Perkembangan budaya kebaharian Bugis Makassar Konjo telah memperlihatkan loncatan peristiwa, di antaranya perkembangan perahu dari perahu berlayar tanja (berlayar satu) ke perahu berlayar pinisi (berlayar tujuh), dan dari perahu yang berlayar pinisi ke perahu model kombinasi lambo-pinisi yang mencatat rekor tercepat (20 mil/jam) dalam perkembangan kebaharian di Indonesia.
Pengetahuan kebaharian Konjo percaya bahwa ada hubungan komplementer antara alam (makrokosmos) dengan pelaut-pelaut (mikrokosmos) dan keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kepercayaan itu maka sistem pengetahuan lokal kebaharian direkonstruksi atas dasar suatu asumsi bahwa "setiap kegiatan kebaharian (pelayaran) secara alami dipersepsikan selalu berada dalam lingkaran penjuru mata angin".
Buku Sistem Pengetahuan Lokal, Bugis Makassar Konjo Mengenai Kebaharian (Pa'Lopian) merupakan studi kasus pelaut Ulung Perahu Pinisi Tanjung Bira Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan 1993-1994 bercirikan pengetahuan praktis/terapan, dan karena diperoleh melalui tahapan belajar eksperiensial; mengalami - berkomunikasi dengan alam secara simbolik - beresonansi secara indrawi - menyatakan sebagai pelajaran atau acuan berlayar - dan menerapkan pada pengalaman berikutnya.
Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang juga membahasa sistem pengetahuan lokal yang diperoleh melalui proses pemaknaan, kekuatan dan ketajaman indrawi, seperti ilustrasi peristiwa perdebatan antara William Michael Carr (perwira kapal modern) dengan Muh. Yunus (nakhoda kawakan perahu pinisi) pada pelayaran di atas perahu pinisi amanna Gappa dari Sulawesi Selatan ke Madagaskar.
"Saya tidak mengerti : (1) mengapa pada perahu tradisional (pinisi) ini hanya memakai boom atau pelokang pada layar belakang (sombala riboko); (2) mengapa badan perahu harus diisi dengan batu balas (tula' bara'); (3) mengapa seluruh layar dibiarkan menggelembung atau membentang dan menyandar lebih dari 90 derajat pada saat angin tepat bertiup dari samping ; (4) mengapa pada saat angin tepat bertiup dari belakang, layar depan (cocoro) dibiarkan berkibar-kibar seakan tak berfungsi; dan (5) mengapa kemudi samping (guling) dibiarkan terpasang pada hal sudah ada kemudi tengah " tanya Michael Carr.
Kelima butir pertanyaan yang amat mengusik benak mantan pelaut ulung Inggris ini dijawab dengan tenang; begitulah kebiasaan di perahu tradisional ini " jawab Muh. Yunus, tanpa ada komentar lain berupa penjelasan singkat".
Bullshit, omong kosong, tak masuk akal " jawab balik Michael Carr. Ia tetap penasaran dan ingin sekali membuktikan ide- ide, teori dan pengalamannya sebagai pelaut modern.
Ketika cuaca diperkirakan telah mengizinkan, Muh. Yunus memberi kesempatan kepada Michael Carr untuk membuktikan tiga butir pertanyaan dari kelima pertanyaan yang membuatnya amat penasaran itu. Pertama, pada saat angin tepat bertiup dari samping, layar dicoba ditarik dengan alasan bahwa sesuai dengan teori; bila titik jatuh angin diperkecil maka perahu akan melaju dengan cepat. Ternyata setelah dicoba kecepatan perahu drastis menurun dari 5 knot menjadi 2 knot. Kedua, pada saat angin tepat bertiup dari belakang, layar depan (cocoro) diturunkan dengan alasan tidak berfungsi dan mengganggu jalannya perahu. Ternyata setelah dibuktikan menimbulkan kesulitan dalam mengarahkan perahu khususnya dalam menghadapi gelombang laut. Ketiga, kemudi samping keduanya diangkat (tidak difungsikan). Sebagai akibatnya perahu bergerak seperti bebek atau ular "kenapa begitu" kata Michael Carr, sambil menggarut -garut kepala seraya terpaksa harus mengakui kearifan tradisional yang baru dipahami dan dialaminya itu. (Norman Edwin; KOMPAS, 26 Desember 1991).
Studi kasus pelaut Ulung Perahu Pinisi Tanjung Bira Kecamatan Bontobahari
Peyusun: Eymal B. Demmalino
Penerbit: Lembaga Penelitian UNHAS kerjasama The Toyota Foundation Japan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1994


