Showing posts with label Pappaseng. Show all posts
Showing posts with label Pappaseng. Show all posts

February 3, 2023

PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS


Pappaseng pada hakikatnya merupakan himpunan pesan amanat, atau petuah dari para orang tua dan cendekiawan masa lalu yang mencerminkan pola pikir mereka tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kelangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pappaseng tersebut ditujukan kepada semua lapisan masyarakat dan disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi dari orang tua kepada anak cucunya atau kepada kerabatnya, dari pemerintah kepada masyarakat, dan tidak sedikit dari para penasihat raja kepada rajanya atau pemerintahnya. 

Isinya pappaseng berupa petunjuk tentang cara berkehidupan, bermasyarakat, dan bernegara serta menentukan sesuatu yang ideal bagaimana seseorang harus hidup, menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan Penciptanya. Pappaseng sebagai pedoman hidup, sarana transformasi nilai-nilai budaya, media kontrol sosial dan sekaligus berfungsi sebagai sarana pendidikan, yang bertujuan untuk memelihara kehidupan masyarakat Bugis yang serasi dan harmonis. 

Implementasi nilai-nilai papasseng sebagai strategi pendidikan tradisional masyarakat Bugis dilakukan dengan proses transmisi sebagai penerusan kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan nilai-nilai luhur melalui enkulturasi dan internalisasi secara konsisten dengan memberi keteladanan dan penanaman nilai sebagai tindakan keseharian seseorang atau kelompok masyarakat hingga terjadi penyerapan nilai, norma, atau aturan sampai terbentuknya suatu pola tingkah laku sosial dalam kepribadiannya. 

Proses pewarisan nilai-nilai luhur pappaseng yaitu jujur (lempu), cerdas (macca). Saling menghormati dan saling mengingatkan (sipakatau, sipakalebbi, sipakainge), usaha dan kerja keras (reso na tinulu) disertai sikap pasrah (appisona) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan transmisi nilai-nilai tersebut ke keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah, akan terbentuk manusia-manusia yang berkepribadian dan terpandang selaras dengan lingkungan alam sosial dan budayanya. Dalam istilah Bugis dikenal dengan tau tongeng atau to matanre siri. Transformasi nilai-nilai pappaseng diungkapkan dalam bentuk pangaja, elong, warekkada, dan bentuk percakapan atau diucapkan secara dialog.

Sedangkan strategi pendidikan tradisional, masyarakat Bugis mendidik dan membentuk karakter khas keturunannya dengan kedisiplinan, konsistensi agar senantiasa memiliki etika berinteraksi dengan sesama manusia, tata karma terhadap orang tua, tidak lepas dari fungsi dan peranan pappaseng. Demikian pula salah satu warisan budaya Bugis yang masih bertahan dalam konteks pendidikan nilai adalah pemali. Pemali masih memiliki peran dan fungsi sebagai media pendidikan untuk membentuk pribadi luhur masyarakat Bugis. 

Pappaseng Bugis juga sarat dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam pappaseng  memuat nilai pendidikan akidah, pendidikan ibadah serta pendidikan akhlak yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah rasulullah. Pappaseng yang mengandung nilai pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup kehidupan manusia, karena tidak hanya mengatur kehidupan manusia di akhirat saja, tetapi juga mengatur bagaimana seharusnya aktivitas hidup manusia di dunia. 

Buku PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS membahas tentang nilai-nilai budaya dalam pappaseng yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang sifatnya universal, yang sangat cocok dengan untuk generasi lalu, generasi kini dan generasi yang akan datang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS
Perspektif Pendidikan Islam
Penulis: Susmihara
Editor: Syamsudhuha Saleh
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-602-328-390-3


November 25, 2021

PAPPASENNA TO MACCAE RI LUWUQ SIBAWA KAJAO LALIODONG RI BONE

Berkata Arumpone: "Apa pangkal mulanya kepintaran, wahai nenek?"

Berkata Kajao Laliqdong: "Kejujuran, Arumpone."

Berkata Arumpone: Apa saksi (jaminannya) kejujuran itu wahai nenek?"

Berkata Kajao Laliqdong: "Seruan itu, Arumpone".

Berkata Arumpone: "Apa yang diserukan, wahai nenek?"

Berkata Kajao Laliqdong: "Adapun yang diserukan, Arumpone, yaitu jangan mengambil tanaman yang bukan tanamanmu, Jangan mengambil harta benda, yang bukan harta bendamu, dan bukan pula pusakamu. Jangan pula mengeluarkan kerbau dari kandangnya yang bukan kerbaumu. Demikian pula kuda yang bukan kudamu. Jangan pula mengambil kayu yang disandarkan, sedangkan bukan engkau yang menyandarkannya. Jangan pula mengambil kayu yang ditetak ujung pangkalnya, sedang bukan engkau yang menetaknya".

(Amanah Kajao Laliqdong)

Berkata orang tua-tua: "Sekiranya ada sesuatu yang engkau kehendaki dilakukan orang lain, andaikanlah hal itu sebagai perahu. Jika engkau sendiri bersedia menumpanginya, barulah engkau menyuruh orang lain menumpanginya. Yang demikian itulah yang disebut jujur.

(Amanah Orang Tua-Tua)

Berkata Matinroe Ritanana, "Ada empat jenis hal pada diri kita. Pertama, pikiran. Kedua, keadilan. Ketiga, malu (harga diri). Keempat, perbuatan baik. Adapun yang menghilangkan pikiran, jika kita marah. Adapun yang menghilangkan keadilan ialah kesewenang-wenangan. Yang menghilangkan malu adalah keserakahan. Yang menghilangkan perbuatan baik adalah kesukaan mempergunjing orang lain."

(Amanah Matinroe Ritanana)

Dua hal yang menyebabkan seorang tertuduh dianggap salah. Pertama, jika kepadanya adat menunjukkan tempat duduk, tetapi ia tidak mau mendudukinya. Kedua, ia berjanji kepada adat, tetapi ia tidak memenuhi janjinya. Artinya, berkata orang tertuduh bahwa nanti pada waktu itu saya datang, tetapi tidak datang. Tidak juga ia menyuruh menyampaikan bahwa ia tidak jadi datang pada waktu yang telah dijanjikan. 

(Amanah Arung Bila)

"Kupesankan juga kepada cucuku, janganlah engkau terlalu manis dan jangan pula engkau terlalu pahit. Sebab jika engkau terlalu manis, engkau akan di telan. Dan jika engkau terlalu pahit engkau akan di muntahkan."

(Amanah Maccae ri Luwuq)

Itulah sebagian isi pesan/amanah Kajao Laliqdong, Orang Tua-Tua, Matinroe Ritanana, Arung Bila dan Maccae ri Luwuq yang berkisar di sekitar pangadereng yang dapat disebut adat-istiadat atau adat raja-raja, meliputi hak dan kewajiban raja, pegawai negeri dan rakyat, agar negeri aman dan makmur. 

Buku PAPPASENNA TO MACCAE RI LUWUQ SIBAWA KAJAO LALIODONG RI BONE (Transliterasi dan Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia) merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang. Buku ini berisikan pesan-pesan bahwa kekuatan raja buka kekuatan yang tidak terbatas. Untuk mencapai maksud tersebut, ada empat lembaga (piranti) yang harus dipelihara dan tetap ditegakkan yaitu:

  1. Adeq atau adat
  2. Rapang atau hukum perumpamaan
  3. Waruq atau hukum peringatan (pelapisan masyarakat)
  4. Bicara atau hukum peradilan.

PAPPASENNA TO MACCAE RI LUWUQ SIBAWA KAJAO LALIODONG RI BONE 
(Transliterasi dan Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia) 
Peneliti: Facruddin. A.E., Zainuddin Thaha, A. Rahman Rahim, Andi Abubakar Punagi
Editor: Kulla Lagausi, Ny Hafsah Nur
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selata LaGaligo
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1985




July 9, 2020

Aku Bangga Berbahasa Bugis



Buku : Aku Bangga Berbahasa Bugis, Bahasa Bugis dari ka sampai ha
Penulis : Andi M. Rafiuddin Nur
Penerbit : Rumah Ide, Makassar, 2008
Jumlah Halaman: xx + 674
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm
ISBN : 979-98076-2-X

H. Muhammad Jusuf Kalla, pada Kongres Bahasa Daerah Sulawesi Selatan tahun 2007, menyatakan bahwa 30% dari 745 bahasa daerah di Indonesia sudah punah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Sementara itu perkiraan dari UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization), lembaga PBB yang mengurusi pendidikan, Ilmu pengetahuan dan kebudayaan, menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun kedepan, dari 6.000 bahasa di dunia, akan tinggal setengahnya  (50%) saja. Artinya ada sekitar 3.000an bahasa yang akan punah.

Berdasarkan prediksi prediksi inilah sehingga penulis tergerak untuk menuliskan buku ini. Ada kekhawatiran bahwa suatu waktu kelak, bahasa Bugis juga akan punah jika tanpa ada usaha untuk melestarikannya. Salah satu usaha penulis adalah mendokumentasikan segala aspek bahasa Bugis dalam buku ini, sehingga dapat dikatakan bahwa buku ini sangat lengkap membahas unsur unsur kebahasaan Bugis. Selain bisa sebagai Kamus (Bugis – Indonesia) juga dibahas tentang tata bahasa Bugis, sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis misalnya ada Paseng, Elong (Pantun Bugis), Toloq, dan lain lain. Tak lupa pembahasan  tentang aksara atau abjad dan aspek lainnya.

Buku setebal 674 halaman ini diawali dengan Pengantar Penerbit, kemudian Kata Pengantar dari penulis, disusul dengan Pendahuluan. Pada bagian Pendahuluan ini, penulis mengungkapkan kecewaannya pada kenyataannya bahwa banyak generasi muda Bugis yang sudah enggan dan malu menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa pergaulan sehari harinya. Salah satu alasan keengganan orang Bugis untuk menggunakan bahasa Bugis lagi menurut penulis adalah karena nilai nilai luhur bahasa Bugis tidak lagi dipahaminya dengan baik dan benar. Hal ini menyebabkan rasa memiliki serta rasa bangga terhadap bahasanya sendiri menjadi pudar. Hal lain adalah karena kurangnya bimbingan, pembinaan, pengajaran dan pendidikan baik di dalam keluarga maupun di sekolah sekolah.

Selanjutnya dibahas tentang “Bahasa Bugis Baku”. Pada bagian ini penulis tidak menyebut secara tegas, adanya bahasa Bugis baku, karena setiap daerah yang berbahasa Bugis, masing masing menganggap bahasa Bugis merekalah yang baku, sementara yang lain hanya dialek dari daerah lainnya saja. Perlu diketahui bahwa bahasa Bugis yang digunakan di Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Sinjai dan lain lain selalu saja ada perberdaan, baik perbedaan dialek maupun kosa kata.

Pada bagian selanjutnya dibahas tentang Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional. Pada bagian ini, pembahasan utamanya adalah bagaimana bahasa nasional (Indonesia) telah mempengaruhi bahasa Bugis dan juga Makassar. Dijelaskan juga bagaimana orang Bugis dan Makassar berbahasa Indonesia dengan logat Bugis atau Makassar, termasuk akhiran akhiran yang sering digunakan seperti  ‘ki’, ‘di’, ‘mi’, ‘ko’ dan lain lain.

Selanjutnya ada pembahasan tentang “Pangngadereng”. Disebutkan bahwa Orang Bugis tidak bisa lepas dari pangngadereng yang terdiri dari 5 unsur yaitu ; ade’, rapang, bicara, wari, dan sara’. Dibuku ini dijelaskan perbedaan antara pangngadereng dengan ade’. Ada juga dibahas pentingnya menggunakan dan berbicara Bugis yang baik dan benar.

Pada bagian “Seluk Beluk Bahasa dan Aksara Bugis” dijelaskan tentang aksara dan abjad, perbedaan penggunaan aksara lontara  Bugis dengan Lontara Makassar, perbedaan penulisan lontara untuk bahasa Indonesia, sejarah awal terciptanya aksara Lontara, awal mula terciptanya aksara lontara ‘ha’ yang merupakan aksara untuk memenuhi pengucapan bahasa Bugis yang berasal dari kata kata bahasa Arab. Penulisan aksara Lontara untuk nama nama jalan di Makassar juga dijelaskan oleh penulis.

Sastra Bugis dan Paseng. Pada bagian ini dibahas panjang lebar tentang sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis (genre). Ada Sure’, Elong, Tolo’, paseng atau pappaseng to riolo . Banyak contoh jenis (genre) sastra Bugis dalam buku ini.

Pada bagian lainnya dibahas tentang cara penulisan dan pengucapan bahasa Bugis pada buku ini. Bagian ini semacam petunjuk pemakaian buku ini. Ada pembahasan tentang susunan abjad, cara pengucapan dan arti kata, dan  pengaruh dialek daerah.

Bagian terakhir adalah Bahasa Bugis dari ka sampai ha. Bagian ini adalah semacam kamus Bugis – Indonesia yang disusun berdasarkan susunan aksara Lontara Bugis, yaitu ka, ga, nga, ngka dan seterusnya.

Buku ini sangat lengkap membahas berbagai aspek bahasa dan budaya Bugis. Sangat penting untuk dimiliki dan dibaca oleh orang Bugis dan orang bukan Bugis yang tertarik mengkaji bahasa dan budaya Bugis.

Buku ini koleksi pribadi, tapi jika tertarik untuk membacanya, ada di perpustakaan perpustakaan di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan. 





February 27, 2020

Lontara Soppeng



Buku : Lontara Soppeng
Penulis : Drs. Nonci, S.Pd
Penerbit : CV. Aksara, Makassar (Tanpa Tahun)
Jumlah Halaman : iv + 52
ISBN : -
Bahasa : Indonesia dan Bugis

Buku ini disusun berdasarkan naskah naskah Lontara dalam rangka pelestarian nilai nilai budaya Bugis. Banyak naskah Bugis kuno yang ditulis, disusun, dikumpulkan oleh para cendekiawan zaman dulu di Sulawesi Selatan. Di Soppeng ada Arung Bila yang banyak menulis kumpulan pappaseng (pesan pesan) atau kearifan lokal. Di Bone ada Kajao Laliddong, di Wajo ada Amanna Gappa dan Puang Ri Maggalatung, di Luwu ada To Acca dan lain lain. 

Terdiri dari 3 bagian, pertama adalah tentang To Manurung. To Manurung itu biasanya dianggap manusia setengah Dewa yang turun dari langit untuk menjadi pemimpin (pertama) disuatu daerah. Bagian kedua adalah Lawadeng Arung Bila mengisahkan tentang asal usul pribadi Lawadeng, Arung Bila, tentang keluarganya, tentang wejangannya (Nasehat nasehat) dan lain lain,dan bagian terakhir adalah Pappasenna Arung Bila (Wasiat). Pesan pesan  Arung Bila, ada tentang adat istiadat, ada tentang politik (bagaimana menjadi penguasa suatu daerah, 

Ketiga bagian dalam buku semuanya dilengkapi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Sangat bermanfaat bagi orang yang ingin mengkaji pappaseng toriolo (pesan orang dulu). Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.  


January 8, 2020

Pappaseng, Wujud Idea Budaya Bugis - Makassar


Buku "Pappaseng, Wujud Idea Budaya Bugis - Makassar" disusun oleh Abdul Rahim, dan editor: H.M. Syuaib Mallombassi, diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, 2012. Buku setebal 180 halaman ini berisi pesan pesan moral para kaum intelektual Bugis dan Makassar dari jaman dahulu. Ada 10 tokoh cendekiawan yang ada pesan, petuah, nasehat dalam buku ini, yaitu Puang Ri Maggalatung, La Bungkace To Udama Matinroe ri Kannana, Kajao Laliddong, Nene' Allomo ri Sidenreng, Aru Bila, To MaccaE ri Luwu, Karaeng MatoaE, To Tabba ri Ana' Eppona, Puang Takke Buku Arung Enrekang, dan Karaeng Pattingalloang. Juga ada pesan pesan dari 'to riolo' (orang orang dahulu) yang mungkin tidak jelas siapa individu yang mengucapkan pertama kali pesan pesan tersebut. 





Bagi anda yang tertarik untuk menkaji kearifan lokal, Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Sungguminasa, Gowa, pada bagian referensi, lantai 2.