Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts

November 23, 2025

Sejarah Lisan Enrekang (Oral History Enrekang)

 


Judul:                           Oral History Enrekang

Penulis:                        Tim Sejarah Lisan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Editor:                         -

Penerbit:                     Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:               2016

Jumlah Halaman:        v + 327

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Salah satu buku Sejarah Lisan (Oral History) yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan adalah buku Oral History Enrekang. Buku ini merukan transkripsi dari proyek sejarah lisan yaitu wawancara dengan para pelaku sejarah masa pemerintahan Jepang di Indonesia, khususnya di Enrekang, Sulawesi Selatan. Dokumentasi proyek ini berupa kaset kaset rekaman baik yang berukuran biasa, maupun yang dalam ukuran mini (mini kaset). Penerbitan buku Sejarah Lisan ini berkat kerjasama dengan Pusat Kajian Multikultural dan Pengembangan Regional  Divisi Ilmu Ilmu Sosial dan Humaniora, pada Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin.

Tujuan utama penerbitan buku ini adalah untuk melengkapi khazanah arsip arsip tekstual yang dimiliki oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Dari sumber sumber Audial (Kaset) ditranskripsi dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Tujuan lainnya adalah untuk memudahkan akses informasi arsip Sejarah Lisan yaitu dengan mengubah format informasinya dari arsi audial (arsip suara) menjadi arsip tekstual (arsip tercetak). Mengakses informasi arsip suara memerlukan sejumlah sarana akses informasi yang sekarang sudah mulai susah ditemukan. Teknologi perekaman informasi melalui kaset, sekarang ini sudah dianggap ketinggalan zaman (out of date), sehingga dengan adanya buku transkripsi Oral History Enrekang ini, akan memudahkan pemustaka atau peneliti serta masyarakat umum untuk mengakses informasi yang berkaitan dengan sejarah Enrekang dimasa pendudukan Jepang.

Hasil wawancara sejarah lisan di Enrekang dengan topik “Awal Masuknya Jepang di Daerah Anggeraja, Enrekang” dengan informan bernama M. Syafaat (76 tahun) seorang pensiunan sipil yang beralaman di Kampung Lura, kelurahan Bambapuang, kecamatan Anggeraja Enrekang dengan pewawancara yaitu : H. Abdul Kadir Bacololo. Wawancara dilaksanakan pada 12 Oktober 1999, berlansung selama 60 menit. Informan lainnya yang diwawancarai oleh H. Abdul Kadir Bacololo adalah Husain (75 tahun) seorang petani, juga beralamat di kampung Lura. Hamzah Taju, (69 tahun) seorang petani yang juga dijadikan sumber informasi.

Pewawancara lainnya adalah Suharman Musa, yang merekam jejak sejarah lisan masuk tentara Jepang di Enrekang dari informan bapak R. Patria (72 tahun) seorang petani dari kampung Lura, kelurahan Bambapuang, kecamatan Anggeraja, Enrekang. Pewawancara lainnya adalah Andi Ahmad Saransi dan Man Arfa. Sementara itu informan lainnya adalah Hasan (75 tahun) dan M. Yahya (73 tahun), Ambe Teppo (88 tahun) dan Jamar Nyapu (75 tahun)

Membaca buku ini, membawa kita ke tahun tahun pendudukan Jepang di Indonesia, khususnya di Enrekang. Banyak kisah kisah menarik terekam dalam buku ini. Di kampung Lura, tentara Jepang membangun markas besarnya. Selain itu juga tentara Jepang membangun liang / lubang persembunyian. Anggapan kita selama ini bahwa tentara Jepang itu kejam, ternyata dari buku ini terungkap bahwa sebagian tentara Jepang itu baik hati dan suka menolong. Tentara Jepang juga mendirikan sekolah dan mengajarkan pelajaran bahasa Jepang serta olahraga  beladiri Jepang kepada anak anak sekolah di Anggeraja.

Suasana daerah di Enrekang selama masa pendudukan Jepang dideskripsikan dalam buku ini dengan baik, sehingga dapat dijadikan bahan rujukan bagi para peneliti, siswa atau mahasiswa yang ingin mengetahui lebih dalam tentang masa masa penjajahan Jepang di Enrekang atau Sulawesi Selatan pada umumnya.

Karena buku ini disusun berdasarkan hasil wawancara sejarah lisan, yang mungkin bagi sebagian orang meragukan keakuratannya. Buku ini juga tanpa ada dokumentasi foto yang dapat meyakinkan pembaca dan memperkuat argumen penulisan buku ini.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi para pencinta sejarah Sulawesi Selatan, khususnya sejarah Enrekang. Buku koleksi Perpustakaan Khusus, Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ruang Baca Arsip, UPT Layanan Arsip, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




October 28, 2025

Mr. Crack dari Parepare

 


Judul:                           Mr. Crack Dari Parepare, Dari Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito

Penulis:                        A. Makmur Makka

Editor:                          Muh. Iqbal Santosa

Penerbit:                     Republika Penerbit, Jakarta

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    xxii + 493

ISBN:                            9786020822914

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah biografi Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disebut BJ Habibie. Beliau adalah mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia. Seorang ilmuwan, dan negarawan yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Kedua orangtuanya bernama Alwi Abdul Djalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Oleh penulisnya (A. Makmur Makka) buku ini diberi judul “Mr. Crack” karena beliaulah orang pertama di dunia yang memperlihatkan kepada dunia ilmu pengetahuan bagaimana menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atomnya.

Diakui sendiri oleh BJ Habibie bahwa buku ini adalah yang biografi terlengkap tentang BJ Habibie, dimana penulisannya semua berdasarkan fakta dan sumber sumber rujukan yang jelas dan terpercaya, bukan hasil rekayasa.

Terbagi menjadi 5 bagian utama, buku ini diawali dengan Prolog, Hanya Memberi Getaran antara Parepare dan Aachen (Jerman), Kembali untuk Kembangkan Teknologi, Ujian Kenegaraan, Kodrat Sang Kapiten Laut, dan Eyang yang Tak Pernah Berhenti Mengabdi. Setiap bagian ini terbagi lagi menjadi beberapa sub bagian.

Bagian pertama lebih fokus pada kehidupan pribadi BJ Habibie. Mulai dari orangtuanya yang berasal dari daerah yang berbeda. Ayahnya dari Gorontalo dan ibunya berasal dari Yogyakarta. Nama ayahnya Alwi Abdul Djalil Habibie diabadikan namanya sebagai nama Jalan di kota Parepare, kesukaannya belajar ilmu fisika, sampai pada pengalaman pribadinya selama studi di Jerman.

Bagian lainnya membahas tentang pengembangan teknologi termasuk diantaranya industri pesawat terbang yang merupakan industri strategis pasca reformasi. Dibahas pula sekilas tentang lahirnya organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), termasuk juga pelarangan terbit majalah Tempo, dan keterlibatan BJ Habibie dalam politik di Indonesia.

Karir politiknya sebagai Wakil Presiden ke-7 dan kemudian menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia diuraikan pada bagian lain. Krisis ekonomi dan masalah Timor Timur diawal peerintahannya sebagai Presiden, juga disebutkan dalam bagian ini. Masa masa akhir pengabdiannya termasuk hubungannya dengan Suharto, dan kematian istri tercinta (Ainun Habibie) dibahas pada bagian akhir buku ini.

Buku ini sangat informatif dan perlu dibaca bagi siapa saja karena membahas seorang tokoh  besar yang dikenal sebagai ilmuwan  dan sekaligus negarawan. Buku ini dapat menjadi sumber motivasi khususnya bagi pembaca yang tertarik pada bidang teknologi dan kepemimpinan, serta kebangsaan.

Buku ini sangat memiliki kelebihan yaitu biografi BJ Habibie yang paling lengkap, sumber rujukan jelas dan tidak ada rekayasa sehingga sangat kredibel dan terpercaya. Cakupan penulisan juga sangat lengkap, karena mulai dari masa kelahiran dan masa kecil BJ Habibie sampai beliau ke Jerman untuk belajar dan kembali ke Indonesia menjadi ilmuwan dan negarawan pemimpin bangsa.

Sebagaimana buku biografi pada umumnya, ada kecenderungan subyektivitas, yaitu kecenderungan memuji tokoh secara berlebihan oleh penulisnya. Hal ini kemungkinan akan mengakibatkan pembaca kurang puas karena tidak ada sudut pandang yang mengkritik. Buku ini juga cukup tebal karena lebih dari 500 halaman, sehingga pembaca generasi muda mungkin merasa berat membacanya. Dari segi teknis, buku ini tanpa ‘indeks’ meskipun jumlah halamannya lebih dari 500. Hal ini akan menyulitkan pembaca yang ingin mencari topik tertentu

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





May 6, 2025

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir 


Oleh: Nabila Wulandani

Sampul Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran


Pendahuluan

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran karya Badaruddin Amir memadukan tradisi Bugis dengan imajinasi puitis dalam bentuk kumpulan cerpen. Terbit pada tahun 2007 oleh AKAR Indonesia kumpulan ini menghadirkan suasana pedesaan Sulawesi Selatan yang hidup melalui deskripsi alam dan kebiasaan masyarakat setempat. Setiap judul cerita mewakili sisi berbeda dari relasi manusia dengan lingkungan dan makhluk lain. Gaya bahasa penulis lugas namun kaya metafora sehingga mudah dinikmati oleh pembaca umum. 

Pada awal halaman pembaca disuguhi adegan sungai yang tenang namun menyimpan rahasia dan konflik. Suara gemericik air dan aroma lumpur menciptakan suasana magis yang sederhana namun kuat. Tokoh utama dalam judul “Latopajoko” membuka kisah dengan ujian kesetiaan yang dramatis. Kalimat pembuka cerpen-cerpen berikutnya dirancang untuk memancing rasa penasaran dan empati.

 

Isi

Alur cerita dalam buku ini episodik tetapi tetap menjaga kesinambungan tema kesetiaan keberanian dan kerinduan. Dalam “Latopajoko” sang towarani diuji dalam duel batin menghadapi Lataddangpali sambil mempertahankan sumpah setia kepada raja. Adegan pertarungan digambarkan sinematik dengan detail gerak tubuh suara keris dan hingar alam malam. Kehadiran anjing kasmaran sebagai teman setia menjadi metafora kesetiaan tanpa syarat. Pergulatan tokoh-tokoh sederhana seperti petani dan nelayan menambah kedekatan emosional dengan pembaca.

Selain kisah kepahlawanan cerpen-cerpen lain menyuguhkan warna berbeda seperti romansa sederhana dan kilasan realisme magis. Pada “Pipit Kecil Bermata Sayu” dan “Tahi Lalat Suster Ezra” pembaca menemukan kegelisahan cinta yang lembut namun menggugah. Elemen gaib muncul tanpa penjelasan berlebihan sehingga suasana misteri tetap terjaga alami. Deskripsi alam pedesaan tidak hanya latar tetapi ikut berbicara melalui simbol jejak kaki embun pagi atau bisikan angin. Transisi antara tawa ringan dan ketegangan mistis membuat pembacaan selalu segar.

Keunikan utama buku ini terletak pada perpaduan cerita folklor lokal dengan bahasa yang ringkas dan kuat. Metafora alam berperan ganda sebagai penanda suasana hati tokoh dan sebagai jembatan makna budaya. Penulis mampu menerjemahkan nilai tradisi Bugis menjadi narasi universal tanpa kehilangan keotentikan. Setiap cerpen menampilkan dialog sederhana yang padat makna dan menimbulkan resonansi emosional panjang. Penyusunan bab dan judul cerpen yang simbolis memancing interpretasi berlapis bagi pembaca.


Penutup

Latopajoko dan Anjing Kasmaran menegaskan bahwa sastra lokal dapat tampil memikat lintas generasi dan latar belakang. Kumpulan cerpen ini layak dibaca siapa saja yang tertarik pada kisah persahabatan keberanian dan nuansa mistis. Gaya penceritaan Badaruddin Amir memastikan pembaca tidak sekadar terhibur tetapi juga diajak merenung tentang makna kesetiaan dan takdir. Sinopsis ini diharapkan menjadi pintu gerbang yang memancing keingintahuan untuk menelusuri tiap cerita lebih jauh. Saat lembar pertama dibuka pembaca akan menemukan kedalaman makna yang terus berkembang hingga halaman terakhir.


Bagi pembaca yang ingin menjelajahi keajaiban kisah Latopajoko dan Anjing Kasmaran, buku ini dapat dijumpai di koleksi deposit lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jalan Alauddin, Kota Makassar. 

Informasi Buku

Judul Buku: Latopajoko dan Anjing Kasmaran  
Karya: Badaruddin Amir  
Penerbit: AKAR Indonesia  
Tahun: 2007

February 24, 2025

Tragedi Patriot & Pemberontakan Kahar Muzakkar

 


Judul:                         Tragedi Patriot & Pemberontakan Kahar Muzakkar

Penulis:                      Syafaruddin Usman Mhd

Editor:                       Ari Pranowo

Penerbit:                    Narasi

Tahun Terbit:              2009

Jumlah Halaman:       158

ISBN:                        9789791681902

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku “Tragedi Patriot dan Pemberontakan Kahar Muzakkar” adalah satu dari sekian banyak buku yang membahas tokoh kontroversial dari Sulawesi Selatan. Penulis buku ini berusaha menggambarkan sosok Kahar Muzakkar dari berbagai sisi kehidupannya; mulai dari kelahiran, masa kecilnya, kampung halamannya, pedidikannya, karirnya dalam militer, pemberontakannya kepada negara, dan aspek kehidupan lainnya.

Diuraikan pula dalam buku ini tentang tokoh tokoh yang terlibat dalam pemberontakan dan penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar, seperti Sjamsul Bachri, Andi Muhammad Yusuf Amir, JW (DEE) Gerungan, Andi Selle Mattola, Andi Sose, Joop F Warouw, Muhammad Bahar Mattalioe, dan Muhammad Saleh Lahade.

Nama nama anggota kabinet Negara Republik Islam Indonesi (RII) Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DII/TII) 1957-1959 juga dicantumkan pada bagian Lampiran buku ini. Ternyata nama nama Menterinya, ada juga nama yang sepertinya non-muslim dari bagian timur Indonesia.

Pada bagian awal buku, digambarkan suasana kampung Lanipa dekat kota Palopo tempat kelahiran Kahar Muzakkar yang nama kecilnya “La Domeng”. Selanjutnya Kahar Muzakkar melanjutkan pendidikanya ke Jawa dan kemudian masuk militer dan membentuk organisasi perjuangan. Pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dan keadaan Sulawesi Selatan pada masa itu juga diuraikan pada bab kedua dan ketiga. Pertentangan ideologi dan dan sentimen kedaerahan juga dibahas pada bab keempat dan kelima. Pada bagian kelima ini dikisahkan tentang tertembaknya Kahar Muzakkar pada 3 Februari 1965.

Bab bab selanjutnya menggambarkan terjadinya pemberontakan anti-Belanda di Sulawesi Selatan, misalnya Gerakan Muda Bajeng yang diprakarsai oleh Karaeng Haji Pajonga Daeng Ngalle. Ada juga LAPRIS yang dipimping oleh anak muda Robert Wolter Monginsidi. Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), KRIS Muda, dan Pasukan Laskar Harimau adalah sebagian dari organisasi yang terbentuk pada masa itu.   

Buku ini tidak terlalu banyak mengupas kehidupan pribadi Kahar Muzakkar. Organisasi Organisasi Militer, gerakan pemuda anti Belanda, konflik dalam organisasi militer adalah topik yang banyak dibahas dibuku ini.

Buku ini sangat informatif terutama jika pembaca ingin mengetahui banyak tentang pemberontakan militer pada masa masa pasca kemerdekaan. Pendekatan Komprehensif dari buku yang berupaya menyajikan gambaran lengkap tentang Kahar Muzakkar, termasuk latar belakang, motivasi, dan pandangannya, sehingga pembaca dapat memahami kompleksitas tokoh ini.

Sumber Referensi cukup banyak dan beragam dalam penyusunan buku ini. Penulis menggunakan berbagai sumber, termasuk tulisan pribadi Kahar Muzakkar sendiri "Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia” yang terbit tahun 1961. Bahkan ada beberapa sumber referensi buku tentang Kahar Muzakkar dan DI/TII  yang ditulis oleh penulis dari luar negeri  seperti Barbara Sillars Harvey, Herbert Feith, Daniel S. Lev dan C Van Dijk.

Namun demikian, ada juga kekurangan buku ini misalnya sangat terbatas ulasannya dari pembaca, sehingga  sulit untuk mendapatkan gambaran umum tentang penerimaan dan kritik terhadap isi buku. Semakin banyak ulasan dari suatu buku akan semakin bagus penerimaan dan juga pemikiran kritis dari pembacanya.

Hal lain yang dapat dikatakan kekurangan buku ini adalah, jumlah edisi yang tercetak dan yang dijual sangat terbatas. Terbit tahun 2009 dan 2010, namun sangat susah untuk dapat membeli atau memiliki buku ini. Beberapa toko buku daring (online) menunjukkan bahwa stok buku ini tidak tersedia, yang dapat menyulitkan pembaca yang ingin memperoleh buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini menawarkan wawasan mendalam tentang sosok Kahar Muzakkar dan peristiwa pemberontakan di Sulawesi Selatan, meskipun keterbatasan ulasan dan ketersediaan mungkin menjadi pertimbangan bagi calon pembaca.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



July 20, 2024

Permainan Rakyat Tradisional Sulawesi Selatan

 


Judul:                           Permainan Rakyat Sulawesi Selatan

Penulis:                        -

Editor:                         Gunawan Monoharto & Yudisthira Sukatanya

Penerbit:                     La Macca Press

Tahun Terbit:               2003

Jumlah Halaman:        -

ISBN:                            979-97452-1-7

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Ditengah serbuan gadget dan peralatan elektronik digital dalam kehidupan sehari hari kita, permainan tradisional semakin terlupakan. Begitu banyak permainan tradisional dari ke-4 suku utama di Sulawesi Selatan yang dulu marak dimainkan, sekarang sudah ditinggalkan. Hampir pasti, anak anak zaman sekarang tidak mengetahui berbagai macam permainan tradisional Sulawesi Selatan. Mungkin hanya yang tinggal di kampung kecil yang jauh dari jaringan seluler yang masih memainkan permainan tradisional.

Tujuan utama penulisan buku ini untuk mendokumentasikan berbagai macam permainan tradisional Sulawesi Selatan agar generasi muda dan generasi selanjutnya akan tetap mampu mempertahankan dan memainkannya. Permainan dalam buku ini didefinisikan sebagai tradisi suatu kelompok  masyarakat yang mengandung unsure olahraga sekaligus seni. Seperti yang dikatakan H. Ajeip Padindang pada pengantar buku ini, bahwa permainan rakyat bukan sekedar ajang bermain main.

Ada 36 jenis permainan tradisional dibahas dalam buku ini. Pembahasannya meliputi, bagaimana permainan itu dimainkan, siapa saja yang biasa mainkan (laki laki atau perempuan, anak anak atau dewasa), sejarahnya, nama permainan dalam bahasa lain misanya Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, berapa orang yang biasa mainkan, waktu permainan ini dimainkan dan lain lain.

Adapun permainan rakyat yang dibahas dalam buku ini yaitu:  Aqraga (Maqraga), Attaba Lisere Camba, Appaddekko, Beklam (Bekkel), Galla (Gallarang), Mabbangnga’ (Attaruq),   Maccubbu-cubbu (Accokko-cokkoang), Maccukke (Accangke), Maggalaceng (Aggalacang),   Maggasing (Aqgasing), Maggecciq (Aqdatte-datte), Majjekka, Maggale (Makkaddaro),   Mallanca (Aqlanja), Maqirrong, Maqkacalele, Mallogo, Mammenca (Aqmancaq), Maqdanda (Santo-Santo), Mappuccaq, Makkanreppa, Mallongaq, Mappolo Beceng (Aqkati-katinting),   Mantarruq, Maqpasilaga Tedong, Maqsumpi-sumpiq, Maqtebbaq, Massalo (Aqsalo),  Massilelo, Massempe, Mappasajang (Aqlayang-layang),  Mattojang (Attoweng), Paboboq,   Rengngeng (Ajjonga), Sapinggaq-pinggaq, dan Songko-Songkokang Jangang,

Mungkin masih ada permainan tradisional yang sering anda mainkan dimasa anak anak dan remaja dulu yang belum disebut diatas. Hampir setiap daerah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan memiliki permainan rakyat khas masyarakat setempat.  

Buku ini sangat bagus untuk dikaji lebih mendalam untuk bahan penelitian tentang tradisi tradisi yang di Sulawesi Selatan, khususnya permainan tradisional.

Buku tentang permainan tradisional membantu melestarikan warisan budaya dan tradisi yang mungkin sudah mulai terlupakan oleh generasi muda. Pembaca dapat mempelajari aturan, sejarah, dan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional, yang sering kali memiliki aspek edukatif. Buku ini bisa membangkitkan nostalgia bagi orang dewasa yang pernah memainkan permainan tersebut di masa kecil mereka. Dapat menjadi media untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak dan remaja yang mungkin lebih akrab dengan permainan modern atau digital. Pembaca bisa memahami manfaat permainan tradisional dalam mengembangkan keterampilan sosial, motorik, dan kognitif anak-anak.

Namun bisa jadi informasi yang disajikan dalam buku ini  tidak lengkap atau kurang mendalam, terutama jika penulis tidak memiliki akses ke sumber yang autentik atau cukup mendalam. Pembaca yang lebih tertarik pada permainan modern mungkin kurang tertarik pada buku yang membahas permainan tradisional, sehingga target pembaca menjadi terbatas. Buku ini tanpa ilustrasi yang memadai atau penjelasan yang jelas, pembaca mungkin kesulitan memahami cara memainkan permainan tradisional tersebut. Beberapa permainan tradisional mungkin tidak lagi relevan atau praktis dimainkan di lingkungan modern, sehingga pembaca merasa informasi tersebut kurang berguna.

Akan sangat bagus jika buku ini dilengkapi dengan alat bantu audio-visual (pandang-dengar) dalam bentuk CD atau DVD atau media audiovisual lainnya. Bagi pemustaka, menggunakan Alat bantu peraga Audio-visual  akan lebih memudahkan memahami informasi semacam ini (permainan Tradisional).



April 23, 2024

MENYELAMI WAKTU 40.000 : BERDIALOG DENGAN MASA LALU DI TAMAN ARKEOLOGI LEANG-LEANG

Taman prasejarah Leang-leang telah hadir sejak tahun 1970-an, namun karena beberapa hal namanya diubah menjadi Taman Arkeologi Leang-leang. Perubahan tersebut tidak hanya sebatas perubahan nama, tetapi juga terkait dengan perubahan fungsi. Jika sebelumnya berfokus pada upaya pengelolaan pelestarian semata, kini penekanannya pada upaya pemanfaatan sebagai layanan informasi kepada publik menjadi suatu keharusan.

Taman Arkeologi Leang-leang berada di kecamatan Bantimurung, kabupaten Maros yang juga menjadi bagian dari taman karst terbesar di dunia yang telah berumur lebih dari ribuan bahkan jutaan tahun. Taman ini adalah tempat terpendamnya kisah peradaban manusia tahun 40.000 tahun yang lalu. Tempat ini juga bisa menjadi sebagai tempat edutainment alias belajar sambil rekreasi.

MENYELAMI WAKTU 40.000 TAHUN : BERDIALOG DENGAN MASA LALU DI TAMAN ARKEOLOGI LEANG-LEANG merupakan buku kumpulan tulisan atau bunga rampai yang membahas mimpi terwujudnya penyampaian pendapat, pandangan dan gagasan teoritis dalam menyelamai waktu 40.000 tahun yang lalu di taman Arkeologi Leang-leang.

Buku ini dicetak untuk masyarakat luas, sesuai dengan harapan para penulis agar kiranya melalui buku ini pembaca dapat mendapatkan inspirasi dan pelajaran mengenai masa lalu di Taman Arkeolog Leang-leang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Inspirasi yang dimaksudkan oleh penulis adalah agar kiranya para pembaca terinspirasi untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkannya sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Terdapat 13 tulisan/artikel jurnal yang ada di dalam buku ini, semua tulisan tersebut membahas mengenai Taman Arkeologi Leang-leang dari berbagai aspek kehidupan seperti nilai edukasi, sosial, sejarah hingga hiburan. Buku ini adalah salah satu koleksi layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM. 7 kota Makassar.

 

Penanggung Jawab : Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan

Penyunting : Iwan Suwantri

Penerbit : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Tempat Terbit : Jakarta Pusat

Tahun Terbit : 2022

ISBN : 978-602-244-920-1

 

April 20, 2024

Buku Cerdas Sulawesi Selatan, Bunga Rampai Pengetahuan Tentang Sulawesi Selatan

 



Judul:                         Buku Cerdas Sulawesi Selatan

Penulis:                      Shaff Muhtamar

Penerbit:                    Yayasan Karaeng Pattingngalloang, Gowa

Tahun Terbit:              2005

Jumlah Halaman:        167

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Isi Resensi:


Buku ini membahas banyak informasi mengenai Sulawesi Selatan. Kumpulan informasi berbagai aspek Sulawesi Selatan. Buku yang ditulis oleh Shaff Muhtamar setebal 167 halaman ini diterbitkan oleh Yayasan Karaeng Pattingalloang bekerjasama dengan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, dimaksudkan untuk membantu para pemustaka mendapatkan informasi tentang Sulawesi Selatan.

Informasi yang dibahas dalam buku ini adalah Informasi Umum tentang Sulawesi Selatan, mulai dari sejarahnya, visi dan misi Provinsi, makna lambang (logo), nama nama Gubernur, nama nama Walikota Makassar, letak geografis, luas wilayah, jumlah penduduk, flora dan fauna, gunung, sungai, agama, suku bangsa, cuaca, bahasa dan lain lain.

Profil kota Makassar juga dibahas sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, tentang luas wilayahnya, jumlah kecamatan, kelurahan, RT, RW, jumlah Penduduk, makna lambang kota Makassar. Demikian juga semua kabupaten / kota yang ada di Sulawesi Selatan. Setiap daerah Kabupaten Kota dijelaskan secara umum tentang letak geografis, pertanian, pariwisata, sektor industri, perhubungan.

Potensi daerah kabupaten kota se-Sulawesi Selatan juga dijelaskan secara detail.Misalnya potensi pertanian, berapa hektar sawah, berapa ton produksinya dan lain lain. Potensi pertambangan, perkebunan, kehutana, peternakan, perikanan, dan volume ekspor.

Kerajaan kerajaan yang pernah ada dan berdaulat di Sulawesi Selatan juga dibahas satu persatu, meskipun tidak semua kerajaan. hanya kerajaan besar saja yang dibahas, misalnya, kerajaan Gowa, Bone, Tallo, Soppeng, Wajo, Luwu, Bantaeng, Lita Mandar dan lain lain.

Kemudian ada pembahasan tentang kebudayaan tradisional Sulawesi Selatan, mulai dari mitos To manurung dibeberapa kabupaten, komunitas tradisional misalnya To Bettong di Barru, suku Bajo di Sibulue Bone, Bissu, Ammatoa, dan Tolotang. Ada juga tentang Nilai nilai tradisional Sulawesi Selatan, upacara adat perkawinan dari beberapa suku, upacara kematian dan pemakaman, upacara nelayn dan lain lain.

Tradisi Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Sulawesi Selatan, juga dijelaskan. Misalnya; barzanji, maulid, ziarah, mikraj, mappanre temme, malleppe, je'ne je'ne sappara, memulai mengaji dan Asyuro. Sejarah masjid masjid tua di Sulawesi Selatan juga tidak ketinggalan. Ada masjid Katangka, masjid Tosora, masjid Palopo, masjid Tolo. Sejarah Klenteng juga ada. Situs situs Arkeologi , peninggalan kerajaan, kerajinan tradisonal, tenunan tradisional, pakaian adat, tari tradisional teater rakyat, seni tulis dan seni musik, alat musik, senjata, permainan, nama nama perahu tradisional, bangunan dan rumah adat, serta peralatan mistis religius semua lengkap dibahas dalam buku ini. Aspek lainnya, adalah struktur sosial, pelanggaran adat, gelar adat, dan gelar raja.

Pariwisata Makassar juga dibahas tersendiri, mulai dari wisata baharinya, wisata niaga (mall dan toko toko lengkap dengan alamat masing masing), hotel, wisma, bandara, pelabuhan, makanan tradissional, kalender pariwisata, pariwisata kabupaten kota, monumen monumen yang ada di Sulawesi Selatan, dan museum. peristiwa bersejarah juga tidak ketinggalan dalam pembahasan buku ini. Tahun tahun bersejarah Sulawesi Selatan, NIT, Korban 40.000 Jiwa, Perjanjian Bungayya, Laskar 45, sampai tragedi April Berdarah, dan lain lain juga dibahas secara ringkas.

Terakhir ada biografi ringkas tokoh tokoh Sulawesi Selatan: Opu Daeng Risaju, Ranggong Daeng Romo, Sultan Hasanuddin, Emmy Saelan, La Maddukkelleng, Andi Mappanyukki, Pongtiku, Andi Depu. dan La Pawawoi. Para cerdik cendekia Sulawesi Selatan juga jelaskan: misalnya Karaeng Pattingalloang, Collie Pujie, dan Daeng Pamatte. Tambahan lainnya: kisah epic I La Galigo, Ulama Tasauf Syech Yusuf. Jenis Media Cetak, Daftar Perguruan Tinggi, Pesantren, Tempat Kursus, Perusahaan perusahaan dalam berbagai bidang produksi juga ada dibuku ini.

Buku ini cukup lengkap membahas tentang berbagai aspek Provinsi Sulawesi Selatan.

Kekurangan dari buku ini adalah, sebagian informasinya sudah usang. Terbit tahun 2005, tentu sudah banyak perubahan yang terjadi di Sulawesi Selatan, terutama data data statistik yang banyak dipakai dalam pembahasan bagian bagian awal buku. Buku perlu segera di revisi dan dicetak ulang. Contoh informasi yang sudah usang misalnya, Universitas 45 masih digunakan di buku ini, sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah berganti nomenklatur menjadi Univeristas BOSOWA. Kemudian pada daftar nama nama Gubernur hanya sampai pada Gubernur Amin Syam. Nama Walikota Makassar hanya sampai Arief Sirajuddin. Begitu pula nama nama perusahaan beserta alamatnya, mungkin perlu dicek kembali  agar informasinya tetap diperbarui (ter-update).

Buku ini adalah koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Jalan Lanto Dg. Pasewang, Makassar.



June 24, 2023

Memori Kepemimpinan Bupati Takalar : Zainal Abidin

 


Buku : Takalar Kini & Esok, Paradigma Baru Bupati Zainal

Editor : Andi Wanua Tangke dan Usman Nukma

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat : Makassar

Tahun: 2001

Jumlah Halaman : 204

Ukuran : 20,5 cm

ISBN :

Buku ini diterbitkan pada masa pemerintahan Bupati Zainal Abidin di Kabupaten Takalar. Selain membahas berbagai aspek pembangunan daerah Takalar, juga sedikit diuraikan sejarah Takalar dan asal usul namanya, posisi geografis dan keadaan penduduknya.

Terbagi dalam 7 bagian dimana setiap bagian terdiri dari beberapa sub-bagian. Pada bagian kedua diuraikan secara ringkas bagaimana Takalar menuju Civil Society (Masyarakat Madani) dengan berbagai langkah langkah yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Uraian tentang alam, budaya dan pariwisata Takalar selanjutnya di bagian ketiga. Berbagai obyek budaya dan pariwisata dikemukakan misalnya upacara Maudu Lompoa, pariwisata pantai Tope Jawa, Galesong dan juga kilas balik sejarah yang terjadi di Takalar. Potensi daerah Takalar misalnya hasil ternak, hasil pertanian, perikanan dan peternakan.

Hasil kerajinan anyaman serat lontara dan gerabah dari Takalar juga telah menembus pasa dunia dan diekspor ke Belanda, Amerika Serikat dan Australia. Hasil pertanian sayur sayuran juga. Berbagai keberhasilan selama pemerintahan Zainal Abidin diuraikan pada bagian kelima dan keenam.

Bagian ketujuh adalah kumpulan sumbangan tulisan para pakar, akademisi dan tokoh masyarakat tentang Takalar dan tentang kepeminpinan Bupati Zainal Abidin. Judul judul tulisan dari para tokoh adalah sebagai berikut:

·         Pola Penyaluran KUT, Perlu dicontoh (Prof. Dr. Halide, Pakar Ekonomi Pertanian)

·         Wajar Untuk Dikagumi (Prof. Dr. Radi A. Gany, Rektor Universitas Hasanuddin)

·         Jalin Kerjasama dengan Luarnegeri (Prof. Dr. A. Husni Tanra, Direktur PPS UNHAS)

·         Tingkatkan Kualitas Hasil Produk (Dr. Marwah Daud Ibrahim, Anggota DPR RI)

·         Takalar, Contoh dalam Pemberdayaan SDM (Prof.Dr. W.I.M. Polii, Pakar Ekonomi)

·         Takalar Punya Masa Depan (Dr. H. Kalmuddin Salle, S.h., M.H., Pakar Hukum)

·         Masyarakat Berdaya, Partisipasi Meningkat (Drs. A. Azis Sanapiah, M.P.A. Kepala DIKLAT LAN II)

·         Harus Bertemu Bottom Up dengan Top Down (Drs. H. Achmad Batinggi Ketua STIMIK Dipanegara Makassar)

·         Ibarat Mobil, Bupati Lari Sembilanpuluh (Drs. H. Ibrahim Rewa, Ketua DRD dan Partai Golkar Takalar)

·         Kebijakan Pemerintah Sudah Tepat (Kolonel H. Ibrahim Tulle, Mantan Bupati Takalar)

·         Berdosa Kalau Inkari Keberhasilan Bupati (H.M. Dg. Temba, Ketua IPKI dan Wakil Ketua DPRD Takalar)

·         Awalnya Muncul Suara Sumbang (Abdullah Yuseng, Anggota DPRD Takalar)

·         Peduli Pembangunan Agama (Idris Nassa, Ketua Umum BAZ Takalar)

·         Pemda Peduli Perkembangan PERS (H. Syamsu Nur, Ketua PWI Sulsel)

·         Harus Diakui Takalar Sudah Maju (Akamatsu Shiro, Ketua JICA)

·         Dibutuhkan Figur Sekelas Zainal (H. Akbar Serang, Ketua I Gapensi Takalar)

·         Budaya Panjat Pinang Rugika Takalar (Ismail Tato, S.Ag., Ketua Umum HIPERMATA)

·         Sukses Karena Didukung Visi dan Misi (Abdul Muis Malik, Aktifis LSM Takalar)

·         Tidak Harus Putra Daerah (Drs. H.M. Natsir Husain, Sekwilkab Takalar)

·         Terbuka Menerima Kritik (Ir. H. Dahyar Daraba, M.Si., Ketua Bappeda Takalar)

·         Ada Komitmen Kuat Berdayakan Masyarakat Lokal (Ir. H. Muhammad Tamzil, Kadis Transmigrasi dan PPH Takalar)

·         Melibatkan Kalangan Akademisi (Drs. Baso Lewa, Kabag Umum Setwilda Takalar)

·         Eksekutif Harus Lebih Kreatif (Drs. As’ad Limpo, Camat Pattallassang)

Buku ini adalah Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 



August 23, 2022

LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN

Lontara’ atau lontaraq adalah salah satu karya Bugis yang sudah memasyarakat ditengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Sebagaimana sastra budaya bahasa lainnya, sastra Bugis juga memiliki sifat-sifat tertentu yang harus diperhatikan, selain itu sastra Bugis juga potensial dalam membentuk kebudayaan nasional yang akan memberikan corak dan warna bagi karakteristik pembentukan kepribadian bangsa.

Lontara’ merupakan lembaran yang berisi tulisan yang telah terhimpunkan. lontara’ juga salah satu peninggalan kerajaan Bugis-Makassar yang pernah berjaya di masa lalu. Naskah lontara’ awalnya dituliskan di atas daun Lontar yang kemudian digulung dan disimpan. Teknik penulisan seperti ini juga dilakukan di berbagai daerah lain yang ada di Indonesia. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa aksara lontara’ merupakan aksara turunan dari Pallawa yang berasal dari India dan dibawa ke Nusantara pada masa penyebaran agama Hindu. Dari kepenulisan aksara lontara di masa lalu jugalah epos La Gagaligo lahir dan menjadi epos terpanjang di dunia melebihi panjang epos Mahabharata yang berasal dari India.

Naskah lontara’ memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat Bugis, sebab di dalamnya terdapat catatan sejarah, juga terhimpun catatan mengenai nailai-nilai dan kearifan lokal yang dipahami oleh orang-orang terdahulu seperti adab-adab kerajaan, ucapan para cendekiawan terdahulu hingga cerita-cerita ritual adat dahulu kala. Sayangnya dari waktu ke waktu, keberadaan naskah ini juga semakin jarang ditemukan.

Penulisan dan pencetakan naskah lontara’ juga dilakukan pada masa Belanda menduduki Indonesia. Naskah yang dihasilkan saat itu kini masih tersimpan di perpustakaan Leiden, Belanda. Proses penerjemahan dan penelitian naskah lontara’ masih jarang karena penggunaan dan pembelajaran bahasa daerah semakin tergerus oleh zaman. Belum lagi penggunaan bahasa yang digunakan pada naskah kuno tersebut menggunakan bahasa daerah klasik yang sarat dengan kata-kata isyarat dan tidak langsung menunjuk pada arti sebenarnya, jadi untuk membaca dan menerjemahkannya sangat membutuhkan keahlian khusus.

Andi Maryam dan Nur Ilmiyah memberikan usaha dan upaya khusus dalam melakukan penerjemahan naskah LONTARA’ MINRURANNA SUPPA. Selain itu, dorongan untuk melestarikan dan merakyatkan bahasa dan aksara Bugis juga semakin kuat sebab sumbernya sudah hampir punah. Maka dari itu, kebudayaan ini harus diselamatkan agar budaya lontara’ dapat terus terjaga dan dilestarikan. Rasa tanggung jawab untuk melestarikan budaya ini seharusnya bukan hanya dimiliki oleh penulis dan penerjemah buku ini, namun oleh seluruh generasi lintas usia khususnya generasi muda suku Bugis.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dan hasil-hasil yang diharapkan dalm penerjemahan naskah Lontara’ mengenai sejarah daerah Suppa yaitu :

1.     Melestarikan salah satu nilai budaya yang sudah hampir punah.

2.    Memasyarakatkan kembali lontara’ dikalangan masyarakat, peneliti dan memperkenalkannya pada masyarakat luar.

3.    Menyajikan salah satu bentuk nilai sastara budaya daerah di Indonesia.

Buku transliterasi ini dapat dibaca lebih lengkap pada Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

 

LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN

Penulis : Andi Maryam ; Nur Ilmiyah

Penerbit : De La Macca

Kota Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-263-065-4