December 17, 2025

How To Become A Highly Qualified Instructor

 


Judul:                           How To Become A Highly Qualified Instructor

Penulis:                        Gian Y. Widodo

Editor:                         Aqsha

Penerbit:                     Diandra Kreatif

Tahun Terbit:               2016

Jumlah Halaman:        xii + 152

ISBN:                            9786023362332

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku How to Become a Highly Qualified Instructor karya Gian Y. Widodo merupakan panduan komprehensif bagi para pendidik yang ingin meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengajar. Buku ini dirancang untuk membantu instruktur, baik yang baru memulai karier maupun yang sudah berpengalaman, dalam mengembangkan keterampilan mengajar yang efektif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan masa kini. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan pendekatan praktis, buku ini sangat layak menjadi referensi utama dalam dunia pendidikan.

Salah satu keunggulan buku ini adalah fokusnya pada aspek keterampilan pengajaran yang holistik. Widodo tidak hanya membahas teknik mengajar secara teknis, tetapi juga mengangkat pentingnya aspek psikologis, komunikasi, dan motivasi dalam proses pembelajaran. Penulis menekankan bahwa menjadi instruktur yang berkualitas berarti mampu memahami karakteristik peserta didik, menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta mampu menginspirasi dan memotivasi peserta agar mencapai potensi terbaiknya.

Buku ini juga memuat berbagai metode dan strategi pengajaran yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks pendidikan. Gian Y. Widodo memberikan panduan praktis dalam perencanaan pembelajaran, penggunaan media dan teknologi, hingga cara mengevaluasi hasil belajar secara efektif. Dengan contoh-contoh nyata dan studi kasus, pembaca dapat dengan mudah menyesuaikan metode yang diajarkan dengan situasi dan kebutuhan di lapangan.

Selain itu, Widodo menyoroti pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan bagi seorang instruktur. Buku ini mengajak pembaca untuk terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, workshop, dan refleksi diri. Hal ini menjadikan buku ini tidak hanya sebagai panduan mengajar, tetapi juga sebagai motivasi untuk menjadi profesional yang selalu berkembang.

Buku ini membahas pengajaran tidak hanya dari segi teknik, tetapi juga aspek psikologis, komunikasi, dan motivasi, sehingga instruktur dapat mengajar lebih efektif dan menyeluruh. Buku ini juga dilengkapi dengan contoh nyata, strategi, dan metode pengajaran yang aplikatif, memudahkan pembaca menerapkan ilmu dalam konteks pembelajaran yang beragam. Penulis juga mengajak instruktur untuk terus belajar dan berkembang, menjadikan pembaca termotivasi untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan. Ada lagi kelebihan lainnya yaitu penyampaian materi yang lugas dan terstruktur membuat buku ini sesuai untuk instruktur pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Namun, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Misalnya, buku ini lebih banyak membahas aspek umum dan konsep dasar pengajaran, sehingga pembaca yang sudah sangat berpengalaman mungkin merasa kurang mendapat tantangan atau wawasan baru yang lebih mendalam. Selain itu, beberapa contoh yang diberikan terkadang terlalu umum dan kurang spesifik pada konteks pendidikan tertentu, sehingga pembaca perlu melakukan adaptasi lebih lanjut.

Secara keseluruhan, How to Become a Highly Qualified Instructor karya Gian Y. Widodo adalah buku yang sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan pendekatan praktis dan komprehensif, buku ini membantu pembaca memahami berbagai aspek penting dalam proses pembelajaran dan pengajaran. Buku ini sangat direkomendasikan bagi para guru, dosen, pelatih, dan instruktur di berbagai bidang yang ingin menjadi pendidik yang lebih profesional, inspiratif, dan efektif.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Menulis Ilmiah, Metode Penelitian Kualitatif

 


Judul:                           Menulis Ilmiah, Metode Penelitian Kualitatif

Penulis:                        Septiawan Santana K.

Editor:                         -

Penerbit:                     Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit:               2007

Jumlah Halaman:        x + 226

ISBN:                            9789794616499

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini membahas tentang segala hal yang berkaitan dengan menulis karya ilmiah menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan riset deskriptif untuk memahami fenomena sosial secara mendalam dari sudut pandang partisipan, dengan mengumpulkan data non-numerik (kata-kata, teks, narasi) melalui wawancara, observasi, atau dokumentasi untuk mengeksplorasi makna, pengalaman, dan "mengapa" di balik suatu masalah, bukan "berapa". Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, dengan ciri khas fleksibilitas, fokus pada kedalaman data, dan analisis induktif. 

Septian Santana menguraikannya secara rinci dalam lima bagian utama. Diawali dengan Pendahuluan yang fokus pada pengenalan terhadap pembaca (siapa yang akan membaca laporan yang dibuat) dan cara menangkap topik, mulai dari memilih topik, memastikan topik bisa dikerjakan, mencari sumber sumber, membuat catatan-catatan dan membuat kerangka.

Buku ini merupakan karya yang sangat relevan dan penting bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi yang ingin memahami dasar-dasar dan teknik dalam melakukan penelitian kualitatif serta menulis hasil penelitiannya secara ilmiah. Buku ini menyajikan panduan yang sistematis, jelas, dan aplikatif, sehingga memudahkan pembaca untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menerapkannya dalam praktik penelitian sehari-hari. Dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, Septiawan berhasil menyampaikan konsep-konsep kompleks secara sederhana namun tetap komprehensif.

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah pembahasan mendalam mengenai karakteristik penelitian kualitatif. Penulis menjelaskan secara rinci perbedaan mendasar antara penelitian kuantitatif dan kualitatif, sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas filosofi, tujuan, dan pendekatan yang berbeda dari kedua metode ini. Buku ini menekankan bahwa penelitian kualitatif lebih berfokus pada pemahaman fenomena sosial secara mendalam melalui data yang bersifat naratif dan interpretatif, bukan sekadar angka atau statistik.

Selain itu, buku ini memaparkan berbagai jenis dan teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Septiawan juga memberikan contoh praktis bagaimana setiap teknik tersebut dapat dijalankan dengan baik, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga pencatatan data. Hal ini sangat membantu pembaca yang baru pertama kali melakukan penelitian kualitatif agar tidak merasa bingung dan dapat mengikuti langkah demi langkah dengan lebih percaya diri.

Bagian yang tidak kalah penting adalah pembahasan tentang analisis data kualitatif. Penulis menguraikan berbagai pendekatan analisis, termasuk coding, kategorisasi, dan interpretasi data, sehingga pembaca dapat memahami bagaimana data yang terkumpul diolah menjadi temuan yang bermakna. Penjelasan ini dilengkapi dengan contoh-contoh nyata yang memudahkan pembaca dalam mempraktekkan analisis data tanpa harus merasa terbebani oleh teori yang terlalu abstrak.

Dalam konteks penulisan ilmiah, buku ini juga memberikan panduan lengkap tentang struktur dan gaya penulisan laporan penelitian kualitatif. Septiawan menekankan pentingnya kejelasan, konsistensi, dan logika dalam menyusun bab-bab laporan sehingga pembaca dapat mengikuti alur pemikiran peneliti dengan mudah. Tips praktis tentang cara menulis latar belakang, tinjauan pustaka, metodologi, hasil penelitian, dan kesimpulan sangat membantu bagi penulis pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Meski memiliki banyak kelebihan, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah kurangnya pembahasan tentang penggunaan teknologi dan software dalam analisis data kualitatif, yang saat ini semakin banyak digunakan oleh peneliti untuk mempercepat proses analisis. Selain itu, bagi pembaca yang sudah sangat berpengalaman dalam penelitian kualitatif, buku ini mungkin terasa terlalu dasar dan kurang menantang untuk memperdalam teori atau metode yang lebih kompleks.

Secara keseluruhan, Menulis Ilmiah, Metode Penelitian Kualitatif karya Septiawan Santana K. adalah buku yang sangat layak dibaca dan dijadikan referensi utama bagi siapa saja yang ingin belajar atau memperdalam kemampuan dalam penelitian kualitatif dan penulisan ilmiah.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat Maiwa, Enrekang, Duri Melawan Kolonialisme Belanda

 


Judul:                           Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat Maiwa Enrekang Duri Melawan Kolonialisme Belanda

Penulis:                        Muhammad Natsir Sitonda

Editor:                         -

Penerbit:                     Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir

Tahun Terbit:               2013

Jumlah Halaman:        xi + 93

ISBN:                            9786021731659

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Pancaitana Bungawalie adalah seorang pejuang kemerdekaan yang pemberani dan memimpin pergerakan rakyat Maiwa Enrekang Duri pada awal abad ke-20 melawan penjajan Belanda. Pancaitana Bungawalie bersama rakyanya menunjukkan keberaniannya melawan penjajah Belanda, walaupun dengan persenjataan sederhana yang dimilikinya. Keberanian dan nilai nilai perjuangan inilah yang ingin disebarluaskan oleh penulis kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada masyarakat Maiwa Enrekang Duri.

Penulis (Muhammad Natsir Sitonda) membagi tulisannya dalam bentuk buku dengan empat bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit dan penulis, dan sambutan Bupati Enrekang waktu penerbitan buku ini yaitu Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd.

Pada bagian pertama, diuraikan tentang Messenrempulu sebagai tanah kelahiran Pancaitana Bungawalie. Massenrempulu juga sebagai suatu wilayah, sebagai suatu kelompok masyarakat, sebagai suatu perserikatan kerajaan kerajaan di wilayah tersebut. Sejarah penyatuan kerajaan kerajaan kecil pada masa lalu serta bahasa, asal usul orang Massenrempulu dan juga strata sosial dijelaskan pula pada bagian ini.

Riwayat hidup Pancaitana Bungawalie dijelaskan pada bagian selanjutnya, mulai asal usul orang tuanya, tanah kelahirannya, dan masa masa kehidupannya: lahir, masa perkawinan, dan masa pengangkatan beliau sebagai raja yaitu Raja (Arung) Enrekang XI. Masa pemerintahannya dari 1878 – 1915. Dijelaskan pula pada bagian ini tentang para bangsawan kerajaan, ada Sulewatang, Pabicara, Jannang, dan jabatan jabatan kerajaan lainnya. Benteng benteng pertahanan yang dibangun, serta peperangan yang terjadi juga dibahas disini.

Penulis juga membahas bagaimana rakyat Massenrempulu dipimpin oleh Pancaitana Bungawalie berjuang melawan kolonialisme Belanda. Diawali dengan adanya perjanjian Bungaya yang berdampak pada kedaulatan kerajaan kerajaan yang ada d Sulawesi bagian selatan. Ada upaya pemerintah kolonial Belanda untuk menguasai kerajaan kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Massenrempulu. Saat itulah terjadi perlawanan dari rakyat Massenrempulu, namun karena pasukan Belanda memiliki persenjaan lengkap akhirnya, dan banyaknya rakyat Massenrempulu yang gugur dalam perjuangan, akhirnya Pancaitana Bungawalie menandatangani Korte Verklaring (Pernyataan Pendek) pada 4 Maret 1906, yang mengharusnya bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Namun tenyata perlawanan rakyat Massenrempulu tetap berlanjut.

Buku ini diakhir dengan Epilog yang sekali lagi membahas tentang Pancaitana Bungawalie.

Buku ini memberikan gambaran mendalam tentang perjuangan rakyat di wilayah Massenrempulu (Maiwa, Enrekang, Duri) yang sering kurang terangkat dalam sejarah nasional. Ini membantu memperkaya khasanah sejarah lokal Indonesia. Buku ini juga menggambarkan nilai-nilai budaya dan semangat perlawanan masyarakat setempat terhadap kolonialisme, sehingga menambah pemahaman tentang identitas dan akar budaya daerah tersebut. Buku ini menjadi sumber penting untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan rakyat biasa, bukan hanya elite atau tokoh nasional, sehingga memperlihatkan sejarah dari perspektif rakyat kecil. Bisa menjadi sumber inspirasi bagi pembaca, khususnya generasi muda, untuk memahami pentingnya sikap perjuangan dan semangat nasionalisme.

Karena fokusnya sangat lokal, pembaca yang tidak familiar dengan wilayah Massenrempulu mungkin merasa kurang relevan atau sulit memahami konteks sosial-budaya dan politik yang melatarbelakangi perjuangan tersebut. Jika buku ini hanya mengandalkan sumber-sumber lokal atau cerita lisan, mungkin ada keterbatasan dalam verifikasi fakta historis yang bisa mempengaruhi keakuratan narasi. Jika bahasa yang digunakan terlalu akademis atau terlalu lokal, bisa menyulitkan pembaca umum untuk mengakses isi buku dengan mudah. Buku mungkin kurang menampilkan perspektif kolonial atau pihak lawan, sehingga narasi bisa terkesan sepihak atau kurang mendalam dalam analisis konflik.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



December 16, 2025

Perantauan Orang Bugis Abad ke-18

Peranan orang Bugis sebagai salah satu kekuatan maritim utama memiliki tempat penting dalam sejarah perdagangan Nusantara. Sejak pelabuhan-pelabuhan di kawasan ini mulai ramai dikunjungi pedagang asing, orang Bugis telah dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang andal. Dengan kemampuan navigasi yang tinggi, mereka menjelajah wilayah perdagangan yang luas, meliputi Asia Tenggara, India, Filipina, Irian Timur, hingga Australia.

Perkembangan Makassar sebagai pusat perdagangan besar di kawasan timur Nusantara membuka ruang penting bagi aktivitas dagang orang Bugis. Pelabuhan ini menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa dan komoditas, serta memberi keleluasaan bagi pedagang Bugis untuk memperluas jaringan perdagangannya. Rempah-rempah, tripang, dan hasil bumi seperti beras dari Sumbawa menjadi komoditas utama yang diperdagangkan melalui jalur laut.

Dinamika politik regional kemudian memengaruhi kehidupan perdagangan orang Bugis. Hubungan yang memburuk dengan Makassar akibat ekspansi kerajaan Gowa serta campur tangan VOC menyebabkan terganggunya aktivitas dagang. Kondisi ini mendorong banyak orang Bugis meninggalkan daerah asal dan melakukan perantauan ke berbagai wilayah Nusantara yang lebih terbuka bagi kegiatan perdagangan.

Dalam suasana monopoli perdagangan yang ketat, sebagian orang Bugis menempuh berbagai cara untuk mempertahankan kehidupan maritimnya. Aktivitas yang oleh pihak kolonial disebut perompakan berkembang sebagai bagian dari strategi bertahan hidup dan persaingan ekonomi pada masanya. Dengan kapal-kapal yang cepat dan tangguh, kelompok Bugis mampu bertahan di tengah tekanan kekuatan kolonial selama waktu yang panjang.

Perantauan membawa orang Bugis menetap di berbagai daerah strategis seperti Kutai, Samarinda, Sumbawa, Palembang, Banten, dan Johor. Di tempat-tempat tersebut, mereka membangun perkampungan otonom yang mendukung kegiatan perdagangan serta mengatur kehidupan sosial secara mandiri. Kehadiran komunitas Bugis sering kali mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi dan memperkuat jaringan perdagangan antarpulau.

Secara keseluruhan, Buku Perantauan Orang Bugis Abad ke-18, memperlihatkan bahwa orang Bugis tidak hanya berperan sebagai pelaut dan pedagang, tetapi juga sebagai penggerak penting dalam perkembangan perdagangan maritim Nusantara. Melalui keberanian, keterampilan, dan jaringan dagang yang luas, orang Bugis meninggalkan jejak yang kuat dalam sejarah maritim Indonesia.

Sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia https://share.google/gP9kzSY9ztr8eGT7q

Perantauan Orang Bugis Abad ke-18
Penulis: Julianti L. Parani
Penerbit: naskah Sumber Arsip, Arsip Nasional RI
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit 2015

Panduan Pakar Untuk Menyelesaikan Segala Urusan Dengan Cepat

 


Judul:                           Panduan Pakar Untuk Menyelesaikan Segala Urusan Dengan Cepat

Penulis:                        Samantha Ettus

Penerjemah:              Sofia A. mansoor

Penerbit:                     PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:              2009

Jumlah Halaman:     xi + 416

ISBN:                            9789792247923

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku "Panduan Pakar untuk Menyelesaikan Segala Urusan dengan Cepat" karya Samantha Ettus merupakan terjemahan dari buku berjudul asli The Experts' Guide to Doing Things Faster, 100 Ways to Make Life More Efficient. Buku ini dirancang sebagai panduan praktis yang mengumpulkan berbagai tips dan trik dari para ahli di berbagai bidang yang bertujuan untuk membantu pembaca mengelola waktu dan tugas-tugas sehari-hari dengan lebih efektif. Dengan pendekatan yang sistematis, buku ini menawarkan solusi konkret agar pembaca dapat meningkatkan efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan, baik pekerjaan, rumah tangga, maupun pengembangan diri.

Samantha Ettus, sebagai penulis sekaligus seorang pakar manajemen waktu dan produktivitas, menyusun buku ini dengan gaya yang ringan namun penuh informasi. Buku ini dibagi menjadi beberapa bab berdasarkan kategori aktivitas, mulai dari manajemen waktu, komunikasi, pekerjaan rumah, hingga teknik relaksasi. Setiap bab berisi kumpulan tips praktis yang langsung bisa diterapkan tanpa perlu alat atau biaya khusus, sehingga sangat cocok untuk pembaca dengan berbagai latar belakang. Pendekatan ini membuat buku terasa seperti konsultasi singkat dengan para ahli, yang memberikan solusi sederhana namun efektif.

Salah satu keunggulan buku ini adalah variasi metode yang disajikan. Tidak hanya berfokus pada satu teknik manajemen waktu saja, tetapi juga menggabungkan berbagai strategi dari para profesional di bidang berbeda. Misalnya, tips dari dunia bisnis, psikologi, hingga teknologi menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Hal ini memungkinkan pembaca memilih teknik yang paling sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan mereka. Selain itu, bahasa yang digunakan cukup komunikatif dan mudah dipahami, sehingga buku ini tidak terasa berat meskipun mengandung banyak informasi.

Buku ini juga menonjolkan sisi praktis dengan memberikan contoh konkret dan langkah-langkah yang jelas. Misalnya, cara mengatur email agar tidak membuang waktu, teknik mempercepat rapat, hingga cara menyusun daftar tugas yang efektif. Penulis juga menyisipkan anekdot dan pengalaman pribadi yang membuat buku ini lebih menarik dan relatable. Dengan 100 cara yang disajikan, pembaca diberi kebebasan untuk mencoba berbagai metode dan menemukan yang paling efektif bagi dirinya sendiri.

Namun, ada beberapa kekurangan yang perlu dicatat. Pertama, meskipun buku ini kaya akan tips, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa isi buku terasa terlalu umum dan tidak terlalu mendalam dalam menjelaskan konsep manajemen waktu atau efisiensi. Buku ini lebih cocok sebagai panduan cepat, bukan sebagai referensi mendalam bagi mereka yang ingin memahami teori di balik teknik-teknik tersebut. Kedua, beberapa tips terkesan repetitif atau terlalu sederhana bagi pembaca yang sudah terbiasa dengan konsep produktivitas modern, sehingga bisa terasa kurang menantang.

Selain itu, buku ini juga kurang membahas aspek psikologis yang sering kali menjadi penghambat utama dalam mengelola waktu, seperti prokrastinasi atau manajemen stres secara mendalam. Fokusnya lebih banyak pada "cara melakukan sesuatu lebih cepat" tanpa banyak menyinggung bagaimana mengatasi hambatan mental yang mungkin dihadapi pembaca. Ini bisa menjadi kekurangan bagi pembaca yang mencari solusi menyeluruh yang juga memperhatikan keseimbangan mental dan emosional.

Secara keseluruhan, "Panduan Pakar untuk Menyelesaikan Segala Urusan dengan Cepat" karya Samantha Ettus adalah buku yang sangat berguna untuk siapa saja yang ingin meningkatkan efisiensi dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang praktis dan mudah diterapkan. Kelebihan utamanya terletak pada keberagaman tips dari para ahli serta bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami. Meski demikian, buku ini lebih cocok sebagai panduan cepat dan bukan sebagai sumber teori atau penanganan psikologis yang mendalam. Bagi pembaca yang ingin langkah-langkah konkret dan langsung bisa dipraktikkan, buku ini sangat direkomendasikan.

Buku ini koleksi Pribadi Suharman Musa



Tafsir Kelong, Kajian Sastra Lisan Makassar

 


Judul:                           Tafsir Kelong (Kajian Sastra Lisan Makassar)

Penulis:                        Chaeruddin Hakim

Editor:                          Goenawan Monoharto & Pertiwi Murani Ch, Hakim

Penerbit:                     De La Macca Makassar

Tahun Terbit:             2016

Jumlah Halaman:    ix + 110

ISBN:                            9786022630920

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku ini merupakan hasil penelitian dalam rangka penyusunan Thesis program Strata 2 (S2) penulis (Chaeruddin Hakim) yang kemudian dijadikan sebuah buku. Pokok bahasan utama dalam buku ini adalah konsep dasar tentang sastra, filsafat moral dan filsafat nilai yang terkandung pada kelong Makassar yang disertai dengan penafsirannya. Penulis buku ini mengharapkan buku ini akan memberi masukan bagi masyarakat dalam upaya mengembangkan dan melestarikan Kelong.

Kelong adalah sejenis prosa liris yang dapat dinyanyikan dalam sastra lisan  Makassar. Kelong adalah nyanyian liris yang mengandung nasihat atau ajaran yang berguna bagi masyarakat etnis Makassar. Sastra lisan klasik Makassar ini merupakan karya artistik yang sakral.

Chaeruddin Hakim dalam buku ini berusaha menafsirkan Kelong Makassar untuk mengungkap makna yang terkandung didalamnya. Masyarakat umum mungkin mengetahui eksistensi kelong dalam kehidupan sehari hari mereka, namun kebanyakan tidak memahami makna tersembunyi dari kelong tersebut. Selain karena diksi atau pemilihan kata dalam kelong tersebut sangat sastrawi, juga karena setiap bait kelong punya aturan dan irama serta jumlah suku kata dalam setiap barisnya.

Ada dua bagian utama dalam buku ini. Bagian konsep dasar dijelaskan pada bagian kedua tentang konsep dasar nilai, konsep dasar religius, konsep dasar etika/moral, konsep dasar pendidikan dan konsep dasar makna dan hermeneutik. Sedangkan bagian ketiga adalah pembahasan utama buku ini yaitu tafsir Kelong. Diuraikan pada bagian ini tentang Kelong yang memiliki kandungan nilai religius yang bersumber pada rukun Islam. Diulas pula kelong yang mempunyai nilai religius yang bersumber pada rukun Iman. Terakhir nilai nilai dan makna moral Kelong Makassar.

Buku ini memberikan kajian yang mendalam dan terperinci tentang kelong sebagai bentuk sastra lisan khas Makassar. Pendekatan yang sistematis membantu pembaca memahami konteks budaya, fungsi sosial, dan nilai-nilai yang terkandung dalam kelong, sehingga memperkaya wawasan tentang budaya Makassar. Buku ini juga merupakan upaya pelestarian budaya Makassar khususnya sastra lisan yang cenderung mudah punah. Penulis buku ini banyak memberikan contoh kelong dan menganalisisnya secara kontekstual, sehingga pembaca dapat melihat langsung bagaimana makna dan pesan tersirat dalam kelong terbentuk dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Makassar.

Karena pembahasan utama buku ini adalah sastra lisan Makassar (kelong) maka kemungkinan bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih luas tentang sastra lisan secara umum akan merasakan adanya keterbatasan ini. Kemungkinan ada pembaca yang merasa buku ini kurang memaparkan metode pengumpulan data dan analisis yang digunakan. Hal ini menyebabkan validitas dan reliabilitas kajian bisa dipertanyakan dalam konteks ilmiah yang ketat. Buku ini juga tidak memiliki illustrasi atau gambar atau visualisasi lainnya yang bisa menarik perhatian pembaca.

Secara keseluruhan, "Tafsir Kelong, Kajian Sastra Lisan Makassar" oleh Chaeruddin Hakim adalah karya penting yang mengangkat kekayaan sastra lisan Makassar, khususnya kelong, dengan pendekatan yang cukup komunikatif dan kontekstual. Kekurangan-kekurangan yang ada lebih bersifat teknis dan metodologis, yang bisa diperbaiki dalam kajian-kajian selanjutnya.

Buku ini koleksi Layanan Ruang Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Jalaluddin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufi

 


Judul:                           Jalaluddin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufi                                   

Penulis:                        Reynold A Nicholson

Editor:                          Al-Haj  Sutardji Calzoum Bachri

Penerbit:                     Pustaka Firdaus Jakarta                     

Tahun Terbit:             2002

Jumlah Halaman:    vii + 176

ISBN:                            9795410350

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Buku "Jalaluddin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufi" karya Reynold A. Nicholson merupakan karya monumental yang mengupas secara mendalam kehidupan, ajaran, serta pengalaman spiritual dari salah satu sufi terbesar dalam sejarah, Jalaluddin Rumi. Nicholson, seorang orientalis dan sarjana besar dalam kajian sufisme, berhasil menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menggambarkan sosok Rumi sebagai penyair, tetapi juga sebagai guru spiritual yang ajaran-ajarannya masih relevan hingga kini. Buku ini menjadi jembatan penting bagi pembaca Barat maupun Timur yang ingin memahami dimensi spiritual dan filosofis dalam karya-karya Rumi.

Dalam buku ini, Nicholson memulai dengan menguraikan latar belakang sejarah dan sosial di mana Rumi hidup. Ia menempatkan Rumi dalam konteks kekaisaran Khwarezm dan kemudian Kekhalifahan Seljuk, serta bagaimana perjalanan hidup dan pertemuannya dengan Shams Tabrizi menjadi titik balik yang menentukan dalam transformasi spiritual Rumi. Penjelasan ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana pengalaman pribadi Rumi membentuk ajaran sufinya yang sarat dengan filosofi cinta, pengabdian, dan penyatuan dengan Tuhan.

Nicholson tidak hanya membahas biografi, tetapi juga mengupas ajaran-ajaran utama yang diajarkan oleh Rumi. Buku ini menelusuri konsep-konsep seperti “ma’rifat” (pengetahuan spiritual), “tawhid” (kesatuan dengan Tuhan), serta peranan cinta sebagai jalan mencapai pencerahan. Melalui analisis teks-teks Rumi, terutama karya terkenalnya Masnavi, Nicholson menunjukkan bagaimana Rumi mengajarkan pengalaman mistik yang bersifat langsung dan transformatif, bukan sekadar dogma atau teori belaka. Pendekatan ini membuat ajaran Rumi terasa hidup dan mampu menyentuh pembaca dari berbagai latar belakang.

Selain itu, buku ini juga membahas pengalaman pribadi Rumi yang mendalam sebagai seorang sufi. Nicholson menggambarkan bagaimana pengalaman mistik Rumi, terutama dalam hubungannya dengan Shams Tabrizi, melampaui batas-batas dunia material dan membawa Rumi ke dalam kondisi kesadaran spiritual yang tinggi. Pengalaman-pengalaman ini kemudian dituangkan oleh Rumi ke dalam puisinya yang penuh metafora dan simbolisme, yang menjadi sarana untuk mengajarkan kebenaran spiritual kepada para muridnya dan umat manusia secara umum.

Salah satu keunggulan buku ini adalah kemampuan Nicholson dalam menghadirkan terjemahan dan interpretasi teks-teks asli Rumi dengan cara yang akurat namun tetap mudah dipahami. Ia tidak hanya menerjemahkan kata demi kata, tetapi juga berusaha menangkap makna terdalam yang terkandung dalam bahasa metaforis Rumi. Hal ini sangat membantu pembaca yang mungkin belum familiar dengan konteks budaya dan bahasa Persia klasik, sehingga mereka dapat lebih menggali kekayaan ajaran sufisme yang terkandung dalam karya Rumi.

Karena Nicholson adalah seorang orientalis dan akademisi, gaya penulisan buku ini cenderung formal dan penuh terminologi klasik yang kadang sulit dipahami oleh pembaca awam atau mereka yang baru pertama kali mengenal sufisme. Penjelasan yang mendalam dan detail historis terkadang membuat buku terasa berat dan kurang mengalir secara naratif.

Secara keseluruhan, "Jalaluddin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufi" oleh Reynold A. Nicholson adalah karya penting yang tidak hanya memperkenalkan Rumi sebagai penyair besar, tetapi juga sebagai seorang guru spiritual yang ajarannya tetap hidup dan relevan. Buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin mendalami sufisme, sekaligus memahami bagaimana pengalaman spiritual dapat mengubah pandangan hidup seseorang. Melalui analisis mendalam dan penjelasan yang sistematis, Nicholson berhasil menghidupkan kembali spirit Rumi yang mengajarkan cinta universal dan kesatuan dengan Tuhan.


Buku koleksi Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. 



December 15, 2025

Perahu Layar Nusantara

Perahu layar tradisional Nusantara pernah menjadi simbol kejayaan pelayaran Indonesia sekaligus nadi utama perdagangan antarpulau. Hingga akhir abad ke-20, armada pinisi Bugis tercatat sebagai armada kapal layar terbesar yang masih beroperasi di dunia. Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, ratusan perahu bertiang tinggi memenuhi pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta dan Kali Mas di Surabaya, mengangkut kayu dari Kalimantan dan kembali membawa berbagai kebutuhan masyarakat kawasan timur Indonesia.

Armada pinisi bukan sekadar alat transportasi laut, melainkan bagian dari sistem ekonomi rakyat yang menghubungkan pelabuhan besar dengan pelabuhan-pelabuhan kecil di Maumere, Larantuka, Ende, Kupang, hingga Ujungpandang (Makassar). Perahu-perahu ini dibangun di galangan tradisional di pantai-pantai terpencil Sulawesi, seperti Tanah Biru, Bira, dan Teluk Bone, melalui keterampilan turun-temurun para perajin kayu. Proses pembuatannya mencerminkan pengetahuan lokal, teknologi tradisional, sekaligus ikatan sosial antara pemilik kapal, pembuat, dan awaknya.

Namun, sejak pertengahan 1970-an, arus modernisasi mulai mengubah wajah pelayaran tradisional. Dorongan pemasangan mesin motor pada perahu layar melahirkan perahu layar motor (PLM) yang diharapkan lebih efisien. Kenyataannya, banyak masalah muncul. Rancangan lambung pinisi yang tidak disiapkan untuk mesin menyebabkan kerusakan struktural, sementara biaya perawatan, bahan bakar, dan kebutuhan tenaga ahli justru membebani pemilik kapal. Dalam waktu singkat, puluhan PLM dilaporkan tenggelam di Laut Jawa, menandai kemunduran armada layar tradisional Nusantara.

Modernisasi ini juga membawa dampak sosial. Kepemilikan kapal yang sebelumnya berbasis keluarga dan kekerabatan beralih ke perusahaan-perusahaan besar di kota. Awak kapal berubah dari sanak saudara menjadi pekerja bergaji, sementara perajin di pantai terpencil kehilangan peran sentralnya dalam dunia pelayaran rakyat.

Di tengah perubahan tersebut, beberapa perahu tradisional tetap bertahan. Perahu patorani Makassar masih digunakan untuk menangkap ikan terbang dan telurnya yang bernilai tinggi, sementara pelaut Mandar dikenal dengan perahu-perahu yang tangguh dan terawat, seperti leti-leti dan pangkur bercadik ganda yang mampu mengarungi samudera lepas. Keberadaan perahu-perahu ini menjadi penanda hidup tradisi maritim yang belum sepenuhnya hilang.

Buku Perahu Layar Nusantara hadir sebagai dokumentasi penting tentang dunia pelayaran tradisional Indonesia yang kaya, sekaligus tengah menghadapi berbagai tantangan zaman. Buku ini membahas perkembangan perahu layar dari masa ke masa, teknik pembuatan perahu tradisional, kekhasan perahu layar Makassar, hingga masuknya peralatan kapal model Barat dan proses modernisasi yang menyertainya. Pembahasan tentang pelabuhan-pelabuhan perahu layar tradisional melengkapi gambaran ekosistem maritim rakyat Nusantara.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi di Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang, Makassar. Kehadirannya memperkuat upaya pelestarian dan diseminasi pengetahuan maritim kepada masyarakat luas.

Dengan pendekatan historis dan kultural, Perahu Layar Nusantara tidak hanya merekam perubahan teknologi, tetapi juga menyingkap dilema antara kemajuan dan pelestarian tradisi. Buku ini menjadi pengingat bahwa di balik surutnya layar-layar tradisional, tersimpan identitas bangsa maritim yang patut dicatat dan dijaga.

Perahu Layar Nusantara
Penulis : Tim Penulis Rosda Group
Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya 
Tempat Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 1995
ISBN : 979-514-463-4