Showing posts with label Abdul Kahar Muzakkar. Show all posts
Showing posts with label Abdul Kahar Muzakkar. Show all posts

October 13, 2021

KAHAR MUZAKKAR MASIH HIDUP (Sebuah Misteri)


Mengorek pembuktian-pembuktian sebagai refleksi masih hidupnya Kahar Muzakkar, memang membuka peluang untuk sebuah keyakinan. Kontroversial yang menyelimuti perjalanan pejuang Islam yang memilih langkah-langkah radikal itu tak akan mungkin hilang. Boleh jadi sejumlah saksi sejarah dari teman-teman Kahar Muzakkar sudah tiada, namun muncul generasi baru yang terus mendengungkan sikap kontroversial tersebut.

Mungkin Kahar Muzakkar sudah meninggal, tapi tidak menutup kemungkinan dia juga masih hidup. Simpulan itu mencuat lantaran adanya sejumlah catatan sejarah yang mengarah ke kedua pilihan tersebut. Pertama, Kahar Muzakkar sudah meninggal. Alasannya, pihak pemerintah Soekarno bersama TNI telah mengumunkan Kahar Muzakkar meninggal terkena peluru di pinggir sungai Lasolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara pada 2 Februari 1965. Peristiwa pengepungan itu dilakukan oleh personil Operasi Kilat di bawah perintah Panglima Kodam XIV, Brigjen TNI M. Jusuf. 

Pejuang Islam kelahiran Kabupaten Luwu itu ditembak oleh seorang prajurit, Kopral Sadeli dari kesatuan Siliwangi. Atas perintah M. Jusuf, sang mayat dinaikkan ke helikopter milik tentara lalu dibawa ke Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Ada juga informasi, mayat yang disebut-sebut Kahar Muzakkar itu sempat diperlihatkan kepada Presiden Soekarno di Jakarta lantaran sang presiden ingin sekali melihat mayat Kahar Muzakkar. Begitulah catatan sejarah yang lahir dari versi pemerintah.

Kedua, Kahar Muzakkar masih hidup. Alasannya, sejak dinyatakan telah meninggal pada trahun 1965 oleh pemerintah, ternyata hingga kini tahun 2001 belum pernah ada satu orang pun yang melihat kuburan Kahar Muzakkar. Bahkan saat dinyatakan telah tertembak, Hj. Corry van Stevanus istri Kahar Muzakkar yang sangat setia mendampingi suaminya di hutan belantara bermaksud melihat langsung mayat Kahar Muzakkar, tidak diizinkan oleh M. Jusuf juga orang-orang dekat ketika berjuang dalam gerakan DI/TII tidak ada yang mengaku pernah melihat mayat Kahar Muzakkar.

Cerita lain muncul berkaitan dengan peristiwa penembakan di pinggir Sungai Lasolo. Katanya, yang tertembak saat itu bukan Kahar Muzakkar, tapi seorang anggota DI/TII yang mirip wajah Kahar Muzakkar.  Strategi itu sudah diatur oleh M. Jusuf dengan Kahar Muzakkar dalam pertemuan khususnya di Bone Pute, sebelum penyerbuan Operasi Kilat digelar di salah satu markas DI/TII di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kolaka.

Informasi tersebut boleh jadi benar lantaran kedekatan M. Jusuf dengan Kahar Muzakkar tidak diragukan. Kedua tokoh asal Sulsel ini dalam banyak kesempatan selalu memperlihatkan sebuah persekutuan yang akrab. Ketika M. Jusuf nikah, Kahar Muzakkar-lah yang menikahkannya. Kahar Muzakkar juga membawa M. Jusuf dari Sulawesi ke tanah Jawa. Hubungan mereka seperti keluarga. Karena itu perundingan tertutupnya di Bone Pute, antah apa simpulannya. Seorang anggota DI/TII mengungkapkan dalam pertemuan itu M. Jusuf menasihati 'saudaranya' Kahar Muzakkar agar meninggalkan negeri ini, sebelum Operasi Kilat digelar di markas DI/TII di Kolaka. Bila ini benar, maka yang tertembak oleh Kopral Sadeli di pinggir sungai Lasolo bukan sosok Kahar Muzakkar. Sebuah strategi penyelamatan.

Buku KAHAR MUZAKKAR MASIH HIDUP (Sebuah Misteri) membahas tentang catatan-catatan penggalan sejarah mengenai Kahar Muzakkar masih hidup dan diamnya Jenderal Jusuf  yang melahirkan sebuah refleksi di kalangan pengikut dan simpatisan perjuangan Kahar Muzakkar yang menjadi dasar keyakinan bahwa Kahar Muzakkar masih hidup. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KAHAR MUZAKKAR MASIH HIDUP (Sebuah Misteri)
Penulis: A.Wanua Tangke
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-96731-1-9

Mengenang Perjuangan Bersama Abdul Qahhar Mudzakkar dan J.W. Gerungan

 

Buku : Mengenang Perjuangan Bersama Abdul Qahhar Mudzakkar dan J.W. Gerungan

Penulis: Jo’Kojongiang

Penerbit: La Galigo Multimedia

Tempat Terbit: Sungguminasa Gowa

Tahun: 2010

Jumlah Halaman: vi + 114

Ukuran: 12,5 x 17,5 cm

ISBN: 978-602-98273-2-3

Satu lagi buku perpustakaan tentang Kahar Muzakkar. Buku ini ditulis langsung oleh mantan pengawal pribadi Abdul Qahhar Mudzakkar, nama lengkap dan resmi dari Kahar Muzakkar. Bukan hanya mengawal Kahar Muzakkar namun juga terhadap beberapa istri beliau. Buku ini tentu lain dari yang lain karena penulisnya terlibat  dan berinteraksi langsung dengan Kahar Muzakkar, baik dalam kehidupan sehari hari beliau maupun dalam urusan pemerintahan dan kemiliteran saat memimpin pertempuran.

Selain Kahar Muzakkar, buku ini juga membahas tentang J.W. Gerungan salah seorang pencetus lahirnya Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957. Nama J.W. Gerungan sendiri tidak begitu dikenal dan tidak banyak dicatat dalam buku buku sejarah perjuangan. Selain sebagai pimpinan Permesta di Sulawesi Tengah, J.W. Gerungan juga pernah menjadi Komandan Resimen ANOA,  sampai akhirnya menjadi Menteri Pertahanan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII).

Karena perjuangan kedua tokoh ini dianggap bertentangan dengan pemerintah Republik Indonesia, akhirnya pemerintah berusah menumpas segala perjuangan mereka. Sampai akhir hayatnya, kedua tokoh ini tidak diketahui dimana jasadnya dikuburkan.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, Kata Pengantar dan Daftar isi pada bagian awal sebelum Bab pertama yaitu Pendahuluan. Pada bagian ini, penulis membahas tentang kepemimpinan Kahar Muzakkar yang kharismatik, juga ketokohan J.W. Gerungan. Penulis menganggap, buku buku tentang Kahar Muzakkar kebanyakan ditulis berdasarkan sumber informasi dari pemerintah, sehingga dengan buku ini, pembaca secara umum akan mendapatkan informasi dari sisi lain kehidupan Kahar Muzakkar dan J.W. Gerungan.

Bab kedua membahas tentang Pasukan Permesta di Sulawesi Tengah dibawah pimpinan J.W. Gerungan. Diawali dengan terbentuknya pasukan Permesta, Resimen Infatri ANOA, saat pasukan Permesta meninggalkan kota Poso. Juga tentan Kapten V.O.P. Sumilat di Ngapu dan saat pasukan Permesta meninggalkan kota Bada. Bab ketiga tentang pertemuan pasukan Permesta dengan DI/TII, perjalanan pasukan Permesta menuju Sulawesi Selatan, penyerangan Pos polisi di Malili, Staf Gabungan Pimpinan Militer Bersama (SPGMB), penghianatan Kapten V.O.P. Sumilat, penyerangan pasukan Permesta oleh Momoc Ansharullah bersama DI/TII di markas Mendula, dan juga pembahasan tentan Mami Cory (panggilan khusus pada salah seorang istri Kahar Muzakkar, yaitu Corry Van Stenus).

Bab IV diuraikan tentang pasukan Permesta setelah di Islamkan, Kahar Muzakkar dan J.W. Gerungan menjadi Dwi-Tunggal Republik Persatuan Islam Indonesia, Kahar Muzakkar meninggalkan Imam Karto Suwiryo, serta saat Kahar Muzakkar menuju Sulawesi Tenggara.

Operasi militer penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar dibahas pada bab V. Selanjutnya keunikan Lompobulo pada bab keenam. Bagian ketujuh kembali dibahas pribadi Kahar Muzakkar yang sangat teguh pada keyakinannya, yang tidak pernah mengutamakan kepentingan keluarganya.  Bagian terakhir masih tentang perjuangan Kahar Muzakkar yang perjuangannya dijiwai oleh ajaran agama Islam, dan perlunya rehabilitasi nama baik Kahar Muzakkar dan J.W. Gerungan.  

Buku koleksi Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




December 8, 2020

Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak


Judul : Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak

Penulis : Anhar Gonggong

Penerbit : Ombak

Tempat terbit : Yogyakarta

Tahun terbit : 2004

Jumlah Halaman : xx + 519

Ukuran : 15 x 21 cm

ISBN : 979-3472-17-0

Banyak buku yang diterbitkan pada awalnya merupakan karya skripsi atau disertasi dari penulisnya saat menempuh pendidikan tinggi. Salah satunya adalah buku ini, yang merupakan karya ilmiah disertasi dari Dr. Anhar Gonggong ketika beliau menyelesaikan program doktornya di Universitas Indonesia. Menurut penulisnya, tema utama buku ini adalah sebuah pertanyaan, ‘mengapa seorang patriot dapat menjadi pemberontak?’ Lewat buku ini, Anhas Gonggong berusaha menjawab pertanyaan tersebut.

Buku setebal 519 halaman ini dibagi menjadi 8 bab, dengan didahului oleh Pengantar Penerbit, Pengantar Penulis (cetatakan pertama), Pengantar Penulis (cetakan kedua), Daftar Isi dan Daftar Tabel. Selanjutnya pada uraian bab pertama diuraikan masalah masalah teori dan metodologi penulisan. Sedangkan bab kedua  dan bab ketiga membahas hal hal yang menyangku keadaan geografi, penduduk dan sosial ekonomi serta keadaan sistem pendidikan yang berkembang pada masa periode berlangsungnya gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Pada bab ketiga juga diuraikan tentang pengaruh budaya Siri na pesse sebagai unsur yang sangat penting dan menentukan dalam tata kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada bab bab selanjutnya diuraikan tentang pasang surut keberlansungan gerakan DI/TII, termasuk lahirnya masalah gerilya setelah kemerdekaan RI, sambutan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap proklamasi, serta bagaimana rakyat berusaha mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda dan Sekutu yang ingin kembali menguasai Sulawesi Selatan, dan Indonesia pada umumnya. Munculnya Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai pemimpin yang disegani oleh para pengikutnya.

Pada bab kelima diuraikan masalah ide Negara Islam di Indonesia yang dirangkai kemudian dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara RI. Tokoh tokoh gerakan DI/TII juga menginginkan Islam dan Pancasila dalam kedudukan sebagai dasar negara.

Pembahasan pokok pada bab keenam yaitu usaha usaha yang pernah dilakukan oleh Pemerintah RI terhadap gerakan pemberontakan yang bertujuan mendidikan Negara Islam Indonesia. Gerakan ini diproklamasikan oleh R.M. Kartosuwirjo di Jawa Barat pada tanggal 7 Agustus 1949. Pemerintah RI berusaha menyelesaikan konflik konlik ini baik melalui jalan damai melalui perundingan, maupun jalan kekerasan senjata melalui operasi militer.

Bab VII membahas tentang berbagai pertentangan pertentangan secara intern antara para pemimpin dan anggota gerakan ini. Sedangkan bab terakhir adalah kesimpulan yang diambil dari uraian uraian peristiwa yang dijabarkan pada bab bab sebelumnya.

Bagian akhir buku ini daftar pustaka dimana berisi kumpulan dokumen, arsip, dan buku buku yang dijadikan bahan rujukan penulisan disertasi/buku dari Anhar Gonggong. Tak lupa juga ada Indeks yang dapat memudahkan pembaca mencari topik topik tertentu dalam buku ini. Terakhir riwayat hidup penulis secara ringkat.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan (Ruang Deposit dan ruang Referensi).




November 27, 2020

TRAGEDI PATRIOT & PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR


"Sedjak masa ketjil saja tidak pernah ditundukkan oleh lawab-lawan saja dalam perkelahian dan sedjak dewasa saja tidak pernah mendjadi "Pak Toeroet"pendapat seseorang di luar adjaran Islam".

Kalimat di atas merupakan penilaian tentang diri Kahar Muzakkar dari temannya. Dalam kancah senjata, nama Kahar Muzakkar memang dikenal cenderung antagonis. Tokoh Islam garis keras, pemberontak yang tak pernah mau mengalah, provakator, dan sisi buruk lainnya.

Akan tetapi, walaupun dikenal sebagai sosol antagonis, bukan berarti Kahar Muzakkar tidak memiliki sisi lain. Beberapa orang yang mengenalnya menyatakan kalau pemberontakan yang dilakukan merupakan perjuangan (memberontak RI) atas kepentingan rakyat. Bukan kekuasaan. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dibenci bukan orang Jawa secara keseluruhan, tetapi Jawa yang komunis.

Tidak saja orang-orang yang mencoba menggambarkan dirinya. Dirinya sendiri juga mencoba ikut menggambarkannya dalam Tjatjatan Bathin Pedjoang Islam Revolusioner dengan mengeja namanya. Abdul artinya "hamba", Kahar artinya "Tuhan yang gagah perkasa, dan Muzakkar artinya "jantan". Jadi, Abdul Kahar Muzakkar berarti "Hamba Tuhan yng gagah perkasa dan jantan", demikian tulisannya. 

Darul Islam, ataupun Tentara Islam Indonesia, Negara Islam Indonesia, kesemuanya tidak lepas dari Kahar Muzakkar. Namun juga tak adil bila hanya Kahar Muzakkar ditonjolkan dengan Darul Islam, seperti tudingan pemerintah Indonesia, sebagai sebuah pemberontakan.

Sebuah pemberontakan bukanlah semata menyangkut pertentangan ideologi negara. Melainkan juga pertentangan peranan dan susunan kemiliteran, serta sebuah rezim pemerintahan. Selain itu juga karena perkembangan atau dinamika sosial ekonomi di daerah luar pemerintahan pusat. Sebagimana yang meletusnya pemberontakan Kahar Muzakkar, semua itu meletuskan agaknya memiliki peran sendiri dan tentu pula saling pengaruh. Maka itulah yang menggaris tebal sebuah pemberontakan yang mengantarkan Kahar Muzakkar dari seorang patriot Republik Indonesia ke pemberontak Republik Indonesia.

Buku TRAGEDI PATRIOT & PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR berupaya menggambarkan sosok Kahar Muzakkar seutuhnya. Baik yang dikenal dari sisi kontroversialnya maupun yang sisi lainnya. Buku ini merupakan koleksi digital, koleksi deposit dan koleksi refrensi Layanan Perpustakaan Umum.


TRAGEDI PATRIOT & PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR 
Penulis: Syafaruddin Usman MHD
Penyunting: Ari Pranowo
Penerbit: Narasi
Tempat Terbit: 2010
ISBN: 978-979-168-190-2


July 14, 2020

KAHAR MUZAKKAR DAN KARTOSOEWIRJO, PAHLAWAN ATAU PEMBERONTAK?!



Berbicara tentang Darul Islam (DI), Tentara Islam Indonesia (TII), atau Negara Islam Indonesia (NII), seperti tidak lepas lepas dari peran Kahar Muzakkar dan Kartosoewirjo. Sebab, kedua sama-sama pendirinya. Kahar Muzakkar pendiri Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia yang memiliki pemikiran ingin membentuk Negara Islam Indonesia. Sementara, Kartosoewirjo adalah pendiri dari ketiganya.

Hasrat untuk membentuk Negara Islam di Indonesia ini bertentangan dengan ideologi Pancasila. Oleh karena itu, mereka banyak ditentang oleh tokoh-tokoh nasional, seperti Soekarno, Muhammad Natsir, Jenderal Sudirman, dan sebagainya.

Sebenarnya, sikap, tindakan, dan orietansi politik Kahar Muzakkar dan Kartosoewirjo mendapat banyak dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Namun, apa yang dilakukan mereka tetap dinyatakan salah, karena ingin memperoklamirkan ideologi Islam sebagai ideologi bangsa, setelah Indonesia sah memproklamirkan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Dari sinilah, muncul banyak desas desus yang menyebut mereka sebagai “pemberontak” yang ingin mengubah ideology bangsa.

Keteguhan perjuangan keduanya semakin terlihat manakala mereka secara terang-terangan melakukan pemberontakan, karena ingin mengubah ideologi bangsa. Mereka banyak merekrut masyarakat untuk menjadi anggota Darul Islam (DI), kemudian membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) sebagai basis tentara, yang nantinya akan digunakan untuk melawan TNI, tentara bangsa Indonesia yang sah.

Usaha-usaha tersebut adalah sebagian kecil dari proses perjuangan mereka untuk mengubah ideologi bangsa dari Pancasila menjadi Negara Islam. Meskipun demikian, diakui maupun tidak, perjuangan mereka cukup merepotkan TNI yang pada saat itu dipimpin oleh mantan presiden Soeharto.

Meskipun mereka berdua dicap sebagai pemberontak, siapa sangka sebenarnya dahulu mereka merupakan pejuang Indonesia. Mereka bahu membahu mengusir penjajah dari negeri ini bersama para pejuang yang lain, seperti Soekarno, Muhammad Natsir, Jenderal Sudirman, dan yang lainnya.

Buku KAHAR MUZAKKAR DAN KARTOSOEWIRJO, PAHLAWAN ATAU PEMBERONTAK?! membahas secara lengkap biografi perjuangan antara Kahar Muzakkar dab Kartosoewirjo dalam memenuhi hasrat mereka membangun-mendirikan Negara Islam di Indonesia. Hingga, pada akhirnya, mereka harus tewas karena ditumpas oleh para tentara nasional bangsa ini. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

KAHAR MUZAKKAR DAN KARTOSOEWIRJO, PAHLAWAN ATAU PEMBERONTAK?!
Penulis: Suwelo Hadiwijoyo
Penerbit: Palapa
Tempat Terbit: Jogyakarta
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-255-258-1

January 29, 2020

Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar




Buku : Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar di Sungai Lasolo
Editor : A. Wanua Tangke & Anwar Nasyaruddin
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2006
Jumlah Halaman : vii + 104
ISBN : 979-3570-18-0

Satu lagi buku yang membahas tentang Kahar Muzakkar (Qahhar Mudzakkar). Diawali dengan catatan Penerbit. Benarkah  Kahar Muzakkar telah meninggal dunia? Kahar Muzakkar  pemimpin DI/TII yang pernah bergerilya di hutan hutan belantara Sulawesi Selatan selama 15 tahun (1950 – 1965) telah menimbulkan mitos itu. Banyak yang beranggapan dan meyakini bahwa Kahar Muzakkar belum meninggal dunia sampai sekarang. Bahkan di group group media sosial seperti di Facebook, seringkali ada anggota group yang berdebat dengan anggota lainnya tentang status kematian Kahar Muzakkar. 


Buku ini dengan judul yang sangat jelas, kisah tertembaknya Kahar Muzakkar di Sungai Lasolo berusaha mengungkap tentang fakta sebenarnya. Diawali dengan kisah Pertemuan Bonepute, antara Kahar Muzakkar dan pasukannya dengan Kolonel Muhammad Yusuf dan rombongan Kodam XIV Hasanuddin. Untuk pelaksanaan pertemuan ini, Kahar Muzakkar mengutus istrinya Corry Van Stenus untuk menemui Kolonel Muhammad Yusuf untuk membicarakan kesediaan Kahar Muzakkar melakukan pertemuan di Bonepute (Luwu). Ada juga sosok Nurdin Pisok, sosok pemberani yang bergabung dengan pasukan DI/TII. Sosok kepercayaan Kahar Muzakkar lainnya yaitu B.S. Baranti yang mengumumkan lewat RRI Seruan kepada ke-34 komandan dan pasukannya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Ada pertemuan antara pasukan TNI dengan pasukan Kahar Muzakkar di kampung Burung-Burung di sebelah timur Sungguminasa. 

Selanjutnya ada pembahasan tentag sosok Andi Selle Mattola, dan operasi penumpasan pemberontakan DI/TII di wilayah Sulawesi Selatan. Operasi Kilat penumpasan Gerakan DI/TII ada dua, yaitu Operasi Tekad I untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Operasi Tekad II untuk wilayah Sulawesi Tenggara. Operasi pencarian jejak Kahar Muzakkar di sekitar Gunung Latimojong. Ada beberapa pasukan Kahar Muzakkar yang ditangkap dan diinterogasi namun tetap saja informasi tentang keberadaan Kahar Muzakkar tidak didapatkan.


Jejak persembunyian Kahar Muzakkar mulai tercium oleh pasukan TNI pada tahun 1964. Kahar Muzakkar memisahkan diri dan pasukannya dari istrinya Corry Van stenus bersama anaknya Abdullah. Di puncak bukit Kambiasu, Sulawesi Tenggara mereka berpisah. Kemudian seorang petinggi DI/TII bernama Djunaed Suleman menyerahkan diri di daerah Pakue, dekat Sua-Sua.
Kisah pengejaran Kahar Muzakkar berlanjut sampai ke tepian sungai Lasolo, dan ditempat inilah akhir dari pengejaran itu. Angota Pasukan TNI yang bernama Kopral Sadeli yang berhasil menembak mati Kahar Muzakkar ditepian sungai Lasolo dekat dari gubuk gubuk pasukan DI/TII. 

Kisah selanjutnya bisa anda baca pada bagian terakhir buku ini. Buku ini dapat and abaca dan pinjam di Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang DPK Sulsel di Sungguminasa. 





January 14, 2020

Abdul Qahhar Mudzakkar



Profil Abdul Qahhar Mudzakkar, Patriot Pejuang Kemerdekaan RI dan Syahid NII/TII
Buku ini adalah buku terlengkap yang membahas tentang Abdul Qahhar Mudzakkar yang pernah saya baca. Buku setebal 844 halaman ini ditulis oleh Erli Aqamuz (Siti Maesaroh) putri Abdul Qahhar Mudzakkar (AQM) dari istri pertamanya Hj. Erlina Anwar (Siti Walinah). Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Al Abrar, Ciputat, Tangerang, Banten 2007, dengan nomor ISBN 978-979-15970-0-5.

Terdiri atas 11 bab (bagian) dimana pada bagian pertama dikisahkan tentang latar belakang AQM, awal perjalanan karir, saat menjadi korban KNIL dan Konferensi Meja Bundar. Selanjutnya pembahasan tentang Sulawesi pada masa masa revolusi kemerdekaan, tokoh tokoh gerilya Sulawesi, ekspedisi TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi), proses penghancuran KGSS (Komando Gerilya Sulawesi Selatan). Bagian lainnya dibahas tentang tentara republik secara umum, persitiwa 11 Maret 1949 di Yokyakarta, dan surat AQM ke Pemerintah Pusat.

Berikutnya ada pembahasan tentang Islam, hubungannya dengan pemeluknya dan dengan perdamaian, fatwa fatwa, partai Islam, dan rehabilityasi Masyumi, proses bergabungnya AQM ke KGSS, proses penghancuran mujahid Indonesia, kesabaran umat Islam Indonesia dan kerajaan Islam di Nusantara, tingkah polah Bangsa Barat dan Jepang, NIT (Negara Indonesia Timur), UUD 1945, perlawanan Indonesia Timur kepada Belanda, korban 40ribu Westerling, konferensi Malino, Dakwah Islamiyah, tokoh ulama yang bergabung dalam perjuangan, sikap AQM terhadap masalah adat, percobaan kudeta, kup terhadap Gatot Subroto dan pihak pihak yang menhendaki penyelesaian persoalan KGSS tanpa kekerasan militer. 

Pada bagian akhir buku dijelaskan tentang Sulawesi yang menjadi bagian dari N.I.I, juga saat terakhir AQM, gencatan senjata yang memakan banyak korban dan diakhiri “akhir jihad seorang mujahid”.
Jika buku lain yang membahas AQM, biasanya hanya tentang ‘pemberontakan’, tapi dibuku ini juga banyak kisah tentang kehidupan pribadi AQM, termasuk istri istri (ada 8 orang yang disebutkan dibuku ini) dan anak anaknya. Berbeda dengan pembahasan tentang jatidiri AQM di group group sejarah dan etnis di Facebook yang seringkali secara kukuh mengklaim AQM masih hidup sampai sekarang dan tinggal disuatu tempat… nah di buku ini, putra AQM sendiri mengisahkan tentang bagaimana beliau bersama keluarga lainnya melihat jenazah AQM di RS Pelamonia Makassar setelah diterbangkan dengan helicopter dari Sulawesi Tenggara. 

Bagi anda yang tertarik mengkaji sejarah atau pribadi AQM, atau sejarah Sulawesi Selatan secara umum pasca kemerdekaan, maka buku ini bisa dijadikan bahan rujukan atau referensi, Karena bahan pustakanya sangat lengkap mulai dari buku buku referensi lainnya, naskah, ensinklopedia, brosur, majalah, jurnal dan Koran (surat kabar). Jika anda ingin membaca buku ini, silakan berkunjung ke Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, DPK Sulsel, di Jl. Kenanga 7A, Sungguminasa, Gowa.