I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang adalah putra Raja Gowa XXXIII (1893-1895) I Mallikaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris dari hasil perkawinannya dengan We Tenri Padang Sultanah Aisyah Arung Barru. We Tenri Padang adalah saudara kandung dari Raja Bone XXIX (18601871) yang bernama La Singkeru Rukka MattinroE ri Topaccing dan cucu dari raja Bone XXIV (1812-1823) yang bernama La Mappatunru Sultan Muhammad Ismail MatinroE ri Lalebbata. Sedangkan I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka ialah putra Raja Gowa XXXII (1826-1893) I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid dari hasil perkawinannya dengan I Seno Karaeng Lakiung.
Oleh karena itu, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang adalah merupakan bangsawan tinggi (Anak Pattola-Anak Ti'no) dan bukan saja sebagai pewaris akan tahta di kerajaan Gowa melainkan juga di kerajaan Bone dan Barru. Setelah Raja Gowa XXXIII I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris wafat pada tanggal 13 Mei 1895, ia kemudian digantikan oleh putra yang bernama I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sulran Husain (1895-1905), inilah Kerajaan Gowa terlibat perang dengan pasukan militer Belanda pada tahun 1905.
Dalam peperangan itu, Raja Gowa I Makkulau Daeang Serang Karaeng Lembang Parang memegang peranan amat penting, bukan karena merupakan tokoh utama atau tokoh kunci yang amat menentukan , melainkan juga karena keterlibatannya dalam memimpin secara langsung rakyatnya dalam melakukan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Perlawanan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang dalam menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dilatarbelakangi oleh akumulasi dari pertentangan-pertentangan antara pemerintah kerajaan Gowa dengan pemerintahan Hindia. Benih-benih pertentangan yang telah tumbuh sejak abad XVII dan redup setelah kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar yang amat dahsyat pada tahun 1667-1669, kembali mulai tampak ketika pemerintah Hindia Belanda mengajukan tuntutan dan memaksakan edisi baru Perjanjian Bungaya untuk ditandatangani kepada pemerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1895.
Pertentangan antara kedua belah pihak, semakin tampak ketika pemerintah Hindia Belanda memperlakukan secara kurang hormat dan tidak sopan terhadap pembesar-pembesar kerajaan Gowa yang turut hadir pada upacara pemakaman Raja Sidenreng menjelang akhir tahun 1904. Sejak kejadian itu, Raja Gowa l Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang bersama para pembesar kerajaan Gowa semakin menunjukkan sikap permusuhannya terhadap pemerintahan Hindia Belanda.

No comments:
Post a Comment