Lontara’ atau lontaraq adalah salah satu karya Bugis yang sudah
memasyarakat ditengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Sebagaimana sastra
budaya bahasa lainnya, sastra Bugis juga memiliki sifat-sifat tertentu yang
harus diperhatikan, selain itu sastra Bugis juga potensial dalam membentuk
kebudayaan nasional yang akan memberikan corak dan warna bagi karakteristik
pembentukan kepribadian bangsa.
Lontara’ merupakan lembaran yang berisi tulisan yang telah terhimpunkan. lontara’ juga salah satu peninggalan kerajaan Bugis-Makassar yang
pernah berjaya di masa lalu. Naskah lontara’ awalnya dituliskan di atas daun Lontar yang kemudian digulung dan disimpan. Teknik penulisan seperti ini juga
dilakukan di berbagai daerah lain yang ada di Indonesia. Beberapa sumber juga
menyebutkan bahwa aksara lontara’ merupakan aksara turunan dari Pallawa yang
berasal dari India dan dibawa ke Nusantara pada masa penyebaran agama Hindu. Dari
kepenulisan aksara lontara di masa lalu jugalah epos La Gagaligo lahir dan menjadi
epos terpanjang di dunia melebihi panjang epos Mahabharata yang berasal dari
India.
Naskah lontara’ memegang peran penting dalam kehidupan
bermasyarakat Bugis, sebab di dalamnya terdapat catatan sejarah, juga terhimpun
catatan mengenai nailai-nilai dan kearifan lokal yang dipahami oleh orang-orang
terdahulu seperti adab-adab kerajaan, ucapan para cendekiawan terdahulu hingga
cerita-cerita ritual adat dahulu kala. Sayangnya dari waktu ke waktu,
keberadaan naskah ini juga semakin jarang ditemukan.
Penulisan dan pencetakan naskah lontara’ juga dilakukan pada
masa Belanda menduduki Indonesia. Naskah yang dihasilkan saat itu kini masih tersimpan
di perpustakaan Leiden, Belanda. Proses penerjemahan dan penelitian naskah lontara’ masih jarang karena penggunaan dan pembelajaran bahasa daerah semakin tergerus
oleh zaman. Belum lagi penggunaan bahasa yang digunakan pada naskah kuno tersebut menggunakan bahasa
daerah klasik yang sarat dengan kata-kata isyarat dan tidak langsung menunjuk
pada arti sebenarnya, jadi untuk membaca dan menerjemahkannya sangat membutuhkan keahlian khusus.
Andi Maryam dan Nur Ilmiyah memberikan usaha dan upaya khusus
dalam melakukan penerjemahan naskah LONTARA’
MINRURANNA SUPPA. Selain itu, dorongan untuk melestarikan dan merakyatkan
bahasa dan aksara Bugis juga semakin kuat sebab sumbernya sudah hampir punah. Maka dari itu, kebudayaan ini harus diselamatkan agar budaya lontara’ dapat terus terjaga dan
dilestarikan. Rasa tanggung jawab untuk melestarikan budaya ini seharusnya bukan
hanya dimiliki oleh penulis dan penerjemah buku ini, namun oleh seluruh
generasi lintas usia khususnya generasi muda suku Bugis.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dan hasil-hasil yang
diharapkan dalm penerjemahan naskah Lontara’ mengenai sejarah daerah Suppa
yaitu :
1. Melestarikan salah satu nilai budaya yang sudah hampir punah.
2. Memasyarakatkan kembali lontara’ dikalangan masyarakat, peneliti dan memperkenalkannya pada masyarakat luar.
3. Menyajikan salah satu bentuk nilai sastara budaya daerah di Indonesia.
Buku transliterasi ini dapat dibaca lebih lengkap pada
Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang
berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.
LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN
Penulis : Andi Maryam ; Nur Ilmiyah
Penerbit : De La Macca
Kota Terbit : Makassar
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978-602-263-065-4
.jpeg)
