Showing posts with label Idwar Anwar. Show all posts
Showing posts with label Idwar Anwar. Show all posts

April 20, 2020

Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan


Buku : Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin SeorangPerempuan Bangsawan
Penulis : Colli’ Pujie
Penerjemah : H.A. Ahmad Saransi & Mullar
Editor :  H.A. Ahmad Saransi & Idwar Anwar
Penerbit : Pustaka Sawerigading
Jumlah Halaman : xxiii + 126
Ukuran : 19 x 13 cm
ISBN : 979-98372-3-5
Colliq Pujié atau lengkapnya Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé, adalah seorang perempuan bangsawan Bugis yang hidup pada abad ke-19. Beliau bukan hanya bangsawan, tetapi juga pengarang dan penulis, sastrawan, negarawan, politikus yang pernah menjalani tahanan politik selama 10 tahun di Makassar, Datu’ (Ratu yang memerintah) Lamuru IX, sejarahwan, budayawan, pemikir ulung, editor naskah Lontara Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris (jurutulis) istana kerajaan Tanete (di Kabupaten Barru sekarang). Menurut sejarahwan Edward Polinggoman, dalam diri Colliq Pujié mengalir darah Melayu dari Johor. Sejak abad ke-15 sudah ada orang Melayu yang menetap dan berdagang di Barru dan akhirnya kawin mawin ditanah Bugis.

Tidak banyak catatan sejarah yang membahas tentang diri pribadi Colliq Pujié. Mungkin saja beliau tidak dikenal sampai sekarang kalau saja, beliau tidak menyalin naskah kuno I La Galigo yang menjadi salah satu karya sastra (epos) yang monumental dari suku Bugis yang mendunia. Colliq Pujié-bekerjasama dengan B.F. Mathes, seorang missionaris Belanda yang fasih berbahasa Bugis waktu itu, selama 20 tahun menyalin naskah Bugis dan epos I La Galigo yang panjang lariknya melebihi panjang epos Ramayana maupun Mahabrata dari India. Selain epos I La Galigo yang terdiri dari 12 jilid, ada ratusan naskah Bugis kuno lainnya yang disalin oleh B.F. Mathes dan kemudian dibawa dan tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda sampai sekarang. Penyalinan sebagian besar naskah tersebut dibantu oleh Colliq Pujié, sehingga riwayat hidup Colliq Pujié sedikit demi sedikit terkuak oleh tulisan B.F. Mathes. Colliq Pujié bahkan juga menyadur karya sastra dari Melayu dan Parsi. Colliq Pujié juga menciptakan aksara bilang-bilang yang terinspirasi dari huruf Lontara dan huruf Arab.

Salah satu karya sastra Colliq Pujié berupa kumpulan pantun Bugis yang ditulis dalam aksara bilang-bilang berjudul “Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan” telah diterjemahkan dan ditransliterasi oleh H.A. Ahmad Saransi telah diterbitkan oleh Komunitas Sawerigading. Dalam buku tersebut setiap kelong (pantun Bugis) ditulis dalam aksara bilang-bilang, aksara Lontara, transliterasi dalam aksara latin, dan kemudian pengertian dan penjelasan makna kata kata dalam pantun tersebut. Pantun Bugis selalu terdiri dari 3 baris, dimana baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris ke-2 ada 7 suku kata dan baris ke-3 terdiri dari 6 suku kata. Terkadang juga hanya 2 baris namun jumlah huruf lontara-nya tetap 21, atau 21 suku kata dalam transliterasi huruf latin. Pantun Bugis dalam buku ini adalah ungkapan curahan hati Colliq Pujié.

Buku ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, kemudian Sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Pengantar dari Editor, dan Pengantar dari Penerjemah. Selanjutnya berisi 122 bait puisi (kelong) Bugis yang ditulis dalam 3 aksara, yaitu aksara yaitu, “Lontara Bilang”, “Lontara Sulapa Eppa” dan “latin”Selain diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, juga di transliterasi dari aksara lokal (Bilang Bilang/Lontara Sulapa Eppa) ke aksara Latin. Selain diterjemahkan, juga di tafsirkan, sehiangga pembaca bisa dengan mudah memahami semua kelong Bugis tersebut.

Membaca buku ini, seakan akan membawa kita kea bad ke19 lalu saat Colli’ Pujie masih hidup. Kita seakan dapat menyelami kedalaman bathin seorang sastrawati, mencoba memahami kegalauannya, kegembiraannya, kesepiaannya, ketidaksetujuannya dengan komunitasnya dan ungkapan perasaanya yang lain. Tapi bisa jadi kita tidak paham sepenuhnya bait bait kelong dalam buku ini, meskipun sudah dijelaskan oleh penerjemah, karena tingginya bahasa sastra yang digunakan oleh Colli’ Pujie.

Semoga buku ini dapat menambah khasanah sastra dan budaya Budaya Bugis dan menjadi bahan rujukan penting dalam pengkajian sastra Bugis terutama kelong.

Buku Koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



April 15, 2020

Soppeng 745 Tahun Melintasi Waktu



Buku : Soppeng 745 Tahun Melintasi Waktu
Editor : H.A. Ahmad Saransi, Shaifuddin Bahrum, Idwar Anwar
Penerbit : Pemerintah Kabupaten Soppeng
Jumlah Halaman : 120
ISBN : -

Tak semua buku tercipta dengan menggunakan bahan bahan pustaka atau arsip sebagai bahan utama penyusunannya. Buku ini adalah kumpulan tulisan yang juga merupakan hasil wawancara dari beberapa warga kabupaten  Soppeng dari berbagai kalangan dan profesi. Hasil wawancara tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah untuk dijadikan sebuah buku, sebuah dokumentasi perjalanan sejarah kabupaten Soppeng.

Diharapkan kelak akan ada warga Soppeng atau siapapun akan bisa melihat bagaimana interaksi antara pemerintah dengan masyarakatnya melalui catatan dokumentasi buku ini. Bagaimanapun juga pemerintah perlu semacam masukan atau tanggapan dari masyarakat, agar roda pembangunan tetap dijalur yang tepat, sehingga kelak kesejahteraan masyarakat akan tercapai.

Buku ini awali dengan kata pengantar dari para editor, kemudian sambutan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Soppeng.

Selanjutnya adalah judul judul tulisan sebagai berikut:

1.      Sebuah Bendungan di Saloq KarajaE (Dalam kenangan H. A. Soetomo)
2.      Guru Sakib dan Raket Dunlop (Bongkahan Kenangan Radi A. Gani)
3.      Jangan Berhenti Lahirkan Intelektual dari Soppeng (Setetes Harapan Karim Saleh)
4.      Kurintis Adipura Sejak Kanak Kanak (Guratan Memori Abbas Sabbi)
5.      Membangkitkan Kembali Dinasti Tembakau Cabbenge (Mengorek Ingatan A. Sarimin Saransi)
6.      Mencari Figur Teladan (Harapan Andi Unru Meppejanci)
7.      Mengenang Guru Silatku (Kenangan H. Buhari Matta)
8.      Berjuang Hidup di Warung Kopi (Kisah Pengalaman Hidup Ahing, warga Tionghoa)
9.      Demonstrasi di Masa Peralihan (Goresan Kenangan Syarifuddin Wahid)
10.  Soppeng “Sorga Dunianya” Polisi (Pengakuan Briptu Arifuddin AR)
11.  Gotong Royong Telah Memudar (Cerita A.M. Djamir Saransi Tentang Pasar di Tetewatu)
12.  Pendidikan dalam Binkai Keterbatasan (Gejolak Batin Jalaluddin Rahman)
13.  Masyarakat dalam Partisipasi Pembangunan (Setumpuk Keinginan H.A. Arifuddin Saransi)
14.  Soppeng Kini Sudah Jauh Beda (Evaluasi Natsir Husain)
15.  Jangan Lupakan Aset Budaya Soppeng (Genangan Kenangan Noer Jihad Saleh)
16.  Di Istana Kami Ditempa (Memori A. Bau Waris Semasa Kecil)
17.  Soppeng, Resofa Temmangingngi (Gelegar Andi Mariwawo Muchtar)
18.  Dari Cilo ke Wanemo (Andi Zulkarnain Menggalang Anak Muda)
19.  16 Tahun di Kursi Kendali (Perjalanan Hidup Herliadi)
20.  Soppeng Belum Membutuhkan Mall (Pandangan Yani)
21.  Sopir Sekarang Sungguh Beruntung (Catatan Hidup Muhammad Tang)
22.  Mozaik Harapan, Memahat Waktu di Langit Soppeng (Sajak Idwar Anwar)
23.  Memanggul Senja (Sajak Idwar Anwar)
24.  Lontaraq Air Mata Cinta (Sajak Shaifuddin Bahrum)
25.  Sebuah Pertemuan di Soppeng (Sajak Shaifuddin Bahrum)

Buku ini menarik dibaca terutama bagi yang ingin lebih mengetahui keadaan masyarakat Soppeng secara umum. Buku koleksi Perpustakaan Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.







March 31, 2020

La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia




Buku : La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia
Editor : Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar
Penerbit : Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin berkerjasama dengan Pemerintah daerah Kabupaten Barru, Makassar 2003
Jumlah Halaman : xxvii + 558
ISBN : 979-97666-0-5

La Galigo adalah sebuah karya sastra yang sarat makna dan bernuansa kearifan budaya masa lalu dari Sulawesi Selatan. Karya sastra yang konon terpanjang didunia. Karya sastra yang telah mendunia dan telah menjadi obyek pembahasan dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dan pertemuan ilmiah lainnya. Banyak penulis dan peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri yang telah mengkaji dan menulis tentang La Galigo. Karya karya mereka sudah banyak tersebar diberbagai forum, lembaga perndidikan, perpustakaan, lembaga penelitian dan pusat pusta informasi lainnya di berbagai negara. 

Buku ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Internasional  La Galigo yang dilaksanakan pada tanggal 15- 18 Maret 2002 di Desa Pancana, Kabupaten Barru. Diawali dengan “Sekapur Sirih” dari Andi Muhammad Rum (Bupati Barru waktu itu), “Catatan Editor” , “Pengantar” oleh Anhar Gongngong, dan “Pendahuluan” oleh Nurhayati Rahman. 

Ada 4 bagian dan masing masing bagian terdiri dari beberapa Sub-bagian lagi. Sub-bagian ini adalah Makalah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Internasional ini. 

Berikut ini saya uraikan masing masing bagian dan makalah makalah yang dibahas dan nama penulis makalah. 

Bagian I. Di Cengkeram La Galigo 

1.      The ‘La Galigo’ A Bugis Encynclopedia and its Growth  (Sirtjo Koolhof)
2.      Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim)
3.      Ibuku Magali-Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim)
4.      Pengembaraan La Galigo ke Washington DC. – Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura (Roger Tol)
5.      Seduced By La Galigo, - A Film Maker Journey (Rhoda Grauer) 

Bagian II.  Pengembangan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara

1.      La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli)
2.      Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang)
3.      Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara, - Ingatan Masa Lalu dan Tafsir Masa Kini (Susanto Zuhdi)
4.      La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau); Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu’jizah dan Dewaki Kramadibrata)
5.      Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan. (Cornelis Salombe)
6.      Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abdul Latief)
7.      Sawerigading dalam La Galigo – Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina. (Abdul Rahman Al Ahmady)

Bagian III. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi

1.      La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia. (Nirwan Ahmad Arsuka)
2.      La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka)
3.      Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras)
4.      La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian)
5.      Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah-Daerah di Sulawesi  (James Danandjaja)
6.      Nature and Culture – Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo. (Darmawan Mas’ud dan Gufran D. Dirawan)
7.      Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo. (Widya Nayati)
8.      Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre)
9.      Persfektif Gender Dalam Naskah Galigo (Nurnaningsih)
10.  Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim)
11.  La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight)
12.  Berlayar ke Tompoq Tikkaq: sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner)
13.  Solusi Konflik dalam La Galigo (Muhammad Tang)
14.  Nilai Nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

Bagian IV. Dunia Dalam La Galigo dan Realitas Masyarakat Kekinian

1.      Sawerigading dalam Identitas dan analisis (Mattulada)
2.      Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo  (A. Anton Pangerang)
3.      “Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi”: Arkeologi Bersejarah dan Pusat Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell)
4.      The Archaeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck)
5.      Kepercayaan dan Upacara dai Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic)
6.      Bissu in La Galigo (Sharyn Graham)
7.      Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Latief)

Pada bagian akhir buku ini ada Biodata para penulis makalah, kemudian Indeks (untuk memudahkan pembaca dalam menemukan topik tertentu dalam buku ini) dan lampiran foto foto kegiatan selama berlangsungnya Seminar Internasional tersebut. 

Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.