Muhammad Saleh Puangna I Sudding (Hammad Saleh) merupakan salah seorang tokoh pemimpin dan pejuang yang bukan hanya berperan penting dalam perlawanan menentang pemerintah militer Jepang, tetapi juga dalam perlawanan menentang kehadiran dan usaha NICA yang hendak memulihkan kembali kedudukan dan kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan cucu dari mara'dia Alu yang dilahirkan di Alu, Balanipa pada 1915.
Oleh karena dalam tradisi suksesi kepemimpinan di Kerajaan Balanipa, bahwa "Naiya anak pattola payungna Alu, malai diala menri maradia di Balanipa" (putra nahkota Kerajaan Alu dapat diangkat sebagai mara'dia atau raja di Kerajaan Balanipa). Itulah sebabnya ana' pattola payung Alu dapat menduduki jabatan mara'dia pada seluruh kerajaan anggota persekutuan Pitu Babanna Binanga (tujuh kerajaan di muara sungai atau pesisir pantai). Ketujuh kerajaan itu adalah Kerajaan Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju dan Binuang.
Latar belakang keluarga Hammad Saleh sebagai keturunan dari mara'dia Alu penting diketahui. Sebab, selain turut berperan dalam membentuk karakter dan sikap Hammad Saleh, sejumlah keturunan dari maradia Alu juga telah tercatat dalam sejarah sebagai penentang yang gigih melawan pemerintah kolonial Belanda. Salah satu diantaranya adalah I Calo Ammana I Wewang. Putra Mara'dia Alu I Gaang ini, yang dalam perkembangannya bukan hanya diangkat menjadi mara'dia malolo (panglima perang) Kerajaan Balanipa.
Hammad Saleh setelah mengetahui dengan pasti bahwa kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, maka ia bukan hanya tampil ke depan menunjukkan dukungan dan sikap tegasnya "berdiri di belakang" Republik Indonesia, tetapi ia juga mengambil peran yang amat penting dalam perlawanan menentang kolonial Belanda dan terlibat secara langsung dalam sejumlah pertempuran dengan aparat NICA yang hendak memecah belah persatuan bangsa dan menghancurkan Republik Indonesia.
Buku PERJUANGAN HAMMAD SALEH: Menentang Jepang & Belanda di Mandar 1942-1947 tentang sebuah kisah pribadi perjuangan lokal di tanah Mandar. Perjuangannya menentang pendudukan militer Jepang, tetapi juga tentang perjuangan menentang kehadiran dan usaha NICA yang hendak memulihkan kembali kedudukan dan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Mandar. Selain itu, juga memuat uraian tentang latar belakang kehidupan dan perlawanan Hammad Saleh dalam menentang penjajahan (Jepang dan Belanda) di Sulawesi Barat.
Menentang Jepang & Belanda di Mandar 1942-1947
Penulis: Muhammad Amir
Editor: Syafruddin Muhtamar
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9057-88-1