Pappaseng pada hakikatnya merupakan himpunan pesan amanat, atau petuah dari para orang tua dan cendekiawan masa lalu yang mencerminkan pola pikir mereka tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kelangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pappaseng tersebut ditujukan kepada semua lapisan masyarakat dan disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi dari orang tua kepada anak cucunya atau kepada kerabatnya, dari pemerintah kepada masyarakat, dan tidak sedikit dari para penasihat raja kepada rajanya atau pemerintahnya.
Isinya pappaseng berupa petunjuk tentang cara berkehidupan, bermasyarakat, dan bernegara serta menentukan sesuatu yang ideal bagaimana seseorang harus hidup, menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan Penciptanya. Pappaseng sebagai pedoman hidup, sarana transformasi nilai-nilai budaya, media kontrol sosial dan sekaligus berfungsi sebagai sarana pendidikan, yang bertujuan untuk memelihara kehidupan masyarakat Bugis yang serasi dan harmonis.
Implementasi nilai-nilai papasseng sebagai strategi pendidikan tradisional masyarakat Bugis dilakukan dengan proses transmisi sebagai penerusan kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan nilai-nilai luhur melalui enkulturasi dan internalisasi secara konsisten dengan memberi keteladanan dan penanaman nilai sebagai tindakan keseharian seseorang atau kelompok masyarakat hingga terjadi penyerapan nilai, norma, atau aturan sampai terbentuknya suatu pola tingkah laku sosial dalam kepribadiannya.
Proses pewarisan nilai-nilai luhur pappaseng yaitu jujur (lempu), cerdas (macca). Saling menghormati dan saling mengingatkan (sipakatau, sipakalebbi, sipakainge), usaha dan kerja keras (reso na tinulu) disertai sikap pasrah (appisona) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan transmisi nilai-nilai tersebut ke keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah, akan terbentuk manusia-manusia yang berkepribadian dan terpandang selaras dengan lingkungan alam sosial dan budayanya. Dalam istilah Bugis dikenal dengan tau tongeng atau to matanre siri. Transformasi nilai-nilai pappaseng diungkapkan dalam bentuk pangaja, elong, warekkada, dan bentuk percakapan atau diucapkan secara dialog.
Sedangkan strategi pendidikan tradisional, masyarakat Bugis mendidik dan membentuk karakter khas keturunannya dengan kedisiplinan, konsistensi agar senantiasa memiliki etika berinteraksi dengan sesama manusia, tata karma terhadap orang tua, tidak lepas dari fungsi dan peranan pappaseng. Demikian pula salah satu warisan budaya Bugis yang masih bertahan dalam konteks pendidikan nilai adalah pemali. Pemali masih memiliki peran dan fungsi sebagai media pendidikan untuk membentuk pribadi luhur masyarakat Bugis.
Pappaseng Bugis juga sarat dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam pappaseng memuat nilai pendidikan akidah, pendidikan ibadah serta pendidikan akhlak yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah rasulullah. Pappaseng yang mengandung nilai pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup kehidupan manusia, karena tidak hanya mengatur kehidupan manusia di akhirat saja, tetapi juga mengatur bagaimana seharusnya aktivitas hidup manusia di dunia.
Buku PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS membahas tentang nilai-nilai budaya dalam pappaseng yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang sifatnya universal, yang sangat cocok dengan untuk generasi lalu, generasi kini dan generasi yang akan datang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Perspektif Pendidikan Islam
Penulis: Susmihara
Editor: Syamsudhuha Saleh
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-602-328-390-3







