Showing posts with label Lontara Bugis. Show all posts
Showing posts with label Lontara Bugis. Show all posts

November 23, 2021

PAU-PAUNNA INDALE PATARA

Menurut versi Bugis Hikayat Indera Putera (HI) disebut dengan Pau-Paunna Indale Patara yang selanjutnya disingkat PPIP atau bisa juga disebut Sureqna Indare Patara. Dalam kesusastraan Bugis, sureq merupakan salah satu genre sastra Bugis yang bersifat sakral, sedangkan pau-pau adalah prosa bebas yang bentuknya bersifat sekuler duniawian. Kisah-kisah tantang keagamaan Islam dipakai istilah sureq, misalnya Sureq Makkeluqna Nabitta (Hikayat Nabi Bercukur), Sureq Panrita Sulesanae (Hikayat Para Ulama Bijaksana). La Galigo yang merupakan karya bersifat agama tradisional sebelum orang Bugis menjadi Islam disebutnya pula dengan Sureq (Sureq Galigo). 

Karena itu, bila dilihat dari segi isi HI versi Bugis dapat dikategorikan kedua-duanya. Ia bersifat sakral dan berbentuk sureq karena didalamnya berisi tentang ajaran-ajaran Islam yang dikemas dalam bentuk cerita yang diperankan oleh Indera Putera (IP). Tapi didalamnya juga terdapat unsur-unsur di luar agama Islam (berasal dari Hindu) seperti peristiwa-peristiwa ajaib, kepercayaan pada kekuatan-kekuatan magis, menggantungkan kekuatan pada geliga, semuanya masuk kategori pau-pau. Seperti pau-pau yang terdapat pada bagian awal naskah:

"Ia nae pau-paunna Indare Patara, anaqna raja Bokeroma Bisepa raja Samanta Pura amanna ..."

Artinya:

Inilah kisah Indare Patara, putera raja Bukeroma Bisepa, raja Samanta Pura bapaknya ....

PPIP dibaca dan didendangkan di muka publik, terutama pada saat acara hajatan, seperti penyunatan, perkawinan dan sebagainya. Sampai tahun 1940-an pembacaan hikayat termasuk PPIP masih aktif dilakukan di kalangan orang Bugis/Makassar. 

Buku PAU-PAUNNA INDALE PATARA diambil dari manuskrip tua, koleksi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan huruf lontaraq dan berbahasa Bugis. Judul aslinya "Hikayat Indera Putera" yang bersumber dari Hindu. Lalu setelah masuknya Islam di negeri Melayu, naskah tersebut di-Islamisasi oleh orang Melayu, yang selanjtnya masuk ke negeri Bugis dan disufikan oleh orang Bugis. Judulnya pun berubah mengikuti sistem dan struktur bahasa Bugis yang bersifat silabis, maka menjadilah ia: "Pau-paunna Indale Patara" (Kisah Indale Patara). Naskah PPIP ini terdiri dari 9 buah naskah dalam bentuk mikro-film. Mikro-mikro ini telah dialih-teknologikan dari mikro-film ke digital. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAU-PAUNNA INDALE PATARA
DARI HINDU INDIA, ISLAMISASI MELAYU SAMPAI KE SUFISME BUGIS

Penulis: Nurhayati Rahman
Penerbit: :La Galigo Press Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-99115-6-8

August 18, 2021

WASIAT-WASIAT DALAM LONTARAK BUGIS

Orang Bugis adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai bahasa dan aksara daerah yang disebut Aksara Lontarak. Selain aksara Lontara yang mereka punyai juga dikenal sebuah aksara lain ialah huruf Saeran. Sesunggunya huruf Saerang ini adalah huruf Araf yang dikenal di daerah Sulawesi Selatan melalui Pulau Seram. Dengan dikenalnya kedua aksara ini sehingga orang Bugis dapat mencatat kejadi-kejadian yang pernah mereka alami pada masa silam. Selain mencatat kejadian-kejadian yang pernah mereka alami itu juga mereka mencatat apa yang disampaikan orang tua-tua yang berupa pesang-pesang, nasehat-nasehat, petua dan sejenisnya, kesemuanya ini disebut wasiat-wasiat.

Wasiat yang dicatat ditinggalkan sampai sekarang yang dikenal dengan nama Lontarak atau naskah lama. Berikut beberapa wasiat dari beberapa cerdik-cendekia pada zaman dahulu yang ada di Sulawesi Selatan (Bugis):

Nenek Allomo di Sidenreng

Hukum tidak mengenal anak. Artinya dalam menegakkan hukum, tidak ada kecuali walau anak sekali pun kalau bersalah, ia harus di hukum juga. Ucapan Nenek Allomo ini, telah dibuktikannya sendiri kepada anak kandungnya.

Macae ri Luwu

Dirikulah kujadikan cupak/takaran, timbangan. Kutempatkan di bawah yang di bawah, kutempatkan di tengah yang di tengah, kutempatkan di atas yang di atas. Menurut Macae ri Luwu, kemakmuran, kedamaian dan ketentraman akan dicapai apabila segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya. Terutama para pemimpin apabila hendak bertindak maka hendaklah mengembalikan pada dirinya dahulu barulah melaksanakan tindakannya itu.

P. Rimanggalatung

Aku tidak pernah mengambil keputusan sendiri-sendir. Apabila aku mengadili perkara seseorang, aku tidak pernah lupa menghadapkan kepada Dewata. Nantilah Dewata memberikan petunjuk kepada saya bagaimana duduk persoalan itu dan dari padanya datangnya petunjuk bagaimana penyelesaiannya, itulah yang saya lakukan.

Buku WASIAT-WASIAT DALAM LONTARAK BUGIS  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala Salapang-Makassar. Buku ini membahas mengenai wasita-wasiat orang-orang dahulu sebagai media untuk memperkenalkan isi wasiat dan dijadikan media untuk memperkenalkan buah-buah pikiran orang tua-tua dahulu kala yang berdiam di Sulawesi Selatan. Berikut pengelompokan isinya, mengenai:

  • Kewajiban raja atau pemimpin, apa yang harus dilakukan dan apa pula yang harus dihindari agar negerinya merasa aman, makmur dan tenteram.
  • Kerukunan berumah tangga. Apa kewajiban suami dan apa kewajiban isteri serta sifat-sifat apa dan yang bagaimana masing-masing harus dimilikinya.
  • Ketentuan seorang hakim apa dan bagaimana sikap dan tindakannya di dalam menegakkan keadilan. Akibat-akibat apa yang mungkin terjadi apabila hakim sendiri yang berbuat curang.
  • Tugas dan kewajiban bagi seorang utusan atau kepercayaan raja.
  • Pelanggaran yang harus diberikan hukuman mati.
  • Ketakwaan kepada Tuhan Yang Masa Esa.

WASIAT-WASIAT DALAM LONTARAK BUGIS
Penulis: Ambo Gani, Husna G.S, Baco. B, Ahmad Yunus
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1990



August 4, 2020

LONTARA’ MINRURANNA SUPPA


Kisah menuturkan/ diluar dari Ujung Pandang/ mengoyangkan sarungnya/ ungu menyerupai Guntur/ kisah menuturkan/ kaptennya Ternate/ pukullah gendang/ bunyikanlah tetabuhan/ dengungkanlah terompet/ yang membuat bulu kuduk para musuh/ di medan pertempuran/diseluruh negeri Suppa.

Sedikit tranliterasi dan terjemahan alkisah naskah “LONTARA’ MINRURANNA SUPPA” mengisahkan tentang sejarah Suppa pada masa penyerangan kompeni Belanda, yang ditulis oleh Hajjia Paewa Komisi Sekolah Pensiun Kecamatan Mattirobulu, pada tanggal 4 November 1990.

Lontara’ adalah suatu karya sastra orang Bugis yang sudah memasyarakat ditengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Lontara’ mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dan diperhatikan. Untuk memahami lontara’ perlu pengetahuan khusus, karena lontara’ juga merupakan naskah sastra budaya mempunyai sifat-sifat tertentu sebagaimana sastra budaya bahasa-bahasa lain.

Kemampuan memahami makna lontara’, sangat erat hubungannya dengan kemampuan mengenal huruf lontara’ klassik, merasakan secara imajinatif, bunyi dan perasaan yang dilukiskan dalam bahasa lontara’ itu.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar merupakan naskah tua milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

 

LONTARA’ MINRURANNA SUPPA

Penulis: Andi Maryam, Nur Ilmiyah

Editor: Dafirah Asad

Penerbit: De La Macca

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit: 2014

ISBN: 978-602-263-065-4


July 9, 2020

Aku Bangga Berbahasa Bugis



Buku : Aku Bangga Berbahasa Bugis, Bahasa Bugis dari ka sampai ha
Penulis : Andi M. Rafiuddin Nur
Penerbit : Rumah Ide, Makassar, 2008
Jumlah Halaman: xx + 674
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm
ISBN : 979-98076-2-X

H. Muhammad Jusuf Kalla, pada Kongres Bahasa Daerah Sulawesi Selatan tahun 2007, menyatakan bahwa 30% dari 745 bahasa daerah di Indonesia sudah punah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Sementara itu perkiraan dari UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization), lembaga PBB yang mengurusi pendidikan, Ilmu pengetahuan dan kebudayaan, menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun kedepan, dari 6.000 bahasa di dunia, akan tinggal setengahnya  (50%) saja. Artinya ada sekitar 3.000an bahasa yang akan punah.

Berdasarkan prediksi prediksi inilah sehingga penulis tergerak untuk menuliskan buku ini. Ada kekhawatiran bahwa suatu waktu kelak, bahasa Bugis juga akan punah jika tanpa ada usaha untuk melestarikannya. Salah satu usaha penulis adalah mendokumentasikan segala aspek bahasa Bugis dalam buku ini, sehingga dapat dikatakan bahwa buku ini sangat lengkap membahas unsur unsur kebahasaan Bugis. Selain bisa sebagai Kamus (Bugis – Indonesia) juga dibahas tentang tata bahasa Bugis, sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis misalnya ada Paseng, Elong (Pantun Bugis), Toloq, dan lain lain. Tak lupa pembahasan  tentang aksara atau abjad dan aspek lainnya.

Buku setebal 674 halaman ini diawali dengan Pengantar Penerbit, kemudian Kata Pengantar dari penulis, disusul dengan Pendahuluan. Pada bagian Pendahuluan ini, penulis mengungkapkan kecewaannya pada kenyataannya bahwa banyak generasi muda Bugis yang sudah enggan dan malu menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa pergaulan sehari harinya. Salah satu alasan keengganan orang Bugis untuk menggunakan bahasa Bugis lagi menurut penulis adalah karena nilai nilai luhur bahasa Bugis tidak lagi dipahaminya dengan baik dan benar. Hal ini menyebabkan rasa memiliki serta rasa bangga terhadap bahasanya sendiri menjadi pudar. Hal lain adalah karena kurangnya bimbingan, pembinaan, pengajaran dan pendidikan baik di dalam keluarga maupun di sekolah sekolah.

Selanjutnya dibahas tentang “Bahasa Bugis Baku”. Pada bagian ini penulis tidak menyebut secara tegas, adanya bahasa Bugis baku, karena setiap daerah yang berbahasa Bugis, masing masing menganggap bahasa Bugis merekalah yang baku, sementara yang lain hanya dialek dari daerah lainnya saja. Perlu diketahui bahwa bahasa Bugis yang digunakan di Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Sinjai dan lain lain selalu saja ada perberdaan, baik perbedaan dialek maupun kosa kata.

Pada bagian selanjutnya dibahas tentang Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional. Pada bagian ini, pembahasan utamanya adalah bagaimana bahasa nasional (Indonesia) telah mempengaruhi bahasa Bugis dan juga Makassar. Dijelaskan juga bagaimana orang Bugis dan Makassar berbahasa Indonesia dengan logat Bugis atau Makassar, termasuk akhiran akhiran yang sering digunakan seperti  ‘ki’, ‘di’, ‘mi’, ‘ko’ dan lain lain.

Selanjutnya ada pembahasan tentang “Pangngadereng”. Disebutkan bahwa Orang Bugis tidak bisa lepas dari pangngadereng yang terdiri dari 5 unsur yaitu ; ade’, rapang, bicara, wari, dan sara’. Dibuku ini dijelaskan perbedaan antara pangngadereng dengan ade’. Ada juga dibahas pentingnya menggunakan dan berbicara Bugis yang baik dan benar.

Pada bagian “Seluk Beluk Bahasa dan Aksara Bugis” dijelaskan tentang aksara dan abjad, perbedaan penggunaan aksara lontara  Bugis dengan Lontara Makassar, perbedaan penulisan lontara untuk bahasa Indonesia, sejarah awal terciptanya aksara Lontara, awal mula terciptanya aksara lontara ‘ha’ yang merupakan aksara untuk memenuhi pengucapan bahasa Bugis yang berasal dari kata kata bahasa Arab. Penulisan aksara Lontara untuk nama nama jalan di Makassar juga dijelaskan oleh penulis.

Sastra Bugis dan Paseng. Pada bagian ini dibahas panjang lebar tentang sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis (genre). Ada Sure’, Elong, Tolo’, paseng atau pappaseng to riolo . Banyak contoh jenis (genre) sastra Bugis dalam buku ini.

Pada bagian lainnya dibahas tentang cara penulisan dan pengucapan bahasa Bugis pada buku ini. Bagian ini semacam petunjuk pemakaian buku ini. Ada pembahasan tentang susunan abjad, cara pengucapan dan arti kata, dan  pengaruh dialek daerah.

Bagian terakhir adalah Bahasa Bugis dari ka sampai ha. Bagian ini adalah semacam kamus Bugis – Indonesia yang disusun berdasarkan susunan aksara Lontara Bugis, yaitu ka, ga, nga, ngka dan seterusnya.

Buku ini sangat lengkap membahas berbagai aspek bahasa dan budaya Bugis. Sangat penting untuk dimiliki dan dibaca oleh orang Bugis dan orang bukan Bugis yang tertarik mengkaji bahasa dan budaya Bugis.

Buku ini koleksi pribadi, tapi jika tertarik untuk membacanya, ada di perpustakaan perpustakaan di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan. 





May 1, 2020

Koleksi Naskah Lontara DISPUS-ARSIP Sul-Sel.


Katalog Induk Naskah Lontara 
Suku bangsa Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan, termasuk dua diantara sedikit suku bangsa di Indonesia yang memiliki tradisi tulis menulis. Huruf atau aksara yang digunakan oleh orang Bugis sejak ratusan tahun lalu adalah huruf Lontara yang dalam bahasa Bugis sendiri dinamai uki’ sulapa eppa’ (Dr. Mukhlis Paeni dalam Katalog Naskah Nusantara). Suku Makassar juga memiliki huruf tersendiri yang dinamakan aksara Jangang-jangang yang aslinya mirip bentuk burung / unggas sehingga disebut jangang-jangang. Pada perkembangan selanjutnya aksara jangang-jangang jarang digunakan dan lebih sering aksara uki’ sulapa eppa’-lah yang mendominasi penggunaan dalam penulisan bahasa Bugis dan Makassar.
Silsilah Raja yang Tertulis diatas daun Lontar

Menurut para ahli sejarah, aksara lontara uki’ sulapa eppa’ dan aksara jangang-jangang keduanya masih turunan aksara Nusantara yang juga dari India (Sansekerta). Naskah Bugis kuno yang banyak tersimpan di Unit Kearsipan Dispus-Arsip Sulawesi Selatan, terdiri dari berbagai macam aksara, yaitu lontara Bugis (Uki Sulapa Eppa’), lontara jangang-jangang, aksara serang (penulisan bahasa Bugis dan Makassar menggunakan aksara Arab), dan tulisan Arab asli terutama untuk naskah keagamaan. Banyak diantara naskah tersebut sudah susah dibaca, baik yang naskah aslinya maupun microfilm-nya. Hal ini disebabkan karena naskah naskah tersebut sudah sangat rapuh, tinta yang digunakan juga sudah banyak meresap kedalam kertasnya, ada juga yang halamannya sudah ada yang hilang atau sobek.

Di kantor DisPus-Arsip Sulawesi Selatan juga tersimpan dengan baik naskah Bugis kuno yang tertulis diatas daun lontar. Naskah ini berupa gulungan rol daun lontar yang sambung menyambung. Menurut para pakar orang dulu menggunakan semacam paku kecil (disebut kallang dalam bahasa Bugis) untuk menggoreskan huruf huruf diatas helai daun lontar dengan penuh kehati-hatian karena sifat daun lontar yang mudah sobek. Setelah satu helai ditulisi, kemudian ditaburi bubuk hitam sehingga tulisannya kentara dan dapat dibaca dengan jelas. Setelah selesai ditaburi, helai daun lontar kemudian disambungkan dengan helai sebelumnya dengan cara dijahit menggunakan jarum dan benang. Ketika satu naskah dianggap selesai, kemudian helai daun lontar tersebut digulung dan dibuatkan tempat gulungan untuk memudahkan membacanya. Cara membacanya yaitu dengan duduk bersila sambil kedua tangan memutar gulungan rol daun lontar. Biasanya disertai dengan ritual (upacara) kecil.

Jumlah naskah lontara’ Bugis, Makassar dan Mandar yang tersimpan di Unit Kearsipan DisPus-Arsip Daerah yaitu 4.049 naskah yang semuanya sudah dimicrofilm-kan. Bagi anda para peneliti atau mahasiswa yang akan membaca dan meneliti naskah lontara hanya akan membaca hasil microfilmnya saja. Naskah aslinya sudah tidak bisa diakses, karena sifat kertasnya yang sudah sangat rapuh. Naskah asli ini biasanya hanya untuk dipajang saat eksibisi (pameran) saja. Hasil microfilm naskah lontara ini selain bisa dibaca di layar Microfilm reader, juga bisa discan (dipindai) dan disimpan dalam format .tiff atau .jpg, sehingga bisa diprint langsung, dengan  biaya tertentu.

Berbagai macam topik naskah lontara Bugis yang ada koleksi DisPus-Arsip. Jenis jenis lontara :

1.      Lontara Kutika yaitu semacam astrologi nenek moyang orang Bugis dan Makassar. Dalam lontara kutika ini juga disebutkan tentang hari baik dan hari buruk untuk melaksanakan pernikahan, naik rumah baru (rumah orang Bugis dan Makassar zaman dulu berupa rumah panggung), hari permulaan mengerjakan sawah, dan ramalan lainnya;
2.      Kepiawaian orang dulu meramu obat juga banyak terekam dalam naskah lontara Pabbura’ . Berbagai jenis tanaman herba diramu dan digunakan untuk mengobati penyakit tertentu;
3.      Juga ada yang dinamakan lontara Baddili’ Lompo yaitu naskah lontara yang membahas tentang strategi perang dan pembuatan senjata;
4.      Ada Lontara yang membahas tentang cara bercocok tanam yang disebut lontara’ Paggalung;
5.      Lontara kisah kisah tasauf;
6.      Lontara ajaran Syech Yusuf;
7.      Lontara naskah keagamaan;
8.      Lontara pendidikan sex suami istri (lontara Akkalaibinengeng);
9.      Lontara tentang tabiat binatang;
10.  Lontara silsilah raja (lontara Pangoriseng);
11.  Lontara  Alloping-loping yang merupakan lontara yang mengupas tentang tata cara berlayar dan menangkap ikan;
12.  Ada juga lontara Pattaungeng yang merupakan catatan harian orang Bugis zaman dulu dan lain lain (Tolok Rumpakna Bone, terjemahan oleh Drs. Muhammad Salim 1991).

Karya sastra dalam lontara’ Bugis biasanya terdiri dari larik larik bersambung, namun tidak sedikit yang terdiri dari kalimat kalimat biasa yang sambung menyambung. Lontara yang berlarik larik misalnya :

1.      Epos I La Galigo;
2.      Tolo’, Meongpalo;
3.      Sure’ Selleyang;
4.       Elong Ugi.

Sedangkan lontara’ yang terdiri dari kalimat kalimat bersambung misalnya lontara hikayat, kisah, tasauf, dan lontara keagamaan lainnya. Jumlah huruf dari jenis lontara yang berlarik larik tersebut berbeda beda. Elong Ugi biasanya terdiri dari tiga baris masing masing jumlah huruf (lontara’)nya atau sukukata pada aksara latin 8’, 7 dan 6. Terkadang juga cuma dua baris namun jumlah huruf lontaranya harus 21. Adapun Tolo’, Menrurana, dan Meongpalo adalah terdiri dari larik larik yang sambung menyambung yang terdiri dari 8 sukukata atau 8 huruf lontara’ Bugisnya. I La Galigo dan Sure’ Selleyang berlarik 5, 5, 5 atau 10, 10, 10.

Koleksi dan jumlah naskah lontara dengan keterangan sebagai berikut : angka dalam kurung adalah jumlah naskah yang indeksnya adalah topik tertentu misalnya, Al-quran (132) artinya ada 132 naskah yang terindeks ‘Al-quran’.  Pada buku Katalog Naskah Nusantara, pada bagian akhir terdapat indeks topik masing masing naskah. Misalnya naskah dengan indeks kelong” ada pada Rol 17 No.1, artinya pada Rol microfilm no. 17 pada urutan 1 terdapat naskah ‘kelong’ atau pantun/ puisi Bugis atau Makassar.

Rincian Koleksi naskah di Unit Kearsipan DisPus-Arsip Sulawesi Selatan adalah :

Naskah Lontara pada kertas biasa


1. Lontara Keagamaan
a.      Al-quran (132)  
b.      Azimat  (209)
c.       Dialog (110)
d.      Doa-Doa (611)
e.      Hukum Islam (418)
f.        Jual Beli (13)
g.      Khutbah (65)
h.      Akhlak (64)
i.        Tauhid/ Keimanan (152)
j.        Tajwid (46)
k.       Tasawuf (369)
l.        Akhbaru Al-Akhirah, Tulqiyamah (47)
m.    Zikir (186)

2. Lontara Kesusastraan
a.      Cerita Rakyat (70)
b.      La Galigo (212)
c.       Sang Hyang Sri (15)
d.      Hikayat (196)
e.      Hikayat Syech Yusuf (85)
f.        Sejarah Nabi (221)
g.      Isra’ Mi’raj (75)
h.      Sure Makkellu Mallinrung (86)
i.        Kelong (54)
j.        Barzanji, Syaraf al-anam (117)
k.       Judul Buku (16)
l.        Orang terkenal, ajaran (67)
m.    Cina (26)

3. Lontara Umum
a.      Ayam (12)
b.      Catatan Harian (142)
c.       Hukum Adat (129)
d.      Kutika (299)
e.      Mantera (172)
f.        Obat-obatan (88)
g.      Pesan / Nasehat (319)
h.      Sejarah (251)
i.        Silsilah (197)
j.        Surat- Surat (35)
k.       Pendidikan Sex (43)
l.        Mimpi (19)
m.    Perahu (35)
n.      Perjanjian (98)
o.      Pertanian (37)
p.      Rumah (20)
q.      Senjata (21)
r.       Sarung (2)

Jika anda tertarik untuk meneliti Lontara, silakan hubungi Pustakawan atau Arsiparis yang bertugas di Ruang Baca Arsip, Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



April 20, 2020

Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan


Buku : Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin SeorangPerempuan Bangsawan
Penulis : Colli’ Pujie
Penerjemah : H.A. Ahmad Saransi & Mullar
Editor :  H.A. Ahmad Saransi & Idwar Anwar
Penerbit : Pustaka Sawerigading
Jumlah Halaman : xxiii + 126
Ukuran : 19 x 13 cm
ISBN : 979-98372-3-5
Colliq Pujié atau lengkapnya Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé, adalah seorang perempuan bangsawan Bugis yang hidup pada abad ke-19. Beliau bukan hanya bangsawan, tetapi juga pengarang dan penulis, sastrawan, negarawan, politikus yang pernah menjalani tahanan politik selama 10 tahun di Makassar, Datu’ (Ratu yang memerintah) Lamuru IX, sejarahwan, budayawan, pemikir ulung, editor naskah Lontara Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris (jurutulis) istana kerajaan Tanete (di Kabupaten Barru sekarang). Menurut sejarahwan Edward Polinggoman, dalam diri Colliq Pujié mengalir darah Melayu dari Johor. Sejak abad ke-15 sudah ada orang Melayu yang menetap dan berdagang di Barru dan akhirnya kawin mawin ditanah Bugis.

Tidak banyak catatan sejarah yang membahas tentang diri pribadi Colliq Pujié. Mungkin saja beliau tidak dikenal sampai sekarang kalau saja, beliau tidak menyalin naskah kuno I La Galigo yang menjadi salah satu karya sastra (epos) yang monumental dari suku Bugis yang mendunia. Colliq Pujié-bekerjasama dengan B.F. Mathes, seorang missionaris Belanda yang fasih berbahasa Bugis waktu itu, selama 20 tahun menyalin naskah Bugis dan epos I La Galigo yang panjang lariknya melebihi panjang epos Ramayana maupun Mahabrata dari India. Selain epos I La Galigo yang terdiri dari 12 jilid, ada ratusan naskah Bugis kuno lainnya yang disalin oleh B.F. Mathes dan kemudian dibawa dan tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda sampai sekarang. Penyalinan sebagian besar naskah tersebut dibantu oleh Colliq Pujié, sehingga riwayat hidup Colliq Pujié sedikit demi sedikit terkuak oleh tulisan B.F. Mathes. Colliq Pujié bahkan juga menyadur karya sastra dari Melayu dan Parsi. Colliq Pujié juga menciptakan aksara bilang-bilang yang terinspirasi dari huruf Lontara dan huruf Arab.

Salah satu karya sastra Colliq Pujié berupa kumpulan pantun Bugis yang ditulis dalam aksara bilang-bilang berjudul “Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan” telah diterjemahkan dan ditransliterasi oleh H.A. Ahmad Saransi telah diterbitkan oleh Komunitas Sawerigading. Dalam buku tersebut setiap kelong (pantun Bugis) ditulis dalam aksara bilang-bilang, aksara Lontara, transliterasi dalam aksara latin, dan kemudian pengertian dan penjelasan makna kata kata dalam pantun tersebut. Pantun Bugis selalu terdiri dari 3 baris, dimana baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris ke-2 ada 7 suku kata dan baris ke-3 terdiri dari 6 suku kata. Terkadang juga hanya 2 baris namun jumlah huruf lontara-nya tetap 21, atau 21 suku kata dalam transliterasi huruf latin. Pantun Bugis dalam buku ini adalah ungkapan curahan hati Colliq Pujié.

Buku ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, kemudian Sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Pengantar dari Editor, dan Pengantar dari Penerjemah. Selanjutnya berisi 122 bait puisi (kelong) Bugis yang ditulis dalam 3 aksara, yaitu aksara yaitu, “Lontara Bilang”, “Lontara Sulapa Eppa” dan “latin”Selain diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, juga di transliterasi dari aksara lokal (Bilang Bilang/Lontara Sulapa Eppa) ke aksara Latin. Selain diterjemahkan, juga di tafsirkan, sehiangga pembaca bisa dengan mudah memahami semua kelong Bugis tersebut.

Membaca buku ini, seakan akan membawa kita kea bad ke19 lalu saat Colli’ Pujie masih hidup. Kita seakan dapat menyelami kedalaman bathin seorang sastrawati, mencoba memahami kegalauannya, kegembiraannya, kesepiaannya, ketidaksetujuannya dengan komunitasnya dan ungkapan perasaanya yang lain. Tapi bisa jadi kita tidak paham sepenuhnya bait bait kelong dalam buku ini, meskipun sudah dijelaskan oleh penerjemah, karena tingginya bahasa sastra yang digunakan oleh Colli’ Pujie.

Semoga buku ini dapat menambah khasanah sastra dan budaya Budaya Bugis dan menjadi bahan rujukan penting dalam pengkajian sastra Bugis terutama kelong.

Buku Koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.