July 31, 2023

SEJARAH LAHIRNYA KAB. PINRANG

Pinrang merupakan sebuah negeri yang telah dikenal sejak abad XIV, meski namanya pada waktu itu dikenal dengan nama Sawitto. Istilah Pinrang, barulah dikenal pada abad XVI atau sekitar tahun 1540 setelah raja ke IV Sawitto yakni Lapaleteang kembali dari kerajaan Gowa. Nama pinrang yang berasal dari bahasa Bugis yaitu, kata "Pinra" yang secara etimologi: bahasa berarti "perubahan". Akan tetapi jika dilihat dari latar belakang lahirnya istilah "Pinra" tersebut, maka ada beberapa makna yang terkandung dalamnya yaitu : 

  1. Bahwa nama Pinrang lahir dari suatu peristiwa heroik, di mana putra-butra terbaik Sawitto memperlihatkan sikap dan wataknya dalam membela negerinya. 
  2. Adanya usaha dan kemampuan Sawitto membebaskan rajanya tanpa menunggu belas kasihan dari kerajaan. 
  3. Adanya dinamika masyarakat Pinrang sejak dahulu hal ini terbukti dengan usaha masyarakat mencari pemukiman yang baik dimasa lalu. 
Dengan demikian pengertian nama Pinrang yang berasal dari istilah Pinra adalah : Adanya dinamika sosial dari masyarakat Pinrang sepanjang sejarahnya, baik dari
segi maupun tata nilainya.

Addatuang Savwitto yang pertama kali memeluk secara resmi agama Islam adalah Addatuang Suwitto ke IX merangkap Datu Suppa ke VIII yakni We Pasulle Daeng Bulaeng Datu BissuE pada tahun 1909 Masehi. Sedangkan agam Islam mulai diterima sebagai agama resmi kerajaan Sawitto adalah pada Addatuang Sawitto ke X di bawah pemerintahan La Tenri Pau (Putra We Pasulle, Addatuang Sawitto ke IX).

Pada masa lampau, kerajaan-kerajaan yang termasuk wilayah Pinrang adalah kerajaan Sawitto, Batulappa, Kassa, Suppa dan Alitta. Selain tercipta kerja sama yang baik di antara mereka, di antara kerajaan-kerajaan ini terlibat pula dalam persekutuan Lima Ajattappareng dan Massenrengpulu. Yang termasuk dalam Lima Ajattappareng adalah kerajaan Sawitto, Suppa, Sidenreng, Rappang dan Alitta. Persekutuan ini mulai berdiri sejak terjadinya perjanjian persekutuan yang diadakan di Suppa pada abad ke XV. Sedangkan yang termasuk persekutuan Massenrengpulu adalah kerajaan Batulappa, Kassa, Enrekang, Maiwa dan Duri.

Belanda mulai memasuki wilayah Pinrang pada tahun 1903 melalui pendaratan di JampuE. Maksud kedatangan Belanda tersebut adalah untuk menyerang kerajaan Sawitto, di mana pada waktu itu kerajaan Sawitto diperintah oleh La Tamma sebagai raja Sawitto ke XXIl. Kedatang Belanda itu disambut oleh La Sinrang (Putra La Tamna) bersama pasukannya untuk berperang. Pada awalnya Belanda kewalahan menghadapi La Sinrang bersama pasııkannya, tetapi karena tidak seimbang peralatan perang, sehingga La Sinrang bersama pasukannya berhasil dipukul mundur. Bahkan akhirnya La Sinrang ditangkap dan dibuang ke Jawa (Banyumas) selama 3l tahun.

Selama masa penjajahan, Pinrang senantiasa dalam suasana kacau dan bergolak. Sebagai puncaknya adalah ketika Westerling datang ke Pinrang untuk membasmi yang dianggapnya pemberontak, ekstremis atau pengacau. Pinrang betul-betul dalam suasana banjir darah dan lautan api. Ratusan orang mati tertembak diiringi dengan pembakaran rumah-rumah penduduk.

Lahirnya Kabupaten Pinrang adalah pada saat pelantikan Andi Makkoelaoe sebagai Bupati pertama yaitu pada tanggal 19 Februari 1960.

Buku SEJARAH LAHIRNYA KAB. PINRANG membahas tentang nama "Pinrang", suasana Pinrang sebelum Abad XX, keadaan Pinrang di zaman kemerdekaan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang merupakan hasil penelitian dan simposium sejarah lahirnya kabupaten Pinrang, tanggal 28-30 Maret 1988 di Gedung Olahraga Lasinrang-Pinrang dilengkapi lampiran-lampiran seperti: kronologi raja-raja, perjuangan di Pinrang, Lambang dan letak Pinrang serta makalah-makalah dll.


SEJARAH LAHIRNYA KAB. PINRANG
Kegiatan: Penatagunaan Naskah Kuno Nusantara
 
Dalam rangka Pengumpulan naskah kuno dan buku-buku tentang Sejarah dan Budaya Kabupaten Pirang
Penyusun: Andi Pangerang Moenta, Ahamdi Miru, Taqyuddin Kadir, Mandacini Yundu, Gunawan Tantu, Husain Sirajuddin
Penerbit: Bidang Kebudayaan dan Kesenian
Seksi Pengembangan Suaka Peninggalan 
Tempat Terbit: Pinrang
Tahun Terbit: 2003



July 27, 2023

Butta Toa Bantaeng Menjawab Zamannya 1666-1905

Eksistensi Kerajaan Bantaeng dari setiap periode pembabakan zaman selalu berada pada posisi kedamaian sebagai wujud keserasian sosial budaya dengan para pemimpin mereka (bangsawan/raja) yang berkuasa. Terwujudnya keserasian itu lantaran adanya kesamaan keyakinan terhadap hak dan kewajiban antara pemimpin dengan rakyat. Termasuk adanya kesamaan latar belakang proses awal keberadaan mereka. Mempercayai ada kesamaan simbol-simbol kesatuan dan kerukunan dalam kerajaan. Kalompoang adalah salah satu simbol kepemimpinan, kesatuan hidup dan kehidupan selama berlangsungnya masa kerajaan di Bantaeng.

Sistem kepemimpinan tradisional yang ada di Bantaeng dimulai dengan keberadaan Tu Manurung mampu mewariskan sistem kepemimpinan yang bersifat paternalistis aristokrasi kerajaan. Suatu kepemimpinan yang mempercayai dan meyakini Tu Manurung dan keturunannya sebagai penguasa sekaligus sebagai bangsawan. 

Pada masa pemerintahan Kompeni (VOC) di Indonesia, di mana Bantaeng masuk di dalamnya, namun berada di bawah kekuasaan Belanda. Demikian juga pada masa pemerintahan Hindia Belanda, khususnya akhir abad XIX dan memasuki abad XX awal, Bantaeng tetap eksis sebagai salah satu wilayah kerajaan yang mampu mempertahankan dirinya sebagai pusat perdagangan. Namun posisi itu, sebenarnya telah mengalami perubahan sejak VOC menerapkan monopoli perdagangan dan melakukan blokade-blokade para pedagang Nusantara maupun pedagang asing yang masuk Kerajaan Gowa termasuk ke pelabuhan Kerajaan Bantaeng.

Bantaeng sendiri tetap menjadi kerajaan yang eksis tetapi juga ditempati oleh pemerintahan Hindia Belanda yang disebut Afdeling Bantaeng. Pelabuhan Bantaeng sendiri pada tahun 1881 dikenai kebijakan baru dari pemerintah Hindia Belanda yang ditetapkan sebagai salah satu rute pelayaran NISM/Nederlandsch Indische Stoomboot Maattschappij (Perusahaan Pelayaran Kapal Api Hindia Belanda) milik Pemerintah Hindia Belanda. Salah satu jalur yang dimaksud adalah jalur pelayaran Makassar - Bantaeng - Bulukumba - Selayar - Sinjai - Palopo - Buton - Kendari - Makassar dan kembali melalui jalur yang sama. Masuknya Banteng dalam jalur pelayaran tersebut menandakan bahwa Bantaeng memang kerajaan yang memiliki wilayah potensial selama berabad-abad.

Posisi Bantaeng di mata Kerajaan Gowa adalah sangat vital sebagai salah satu kerajaan yang berperan penting atas kebesaran dan kejayaan Kerajaan Gowa sampai abad XVII. Karena Bantaeng yang mampu menyuplai kebutuhan beras Kerajaan Gowa dalam perdagangan internasional. Itulah sebabnya Kerajaan Bantaeng mampu menyuplai kebutuhan beras Kerajaan Gowa dalam perdagangan internasional.

Buku Butta Toa Bantaeng Menjawab Zamannya 1666-1905 untuk memahami gagasan lokal tentang kekuasaan dan kepemimpinan yang mendasari kehidupan sosial politik masyarakat Bantaeng, juga menunjukkan bahwa Kerajaan Bantaeng tidak hanya mendapat perhatian dari pemerintahan  saja, Kerajaan Makassar, tetapi juga mendapat perhatian dari pemerintah "perkumpulan Dagang Hindia Timur (Verenigde van het Oost-Indische Compagnie disingkat VOC) tetapi juga pemerintah kolonial Hindia Belanda.  Itulah sebabnya setelah ketika usai Perang Makassar, pihak pemegang kendali politik VOC berusaha menguasai kerajaan itu dan menjadikannya bagian dari "wilayah pemerintahan langsung" (gouvernement gebied).

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar memberi penjelasan Bantaeng sebagai aktor sekaligus sebagai panggung politik antara kerajaan-kerajaan lokal dengan pihak asing.


Butta Toa Bantaeng Menjawab Zamannya 1666-1905
Penulis: Sahajuddin
Editor: Edward I. Poelinggomang
Penerbit: Pustaka Sawerigading
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-602-96470-6-8



July 20, 2023

KEDATUAN SAWITTO

Kedatuan Sawitto merupakan sebuah kedatuan yang pernah eksis di Sulawesi bagian selatan. Keberadaannya terletak Selatan, tepatnya di daerah Kabupaten Pinrang, wilayahnya meliputi daerah Kabupaten Pinrang dan sebagian daerah sekitarnya.

Kelahiran Kedatuan Sawitto diawali oleh kedatangan To Manurung dari Bacukiki ke wilayah setempat. Sebelum kedatangan To Manurung, telah berdiri beberapa pemerintahan lokal yang disebut dengan wanuwa atau bate-bate yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang digelar arung. Keempat wanuwa atau bate-bate tersebut yaitu: Tiroang. Sekka, Langnga, dan Loloang. 

Pengembangan kedatuan Sawitto telah berlangsung sejak era Addattuang Sawitto pertama yakni La Bangenge Manurungnge ri Bacukiki. Pengembangan awal tersebut dilakukan dengan mengawinkan keturunannya dengan putra putri dari kerajaan tetangga kedatuan Sawitto.

Perkembangan kedatuan Sawitto selanjutnya adalah menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Kerja sama tersebut diwujudkan dengan terbentuknya persekutuan Limae Ajatappareng dan dengan kerajaan Enrekang dari persekutuan Massenrempulu. Dengan dukungan dari sekutu-sekutunya, maka kedatuan Sawitto mampu membentuk kekuatan maritim yang tangguh dan berpengaruh di pesisir barat jazirah Sulawesi pada awal abad XVI Masehi, sehingga tercatat dalam lontara bahwa wilayah pengaruh kekuasaan Sawitto pada saat itu adalah dari Bonto-bonto dan Segeri di selatan hingga Toli-toli di utara. Puncak kejayaan tersebut berakhir ketika kedatuan Sawitto mengalami kekalahan dari kerajaan Gowa yang melakukan penaklukkan di wilayah setempat pada masa Karaeng Tunipallangga Ulaweng.

Buku Kedatuan Sawitto bersumber dari beberapa literatur dan naskah-naskah lontara peninggalan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, yaitu: Lontara Akkarungeng Sawitto, Lontara Sawitto, Lontara Bilang Gowa-Tallo, Lontara Patturiolongnga ri Tu Talloka, Lontara Bone, Lontara Akkarungeng ri Wajo, Lontara Sukkuna Wajo dan Lontara Sidenreng.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, membahas kedatuan Sawitto yang pernah mengalami kejayaan, memegang supremasi politik di pesisir barat pulau Sulawesi pada abad XVI M, sebelum kemunculan Gowa sebagai kerajaan tertua di Sulawesi. Kejayaan kedatuan Sawitto terekam di dalam naskah-naskah lontara. Bahkan, dalam sejarah kristenisasi di Sulawesi Selatan atas usaha orang Portugis, kawasan Suppa dan Sawitto menjadi tujuan awal untuk dikristenkan oleh bangsa Portugis baru ke daerah Makassar (Tallo) dan wilayah lain di kawasan Sulawesi Selatan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dalam pandangan orang Portugis wilayah setempat memiliki potensi yang penting dibandingkan wilayah tetangganya khususnya dalam bidang ekonomi dan politik.


Menyusuri Jejak Historis 
Kedatuan Sawitto 
di Pesisir Barat Jazirah Sulawesi Selatan Abad XVI-XVII

Penulis: Prof. Dr. Hasaruddin, M. Ag
Editor: A. Yani
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Kabupaten Gowa
ISBN: 978-602-328-400-9



July 18, 2023

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman Ajak Masyarakat Berkunjung ke Layanan Perpustakaan Ibu & Anak

Sarana Permainan Outdoor di Gedung Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (Dispus Arsip Sulsel) pagi ini pada 30 Zulhijjah 1444 H (18/07/2023) diresmikan Ketua Tim Penggerak PKK Prov. Sulsel Naoemi Octarina di dampingi Gubernur Andi Sudirman Sulaiman (ANDALAN) dan Ir. H. Andi Parenrengi, M.P beserta Ibu di Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 1 Makassar.

Layanan Perpustakaan Ibu & Anak merupakan salah satu Program Prioritas yang hadir untuk mencerdaskan anak-anak ANDALAN Provinsi Sulawesi Selatan. Program ini bentuk perhatian Bapak Gubernur Andi Sudirman Sulaiman terhadap pengembangan literasi dan budaya baca masyarakat di Sulawesi Selatan.

Di depan awak media Gubernur Andalan mengajak seluruh masyarakat berkunjung dan menikmati layanan perpustakaan Ibu & Anak yang telah dilengkapi sarana permainan outdoor dan sebagai salah satu upaya orang tua untuk mengurangi penggunaan gadget yang terlalu lama bagi anak melalui berbagai permainan edukasi yang telah disediakan di perpustakaan ini.

Di kesempatan yang sama Kepala UPT. Perpustakaan Kaharullah, SE., M.M. menjelaskan layanan ini terbuka dari hari Senin hingga hari Minggu dan kami juga memberikan layanan story telling (mendongeng) serta layanan lainnya yang dapat dinikmati dengan berkunjung kesini. (***)


July 17, 2023

PROFIL SEJARAH BUDAYA DAN PARAWISATA GOWA


Sungguminasa merupakan ibukota Kabupaten Gowa yang terletak di Kecamatan Somba Opu. Menurut riwayatnya, asal usul Sungguminasa dulunya kampung Tompobalang. Nama Tompobalang ini diberikan orang karena daerah tersebut merupakan sebuah daratan yang dikelilingi oleh hamparan rawa-rawa, Tompobalang berasal dari kata "Tompo" berarti daratan dan "Balang" berarti "'rawa-rawa". 

Pada bagian selatan Tompobalang terdapat Sungai Jekneberang; di bagian timur, tepatnya di Cambaya dan Batang Kaluku penuh dengan rawa-rawa, pada bagian barat tepatnya di Lambaselo dan Pandang-pandang juga penuh rawa-rawa yang daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon "pandang" (nenas). Itulah sebabnya daerah tersebut dinamakan Pandang-pandang (sebutan orang Makassar), kemudian pada bagian utara, tepatnya di belakang Agraria Gowa membujur ke timur dan ke barat juga penuh rawa-rawa dan ditumbuhi mata air. Itulah sebabnya daerah itu disebut Kampung Timbuseng (Timbuseng berarti mata air). Timbuseng ini menurut riwayat dulu, airnya dipakai untuk mengairi sawah di Lonjok Boko, yakni tanah kerajaan yang letaknya di sekitar Kantor Bupati Gowa sekarang. 

Tompobalang ini menurut riwayatnya di masa lalu dipimpin oleh seorang pemimpin kaum yang bergelar Karaeng Tompobalang. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XXVII I Mallisujawa Daeng Ri Boko, Arung Mampu, Karaeng Tompobalang Sultan Maduddin, Tumenanga Ri Tompobalang (1767-1769) daerah ini dikuasai Kerajaan Gowa. Sebelum beliau wafat pernah berpesan, "Besok lusa di Tompobalang ini banvak orang yang bermukim dan bisa mendapatkan kebahagiaan dalam mencapai cita-citanya (Tau Sunggu Ri Minasanna)". Selama beberapa tahun kemudian setelah beliau wafat impiannya terbukti dan banyakorang yang bermukim di Tompobalang sehingga daerah tersebut berubah nama menjadi Sungguminasa. 

Pada Abad XVIII, Belanda mulai memusatkan perhatiannya ke Sungguminasa dengan jalan mendudukinya. Raja Gowa XXXIV waktu itu dipegang oleh I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tamenanga Ri Bundukna (1895-1906) mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang menduduki kota Sungguminasa. Pada masa itu, Raja Gowa I Makkulau kalah perang dan gugur di medan perang. Itulah sebabnya beliau mendapat gelar "Tumenanga Ri Bundukna" (orang yang gugur dalam peperangan). Atas kemenangan itu, Belanda membentuk federasi di Gowa yang berpusat di Sungguminasa. 

I Makkulau digantikan oleh I Mangi-mangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenanga Ri Sungguminasa (1936-1946). Beliaulah yang meneruskan perjuangannya dan atas prakarsanya, ia memindahkan istana Kerajaan Gowa dari Jongaya ke Sungguminasa pada tahun 1936. Istana Kerajaan tersebut sekarang dikenal dengan nama "Ballak Lompo"

Setelah I Mangi-Mangi wafat, beliau digantikan oleh putranya bernama Andi Ijo Daeng Mattawvang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir (1946-1950) yang merupakan Raja Gowa XXXVI. Beliau ini merupakan Raja Gowa terakhir. Selama masa pemerintahannya, ia meneruskan perjuangan pendahulunya hingga memasuki masa peralihan dari kerajaan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Buku PROFIL SEJARAH BUDAYA DAN PARAWISATA GOWA merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang sejarah dan asal usul Gowa yakni masa sebelum kemerdekaan dan masa setelah kemerdekaan.

Profil tokoh-tokoh sejarah Gowa seperti: (1) Karaeng Tumapa'risi Kallonna (2) Daeng Pamatte' (3) Sultan Alauddin (4) Karaeng Pattingngalloang (5) Syekh Yusuf Tuanta Salamaka (6) Sultan Hasarnuddin (7) Karaeng Galesong (8)  I Fatimah Daeng Takontu (9) Andi Idjo Karaeng Lalolang (10) Ranggong Daeng Romo.

Falsafah Budaya Makassar: (1) Falsafah Sirik na Pacce (2) Falsafah Sipakatau 

Lagenda objek-objek wisata Gowa (1) Wisata Sejarah :

  • Benteng Somba Opu 
  • Balla Lompoa ri Gowa
  • Balla Lompoa ri Bajeng 
  • Rumah Tua di Buluttana Malino 
  • Makam Sultan Hasanuddin
  • Makam Syekh Yusuf 
  • Mesjid Tua Katangka 
  • Bungung Barania ri Bajeng 
  • Gaukanga ri Bontonompo dan di Jipang
  • Gedung Konferensi Malino 
(2) Wisata Budaya terdiri dari Tari-tarian; Alat Musik Tradisional; Pakaian Adat; serta Benda Peninggalan Sejarah Kerajaan Gowa 
(3) Wisata Alam, terdiri : Malino; Danau Mawang, serta Pantai Mangngesu

(4) Sekilas Kota Sungguminasa dan Hari Jadi Gowa 


PROFIL SEJARAH BUDAYA DAN PARAWISATA GOWA 
Penulis: Syahrul Yasin Limpo, Adi Suryadi Culla, Zainuddin Tika
Editor: HD. Mangemba, M. Jufri Tenribali
Penerbit: Pemerintah Daerah TK.II Gowa Kerja Sama Yayasan Eksponen 166 Gowa
Tempat Terbit: Sungguminasa-Gowa
Tahun Terbit: 1996




July 12, 2023

Perilaku Masyarakat: KAWASAN SEMPADAN SUNGAI

Pemanfaatan ruang pada kawasan sempadan sungai, umumnya mengalami kecenderungan tidak terkontrolnya persebaran bangunan pada daerah aliran sungai yang berdampak pada penurunan kualitas sungai. Selain itu masyarakat yang menempati sempadan sungai, umumnya membuang sampah dan limbah rumah tangga langsung  ke badan air sungai.

Permasalahan yang kadang timbul di sempadan sungai sering berkaitan dengan pertumbuhan perumahan dan aktivitas pada perumahan di kawasan sempadan sungai, antara lain semakin bertambahnya kegiatan dengan alasan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Bila ditelusuri secara seksama menurunnya kualitas lingkungan di sempadan sungai tersebut dimungkinkan karena perilaku masyarakat yang berdomisili di sempadan sungai belum berperilaku baik dalam aktivitas sehari-hari di sempadan Sungai Sa'dan di Kota Rantepao Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Buku Perilaku Masyarakat: KAWASAN SEMPADAN SUNGAI masih masih dianggap oleh beberapa masyarakat sebagai saluran aliran pembuangan air, baik air, baik air hujan dan air limbah. Masih kurangnya kesadaran bahwa sungai merupakan elemen penting di dalam kawasan pemukiman yang berfungsi selain sebagai kesatuan sistem drainase juga bermanfaat sosial sebagai lokasi ruang terbuka, penyeimbang ekosistem, bahkan sumber air bersih. Kondisi ini juga disebabkan dari tingkat pendidikan dan pengetahuan yang masih belum mencapai standar dan faktor ekonomi yang masih rendah. 

Faktor-faktor yang dapat mendorong masyarakat untuk berperilaku pro-lingkungan terhadap sungai juga masih kurang efektif. Regulasi yang ada masih berupa formalitas saja, lemahnya dukungan dana untuk masyarakat mengelola sungai secara mandiri, dan masih kurangnya penyuluhan atau sosialisasi tentang cara-cara mengelola sungai menjadi salah satu penyebab juga masih rendahnya perilaku pro lingkungan sungai.

Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah perlu memberikan edukasi masyarakat dan penataan kawasan yang mempertimbangkan aspek dari hasil analisis gap penilaian masyarakat. Dengan begitu, diharapkan restorasi sungai nantinya tidak berseberangan dengan kepentingan masyarakat. Bagi masyarakat sendiri, perlu meningkatkan partisipasi dalam penataan kawasan semisal dengan membuat kampung wisata sungai mandiri.


Perilaku Masyarakat: KAWASAN SEMPADAN SUNGAI
Pendekatan Pengetahuan Lingkungan, Kebijakan Pemerintah, 
Kearifan Lokal Sempadan Sungai Sa'dan

Penulis: Julianti Paembonan, Batara Surya, Syafri
Editor: Syamsul Bahri, Syafri


July 10, 2023

AEROTROPOLIS DI BANDARA INTERNASIONAL SULTAN HASANUDDIN MAKASSAR

Bandara internasional sultan hasanuddin merupakan pintu gerbang perekonomian Indonesia bagian timur yang sangat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian diwilayah sekitarnya. Pelayanan yang harus disiapkan untuk kegiatan bandar udara internasional sultan hasanuddin yaitu dibutuhkan kawasan terdapat pelayanan untuk meningkatkan kegiatan non penerbangan.

Untuk itu diperlukan perencanaan sebuah kota baru yaitu Aerotropolis Hasanuddin sebagai pusat kotanya. Dari melihat kondisi fisik, utilitas di kawasan perencanaan, tata guna kawasan, kondisi jalan dan aspek aksebilitas dapat diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan Aerotropolis Hasanuddin.

Berdasarkan hasil penelitian konsep pengembangan aerotropolis di bandara internasional sultan hasanuddin maka didapat beberapa kesimpulan berikut ini : 

Perkembangan bandara sultan hasanuddin makassar semakin meningkat dikarenakan aktivitas yang menggunakan jasa transportasi udara meningkat masuk atau keluar di kota Makassar dan sekitarnya. Hal ini ditandai dengan pembangunan kapasitas bandara sultan hasanuddin yang sampai saat ini telah dilaksanakan pembangunannya. Beberapa karakteristik pelayanan bandara yang dapat mempengaruhi bandara di dalam mendukung konsep aerotropolis yakni hierarki sistem pusat pelayanan, rute pelayanan, jangkauan pelayanan, waktu dan biaya, ketinggian kepadatan penduduk, ketinggian bangunan, harga lahan, nilai lahan, intensitas karakteristik fisik lahan, penggunaan lahan, ketersediaan fasilitas perdagangan dan jasa, ketersediaan jaringan jalan, ketersediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum dan ketersediaan moda transportasi. 

Pada dasarnya semua karakteristik pelayanan aerotropolis berpengaruh jika dikembangkan di bandara internasional sultan hasanuddin. Yang paling berpengaruh di dalam karakteristik pelayanan bandara yakni jangkauan pelayanan, waktu dan biaya, ketersediaan fasilitas perdagangan dan jasa, ketersediaan jaringan jalan, ketersediaan fasilitas sosial/ fasilitas umun dan ketersediaan moda transportasi. Sehingga di dalam penerapan aerotropolis di bandara sultan hasanuddin agar mempertimbangkan karakteristik pelayanan tersebut. 

Pengembangan konsep aerotropolis berdasarkan karakteristik pelayanan dapat dilakukan di bandara sultan hasanuddin Makassar dengan melakukan pengembangan terhadap prinsip prinsip integrasi dan konektivitas yang berarti ketersediaan moda transportasi, ketersediaan jalan dan fasilitas sosial/umum yang perlu dilakukan pengembangan awal. Karena prinsip inilah yang sangat signifikan di bandara sultan hasanuddin makassar merupakan infrastruktur dasar di dalam pembangunan bandara di dalam pengembangan aerocity menuju konsep pengembangan aerotropolis.

Perkembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar semakin meningkat dikarenakan aktivitas yang menggunakan jasa transportasi udara meningkat masuk atau keluar di kota Makassar dan sekitarnya. Hal ini ditandai dengan pembangunan kapasitas Bandara Sultan Hasanuddin yang sampai saat ini telah dilaksanakan pembangunannya. 

Pada dasarnya semua karakteristik pelayanan aerotropolis berpengaruh jika dikembangkan di bandara internasional sultan hasanuddin. Yang paling berpengaruh di dalam karakteristik pelayanan bandara yakni jangkauan pelayanan, waktu dan biaya, ketersediaan fasilitas perdagangan dan jasa, ketersediaan jaringan jalan, ketersediaan fasilitas sosial/fasilitas umun dan ketersediaan moda transportasi. 

Pengembangan konsep aerotropolis berdasarkan karakteristik pelayanan dapat dilakukan di bandara sultan hasanuddin Makassar dengan melakukan pengembangan terhadap prinsip integrasi dan konektivitas yang berarti ketersediaan moda transportasi, ketersediaan jalan dan fasilitas sosial/umum yang perlu dilakukan pengembangan awal. Karena prinsip inilah yang sangat signifikan di bandara Sultan Hasanuddin Makassar merupakan infrastruktur dasar di dalam pembangunan bandara untuk pengembangan aerocity menuju konsep pengembangan aerotropolis.


Konsep Pengembangan
AEROTROPOLIS DI BANDARA INTERNASIONAL SULTAN HASANUDDIN MAKASSAR

Penulis: Randy Obertias Oheo Sumarata, Murshal Manaf, Syafri
Editor: Aslam Jumain
Penerbit: Pusaka Almaida
Tempat Terbit: Gowa, Sulawesi Selatan
ISBN: 978-623-226-339-0



BALLA' LONGGA'

Balla' Longga' (rumah tinggi) adalah bahasa Makassar untuk menyebut rumah yang tinggi, yang merupakan alternatif hunian berbasis pemukiman Suku Bugis-Makassar dengan pendekatan perencanaan partisipatif. Istilah ini diambil dari bahasa keseharian warga kampung Kara'ba, Kota Makassar, yang merupakan wilayah pesisir yang mendapat perhatian pengembang permukiman masyarakat. 

Kampung ini terletak pada area pasang surut air laut. Ketika area air laut ini surut ruang tersebut dijadikan tempat bermain oleh anak-anak Kampung Kara'ba. Lorong-lorong di Kampung Kara'ba selain sebagai sirkulasi warga, lorong tersebut juga menjadi tempat area bermain anak dan area berinteraksi antar warga. 

Hunian ini merupakan hasil dari perencanaan partisapatif warga secara keseluruhan dan kesepakatan warga pula untuk dihuni oleh keluarga Daeng Saeni. 

Pelibatan warga Kara'ba secara keseluruhan dalam proses perencanaan Balla' Longga' ini sangat membantu untuk mencari-mengenali dan menemukan cara-cara bermukim yang kontekstual sesuai dengan siklus warga Kampung Kara'ba pada umumnya dan keluarga Daeng Saeni pada khususnya, sehingga perencanaan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan tepat sasaran (visible). 

Untuk sementara ini, 1 unit hunian Balla' Longga' ini akan dihuni 1 rumpun keluarga yang berisi 5 KK. Karena dalam budaya Bugis-Makassar, dalam 1 atap sebaiknya dihuni oleh keluarga dekat, menjadi tabu jika ada orang lain yang berada di dalam hunian tersebut. 

Meskipun ada kondisi seperti itu, keluarga Daeng Saeni cukup terbuka untuk membukakan ruang bagi warga lain di dalam kampung dan di luar kampung Kara'ba untuk turut merasakan berada di Balla' Longgd ini, sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas bermukim warga kampung Kara'ba dan sekitarnya. 

Dengan mengedepankan konteks budaya Bugis-Makassar dalam menyelesaikan masalah dan melakukan pencarian solusi bersama, Balla Longga' ini menjadi sarana fisik untuk mewadahi aktivitas non fisik (ekonomi, sosial, budaya, teknologi) dalam ruang yang adaptif dan dinamis dalam rangka meningkatkan relasi dan interaksi dalam ruang-ruang kampung. Selain itu pula Balla' Longga' juga berperan dalam salah satu upaya program kerja nasional 100-0-100 guna merekonstruksi pemukiman yang layak dan berkeadilan bagi warga negara Indonesia khususnya warga« Kampung Kara'ba di Kota Makassar.

Buku ini membahas alternatif hunian vertikal untuk menampung jumlah KK yang bertambah, dari 1 keluarga menjadi 5 keluarga, yang secara ekonomi tidak mampu untuk menyewa rumah/mendirikan rumah di tempat lain. Selain dijadikan hunian, kolong rumah juga dijadikan tempat usaha warung untuk menambah pemasukan rumah tangga.

Buku ini dimulai dengan pemetaan dan perencanaan partisipatif oleh warga bersama Balai Penelitian dan Pengembangan Perumahan Wilayah III Makassar, yang menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BALLA' LONGGA'
Seri Pengalaman Partisipatoris Masyarakat Alternatif Hunian Vertikal Berbasis
Pemukiman Suku Bugis-Makassar dengan Pendekatan Perencanaan Partisipatif
Penanggung Jawab: Sugeng Paryanto

Koordinator: Ratna Juwita
Tim Penyusun: Nurul Mukmin, Fachry Ali Samad, M. Yunus, et al.
Penerbit: Masagena Press dengan Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian PUPR
ISBN: 978-602-0924-63-2



July 5, 2023

ANYAMAN TRADISIONAL SUL-SEL

Anyaman merupakan salah satu hasil kerajinan tangan Rakyat Sulawesi Selatan dikenal sejak dahulu, pada mulanya pekerjaan anyaman menganyam dilakukan dalam lingkungan rumah tangga sendiri sebagai salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Lama kelamaan pekerjaan tersebut berkembang menjadi unit usaha, yang dapat menghasilkan berbagai macam bentuk peralatan hidup masyarakat Sulawesi Selatan.

Kerajinan tangan anyaman bahan bahannya diperoleh dari lingkungan alam sendiri yaitu lingkungan alam daerah Sulawesi Selatan antara lain : dari daun lontar, daun aka (sejenis palem), rotan, lidi/daun kelapa, bambu, rumput-rumputan/alang alang, nipa dan lain-sebagainya. Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk mempersiapkan bahan anyaman seperti: pisau, parang, alu, batu, penusuk/passule, jarum besi, pola/patron, bole (kerang-kerangan), jarum besar dan lain sebagainya.

Hasil-hasil anyaman tradisional Sulsel: gamaoca, tabba, tikar lontar, baku besar, bakul sedang/pendek, pattapi/paddinging (niru), pagero/soro/serro, pabbasse (pengikat), bakul sedang/pendek, pattapi/peddinging (niru), pagero/soro/serro, pabbasse (pengikat), tappere (tikar), tikar sembahyang, baku karaeng (sedang), baku karaeng (kecil), baku bubburang, dung, palo-palo (topi), palo nipa, palo lebba (topi lebar), palo awo (topi bambu), songko urecca (kopiah dari serat pelepah lontar), kombu, keranjang bambu, bakul keranjang, keranjang rotan, bakul keranjang, paje/pangngallowiyang, okong besar, okong kecil, kako, loco-loco, assokkorang/panynyongkolang (kukusan), tapisan santan kelapa, bodo-bodo bundar, bodo-bodo segi tiga, bodo-bodo segi empat panjang, bodo-bodo bujur sangkar, pas kembang, tempat buah-buahan lonjong, baki bundar, alas gelas, alas piring, hiasan dinding, tas segi empat panjang, tas, tas rotan, tas kecil, tempat rokok, kipas persegi, kipas rotan, kipas dapur, passipi, kipas, macam-macam ketupak, peralatan upacara tradisional, raga, gandong, peralatan perikanan, anyaman dari bahan pelastik, kampilo, tide-tide, baku sisampo (bakul dengan tutupnya), baku sappa (bakul segi empat panjang), kampilo, tide-tide, baku sisampo (bakul dengan tutupnya), baku sappa (bakul segi empat panjang), ampoti makacoa, balesse, pallawa, seperangkat bakul kecil, bakul kecil, jamba-jamba/paje-paje, baka biccu (keranjang kecil), tapisan minyak kelapa, okong anynyarang, pici urecca, palo urecca dan kambesi.

Buku ANYAMAN TRADISIONAL SUL-SEL merupakan panduan sistem penataan pameran yang didasarkan atas fungsi benda yang ada kaitannya dengan mata pencaharian hidup, ekonomi dan sistem pengetahuan, yang terdiri dari bahan, peralatan, hasil-hasil anyaman serta asalnya yang dapat dijumpai di Museum Negeri La Galigo Ujung Pandang. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, jl. Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ANYAMAN TRADISIONAL SUL-SEL 
Penyusun: Sahriah, JAwiah A. Baso
Penerbit: Museum Negeri La Galigo Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1982