"Jika kalian menyerang kami akan mempertahankan diri dan akan menyerang balik dengan segenap tenaga dan kemampuan. Kami berada di pihak yang benar. Kami akan mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami". (Sultan Hasanuddin)
Silsilah darah Sultan Hasanuddin tersambung hingga ke Tomanurung. Dengan 'nasab' itu Sultan Hasanuddin mewarisi 'gen' moral para leluhur Tu'Manurungnya. Sultan Hasanuddin yang tumbuh dan besar dalam istana yang telah diislamkan oleh kakek dan dikokohkan para leluhurnya, namun juga dalam nuansa Islam yang kental. Pendidikan keras dalam istana dan nilai-nilai keislaman, membuat membuat jiwanya mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, yang dengan itu ia menjalankan amanah sebagai raja Gowa XIV untuk mengabdikan dirinya pada rakyat dan negerinya.
Dalam mencapai tujuannya dia memilih jalan-jalan damai, namun bila hal itu belum menemukan jalan terbaik menuju kemenangan, maka perang pun dikobarkan. Lantaran itu Sultan Hasanuddin dikenal sebagai sosok yang selalu mengedepankan taktik perang damai. "Jika kalian menyerang, kami akan mempertahankan diri dan akan menyerang balik dengan segenap tenaga dan kemampuan. Kami berada di pihak yang benar. Kami akan mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami". Begitulah prinsip Sultan Hasanuddin yang tak pernah gentar.
Buku Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN menghadirkan sosok legendaris dari sejarah Kerajaan Gowa abad 17. Sultan Hasanuddin berjuang membentuk diri kepribadiannya dalam beragam pendidikan dan pelatihan. Dari pengetahuan etika, akhlak hingga tata pemerintahan, juga tentu saja pendidikan keterampilan ke kesatriaan untuk bela negara. Juga pendidikan spiritualnya sebagai seorang muslim, telah menyempurnakan kepribadian dan karakternya, sehingga dalam banyak keputusan-keputusan yang diambilnya berkenaan hal pokok dan strategis, sehingga banyak disandarkannya pada kebenaran religius.
Sultan Hasanuddin menjadikan takhta ditangannya bagi manusia dan kemanusiaan, terutama ketika menghadapi agresi Belanda yang dalam banyak hal telah menimbulkan kesengsaraan bagi kehidupan rakyat kerajaannya. Sepanjang usia pemerintahannya Sultan Hasanuddin berjuang tanpa henti dan lelah dalam perang yang panjang dengan Belanda yang penuh angkara murka dalam menguasai sumber-sumber kehidupan rakyat nusantara. Sultan Hasanuddin tidak pernah mau menyerah, tunduk dan maupun sekadar berkompromi dengan bangsa penjajah.
Hingga nafas sampai di ujung ubun-ubunnya Sultan Hasanuddin, telah menjadikan dirinya sebagai suri teladan penegakan siri'na pacce dalam perjuangannya menentang penjajahan bangsa asing terhadap tanah kelahirannya. Penderitaan rakyat dan negeri yang demikian memilukan di akhir kekuasaannya, dia bayar dengan keruntuhan benteng Sombaopu dan kehancuran istananya dalam ledakan meriam dan kobaran api.
Buku ini tentang perjuangan Sultan Hasanuddin dengan gelar anumerta tumenanga ri balla' pangkana, yang meninggal di istannya. Untuk lebih melengkapi Sultan Hasanuddin memiliki berpendirian 'satu kata dengan perbuatan'.
Penulis: Syafruddin Muhtamar
Penyunting: Andi Wanua Tangke
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-9057-89-8

