Pada abad 15 silam, muncul seorang pemimpin yang pemberani dan sangat bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia sangat arif dan bijaksana dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Dia adalah Baso Daeng Pabeta, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Karaeng Loe.
Kerajaan Bajeng dibawah pimpinan Karaeng Loe mulai terbentuk, dan bahkan berubah menjadi sebuah kerajaan yang sangat kuat, karena memiliki banyak Tubarani serta senjata sakti yang dianggap ampuh melawan musuh, seperti Sudanga, I Bu'le (anak panah) dan masih banyak senjata lainnya yang ditakuti lawan.
Ketika Bajeng dibawah kepemimpinan Karaeng Loe, para tubarani terus melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Dari upaya ekspansi itulah, wilayah Kerajaan Bajeng bertambah luas, yakni tidak hanya mencakup Batang Banoa Appaka, tetapi juga beberapa daerah sekitarnya. Dari catatan sejarah dapat diketahui batas wilayah Kerajaan Bajeng pada masa Karaeng Loe yakni: sebelah utara berbatasan dengan Binaga Taeng dan Sungai Jeneberang. Sebelah timur sampai ke Gunung Bawakaraeng. Sebelah selatan sampai ke daerah Bangkala Jeneponto. Sebelah barat sampai ke selat Makassar.
Suatu ketika, Gowa melakukan ekspansi dengan memperluas wilayah kekuasaan dengan jalan menaklukkan daerah sekitarnya termasuk Bajeng. Pasukan Gowa sudah berkali-kali menyerang Bajeng, namun tak berhasil. Suatu saat, Sombaya mendapat bisikan dari salah seorang kepercayaannya, bahwa Bajengtak bisa ditaklukkan dengan cara perang, tetapi harus dengan siasat atau strategi untuk mencuri senjata ampuh yang dimiliki oleh Karaeng Loe ri Bajeng.
Untuk mendapatkan senjata sakti itu, kata penasehat cukup mudah, karena Karaeng Loe bersahabat baik dengan Karaeng Galesong, sehingga dengan pendekatan kedua raja itu, senjata sakti bisa didapat dan dengan musah Bajeng ditaklukkan.
Ketika Bajeng masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Gowa, dan beberapa pasukan Tubarani ikut memperkuat barisan pertahanan wilayah Kerajaan Gowa. Karena merasa bersatu dalam wilayah kerajaan, maka benda kebesaran Bajeng seperti Sudanga, I Bu'le dan senjata lainnya diambil oleh Raja Gowa.
Buku SEJARAH KERAJAAN BAJENG membahas tentang Bajeng yang dulunya sebuah daerah kerajaan yang sangat disegani oleh lawan, karena keberanian dari prajuritnya berlaga di medan perang. Kelompok pasukan elitnya dinamakan Pasukan Patampuloa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar berisikan profil tokoh serta lagenda wisata Bajeng.
Penyusun: Zainuddin Tika, Mas'ud Kasim, H. Ilyas, M. Ridwan Syam, Hj. Suriati
Editor: Masykur Mansyur, Muh. Yamin, Abd. Manmnan Baso
Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2009

Sejarah Bajeng yang sesungguhnya ada 3 fase: 1. Fase Karaeng Loe (raja berdaulat penuh), berlangsung dari sejak berdiri sampai upaya Karaeng Loe ri Tallo (kembaran Gowa saat itu) menganeksasi Gowa dgn meminta bantuan 2 orang sahabatnya yaitu Karaeng Loe ri Bajeng (Dg Pasairi) dan Karaeng Loe ri Marusu. Itu terjadi pada thn 1528 namun upaya Tallo gagal malah terjadi merger Gowa Tallo menjadi kerajaan yg tangguh. Bajeng malah terbagi 2, Dg Pasairi tergusur ke Polongbangkeng, di Bontomaero ditunjuk seorang pemuda yg berjasa menggagalkan kepungan aliansi Tallo, Bajeng dan Maros menjadi Batang Banoa oleh Raja Gowa. Ini awal sejarah Batang Banoa tunggal hingga keruntuhan Gowa di awal abad 20, dan inilah fase ke 2 Bajeng. Dalam fase ke 2 ini Gowa menaklukkan Polongbangkeng yg biasa disebut penaklukan Bajeng. Batang Banoa appaka baru muncul saat Gowa dikembalikan thn 1935, ini fase ke 3.
ReplyDeleteMakasih atas informasinya pak
ReplyDeletePerlu disempurnakan
ReplyDeleteBanyak versi cerita Bajeng ini yg perlu diluruskan
ReplyDeleteSejarah kerajaan Bajeng dan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan sulit untuk mendapatkan versi yang sebenarnya karena kurangnya data atau peninggalan berupa prasasti dll. Yang ada saat ini adalah sejarah berdasarkan cerita dari masyarakat.
ReplyDeleteMasih perlu data dan bukti yg akurat
ReplyDeleteTerima kasih pak ..... atas informasinya.
ReplyDelete