March 31, 2020

SIMPANSE



Simpanse adalah hewan yang amat cerdas. Perilaku mereka sering kali mengingatkan akan manusia. Simpanse adalah satu di antara segelintir hewan yang menggunakan alat. Mereka sering kali menggunakan tongkat untuk menggali tanah agar mendapatkan serangga. Mereka juga menggunakan batu untuk memecah kacang. Beberapa simpanse bahkan belajar berkomunikasi dengan manusia menggunakan bahasa isyarat sederhana.

Oleh karena bisa diajari berbagai hal, simpanse sering digunakan dalam penelitian ilmiah. Bahkan, “orang Amerika” pertama yang pergi ke ruang angkasa sebenarnya adalah seekor simpanse bernama Ham yang mengorbitkan Bumi pada 1961.

Simpanse hidup di berbagai macam hutan di Afrika barat dan tengah. Mereka hidup di hutan hujan tropis yang lembab. Namun, simpanse juga hidup di hutan dataran rendah dan gunung. Simpanse hidup dalam kelompok keluarga beranggotakan 6 sampai 10 ekor. Kelompok keluarga ini hidup dalam komunitas yang bisa beranggotakan sampai 100 ekor.  

Anak simpanse tinggal bersama induk mereka sampai berusia 7 tahun. Lama hidup simpanse  rata-rata 45 tahun di alam, namun sampai 50 tahun di kebun binatang dengan ukuran kira-kira 1 – 2 meter. Simpanse menggerutu ketika “BAHAGIA” dan “CENGIRAN” yang menampakkan gigi sebenarnya menandakan rasa takut atau cemas.

Makanan simpanse bervariasi. Mereka biasanya menyantap buah, biji-bijian, dedaunan, kulit pohon, dan serangga. Namun, simpanse juga makan daging dan telur. Simpanse biasanya mencari makan sendiri, tetapi kadang berburu dalam kelompok kecil.

Simpanse dianggap spesies yang terancam punah. Populasi manusia yang terus bertambah telah merusak habitat alami mereka. Manusia juga memburu simpanse untuk di makan.

NAT GEO ATLAS HEWAN LIAR
Tim Penelusur: National Geographic Washington, D.C.
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta

La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia




Buku : La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia
Editor : Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar
Penerbit : Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin berkerjasama dengan Pemerintah daerah Kabupaten Barru, Makassar 2003
Jumlah Halaman : xxvii + 558
ISBN : 979-97666-0-5

La Galigo adalah sebuah karya sastra yang sarat makna dan bernuansa kearifan budaya masa lalu dari Sulawesi Selatan. Karya sastra yang konon terpanjang didunia. Karya sastra yang telah mendunia dan telah menjadi obyek pembahasan dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dan pertemuan ilmiah lainnya. Banyak penulis dan peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri yang telah mengkaji dan menulis tentang La Galigo. Karya karya mereka sudah banyak tersebar diberbagai forum, lembaga perndidikan, perpustakaan, lembaga penelitian dan pusat pusta informasi lainnya di berbagai negara. 

Buku ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Internasional  La Galigo yang dilaksanakan pada tanggal 15- 18 Maret 2002 di Desa Pancana, Kabupaten Barru. Diawali dengan “Sekapur Sirih” dari Andi Muhammad Rum (Bupati Barru waktu itu), “Catatan Editor” , “Pengantar” oleh Anhar Gongngong, dan “Pendahuluan” oleh Nurhayati Rahman. 

Ada 4 bagian dan masing masing bagian terdiri dari beberapa Sub-bagian lagi. Sub-bagian ini adalah Makalah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Internasional ini. 

Berikut ini saya uraikan masing masing bagian dan makalah makalah yang dibahas dan nama penulis makalah. 

Bagian I. Di Cengkeram La Galigo 

1.      The ‘La Galigo’ A Bugis Encynclopedia and its Growth  (Sirtjo Koolhof)
2.      Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim)
3.      Ibuku Magali-Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim)
4.      Pengembaraan La Galigo ke Washington DC. – Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura (Roger Tol)
5.      Seduced By La Galigo, - A Film Maker Journey (Rhoda Grauer) 

Bagian II.  Pengembangan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara

1.      La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli)
2.      Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang)
3.      Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara, - Ingatan Masa Lalu dan Tafsir Masa Kini (Susanto Zuhdi)
4.      La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau); Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu’jizah dan Dewaki Kramadibrata)
5.      Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan. (Cornelis Salombe)
6.      Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abdul Latief)
7.      Sawerigading dalam La Galigo – Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina. (Abdul Rahman Al Ahmady)

Bagian III. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi

1.      La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia. (Nirwan Ahmad Arsuka)
2.      La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka)
3.      Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras)
4.      La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian)
5.      Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah-Daerah di Sulawesi  (James Danandjaja)
6.      Nature and Culture – Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo. (Darmawan Mas’ud dan Gufran D. Dirawan)
7.      Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo. (Widya Nayati)
8.      Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre)
9.      Persfektif Gender Dalam Naskah Galigo (Nurnaningsih)
10.  Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim)
11.  La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight)
12.  Berlayar ke Tompoq Tikkaq: sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner)
13.  Solusi Konflik dalam La Galigo (Muhammad Tang)
14.  Nilai Nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

Bagian IV. Dunia Dalam La Galigo dan Realitas Masyarakat Kekinian

1.      Sawerigading dalam Identitas dan analisis (Mattulada)
2.      Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo  (A. Anton Pangerang)
3.      “Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi”: Arkeologi Bersejarah dan Pusat Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell)
4.      The Archaeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck)
5.      Kepercayaan dan Upacara dai Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic)
6.      Bissu in La Galigo (Sharyn Graham)
7.      Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Latief)

Pada bagian akhir buku ini ada Biodata para penulis makalah, kemudian Indeks (untuk memudahkan pembaca dalam menemukan topik tertentu dalam buku ini) dan lampiran foto foto kegiatan selama berlangsungnya Seminar Internasional tersebut. 

Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


PANDA RAKSASA



Panda raksasa hitam-putih telah lama dikaitkan dengan Cina dan dijadikan simbol harta nasional. Panda raksasa telah muncul di lukisan-lukisan Cina selama ribuan tahun. Mereka juga merupakan hewan kesayangan di kebun binatang seluruh dunia. Cara mereka berjalan dan memanjat mirip beruang. Seperti juga beruang panda bisa berbahaya dan sangat gesit, jago memanjat pohon dan menggunakan cakarnya untuk mencengkeram batang pohon saat memanjat. Tak seperti beruang, panda tidak berhibernasi.

Anak panda terlahir buta dan hanya berbobot 142 gram dan gundul. Bulu khas mulai tumbuh seiring bertambahnya usia dan bersama ibunya sampai 3 tahun. Panda raksasa bertahan hidup hingga 20 tahun di alam dengan ukuran hingga 136 kilogram. 

Panda raksasa hidup pada ketinggian antara 1.524 sampai 3.048 meter di hutan berdaun lebar dan berdaun jarum yang dingin serta sering hujan, dengan pepohonan bambu yang lebat. Di alam bebas, 99 persen makanan panda raksasa adalah bambu. Panda raksasa memiliki geraham besar dan rahang kuat untuk mengunyah bambu yang keras serta memiliki tulang pergelangan tambahan yang disebut “jempol panda” untuk membantu memegang dan memakan bambu.

Panda raksasa dewasa menghabiskan sampai 12 jam sehari untuk makan. Selain itu padan mengembik, mirip seperti suara domba atau anak kambing. Itu adalah suara bersahabat yang digunakan saat saling menyapa.


Kondisi panda raksasa terancam punah akibat kerusakan habitat dan berkurangnya bambu. Ada sekitar 1.600 ekor panda di alam dan 160 ekor di kebun binatang.


NAT GEO ATLAS HEWAN LIAR
Tim Penelusur: National Geographic Washington, D.C.
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta

KATAK PANAH RACUN



Katak pohon ditemukan di daerah tropis yang hangat di seluruh dunia, ada lebih dari 300 spesies berbeda, namun paling banyak ditemukan di Amerika Selatan. Katak memiliki kaki belakang yang kuat untuk membantu melompat jauh dan memiliki bantalan lengket khusus di ujung setiap kaki, sehingga dapat bergerak di bagian bawah dedaunan tanpa jatuh ke lantai hutan yang jauh di bawah.

Hewan ini mampu bertahan hidup 5 tahun di alam dengan ukuran rata-rata 8 cm. Katak pohon berburu di malam hari dan hidup dengan memangsa kumbang, lalat, ngengat, dan makhluk-makhluk kecil lain yang hidup di hutan dengan lecutan cepat lidahnya yang panjang dan lengket.

Biasanya katak pohon berwarna hijau, coklat, atau abu-abu untuk membantu membaur dengan dedaunan hutan. Namun, katak panah racun memiliki corak berwarnah cerah yang dipercaya ilmuwan bisa menakut-nakuti pemangsa agar tidak dekat-dekat. Tiga spesies katak panah racun berbisa bagi manusia. Bisa di kulit adalah salah satu yang paling mematikan di Bumi, contonya katak panah racun emas yang mengandung cukup bisa untuk membunuh sampai 20 orang.


Katak panah racun emas memiliki warna kuning cerah hingga pucat. Ilmuwan sedang mempelajari cara menggunakan bisa katak ini untuk menciptakan obat penghilang nyeri yang manjur.

NAT GEO ATLAS HEWAN LIAR
Tim Penelusur: National Geographic Washington, D.C.
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta

March 30, 2020

SEKILAS HEWAN DI ANTARTIKA


Antartika memilki luas 13.209.000 kilometer persegi. Benua terluas kelima ini meliputi hampir 9 persen wilayah darat di bumi. Sekitar 98 persen Antartika terkubur dalam lapisan es luas yang nyaris setebal 5 kilometer di beberapa tempat. Meskipun selama enam bulan diliputi kegelapan, es dan perairan pesisir yang mengelilingi benua ini merupakan tempat tinggal beraneka ragam hewan.


KRIL. Walaupun ukuran tubuhya hanya sekitar 6 sentimeter, makhluk laut mungil ini adalah bagian penting dari rantai makanan global, menjadi mangsa bagi ikan, burung, dan paus.


ANJING LAUT TUTUL. Anjing laut ini bertutul-tutul. Mereka adalah pemangsa ganas yang menggunakan rahang kuatnya untuk menangkap anjing laut yang lebih kecil, ikan dan cumi-cumi.



PAUS. Raksasa-raksasa laut ini merupakan hewan terbesar di Bumi. Paus memakan Krill, sampai 4 ton sehari. Paus Biru adalah paus terbesar yang hidup selama 80 sampai 90 tahun. Sedangkan Paus Bangkok tenar karena nyanyiannya , yang dapat terdengar dari jarak sangat jauh di dalam samudera.


PUNGUIN KAISAR. Burung yang tak dapat terbang, namun dapat menyelam paling dalam hingga kedalaman 565 meter. Penguin ini merupakan jenis penguin terbesar dan satu-satunya jenis hewan yang tinggal selama musim dingin di Antartika, menggerombol rapat guna menghindari suhu membekunya benua tersebut.


PETREL SALJU. Burung ini dinamakan demikian karena bulunya seputih salju. Mereka makan dengan menyerok permukaan samudera yang dingin.



SKUA KUTUB SELATAN. Burung ini dikenal karena mampu terbang jauh dan menjaga ketat wilayah sarangnya. Makanan utamanya adalah kril, ikan kecil serta telurdan akan penguin.

NAT GEO ATLAS HEWAN LIAR
Tim Penelusur: National Geographic Washington, D.C.
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta

EARTH WARS: Pertempuran Memperebutkan Sumber Daya Global



Pangan, air, energi dan logam adalah penggerak pertumbuhan industri, ekonomi, dan sosial. Dengan meningkatnya populasi dunia dan semakin kerasnya suara yang menuntut standar hidup yang lebih tinggi, semakin ketat juga persaingan terhadap akses sumber daya. Namun apakah air dari sungai Nil, beras dari Delta Sungai Mekong, minyak dari Timur Tengah, batu bara dari Afrika, gas dari Rusia, tanah langka dari Cina, biji besi dari pedalaman Australia, uranium dari Kazakhtan, atau shale dari Amerika Utara, sumber-sumber daya ini bahkan beberapa di antaranya yang dianggap “tiada habisnya”, ternyata terbatas dan berharga. Selama berabad-abad, Barat tidak mengontrol sebagian besar aliran sumber daya, namun kini Cina, India, Rusia, Brazil, Indonesia, Turki, Iran negara lain menginginkan bagian mereka.

Buku Earth Wars: Pertempuran Memperebutkan Sumber Daya Global, penulis Geoff Hiscock merupakan jurnalis yang melakukan penelaahan mendalam terhadap masa depan energi kita. Penulis menganalisis teknologi baru, para pemain kunci, peningkatan ketengangan, dan kemungkinan hasil dari tema pokok abad ke dua pulu satu: kepemilikan sumber daya.

Buku dengan judul asli EARTH WARS: THE BATTLE OF GLOBAL RESOURCES, merupakan salah satu kolaksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.  Buku ini menjadi potrek atas kondisi yang terjadi pada awal 2012. Cina mendominasi percakapan tentang sumber daya, tetapi tantangan-tantangan yang dihadapinya tidak boleh dianggap enteng. Menjaga negara tetap utuh saja sudah merupakan perjuangan terus-menerus dari para pemimpin di Beijing, yang harus senantiasa menjaga kesepahaman yang mereka miliki dengan rakyat Cina untuk memberikan pembangunan ekonomi sebagai imbalan atas keterlambatan pemberian kebebasan individu yang lebih besar. Di India, demokrasi setiap hari berbenturan dengan frustrasi sosial menyangkut kasta, warna kulit, korupsi, agama, suku, dan jenis kelamin, tetapi optimisme negara itu atas masa depannya tidak memudar.

EARTH WARS: Pertempuran Memperebutkan Sumber Daya Global
Judul Asli EARTH WARS: the Battle of Global Resources
Penulis: Geoff Hiscock
Penerjemah: Hendro Prasetyo
Editor: Rizal Pahlevi Hilabi
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-7596-54-2

PANTUN 12 DALAM KHAZANAH SPIRITUALITAS



Sebagaimana yang dipahami bahwa tidaklah mudah menuturkan pantun dan menuliskannya. Hal ini tidak semata karena seseorang menguasai banyak kosa kata, akan lebih jauh disebabkan rasa seni yang terangkai dengan kegembiraan pada sastra yang membuat seorang pribadi terampil dalam sastra pantun.

Zahir Juana Ridwan, salah satu Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kerasipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang fokus pada kajian geografi dan sastra, mencoba lebih sering memperkenalkan sastra pantun untuk memelihara khazanah lokal Indonesia, selain itu untuk menggaungkan bertutur kata secara bijak, teratur, berseni, dan memelihara adab.

PANTUN 12 DALAM KHAZANAH SPIRITUALITAS, secara sederhana di tulis dalam 12 bait pantun,  yang bisa diteropong dalam tombol tombol spiritualitas masyarakat. Penulis berharap semoga pantun 12 ini memberikan manfaat dan menjadi wahana untuk merenung sembari menjadi jalan penyeimbang dari banyaknya diksi yang kurang mendidik anak bangsa.

Harum aroma daun kemangi.
Disimpan orang di nampan merah.
Mengalun makna bijak bestari.
Menyusur langkah memetik khazanah.

Indah terlihat pohon jati.
Rantingnya tinggi telah diukir.
Kalaulah bijak di dalam hati.
Niscaya bestari alam pikir.

Walau diukir ranting tinggi.
Ukirannya elok berpola-pola.
Bila berpikir ikutkan hati.
Supaya diksi berhias makna.

Dahlia jingga mulai merekah.
Dekat akasia yang tengah meranggas.
Kala hidup sebagai anugerah.
Bila meninggal simpanlah bekas.

Kayu mahoni ditebang selasa.
Bawa ke pasar jual di Kalimantan.
Bekas amal shaleh terang di jiwa.
Banyak berguna hias peradaban.

Sakura merona dahannya pekat.
Daunnya jatuh besarnya sekepal.
Usia bertambah kematian dekat.
Jangan berkilah akan kekal.

Besar kapalnya melepas sauh.
Dekat dermaga yang padat.
Jika angkuh segera jatuh.
Bila ikhlas pastilah selamat.

Hari Selasa berbatik biru.
Menuju pematang memetik padi.
Belajar khazanah kepada guru.
Raihlah makna dalam narasi.

Manakala hendak hidup makmur.
Susunlah langkah jalan teratu.
Hidup yang agung sabar dan syukur.
Karena tubuh akan terkubur.

Di Kota Parigi samping hutan.
Nyala listrik walau redup.
Bersiap pergi berjumpa Tuhan.
Bawalah bekal selagi hidup.

Ke Pulau Jawa menjual kencur.
Penuh gizi harganya murah.
Taqwa bekal yang paling manjur.
Digapainya dengan susah payah.

Katak biru berlompatan.
Naik ke teratai hijau jingga.
Kelak budimu dibalas Tuhan.
Moga jalanmu sampai ke Surga.

March 27, 2020

OPU DAENG RISAJU



Opu Daeng Risaju/Famajjah lahir di Palopo-Sulawesi Selatan 1880, dan diberi Gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 3 November 2006.

Pada masa kecil, Opu Daeng Risaju dikenal dengan nama Famajjah. Opu Daeng Risaju merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu. Walaupun tidak pernah mendapatkan pendidikan formal seperti Sekolah Belanda. Opu sejak kecil sudah banyak belajar tentang ilmu agama dan budaya. Karena hidup dilingkungan bangsawan, ia belajar nilai-nilai moal dan tingkah laku.

Opu memulai karier organisasi politik dengan menjadi anggota Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) cabang Pare-Pare pada tahun 1927. Karena keaktifannya sebagai anggota, Opu terpilih sebagai ketua PSII Wilayah Tanah Luwu, Palopo pada tanggal 14 Januari 193. Dalam masa kepemimpinannya, Opu berjuang dengan agama sebagai landasannya. Ia pun mendapat simpati dan dukungan yang besar dari rakyat.

Begitu besarnya dukungan dari rakyat terhadap perjuangan Opu, membuat pihak Belanda menahan Opu agar tidak melanjutkan perjuangannya di PSII. Pihak Belanda yang bekerja sama dengan Controleur Afdeling Masamba menganggap Opu menghasut rakyat dan melakukan tindakan provokatif agar rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintah. Akhinya, Opu diadili  dan dicabut gelar kebangsawanannya. Tidak hanya itu, tekanan juga diberikan kepada suami dan pihak keluarga Opu agar menghentiksn kegiatanya di PSII.

Pada tahun 1942 Jepang melakukan pendaratan di Makassar dan daerah-daerah sekitarnya, termasuk Tana Luwu. Dengan adanya Pendudukan Jepang di Tana Luwu membuat semangat Opu semakin berkobar untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan didaerahnya. Namun, setelah Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, datanglah NICA yang tidak lain adalah Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Opu dan pemuda Sulawesi Selatan merespons kedatangan NICA dengan melakukan perlawanan. Karena keberaniannya dalam melawan NICA, Opu menjadi incaran nomor satu selama NICA berada di Sulawesi Selatan. Akhirnya Opu tertangkap di Lantoro dan dibawa ke Watampone dengan berjalan sejauh 40 km. Opu wafat pada tanggal 10 Februari 1964 karena sakit. Ia dimakamkan di pemakaman raja-raja Lakkoe di Palopo, Sulawesi Selatan. (Mengenal Pahlawan Nasional, 2014: 108 – 109).

Fakta Menarik Opu Daeng Risaju
Akibat penyiksaan dari Belanda dan Ketua Distrik Bajo ketika ia ditangkap NICA, Opu menjadi tuli seumur hidup. Ia juga dijadikan tahanan tanpa diadili selama 11 bulan.

Mengenal Pahlawan Nasional, Jilid 2
Penyusun: Dina Alfriyanti
Editor: Nickyta P. dan Yuki Anggia P.
Ilustrator: Haryanto
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-7596-72-6



PENDIRI PERPUSTAKAAN

Perpustakaan Departemen Dalam Negeri di Batavia

Kebiasaan memelihara koleksi naskah di Indonesia dapat di telusuri kembali ke Kerajaan Majapahit, meskipun cendekiawan dan guru agama dari Tiongkok dan India telah mengunjungi Kepulauan ini sejak abad ke-7 dengan membawa kepustakaan mereka. Naskah keagamaan, hukum, dan teks sejarah serta karya seniman istana di simpan di perpustakaan, biasanya terletak di istana pribumi, seperti perpustakaan istana Yogyakarta dan Sala. Banyak naskah diperlakukan sebagai benda yang sangat keramat. Izin menggunakan koleksi itu masih sangat di batasi, namun bagian bahan itu diperoleh melalui proyek pembuatan microfilm.

Perpustakaan tertua bergaya Barat di Hindia Belanda adalah perpustakaan Batavian kerkeraad, berasal dari sekitar tahun 1624 dan hanya rohaniawan pada waktu itu yang boleh menggunakan koleksi buku dan naskahnya. Namun, tahun 1643, dirasakan kebutuhan  secara resmi mengangkat pustakawan, setelah ada laporan perusakan buku dengan sengaja.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
Koleksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Pengkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia) kini bertempat di Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta, inti salah satu koleksi terbesar terbitan Indonesia di seluruh dunia. Selama masa penjajahan, perkumpulan ini berfungsi sebagai perpustakaan penyimpanan untuk Hindia Belanda; sedikitnya satu salinan setiap penerbitan di daerah jajahan ini harus disimpan di sana. Diawali dengan sumbangan buku dari J.L.M.  Rademaker tahun 1778, perpustakaan ini cepar berkembang. Ia meninggalkan fokus yang semula mengutamakan hal ilmiah setelah Natuurkundinge Vereeniging didirikan tahun 1850. Dengan dibukanya ruang baca untuk umum, perpustakaan ini di sebut perpustakaan rujukan pertama di Indonesia abad ke-19.

Perpustakaan Umum
Kebanyakan perpustakaan umum di Hindia Belanda zaman dulu didirikan oleh Freemason Lodge untuk menyediakan bacaan bagi orang Eropa yang tidak banyak uang. Tahun 1864, perpustakaan pertama semacam ini muncul di Weltevreden (sekarang bagian dari Jakarta). Perpustakaan lainnya di Probolinggo (1874), Semarang (1879), Bandung dan Salatiga (1891). Dalam banyak kasus, Lodge membiarkan lembaga pemerintah atau swata mengambil alih pengelolaannya kemudian hari. Ruang baca umum, seperti di Weltevreden dan Surabaya, didirikan oleh Gereja Katolik. Karena meningkatnya permintaan bahan bacaan selama dasawarsa abadke-20 , hampir kota besar mempunyai satu openbare leeszaal (perpustakaan umum). Kekecualiaan kota Medan dan Bandung, rencana perpustakaan tak dapat diwujudnyatakan karena ketiadaan sumber daya keuangan. (Indonesia Heritage Bahasa dan Sastra, 2002: 86)

Ruang baca di Weltevreden

Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4

ANDI DJEMMA



Andi Djemma lahir di Palopo-Sulawesi Selatan tanggal 15 Januari 1901, dan di beri Gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 2002 sesuai SK Presiden RI No. 073/TK/2002.

Sebagai calon datu (raja), Andi Djemma mempelajari segala hal mengenai pemerintahan dan tradisi kerajaan dari sang ibu serta pejabat-pejabat tinggi istana. Setelah ibunya meninggal, ia dipersiapkan untuk seleksi datu Kerajaan Luwu. Golongan pendukung Belanda berusaha menghalang-halangi pengangkatannya sebagai datu, namun gagal karena ia memiliki dukungan dari raykat Luwu.

Sebagai seorang pemimpin daerah yang nasionalis, ia menyambut baik Proklamasi Kemerdekaan RI. Ia mengeluarkan penyataan bahwa Kerajaan Luwu merupakan bagian dari negara RI. Untuk menyatukan sikap dan menentang kembali kekuasaan Belanda, pada Bulan September 1945 ia memprakarsai pertemuan raja-raja Sulawesi Selatan di Watampone. Ia juga merestui pembentukan badan-badan perjuangan seperti Pemuda Nasional Indonesia (PNI) dan Pemuda Republik Indonesia.

Pada bulan November 1945, pasukan Australia yang mewakili tentara Sekutu tiba di Palopo. Pasukan ini membonceng NICA (Belanda). Masalah timbul ketika Australia, atas desakan Belanda, melarang pengibaran Bendera Merah Putih. Patroli ke luar kota mulai dilakukan pasukan Belanda. Andi Djemma pun mengeluarkan ultimatum untuk mengusir tentara Belanda dalam waktu 2x24 jam, namun tidak diacuhkan. Terjadilah pertempuran dalam kota pada 23 Januari 1946. Belanda akhirnya dapat menguasai Palopo setelah mendatangkan jumlah pasukan yang jauh lebih besar.

Andi Djemma meninggalkan kota menuju Sulawesi Tenggara untuk kemudian membangun pusat pemerintahan di Benteng Batuputih. Di sana dibentuklah sekelompok pasukan yang diberi nama Pembela Keamanan Rakyat (PKR) Luwu.

Keberadaan Andi Djemma di Batuputih berhasil diketahui Belanda. Beberpa kali Belanda mencoba merebut Batuputih melalui jalan laut namun gagal. Di luar dugaan pasukan PKR, Belanda berhasil memasuki Benteng Batuputih dari arah belakang. Andi Djemma beserta keluarga dan para pejabat pemerintahan Luwu ditahan. Ia pun harus menjalani pengasingan di Ternate.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pada tahun 1949, Andi Djemma dibebaskan. Ia kembali ke Makassar pada bulan Maret 1950. Jabatan sebagai Kepala Pemerintahan Swapraja Luwu pun dipercayakan pemerintah RI kepadanya. Andi Djemma wafat pada 23 Februari 1965 di Makassar. (Mengenal Pahlawan Nasional, 2014: 74 – 75).

Fakta Menarik Andi Djemma
Andi Djemma dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar dengan upacara militer, agama dan adat setempat. Kerajaan Luwu member gelar adat kepadanya sebagai “Baginda yang Mangkat dalam Alam Kemerdekaan”. Pemerintah RI juga memberikan penghargaan berupa piagam dari Kementerian Pertahanan (1960) dan Satyalencana Karya Tingkat II (1964).

Mengenal Pahlawan Nasional, Jilid 2
Penyusun: Dina Alfriyanti
Editor: Nickyta P. dan Yuki Anggia P.
Ilustrator: Haryanto
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-7596-72-6