November 30, 2021

PERJUANGAN HAMMAD SALEH: Menentang Jepang & Belanda di Mandar 1942-1947


Muhammad Saleh Puangna I Sudding (Hammad Saleh) merupakan salah seorang tokoh pemimpin dan pejuang yang bukan hanya berperan penting dalam perlawanan menentang pemerintah militer Jepang, tetapi juga dalam perlawanan menentang kehadiran dan usaha NICA yang hendak memulihkan kembali kedudukan dan kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan cucu dari mara'dia Alu yang dilahirkan di Alu, Balanipa pada 1915. 

Oleh karena dalam tradisi suksesi kepemimpinan di Kerajaan Balanipa, bahwa "Naiya anak pattola payungna Alu, malai diala menri maradia di Balanipa" (putra nahkota Kerajaan Alu dapat diangkat sebagai mara'dia atau raja di Kerajaan Balanipa). Itulah sebabnya ana' pattola payung Alu dapat menduduki jabatan mara'dia pada seluruh kerajaan anggota persekutuan Pitu Babanna Binanga (tujuh kerajaan di muara sungai atau pesisir pantai). Ketujuh kerajaan itu adalah Kerajaan Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju dan Binuang.

Latar belakang keluarga Hammad Saleh sebagai keturunan dari mara'dia Alu penting diketahui. Sebab, selain turut berperan dalam membentuk karakter dan sikap Hammad Saleh, sejumlah keturunan dari maradia Alu juga telah tercatat dalam sejarah sebagai penentang yang gigih melawan pemerintah kolonial Belanda. Salah satu diantaranya adalah I Calo Ammana I Wewang. Putra Mara'dia Alu I Gaang ini, yang dalam perkembangannya bukan hanya diangkat menjadi mara'dia malolo (panglima perang) Kerajaan Balanipa.

Hammad Saleh setelah mengetahui dengan pasti bahwa kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, maka ia bukan hanya tampil ke depan menunjukkan dukungan dan sikap tegasnya "berdiri di belakang" Republik Indonesia, tetapi ia juga mengambil peran yang amat penting dalam perlawanan menentang kolonial Belanda dan terlibat secara langsung dalam sejumlah pertempuran dengan aparat NICA yang hendak memecah belah persatuan bangsa dan menghancurkan Republik Indonesia.

Buku PERJUANGAN HAMMAD SALEH: Menentang Jepang & Belanda di Mandar 1942-1947 tentang sebuah kisah pribadi perjuangan lokal di tanah Mandar. Perjuangannya menentang pendudukan militer Jepang, tetapi juga tentang perjuangan menentang kehadiran dan usaha NICA yang hendak memulihkan kembali kedudukan dan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Mandar. Selain itu, juga memuat uraian tentang latar belakang kehidupan dan perlawanan Hammad Saleh dalam menentang penjajahan (Jepang dan Belanda) di Sulawesi Barat.  


PERJUANGAN HAMMAD SALEH: 
Menentang Jepang & Belanda di Mandar 1942-1947

Penulis: Muhammad Amir
Editor: Syafruddin Muhtamar
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9057-88-1

November 29, 2021

KOLEKSI NASKAH LA GALIGO DI DPK SULSEL


Naskah-naskah La Galigo yang ada sekarang tersebar diberbagai tempat, antara lain pada perpustakaan (dalam dan luar negeri), museum-museum dan koleksi-koleksi pribadi.

Koleksi Matthes dan Jonker, tersimpan pada Universiteits Biblioheek Leiden, koleksi Cense tersimpan pada perpustakaan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan Makassar, Koleksi Schoeman pada Staatsbibliothek Preussischer Kulturbesit, Berlin. 

Berdasarkan hasil penelusuran literatur dari buku Cinta, Laut dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo mengenai episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik) oleh Nurhayati Rahman. Pada tahun 1992, DR. Mukhlis PaEni dari Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar, dipercaya oleh The Ford Foundation untuk memimpin Proyek Pemikrofilman Naskah-Naskah Sulawesi Selatan. Proyek ini telah berhasil mengumpulkan sekitar 5000 lebih naskah, termasuk beberapa naskah La Galigo. Semua hasil mikrofilm ini tersimpan pada Arsip Nasional Makassar sekarang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (DPK SulSel) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

DPK SulSel merupakan tempat penyimpanan teks terbanyak, yakni 8 naskah. Khususnya episode  Sompeqna  Sawerigading Lao Ri Tana Cina (Pelayaran Sawerigading  ke Tanah Cina) adalah salah satu episode yang menceritakan kegagalan cinta Sawerigading untuk mempersunting adik kembarnya We Tenriabeng. Yang menyebabkan ia berlayar menuju tanah Cina untuk mewarnai We Cundai putri raja Cina.

Episode ini sarat dengan nuansa pencitraan laut, yang memantulkan budaya Bugis seutuhnya, sebagai suku bangsa di Indonesia yang selama ini dikenal akrab dengan laut, walaupun ternyata yang dimaksud dalam naskah tidak selalu laut dalam arti harfiah, tetapi terkadang sebagai simbol kehidupan dengan segala tantangan dan harapan hidup yang dinamis.

Naskah-naskah koleksi DPK Sulsel, yang merupakan hasil mikro film dari proyek naskah, naskah tersebut bernomor:

  1. rol 60, nomor naskah 25
  2. rol 48, nomor naskah 4
  3. rol 40, nomor naskah 3
  4. rol 63, nomor naskah 20
  5. rol 66, nomor naskah 37
  6. rol 66, nomor naskah 39
  7. rol 26, nomor naskah 24
  8. rol 44, nomor naskah 12


CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo

Karya La Galigo merupakan satu-satunya dokumen tertulis yang dimiliki oleh orang Bugis jauh sebelum Islam datang ke Sulawesi Selatan. Karena itu, La Galigo merupakan bukti peninggalan kebudayaan orang Bugis yang paling tua dan lama, mendahului peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Hampir semua ahli pernah meneliti La Galigo mengatakan bahwa La Galigo pertama kali ditulis sebelum Islam datang di Sulawesi Selatan, Mattulada memperkirakan sekitar abad ke 7 - 9 M, Fachruddin abad ke-13 dan Pelras abad ke-14 M. 

Di dalamnya menggambarkan kepercayaan lama orang Bugis yang mengisahkan tentang kehidupan para dewa-dewi di langit dan di bawah laut. Perkawinan dewa di langit dan dewi di bawah itulah yang melahirkan bumi, tempat manusia beranak-pinang yang sekarang dikenal sebagai manusia Bugis. Hampir semua episode La Galigo  diwarnai oleh kehidupan dan kejayaan di laut. Karena itu, tidak benar kalau orang Bugis bukan pelaut. Pelayaran dan perantauan bagi orang Bugis adalah sebuah peninggalan kebudayaan yang paling tua dan sekarang ini tidak mendapatkan tempat yang baku dalam kebudayaan orang Bugis.

Melalui peradaban laut itulah manusia Bugis memaknai kehidupan dengan sumangeq dan ininnawa yaitu "sukma" dan "hati nurani" yang diwariskan dari La Galigo. Itulah yang melahirkan sifat warani (keberanian), lempuq (kejujuran) dan getteng (keteguhan pendirian) yang menjadi modal dan bekal bagi mereka dalam mengarungi seribu dunia dan menerjemahkannya ke dalam kehidupan dunia kekinian.

Buku CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo memberikan gambaran hidup tentang tokoh Sawerigading tokoh utama yang eksentrik dan kontroversial dalam epik kuno La Galigo. Ia merupakan generasi ke tiga dari pasangan dewi di Boting Langiq (kerajaan langit) dan dewi di Buri Liu (kerajaan bawah laut). Ketika lahir, Sawerigading kembar emas dengan seorang perempuan cantik yang bernama We Tenriabeng. Dikhawatirkan akan saling jatuh cinta bila kelak dewasa, maka ia pun dipisahkan dewan adat sejak kecil. Namun apa daya, sekali waktu, ketika telah sama-sama dewasa tanpa sengaja dalam sebuah pesta di istana ia bertemu dan saling pandang dengan adiknya. Sawerigading tidak bisa mengendalikan diri dalam memandang kecantikan sang putri, tak kuasa menolak cinta yang tiba-tiba saja menyerukan masuk dalam kehidupannya, tak kuasa menolak apa kata hatinya, tak peduli larangan dan pantangan adat, tak peduli dengan sanksi adat yang akan menimpanya. Itulah awal petaka yang mengawali kisah Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina (PSTC). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang dahsyatnya kekuatan cinta, gemerincing senjata dalam tujuh kali perang di laut yang mengukuhkan kekuasaan Sawerigading sebagai penguasa laut yang tak tertandingi.


CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo
Perspektif Filologi dan Semiotik

Penulis: Nurhayati Rahman
Penerbit: La Galigo Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-15492-0-6




NENEK MOYANG ORANG BUGIS

Kisah epiko-mitis La Galigo dengan ribuan halaman manuskripnya, dengan hubungan para tokohnya yang sangat berbelit-belit, dan indah ceritanya sebagai salah satu hasil yang terindah dari sastra sejenisnya. Cerita yang sangat kaya ini dan belum pernah mengalami penerjemahan secara langsung.

Mitos ini dimulai dengan keputusan sepasang dewata terpenting yang memerintah di dunia atas (Datu Patoto' dan Datu Palinge'), dan sepasang dewata terpenting yang berkuasa di dunia bawah (Guru ri Selleng dan Sinau Toja) untuk mendiami dunia antara (bumi), agar manusia dapat menyembah dan melayaninya. Maka Batara Guru, putra sulung Datu Patoto' dimasukkan ke dalam bambu.

Sebagai to manurung pertama, dia turun ke bumi memberikan bentuk dan penyebaran jenis tetumbuhan dan hewan pertama kali. Ketika turun di Luwu' dia segera berpuasa dan bertapa. Kemudian, mengikutlah hamba-hamba, para permaisuri, rakyat dan bahkan istananya pun semuanya diturunkan dari dunia atas. Lalu, bagaimana yang telah dijanjikan padanya, sepupu satu kalinya We' Nyili', putri Guru ri Selleng, muncul kemudian dari air (dia merupakan to tompo' pertama) untuk menjadi permaisurinya yang terpenting. Dengan demikian bagian terpenting silsilah dalam mitos ini sudah disahkan. Berbagai macam peristiwa mulai dari sekarang diceritakan berturut-turut, berlangsung hingga tujuh keturunan.

Kisah ini juga ditemukan pada "naskah dari Luwu" yang berhasil dikumpulkan pada tahun 1978 di Balambang, sebuah kampung kecil yang letaknya lebih sepuluh kilometer dari Palopo. Pemilik naskahnya Haji Andi Pangeran Opu To Sinile'le, anggota aristokrat tinggi yang dulunya punya kedudukan jabatan pabbicara, yaitu pejabat yang menangani urusan pengadilan dan turut menentukan pula urusan legislatif di Kerajaan Luwu. Manuskrip tersebut menyinggung nama-nama seperti Allah, Zatulbukhti, Ruhul Khudus dan istilah-istilah seperti arasy kursi atau malaikat'.

Naskah selanjutnya diperoleh dari Angkurue' La Sawaleng. pendeta tua biksu dari negeri Wajo', sebagai pelengkap naskah dari Luwu tentang kisah Adam dan Hawa, serta penciptaan jenis makhluk pertama, yang memenuhi lautan, permukaan bumi, angkasa raya, dan yang lahir pula dari air mani Hawa.

Sumber yang terakhir berasal dari Description historique du Royaume de Macacar, (penjelasan sejarah Kerajaan Makassar) Paris 1688 karya Gervaise, yang menjelaskan tentang agama lama orang Makassar dan bukan orang Bugis. Gervaise juga menulis tentang tradisi orang Makassar yang beranggapan bahwa langit tak pernah mengenal awal mula, tempat mentari dan rembulan berkuasa dan hidup berdampingan, sampai kemudian mereka bertengkar. Mentari mengejek rembulan untuk menyiksanya. Akibat luka, sesaat sedang melarikan diri, rembulan melahirkan bumi, yang jatuh secara kebetulan dalam keadaan yang kita temukan seperti sekarang ini.

Dalam sumber itu juga dicantumkan pula bahwa "Orang-orang Makassar" mempunyai kebiasaan mengadakan kurban persembahan untuk mentari dan renbulan, karena mereka merasa berutang budi, akan seluruh kekayaan, bahkan keberadaan mereka sendiri. 

Buku NENEK MOYANG ORANG BUGIS membahas nenek moyang dewata-dewata Bugis  yang berasal dari To Manurung Pertama, Naskah dari Bambang, Kisah Adam dan Hawa serta Mitologi Orang Makassar dan Bugis. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala-salapang-Makassar.


NENEK MOYANG ORANG BUGIS
Penulis: Gilbert Hamonic
Tim Penerbit: A. Wanua Tangke, Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
ISBN: 979-3570-83-0








November 26, 2021

LASYKAR PERJUANGAN GANGGAWA

Terbentuknya Ganggawa bermula dari pertemuan yang dilakukan di Bendoro. Dalam pertemuan tersebut diajukan 3 nama pahlawan Bugis yang penah mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda di Sulawesi Selatan, yakni (1) La Noni dari Telling-Tellang; (2) La Sinrang dari Sawitto; (3) Petta Punggawae dari Bone.

Dari ketiga nama tersebut diatas, maka pilihan jatuh kepada Petta Punggawae yang kemudian diadakan perubahan menjadi Ganggawa. Tepat pada tanggal 20 November 1945, bertempat di atas bukit Bendoro atau sekitar 8 Km sebelah timur Kota Pangkajene Sidenreng, resmilah nama lasykar BP. Ganggawa dengan pimpinan Andi Cammi.

Setelah diputuskan bahwa perjuangan melawan Belanda harus dengan bergerilya, Andi Cammi pimpinan lasykar Ganggawa melakukan perjalanan ke Latappareng. Di tempat ini diperoleh kabar, Sulewatang Pogi dari Wajo dan Andi Sapada Watte mencari hubungan dengan Andi Cammi. Kedua tokoh ini diketahui mempunyai senjata api dan pro republik. Maka Andi Cammi menuju Wette'E untuk mencari Andi Sapada Wette.

Dalam pertumbuhan lasykar BP. Ganggawa yang pada mulanya menjadi daerah operasinya meliputi Sidenreng Rappang, Pare-Pare, Suppa, Alitta/Kariango, kemudian meluas ke daerah-daerah Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang dan Enrekang serta daerah Mandar.

Dengan terbentuknya lasykar BP. Ganggawa, maka sebagai pemuda-pemuda mengikuti Andi Cammi bergerak di luar kota seperti Usman Balo, La Munta, Baco Ustika dan lain-lain. Dan sebagian besar masih bergerak di bawah tanah sambil tetap berhubungan dengan pemimpin-pemimpin di kota-kota lain seperti Makassar dan Pare-Pare, utamanya pemimpin yang ada di dalam kota Rappang bahkan mencari hubungan dengan pemerintah republik di Jawa.

Buku LASYKAR PERJUANGAN GANGGAWA membahas tentang tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan yang pernah terlibat langsung dan menjadi anggota BP. Ganggawa pada masa revolusi mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, antara lain Usman Balo, Ismail Badu, M. Safiuddin Latif (Andi Mannaungi). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LASYKAR PERJUANGAN GANGGAWA
Penulis: Mas'ud Ahmad
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: 2007
ISBN: 979-3570-38-5




SAWERIGADING JATUH CINTA

Sawerigading yang lahir dengan nama "La Madukelleng To Appanyompa". Tanda-tanda kebesarannya sudah terlihat sedari masa kandungan. Sawerigading berada dalam kandungan selama 10 bulan dan pada saat menjelang proses kelahirannya, Ibunda "sang permaisuri kerajaan di Luwu" We Datu Sengeng, menghadapi masa kritis selama sembilan hari, sembilan malam. Karena kritisnya tersebut, sampai-sampai Batara Guru turun tangan, memanggil sang Tunas keluar dengan nama "langi Paewang" disertai nazar.

Kisah Sawerigading memiliki banyak episode kisah perjalanan, baik yang tercantum dalam Sureq Lagaligo maupun dalam serpihan kitab-kitab Bugis Kuno yang tersimpan di tengah masyarakat. Bila dibaca sepintas terkesan, banyak menampilkan cerita keglamouran super heroik nyaris tak masuk akal, akan tetapi jika diperhatikan secara seksama, maka di sana termaktub hikmah dan nilai karakter orang Bugis.

Adapun gaya sastra dalam cerita tersebut tidak lepas dari sang penulis yang dipengaruhi zaman yang berkembang pada saat itu. Hal ini bisa dimaklumi lantaran kisah Sawerigading adalah milik masyarakat yang berkembang secara lisan dari masa ke masa.

Buku SAWERIGADING JATUH CINTA mengisahkan cinta tragis sosok Sawerigading yang jatuh cinta ke pada We Tenriabeng, saudara kembarnya sendiri. Isi cerita memberikan hikmah pembelajaran pada peradaban naluri manusia dan ketaatan hukum universal sebagai makhluk yang memiliki tata-aturan atau pedoman hidup bagi manusia di dunia. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SAWERIGADING JATUH CINTA 
Penulis: M. Akil AS
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-65-3                                                    





November 25, 2021

PAPPASENNA TO MACCAE RI LUWUQ SIBAWA KAJAO LALIODONG RI BONE

Berkata Arumpone: "Apa pangkal mulanya kepintaran, wahai nenek?"

Berkata Kajao Laliqdong: "Kejujuran, Arumpone."

Berkata Arumpone: Apa saksi (jaminannya) kejujuran itu wahai nenek?"

Berkata Kajao Laliqdong: "Seruan itu, Arumpone".

Berkata Arumpone: "Apa yang diserukan, wahai nenek?"

Berkata Kajao Laliqdong: "Adapun yang diserukan, Arumpone, yaitu jangan mengambil tanaman yang bukan tanamanmu, Jangan mengambil harta benda, yang bukan harta bendamu, dan bukan pula pusakamu. Jangan pula mengeluarkan kerbau dari kandangnya yang bukan kerbaumu. Demikian pula kuda yang bukan kudamu. Jangan pula mengambil kayu yang disandarkan, sedangkan bukan engkau yang menyandarkannya. Jangan pula mengambil kayu yang ditetak ujung pangkalnya, sedang bukan engkau yang menetaknya".

(Amanah Kajao Laliqdong)

Berkata orang tua-tua: "Sekiranya ada sesuatu yang engkau kehendaki dilakukan orang lain, andaikanlah hal itu sebagai perahu. Jika engkau sendiri bersedia menumpanginya, barulah engkau menyuruh orang lain menumpanginya. Yang demikian itulah yang disebut jujur.

(Amanah Orang Tua-Tua)

Berkata Matinroe Ritanana, "Ada empat jenis hal pada diri kita. Pertama, pikiran. Kedua, keadilan. Ketiga, malu (harga diri). Keempat, perbuatan baik. Adapun yang menghilangkan pikiran, jika kita marah. Adapun yang menghilangkan keadilan ialah kesewenang-wenangan. Yang menghilangkan malu adalah keserakahan. Yang menghilangkan perbuatan baik adalah kesukaan mempergunjing orang lain."

(Amanah Matinroe Ritanana)

Dua hal yang menyebabkan seorang tertuduh dianggap salah. Pertama, jika kepadanya adat menunjukkan tempat duduk, tetapi ia tidak mau mendudukinya. Kedua, ia berjanji kepada adat, tetapi ia tidak memenuhi janjinya. Artinya, berkata orang tertuduh bahwa nanti pada waktu itu saya datang, tetapi tidak datang. Tidak juga ia menyuruh menyampaikan bahwa ia tidak jadi datang pada waktu yang telah dijanjikan. 

(Amanah Arung Bila)

"Kupesankan juga kepada cucuku, janganlah engkau terlalu manis dan jangan pula engkau terlalu pahit. Sebab jika engkau terlalu manis, engkau akan di telan. Dan jika engkau terlalu pahit engkau akan di muntahkan."

(Amanah Maccae ri Luwuq)

Itulah sebagian isi pesan/amanah Kajao Laliqdong, Orang Tua-Tua, Matinroe Ritanana, Arung Bila dan Maccae ri Luwuq yang berkisar di sekitar pangadereng yang dapat disebut adat-istiadat atau adat raja-raja, meliputi hak dan kewajiban raja, pegawai negeri dan rakyat, agar negeri aman dan makmur. 

Buku PAPPASENNA TO MACCAE RI LUWUQ SIBAWA KAJAO LALIODONG RI BONE (Transliterasi dan Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia) merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang. Buku ini berisikan pesan-pesan bahwa kekuatan raja buka kekuatan yang tidak terbatas. Untuk mencapai maksud tersebut, ada empat lembaga (piranti) yang harus dipelihara dan tetap ditegakkan yaitu:

  1. Adeq atau adat
  2. Rapang atau hukum perumpamaan
  3. Waruq atau hukum peringatan (pelapisan masyarakat)
  4. Bicara atau hukum peradilan.

PAPPASENNA TO MACCAE RI LUWUQ SIBAWA KAJAO LALIODONG RI BONE 
(Transliterasi dan Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia) 
Peneliti: Facruddin. A.E., Zainuddin Thaha, A. Rahman Rahim, Andi Abubakar Punagi
Editor: Kulla Lagausi, Ny Hafsah Nur
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selata LaGaligo
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1985




TUANG GURU, ANRONG GURU DAN DAENG GURU: GERAKAN ISLAM DI SULAWESI SELATAN 1914-1942


Kebijakan pemerintah Belanda memperkenalkan unsur-unsur budaya Barat segera setelah keberhasilan menaklukkan Sulawesi Selatan pada abad ke-20 menyebabkan terjadinya dis-ekuilibrium sosial di kalangan umat Islam. Pranata sosial pangngadereng (Bugis)/pangngadakkang (Makassar) tidak lagi berfungsi secara penuh. Akibatnya, banyak ulama, baik yang modernis (Tuang Guru) maupun yang tradisional (Anrong Guru) melancarkan gerakan dan melepasakan diri dari struktur birokrasi kerajaan. Mereka memilih menjalankan tugas keulamaan di luar ikatan stuktural, sebagai "ulama bebas". Merasa terdesak oleh gerakan yang dilancarkan Tuang Guru dan Anrong Guru, ulama yang terikat dalam struktur birokrasi sebagai parewa saraq (Daeng Guru) tampil pula melakukan gerakan dengan meniru gerakan yang dilancarkan oleh lawannya.

Sebagai cultural broken dan social agency yang terdorong oleh rasa tanggung jawab sebagai warasatul anbiya yang berkewajiban melakukan amar ma'ruf nahi mungkar dan sebagai Bugis-Makassar yang terikat oleh siri' dan passe (Bugis)/pacce (Makassar) tuang guru, anrong guru dan daeng guru sama-sama berusaha mengendalikan proses transformasi sosial umat Islam Sulawesi Selatan sepanjang tahun 1914-1942. Siri' adalah martabat, kehormatan, dan harga diri). Untuk meningkatkan siri' umat Islam dan menjauhkannya dari mate siri', maka perlu dilakukan gerakan dakwah pendidikan, dan sosial bahkan politik dan ekonomi.

Konsep kultural lainnya yang juga digunakan untuk gerakan Islam di Sulawesi Selatan adalah sare dan takkaddere. Sare adalah kepasrahan menerima takdir yang telah ditentukan Allah, sedangkan takaddere adalah nasib baik atau buruk yang diperoleh berdasarkan usaha sungguh-sungguh. Keterbelakangan yang dialami umat Islam yang disebabkan, antara lain karena keterikatannya kepada pangadakkang, menurut tuang guru dan anrong guru bukanlah takaddere. 

Oleh karena itu tidak bisa diterima begitu saja sebagai sare, sebagaimana daeng guru memandangnya . Kebodohan, kemiskinan, keterjajahan dan berbagai keterbelakangan lain, tidak bisa berubah tanpa usaha sungguh-sungguh. Untuk itu, maka perlu gerakan Islam yang terdiri dari gerakan dakwah, pendidikan dan sosial, bahkan politik dan ekonomi.

Meskipun secara eksternal, mereka mendapatkan rintangan dan saingan dari cultural broken dan sosial agency yang lain, seperti tuang petoro (pemerintahan Belanda), tuan pendeta (missionaris Kristen Protestan) dan tuang pastoro (zending Kristen Katolik), ketiga kelompok ulama tersebut tetap saja beristiqamah melancarkan "Gerakan Islam" dalam rangka mencapai tujuan masing-masing. Resonansi dan pengaruh gerakan mereka masih terasa hingga kini.

Buku TUANG GURU, ANRONG GURU DAN DAENG GURU: GERAKAN ISLAM DI SULAWESI SELATAN 1914-1942 membahas tentang gerakan Islam (gerakan Islam modernis, gerakan Islam tradisional serta kedudukan, otoritas dan gerakannya); konflik yang terjadi di kalangan social agency serta dampak dan kelanjutan gerakan Islam sesudah tahun 1942. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7, Tala'salapang-Makassar.


TUANG GURU, ANRONG GURU DAN DAENG GURU: 
GERAKAN ISLAM DI SULAWESI SELATAN 1914-1942
Penulis: Mustari Bosra
Penerbit: La Galigo Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 978-979-99115-1-3





November 23, 2021

NUSANTARA: TINJAUAN SUKU BUGIS MAKASSAR DALAM KEJATIDIRIAN INDONESIA


Secara historis orang Bugis Makassar memiliki sebuah kesatuan peradaban dan moyang dari Luwu, namun di waktu kemudian keikhlasan untuk tertaut itu semakin memudar manakala kepentingan-kepentingan ideologis dan material memisahkannya.

Dominasi kekuatan ideologi menjadi daya perekat yang pragmatis, ketika kepentingan menjaga statusquo atau mengembalikan statusquo kekuasaan daya perekat tersebut memudar dengan cepat. Kisah dominasi Kerajaan Gowa dan Tallo yang mayoritas Makassar menjadi penyebab konflik berkepanjangan dengan kelompok suku Bugis di Bone, Wajo dan Soppeng. Manakala VOC datang dan melihat kekuatan yang dianggap dapat dijadikan mitra, konflik meletus sehingga muncul kemudian peperangan yang menghasilkan perjanjian Bongaya yang memadatkan kenyataan akan ekspansi kultur dan material VOC di tanah Sulawesi Selatan.

Konflik berkepanjangan dikesampingkan ketika kebebasan sebagai pemilik sah wilayah Sulawesi Selatan dialihkan ke tangan monopolistik VOC. Disini kemudian terlihat kekuatan besar orang-orang Bugis dan Makassar dalam menjaga keutuhan wilayahnya dan identifikasi kenusantaraan. Motivasi ideologis anti VOC dan kemudian Hindia Belanda menjanjikan sebuah fenomena historis suku Bugis Makassar sebagai pelaut yang fluktuatif menantang kekuasaan kolonialisme hingga awal abad ke-20.

Peralihan perjuangan suku Bugis Makassar dari perjuangan senjata ke perjuangan berpikir dan intelektual. Walaupun gagasan tetap melawan kolonialisme Belanda, namun runtutan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari sebuah skope besar nusantara semakin menguatkan langkah menuju kemerdekaan sekaligus mempertahankan kemerdekaan. 

Walaupun terjadi berbagai persoalan di masa-masa awal mempertahankan kemerdekaan, ketika bergabung dalam sebuah modern state Indonesia, namun eksistensi Bugis Makassar tetap kuat. Sehingga bentuk-bentuk protes terhadap pemerintahan pusat kerap terdengar dan terwujud walaupun itu terjadi bukan oleh motivasi ingin memisahkan diri dari NKRI, namun lebih pada sebuah konteks bahwa Bugis dan Makassar adalah suku yang tahu hidup secara baik dalam sebuah bingkai kenusantaraan, Indonesia. Karena itu perangkat-perangkat sosial dan birokrasi yang menyertainya tidaklah harus berbicara pada level penempatan orang "luar" untuk memerintah mereka, namun kepercayaan bahwa banyak orang Bugis dan Makassar mampu menjadi pemimpin bagi sukunya sendiri yang menjadi motivasi besar tumbuhnya tindakan-tindakan kritik pada Jakarta, yang ada kalanya bersikap radikal dan cenderung agresif. Namun itu semuanya menurut sejarah terjadi akibat kecintaan besar Bugis dan Makassar pada daerah dan nasionalisme Indonesia.

Buku NUSANTARA: TINJAUAN SUKU BUGIS MAKASSAR DALAM KEJATIDIRIAN INDONESIA menelaah secara mendalam bagaimana sebenarnya sebuah budaya dalam dua suku terbesar di Sulawesi Selatan, Bugis dan Makassar secara historis memiliki sebuah bingkai dinamis dalam melihat arti sebuah persatuan, kesatuan dan persemaian dari benih-benih kedua hal tersebut. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


NUSANTARA: TINJAUAN SUKU BUGIS MAKASSAR DALAM KEJATIDIRIAN INDONESIA
Penulis: Nadjamuddin Aminullah, Azikin Solthan
Editor: Nadhira Seha Nur, Hasbullah Fudail
Penerbit: Pusat Pengembangan Informasi dan Intelektual (PISI)
Tempat Terbit: Jakarta Selatan


PAU-PAUNNA INDALE PATARA

Menurut versi Bugis Hikayat Indera Putera (HI) disebut dengan Pau-Paunna Indale Patara yang selanjutnya disingkat PPIP atau bisa juga disebut Sureqna Indare Patara. Dalam kesusastraan Bugis, sureq merupakan salah satu genre sastra Bugis yang bersifat sakral, sedangkan pau-pau adalah prosa bebas yang bentuknya bersifat sekuler duniawian. Kisah-kisah tantang keagamaan Islam dipakai istilah sureq, misalnya Sureq Makkeluqna Nabitta (Hikayat Nabi Bercukur), Sureq Panrita Sulesanae (Hikayat Para Ulama Bijaksana). La Galigo yang merupakan karya bersifat agama tradisional sebelum orang Bugis menjadi Islam disebutnya pula dengan Sureq (Sureq Galigo). 

Karena itu, bila dilihat dari segi isi HI versi Bugis dapat dikategorikan kedua-duanya. Ia bersifat sakral dan berbentuk sureq karena didalamnya berisi tentang ajaran-ajaran Islam yang dikemas dalam bentuk cerita yang diperankan oleh Indera Putera (IP). Tapi didalamnya juga terdapat unsur-unsur di luar agama Islam (berasal dari Hindu) seperti peristiwa-peristiwa ajaib, kepercayaan pada kekuatan-kekuatan magis, menggantungkan kekuatan pada geliga, semuanya masuk kategori pau-pau. Seperti pau-pau yang terdapat pada bagian awal naskah:

"Ia nae pau-paunna Indare Patara, anaqna raja Bokeroma Bisepa raja Samanta Pura amanna ..."

Artinya:

Inilah kisah Indare Patara, putera raja Bukeroma Bisepa, raja Samanta Pura bapaknya ....

PPIP dibaca dan didendangkan di muka publik, terutama pada saat acara hajatan, seperti penyunatan, perkawinan dan sebagainya. Sampai tahun 1940-an pembacaan hikayat termasuk PPIP masih aktif dilakukan di kalangan orang Bugis/Makassar. 

Buku PAU-PAUNNA INDALE PATARA diambil dari manuskrip tua, koleksi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan huruf lontaraq dan berbahasa Bugis. Judul aslinya "Hikayat Indera Putera" yang bersumber dari Hindu. Lalu setelah masuknya Islam di negeri Melayu, naskah tersebut di-Islamisasi oleh orang Melayu, yang selanjtnya masuk ke negeri Bugis dan disufikan oleh orang Bugis. Judulnya pun berubah mengikuti sistem dan struktur bahasa Bugis yang bersifat silabis, maka menjadilah ia: "Pau-paunna Indale Patara" (Kisah Indale Patara). Naskah PPIP ini terdiri dari 9 buah naskah dalam bentuk mikro-film. Mikro-mikro ini telah dialih-teknologikan dari mikro-film ke digital. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAU-PAUNNA INDALE PATARA
DARI HINDU INDIA, ISLAMISASI MELAYU SAMPAI KE SUFISME BUGIS

Penulis: Nurhayati Rahman
Penerbit: :La Galigo Press Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-99115-6-8

November 22, 2021

TOA-YA ri MANGKASARA: Tempo Doeloe Makassar

Kisah Sumiati yang mati penasaran akibat bunuh diri, dan memilih jalan pintas karena diperkosa oleh seorang pemuda gelandangan bejat di dekat tugu Pahlawan., depan Benteng Ujungpandang saat perjalanan pulang ke rumahnya. Sumiati dihadang di tengah jalan dan terjadilah peristiwa naas itu.

Tak sanggup menanggung malu. Setiba di rumahnya ia mencacah perutnya dengan sebilah pisau. Menjelang akhir hayatnya konon ia berjanji, akan menggoda setiap lelaki yang dijumpainya pulang larut malam. Itulah awal roh Sumiati sering muncul di seputar taman segitiga, dekat Kantor Pos Besar Makassar dan terkadang muncul dipinggir got besar bagian utara Lapangan Karebosi.

Versi lain mengatakan bahwa, Sumiati juga sering muncul di jembatan Tallo, Makassar. Ia cantik, dengan rambut terurai. Berbaju merah darah yang melambai bak gaung pengantin. Dalam versi ini sang wanita malang dikisahkan, dihamili oleh pacarnya yang tidak mau bertanggungjawab.

Tetapi, kabar pernikahan mantan pacarnya sungguh menghancurkan hati. Sumiati didera putus asa. Perutnya yang membuncit, ibarat segunung penderitaan yang tidak tertanggungkan lagi. Sebuah gunting mengakhiri penderitaan duniawinya. Bajunya yang putih menjadi merah dalam genangan darah . Impian pengantinya musnah sudah. Itulah sedikit cuplikan kisah Sumiati, "ratu" hantu wanita pada tahun 1960-an di Makassar.

Kota tua Makassar terdiri dari berbagai tempat, bangunan, tokoh dan warisan budaya lampau yang  masing-masing menyimpan banyak cerita yang unik dan menarik, menjadi lokomotif kearifan dalam kebijakan yang mengantar Kota Makassar ke masa depan, yakni Kota Dunia Makassar. Cerita tersebut diantaranya:

  • Akraga
  • Ambon Kamp
  • Anging Mammiri
  • Baju Bodo
  • Balla Lompoa
  • Bontoala
  • Chinesse Wijk
  • Kaluku Talluwa
  • Kampong Kawat
  • Kampong Melayu
  • Kampong Tumpang
  • Kampung Wajo
  • Kapitan China
  • Jourpardan
  • Karebosi
  • Kayangan
  • Klenteng
  • Koffie Huis
  • Lontang
  • Losari
  • Makam Diponegoro
  • Maipa Daepati
  • Makam Kuno Raja-Raja Tallo
  • Pakarena
  • Patompo
  • Paotere
  • Sumiati
  • Rotterdam
  • Sociteit de Harmoni

Buku TOA-YA ri MANGKASARA: Tempo Doeloe Makassar memberikan sensasi petualangan masa lalu Kota Makassar yang memiliki sejarah panjang nan mengesankan, untuk melihat kampung-kampung lama, gedung-gedung bersejarah, jalan-jalan berkesan, orang-orang terkenal berbaur dalam berbagai aktivitas yang pernah ada dan terjadi di Kota Tua Makassar.


TOA-YA ri MANGKASARA: Tempo Doeloe Makassar
Penulis: Goenawan Monoharto, Yudhistira Sukatanya
Editor: Muhammad Idris Patarai
Penerbit: de la macca
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 979-978-3897-33-2

SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG

Asal usul Rongkong menurut tuturan dari orang-orang tua Rongkong juga berasal dari bagian dari kisah Sawerigading, yang dipercayai memiliki 40 orang sepupu sekali. Seluruh saudara sepupu Sawerigading ini kemudian menyebar untuk mendiami berbagai wilayah di tanah Luwu. 

Sepupu tertua Sawerigading La Marancina dengan gelar Tomakaka (orang yang dituakan) yang diutus kedataran tinggi dibagian barat, atau di kaki gunung Berada, yang sangat kaya dengan potensi alam, tanahnya mengandung elemen-elemen penting yang menyebabkannya menjadi sangat subur (yang sekarang dikenal dengan biji besi, nikel, uranium dan sebagainya. Sebuah dataran yang sangat indah dan mengagumkan. Setelah melihat situasi itu, La Marancina berkata (kepada Sawerigading) sukku' rongko'na tondokku (sungguh sempurna kemuliaan tanahku). Sehingga tanah ini disebut Rongkong yang diambil dari kata marongko (mulia, dirahmati). Sejak itulah La Marancina mendiami dan berkuasa di Rongkong.

Sejarah Luwu menyebutkan bahwa orang-orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong yang dikenal berani dan kebal senjata menjadi garda terdepan dalam pasukan bersenjata Luwu.

Orang Rongkong yang sering dipersamakan dengan suku Toraja diperlakukan istimewa (oleh Datu). Kelompok masyarakat itu dijadikan "barisan berani mati" pembela datu (raja) Luwu. Nilai seorang anggota masyarakat Rongkong dipersamakan dengan 15 penduduk biasa. Artinya bila seorang Rongkong dibunuh maka gantinya adalah 15 orang, yakni si pembunuh dan 14 orang lainnya.

Kepercayaan lokal orang disebut aluk toyolo, dimana devata disembah melalui pararuk. Mereka juga mengenal penyembahan tengkorak manusia pada saat panen padi dan kematian tomakaka. Ada juga tradisi pokorren yang berarti bekerja dua hari untuk tomakaka.

Sistem kebudayaan Rongkong bermuara pada ritual pertanian. Ini karena mata pencaharian penduduk Rongkong adalah pertanian. Tanah pegunungan yang subur sangat memungkinkan untuk hal itu. Karena itulah, peran pangngarong (tetua adat yang membidani pertanian) sangat fungsional sampai sekarang. Sistem sanksi dalam masyarakat Rongkong bersifat denda. Denda yang paling tinggi adalah kerbau. Jumlah kerbau tergantung pada tosiaja (tertua adat yang membidani hukum) kecuali yang tertera dalam sapa sangpulo pitu.

Perubahan kebudayaan adalah sesuatu yang wajar karena masyarakat memang dinamis. Pergeseran yang terjadi karena pergeseran dan pusat kuasa budaya. Otoritas budaya melemah karena adanya pengaruh kuasa-kuasa (kolonial, kristenisasi, DI/TII dan Islamisasi) dan modernitas (negara dan pasar).

Kebudayaan orang Rongkong terpusat pada kehadiran tomakaka. Selama tomakaka ada maka kebudayaan dapat direkonstruksi. Diaspora warga Rongkong di Seko dan Palopo menunjukkan orang Rongkong ke Seko adalah turunan tomakaka, begitu pula para pengungsi di Kota Palopo. Sedangkan, diasporan orang Rongkong ke Malangke yang tidak dipimpin oleh tomakaka, tidak bisa membangun adat berdasarkan adat Rongkong tetapi tetap bisa membangun komunalitas.

Buku SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG membahas tentang sejarah dan kebudayaan Rongkong yang berbeda dengan konstruksi kebudayaan dominan di Luwu, seperti motif kain, besi Porreo, hutan adat yang luas dan masih mempertahankan adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka hingga sekarang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG
Penulis: Saprillah, Muh, Idrus, Risla, Munandar
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978 979 3897 66 0


November 18, 2021

KULINER TRADISIONAL PADA UPACARA ADAT DI SULAWESI SELATAN

Tradisi upacara adat Massulo Beppa merupakan salah satu tradisi pada upacara adat di Sulawesi Selatan. Kata Massulo Beppa mengandung arti, yaitu Massulo = menerangi dan beppa = kue. Jadi, pengertian secara menyeluruh adalah menerangi kue-kue semalam suntuk, dengan iringan de'de pangngarru' (tabuhan gendang). Upacara ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara Mappagau Sihanua yang dilangsungkan tiga hari sebelumnya.

Pada hari pelaksanaan upacara Massulo Beppa warga Karampuang (khususnya kaum ibu-ibu) disibukkan dengan kegiatan membuat bahan-bahan sesajen untuk disiapkan dalam ritual Massulo Beppa, seperti: beppa doko-doko untuk dipersiapkan pada malam Massulo Beppa. Sedangkan kaum bapak-bapak sibuk mencari bahan kelengkapan seperti mengambil janur untuk bahan pembuatan ketupak (bokong) dan kalole, dan menyiapkan laccibung (sejenis aur) untuk bahan pembuatan lemmang (nasi bumbu) dan daun pisang.

Semua makanan dan jenis-jenis kue tradisional dimasukkan ke dalam bakul kemudian dibungkus dengan kain. Pada bagian luar kain dihiasi dengan anyaman janur yang disebut hompong.

Tradisi upacara adat Massulo Beppa merupakan tradisi turun temurun bagi masyarakat di Dusun Karampuang, yang dilaksanakan setiap tahun sekali. Tujuannya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki yang telah dilimpahkan-Nya serta kepada To Manurung'e di Karampuang yang telah menyediakan lahan-lahan pertanian dan perkebunan sebagai sumber mata pencaharian warga Karampuang yang tidak memiliki lahan-lahan persawahan dan perkebunan, dan dapat mengolahnya secara bergilir melalui persetujuan Puang Matoa/Arung.

Pelaksanaan upacara pesta adat Mappagau Sihanua dilangsungkan setiap bulan Oktober atau November. Pelaksanaan upacara Massulo Beppa dipimpin oleh seorang perempuan yang bergelar Puang Sanro, yang dianggap orang yang pintar dalam melakukan ritual adat, juga ahli dalam membuat ramuan obat herbal untuk pengobatan jika ada warga yang sakit. Sedangkan Puang Guru ahli dalam memimpin ritual atau ma'baca -baca yang berkaitan dengan agama Islam. Mengunjungi setiap rumah-rumah warga membacakan sesajen yang sudah disiapkan.

Selanjutnya pada malam upacara adat Massulo Beppa Puang Sanro selaku pemimpin upacara melakukan ritual Marrahung. Alat pedupaan yang sudah dibakar diserahkan kepada orang-orang yang duduk dibagian pinggir, memutari kue-kue yang berada di tengah-tengah kerumunan secara estafet sebanyak tiga kali. Tujuannya mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu, sekaligus mendoakan seluruh warganya agar selalu diberikan rezeki, keselamtan, kesehatan, ketentraman dalam melakukan aktivitas sebagai petani.

Dalam pelaksanaan upacara adat Massulo Beppa, sebelumnya dilakukan upacara Mappogau Sihanua di atas Bukit Karampuang, kemudian upacara Massulo Beppa/Ma'bali Sumange di rumah adat Karampuang. Massulo Beppa/Ma'bali sumange merupakan rangkaian dari upacara Mappagau Sihanua yang baru selesai dilaksanakan dua hari sebelumnya. Ritual Massulo beppa/Ma'bali Sumange yang berlangsung semalam suntuk, kemudian dilanjutkan ritual mabbacce/dibecce di sumur adat menjelang pagi. 

Setelah warga selesai mabbecce/dibecce barulah kue-kue itu diambil oleh pemiliknya untuk dibawa pulang kerumahnya masing-masing. Selain itu warga juga berhak mengambil air ramuan obat yang telah dibuat oleh Puang Sanro untuk pengobatan anggota dalam rumahnya. Adapun jenis makanan pada upacara adat Massulo Beppa:

  1. Beppa Doko-doko
  2. Beppa pitun
  3. Lemmang (nasi bambu)
  4. Bokong (ketupak)
  5. Kalole
  6. Sokko patanrupa (nasi ketan 4 warna)
  7. Manu Nasu Likku
  8. Peco Bue
  9. Kaju/laha bete
  10. Otti raja (pisang raja)
Ritual ini dilaksanakan dengan alasan utama dalam pesan leluhur yang berbunyi "tena solong waeda, tenna loloang raung kaju lele saie", artinya bahwa air tak akan mengalir, daun-daun tak akan menghijau, penyakit akan merajalela, apabila tidak menjalankan atau melakukan ritual.

Buku KULINER TRADISIONAL PADA UPACARA ADAT DI SULAWESI SELATAN mengkaji makna simbolik makanan tradisional, yang pada prinsipnya dihadirkan pada kegiatan upacara atau ritual massulo beppa, dengan mengambil area penelitian pada Dusun Karampuang yang terletak di Kabupaten Sinjai. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KULINER TRADISIONAL PADA UPACARA ADAT DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Abdul Asis, Raodah, Tini Suryaningsih
Editor: Syahrir Kila, Muh. Amir, Iriani
Penerbit: UPT UNHAS Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-979-530-226-1



November 17, 2021

MUSEUM BATARA GURU: Istana Kerajaan Luwu

Nama Museum Batara Gowa diambil dari nama Raja Kerajaan Luwu yang pertama, yaitu Batara Guru. Nama Kerajaan Luwu disebutkan oleh Mpu Prapanca dalam bukunya Negarakertagama 1364M. Sumber tertua berupa Epos I La Galigo yang diterbitkan oleh B.F. Matthes, menguraikan bahwa raja Kerajaan Luwu yang pertama berasal dari dewa langit yang diturunkan ke bumi, bernama Batara Guru. Anak cucu dari Batara Guru kemudian secara turun-temurun menjadi raja dengan membawa ajaran kebenaran seperti adele, lempu, tongeng dan getteng.

Museum Batara Guru menggunakan gedung bekas Istana Kerajaan Luwu yang terletak di tengah-tengah Kota Palopo, pusat Kerajaan Luwu pada masa lampau. Istana tersebut dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda sekitar 1920-an di atas tanah bekas "Saoraja", yang diratakan dengan tanah oleh Pemerintah Belanda. Bangunan istana tersebut dibangun dengan arsitektur Eropa dimaksudkan untuk mengambil hati penguasa Kerajaan Luwu. Tetapi oleh kebanyakan bangsawan Luwu dianggap sebagai cara untuk menghilangkan jejak sejarah Kerajaan Luwu.

Museum Batara Guru merupakan satu-satunya museum yang ada di wilayah bekas Kerajaan Luwu yang merupakan kerajaan tertua, khususnya di Sulawesi Selatan. Di dalam museum ini terdapat berbagai informasi tentang Kerajaan Luwu pada masa lampau, seperti:

  1. Kursi Datu Luwu
  2. Bendera Kerajaan Luwu
  3. Peralatan Perang Kerajaan Luwu
  4. Topi Perang dan Perisai Kerajaan Luwu
  5. Keramik Asing
  6. Tempayan Domestik
  7. Guci Keramik Asing
  8. Bosara, salah satu perlengkapan pesta Kerajaan Luwu
  9. Aksesoris Pesat
  10. Lukisan Mitos Sawerigading
  11. Lukisan Datu Luwu ke-35 Andi Jemma
  12. Keramik
  13. Guci dan Tempayan
  14. Peralatan Pesta
  15. Lukisan dan Foto
  16. Pengunjung Museum

Buku MUSEUM BATARA GURU: Istana Kerajaan Luwu mengurai secara detail berbagai hal yang terdapat dalam museum dan memberikan solusi bagi pengembangan dan pemanfaatan Museum Batara Guru di masa akan datang. Buku ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bagi ilmu permuseuman (Museologi). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


MUSEUM BATARA GURU: Istana Kerajaan Luwu
Penyusun: Simon Sirua Sarapang
Penerbit: Pusat Sawerigading bekerjasama Dinas Perpustakaan dan KEarsipan Prov. Sulsel
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-9248-23-4


PETTA KALIE BONE



Istilah "Qadhi" berasal dari bahasa Arab, yang bermakna melakukan, menetapkan, memutuskan, putusan pengadilan, seseorang yang ahli dalam menetapkan hukum dan hakim (A.W. Munawwir, 1997: 1130), kemudian tertulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama "Kadli" kemudian berubah penyebutan dalam bahasa lisan masyarakat Bugis dengan sebutan "Kali" dan berkembang dengan sebutan "Petta Kalie", tambahan kata "petta" sebagai bentuk penghormatan atau gelar bangsawan.

"Petta Kalie" sangat akrab bagi masyarakat Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, Luwu atau daerah-daerah Bugis lainnya di Sulawesi Selatan. Qadhi/kalie dijabat oleh seorang alim-ulama yang berpengetahuan ISlam secara mumpuni serta masih keturunan raja atau kaum bangsawan, seperti Qadhi Bone I Faqih Amrulah (1629-1663 M) termasuk keturunan Raja Gowa yaitu putra Sayid Muhsin dan cucu I Malingkaan Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awwalul Islam (Raja Gowa-Tallo yang pertama masuk ISlam). Bahkan jabatan Qadhi Bone menurut A. Palloge adalah pejabat sara' (parewa sarak) yang tertinggi di Kerajaan Bone adalah kali (qadhi).

Buku PETTA KALIE BONE: Studi Arkeologis Batu Nisan Makam Qadhi dan Hierarkinya dalam Pangngadereng di Kerajaan Bone menyajikan informasi tentang Petta Kalie di Bone hierarki Qadhi dalam sistem Pengngadereng di Kerajaan Bone, berdasarkan hasil penelian dari sudut pandang arkeologi religi terhadap batu nisan makam para qadhi yng ada di Bone.

Kompleks makam Qadhi Bone Masjid Tua al-Mujahidin Watampone, tidak ada kode situs, karena belum dijadikan sebagai bagian dari Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Situs ini terletak di lingkungan Laleng Bata, Kelurahan Bukaka, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Konstruksi bangunan makam yang berkembang di daerah Bone khususnya pada peletakan batu nisan memiliki makna yaitu, satu batu nisan bermakna bahwa dikuburkan adalah mayat laki-laki, sedangkan peletakan 2 (dua) batu nisan menunjukkan makna bahwa yang dikuburkan adalah mayat perempuan. 

Khusus batu nisan untuk makam Raja Bone dan Qadhi Bone, memiliki dua batu nisan yang menunjukkan makna bangsawan/arung dan ulama, serta penghormatan atas jasa-jasanya dalam mengabdi pada rakyatnya. Hal ini menunjukkan bahwa hierarki raja dan qadhi dalam peletakan butu nisan memiliki kesamaan, yaitu terdapat dua buah batu nisan.

Pangngadereng dalam sistem adat masyarakat Bugis Bone dipandang sebagai sesuatu yang mengandung nilai-nilai luhur dan dapat dijadikan sebagai way of life dalam kehidupan. Bahkan setelah terjadi islamisasi di Kerajaan Bone, pangngadereng tidak serta merta dilebur dalam sistem syariah. Akan tetapi justru antara syariah dan pangngadereng (ade') menjadi dua hal yang saling mendukung dan saling menghormati.

Kedudukan qadhi tersebut menunjukkan gambaran bahwa posisi qadhi sangat tinggi karena disederajatkan dengan kedududkan para pejabat tinggi dalam sistem Kerajaan Bone. Kedudukan ini menjadikan qadhi mempunyai kekuatan luas dalam memutuskan dan mengatur segala hal yang berhubungan dengan bidang keagamaan, kedudukan ini berakhir pada tahun 1951.

Adapun tugas-tugas pokok Qadhi Bone yaitu: memberi pertimbangan kepada raja dalam masalah yang berhubungan dengan hukum syariat Islam. Mengadili serta memutuskan segala perkara yang menuntut tentang warisan, pembagian harta warisan pelaksanaan wasiat, pemutusan perkawinan, talak, ta'lik, fasakh, ruju' dan lain yang berkaitan dengan urusan nikah. Mendamaikan perselisihan antara suami-istri yang menyangkut masalah kerumahtanggaan. Melaksanakan pernikahan dan menyelenggarakan upacara-upacara kematian raja-raja serta kaum bangsawan lainnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

PETTA KALIE BONE: Studi Arkeologis Batu Nisan Makam Qadhi dan 
Hierarkinya dalam Pangngadereng di Kerajaan Bone
Penulis: Muslihin Sultan
Penerbit: Yayasan Al-Muallim
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-797-15712-4-1








November 16, 2021

I FATIMAH DAENG TAKONTU: SRIKANDI DARI TIMUR

I Fatimah Daeng Takontu adalah putra dari Raja Gowa ke-XVI I Mallobasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin dari istrinya I Daeng Talele, salah seorang bangsawan dari Sanrobone. I Fatimah lahir pada 10 September 1659. I Fatimah Daeng Takontu, setalah beranjak dewasa, sifat keberaniannya ayahnya juga telah ia miliki.

Ilmu bela diri yang diturunkan oleh Sultan Hasanuddin kepada I Fatimah Daeng Takontu  maupun kepada Tubarani adalah Tunrun Tallua, Ilmu Bombang Tallua serta Ilmu Tallunlamaka Nammattung, Silamaka Nassa'ra Talang.

I Fatimah sejak masa pemerintahan ayahandanya (1653-1669) telah bangkit sebagai pelopor pergerakan kaum wanita dalam membela wilayah kekuasaannya kerajaan dari pengaruh penjajah Belanda. I Fatimah kala itu, diangkat sebagai pimpinan pasukan Srikandi yang terkenal dengan nama pasukan Balira.

Pasukan Balira ini, bersenjatakan balira yakni salah satu alat yang dipakai orang-orang tua dulu untuk bertenun kain. Panjangnya sekitar 1,5 meter, mirip pedang, tapi tidak tajam, namun keistimewaan balira ini, mampu menembus ilmu kebal dari musuh.

Konon, menurut kepercayaan dari masyarakat Gowa, senjata balira ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Senjata ini tidak melukai, hanya saja bila mana seseorang terkena pukulan balira, mereka tidak mendapatkan keselamatan dan akan terus menderita sakit seumur hidup. Itulah sebabnya, musuh yang tahu tentang senjata balira ini, mereka lebih takut berhadapan pasukan bersenjata balira dibanding dibanding dengan senjata tajam atau senjata api.

Setiap menghadapi pertempuran, pasukan balira ini juga selalu diikutkan. Hanya saja, mereka selalu dikawal oleh pasukan Tubarani yang didominasi oleh kaum lelaki. Pasukan Srikandi ini, tak hanya bersenjata balira, tapi dilengkap dengan senjata tajam atau senjata api bila ada. Di pinggangnya terselip sebilah keris pusaka atau badik dan bilamana pertempuran dari jarak dekat, maka senjata tajam ini bisa digunakan untuk melukai lawan.

I Fatimah Daeng Takontu  yang memimpin pasukan balira, telah berhasil melalukan penyerangan di berbagai tempat di wilayah Kerajaan Gowa. Walaupun semuanya dari kaum hawa, tetapi mereka terlihat gagah berani dalam menghadapi musuh-musuhnya, sehingga salah seorang penyair Belana menjuluki I Fatimahg dengan julukan "Garuda Betina dari Timur". Sedangkan ayahnya Sultan Hasanuddin dijuluki sebagai "Ayam Jantan dari Timur".

I FATIMAH DAENG TAKONTU: SRIKANDI DARI TIMUR membahas perjuangan I Fatimah  anak Mallobasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI untuk memimpin pasukan Srikandi yang ingin menguasai perdagangan di kawasan timur nusantara dengan senjata khusus balira. Beku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


I FATIMAH DAENG TAKONTU: SRIKANDI DARI TIMUR 
Penulis: Syarifuddin Kulle, Zainuddin Tika
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 979-3570-48-2


November 15, 2021

SEJARAH BORONGLOE

Awal mula pemerintahan di Butta Gowa mengenal Karaeng Tumanurung Bainea sebagai Raja Gowa pertama, maka di daerah Gallarrang Borongloe juga mengenal istilah Tumanurunga ri Songkolo bernama I Saunia Daeng Singara yang turun di salah satu batu yang sekarang dikenal dengan istilah Batu Naparana Songkolo. 

Borongloe dulunya bernama Sokkolia, Sokkolia diambil dari kata Sokko yang berarti daratan yang berdekatan dengan sungai Jeneberang sering kena iar sungai pasang seiring dengan pasang surutnya laut di perairan Makassar. Air pasang menurut orang Makassar disebut Bonang, tapi  menurut orang Borongloe disebut Nisokko (air pasang). Mulai saat itulah daerah yang dilalui Sungai Jeneberang disebut Sokkolia.

Pada zaman pemerintahan Raja Gowa VI Karaeng Tunatangkalopi, Sokkolia berubah nama menjadi Bontomanai Iraya yang berdekatan dengan Sungai Jeneberang dan Bontomanai I Lau berada disebelah barat. Namun pada tahun 1900, nama Bontomanai kemudian berubah menjadi Borongloe, karena dalam wilayah itu, terdapat beberapa nama perkampungan yang memaki nama borong, seperti Borong Rappo, Borong Bulo, Borong Kaluku, Borong Unti, Borong Taipa dan sebagainya. Karena banyak daerah memakai nama Borong, sehingga daerah tersebu di berinama Borongloe artinya banyak borong.

Borongloe pada zaman kerajaan merupakan salah satu daerah pemerintahan adat yang bergelar Gallarrang. Selain itu, Borongloe juga termasuk salah satu anggota Bate Salapanga dalam wilayah Kerajaan Gowa. Bate Salapanga ini punya peran yang sangat besar dalam memilih dan mengangkat Raja Gowa serta pengawasan terhadap berbagai kebijakan raja.

Borongloe sebagai anggota Bate Salapanga juga sangat berperan dalam pengambilan keputusan seorang raja. Dalam lontara disebutkan Karaenga Tena Nakkulle Nappu kana punna tena passamaturukanna Bate Salapanga (raja tidak bisa mengambil suatu keputusan sebelum adanya ada persetujuan dari Bate Salapanga) ini menandakan bahwa di Gowa pada zaman dulu menganut sistem demokrasi. Bate Salapanga merupakan wakil rakyat dari kesembilan wilayah dalam Kerajaan Gowa.

Ketika Borongloe masuk anggota Bate Salapanga, posisinya sejajar dengan Kerajaan Gowa. Itulah sebabnya Borongloe dulu dikenal dengan nama Remba-rembaya ri Gowa. Remba-rembaya berarti kalompoang atau kebesaran Kerajaan Gowa berupa salokoa sama derajatnya dengan kalompoang (lambang kebesaran) di Borongloe berupa bendera pusaka.

Di daerah Gallarang Borongloe (sekarang Kecamatan Bontomarannu) memiliki banyak obyek wisata bersejarah, antara lain obyek wisata Danau Mawang, Batu Naparana Songkolo, Makam Salangketo, Biseang Labboro, dan masih banyak lainnya.

Danau Mawang dimana dalam sejarah disebutkan, bahwa Danau Mawang merupakan kawasan industri batu bata untuk memperkuat benteng pertahanan, antara lain bernama Somba Opu, Banteng Anak Gowa, Benteng Barombong dan masih banyak benteng lainnya. Semuanya menggunakan batu bata yang di produksi dari Mawang. Danau Mawang juga merupakan tempat pemancingan ikan oleh tiga orang ulama, yaitu Syekh Yusuf, Dato ri Panggentungan dan Lukmuk ri Antang. Di Danau Mawang, ketiga ulama itu saling mengadu ilmu. Demikian halnya dalam lagenda Danau Mawang, merupakan tempat kubangan kerbau besar yang bernama I Tambak Laulung.

Buku SEJARAH BORONGLOE membahas sejarah Borongloe pada masa pemerintahan Dewa-Dewi, masa hingga menjadi Kecamatan Bontomarannu serta dilengkapi dengan lagenda objek wisata. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-MAkassar.


SEJARAH BORONGLOE 
Penulis: Zainuddin Tika, Abd. Azis, Hj. Dahlia
Penerbit: Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-14794-3-8


TRADISI MASYARAKAT DI SULAWESI SELATAN

Perjalanan sejarah semenjak berdirinya kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan sampai datangnya Islam pada pertengahan abad ke-14, merupakan suatu masa yang cukup panjang untuk mewarnai suatu masyarakat. Di samping kepercayaan leluhur yang dianut sangat mempengaruhi tingkah laku masyarakat, tata kelakuan dan pranata-pranata serta lembaga-lembaga yang ada telah diwarnai oleh nilai-nilai yang diagungkan oleh kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Dalam keadaan dan situasi demikian Islam diterima di Sulawesi Selatan. Hanya saja faktor yang menguntungkan Islam adalah karena Islam datang melalui "pintu istana" sehingga mudah tersebar dan diterima masyarakat, walaupun dengan berbagai sinkritisme yang mewarnainya.

Keadaan ini menyebabkan persentuhan antara adat dan sara (syariat) semakin terasa. Persentuhan pertama dapat dilihat dalam sistem pangadereng masyarakat Sulawesi Selatan, yakni diakuinya sara sebagai salah satu aspek pangadereng. Itulah sebabnya sehingga simbol angka keramat masyarakat Sulawesi Selatan dari angka "empar" berubah menjadi lima setelah diakuinya sara sebagai salah satu aspek pangadereng. Semula sistem pangadereng masyarakat Sulawesi Selatan terdiri dari empat aspek, yaitu: ade, rapang, wari, bicara dan dicukupkan lima ketika Islam sampai keislaman, dan dimasukkan juga unsur sara (syariat). Berikut beberapa upacara tradisi masyarakat Islam di Sulawesi Selatan berkisar pada upacara Zikir-Barzanji, Maulid, Israj-Mikraj, Khatam Quran, Je'ne' Sappara, upacara daur hidup dan lain-lain. Upacara-upacara tersebut hingga saat ini masih dilaksanakan oleh umat Islam di Sulawesi Selatan.

Upacara zikir-Barzanji merupakan inti setiap upacara yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan karena hampir dalam semua kegiatan upacara ditemukan zikir-Barzanji tersebut. Misalnya dalam upacara lingkaran hidup yang biasa disebut pula upacara inisiasi, seperti upacara kelahiran, sunatan, perkawinan dan kematian. Begitu pun dalam upacara syukuran dalam rangka menunaikan ibadah haji, membeli mobil baru, membangun rumah, panen berhasil dan bahkan ketika pertama kali memakai kelambu baru diupacarakan dengan zikir-Barzanji pula.

Upacara Mappatamma (Mandar) atau mappanre temme (Bugis) adalah salah atau tradisi Islam yang terutama dilakukan oleh orang Bugis dan Mandar apabila slah seorang murid mengaji selesai menamatkan Quran besar. Di daerah Bugis upacara mappatamma (mappanre temme) dilakukan apabila seseorang akan melangsungkan pernikahan. 

Je'ne-Jen'ne Sappara atau mandi safar dilakukan dengan mandi bersama-sama di sungai atau di suatu tempat permandian. Biasanya upacara ini dilakukan sebelum sembahyang lohor. Sebelum mandi, sanro atau imam menuliskan doa-doa tolak bala di atas sepotong kertas. Secarik kertas itu lalu diikatkan dengan benang kemudian diletakkan di hulu sungai atau di dalam tempat permandian. Tindakan ini merupakan simbol dari orang-orang yang berharap dapat terhindar dari malapetaka.

Sepuluh Asyuro diperingati oleh banyak penduduk secara sederhana di rumah-rumah dengan membuat bella pitung rupa, yaitu bubur yang terbuat dari tujuh macam bahan (labu, gula merah, kelapa, kacang ijo, beras, nangka dan pisang). Upacara ini untuk memperingati sejarah yang dikenal sebagai peristiwa "banjir Nabi Nuh". Pada peristiwa itu katanya Nabi Nuh dan para pengikutnya setianya diselamatkan dari bahaya kelaparan oleh adanya bella pitung rupa yang dibuah oleh Nabi Nuh dari tujuh macam bahan pokok makanan yang masih tersisa di atas kapal mereka.

Buku TRADISI MASYARAKAT DI SULAWESI SELATAN membahas tentang tradisi masyarakat Islam di Sulawesi Selatan seperti barzanji, maulid, tradisi tulis dan seni serta upacara lingkaran hidup (masa kehamilan, kelahiran/haqiqah, massuna/khitanan, perkawinan hingga kematian). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TRADISI MASYARAKAT DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Tim LPPTM Sulawesi Selatan
Oenerbit: Lamacca {ress
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-97452-24-1



November 11, 2021

ONDERAFDEELING MAROS: KONFIGURASI ELITE & KONTESTASI KEKUASAAN 1900-1946


Maros pada awalnya dikenal sebagai satu kerajaan dengan sebutan Kerajaan Marusu. Kerajaan ini menjalin kerja sama dengan Kerajaan Polombangkeng. Persekutuan tiga kerajaan ini, dalam perkembangan terlibat dalam perang dengan Kerajaan Gowa. Perang itu berkaitan dengan keinginan Kerajaan Gowa untuk ikut mengembangkan diri dalam dunia perdagangan maritim yang ketika itu berkembang pesat.

Daeng Matanre Karaeng Manguntingi Tumaparisi Kallonna (lazim disebut saja Tumaparisi Kallonna) adalah putra dari perkawinan antara Raja Batara Gowa (raja Kerajaan Gowa yang ketujuh) dengan I Resasi, putri dari seorang pedagang dari Napo yang menetap dan berniaga di Kerajaan Gowa yang ketujuh) dengan I Resasi, putri dari seorang pedagang dari Napo yang menetap dan berniaga di Kerajaan Tallo. Tampaknya semangat berniaga dari kakeknya bergelora dalam tubuh dan pikirannya, sehingga ia bergiat untuk mengubah orientasi politik kerajaan yang dipimpinnya dari orientasi agraris ke dunia maritim. Atas dukungan keluarga dari kakeknya, ia membangun Sombaopu untuk menggantikan kedudukan pusat pemerintahan terdahulu yang berada sekitar 6 (enam) kilometer dari pesisir, yaitu Tamalate. Sombaopu terletak pada wilayah pesisir di bagian untuk muara Sungai Jeneberang.

Keterlibatan dalam dunia perdagangan maritim itu dipandang oleh pihak Kerajaan Tallo sebagai langkah persaingan yang dapat memerosokkan kegiatan maritim Kerajaan Tallo. Oleh karena itu, atas dukungan sekutunya; Kerajaan Marusu dan Kerajaan Polombangkeng, Raja Tallo, I Mangajowang Berang Karaeng Pasi (Raja Tallo ketiga) melancarkan serangan terhadap Kerajaan Gowa. Serangan itu berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kerajaan Gowa. Untuk tidak terjadi korban jiwa lagi, Raja Tallo mengundang Raja Gowa datang ke Tallo untuk melakukan perundingan penyelesaian konflik di antara mereka. Raja Tallo memberanikan diri mengundang Raja Gowa, karena raja itu mempersunting saudara perempuannya yang bernama I Reija Karaeng Lowa Baine.

Undangan itu diterima dan dipenuhi oleh pihak penguasa (raja dan pembesar kerajaan) untuk melakukan perundingan. Dalam perundingan yang berlangsung pada tahun 1928 diketahui bahwa pembentukan Kerajaan Tallo adalah Karaeng Lowe ri Sero, adik dari Raja Batara Gowa. Sehingga dengan perkawinan antara Raja Gowa dengan putri Kerajaan Tallo dipandang telah mempersatukan kembali kerajaan ini. Dalam perundingan itu dicapai ikrar "barang siapa yang mengadu-dombakan Gowa dan Tallo, ia akan dikutuk Dewata" (ia-iannamo tau ampasiewai Gowa-Tallo iamo nacalla Dewata). Sejak itu dikenal ungkapan 'satu rakyat, dua raja' (se'reji ata, rua karaeng). Dalam perundingan itu juga disepakati untuk tidak menjadikan Raja Marusu dan Polombangkeng sebagai kerajaan taklukan (palili), tetapi menempatkan menjadi kerajaan sahabat.

Buku ONDERAFDEELING MAROS: KONFIGURASI ELITE & KONTESTASI KEKUASAAN 1900-1946 menggambarkan kondisi masyarakat Maros pada periode 1900-1946, periode pelaksanaan pemerintahan kolonial secara menyeluruh di Sulawesi Selatan, dengan fokus perhatian pada dinamika politiok kelompok elite lokal serta memberikan gambaran yang menarik tentang perubahan yang terjadi dengan penataan sistem pemerintahan yang bercorak birokrasi yang berdampak pada perubahan perilaku para pemegang kendali kekuasaan politik dan kultural di Maros. Penerapan sistem administrasi yang baru ini pada gilirannya juga mendorong pihak pemerintah Hindia Belanda menerapkan status kebangsawanan baru dari mereka yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan pada Sekolah voor Inlandsche Ambtenaren disingkat OSVIA) dengan gelar "Andi". 

Selanjutnya menganjurkan kepada mereka untuk menyapa para bangsawan tinggi kerajaan dengan gelar baru (andi). Gelar baru itu dapat disetarakan dengan gelar tradisional sebelumnya, seperti I, La, We atau Daeng. Hal ini dimaksudkan untuk menyetarakan kedudukan bangsawan baru ciptaan pemerintah kolonial Belanda, bagi mereka yang berpendidikan OSVIA, dengan bangsawan tradisional. Karena dalam masyarakat ini, berlaku tatanan budaya yang tidak boleh dilakukan oleh mereka yang berstrata rendah, melaksanakan kekuasaan kepada mereka yang berstrata tinggi. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ONDERAFDEELING MAROS: 
KONFIGURASI ELITE & KONTESTASI KEKUASAAN 1900-1946
Penulis: Simon Sirua Sarapang
Editor: Edward L. Poelinggomang
Penerbit: Pustaka Sawerigading dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tahun Terbit: 2016



KERAJAAN AGANGNIONJO (TANETE)

Agangnionjo merupakan suatu nama Kerajaan Bugis yang pernah berdiri, tumbuh dan berkembang pada masa lampau. Kerajaan Bugis ini mulai berdiri disekitar abad ke XVI, kira-kira pada zaman Pemerintahan Raja Gowa yang ke-X "Manriwa Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga" tahun 1547 Masehi, dengan rajanya yang bernama Datu Golla'E. 

Luas daerah Kerajaan Agangnionjo sekitar 465 km dengan batas sebagai berikut: sebelah utara Barru, sebelah timur Bone dan Soppeng, sebalah barat selat Makassar dan sebelah selatan Pangkajene Kepulauan.

Pada masa penjajahan Belanda ibu kotanya ialah "Pancana" dan sejak tahun 1950 dipindahkan ke PakkaE. Sebelum kerajaan ini berdiri, disana ada beberapa kepala suku yang memerintah dengan memiliki otonomi yang merupakan raja-raja kecil. Diantaranya yang terkemuka ialah Alekale dan Arung Pangi.

Kerajaan Agangnionjo berubah menjadi Kerajaan Tanete pada masa pemerintahan Tumaburu Limanna. Perubahan nama ini lahir dengan latar belakang sejarah antara Opu Tanete Selayar.

Pada suatu hari Raja Agangnionjo To Maburu Limanna datang berkunjung ke Kerajaan Gowa, tiba-tiba datanglah Opu Tanete Selayar bersama beberapa pengikutnya yang sedang membawa mayat dalam peti atau duni.

Mayat tersebut adalah putra mahkota RAja Luwu yang sedang melakukan pelayaran, di mana perahunya tenggelam di perairan ujung Bira, lalu mayatnya terdampar di Tanete Selayar.

Opu Tanete Selayar meminta pandangan Raja Gowa untuk membawa mayat tersebut ke Luwu.

Kemudian Raja Gowa meminta agar Raja Agangnionjo Tomaburu' Limanna bersama pengikutnya bersedia melanjutkan usaha terpuji Opu Tanete Selayar dalam upaya mengembalikan mayat tersebut di kampung asalnya yakni Kerajaan Luwu.

Akhirnya mayat tersebut dinaikkan ke perahu Kerajaan Agangnionjo dan selanjutnya diusung oleh orang Agangnionjo sampai ke Luwu.

Setelah peristiwa tersebut Raja Gowa mempersaudarakan antara Kerajaan Tanete Selayar dengan Kerajaan Agangnionjo.

Ketika Raja Agangnionjo To Maburue' Limanna bersama Opu Tanete Selayar membawa jenazah putra Mahkota Raja Luwu maka Raja Luwu berkata: ".....Makkedato Pajung'E Luwu, lao ri tau Agangnionjo puadangi ajjoarengengmu makkeda, nalaki gare seajing mareppe sininna Tau Luwu'E ....."

Artinya berkata Raja Luwu atau Pajung" kepada orang Agangnionjo beritahukan kepada rajamu bahwa segenap orang Luwu telah menganggap orang Agangnionjo sebagai rumpun keluarga dekat.

Dengan peristiwa tersebut maka Raja Gowa mempersaudarakan Kerajaan Agangnionjo dengan Kerajaan Tanete Selayar.

Usulan tersebut ternyata diterima raja dan rakyat masing-masing. Maka nama Kerajaan Agangnionjo menjadi Kerajaan Tanete.

Buku KERAJAAN AGANGNIONJO (TANETE) membahas tentang sejarah Kerajaan Agangniojo (Tanete) yang kini menjadi wilayah Kabupaten Barru juga memuat makam raja-raja Tanete, serta silsilah Raja Tanete. Buku ini juga merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KERAJAAN AGANGNIONJO (TANETE) 
Penanggungjawab: H.A. Anwar Aksa
Editor: Syarief Longi
Penerbit: Dinas P dan K Kabupaten BArru
Tempat Terbit: Barru
TAhun Terbit: 2001

November 9, 2021

SEJARAH TOMPOBULU

Di Tompobulu pada masa kerajaan, terdapat beberapa kerajaan kecil yang usianya sudah sangat tua, diantaranya Kerajaan Garing dan Datara. Kerajaan Garing dan Datara sejak jadi kerajaan, pertama diperintah oleh seorang putri Tumanurung yang konon berasal dari negeri kayangan. Raja Garing tumanurungnya bernama Tanikobbika Nammikki (belum dicolek sudah keget). Ini pertanda bahwa pemimpin pertamanya adalah perempuan atau datu. Raja Datara, tumanurungnya disebut Lompo Simboleng (si sanggul lebar) juga seorang perempuan.

Kedatangan kedua Tumanurung ini, masing-masing membawa benda pusaka, Tumanurung di Garing membawa baju rantai (baju rante) yang hingga kini masih tetap dilestarikan oleh pewarisnya. Sedangkan sanggul lebar yang dibawa Labba Siboleng, tak lain adalah sebuah mahkota yang mirip salokoa. Namun mahkota dimaksud kini sudah tidak ada lagi. Sisa senjata peninggalan berupa bedil (baddili) kini masih tersimpan di Datara.

Kedua daerah kerajaan itu dulunya merupakan basis pertahanan Gowa di wilayah pegunungan. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya benteng pertahanan yang hingga kini situsnya masih utuh. Kedua kerajaan ini pula telah banyak melahirkan Tubarani yang memperkuat barisan pertahanan Kerajaan Gowa.

Ketika Gowa melakukan ekspansi dengan menaklukkan daerah sekitarnya, beberapa daerah kerajaan kecil di Bontolempangan kemudian masuk bergabung dengan wilayah Kerajaan Gowa.

Daerah itu dulunya sangat terisolir, tak heran bila beberapa Raja Gowa yang pernah menentang penjajah Belanda bersembunyi di daerah itu, diantaranya Raja Gowa ke-26 Amas Madina atau Batara Gowa II dan Raja Gowa ke-34 I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang. Rakyat dan Tubarani dari daerah ini turut pula mendukung perjuangan Raja Gowa yang menjadi buronan Belanda.

Buku SEJARAH TOMPOBULU membahas sejarah Tompobulu  dalam hal ini Kerajaan Garing, Datara maupun kerajaan lainnya, sejak zaman Kerajaan Tumanurungan hingga menjadi kecamatan. Dalam buku ini juga diceritakan beberapa kisah tokoh berpengaruh di daerah itu, diantaranya Batara Gowa, Sangaji Lentu dan H. Lenreng selaku tokoh perjuangan kemerdekaan. Disamping itu pula dilengkapi cerita legenda dari beberapa obyek wisata di Tompobulu, seperti: Baju Rantea ri Garing; Baddili ri Datara; Benteng Batu Lonjoka ri Datara; Pa'lanjang; Bungung Tallua; Didi; Pa'rasangang Setan; Batu Nyaong; Batu Dampang Tiro; Sumur Bidadari; Jekkong; I Tamba Laulung di Danau Popoang; Boe Kalengkereka ri Garentong; Sabbe Lawangan ri Kombang; Ulu Galung; Malakaji, Riwayatmun Dulu; Mendaki Gunung Lompo Banttang; Air Terjung Kare Loe; Balang Timungang, Bungung Tallua ri Tanete dan Balla Toddo. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH TOMPOBULU
Penulis: Zainuddin Tika, H. Munassir Beta, Baso, M. Ridwan Syam
Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2010


KARAENG BONTOLANGKASA: RAJA GOWA XIII

Pergerakan Karaeng Bontolangkasa yang dimulai dari I Manggorai Daeng Mammeta sebagai Raja Gowa ke-12 yang bergelar Sultan Nuruddin. Kemudian dilanjutkan Karaeng Bontolangkasa yang bernama I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Raja Gowa ke-13.

Dalam proses pertumbuhannya, Gowa mengalami pasang surut kepemimpinan apalagi setelah masuknya VOC Belanda yang ingin berkuasa di Nusantara tercinta, termasuk di Kerajaan Gowa.

Gowa sebagai negeri yang berdaulat tentunya berusaha mempertahankan dan melindungi negerinya dari berbagai ancaman, termasuk ancaman dari VOC Belanda. Di sisi lain terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan dalam kerajaan yang mengakibatkan adanya ketidakpuasan pada petinggi-petinggi Kerajaan Gowa pada saat itu.

Hal ini ditandai ketika Karaeng Bontolangkasa yang bernama I Mappasempa' Daeng Mamaro menganggap dirinya layak dan bersyarat untuk menjadi penguasa ke-25 Kerajaan Gowa pada saat itu. Pergerakan berikutnya dilanjutkan lagi oleh I Mannawarri/I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Sultan Abdul Hadi Raja Gowa ke-29.

Buku KARAENG BONTOLANGKASA: RAJA GOWA XIII mengungkap pergerakan Karaeng Bontolangkasa yang pernah menjadi Raja Gowa, lebih khusus lagi adalah Karaeng Bontolangkasa I Mappasempa' Daeng Mamaro, karena pada masa pemerintahan inilah ia sempat beraliansi dengan I La Maddukelleng Arung Matoa Wajo dan Arung Kaju Bone. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAENG BONTOLANGKASA: RAJA GOWA XIII
Penulis: Syarifuddin Kulle, Zainuddin Tika, Muh. Ridwan Syam
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 979-3570-58-x





November 5, 2021

SEJARAH BIRINGBULU

Di Biringbulu pada awalnya merupakan sebuah kerajaan kecil yang berdiri sendiri sampai tahun 1640 M. Wilayah kerajaan itu terbentuk, karena adanya persekutuan dari empat pemerintahan kecil daerah itu yang disebut Baku Appaka (empat pemerintah adat) terdiri dari: Pencong, Datara, Kampung Badienglolo di Lauwa dan Sanrangang di Bungaya.

Lauwa yang sekarang menjadi Ibukota Kecamatan Biringbulu, dulunya merupakan salah satu anggota Baku Appaka, yang merupakan anggota legislatif dari Kerajaan Datara.

Lauwa yang sekarang menjadi Ibukota Kecamatan Biringbulu, dulunya merupakan salah satu anggota Baku Appaka, yang merupakan anggota legislatif dari Kerajaan Datara.

Di Lauwa, pada zaman animisme sudah dikenal sosok pemimpin Tumanurung yang diyakini berasal dari kayangan, masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Batara Lauwa. Jejak kehadiran Tumanurung di Lauwa, kini masih bisa dibuktikan dengan adanya sebuah bekas kaki dan tangan yang ada pada sebuah batu di bukit Karaeng Daeng ri Moncong.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika Biringbulu sudah bergabung dengan Kerajaan Gowa, maka beberapa Tubarani dari daerah itu ikut memperkuat barisan pertahanan Kerajaan Gowa. Perjuangan melawan penjajah Belanda hingga bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaan.

Buku SEJARAH BIRINGBULU dilengkapi dengan cerita legenda dari berbagai obyek wisata di daerah itu seperti Air Terjun Tumanurung di Bunga Sunggu, Legenda Batu Menteng dan masih banyak lainnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH BIRINGBULU
Penulis: Zainuddin Tika, Muh. Arsyad, Muhammad Arif
Penerbit: Lembaga Kajian & Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun: 2010