January 31, 2024

MR. CRACK dari PAREPARE

Perjalanan hidup seorang BJ Habibie melintas batas teritorial dan waktu. Bermula dari Parepare, lanjut ke Aachen Jerman Barat, lalu ke Jakarta. Dari seorang ilmuwan, kemudian menjadi negarawan, dan kini Minandito. Beliau memiliki lima prinsip yakni bekerja keras -work very hard-, be rational, be fair, do low profile and never ever be hero" Jangan mau jadi pahlawan".

Sebagai seorang ilmuwan, negarawan sampai sekarang di era minandito, sebagai Begawan ia tidak susut kepedulian sosialnya. Ia cepat terharu dan tidak bisa tidur memikirkan, mengapa masih ada kepincangan dalam masyarakat, mengapa masih ada kemiskinan. Hanya salah satu yang bisa menghibur hatinya, jika melihat kemajuan dan prestasi yang bisa ditunjukkan sumber daya manusia, para generasi mua dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjadikan bangsa yang berdaya saing.

Kecintaan Habibie pada Tanah Air begitu besar. Tertanam kuat sejak masih mahasiswa dan kedudukan yang prestisius dan penghasilan yang besar ditinggalkan untuk membangun Indonesia melalui teknologi. 

Buku MR. CRACK dari PAREPARE merupakan authorized biography of BJ Habibie dari ilmuwan ke negarawan sampai Minandito. Buku ini juga memberi kisa cinta Habibie bersama Ainun yang menggambarkan "keberhasilan" cinta yang dimulai dari pertemuan hingga maut memisahkan.

Berikut kutipan pernyataan Habibie dalam buku ini, seperti:

  • "Saya bisa mengatakan bahwa buku ini adalah biografi terlengkap tentang saya yang pernah ditulis oleh beberapa pengarang. Bagi saya yang menarik dalam buku ini adalah bentuk penulisannya yang selalu menggunakan rujukan yang jelas sumbernya, karena itu semua sumber yang dikutip dalam buku ini, tidak ada fiktif dan direkayasa penulisnya".
  • "Kromosom intelegensi datang dari ibu (R.A. Tuti Marini) disempurnakan oleh kontribusi kromosom dari ayah (Alwi Abdul Djalil Habibie). Inilah yang mungkin menghasilkan apa yang terjadi dan ada dalam tubuh saya".
  • "Saya dilahirkan dengan bantuan seorang dukun (sanro) yang bernama Indo Melo. Di Parepare waktu itu memang belum ada dokter yang melayani kelahiran". Bacharuddin Jusuf Habbie lahir pada hari Kamis Legi tanggal 25 Juni 1936 M atau bertepatan tanggal 4 Rabiul Akhir, Tahun Alip 1867/1355 H.
  • "Saya melihat sendiri ketika ayah telentang tidak bernapas lagi. Pak Harto sendiri yang menutup mata ayah saya".
  • "Di antara teman-teman mahasiswa Indonesia di Aachen ada beranggapan bahwa mahasiswa yang memakai paspor hijau, 'tidak memenuhi syarat', karena itu ada yang memberikan nasihat agar saya jangan memalukan bangsa Indonesia. Bahkan di kantin, ada mencandai dengan meminta tolong diambilkan air minum . Saya hanya tersenyum dan memberikan mereka air minum. 'Siapa lagi yang mau', saya tawarkan kepada kawan yang lain".
  • "Pada zaman sebelum perang, para pelajar dan mahasiswa kita di negeri Belanda bergerak untuk berusaha memerdekakan bangsanya; untuk itu kisa sebagai pejuang bangsa harus pula berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara selama kita berada di Eropa ini. Perjuangan kita adalah mengisi kemerdekaan".
  • "Leila, Ich bin verliebt, Ich bin verliebt (Leila, saya jatuh cinta, saya jatuh cinta)".
  • "Saya membawa teman-teman bekerja di HFB kemudian menjadi MBB di Jerman, waktu itu untuk numpang menuntut ilmu. Bukan menumpang hidup selamanya untuk mencari makan".
  • "Selama satu setengah tahun saya tidak memiliki kantor resmi. Waktu Pak Ibnu Sutowo bertanya, apakah saya perlu kantor, saya tegas menjawab, belum, biar begini saja dulu. Memang sasarannya yang pertama adalah sistem kerja, membuat organisasi, dan mengumpulkan data. Selain itu saya tidak mempunyai maksud apa-apa".
  • "Waktu saya kembali, saya sudah 20 tahun di Eropa. I have a house, I have a job, a god income. Saya kembali, saya harus boyong. Sekarang mau ke Singapura, mau ke Jogya harus minta permisi. Jadi kalau ditanya interms of income, don't ask that".
  • "Mulai dari akhir dan berakhir dari awal. Itulah strategi dasar yang saya yakini dan saya laksanakan dalam menjalankan tugas sebagai Menteri Riset dan Teknologi".
  • "Mustahil ada inovasi jika tidak ada SDM yang unggul".
  • "Saya membutuhkan orang yang andal untuk membuat bangsa Indonesia tetap produksi menghasilkan SDM yang terbarukan dan tidak terbarukan (non-renewable resources)".
  • "... sebaiknya Pulau Batam, Rempang, dan Galang (Barelang) dijadikan sebagai provinsi khusus ekonomi. Untuk memajukan Pulau Batam, termasuk Barelang, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada cita-cita awal, yakni menjadikan Pulau Batam sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi nasional dan tidak ada keinginan lain kecuali untuk melihat Barelang maju modern seperti cita-cita awal pembangunannya."
  • Saya benar-benar merasa lega sekarang. Satu tugas lagi telah saya selesaikan . Rasanya bila sekarang saya harus pensiun pun saya sudah siap", katanya sambil bersyukur apa yang diharapkannya telah terwujud. Ia telah mewariskan sesuatu kepada generasi penerusnya; mungkin sebuah ilmu, dedikasi, motivasi, kerja keras, keyakinan, keberanian, determinasi dan si generasi penerus itu telah melakukannya dengan baik".
  •  "Saya tidak dapat mengerti, karena sama sekali tidak beralasan rasional, mengapa IMF pada akhir tahun 1997 menuntut agar pemerintah segera tidak membantu IPTN untuk penyelesaian pesawat turboprop N-250 yang canggih dan terbang perdananya pada tanggal 10 Agustus 1995 berhasil".
  • "Dengan diangkatnya BJ Habibie sebagai koordinator Harian Dewan Pembina Golkar awal tahun 1993, jelas makin menambah beban kerjanya. "Ya, ini tahun paling sibuk. Karena ada pekerjaan yang sebenarnya di luar pendidikan saya".
  • "Tanggal 31 Desember 1997 sekitar pukul 22.00 malam saya menerima surat dari Presiden Soeharto mengenai pengangkatan saya sebagai Ketua Harian dan Koordinator Besar Golkar tapa 'wakil atau pengganti' untuk tahun 1998. Mengapa harus seorang diri?".
  • "Saya selalu mengawal setiap pembuatan film mengenai diri saya. Saya memeriksa skenarionya, jika salah saya coret dan minta dibuat ulang".

Buku Prof. Dr. Ing. B. Lascka, Ahli Aerodinamika memberikan apresiasi "Crack Propagation yang amat penting dan serba sulit hasil penemuan BJ Habibie cukup memesonakan hati, inilah dasar reputasi BJ. Habibie dalam lingkungan dunia ilmu dirgantara. Retakan dalam struktur pesawat memang sanggatlah dicemaskan oleh para perekayasa struktur dan keperilakuan penyebaran retak sungguh sangat sulit diperhitungkan".

Untuk lebih melengkapi perlu karya karikatur seperti Pramono yang tersebar di halaman-halaman surat kabar Sinar Harapan, mengomentari peristiwa-peristiwa tertentu, mengikuti tulisan-tulisan atau menggambarkan kejadian-kejadian menonjol.

Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Ristek)



MR. CRACK dari PAREPARE
Dari Ilmuwan Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito

Penulis: A. Makmur Makka
Editor: Muh. Iqbal Santosa
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-08822-92-1


* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar

Sulsel dalam Lintas Perspektif

Pembangunan daerah, sejatinya adalah pembangunan wilayah, yang diletakkan sebagai wawasan untuk selanjutnya dijadikan sebagai indikator akhir dalam mengukur kinerja kumulatif pembangunan, yaitu apakah sesuatu wilayah itu berkembang atau tidak. Kemajuan dan perkembangan suatu wilayah, mungkin saja terjadi dalam ukuran-ukuran pertumbuhan ekonomi. 

Pertumbuhan sektoral tidak menjamin wilayah berkembang, karena mungkin saja menciptakan kantong-kantong pertumbuhan dengan akibat ikutan lainnya seperti kemiskinan, ketimpangan dan pengangguran. Pembangunan sektoral akan cepat mencapai titik jenuh, bila wilayah tidak berkembang. Meskipun tetap harus diakui bahwa perkembangan wilayah tetap membutuhkan dukungan pembangunan sektoral.

Kinerja pembangunan Sulawesi Selatan satu decade terakhir bisa menjadi contoh yang baik untuk mencermati bagaimana wawasan pengembangan wilayah dipraktikkan. Tema pembangunan yang dipilih selalu terkait dengan jargon pengembangan wilayah, namun esensi dan substansinya lebih berat bersifat sektoral. Untuk itu, penting mencermati politik pembangunan dan politik pemerintahan di Sulawesi Selatan. Kinerja pembangunan sejatinya erat dengan fungsi pembangunan dan fungsi pemerintahan yang dijalankan.

Buku "Sulsel dalam Lintas Perspektif" merupakan blue print pemikiran seorang akademisi yang juga praktisi perencanaan dan pembangunan yang selama bertahun-tahun mengaplikasikan pengetahuan dan teori yang diperolehnya di kampus ke dalam dunia praktik, pemerintahan, khususnya perencanaan. Buku ini memuat 9 tulisan terkait dimensi wilayah, 17 dimensi pembangunan dan 23 dimensi tulisan.

Dimensi pemerintahan menjadi titik kunci dan penentu bagi keberhasilan suatu pembangunan pada dimensi kewilayahan. Di sinilah letak sumber daya manusia yang akan memikirkan konsep pembangunan yang akan diimplementasikan. 

Dimensi kewilayahan dapat dikatakan merepresentasikan bagaimana sektor sumber daya alam dikelola untuk kepentingan pembangunan dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan.

Dimensi pemerintahan menempatkan sumber daya manusia pejabat dan aparat menjadi "tokoh sentral" dalam mengelola dan memanajemennya. 

Untuk lebih melengkapi perlu pengenalan dan pemahaman budaya lokal untuk memberi kemudahan bagi pemerintah untuk mengevaluasi berbagai nilai-nilai utama yang dianggap penting oleh masyarakat lokal dalam menata hubungan-hubungan mereka secara horizontal, maupun secara vertikal. Nilai-nilai tradisional tersebut seperti Gatteng, Lempu dan Ada Toneng perlu dimaknai kembali sehingga nilai-nilai seperti itu, tidak hanya sebatas dipahami tetapi dapat dijiwai dan diamalkan secara nyata.


SULAWESI SELATAN
Dalam Lintasan Perpektif

Penulis: A. M. Sallatu
Pemeriksa Aksaran: Diandra Kreatif/Mirra Buana Media
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-623-92505-4-6

* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar

January 18, 2024

Maddoja Bine

Maddoja Bine merupakan sebuah ritual adat bertani asal Desa Binuang Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, tradisi ini dari naskah I La Galigo. Keberadaan ritual tradisi I La Galigo sangat erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan-kerajaan Bugis, yang menguasai sawah adat atau yang biasa disebut galung arajang. Pada mulanya pelaksanaan Maddoja Bine ini merupakan bagian dari ritual komunal dalam satu kawasan kampung.

Ritual tersebut dilakukan bila seorang petani akan mulai  turun ke sawah. Proses yang paling awal dari ritual tersebut adalah proses meletakkan benih yang telah direndam di pusat rumah atau yang biasa disebut Possi Bola. Beberapa perlengkapan perlengkapan ritual seperti sesajian, perlengkapan pertanian, dan perlengkapan tata rias, khusus perlengkapan tata rias ini khusus ditujukan kepada si Sangiang Serri. Karena sebagai seorang perempuan, ia dianggap senang berdendang. 

Satu hal yang menarik dari ritual ini adalah varian sesajian yang disajikan di sekitar Possi Bola. Beberapa contoh sesajian yang sering digunakan dalam Maddoja Bine yaitu ada rekko ota (daun sirih), pinang, daun paruh, benno (berlih), dupa, sokko (nasi ketan), pallisek (lauk), ittello manuk (telur ayam), minya' bau (minyak kelapa, pucuk daun jati, dan kayu manis yang dicampur dan di masak), daun mayang dan juga pesse pelleng (pelita lilin dan kemiri).

Pembacaan doa atau mantra disertai dengan pembakaran dupa kemenyan dan penyalaan pesse pelleng dilakukan oleh seorang pemuka adat yang biasa disebut "sandro wanua" yang betugas memercikkan air ke benih padi dan sesajian, dan selanjutnya pembacaan sureq atau barazanji. Sureq yang sering dibaca adalah Sureq Riuloqna Batara Guru ri Lino, yang berkisah mengenai mula tau, atau asal usul kedatangan manusia keturunan dewa, yakni Batara Guru sebagai manusia pertama di dunia.

Selain itu ada juga Sureq Meong Paloe Karellae yang menceritakan pengembaraan Sangiang Serri yang ditemani oleh kucing tiga warna, sang pengawal setianya.

Tahap terakhir adalah membaca doa yang berisi doa keselamatan bersama (doa keluarga). Doa ini merupakan penghargaan agar apa yang akan diusahakan petani bisa membawa keberkahan bagi mereka sekeluarga. Pelaksanaan Maddoja Bine pada hakikatnya adalah perwujudan rasa sakit dan pemujaan masyarakat petani Bugis terhadap si Sangiang Serri.

Buku Maddoja Bine, sebuah ritual adat bertani asal Desa Binuang Kabupaten Barru sebagai bentuk  bentuk penghormatan kepada Dewi Padi atau Sangiang Serri. Ritual ini sebagai bentuk upaya Sangiang Serri agar esok hari saat ia dilepas kepergiannya, ia diharapkan segera kembali dengan baik saat panen tiba. 

Buku ini menampilkan tradisi orang Bugis dan yang di kemas dalam bentuk cerita bergambar. Untuk melengkapi buku ini orang Bugis juga mempunyai kaitan erat dengan pammali. Kata tabu yang masuk kategori pammali adalah a tikusa, buaja a buayaa, guttu a guntura. Jika diucapkan maka diyakini akan menimbulkan bencana dan kerugian bagi penuturnya. Seperti menyebut kata 'tikus', yang disinyalir dapat membuat gagal panen. Atau, menyebut kata 'buaya' yang berarti menghadirkan bala petaka berupa buaya yang siap memakan korban jiwa.


Maddoja Bine
Sebuah Ritual Adat Bertani asal Desa Binuang
Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan

Penulis: Fatmawati P; M. Muh Rifhan Fadhlan
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2022

* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar


January 12, 2024

Numismatik Indonesia Kuno

Uang sebagai alat non ekonomi dipakai dalam berbagai kegiatan hidup manusia, antara lain dalam upacara  religi dan daur hidup. Hal itu sesuai dengan anggapan kelompok masyarakat bahwa uang itu sendiri adalah banda sakral yang suci dan mempunyai kekuatan magic sehingga dapat berguna sebagai penjaga diri, pengusir roh jahat, menjaga kesehatan anak, bahkan dapat dipergunakan sebagai alat pengobatan tradisional untuk. kerokan, menyembuhkan luka-luka dan mengobati bisul. 

Numismatik (Mata Uang) yang diperkirakan paling tua di Indonesia adalah dari kerajaan Janggala yang dinamakan "Krishnala" dan terbuat dari emas (tahun 896 - 1158), sedangkan uang asing yang pertama kali beredar di Indonesia adalah uang Portugis yang terbuat dari emas, perak dan tembaga. Sesudah itu uang VOC beredar dalam bentuk uang emas yang bernilai 1 Gulden (dicetak di negeri Belanda tahun 1802). Pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816) dipakai mata uang Rupiah Jawa, namun sebelumnya telah ada uang tembaga dengan gambar ayam yang disebut Duit.

Uang kertas yang pertama kali beredar di Indonesia dikeluarkan oleh De Javasche Bank bertanggal Batavia 12 Oktober 1927, kemudian pemerintah Belanda berturut-turut mengeluarkan uang kertas seri Welhelmina tahun 1950 dan pada saat itulah pertama kali dipakai Undang-Undang Keuangan dalam bahasa Indonesia yang disebut uang Nica.

Mata uang Republik Indonesia : 

  • Uang kertas (Uang ORI Pematang Siantar) dengan nilai nominal : Rp. 1, Rp. 5, Rp. 10, Rp. 100
  • Uang kertas (Uang ORI Yogyakarta) dengan nilai nominal : Rp. 40, Rp. 75, Rp. 250, Rp. 400
  • Uang kertas (Uang ORI Jakarta) dengan nilai nominal 10 sen, 50 sen, 1 rupiah, 10 rupiah
  • Uang kertas (Uang ORI Bukit Tinggi) dengan nilai nominal Rp. 10, Rp. 25, Rp. 50, Rp. 100
  • Uang kertas (Uang ORI Tapanuli) dengan nilai nominal Rp. 10, Rp. 50, Rp. 100, Rp. 200
Mata uang Republik Indonesia Serikat dengan nilai nominal Rp. 10, Rp. 50, Rp. 100, Rp. 200

Mata uang Bank Indonesia: uang kertas emisi tahun 1952 dengan nilai nominal Rp. 50, Rp. 100, Rp.500, Rp. 1000; uang kertas seri pekerjaan tangan Rp. 100, Rp. 500, Rp. 1000, Rp. 5000; uang kertas seri Bunga dan Burung dengan nilai nominal Rp. 50, Rp. 100, Rp. 500, Rp. 1000; uang kertas Lokal Riau dengan nilai nominal Rp. 2.50, Rp. 5, Rp. 10, Rp. 100; uang kertas lokal Irian Barat dengan nilai nominal Rp. 2.50, Rp. 5, Rp. 10, Rp. 100; uang kertas seri Presiden Soekarno dengan nilai nominal Rp. 50, Rp. 100, Rp. 500, Rp. 1000; uang seri Dwikora dengan nilai nominal 1 Sen, 5 Sen, 10 Sen, 25 Sen uang kertas Seri Pekerjaan Tangan dengan nilai nominal Rp. 100, Rp. 10.000; Uang kertas Seri Sudirman dengan nilai nominal Rp. 100, Rp. 500, Rp. 1000, Rp. 5000; Uang Logam seri Cagar Alam dan 25 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan nilai nominal Rp. 200, Rp. 2000, Rp. 20.000, Rp. 25.000, Rp. 100.000

Buku Foto Numismatik (Mata Uang) merupakan koleksi Museum Negeri La Galigo Ujung Pandang pada waktu itu mengadakan pameran keliling dengan tema " dengan Numismatik (Mata Uang) kita lestarikan budaya bangsa" yang berlangsung dari tanggal 28 s/d 31 Maret 1983 di Museum Balla Lompoa Kabupaten Gowa. 

Buku ini merupakan juga memberikan informasi terkait uang Indonesia Kuno, antara lainnya:

  • Uang Indonesia Kuno (uang Majapahit abad 9-14): uang Gobog; uang Krishnaka
  • Uang kerajaan lokal di Indonesia (abad 14 - 19): uang Banten (Maulana Muhammad); uang Madura (Kerajaan Sumenep); Uang Sulawesi (Kerajaan Gowa)
  • Uang Compagnie Van Verre (1594 - 1602) : uang Benggol
  • Uang V.O.C (1602 - 1799) : uang Duit, uang Ropy, uang Bonk
  • Uang negara asing yang beredar di Indonesia (1602 - 1854) : uang cina; uang spanyol
  • Uang Bataafsche Republik (1799 - 1806) : uang Ropy; uang Bonk
  • Uang Kerajaan Holland/Kekaisaran Prancis (1806 - 1811) : uang Stuiver
  • Uang Pemerintahan Inggris (1811 - 1816) : Uang Ropy
  • Uang Inggeris di Sumatera dan Sulawesi : uang Kepeng dengan nominal 3 kepeng dan nominal 1 Kepeng
  • Uang yang berlaku diperkebunan dalam lingkungan tanah partikulir di Indonesia : uang Token dengan nominal 1 dollar yang dibuat perkebunan Hessa Asahan di Sumatera Utara (perkebunan Jerman) dan di perkebunan Asahan sumatera Utara (perkebunan Belanda).
  • Uang Pemerintah Hindia Belanda : uang "Duit Singa"; uang "Hibrid Duit"; uang Cent; uang Kertas De Jevansche Bank; uang Kertas De Javanche; uang kertas De Javansche Bank
  • Uang masa kedudukan Jepang di Indoensia.
Untuk lebih melengkapi panduan maka sebaiknya buku ini juga dilengkapi gambar menarik perhatian pembaca dan pengunjung pameran. Karena buku ini sudah kuno sebaiknya dilaksanakan alih media untuk tetap menjaga informasi.

PAMERAN KELILING
Foto Numismatik (Mata Uang)
Penulis: Sahriah, Jawiah A. Baso
Penerbit: Museum Negeri La Galigo
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1982


* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar

January 3, 2024

Layanan PP IPTEK, Alternatif Liburan Hemat dan Bermanfaat

Libur semester saat ini masih sedang berlangsung. Sebagai orang tua, terkadang bingung harus mengisi liburan anak-anak dengan kegiatan apa. Selain liburan ke tempat wisata dan mall yang ada di sekitar wilayah Sulawesi Selatan, ada alternatif pilihan lainnya yang bisa kita coba untuk mengisi liburan anak-anak agar tidak bosan di rumah. Salah satunya pergi ke Layanan Pusat Peraga Ilmu pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di jalan Sualtan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

Selain tidak mengeluarkan biaya alias gratis, pergi ke Layanan PP-IPTEK juga banyak sekali manfaatnya. Pertama kita bisa mengenalkan anak dengan berbagai buku seperti ensiklopedia ilmu pengetahuan; ensiklopedia agama Islam, Komik, Seri Ilmu Pengetahuan, berbagai Cerita Rakyat; dll untuk menanamkan gemar membaca sejak dini. 

Layanan ini juga menyediakan berbagai wahana wahana pembelajaran untuk menumbuh-kembangkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di masyarakat, untuk segala generasi secara MUDAH, MENGHIBUR, BERKESAN, DAN KREATIF, melalui berbagai program pembelajaran iptek dan peraga interaktif tentang APA, MENGAPA DAN BAGAIMANA iptek digali dan dimanfaatkan bagi kehidupan manusia agar lebih nyaman dan sejahtera.

Di sini pengunjung akan diberi informasi edukasi dan diajak untuk mencoba alat peraga IPTEK, seperti: Tebak Tanggal Lahir, Baterai Tangan, Harpa Tanpa Dawai, Katrol, Gyro Extreme, Energi VS Daya, Bola Listrik, Lengkungan Nan Kokoh, Menurun Ke Atas, Gorden Otomatis, Halilintar, Gorden Otomatis dan Trainer panel surya.

Beberapa pekan ini layanan PP-IPTEK menerima berbagai kunjungan beberapa orang tua yang membawa putra putrinya untuk melihat berbagai alat peraga interaktif dan setelah puas bermain alat peraga anak-anak tersebut membaca buku dan meminjamnya untuk di bawa pulang.