu itu kerajaan Sawitto diperintah oleh La Tamma sebagai raja Sawitto ke XXIl. Kedatang Belanda itu disambut oleh La Sinrang (Putra La Tamna) bersama pasukannya untuk berperang. Pada awalnya Belanda kewalahan menghadapi La Sinrang bersama pasııkannya, tetapi karena tidak seimbang peralatan perang, sehingga La Sinrang bersama pasukannya berhasil dipukul mundur. Bahkan akhirnya La Sinrang ditangkap dan dibuang ke Jawa (Banyumas) selama 3l tahun.
Selama masa penjajahan, Pinrang senantiasa dalam suasana kacau dan bergolak. Sebagai puncaknya adalah ketika Westerling datang ke Pinrang untuk membasmi yang dianggapnya pemberontak, ekstremis atau pengacau. Pinrang betul-betul dalam suasana banjir darah dan lautan api. Ratusan orang mati tertembak diiringi dengan pembakaran rumah-rumah penduduk.
Lahirnya Kabupaten Pinrang adalah pada saat pelantikan Andi Makkoelaoe sebagai Bupati pertama yaitu pada tanggal 19 Februari 1960.
Buku SEJARAH LAHIRNYA KAB. PINRANG membahas tentang nama "Pinrang", suasana Pinrang sebelum Abad XX, keadaan Pinrang di zaman kemerdekaan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang merupakan hasil penelitian dan simposium sejarah lahirnya kabupaten Pinrang, tanggal 28-30 Maret 1988 di Gedung Olahraga Lasinrang-Pinrang dilengkapi lampiran-lampiran seperti: kronologi raja-raja, perjuangan di Pinrang, Lambang dan letak Pinrang serta makalah-makalah dll.
Kegiatan: Penatagunaan Naskah Kuno Nusantara
Dalam rangka Pengumpulan naskah kuno dan buku-buku tentang Sejarah dan Budaya Kabupaten Pirang
Penyusun: Andi Pangerang Moenta, Ahamdi Miru, Taqyuddin Kadir, Mandacini Yundu, Gunawan Tantu, Husain Sirajuddin
Tempat Terbit: Pinrang
Tahun Terbit: 2003










