February 15, 2024

Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN

"Jika kalian menyerang kami akan mempertahankan diri dan akan menyerang balik dengan segenap tenaga dan kemampuan. Kami berada di pihak yang benar. Kami akan mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami". (Sultan Hasanuddin)

Silsilah darah Sultan Hasanuddin tersambung hingga ke Tomanurung. Dengan 'nasab' itu Sultan Hasanuddin mewarisi 'gen' moral para leluhur Tu'Manurungnya. Sultan Hasanuddin yang tumbuh dan besar dalam istana yang telah diislamkan oleh kakek dan dikokohkan para leluhurnya, namun juga dalam nuansa Islam yang kental. Pendidikan keras dalam istana dan nilai-nilai keislaman, membuat membuat jiwanya mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, yang dengan itu ia menjalankan amanah sebagai raja Gowa XIV untuk mengabdikan dirinya pada rakyat dan negerinya.

Dalam mencapai tujuannya dia memilih jalan-jalan damai, namun bila hal itu belum menemukan jalan terbaik menuju kemenangan, maka perang pun dikobarkan. Lantaran itu Sultan Hasanuddin dikenal sebagai sosok yang selalu mengedepankan taktik perang damai. "Jika kalian menyerang, kami akan mempertahankan diri dan akan menyerang balik dengan segenap tenaga dan kemampuan. Kami berada di pihak yang benar. Kami akan mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami". Begitulah prinsip Sultan Hasanuddin yang tak pernah gentar.

Buku Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN menghadirkan sosok legendaris dari sejarah Kerajaan Gowa abad 17. Sultan Hasanuddin berjuang membentuk diri kepribadiannya dalam beragam pendidikan dan pelatihan. Dari pengetahuan etika, akhlak hingga tata pemerintahan, juga tentu saja pendidikan keterampilan ke kesatriaan untuk bela negara. Juga pendidikan spiritualnya sebagai seorang muslim, telah menyempurnakan kepribadian dan karakternya, sehingga dalam banyak keputusan-keputusan yang diambilnya berkenaan hal pokok dan strategis, sehingga banyak disandarkannya pada kebenaran religius.

Sultan Hasanuddin menjadikan takhta ditangannya bagi manusia dan kemanusiaan, terutama ketika menghadapi agresi Belanda yang dalam banyak hal telah menimbulkan kesengsaraan bagi kehidupan rakyat kerajaannya. Sepanjang usia pemerintahannya Sultan Hasanuddin berjuang tanpa henti dan lelah dalam perang yang panjang dengan Belanda yang penuh angkara murka dalam menguasai sumber-sumber kehidupan rakyat nusantara. Sultan Hasanuddin tidak pernah mau menyerah, tunduk dan maupun sekadar berkompromi dengan bangsa penjajah.

Hingga nafas sampai di ujung ubun-ubunnya Sultan Hasanuddin, telah menjadikan dirinya sebagai suri teladan penegakan siri'na pacce dalam perjuangannya menentang penjajahan bangsa asing terhadap tanah kelahirannya. Penderitaan rakyat dan negeri yang demikian memilukan di akhir kekuasaannya, dia bayar dengan keruntuhan benteng Sombaopu dan kehancuran istananya dalam ledakan meriam dan kobaran api.

Buku ini tentang perjuangan Sultan Hasanuddin dengan gelar anumerta tumenanga ri balla' pangkana, yang meninggal di istannya. Untuk lebih melengkapi Sultan Hasanuddin memiliki berpendirian 'satu kata dengan perbuatan'.


Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN
Penulis: Syafruddin Muhtamar
Penyunting: Andi Wanua Tangke
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-9057-89-8 

* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar

February 2, 2024

I Makdi Daeng ri Makka

Peristiwa kisah I Makdi Daeng ri Makka diperkirakan terjadi pada akhir abad ke XVII dan tertuang dalam lontara Makassar dan agama Islam telah menjadi keyakinan dan kepercayaan masyarakat pada masa itu. Kisah ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya sastra klasik yang dimiliki Sulawesi Selatan yang mengandung nilai-nilai konsistensi, nilai-nilai tanggung jawa, siri' dan esensi fitrawi.

Struktur cerita I Makdi Daeng Ri Makka berjalan alot dan menjadi sebuah sistem yang konsisten. Berawal dari perbuatan Karaeng Bodo-Bodowa yang memegang kendali di pemerintahan Binamu waktu itu. Atas anjuran Balacok Bontotangnga kerja sama dengan I Pada di Arungkeke, I Ranggo dari Tanatowa, I Cangkiyok dari Manyumbeng, I Rambu Daeng Rimoncong dan I Manja Daeng Manyarrang. Mereka mengambil kerbau dan kuda milik karaengta Bontotangnga di siang hari bolong, lalu dituduhkan I Makdi Daeng Rİ Makka telah melakukannya, dan ini terpaksa diterima saja oleh I Makdi Daeng Rİ Makka. Dari simplifikasi di atas, maka dari sinilah awal mula terjadinya konflik keluarga yang berkepanjangan dengan pertarungan siri', yaitu sebuah perlawanan yang mempertaruhkan martabat dan harga diri. 

Raja Turatea, dan Raja di Binamu menjadi soal pertama, sedang Karaeng Bontotangnga yang menjadi sasarannya. Jelas disini adu domba antar keluarga menjadi tema utama dalam peperangan ini. Dan peperangan pun terjadilah, dan I Makdi terdesak ke Timur kerajaan Bontotangnga, dan dipukul mundur sebelum I Makdi terjatuh dari kudanya, hasil amukannya sebanyak 150 orang dan ketika berbaring amukannya 59 orang. Tudung bendro-bendronya di tendang bagaikan bola raga. Tali pengingat kerisnya di sentakkan dengan paksa. Cincinnya yang mengandung kekuatan keberanian sudah jadi rebutan dan dia mati di gua ditutup daun. I Mulik Daeng Massayang pun terus menangis. Menghempaskan dirinya. berbaring sambil berputar-putar bagaikan seekor kuda sambil berkata? "Bangun dan bangkitlah engkau Makdi. Tidur siangmu bersambung dengan tidur malammu. Tidur malammu bersambung dengan tidur siangmu". Dalam ratapannya Mulik Daeng Massayang berkata, "Kematian memang sudah takdir. Kebiasaan-kebiasaanmulah yang banyak menyimpan kenangan dan membuat orang tak dapat melupakannya". 

Akhirnya l Mulik Daeng Massayang di bantu oleh Jakkolok Daeng Manrangka untuk membalaskan kematian I Makdi Daeng Ri Makka. Di medan perang leher I Cangkiok dari Manyumbeng terpotong, I Mulik Daeng Massayang menjinjing kepalanya dan membawa berkeliling lapangan. "Mulikpun berkata? "Tak apalah kau mati Makdi! Aku telah mendapatkan tebusannya". Sedangkan Jakkolo Daeng Manrangka memberi komando kepada prajuritnya dan menggerakkan massanya. la bagaikan seekor kerbau menyerang di atas sepetak sawah. Dan tidak memberi kesempatan kepada lawannya dan menyerang tak henti hentinya. Karaeng Bodo-Bodowa pengendali pemerintahan di Binamu tewas terkena tombak, sedangkan Karaeng Bontotangnga melarikan diri. Mereka dikejar masuk ke negeri Bontotangnga. Negeri Bontotangng dihancurkan. Karaengta Bontotangnga lari bersama istri dan anaknya keluar meninggalkan negerinya. Semua rumah yang ada di negeri Bontotangnga di bakar, tak satu pun rumah penduduk yang berdiri tegak. Semua kerbaunya diperebutkan. Begitu pula kuda, kambing dan ayamnya di ambil semua. Musnahlah negeri Bontotangnga dengan meninggalkan wasiat dan kisah tentang falsafah kematian dalam cerita I Makdi Daeng Ri Makka. 

Buku Sejarah Perjalanan I Makdi Daeng ri Makka terkait dengan dua kerajaan utama yang pernah menguasai Jeneponto yaitu Kerajaan Bangkala di Barat dan Kerajaan Binamu di Timur. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Sejarah Perjalanan 
I Makdi Daeng ri Makka
Penyusun: Muh. Faisal
Penerbit: Bidang Sejarah dan Purbakala 
Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021