March 24, 2025

OPU DAENG RISAJU

Opu Daeng Risaju adalah sebuah novel karya Idwar Anwar yang mengangkat kisah kehidupan seorang tokoh legendaris dari Sulawesi Selatan, Opu Daeng Risaju. Novel ini tidak hanya berfokus pada kisah pribadi tokoh utamanya, tetapi juga menggali secara mendalam tentang nilai-nilai sosial, budaya, dan tradisi masyarakat Bugis pada masa itu. Dengan memadukan unsur sejarah dan fiksi, Idwar Anwar berhasil membawa pembaca ke dalam dunia masyarakat Bugis yang kaya dengan adat, perjuangan, dan karakter kuat dari tokoh-tokoh sejarahnya.

Buku ini menceritakan perjalanan hidup Opu Daeng Risaju, seorang tokoh penting yang berperan dalam menghadapi tantangan zaman, baik dalam aspek politik, sosial, maupun budaya. Kisah hidup Opu Daeng Risaju mencerminkan karakter keberanian, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap masyarakat serta tradisi. Tokoh ini, meskipun hidup dalam tekanan dan pergolakan sejarah, tetap mempertahankan nilai-nilai leluhur yang penting bagi kelangsungan kehidupan sosial masyarakat Bugis.

Melalui narasi yang kaya akan deskripsi budaya, novel ini menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis dengan segala kompleksitasnya, mulai dari adat istiadat, sistem sosial, hingga hubungan antar individu dalam sebuah komunitas. Anwar juga menyajikan konflik-konflik internal yang dihadapi oleh tokoh utama yang terlibat dalam upaya mempertahankan tradisi dan identitas budaya yang terus terancam oleh pengaruh luar dan perubahan zaman.

Selain itu, Opu Daeng Risaju juga mencerminkan pergulatan antara nilai-nilai tradisional dan modernitas, yang menjadi tema sentral dalam banyak karya sastra Indonesia pada masa itu. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menawarkan kisah inspiratif tentang perjuangan individu, tetapi juga membuka cakrawala pemahaman tentang pentingnya menjaga dan merawat kebudayaan yang ada di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.

Novel ini menjadi salah satu karya penting dalam sastra Indonesia, khususnya yang mengangkat tema tentang identitas budaya, sejarah daerah, dan perjuangan melawan perubahan zaman. Idwar Anwar berhasil merangkai kisah yang tidak hanya menggugah emosi, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang kekayaan budaya Indonesia, terutama budaya Bugis yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa. Baca selengkapnya pada Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM.7 Tala'salapang kota Makassar.

OPU DAENG RISAJU

Pengarang: Idwar Anwar

Penerbit: Pustaka Sawerigading

Tahun Terbit: 2021

Kota Terbit : Makassar

ISBN: 978-602-9248-58-6

Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim


Perdagangan Makassar pada abad ke-19 secara tidak langsung dipengaruhi oleh Inggris yang menganut prinsip perdagangan bebas. Prinsip ini, yang telah diterapkan dalam perdagangan maritim di Asia Tenggara sebelum kedatangan orang Eropa, membuat pelaut dan pedagang di wilayah Sulawesi Selatan (Makassar, Bugis, Mandar, Selayar, dan Buton) bergairah menjalin hubungan dagang dengan Inggris. Sebaliknya, Pemerintah Hindia Belanda memandang Inggris sebagai ancaman, namun tidak berdaya membendung pengaruh negara itu. Inggris memiliki industri yang lebih maju, armada dagang yang baik, dan menguasai sejumlah komoditas penting dalam perdagangan maritim di Asia Tenggara dan Asia Timur, seperti candu dan tekstil dari India.

Akibat perang dengan Inggris dan pendudukan Prancis, keadaan ekonomi Negeri Belanda amat menyedihkan. Keadaan ini menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda belum berhasil menguasai sepenuhnya Kepulauan Hindia Belanda; sebagian besar masih berstatus "kerajaan sekutu". Pemerintah Hindia Belanda pun dipaksa menerima desakan Inggris, yang tertuang dalam Traktat london, untuk menerapkan perdagangan bebas serta melepaskan koloninya di Semenanjung Malayu (Malaka) dan mengakui kekuasaan Inggris di wilayah Melayu. Sebagai imbangannya, Inggris bersedia melepaskan Hindia Belanda dan mengakui kekuasaan Belanda atas kepulauan tersebut.

Sesuai perjanjian, Pemerintah Hindia Belanda membuka sejumlah pelabuhannya di Hindia Belanda bagi bangsa asing, tetapi tetap diikuti dengan sejumlah aturan yang menyimpang dari semangat perdagangan bebas. Pemerintah tetap memungut pajak perdagangan yang tinggi, melarang perdagangan peralatan perang, memonopoli perdagangan rempah-rempah, candu, dan minuman keras, menetapkan bahwa semua kapal asing harus tunduk pada peraturan di bandar yang berada di bawah pengawasan pemerintah, serta menutup sejumlah pelabuhan bagi pelayaran niaga asing, seperti Ternate, Ambon, dan Banda. "Politik pintu terbuka" ini mengakibatkan Pemerintah Hindia Belanda gagal memikat pedagang asing untuk berniaga di kota- kota pelabuhannya. Pedagang dan pelaut dari wilayah jajahan pun, khususnya dari "kerajaan sekutu", lebih suka berniaga ke pelabuhan- pelabuhan Inggris di wilayah Melayu.

Buku Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim merupakan salah satu koleksi iPusnas yang memuat tujuh faktor yang menyebabkan "politik pintu terbuka" gagal. Pertama, pajak perdagangan sangat tinggi. Kedua, perdagangan senjata dilarang, padahal banyak kerajaan lokal yang membutuhkan senjata untuk mempertahankan diri; pedagang dan pelaut juga membutuhkan untuk melindungi diri dari bajak laut. Ketiga, adanya monopoli atas sejumlah komoditas yang banyak diminta oleh penduduk, seperti candu dan minuman keras. Keempat, diterapkannya alat pembayaran berupa matauang tembaga dan kertas. Kelima, pemerintah terlalu memusatkan diri pada komo- ditas yang laku di Eropa dan tidak memperhatikan matadagangan penduduk yang laris di Cina, seperti teripang, agar-agar, kerang, sisik penyu, sarang burung, sirip ikan hiu, dan kayu cendana. Keenam, kemerosotan perdagangan, pada gilirannya, memudarkan semangat untuk mengembangkan modal di Makassar. Ketujuh, monopoli yang berlebihan atas komoditas produksi penduduk.

Kondisi perdagangan semakin runyam ketika penyeludupan dan ancaman bajak laut merajalela. Penyeludupan meningkat karena jalinan niaga antara Makassar dan Singapura semakin kuat. Berdasarkan fakta ini pada 1847 Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Makassar sebagai kota pelabuhan bebas bersyarat untuk menandingi Singapura. Dikatakan bersyarat karena pemerintah masih memungut pajak perdagangan yang tinggi, melarang perdagangan komoditas tertentu, menetapkan aturan pelayaran yang ketat, serta tidak menegakkan persaingan bebas dalam perdagangan. Semua ini berbeda dengan yang dijalankan Inggris di Singapura.

Pada era "pelabuhan bebas" itu pemerintah baru serius terlibat perdagangan tahun 1850, setelah setahun sebelumnya, 1849, diadakan studi oleh Van Diemen. Sebagai langkah awal, pemerintah memberi izin kepada kapal Belanda untuk mengimpor langsung komoditas dari Belanda ke Makassar pada 1850 dan bekerjasama dengan maskapai pelayaran Cores de Vries untuk melayani angkutan di jalur yang disubsidi. Pada era "pelabuhan bebas" ini pula, sebaliknya, pengusaha Inggris dan Cina di Singapura semakin bergiat dalam perdagangan Makassar. Bahkan pedagang Inggris membantu meningkatkan pelayaran niaga Makassar-Cina. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan Singapura tidak dapat dilepaskan dari peran pelaut dan pedagang dari Sulawesi Selatan, terutama dalam perdagangan produk Cina-produk laut.

Secara umum bisa dikatakan bahwa perdagangan Makassar pada era "pelabuhan bebas" maju pesat dibandingkan era sebelumnya; puncaknya berlangsung pada 1873. Dalam konteks ini perdagangan Makassar dapat dibagi dalam tiga periode: periode pertumbuhan yang pesat (1847-1873), periode keguncangan (1874-1891), dan periode kepincangan (1892-1906).

Perdagangan pada periode pertumbuhan yang pesat terutama dikuasai oleh pedagang dan pelaut Inggris dan Cina di Singapura, Bumiputra, dan para pedagang di Makassar (Inggris, Belanda, Cina, dan Timur Asing lainnya). Pedagang Inggris dan Cina yang berpusat di Singapura menjelajahi seluruh pelosok daerah produksi, wilayah yang sebelumnya berada dalam genggaman pedagang dan pelaut Sulawesi Selatan. Daerah yang dikunjungi pedagang Bumiputra juga dijelajahi oleh kapal berbendera Inggris. Dalam hal ini pemerintah pusat di Batavia, NHM, serta pedagang dan pengusaha di Jawa belum menaruh perhatian.

Kendati dari segi teknologi perkapalan pedagang dan pelaut Bumiputra kalah bersaing, tetapi mereka tetap memegang peran penting. Ten Noord, orang yang melakukan kajian terhadap Kepulauan Hindia Belanda bagian timur, melaporkan bahwa pedagang Cina, Arab, Bugis, dan Makassar bergiat mengelola komoditas di daerah produksi sebagai perwakilan perusahaan Inggris dan Cina di Singapura. Komoditas ini dikirim langsung ke Singapura maupun melalui Makassar. Mereka juga menjadi perintis terbukanya pulau-pulau kecil bagi dunia luar, terutama yang belum terjangkau oleh kapalapi. Salah satu dampak dari kerjasama ini adalah alih teknologi pembuatan kapal. Perahu pinisi, yang hingga kini dianggap sebagai lambang kejayaan Sulawesi Selatan di laut, dicontoh dari bangsa Eropa.

Perdagangan merosot ketika pemerintah berencana membatalkan kebijakan pelabuhan bebas pada 1873 dengan alasan perdagangan bebas di Makassar lebih menguntungkan Singapura. Rencana ini berhasil ditentang oleh pemerintah setempat serta kalangan pengusaha sehingga Batavia menunda rencana tersebut. Untuk membendung pedagang Inggris dan Cina di Singapura Batavia kemudian meningkatkan modal NHM dan menambah jalur pelayaran yang disubsidi. Tujuannya jelas, yakni untuk mempersempit ruang gerak perusahaan pelayaran asing.

Usaha itu ternyata sia-sia. Pedagang Bumiputra dan Cina serta Inggris di Singapura mengalihkan pelayaran mereka di luar jalur yang dikuasai oleh pemerintah. Akibatnya jalur perdagangan antara daerah produksi di Kepulauan Hindia Belanda bagian timur dan Singapura semakin meningkat, sementara pelabuhan Makassar semakin sepi.

Keadaan itulah yang menjadi faktor utama pembentukan KPM. Setelah KPM terbentuk, hubungan langsung antara Singapura dan Kepulauan Hindia Belanda bagian timur pubn turun drastis. Pemerintah Hindia Belanda berhasi menyisihkan pesaingan, perusahaan pelayaran Inggris dan Cina yang berpangkalan di Singapura, karena jalur pelayaran tetap yang disubsidi semakin diperluas. Bahkan, dalam perkembangannya, KPM juga diberi hak untuk beroperasi di luar jalur tetap. Pada periode KPM inilah kegiatan impor-ekspor Makassar dan Nusa Tenggara dipindahkan ke Surabaya. Kebijakan ini merupakan cerminan dari kalahnya kelompok asing dan Bumiputra yang pernah berjaya di Makassar pada periode 1847-1873. Jalan bagi pemerintah untuk membatalkan status pelabuhan bebas bagi Makassar pun semakin lapang.

Pemerintah Hindia Belanda sadar bahwa pedagang dan pelaut Bumiputra berpotensi menggagalkan status pelabuhan wajib pajak Makassar. Oleh karena itu pemerintah mencoba mengatasi ancaman tersebut dengan melakukan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan sekutu, tetapi gagal. Pemerintah akhirnya mengirim ekspedisi militer untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan berdaulat agar rencana penetapan Makassar sebagai pelabuhan wajib pajak pada 1906 berjalan lancar.

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa: pertama, Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah membiarkan pedagang dan pengusaha asing serta berbagai pihak yang bekerjasama dengan pesaing meraih keuntungan di wilayah kekuasaannya. Kedua, pelaksanaan "politik pintu terbuka" dan kemudian "pelabuhan bebas" masih jauh dari prinsip ekonomi liberal. Ketiga, kebijakan "pelabuhan bebas" tidak digerakkan oleh tujuan untuk menjadikan Makassar sebagai pesaing Singapura, melainkan sebagai upaya untuk menyelamatkan kepentingan politik Belanda di Hindia Belanda. Keempat, kebijakan pelabuhan bebas yang berhasil memancing pedagang asing untuk datang ke Hindia Belanda dipandang sebagai kerugian bagi Belanda.

Bila dilihat secara lebih spesifik, kebijakan "perdagangan bebas" Makassar dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda karena: Pertama, peran penting pedagang dan pelaut di Sulawesi Selatan dalam perdagangan di wilayah koloni. Kedua, dominasi Inggris atas sejumlah komoditas penting yang diperlukan oleh penduduk di wilayah Kepulauan Hindia Belanda. Ketiga, sukses Inggris dalam menjalin hubungan niaga dengan pedagang dan pelaut dari Sulawesi Selatan. Dalam konteks ini Pemerintah Hindia Belanda menempuh beragam cara untuk memperkuat ekonomi dan politiknya, seperti: pertama, memperbanyak pemilikan kapal-terutama kapalapi-melalui kontrak kerjasama dengan perusahaan pelayaran. Kedua, memberi hak istimewa kepada perusahaan tertentu. Ketiga, melancarkan ekspedisi militer untuk menaklukkan kerajaan sekutu di Sulawesi Selatan. Jelaslah bahwa Pemerintah Hindia Belanda menata perdagangan Makassar lebih berdasarkan pada prinsip-prinsip merkantilisme ke- timbang ekonomi liberal.


Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim
Penulis: Edward L.Poelinggomang
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2006
Tempat terbit: Jakarta
E-ISBN: 978-602-424-165-0

PEMBAKUAN BAHASA INDONESIA

 Oleh : Putri




Buku "Pembakuan Bahasa Indonesia" karya Abdul Chaer, yang diterbitkan pada tahun 1993 oleh Rineka Cipta di Jakarta, membahas tentang proses pembakuan bahasa Indonesia. Pembakuan bahasa adalah proses standarisasi bahasa untuk memastikan keseragaman dalam penggunaan, penulisan, dan istilah. Buku ini mencakup aspek-aspek penting seperti sejarah pembakuan, prinsip-prinsip pembentukan istilah, serta peran lembaga-lembaga seperti Pusat Bahasa dalam mengembangkan dan mempertahankan bahasa Indonesia.

Dalam buku yang berjudul pembakuan bahasa indonesia ini terkumpul delapan belas artikel, yang sebenarnya di tulis dalam kurun waktu yamg tidak bersamaan dan dengan topik yang berbeda; tetapi, mempunyi kesamaan ide, yaitu mengenai hubungan kita, sikap kita, dan keterampilan kita terhadap bahasa itu. Anda tentu bertanya. siapakah yang di maksud dengan kita di sini?. Kita, bisa mencakup siapa saja. Bisa juga hanya sekelompok kita yang memiliki jabatan, tugas, atau profesi yang sama.

Dari artikel-atrikel tersebut tampaknya hingga dewasa ini hubungan kita dengan bahasa tersebut kurang akrab, sikap kita kurang positif, dan keterampilan kita menggunakannya belum memadai. muda-mudahan saja keadaan itu hanya bersifat kasus yang hanya melibatkan sebagian kecil dari kita. Bukan gejala umum yang melibatkan seluruh bangsa indonesia, seperti yang dikemukakan Moeliono (1988c) dan dirisaukan Koenjaraningrat (1992c). Klau kewadaan itu merupakan gejala umum, maka rasanya usaha pembakuan bahasa indonesia masih akan banyak mendapat hambatan. Oleh karena itu, kiranya usaha pembakuan itu harus disertai juga dengan usaha untuk menumbuhan sikap [positif terhadap bahasa itu.

Buku ini juga membahas tentang pentingnya pembakuan dalam memperkuat identitas nasional dan memfasilitasi komunikasi yang efektif di berbagai tingkat masyarakat. Selain itu, buku ini memberikan wawasan tentang bagaimana bahasa Indonesia berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

Buku "Pembakuan Bahasa Indonesia" oleh Abdul Chaer merupakan sumber yang berharga bagi mereka yang ingin memahami proses pembentukan dan pengembangan bahasa Indonesia secara sistematis dan ilmiah.

Abdul Chaer, seorang ahli bahasa Indonesia, menjelaskan konsep bahasa Indonesia baku dengan menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah dan pedoman yang telah ditetapkan. Bahasa baku adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, seperti yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Konsep ini menekankan penggunaan kata-kata yang benar dan sesuai dengan ejaan yang baku, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif dan konsisten di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam karyanya, Abdul Chaer mungkin juga menekankan prinsip-prinsip seperti bahasa yang hemat kata dan tepat makna, yang penting dalam bahasa jurnalistik dan komunikasi formal lainnya. Selain itu, dia mungkin membahas tentang pentingnya bahasa baku dalam menjaga keseragaman dan memperkuat identitas nasional melalui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Namun, untuk detail lebih spesifik tentang bagaimana Abdul Chaer menjelaskan konsep bahasa Indonesia baku dalam buku "Pembakuan Bahasa Indonesia" tahun 1993, perlu merujuk langsung pada buku tersebut atau sumber yang relevan.

catatan pada buku :

Judul buku tersebut sengaja tidak di sebutkan, tetapi ada di daftarkan pada daftar pustaka yang terdapat pada bagian akhir buku.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. yang menjelaskan pada pembaca tentang penggunaan komunikatif grammar untuk percakapan sehari-hari.



Pasti Bisa! Communicative Grammar For Easy Conversation
Penulis: Drs. Abdul Chaer
Editor: -
Penerbit:-
Tempat Terbit: Jakarta, PT Rineka Cipta
Tahun Terbit: 1993
ISBN: 979-518-544-6




MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh : Putri



Buku Manajemen Pendidikan Karakter yang ditulis oleh Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M.Pd., diterbitkan pada tahun 2018 oleh Bumi Aksara. Buku ini memiliki edisi pertama dan merupakan cetakan keenam, dengan total 282 halaman yang dilengkapi ilustrasi. ISBN buku ini adalah 978-602-217-156-0, dan ditujukan untuk pembaca umum, terutama para pendidik dan mahasiswa di bidang pendidikan.

Mengingat sangat pentingnya karakter dalam kehidupan bangsa, dan bernegara; Deng Xiaoping, sejak tahun 1985 telah melakukan reformasi pendidikan dengan memasukkan karakter dalam kurikulum formal, mulai dari jenjang prasekola hingga pergureuan tinggi. Seorang politisi china, Li Lansing (2005) menyatakan pentingnya pendidikan karakter sekbagai berikut, "throughout the reform of educationsystem, it is imperative to bear in mind that reform is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or woman of character and cxultuvating more constructive member of society". Dampak dari upaya pendidikan karakter tersebut, Cina mampu bngkit dari keterpurukan akibat dari revolusi kebudayaan Mao. Pendidikan karakter ini juga di teruskan oleh presiden cina sekarang yaitu Jieng Zemin.  pendidikan karakter ini telah bverhasil membekali seluruh masyarakatnya, baik yang ada di negaranya maupun yang tinggal di negara lain di luar negeri. Bukti kongret dapat kita saksikan dalam dunia bisnis, produk-produk cina hampir menguasai pasar di seluruh dunia, dengan daya saing yang tinggi. Dimekah misalnya, oleh-oleh untuk para jemaah Haji sebagian besar adalah made in china.

Melalui buku manajemen pendidikan karakter ini, saya berharap mampu membangkitkan inspirasi, kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan komitmen para guru dan tenagfa pendidikan khususnya; umumnya bagi bangsa indonesia dalam menempuh kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehngga ke depan, dengan bekal karakter yang kuat, kita dapat menjadi bangsa yang bermartabat, terhormat, disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Buku ini disajikan dengancukup sederhana, dengan maksud agar mudah dipahami dan dipraktikkan oleh para pembaca, khususnya bagi para guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lainnya yang peduli terhadap pendidikan karakter, buku ini dikemas dalam sembiulan bab; yang mencakup pendahuluan, kuynci sukses pendidikan karakter di sekolah, strategi pendidikan karakter, perencanaan pendidikan karakter di sekolah, panduan pembelajaran berkarakter, membangun karakter peserta didik, model pembelajaran berkarakter, sistem penilaian pendidikan karakter, dan diakhiri dengan penutup. Untuk menambvah wawasan dan pemahaman para pembaca, di akhir buku ini juga di lampirkan desain induk pembangun karakter bangsa. 

Subjek Buku

Buku ini berfokus pada pengembangan karakter peserta didik melalui berbagai pendekatan manajemen pendidikan. Beberapa topik yang dibahas dalam buku ini meliputi:

  • Panduan pembelajaran berkarakter

  • Membangun karakter peserta didik

  • Model pembelajaran berkarakter

  • Sistem penilaian pendidikan karakter

Buku ini bertujuan untuk memberikan inspirasi dan pemahaman kepada para guru, pengawas, dan kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan sekolah yang berkarakter.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. yang menjelaskan pada pembaca tentang penggunaan komunikatif grammar untuk percakapan sehari-hari.



Pasti Bisa! Communicative Grammar For Easy Conversation
Penulis: Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M.pd
Editor: Dewi Ispurwanti
Penerbit: Bumi Aksara
Tempat Terbit: Jakarta, Bumi Aksara 2018
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-217-156-0



March 21, 2025

Bahasa Inggris Praktis : Panduan Ke Luar Negeri ( What to Say When You Are Abroad )


oleh Radhi Afriza Gunawan



Buku ini menampilkan petunjuk-petunjuk praktis pemakaian bahasa inggris yang diperlukan sebagai bekal utama acara kunjungan ke negara-negara berbahasa Inggris. Petunjuk-petunjuk praktis tersebut dilengkapi pula dengan catatan mengenai perbedaan yang khas antara kata dan ungkapan British English (Inggris Inggris) dengan American English (Inggris Amerika). 

Buku ini dirancang oleh Sue Lambert sebagai panduan praktis bagi mereka terkhusus para pembaca yang ingin berkomunikasi lebih efektif saat berada di luar negeri, terutama ketika menghadapi situasi-situasi yang memerlukan percakapan sehari-hari. Buku ini memberikan frasa dan ungkapan yang berguna dalam berbagai konteks sosial, seperti di bandara, restoran, atau saat berbelanja, serta tips tentang bagaimana mengatasi kesulitan berbahasa dan beradaptasi dengan budaya yang berbeda. Tujuan utama buku ini adalah untuk membantu pembaca merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi di luar negeri, bahkan jika mereka tidak menguasai bahasa lokal dengan lancar.

Di dalam buku ini terdapat 2 karakter utama yaitu Daniela asal Italia dan John dari Amerika. Mereka adalah dua wisatawan yang berkunjung ke Inggris—antara lain dibandara, memesan kamar di hotel, memesan makanan, bepergian, berbelanja, menukar uang—direkam dalam kaset audio yang melengkapi buku ini, selain dimuat dalam buku ini. Dialog-dialognya realistis dan wajar; serta membantu anda berlatih mendengarkan bahasa Inggris percakapan dan mempraktikkan percakapan itu. Di samping itu dikemukakan pula pelbagai ungkapan-ungkapan penting yang dibutuhkan yang diperlukan untuk wisatawan, sungguh bijaksana untuk membawa buku ini bersama paspor anda.

Setiap unit di buku ini mempunyai bagian yang khusus memberi informasi khas mengenai perjalanan, uang, makan diluar, memberi tip, ukuran, serta topik-topik lain yang bermanfaat. Buku ini dilengkapi dengan kaset audio dan terbagi dalam dua puluh unit yang masing-masing mencakup situasi berbeda. Setiap unit berisi dialog dalam bahasa Inggris, penjelasan kata-kata dan ungkapan, serta informasi praktis mengenai berbagai aspek kehidupan sehari-hari di Inggris.

  • Dialog Utama:

   - Percakapan dalam bahasa Inggris yang alami.

  • Dialog Pendek Lainnya:

   - Ditulis dalam bahasa Inggris yang lebih sederhana, berkaitan dengan topik utama.

  • Key Words and Phrases:

   - Penjelasan kata sulit dan informasi mengenai penggunaan bahasa dalam situasi tertentu.

  • Useful Expressions

   - Pola kalimat penting beserta contoh-contohnya, seperti "I've got...", "I'd like...", dan "Could you...?"

  • Things to Remember:

   - Penjelasan tentang bahasa Inggris yang digunakan sehari-hari, istilah khas Inggris (ukuran, berat, jarak), serta tips hidup di Inggris (seperti makan di luar dan mengemudi).

  • Kaset Audio:

   - Masing-masing unit direkam, dengan jeda untuk melatih pendengaran dan pengulangan kalimat.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. yang bertujuan untuk mempermudah komunikasi antarbudaya, terutama bagi mereka yang bepergian ke negara dengan bahasa yang berbeda.


Bahasa Inggris Praktis : Panduan Ke Luar Negeri ( What to Say When You Are Abroad )
Penulis : Sue Lambert
Editor:  Drs. Th. Nung Atasana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2004
ISBN : 979-403-383-9

March 20, 2025

NEGERI PARA ROH

 Oleh Fatih Izzul Oktafian



Negeri Para Roh Karya Rosi L. Simamora adalah novel yang mengisahkan perjalanan lima kru stasiun televisi yang mengalami kecalakaan di laut Arafuru dan terdampar di wilayah suku Asmat. Novel ini menonjolkan beberapa aspek positif, Antara lain : 
  • Eksplorasi Budaya Asmat: Penulis menggambarkan dengan detail kehidupan sosial dan ritual purba masyarakat Asmat, memberikan wawasan mendalam tentang penghormatan mereka terhadap roh leluhur dan alam sekitar.
  • Pengembangan Karakter yang Mendalam: Setiap tokoh utama mengalami transformasi personal selama perjalanan, menghadapi konflik batin, dan menemukan makna hidup melalui interaksi dengan budaya setempat.
  • Penghormatan terhadap Tradisi dan Alam: Novel ini menekankan pentingnya menghormati tradisi dan alam, serta bagaimana manusia dapat belajar dari kearifan lokal dalam menghadapi tantangan hidup.
  • Melalui elemen-elemen tersebut, Negeri Para Roh tidak hanya menyajikan petualangan yang menegangkan tetapi juga refleksi mendalam tentang kehidupan, budaya, dan spiritualitas

Pada tanggal 6 Juni 2006, lima kru stasiun televisi—Senna, Totopras, Sambudi, Bagus, dan Hara—berangkat dari Agats menuju Timika menggunakan longboat. Di tengah perjalanan, mereka menghadapi badai hebat yang menyebabkan perahu terbalik di Laut Arafuru. Empat dari mereka bertahan dengan bantuan dry box, sementara satu anggota lainnya terpisah dan terseret arus ke arah berbeda.  

Setelah berhasil mencapai daratan, mereka menemukan diri mereka di wilayah suku Asmat. Di sana, mereka belajar dan berinteraksi dengan masyarakat setempat, yang memiliki kehidupan sosial dan budaya yang kaya serta ritual purba yang unik. Mereka menyaksikan bagaimana roh-roh leluhur dihormati dan ditakuti, diabadikan dalam patung-patung ukiran, dan diantar ke dunia abadi di balik tempat matahari terbenam.  

Selama berada di “Negeri Para Roh,” masing-masing anggota kru mengalami perjalanan batin yang mendalam:
Senna belajar melepaskan masa lalunya.
Totopras mengalami pencerahan spiritual.
Sambudi berusaha menyembuhkan luka batinnya.
Bagus mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
Hara menemukan jati dirinya.

Melalui interaksi dengan masyarakat Asmat, mereka menemukan makna hidup yang baru dan memahami pentingnya menghormati tradisi serta alam. Novel ini tidak hanya menggambarkan petualangan fisik tetapi juga perjalanan spiritual dan transformasi pribadi yang mendalam.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di Jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar, yang menggambarkan tentang perjalanan spiritual dan perjuangan manusia dalam menghadapi alam serta tradisi yang sarat makna, di mana budaya dan kepercayaan masyarakat Asmat berpadu untuk menciptakan sebuah kisah yang mengajarkan penghormatan terhadap leluhur, pencarian jati diri, dan keseimbangan antara manusia dan alam.

Penulis: Rosi L. Simamora
Editor: -
Penerjemah : -
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: October 2015
ISBN: 978-602-03-2113-4
 



Pau Pau Rikadong, Sastra Lisan Bugis

 


Judul:                         Pau Pau Ri Kadong, Suatu Tradisi Lisan Sulawesi Selatan

Penulis:                      Nurdin Yusuf, Sherly Asriany, Ridwan.

Editor:                         -

Penerbit:                    Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:              2015

Jumlah Halaman:        x + 358

ISBN:                        9789797697822

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Dongeng sebagai media hiburan dan media pendidikan. Pau Pau Ri Kadong artinya Cerita yang di anggukkan/ di iyakan oleh pendengarnya. Tradisi lisan yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat dituturkan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi berikutnya. Tradisi suku bugis yang harus dilestarikan. Melalui cerita dongeng dalam karya sastra lisan, bisa memahami alam pikiran, perasaan, dan sikap hidup suku bangsa tersebut

Ada 23 judul cerita dongeng, I Tenrigau, La Pagala, La Patunru, La Bungko-Bungko, Si Dungu, Yatim Piatu, Si Curang dan Si Jujur, Buah Delima, Kelelawar, Kerbau Belang, Buaya dan Kerbau, Burung Gelatik, Petani dan Ternaknya, Kesabaran, Perempuan Bijak, Anak Saleh, Rezeki di Tangan Tuhan, Menuntut Ilmu, Nasib di Tangan Tuhan, Asal Mula Peppoq dan Parakang, Wasit Orangtua, Suratan Takdir, Harta Warisan.

Setiap cerita dongeng diakhiri dengan pesan singkat cerita tersebut yang merupakan hikmah atau amanat yang terkandung  dari kisah atau cerita tersebut. Sehingga orang yang menuturkan cerita tidak sekedar menghibur audiensnya atau pendengarnya namun juga memberikan petuah petuah yang bermanfaat untuk mereka dalam menjalani kehidupannya. Dengan kata lain, Pau Pau Rikadong ini memiliki dua fungsi dalam masyarakat yaitu fungsi sebagai media hiburan dan fungsi sebagai media pendidikan.

Alam pikiran masyarakat Bugis dimasa silam dapat diketahui dari berbagai macam contoh cerita yang penuh hikmah dalam buku Pau Pau Rikadong ini. Pesan apa yang ingin disampaikan akan dibuatkan sebuah cerita, kisah atau dongeng dan dari balik kisah itu diselipkan pesan pesan itu dalam bentuk hikmah atau amanat. Dongeng dan cerita yang ada bukan hanya untuk anak anak dan remaja saja, tetapi juga untuk orang dewasa. Sebagaimana kisah pertama dalam buku ini, lebih tepat untuk orang dewasa daripada anak anak.

Kisah kisah yang termuat dalam buku ini semuanya memiliki nilai budaya tradisional Bugis. Nilai budaya tradisional inilah yang harus diwariskan kepada generasi muda sehingga mereka tetap mampu memegang teguh nilai budayanya ditengah gempuran budaya luar yang tidak semua bernilai positif bagi anak muda zaman sekarang.

Buku ini memuat banyak kisah penuh hikmah yang dapat dijadikan pegangan atau rujukan bagi para orangtua atau guru yang ingin mendongeng kepada anak anak atau murid murid atau bahkan kepada teman temannya. Dari ke-23 cerita yang ada, pengkisah atau pendongeng dapat memilih sesuai karakter audiensnya.

Buku ini tidak memuat daftar pustaka yang menjadi bahan rujukan penulisan dan penyusunan buku. Tidak ada pula nama orang yang menjadi sumber cerita atau misalnya orang orang tua yang diwawancarai yang menceritakan dongeng atau kisah ini. Kalaupun sumber cerita berasal dari web atau internet, maka seharusnya tetap dicantumkan link atau tautannya.

Secara umum, buku ini dapat direkomendasikan kepada para guru, orangtua, pendongeng atau siapa saja yang berminat mendalami kisah kisah penuh hikmah dari suku Bugis yang terangkum dalam bentuk sastra lisan “Pau pau Rikadong” ini.   

Buku ini koleksi Layanan Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



March 19, 2025

Catatan Harian Gubernur Makassar 1808

 


Judul:                         Sejarah Sulawesi (History of Celebes)

Penulis:                      Roelof Blok

Penerjemah:               Ahmad Asnawi

Editor:                       Daru Wijayanti

Penerbit:                    Penerbit Indoliterasi

Tahun Terbit:              2021

Jumlah Halaman:        iv + 120

ISBN:                        9786025644085

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia, setiap kali seorang kepala daerah, atau pejabat negara berhenti baik karena pensiun atau pindah tugas, maka diharuskan untuk membuat atau menyusun sebuah laporan atau catatan tentang keadaan daerah yang telah dipimpimnya. Biasanya berupa Memorie van Overgave (memori serah terima jabatan) atau bisa juga berupa catatan  atau agenda harian selama menjadi pemimpin.

Dokumen asli yang menjadi sumber buku ini adalah sebuah dokumen dengan judul “History of The Island of Celebes By Mr. R. Blok, Governor of Maccassar”. Dokumen tersebut diterjemahkan dari dokumen asli berbahasa Belanda kedalam bahasa Inggris oleh Captain J. Von Stubenvoll dan diterbitkan pada Calcutta Gazette Press pada tahun 1817. 

Buku ini merupakan sebuah memoar tentang keadaan dan kepentingan Kompeni di Sulawesi dan tanah jajahannya. Disusun oleh Gubernur Makassar yang akan pensiun pada masa itu yaitu Tuan Roelof Blok (pada catatan lain dituliskan Ralph Blok). Catatan harian ini kemudian diserahkan kepada penggantinya yaitu Tuan Kornelis Sinkelar (Cornelis Sinclaar), Gubernur baru terpilih Makassar pada tahun 1808.

Bagian awal buku adalah Sejarah Sulawesi yang merupakan Laporan Tuan Roelof Blok kepada Pemerintah Hindia Belanda, tentang keadaan kerajaan Bone, Wadjo, Gowa dan kerajaan kecil lainnya di Sulawesi Selatan. Termasuk dalam laporan ini adalah konflik antar kerajaan, pengangkatan raja baru dan lain lain.

Selanjutnya adalah topik utama buku ini yaitu Jurnal Sejarah Sulawesi. Jurnal ini memuat kejadian kejadian terpenting  sejak kedatangan Tuan Blok ke Makassar sampai tahun 1808. Catatan kejadian penting diawali dengan peristiwa tahun 1763. Pada tahun ini dicatat adanya perang antara Bone dan Wadjo dari tahun 1762-1763. Lalu kemudian tidak ada catatan antara tahun 1764-1765. Tahun 1766 dicatat kejadian ditetapkannya Aru Mampu sebagai Putra Mahkota kerajaan Bone. Kekacauan yang terjadi di Kerajaan Gowa karena administrasi yang buruk Perdana Menterinya, dan juga Raja Gowa yang melarikan diri ke Bima.

Kemudian mulai dari tanggal 1 Agustus 1766 dimulai catatan kegiatan dan peristiwa dengan tanggal, bulan dan tahun. Kadang ada hari hari tertentu tidak ada catatan, dan bahkan ada selama satu bulan tidak ada catatan. Tapi ada juga satu hari dengan catatan peristiwa yang cukup panjang. Pada tanggal 27 Juni 1778, catatan peristiwa hari itu sepanjang 4 halaman, mengisahkan pihak pasukan kompeni Belanda menyerang pemberontak (sering juga disebunya Penipu) Sangkilang dan pasukannya, disekitar desa Mallengkeri.

Dalam catatan harian atau jurnal ini, yang banyak disebut namanya antara lain si Penipu Sangkilang, Aru Mampo Gowa, Ratu Tua Aru Palakka, para bangsawan kerajaan Bone, Raja dan bangsawan Gowa dan beberapa peristiwa di kerajaan kecil di Sulawesi (Celebes) bagian selatan.

Sangat menarik membaca buku ini, karena jurnal atau catatan peristiwa yang terjadi ratusan tahun silam seakan akan membawa pembaca kemasa itu, masa pendudukan pasukan Belanda, masa kekuasaan Kompeni, masa ketika banyak orang Eropa yang bermukim di Makassar dan daerah lainnya di Sulawesi.

Namun tidak ada uraian tentang urutan penguasa Belanda atau Gubernur Makassar dalam buku ini. Disebutkan beberapa nama yang menjabat Gubernur Makassar, misalnya nama David Boolen, Roelof Blok, Cornelis Sinclaar, Paul Goodofree Van Der Vort disebutkan pernah menjadi Gubernur Makassar, namun tidak jelas dari dan sampai tahun berapa masa jabatannya.

Buku ini juga merupakan hasil terjemahan tingkat ketiga, yaitu dari aslinya berbahasa Belanda, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris, lalu dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Secara umum, buku ini bisa menjadi rekomendasi bagi para peminat sejarah Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan, terutama sejarah kerajaan kerajaan yang ada di Sulawesi pada pada masa akhir 1700-an dan awal 1800-an.

Buku ini koleksi Pribadi Suharman Musa.




March 12, 2025

Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya di Tanah Bugis

Sejarah adalah kisah tentang perjuangan, kepahlawanan, dan ambisi yang membentuk perjalanan suatu bangsa. Di antara jejak sejarah Nusantara, kisah Arung Palakka menjadi salah satu yang paling menarik sekaligus kontroversial. Ia bukan sekadar seorang pemimpin, tetapi juga seorang tokoh yang mengubah jalannya sejarah Sulawesi Selatan, terutama dalam konflik antara Kerajaan Gowa dan pasukan VOC.

Buku Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya di Tanah Bugis mengisahkan tentang Perjuangan Arung Palakka dalam Perang Makassar pada Tahun 1660-1669 dilalui melalui perjuangan fisik maupun perjuangan non fisik. Perjuangan Arung Palakka dalam Perang Makassar Tahun 1660-1669 yaitu:

  • Menjalin kerjasama dengan Kerajaan Soppeng, Arung Palakka menjalin kerjasama dengan Kerajaan Soppeng karena Arung Palakka memiliki keturunan darah Soppeng dari ayahnya bernama Arung Tana Tengnga putra mahkota Datu Soppeng yang menikah dengan ibunya We Tenri Sui anak dari kakek Arung Palakka bernama La Tenri Rua Raja Bone ke 11. Adanya hubungan kekeluargaan antara Kerajaan Bone dan Soppeng diharapkan Arung Palakka dapat mempermudah untuk bekerjasama. Arung Palakka menjalin kerjasama dengan Datu Soppeng yang bernama La Tenribali, untuk bersama-sama menghadapi Kerajaan Gowa. Menghasilkan sebuah perjanjian yang bernama Pincara Lopie ri Attapang. 
  • Menjalin kerja sama dengan VOC Arung Palakka telah mencoba menjalin kerjasama dengan Kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan, salah satunya dengan Kerajaan Soppeng. tetapi usaha ini masih belum berhasil mengalahkan Kerajaan Gowa. Dikarenakan belum mampu untuk melawan Gowa yang saat itu merupakan kerajaan terkuat dan terbesar di Sulawesi Selatan khususnya dan di Indonesia bagian Timur pada umumnya. VOC pada saat itu dipandang sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menandingi kehebatan Gowa, maka Arung Palakka bekerjasama dengan VOC yang akan membantunya dalam membebaskan Kerajaan Bone-Soppeng dari kekuasaan Gowa dan memulihkan Siri dan Pecce orang-orang Bugis. Keinginan Arung Palakka untuk bekerjasama dengan VOC di sambut baik oleh VOC. Karena VOC ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah yang ada di Pelabuhan Somba Opu, agar niat tersebut berhasil. Akhirnya terjalinlah kerjasama antara Kerajaan Bone dengan VOC bersama-sama menghadapi Kerajaan Gowa, dan 
  • Memimpin Pasukan Bone-Soppeng melawan Gowa dalam Perang Makassar Tahun 1660-1669. Dalam perang Makassar yang terjadi pada tahun 1660, Arung Palakka memimpin pasukan Bone- Soppeng melawan Kerajaan Gowa. Awalnya Arung Palakka dengan pasukannya mengalami kekalahan melawan Kerajaan Gowa. Tetapi ketika Arung Palakka bekerja sama dengan VOC pada tahun 1666 dan terjadilah perang terbuka antara Kerajaan Bone-Soppeng bekerjasama dengan VOC melawan Kerajaan Gowa yang dikenal dengan nama Perang Makassar hingga peperangan ini berakhir pada tahun 1669.
Buku ini merupakan salah satu koleksi iPusnas tentang tokoh pjuang daerah Bone yaitu Arung Palakka yang berhasil membebaskan Kerajaan Bone dari penjajahan yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa. Perjuang tersebut untuk mengangkat harga diri Sare dan Pesse Bugis Bone. Kerjasamanya dengan VOC tidaklah menempatkan dirinya sebagai pengkhianat bangsa Indonesia dalam memerangi Sulta Hasanuddin, karena indonesia baru merdeka tahun 1945.

Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya di Tanah Bugis 
Penulis: Johan Setiawan
Editor: Alfaras Nandika
Penerbit: CV. Jejak, anggota IKAPI
Tempat Terbit: Sukabumi
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-474-925-5


March 8, 2025

Manusia Makassar

 


Judul:                           Manusia Makassar

Penulis:                        Prof. Dr. Hj. Sugira Wahid

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2007

Jumlah Halaman:        ix + 149

ISBN:                            9793570245

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Makassar adalah nama satu suku bangsa di Indonesia dan juga nama daerah atau kota di Sulawesi Selatan, bagian timur Indonesia. Penulis buku ini, Prof. Dr. Hj. Sugira Wahid membahas adat istiadat suku Makassar beserta berbagai permasalahannya. Buku ini sebenarnya mengikuti tren penulisan tentang manusia dari suatu daerah tertentu, diawali dengan buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis, kemudian ada buku Manusia Sunda oleh Ajib Rosidi, dan judul Manusia lainnya.

Buku ini Manusia Makassar, dibagi menjadi 5 bagian, diawali dengan pengantar penerbit dan pengantar dari penulis. Selanjutnya bagian awal ‘Pendahuluan’ menguraikan tentang pengertian, wujud dan isi Kebudayaan, termasuk juga kerangka kebudayaan, peradaban, upacara tradisional, simbol upacara tradisional dan adat istiadat.

Selanjutnya dibahas tentang Makassar sebagai group etnis, juga sebagai nama kerajaan, sebagai ibukota kerajaan, asal Makassar dalam legenda, perkembangan huruf Lontara dan daerah pemukiman dan bahasa Makassar. Dijelaskan pula tentan masyarakat Makassar, kehidupan adat dan feodalisme, dan masyarakat modern.

Nilai budaya Makassar dibahas dalam bagian berikutnya. Diantara pokok bahasan pada bagian ini misalnya hubungan nilai, norma dan sanksi, sumber nilai, perjanjian antar kerajaan, dan nilai nilai Kebudayaannya.  

Terakhir adalah bagian bagian adat istiadat suku Makassar, termasuk rumah adat Makassar, dimana terdapat perbedaan antara rumah bangsawan dan rumah masyarakat biasa. Misalnya bagian Timbaksela yang bersusun, semakin banyak susunan Timbaksela-nya semakin tinggi kebangsawanan pemilik rumah tersebut.

Pada jenis pakaian tradisional yang disebut Baju Bodo’, warna yang digunakan oleh perempuan Makassar mengandung makna tertentu. Dijelaskan pada bagian ini misalnya baju Bodo’ warna hijau hanya dipakai oleh putri putri bangsawan, sedangkan warna merah untuk gadis remaja, merah tua untuk yang telah menikah, ungu untuk janda, hitam untuk yang sudah tua dan putih untuk inang pengasuh. Selain baju bodo’ ada juga yang namanya baju labbu yang jenisnya panjang.

Adat upacara perkawinan orang Makassar juga diuraikan pada bagian akhir buku ini. Adat perkawinan yang dibahas adalah adat perkawinan suku Makassar yang ada di daerah Gowa. Selanjutnya ada sistem kekerabatan orang Makassar, prinsip keturunan, stratifikasi sosial sistem religi, dan juga diberikan contoh pantun pemanggil pengantin yang biasa disebut “Pakkiyo’ Bunting”. Pakkiyo’ Bunting ini digunakan saat mempelai pengantin laki laki datang ke pengantin perempuan. Pihak pengantin perempuan dan pihak pengantin laki laki akan saling berbalas pantun sebelum akhirnya mempertemukan kedua mempelai. Bagian akhir ini ditutup dengan tata cara pengurusan jenazah pada suku Makassar.

Buku ini cukup lengkap membahas tentang suku Makassar dengan adat istiadat dan tradisinya. Bagi orang yang ingin mendalami pengetahuannya tentang suku Makassar, maka buku bisa menjadi rekomendasi. Selain membahas asal usul kota Makassar, juga membahas tentang Lontara, bahasa Makassar, adat istiadat, rumah adat, pakaian tradisional, sistem kekerabatan bahkan sampai pengurusan jenazah.

Kekurangan buku ini adalah kurangnya ulasan atau review dari para pembaca sehingga sehingga sulit mengetahui kekuatan dan kelemahan buku berdasarkan pengalaman dan penilai objektif pembaca. Buku ini juga sulit ditemukan di toko buku, karena diterbitkan dengan jumlah terbatas. Untuk mengaksesnya, pembaca harus ke Perpustakaan daerah atau Perpustakaan Provinsi.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Catatan Kehidupan dan Perjuangan Andi Achmad Rifai

 


Judul:                          80 Tahun AA Rifai, Catatan Kehidupan dan Perjuangan

Penulis:                       Rusman Madjulekka

Editor:                        Zainal Dalle, Hasanuddin hamid & Kiblat Said

Penerbit:                     Intermedia Publishing

Tahun Terbit:               2002

Jumlah Halaman:        xiv + 121

ISBN:                         978967560X

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Pada masa pemerintahan pasca kemerdekaan, daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara adalah satu Provinsi. Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra) pada masa itu adalah A.A. Rifai. Nama lengkapnya adalah Andi Achmad Rifai Manggabarani. Meskipun beliau adalah seorang bangsawan, namun masyarakat umum mengenalnya sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan mau berbaur dan bergaul dengan rakyat dan lingkungan pergaulan sehari harinya. Beliau menjadi Gubernur Sulawesi Selatan Tenggara dari tahun 1960 – 1966.

Penerbitan buku biografi Andi Achmad Rifai ini dalam rangka peringatan hari kelahiran beliau yang ke 80 tahun 2000 lalu. A. A. Rifai lahir di Polewali (sekarang Polewali Mandar) pada tanggal 20 Desember 1920. Menurut penulis buku ini, A. A. Rifai bersama pendahulunya Andi Pangerang Petta Rani dan Lanto Daeng Pasewang adalah “The God Father of Sulawesi Selatan”.

Terbagi menjadi 4 bagian, buku ini diawali dengan ‘sekapur sirih’ dari penulis buku yang mengisahkan proses penyusunan buku dengan melibatkan keluarga terdekat A. A. Rifai yaitu anak dan istri beliau. Selanjutnya pada bagian pertama menguraikan secara ringkas latar belakang keluarga A. A. Rifai, yang merupakan keturunan bangsawan pejuang. Kakeknya adalah Ishak Manggabarani Karaeng Mangeppe. Diungkapkan juga pada bagian ini, bagaimana A. A. Rifai menemukan jodohnya dan bagaimana ayahnya, Andi Pabiluri (Petta Bilu) mendidik anaknya agar menjadi pribadi yang mandiri.

Bagian kedua mengisahkan perjuangan A. A. Rifai di masa Revolusi. Selain itu juga diberitakan tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Presidennya yaitu Tjokorde Gde Raka Soekawati dan penentuan Makassar sebagai ibukota NIT. Sejarah kota Makassar secara ringkas dan keberangkatan A. A. Rifai ke Jawa bersama Andi Mattallatta dan Bachtiar juga dikisahkan pada bagian ini. Ada juga catatan harian A. A. Rifai saat berjuang dengan judul ‘Arti Kata 28 Januari 1945” yang mengisahkan saat beliau bersama 18 orang anggota pasukannya berhasil meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda di pantai Cempa (Barru).  

Pada bagian ketiga ada ulasan tentang terpilihnya A. A. Rifai menjadi Gubernur Sulawesi Selatan & Tenggara, serta Ahmad Arnold Baramuli sebagai Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah. Gaya kepemimpinan beliau selama menjadi Gubernur Sulawesi Selatan Tenggara yang selalu mempercayai stafnya sehingga para mantan bawahan sangat senang dengan gaya kepemimpinan beliau. Setelah selesai menjabat sebagai Gubernur, selanjutnya beliau Perwira Tinggi (PATI) pada Markas Besar Angkatan Darat (MABAD), lalu kemudian menjadi Anggota MPRS/DPR-GR selama 1 periode.

Bagian akhir diisi dengan puisi puisi karya A. A. Rifai selama masa perjuangan kemerdekaan dan dokumentasi foto foto keluarga.

Buku sangat informatif karena mengupas tuntas perjalanan hidup dan perjuangan A. A. Rifai baik sebagai pejuang revolusi kemerdekaan juga sebagai seorang pejabat Gubernur Sulawesi Selatan & Tenggara.

Yang masih perlu ditambah adalah dokumentasi foto ketika beliau menjabar sebagai Gubernur. Dalam buku ini hanya 1 foto beliau sebagai Gubernur. Tidak ada ulasan dari pembaca, dan tidak ada testimoni dari tokoh tokoh yang pernah berinteraksi dengan beliau sebagaimana buku biografi pada umumnya.

Buku ini koleksi Referensi pada Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Asal Usul Raja Raja Pertama di Sulawesi Selatan

 


Judul:                          Asal Usul Raja Raja Pertama di Sulawesi Selatan

Penulis:                       Tim Aksara     

Editor:                        Drs. H. Nonci, S.P.

Penerbit:                     CV Aksara

Tahun Terbit:               -

Jumlah Halaman:        iv + 76

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah sehingga perpustakaan sekolah dapat diberdayakan dalam rangka peningkatan pemahaman anak sekolah terhadap koleksi muatan lokal. Penulis buku ini adalah Tim Aksara dan editornya adalah Drs. H. Nonci, S.P., yang juga banyak menulis buku bermuatan lokal Sulawesi Selatan.

Buku ini disusun dalam 4 bab diawali dengan Pendahuluan dimana berbagai topik diulas dengan ringkas. Topik pertama adalah ‘Sianre Bale’ yang merujuk pada istilah hukum rimba dalam bahasa Bugis, dimana yang kuat yang berkuasa. Keadaan ini terjadi dimasa silam dalam kehidupan orang Bugis. Diungkapkan pula pada bagian ini, hasil penelitian H.R. Von Heekeren mengenai fosil vertebrata di Lilirilau, Soppeng pada tahun 1968 dan 1970.

Selanjutnya diuraikan tentang asal usul raja raja di Sulawesi Selatan yang berasal dari To Manurung. Meskipun judulnya Asal Usul Raja Pertama di Sulawesi Selatan, namun dalam buku ini hanya mengulas tiga daerah yaitu asal usul raja pertama di Gowa, Bone dan Soppeng.

Bagian kedua atau bab kedua membahas tentang ‘To Manurung’ di Gowa. To Manurung adalah istilah untuk manusia titisan dewa atau manusia setengah dewa dimasa lampau yang kemudian oleh masyarakat setempat, diwakili oleh dewan adat, dijadikan pemimpin atau raja. Diuraikan pula disini keadaan Gowa pada masa sebelum datangnya To Manurung, kemudian masa datangnya To Manurung dan tentang Batara Manurung. Pada bagian ini juga di uraikan secara lengkap silsilah raja Gowa mulai dari To Manurung sampai Sultan Hasanuddin,  lengkap dengan nama nama anak dan istri mereka.

Selanjutnya bagian yang membahas To Manurung di Bone. Diawali dengan pembahasan masa masa sebelum datangnya To Manurung. Pada masa itu dibagi dalam 2 periode atau zaman yaitu zaman La Galigo dan zaman Peralihan. Masa masa datangnya To Manurung, dan terbentuknya 7 kelompok atau wanua yaitu: Wanua Ujung, Wanua Tibojong, Wanua Ta’, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tenete Riawang, Wanua Ponceng dan Wanua Macege. Ketujuh pemimpin kelompok ini tergabung dalam Dewan Ade Pitue.

Diuraikan pula struktur pemerintahan kerajaan Bone dimana ada Raja yang disebut juga MangkauE (raja yang berkuasa dan duduk di atas tahta kerjaan), ada To Marilalang atau orang dalam atau sama dengan Perdana Menteri diera moderen sekarang ini. Setelah To Marilalang, berturut turut ada Anggota Hadat, Jemma Tongeng, Anrong Guru Anak Karaeng, Tomalompona Towangke, Anrong Guru Pukalawing Epu, Suro (Suro SeppuloEdua), Parennung, Juru Bahasa, dan terakhir Juru Tulis.

Bagian terakhir adalah To Manurung di Soppeng. Sama seperti bagian bagian sebelumnya, diawali dengan masa masa sebelum datangnya To Manurung, dan masa datangnya To Manurung. Ada yang menarik disini, menurut penulis buku, bahwa kata Soppeng berasal dari penggabungan dua kata yaitu Sosso dan Lappeng yang akhirnya menjadi Soppeng.

Buku ini cukup informatif menguraikan tentang asal usul raja pertama di 3 kerajaan di Sulawesi Selatan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. Masa datangnya To Manurung dan masa pemerintahan raja setelahnya.

Namun ada juga kekurangannya yaitu, meskipun disebutkan Sulawesi Selatan, namun hanya 3 daerah yang diulas. Bahkan kerajaan Wajo, Luwu, dan kerajaan lainnya tidak dibahas sama sekali. Mungkin karena kerajaan lain tidak mengawali kepemimpinannya dengan To Manurung?

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.