November 30, 2020

Profil Raja Raja Gowa

 

Judul : Profil Raja Raja Gowa

Penulis : Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam, Rosdiana Z.

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2008

Jumlah Halaman : viii + 94

ISBN : 979-3570-54-7

Kerajaan Gowa adalah kerajaan terbesar di Nusantara bagian timur pada zaman dulu. Daerah kekuasaannya bahkan sampai ke Kutai, Mindanao (Philipina sekarang), Sumbawa dan pulau Marege di Australia bagian utara. Sepanjang masa kejayaan kerajaan Gowa, telah silih berganti para pemimpinnya, raja raja yang pernah memerintahnya. Ada yang terkenal, namun ada pula yang tidak begitu dikenal. Ada yang dapat ditulis biografi kehidupannya sampai beberapa buku, namun ada pula yang bahkan tidak ada informasi berarti yang dapat diungkap. Buku ini berusaha merangkum profil para raja Gowa yang pernah berkuasa, sejak awal berdirinya sampai berakhirnya masa kerajaan dengan bergabungnya kerajaan dan kesultanan kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam buku ini ada 36 raja yang pernah memerintah di kerajaan Gowa. Hanya ada satu perempuan yaitu raja (ratu) pertama yaitu Tumanurung Bainea. Selanjutnya raja kedua sampai raja terakhir semua laki laki. Adapun susunan nama nama Raja yang pernah memerintah kerajaan Gowa adalah sebagai berikut:

1.      Raja Gowa I                 Tumanurung Bainea

2.      Raja Gowa II                Tumasalangga Baraya

3.      Raja Gowa III               I Puang Loe Lembang

4.      Raja Gowa IV             I Tuniata Banri

5.      Raja Gowa V               Kalampang Ri Gowa

6.      Raja Gowa VI              Tunatangkalopi

7.      Raja Gowa VII             Batara Gowa

8.      Raja Gowa VIII                        I Pakere’ Tau

9.      Raja Gowa IX               Karaeng Tu’mapa’risi Kallonna

10.  Raja Gowa X                Karaeng Tunipallangga Ulaweng

11.  Raja Gowa XI               I Taji Barani Daeng Marompa

12.  Raja Gowa XII              I Manggorai Daeng Mammeta

13.  Raja Gowa XIII             I Tepu Karaeng Daeng Parabbung

14.  Raja Gowa XIV                        I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin

15.  Raja Gowa XV             Sultan Malikussaid

16.  Raja Gowa XVI                        I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin

17.  Raja Gowa XVII           I Mappasomba Daeng Nguraga

18.  Raja Gowa XVIII          I Mappaossong Daeng Mangewai

19.  Raja Gowa XIX             I Mappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil

20.  Raja Gowa XX              La Pareppa To Sappewalie

21.  Raja Gowa XXI             I Mappaurangi Sultan Sirajuddin

22.  Raja Gowa XXII            Sultan Najamuddin

23.  Raja Gowa XXIII           Sultan Sirajuddin

24.  Raja Gowa XXIV          I Mallawagau Karaeng Bontolangkasa

25.  Raja Gowa XXV           I Mappababbasa Sultan Abdul Quddus

26.  Raja Gowa XXVI          Batara Gowa II

27.  Raja Gowa XXVII         Malisujawa Daeng Riboko

28.  Raja Gowa XXVIII        I Temmassongeng Karaeng Katangka

29.  Rajna Gowa XXIX         I Mannawari Karaeng Bontolangkasa

30.  Raja Gowa XXX            I Mappatunru Karaeng Lembang Parang

31.  Raja Gowa XXXI           La Oddang Riu Karaeng Katangka

32.  Raja Gowa XXXII          I Kumala Sultan  Abdul Kadir Muhammad Aidit

33.  Raja Gowa XXXIII         I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka

34.  Raja Gowa XXXIV        I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang

35.  Raja Gowa XXXV         I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo

36.  Raja Gowa XXXVI        Andi Idjo Karaeng Lalolang

Sebagai penutup, ada Daftar Kutipan yaitu sumber sumber informasi yang dikutip oleh penulis dalam penyusunan buku ini. Kemudian Daftar Pustaka, yaitu bahan rujukan yang digunakan oleh penulis dan terakhir Tentang Penulis, yaitu biodata Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam, dan Rosdiana Z.

Buku ini sangat penting untuk dijadikan bahan rujukan dalam penulisan atau penelitian tentang kerajaan Gowa khususnya atau kerajaan kerajaan lain di Sulawesi Selatan pada umumnya.

Koleksi Referensi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.                                                                                                                                                                                                                                                                 


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

 

 

HM. YASIN LIMPO DALAM KANCAH REVOLUSI KEMERDEKAAN

Menelusuri jejak leluhur HM. Yasin Limpo berdasarkan investigasi beberapa tokoh masyarakat dan budayawan, ternyata leluhur beliau berasal dari akumulasi tiga kerajaan di bagian selatan Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan Laikang, Punaga dan Pattoppakang (ketiga bekas kerajaan ini masuk dalam wilayah Kabupaten Takalar, dimana pada masa kerajaan silam masuk dalam wilayah Kerajaan Gowa). Ketiga kerajaan itu terkenal dengan "Tree in One" karena pada masa Belanda ketika kerajaan ini pernah dilebur menjadi satu kerajaan yakni dengan nama Kerajaan Laikang dan Pattoppakkang dijadikan sebagai ibukota kerajaan. Menyangkut leluhur HM Yasin Limpo, beliau berasal dari akumulasi tiga kerajaan tersebut masih punya hubungan dengan Sultan Hasanuddin. 

HM Yasin Limpo pada masa revolusi silam, mendirikan sebuah organisasi intelijen atau mata-mata yang disebut PARRIS (Pasukan Rahasia Republik Indonesia Sulawesi). Selaku pimpinan, ia terkenal dengan julukan pimpinan pasukan Garudaya. Garuda merupakan lambang kejantanan para pejuang yang bisa terbang cepat kesana kemari memberi informasi pada pejuang lainnya dalam setiap pergerakan musuh.

Selaku pimpinan PARRIS, Yasin Limpo bukan hanya bekerja untuk anggotanya, tapi juga organisasi pejuang lainnya, seperti Lipang Bajeng dan seperjuangan dengan Ranggong Daeng Romo, Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng, Makkatang Karaeng Sibali, Mappa Karaeng Temba, Makkaraeng Daeng Manjarungi serta masih banyak pejuang lainnya. Untuk melancarkan tugas-tugas dari pasukan Lipang Bajeng maupun pasukan dari kesatuan kelaskaran lainnya, maka Yasin Limpo membentuk sebuah pasukan rahasia bernama PARRIS. Tugas PARRIS adalah memata-matai dan memberikan informasi kepada pejuang tentang posisi pergerakan musuh.  

Banyak kisah unik Yasin Limpo, diantaranya Yasin Limpo sudah beberapa kali dikepung tentara KNIL maupun Westerling, tetapi ternyata bisa lolos dari kepungan musuh. Ia pernah dikepung, di sebuah rumah penduduk, tetapi untuk mengelabui KNIL, Yasin Limpo kemudian menyamar dengan memakai pakaian perempuan. Ternyata, cara ini sangat ampuh dan Yasin Limpo sempat lolos dari ancaman maut, serta kisah-kisah lainnya yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi generasi kini dan akan datang.

Pergerakan Yasin Limpo di PARRIS telah banyak mengelabui Belanda. Lewat usaha rokok cap Garuda 1001, telah banyak membantu kebutuhan logistik para pejuang termasuk rokok juga dapat menjalin komunikasi antara para pejuang dan pimpinannya.

Selain berkiprah sebagai pejuang dan direkrut menjadi TNI, juga sesuai dengan kebijakan Orde Baru, telah banyak anggota TNI yang dikaryakan di pemerintahan sipil yang tugasnya selaku Kepala Badan Pelaksanaan Harian (BPH) pada Kantor Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra).

Buku HM. YASIN LIMPO DALAM KANCAH REVOLUSI KEMERDEKAAN merupakan riwayat perjuangan revolusi dan lulusan Muallimin Jongaya Makassar, setelah tamat kembali ke kampung halamannya di Barembeng serta mendirikan sebuah masjid dan juga beberapa sekolah dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, Layanan Perpustakaan Umum berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


HM. YASIN LIMPO DALAM KANCAH REVOLUSI KEMERDEKAAN
Penulis: Zainuddin Tika, Adi Suryadi Culla, Hamzah Dg. Temba
Penerbit: Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan kerjasama dengan Madani Publishing
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-14794-5-2

H.M. NATZIR SAID PEJUANG BERJIWA PENDIDIK

H.M. Natzir Said adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan dan masuk tentara. Kiprahnya di dunia pendidikan khususnya di Sulsel. Beliau ikut serta membangun prestasi pendidikan diantaranya menjadi Doktor Hukum pertama di Unhas, GM Perusahaan Negara Budi Bhakti, Presiden Komisaris PT. Bank Pembangunan Daerah Sulsel, Rektor Unhas yang keempat, Pendiri Soksi Sulsel, dan pendiri Universitas Satria Makassar. Selain itu sejumlah buku untuk membangkitkan kesadaran, minat baca, dan kecerdasan orang Sulsel. Buku best seller: Siri' Orang Makassar dan Korban 40.000 di Sulawesi Selatan. 

Tidak banyak yang tahu kalau H.M. Natzir Said pernah mengamankan Cori Van Stephen, istri Kahar Muzakkar, yang terjadi pada tahuan 1960-an. Saat itu Cori yang kelahiran Belanda ini masuk Kota Makassar, ditangkap pihak militer, lalu diserahkan ke Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel M. Yusuf. Enttah bagaimana kebijakan saat itu, yang jelas M. Jusuf tidak memasukkannya ke penjara, justru mempercayai H.M. Natzir sebagai Kapendam, untuk mengamankannya dirumahnya, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.

Di bidang perjuangan kebangsaan bersama Wolter Mongisidi dan Emmy Saelan, Natzir Said memperjuangkan hak-hak kemerdekaan dalam wadah kesatuan Harimau Indonesia. Buku H.M. NATZIR SAID PEJUANG BERJIWA PENDIDIK mengungkap perjalanan hidup tokoh yang rendah hati, yang pantas menyandang citra pejuang kebangsaan, juga termasuk pejuang di bidang pendidikan. Buku ini salah satu koleksi refrensi, layanan perpustakaan umum berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


H.M. NATZIR SAID PEJUANG BERJIWA PENDIDIK 
Editor: Moh. Yahya Mustafa, A. Wanua Tangke, Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
ISBN: 979-3570-09-1


Riwayat Perjuangan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI

 

Judul : Riwayat Perjuangan Sultan Hasanuddin

Penulis : Moh. Alwi Hamu

Penerbit : Bhakti Baru

Kota tempat terbit : Makassar

Tahun Terbit: 1985

Jumlah Halaman : 48

ISBN : -

Tujuan penulisan buku ini menurut penulisnya adalah untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda, sebagai pelanjut perjuangan bangsa. Buku ini merupakan serangkaian buku seri Tokoh Perjuangan Nasional. Sultan Hasanuddin adalah seorang tokoh perjuangan bangsa Indonesia dari Sulawesi Selatan yaitu kerajaan Gowa. Beliau adalah raja Gowa ke-16 dan memerintah dikerajaan Gowa dari tahun 1653-1699.

Buku ini cukup detail mengisahkan kisah kehidupan Sultan Hasanuddin, mulai dari lahir sampai turun tahta dan wafatnya. Meskipun tipis, namun buku ringkas ini cukup lengkap. Buku ini dibagi dalam 12 bagian dan diawali dengan Pendahuluan. Adapun urutan bagian bagian pada buku ini sebagai berikut:

1.      Pendahuluan

2.      Lahir dan Remaja

3.      Dinobatkan menjadi Raja Gowa

4.      Masa Jaya Kerajaan Gowa

5.      Awal Masa Perang

6.      Benteng Pertahanan

7.      Masa Perang Perlawanan

8.      Politik Memecah Belah

9.      Perang Terbuka Diumumkan

10.  Perang Menentukan

11.  Perang Terakhir

12.  Turun Tahta dan Wafat.

Buku ini yang paling ringkas yang membahas tentang Sultan Hasanuddin. Bagi siswa atau mahasiswa atau siapa saja yang tertarik membaca kisah Sultan Hasanuddin yang ringkas, maka buku inilah yang dibutuhkan.

Koleksi Referensi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.




HIKAYAT TO SALAMA' DI BENUANG

To Salama di Benuang atau Syekh Abdurrahim Kamaluddin makamnya terletak di Desa Ammassanga kecamatan Pelewali Kabupaten Polmas Provinsi Sulawesi Selatan. Makam itu dikenal oleh masyarakat Mandar dan Bugis di sana: "Tosalamaeé. Kalau disebut secara lengkap "Tosalama' Tuan di Benuang"atau Tosalamaé ri Benuang.

Batu nisannya bentuknya mirip dengan sorban di kepala. Berlubang ke bawah seperti berongga. Pengunjung biasanya memasukkan tangan dan memancangkan lidi di dalam yang sudah diukur dengan jengkal mereka masing-masing.

Setelah berselang beberapa menit kemudian, lidi tersebut diambil dan diukur dengan jengkal tangannya tadi. Kalau ternyata lidi itu berubah dengan bertambah panjang, mereka menganggap bahwa permohonan dikabulkan Tuhan. (Dahulu, disekeliling lokasi makam itu terdapat beberapa rumpun pohon bambu, sehingga memudahkan memperoleh lidi bambu untuk dipancang).

Mubaligh yang kedua nisannya terpancang sebelah selatan dari nisan Tosalama' tadi, yaitu Syekh Al Magribi. Nisannya agak pendek warnanya hitam pekat. Dan muballigh yang ketiga, ialah Syekh Al Ma'ruf. Nisannya terpancang sebelah Barat dari nisan Syekh Al Magribi. Warnanya putih kabur dan lebih tinggi du akli dari nisan hitam pekat itu.

Papan-papan dinding dan tiang-tiang dari batu itu masih tinggal merupakan pragmen atau keping-kepingan. Menurut berita Mimbar Karya dalam tahun delapan puluhan, bahwa ulah dari sekelompok kecil anggota masyarakat Polewali/Benuang yang tidak simpatik keberadaan Makam itu, tiang dan dinding pengaman makam dibanting sampai patah-patah dan melemparkan nisan Tuan di Benuang kelaut. Menurut keterangan masyarakat di Pulo Tangnga dan sekitar Amessangan, memberikan keterangan bahwa batu nisan Tosalama' itu kembali ketempatnya semula tanpa ada orang yang mengembalikannya.

Rupanya ke tiga Mubaligh bersahabat itu kembali bersatu dalam satu makam yakni di Pulo Tangnga. Ketiganya bermakam sendiri tanpa dimakamkan oleh anggota masyarakat. Dari ketiga Mubaligh besar itu Syekh Abdurrahim Kamaluddinlah yang menjadi tokoh sentralnya.

Buku KISAH SYEKH ABDURRAHIM KAMALUDDIN Alias TOSALAMA' TUAN DI BENUA PENGANJUR AGAMA ISLAM DI MANDAR membahas tentang To Salama di Binuang atau Syekh Abdurrahim Kamaluddin adalah seorang Waliyullah yang pernah hidup di tanah Mandar pada abad XV seperti wali-wali Allah di wilayah lain, Beliau juga menyiarkan agama Islam di wilayah Binuang yang pada waktu itu diperintahkan oleh Raja IV Sipajollangi.


KISAH SYEKH ABDURRAHIM KAMALUDDIN Alias 
TOSALAMA' TUAN DI BENUA 
PENGANJUR AGAMA ISLAM DI MANDAR 
Penulis: M.T. Azis Syah
Penerbit: Yayasan Makam Tosalama'Tuan di Benuang Pusat Polmas
Tahun Terbit: 1994





Biografi Pahlawan Sultan Hasanuddin


Judul : Biografi Pahlawan Sultan Hasanuddin

Penulis : drs. H. Nonci, S.Pd.

Penerbit : CV. Aksara

Tempat terbit : Makassar

Tahun Terbit : -

Jumlah Halaman : 78

ISBN : -

Kerajaan Gowa termasuk salah satu kerajaan besar di Nusantara sejak ratusan tahun silam. Tahun 2020 ini Gowa telah merayakan hari jadinya yang ke-700. Perjalanan sejarah yang panjang itu telah melahirkan banyak tokoh terkemuka, seperti raja raja Gowa, intelektual Gowa misalnya Karaeng Pattingalloang atau tokoh agama dan ulama besar yang juga pahlawan Nasional, Syech Yusuf. Sementara itu diantara puluhan raja yang pernah memerintah kerajaan Gowa, nama Sultan Hasanuddin yang paling terkenal dan juga menjadi Pahlawan Nasional Indonesia asal Sulawesi Selatan. Beliaulah yang paling gigih menentang penjajah Belanda dan diberi julukan “De Haantjes Van Het OOsten” atau “Ayam Jantan dari Timur”.

Buku ini terdiri dari 4 bab dan diawali dengan Prakata dari penulis dan kemudian dilanjutkan bab pertama yang membahas tentang Sejarah Ringkas Kerajaan Gowa. Disebutkan bahwa sebelum Tumanurung muncul yang dipercaya sebagai raja pertama Gowa, telah ada sebelumnya 9 pemerintahan otonom yang disebut Bate Salapang yang merupakan gabungan atau federasi 9 kerajaan yaitu Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Sero. Pada bagian ini juga dikisahkan tentang kejatuhan Melaka ketangan Postugis yang menyebabkan banyaknya orang Melayu merantau sampai ke Makassar atau Gowa.

Bab kedua tentang Lahirnya Sultan Hasanuddin. Bab ini membahas tentang kelahiran Sultan Hasanuddin, nama kedua orangtuanya, status perkawinannya, tahun tahun beliau berkuasa sebagai Raja Gowa ke-16, kedua istri dan kesepuluh anak anaknya, serta hubungannya dengan Karaeng Pattingalloang dan juga konflik yang terjadi dengan Arung Palakka.

Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin dibahas pada bab ketiga. Diawali dengan suasana Istana Kerajaan Gowa saat penobatan Sultan Hasanuddin, selanjutnya konflik konflik yang terjadi antara Belanda dan Gowa. Sosok Karaeng Pattingalloang dan putranya Karaeng Karunrung juga dibahas pada bab ini. Kesepakatan antara Belanda dan Gowa, perjanjian perjanjian yang dilakukan dan juga perang yang terjadi sesudahnya juga diuraikan disini. Pemberontakan orang orang Bone yang waktu itu dibawa kekuasaan Gowa, serta perang dengan Arung Palakka dibahas pada bagian akhir bab ini. Kekacauan di kerjaan Gowa akibat konflik dengan Arung Palakka dan Belanda dan menyusul kekalahan Gowa  serta adanya perjanjian Bungayya menutup bab ketiga ini.

Bab terakhir tentang Sultan Hasanuddin Turun Tahta. Akibat kekalahan dari Belanda dan ditandatanganinya perjanjian Bungayya, Sultan Hasanuddin akhirnya mengundurkan diri dari tahta kerajaan Gowa. Beliau digantikan oleh putranya yang masih sangat muda sehingga pemerintahan dijalankan oleh Karaeng Tumenanga Ripassiringanna.

Buku ringkas ini cukup lengkap membahas tentang kehidupan Sultan Hasanuddin, baik kehidupan pribadinya maupun kehidupannya sebagai seorang raja dan penguasa Gowa. Sayang sekali karena begitu banyak kesalahan ketik (typo) pada buku ini yang terasa mengganggu.

Koleksi Referensi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.  



November 27, 2020

TRAGEDI PATRIOT & PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR


"Sedjak masa ketjil saja tidak pernah ditundukkan oleh lawab-lawan saja dalam perkelahian dan sedjak dewasa saja tidak pernah mendjadi "Pak Toeroet"pendapat seseorang di luar adjaran Islam".

Kalimat di atas merupakan penilaian tentang diri Kahar Muzakkar dari temannya. Dalam kancah senjata, nama Kahar Muzakkar memang dikenal cenderung antagonis. Tokoh Islam garis keras, pemberontak yang tak pernah mau mengalah, provakator, dan sisi buruk lainnya.

Akan tetapi, walaupun dikenal sebagai sosol antagonis, bukan berarti Kahar Muzakkar tidak memiliki sisi lain. Beberapa orang yang mengenalnya menyatakan kalau pemberontakan yang dilakukan merupakan perjuangan (memberontak RI) atas kepentingan rakyat. Bukan kekuasaan. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dibenci bukan orang Jawa secara keseluruhan, tetapi Jawa yang komunis.

Tidak saja orang-orang yang mencoba menggambarkan dirinya. Dirinya sendiri juga mencoba ikut menggambarkannya dalam Tjatjatan Bathin Pedjoang Islam Revolusioner dengan mengeja namanya. Abdul artinya "hamba", Kahar artinya "Tuhan yang gagah perkasa, dan Muzakkar artinya "jantan". Jadi, Abdul Kahar Muzakkar berarti "Hamba Tuhan yng gagah perkasa dan jantan", demikian tulisannya. 

Darul Islam, ataupun Tentara Islam Indonesia, Negara Islam Indonesia, kesemuanya tidak lepas dari Kahar Muzakkar. Namun juga tak adil bila hanya Kahar Muzakkar ditonjolkan dengan Darul Islam, seperti tudingan pemerintah Indonesia, sebagai sebuah pemberontakan.

Sebuah pemberontakan bukanlah semata menyangkut pertentangan ideologi negara. Melainkan juga pertentangan peranan dan susunan kemiliteran, serta sebuah rezim pemerintahan. Selain itu juga karena perkembangan atau dinamika sosial ekonomi di daerah luar pemerintahan pusat. Sebagimana yang meletusnya pemberontakan Kahar Muzakkar, semua itu meletuskan agaknya memiliki peran sendiri dan tentu pula saling pengaruh. Maka itulah yang menggaris tebal sebuah pemberontakan yang mengantarkan Kahar Muzakkar dari seorang patriot Republik Indonesia ke pemberontak Republik Indonesia.

Buku TRAGEDI PATRIOT & PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR berupaya menggambarkan sosok Kahar Muzakkar seutuhnya. Baik yang dikenal dari sisi kontroversialnya maupun yang sisi lainnya. Buku ini merupakan koleksi digital, koleksi deposit dan koleksi refrensi Layanan Perpustakaan Umum.


TRAGEDI PATRIOT & PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR 
Penulis: Syafaruddin Usman MHD
Penyunting: Ari Pranowo
Penerbit: Narasi
Tempat Terbit: 2010
ISBN: 978-979-168-190-2


November 26, 2020

JEJAK KAKI WOLTER MONGISIDI



Robert Wolter Monginsidi adalah tokoh pejuang, dalam kamus hidupnya sejak kecil, dia tidak kenal istilah "tidak tahu". Nama panggilan kesayagan dirumahnya ialah Bote, dari Bahasa Bantik yang artinya "mari". Bote menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Jepang dengan baik. 

Wolter menjadi salah satu orang yang ikut dalam pembentukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Meskipun masih muda, keberanian dan kemampuan sudah teruji. Monginsidi tidak kenal takut dan menyerah melawan Belanda yang bersenjatakan lebih canggih. Ia seorang pemuda pemberani, teguh iman, disiplin, dan baik hati. Juga dia seorang berjiwa seni seperti hanya Bung Karno. Ia pernah menulis sejumlah sajak. Sajak-sajak tersebut menyajikan konflik batin yang hebat, perjuangan jiwa saat menanti eksekusi; sajak-sajak religius serta sajak-sajak perjuangan yang penuh api kehidupan.

Dalam hal sikap hidup dan kepribadiannya, lebih terlihat nyata pada saat dia berada dalam penjara Belanda guna menantikan eksekusinya. Ia tidak mau meminta grasi dan ampun, bahkan dengan gagah menulis surat-surat kepada saudara-saudaranya, yang isinya memastikan tekadnya bahwa ia dengan rela dan akan dengan tabah menerima hukumannya. Dalam Alkitab yang digenggam saat menghadapi eksekusi regu tembak, terselip secarik kertas bertulis “Setia Hingga Akhir di Dalam Keyakinan

Robert Wolter Monginsidi pun gugur pada usia muda, namun bukan mati sia-sia. Gugur demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia dan mendapat penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana).

Buku JEJAK KAKI WOLTER MONGISIDI disusun berdasarkan pada sebagian besar penelitian lapangan yang mendalam, melalui wawancara yang direkam, dan tulisan yang pernah dimuat surat kabar "Suara Merdeka", Semarang 1978. Buku ini merupakan salah satu koleksi refrensi, Layanan Perpustakaan Umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


JEJAK KAKI WOLTER MONGISIDI
Penulis: S. Sinansari Ecip
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-99-7


Library Services "Perpustakaan Virtual untuk Kuliah Bisnis Sistem Jarak Jauh"

Pendidikan jarak jauh adalah sebuah konsep lama, tetapi mempunyai makna yang baru dengan adanya perkembangan internet dan web. Studi kasus pelayanan perpustakaan untuk bidang pendidikan jarak jauh yang pertama kali terdokumentasikan mungkin terjadi ketika Musa turun dari Gunung Sinai membawa loh batu hukum Allah. Ia membawa tulisan dari Allah, sang guru, kepada para muridnya, orang-orang Israel yang berkumpul di kaki gunung Sinai.

Berawal dari pengalaman seorang pustakawan di Michigan State University yang menunjukkan bahwa akses ke materi perpustakaan tidak dipertimbangkan ketika studi jarak jauh dirancang, pada saat itu para pustakawan ini mengadakan penelitian terhadap fakultas yang sedang menyiapkan kuliah online untuk program master bisnis internasional yang baru, Master of International Business Studies (MIBS). Adapun hasil survey terhadap fakultas memperingatkan pustakawan akan adanya ketidaksesuaian persepsi tentang bagaimana memberikan dukungan perpustakaan kepada kuliah online. 

Sementara itu, Lisa Robinson pada esainya "Peranan perpustakaan pada pendidikan bisnis jarak jauh global" memberikan saran bahwa tanggung jawab pustakawan adalah memastikan peranan perpustakaan dimengerti oleh para pendidik jarak jauh. bagaimana cara kita menjelaskan profesi dan diri kita sendiri berkembang ketika kita mengintegrasikan dukungan teknologi untuk mahasiswa jarak jauh. 

Perpustakaan perlu mengunakan keahlian mereka dalam berkomunikasi dan memasarkan untuk memastikan bahwa kesetaraan akses ke layanan perpustakaan dapat diketahui oleh fakultas dan administrator. 

Buku ini menggali beragam pendekatan para ahli perpustakaan yang telah berusaha memberikan pelayanan perpustakaan untuk para mahasiswa pendidikan bisnis jarak jauh, dan mendiskusikan masalah-masalah yang mereka temui. Buku ini juga menguji standar dan pedoman yang telah dikembangkan untuk mengukur pelayanan-pelayanannya, termasuk studi kasus dari berbagai lembaga dengan menekankan pada kerjasama bidang pendidikan. 


Penulis        : Erta Dewi Kuari

Editor          : Shari Buxbaum

Judul Asli   : Library Services for business students in distance education issues and trends

Penerbit      : Raja Grafindo Persada

ISBN          : 979-3654-12-0

AKAR KENABIAN SAWERIGADING

Sawerigading hingga kini memang masih misterius. Termasuk tempat berdirinya Kerajaan Luwu dahulu kala, masih menjadi tanda tanya. Kerajaan Luwu (Ware) tempat lahirnya Sawerigading, dahulu kala terletak di sekitar Cappa' Salo, karena di daerah itu ada Bulu' PoloE, gunung yang terbelah. Menurut keyakinan masyarakat setempat, gunung itu terbelah waktu Pohon WalenrengngE ditebang untuk dijadikan Perahu oleh Sawerigading. Pohon besar itu tumbang dan jatuh di atas gunung, dan gunung itu terbelah, maka sampai kini gunung itu dinamakan Bulu' PoloE artinya "gunung yang patah".

Buku AKAR KENABIAN SAWERIGADING: Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa dalam Kitab I La Galigo (Sebuah Kajian Hermeneutik) berdasarkan argumentasi dan dasar acuan kuat, penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa Sawerigading memang layak "dicurigai" sebagai seorang nabi. Alasan yang dilontarkan tidak hanya bersumber dari naskah dan cerita lokal seputar Sawerigading, tapi juga dilengkapi dasar acuan dari Al-Qurán.

Buku ini terdiri atas enam Bab. Dalam Bab Satu, mengemukakan kemungkinan Kerajaan Luwu sudah ada sejak abad I Masehi, dan berpengaruh hingga ke India. Berdasarkan dari kenyataan tersebut di atas, dengan mengkompromikan informasi dalam Al-Quran, bahwa pada setiap kaum/bangsa/suku, Allah SWT, telah mengutus nabi/rasul. Yang jadi tanda tanya kemudian, untuk membimbing mereka mengenai Tuhan dan hukum-hukumNya. Maka sudah dapat dipastikan, kepada masyarakat/bangsa/kaum Bugis-Makassar, Allah SWT, telah mengutus seorang nabi/rasul. Yang jadi tanda tanya kemudian, siapakah nabi/rasul yang diperuntukkan Allah SWT bagi kaum Bugis-Makassar itu?

Selanjutnya dalam Bab Dua, memaparkan tentang makna Hermeneutika, Agama dan Kepercayaan sebagai landasan teori.

Bab Tiga, berisi penjelasan tentang eksistensi kenabian dan kerasulan. Disebut dalam Al-Qurán, bahwa Allah SWT telah mengutus kepada setiap golongan dari umat manusia ini seorang nabi dan rasul. Informasi tersebut dapat diperoleh dalam Al-Qurán surah Yunus ayat: 47 sebagai berikut: "Dan kepada setiap golongan, terdapat seorang rasul".

Selanjutnya dalam surat an-Nahl ayat 36, Allah SWT kembali menegaskan; "... Dan sesungguhnya telah Kami bangkitkan kepada setiap umat itu seorang Rasul". Menurut Ibnu Katsir (tanpa tahun: 549), ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT telah mengutus kepada seluruh umat dan masa serta tiap-tiap golongan manusia seorang rasul. Semua rasul itu menyeruh untuk menyembah Allah SWT dan mencegah penyembahan selain Allah.

Pada Bab Empat menjelaskan tentang naskah I La Galigo, proses penyusunan dan penulisan ulang, berikut tokoh-tokoh yang berjasa dalam menuliskan kembali naskah tersebut, serta memberikan pemahaman bahwa kemungkinan besar I La Galigo termasuk salah satu kitab suci, yang diturunkan Allah SWT, kepada kaum Bugis-Makassar. Dugaan tersebut didasarkan atas sejumlah pendapat dan penafsiran kontemporer tentang kitab suci. 

Selanjutnya Bab Lima menampilkan Saweringading, sebagai tokoh yang layak disebut nabi. Hal tersebut didasarkan, karena:

  1. Sawerigading pernah menerima wahyu
  2. Sawerigading pernah berhaji ke Baitullah
  3. Sawerigading mengajarkan Tauhid
  4. Sawerigading hidup jauh sebelum kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul.

Dan ditutup pada Bab Enam, dengan asumsi bahwa Sawerigading memang layak disebut sebagai seorang nabi.

Buku AKAR KENABIAN SAWERIGADING untuk lebih mengenal sosok Sawerigading, secara khusus dan mencoba membedah kepercayaan Bugis-Makassar pra-Islam yang termaktub dalam Kitab I La Galigo. Buku ini merupakan salah satu koleksi refrensi Layanan Perpustakaan umum, yang mendorong pembaca kreatif berfikir (berfikir rasional) dan tidak terjebak dalam sikap rutinitas (berfikir tradisional), sarta mampu menafsirkan secara subyektif dan spekulatif sebuah fenomena sejarah di Sulawesi Selatan melalui pendekatan hermeneutika.


AKAR KENABIAN SAWERIGADING
Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa dalam Kitab I La Galigo 
(Sebuah Kajian Hermeneutik) 
Penulis: A. S. Kambie
Penerbit: Parasufia
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-97779-0-9


 

Biografi Ammana I Wewang, Berjuang Menentang Penjajahan Belanda

Judul : Biografi Ammana Iwewang Berjuang, Menentang Penjajahan Belanda

Penulis : Drs. M. T. Azis Syah

Penerbit : Yayasan P & K Taruna Remaja Pusat Makassar

Tempat terbit : Makassar

Tahun terbit : 1994

Jumlah Halaman : xi + 144 + vii

ISBN : -

I Calo Ammana I Wewang adalah seorang bangsawan dan panglima perang kerajaan Balanipa yang berjuang melawan penjajahan Belanda dan terkenal di daerah Mandar khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Beliau adalah pahlawan lokal Sulawesi Barat dan namanya diabadikan pada sebuah nama jalan di kota Majene dan Tinambung.   

Buku ini membahas tentang perjuangan beliau semasa hidupnya. Penulis membaginya menjadi 6 bab dengan diawali Kata Pengantar tentang bagaimana penulisan suatu biografi, kemudian bab pertama yaitu pendahuluan tentang latar belakang Amman I Wewang, juga pendapat para ahli sejarah tentang sejarah suatu bangsa. Bagian pertama ini juga membahas kepribadian Ammana I Wewang dalam kehidupan sehari harinya sebagai seorang bangsawan, dan hubungannya dengan rakyat di daerahnya.

Pada bab kedua ‘Serba Serbi Sulawesi Selatan’ penulis membahas secara ringkat tentang Sulawesi Selatan pada umumnya dan daerah Mandar khususnya, mulai dari keadaan daerahnya, bentuk pulau Sulawesi,  Sosial Budaya orang Sulawesi Selatan yang umumnya dikenal sebagai pelaut ulung. Pada bagian ini juga dibahas tentang struktur ketata-negaraan, ada persekutuan kelompok kerajaan kerajaan kecil yang dikenal dengan nama “Pitu Babana Binanga” (7 muara sungai) dan “Pitu Ulunna Salu” (7 hulu sungai). Pada bab ini juga dibahas tentang perkembangan kerajaan Balanipa Mandar, wilayah yang masuk didalamnya, anak banua, wilayah persekutuan adat, calon pejabat, stratifikasi sosial, seni dan budaya Mandar.

Selanjutnya bab inti pembahasan buku ini adalah Riwayat Hidup Ammana I Wewang sebagai Raja di kerajaan Alu, dan Panglima Perang kerajaan Balanipa. Masa kanak kanak beliu juga dibahas dibagian ini, masa pendidikan beliau, masa dewasa, persiapan memimpin, menjadi Mara’dia Malolo, dan saat diangkat menjadi Raja di kerajaan Alu.

Bab 4 tentang “Perang Ammana I Wewang”. Semasa hidup beliau, pejajahan Belanda masih berlangsung dihampir semua wilayah nusantara waktu itu. Pada bagian ini, ada pembahasan tentang sebab sebab terjadinya perang, penyiapan pasukan perang, benteng benteng pertahanan yang dipersiapkan, dan usaha usaha yang dipersiapkan Belanda dan jatuhnya Benteng Galung.

Bab 5 membahas tentang  Akhir Perlawanan Bersenjata”. Bagian ini menguraikan bagaimana perjuangan Ammana I Wewang yang akhirnya bisa ditangkap oleh Belanda, kemudian beliau di sidang dan dihukum buang (pengasingang) bersama 9 orang pengikutnya di pulau Belitung, Sumatra. Sebagian lagi pengikutnya ada yang dibuang ke Bali dan pulau lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda waktu itu.

Bab 6 Masa Pergi dan Pulang Dari Pengasingan. Di pulau Belitung tempat pengasingan Ammana I Wewang, pengaruh ketokohannya tidaklah surut. Beliau tetap menjalin hubungan keakraban dengan tokoh masyarakat setempat, sampai beliu tidak merasa diasingkan. Pelaut pelaut Mandar juga selalu datang dan singgah menjenguk beliau di Belitung selama beliau dibuang disitu. Beliau juga sering dimintai nasehat nasehat oleh penduduk setempat. Dikisahkan pula, bahwa beliu sempat menikah di Belitung namun tidak memiliki keturunan.

Beliau dibebaskan oleh tentara Jepang yang berkuasa waktu itu, dan akhirnya pulang ke tanah Mandar kampung halamannya. Beliau dicintai oleh penduduk Belitung sehingga beliau diminta untuk tetap tinggal di Belitung. Beliau diasingkan di pulau Belitung selama 37 tahun dan kepulangannya ke Mandar sangat dielu-elukan oleh rakyat yang mencintainya. Beliau wafat tahun 1967 dan dimakamkan di belakang masjid di Limboro dekat Tinambung Polewali.

Buku ini sangat tepat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian tentang I Calo Ammana I Wewang, sejarah perjuangan rakyat Mandar, atau sejarah perjuangan Sulawesi Baran dan Selatan pada umumnya. Buku koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 


80 TAHUN A A RIFAI



"Kalau kalian suka bohong, pasti suatu saat nanti kalian juga akan dibohongi orang. Dengan kejujuran Insya Allah menjadi modal yang akan menyelamatkanmu. Karena jujur itu ibarat jimat bagimu".   

A A Rifai yang nama lengkapnya Andi Achmad Rifai Manggabarani salah seorang tokoh dan pemimpin masyarakat Sulawesi Selatan yang dikenal luas dan pemimpin masyarakat Sulawesi Selatan yang dikenal luas pada era 1960-an. Bahkan sebagian masyarakat menjuluki salah satu "The God Father" Sulawesi Selatan bersama pendahulunya Lanto Daeng Pasewang dan Andi Pangerang Petta Rani.

Meskipun beliau seorang yang berdarah biru, namun sikap maupun tingkah laku sosial budayanya di masyarakat, cenderung sederhana. Dia dikenal sosok pemimpin yang tidak gemar menonjolkan diri. Itulah sebabnya dia lebih memilih menyingkat gelaran Andi di depan namanya dengan huruf "A" saja, ataupun enggan juga mencantumkan marga keluarga "Manggabarani" di belakang namanya. Dengan begitu, Rifai bisa berbaur dengan rakyat yang dipimpinnya serta lingkungan pergaulannya sehari-hari.

Selama menjadi nakhoda Sulawesi Selatan dan Tenggara (1960-1966) Rifai sangat disiplin dan tegas. Tapi dibalik itu, Rifai senantiasa memperlihatkan keteladanan serta kelembutannya dalam membina aparat, bahkan sangat penyayang jika berada di tengah-tengah masyarakat.

Beliau sempat mengenyam pangkat Mayor Jenderal TNI sebelum wafat, 6 Februari 2001. Selain itu juga menerima berbagai tanda penghargaan dan bintang tanda jasa, antara lain berupa medali Kemerdekaan, Bintang Gerilya, Bintang Sewindu ABRI, medali Sapta Marga, medali Setia Dharma, dan medali Setia Lencana Pembangunan.

Buku 80 TAHUN A A RIFAI: Catatan Kehidupan & Perjuangan, mengisahkan tentang keberadaan sosok seseorang tokoh pejuang dan tokoh masyarakat yang semasa aktif di kedinasan, sangat gigih ikut memperjuangkan dan mempertahankan Kemenderkaan Republik Indonesia. Beliau mampu memberikan sumbangsihnya untuk membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Buku ini juga disertai puisi dan foto kenangan, yang dapat di akses pada koleksi referensi, Layanan Perpustakaan Umum berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang, Makassar.


80 TAHUN A A RIFAI
Catatan Kehidupan & Perjuangan
Penulis/Chief Editor: Rusman Madjulekka
Penerbit: CV Intermedia Kreasi Mandiri
Tempat Terbit: Makassar
TAhun Terbit: 2002
ISBN: 979-96756-0-x