Showing posts with label Gowa. Show all posts
Showing posts with label Gowa. Show all posts

October 11, 2021

BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA


Keberadaan tempat-tempat spiritual di Kabupaten Gowa, sampai saat ini masih tetap menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat pendukungnya. Budaya spiritual ini telah berlangsung lama dan sebagian masyarakat menjadikan tempat-tempat yang dikeramatkan sebagai kunjungan rutin dan menjadi agenda tahunan. Berbagai bentuk pemujaan yang dilakukan melalui media makam-makam tua, saukang, batu bikulung dan rumah-rumah adat yang dianggap memiliki kekuatan supranatural yang memberi manfaat dan keberkahan dalam kehidupan mereka yang memujanya. 

Bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa dan makam Raja-raja Gowa dianggap keramat dan dijadikan sebagai wasilah untuk bermunajat dan melaksanakan ritual, serta melepas nazar setelah mereka merasa memperoleh berkah semisal rezeki, jodoh, jabatan dan kesembuhan dari penyakit, serta berbagai keinginan dan maksud peziarah. Pemujaan terhadap roh-roh  leluhur bagi sebagian masyarakat pendukung kepercayaan tersebut, sampai saat ini masih berlangsung, walaupun perbuatan tersebut menyimpang dari aqidah Islam.

Pengunjung yang datang berziarah ke tempat-tempat spiritual yang ada di Kabupaten Gowa, bukan hanya masyarakat setempat, melainkan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, bahkan dari luar provinsi. Ada dua makam tua yang tidak pernah sepi dari peziarah yaitu makam Syekh Yusuf dan makam Dato ri Pa'gentungan, keduanya adalah ulama besar penyiar agama Islam di Sulawesi Selatan.

Berikut contoh tempat-tempat yang dianggap keramat dan dianggap dapat memberi keberkahan, seperti:

  • Saukang
Tempat pemujaan yang berlokasi di dusun Sanrangan Desa Je'ne Ta'lasa Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, tepatnya di samping SD Sanrangan jalan Benteng Sombaopu sekitar 3 Km dari jalan poros Sungguminasa-Takalar. Saukang ini berada di bawah pohon kenari besar yang sudah berusia ratusan tahun.

Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat di sekitarnya bahwa dahulu saukang itu berbentuk rumah panggung kecil, namun seiring dengan waktu rumah tersebut sudah lapuk dimakan usia, sehingga tak dapat digunakan lagi. Oleh sebab itu masyarakat yang masih tetap mempercayai keberadaan tempat tersebut sebagai tempat pemujaan maka mereka membuat bangunan permanen dan diberi atap seng yang didalamnya dibuat kuburan agak nampak lebih sakral.

  • Batu Bikulung.
Batu Bikulung merupakan salah satu tempat keramat yang berlokasi di jalan Karaeng Loe I Kampung Sero Kelurahan Pao-Pao Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Sungguminasa. Bentuk Batu Bikulung menyerupai siput menggulung yang dalam bahasa Makassar disebut bikulung = biku berarti siput, gulung = menggulung. Karena bentuknya yang aneh sehingga masyarakat penganut paham sinkretisme menganggap bahwa batu ini memiliki kekuatan supranatural yang dapat mempengaruhi pola pikir penganutnya. Batu Bikulung ini dipercaya oleh masyarakat setempat dikuasai oleh pakkammik sejenis roh halus yang menguasai tempat tersebut.
  • Balla Lompoa di Sungguminasa
Balla Lompoa terletak di pusat kota Sungguminasa berdampingan dengan bangunan Istana Tamalate dalam kawasan sejarah dan budaya lapangan Bungaya. Balla Lompoa dulunya dijadikan Istana Kerajaan Gowa, kini berubah fungsi menjadi museum tempat peninggalan benda-benda pusaka Kerajaan Gowa, termasuk benda peninggalan Raja Gowa pertama Tumanurunga (1320) yaitu Salokoa berupa mahkota yang telah dipakai oleh raja-raja Gowa seperti Ponto Janga-jangaya (gelang naga melingkart) yang terbuat dari emas seberat 985,5 gram, Pedang Sudanga (pedang sakti peninggalan Karaeng Bayo), Rante Kalompoang (kalung kebesaran) yang terbuat dari emas seberat 2,182 gram. Tamadakkaya (mata tombak tiga buah), Subang (anting-anting yang terbuat dari emas murni beratnya 287 gram jumlahnya 4 buah) Tatarapang (keris yang bersarung emas), Kancing Gaukang (perlengkapam kerajaan), Kolara (Rante Manila, kalung emas beratnya 270 gram perlengkapan upacara) medali emas, penning emas (pemberian dari Kerajaan Inggris), Cincin Gaukang yang terbuat dari emas murni.

Balla lompoa mempunyai dua kamar yang digunakan pula untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan, namun ada satu kamar yang dianggap kamar khusus yaitu tempat menyimpang barang-barang peninggalan raja pertama Kerajaan Gowa yaitu Tumanurung, selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan, kamar ini digunakan pula sebagai tempat suci untuk melaksanakan ritual, dimana selalu tersedia sesajen dan beberapa peralatan makan yang tertata rapi di atas sebuah meja kecil yang digunakan para pengunjung untuk menjamu penguasa roh halus yang diyakini oleh sebagian masyarakat tetap setia menghuni tempat tersebut. Hal ini melambangkan bahwa istana Balla Lompoa memiliki suatu kekuatan magis yang dapat mendatangkan keberkahan bagi orang-orang yang mempercayainya.

Buku BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA mengambarkan beberapa perilaku peziarah pada beberapa tempat dan makam yang dianggap keramat yang terdapat di Kabupaten Gowa, seperti Saukang, Batu Bikulung, Balla Lompoa di Sungguminasa, Batu Pallantikkang, Makam Sultan Hasanuddin, Makam Aru Palakka, Balla Lompoa di Bajeng, Makam syekh Yusuf, Makam Dato ri Pa'gentungang dan Makam Daeng Paccalayya. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA 
Penulis: Raodah
Editor: Abdul Hafid
Penerbit: Pustaka Refleksi bekerjasama Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit:  2014
ISBN: 978-979-3570-75-4






April 19, 2021

SEJARAH KERAJAAN BAJENG

Pada abad 15 silam, muncul seorang pemimpin yang pemberani dan sangat bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia sangat arif dan bijaksana dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Dia adalah Baso Daeng Pabeta, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Karaeng Loe.

Kerajaan Bajeng dibawah pimpinan Karaeng Loe mulai terbentuk, dan bahkan berubah menjadi sebuah kerajaan yang sangat kuat, karena memiliki banyak Tubarani serta senjata sakti yang dianggap ampuh melawan musuh, seperti Sudanga, I Bu'le (anak panah) dan masih banyak senjata lainnya yang ditakuti lawan.

Ketika Bajeng dibawah kepemimpinan Karaeng Loe, para tubarani terus melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Dari upaya ekspansi itulah, wilayah Kerajaan Bajeng bertambah luas, yakni tidak hanya mencakup Batang Banoa Appaka, tetapi juga beberapa daerah sekitarnya. Dari catatan sejarah dapat diketahui batas wilayah Kerajaan Bajeng pada masa Karaeng Loe yakni: sebelah utara berbatasan dengan Binaga Taeng dan Sungai Jeneberang. Sebelah timur sampai ke Gunung Bawakaraeng. Sebelah selatan sampai ke daerah Bangkala Jeneponto. Sebelah barat sampai ke selat Makassar.

Suatu ketika, Gowa melakukan ekspansi dengan memperluas wilayah kekuasaan dengan jalan menaklukkan daerah sekitarnya termasuk Bajeng. Pasukan Gowa sudah berkali-kali menyerang Bajeng, namun tak berhasil. Suatu saat, Sombaya mendapat bisikan dari salah seorang kepercayaannya, bahwa Bajengtak bisa ditaklukkan dengan cara perang, tetapi harus dengan siasat atau strategi untuk mencuri senjata ampuh yang dimiliki oleh Karaeng Loe ri Bajeng.

Untuk mendapatkan senjata sakti itu, kata penasehat cukup mudah, karena Karaeng Loe bersahabat baik dengan Karaeng Galesong, sehingga dengan pendekatan kedua raja itu, senjata sakti bisa didapat dan dengan musah Bajeng ditaklukkan.

Ketika Bajeng masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Gowa, dan beberapa pasukan Tubarani ikut memperkuat barisan pertahanan wilayah Kerajaan Gowa. Karena merasa bersatu dalam wilayah kerajaan, maka benda kebesaran Bajeng seperti Sudanga, I Bu'le dan senjata lainnya diambil oleh Raja Gowa.

Buku SEJARAH KERAJAAN BAJENG  membahas tentang Bajeng yang dulunya sebuah daerah kerajaan yang sangat disegani oleh lawan, karena keberanian dari prajuritnya berlaga di medan perang. Kelompok pasukan elitnya dinamakan Pasukan Patampuloa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar berisikan profil tokoh serta lagenda wisata Bajeng.


SEJARAH KERAJAAN BAJENG
Penyusun: Zainuddin Tika, Mas'ud Kasim, H. Ilyas, M. Ridwan Syam, Hj. Suriati
Editor: Masykur Mansyur, Muh. Yamin, Abd. Manmnan Baso
Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2009

April 16, 2021

SEJARAH BONTOLEMPANGAN

Di Bontolempangan pada masa kerajaan, terdapat sebuah kerajaan kecil yang usianya sudah sangat tua, namanya Kerajaan Leo Toa yang usianya sudah sangat tua, namanya Kerajaan Leo Toa yang penguasanya disebut Dampang.

Ketika Lemo Toa dipimpin oleh Karaengta Katinting, beliaulah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan daerah sekitarnya, seperti Gantarang dan Bontoloe.

Ketika Gowa melakukan ekspansi dengan menaklukkan daerah sekitarnya, beberapa daerah kerajaan kecil di Bontolempangan kemudian masuk bergabung dengan wilayah Kerajaan Gowa.

Ketika bergabung dengan Kerajaan Gowa, beberapa tubarani ikut memperkuat pertahanan Kerajaan Gowa, seperti Labu Tubaranine Jene Kampala, Dampang Coro, Cambang Panraka dan masih banyak tokoh pemberani lainnya, hingga Gowa berhasil menguasai beberapa daerah di wilayah timur Nusantara ini pada abad ke 16 dan 17.

Pada masa revolusi kemerdekaan, beberapa pejuang dari daerah itu ikut memperkuat barisan pejuang merah putih yang bernaung di berbagai organisasi kelaskaran, seperti Lapang Bajeng, PPNI, Laptur dan masih banyak lainnya, hingga akhirnya Bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Setelah Gowa menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi, Bontolempangan masuk dalam satu distrik Tompobulu, Distrik kemudian berubah menjadi kecamatan hingga terjadi beberapa kecamatan, dengan terbentuknya Kecamatan Bungaya pada tahun 2003 lalu, dibentuk Kecamatan Bontolempangan.

Buku Sejarah Bontolempangan mengungkap sejarah Bontolempangan sejak dari zaman Kerajaan Lemo Toa hingga menjadi kecamatan. Buku ini salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang juga dilengkapi profil tokoh seperti Lambu Tubaranina Je'ne Kampala, Tongkat Lambu Tembus Batu Lapisi, Toa' Janggo', Karaeng Lekoboddong, Dampang Coro dan Joa Tujuhpuloa dan Kisah Orang Boto dari Botolempangang, serta beberapa obyek wisata atau situs sejarah yang punya cerita legenda tersendiri di masyarakat. Juga legenda obyek wisata seperti:

  • Legenda Putri Liku Nuang
  • Lampunna Pokeng
  • Liku Tamamminraya
  • Bontolempangang Desa Kalong
  • Liku Jangang-jangang
  • Tragedi Ulu Jangang
  • Pa'ladingang Negeri Pandai Besi
  • Panre Bassi dari Julumate'ne
  • Air Terjun Katimbang
  • Bungung Lantang ri Lassa-lassa
  • Permandian Je'ne Bidadari
  • Batu Kallong
  • Ulu Ere
  • Balla Adaka ri Gantarang
  • Sonri dan Poke Pangkana Lassa-lassa
  • Pangngdakkanga ri Pa'ladingang
  • Tana Pangkaya
  • Negeri Mata Allo
  • Wisata Batang Pinus Langkoa
  • Wisata Kuliner
  • Panrita Balla
  • Hasan Suaib Penyelamat Lingkungan Hidup.


SEJARAH BONTOLEMPANGAN
Penulis: Zainuddin Tika, Jumasang, Nurdin Palalang, Zakariah Djuruddin, Muh. Jamil
Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
ISBN: 978 602 99757 8 6

February 4, 2021

POLA PENGASUHAN ANAK PADA MASYARAKAT SECARA TRADISIONAL DAERAH SULAWESI SELATAN

Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat terlaksana atas bimbingan pola-pola yang secara ideal berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Pola pengasuhan anak biasanya berbeda, antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, terutama karena perbedaan latar belakang budaya, lingkungan dan sistem kekerabatan yang mendukung, seperti pada masyarakat desa Moncobalang yang terletak dalam wilayah Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.

Pola pengasuhan anak pada masyarakat dipengaruhi unsur-unsur budaya asing yang terserap oleh masyarakat, maka terjadilah perubahan-perubahan yang bermula dari gejala perubahan sistem teknologi dan peralatan hidup dalam keluarga dan rumah tangga. Berubahnya sistem perlatan, seperti pemanfaatan tenaga listrik, bukan hanya sebagai alat penerang untuk menggantikan tenaga minyak tanah tetapi juga sebagai kekuatan penggerak bagi jaringan peralatan elektronika berupa radio, televisi, video cassette, tape recorder, pemanfaatan kompor minyak tanah untuk menggantikan tungku serta minyak tanah untuk menggantikan fungsi kayu bakar, pemanfaatan meja kursi, semuanya itu mengakibatkan terjadinya pula perubahan pola tingkah laku masyarakat dalam kehidupan rumah tangga dan keluarga.

Perubahan pola tingkah laku anggota rumah tangga dan keluarga inti, tercermin dalam pola interaksi anak baik yang terwujud dalam sikap maupun tutur kata. Perubahan pola interaksi anak, kemudian, kemudian turut mempegaruhi pula proses perubahan pola pengasuhan, di samping pendidikan anak secara tradisional dalam masyarakat sekitar.

Berubahnya pola pengasuhan anak secara tradisional, secara berangsur-angsur mempengaruhi pula sistem nilai-nilai budaya. Pola pengasuhan anak masyarakat desa Moncobalang masih menggunakan warisan leluhur seperti ungkapan, pantangan, nyanyian menidurkan anak, cerita rakyat serta upacara khitanan.

Buku POLA PENGASUHAN ANAK PADA MASYARAKAT SECARA TRADISIONAL DAERAH SULAWESI SELATAN membahas tetang pola pengasuhan anak pada masyarak desa Moncobalang dalam mempersiapkan seorang anak untuk menjadi warga masyarak. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


POLA PENGASUHAN ANAK PADA MASYARAKAT SECARA TRADISIONAL DAERAH SULAWESI SELATAN
Penulis: Pananrangi Hamid
Editor: Ita Novita Adenan
Penerbit: Proyek Inventaris dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1991




November 17, 2020

Bingkisan Patunru, Sejarah Lokal Sulawesi Selatan

 


Judul : Bingkisan Patunru, Sejarah Lokal Sulawesi Selatan

Penulis : Abdurrazak Daeng Patunru

Penyunting : Abdul Latif dan Dias Pradadimara

Penerbit : Pusat Kajian Indonesia Timur (PUSKIT) bekerja sama dengan Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas)

Kota tempat Terbit : Makassar

Tahun terbit: 2004

Jumlah Halaman: xvi + 135

Ukuran : 15 x 21 cm

ISBN : 979-530-062-8

Abdurrazak Daeng Patunru adalah seorang penulis buku sejarah lokal Sulawesi Selatan, yang karya karyanya sudah pernah dibahas dalam berbagai forum. Ada 3 buah buku karya beliau yang telah saya bahas pada kumpulan buku muatan lokal edisi pertama, yaitu Sejarah Gowa, Sejarah Bone dan Sejarah Wajo. Karya karya beliau banyak dikutip dalam penulisan karya ilmiah, baik oleh penulis lokal dan nasional maupun penulis asing. Beliau adalah seorang Birokrat sejak era Kolonial sampai era Orde Lama, pernah bertugas di Wajo sebagai Pamongpraja (1929-1932, 1935-1938). Beliau juga pernah menjadi Residen yang diperbantukan pada kantor Gubernur Provinsi Sulawesi. Terakhir beliau pensiun  sebagai pamongpraja pada pertengahan tahun 1959.

Buku ini adalah kumpulan karya karya Abdurrazak Daeng Patunru yang berada diberbagai tempat yang akhirnya berhasil dikumpulkan dalam satu buku dan diterbitkan. Buku “Bingkisan Patunru” ini adalah berkat usaha dari Program Pustaka Regional Makassar yang bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, melalui proses pemilihan yang kompetitif dan selektif, untuk menerbitkan buku buku bermutu.

Diawali dengan “Abdurrazak Daeng Patunru dan Karyanya” sebagai perkenalan oleh Dias Pramadimara dari Fakultas Ilmu Budaya (Sastra) Universitas Hasanuddin. Pada bagian ini, Dias mengungkapkan tentang sejarah kepenulisan Abdurrazak Daeng Patunru, kehidupan beliau dan karya karya yang pernah dihasilkannya. Historiografi Sulawesi Selatan dan hubungannya dengan karya karya Abdurrazak Daeng Patunru, serta kontribusi beliau yang luarbiasa terhadap penulisan sejarah lokal Sulawesi Selatan.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, masing masing bab membahas satu topik tertentu. Pembahasan topik sejarah beberapa daerah dengan urutan sebagai berikut:
Bab I    : Talloq  (Sejarah Talloq, terbit tahun 1968)

Bab II   : Polombangkeng (Sejarah Polongbangkeng, terbit  1970)

Bab III  : Sanrabone (Sejarah asal usul nama Sanrabone, nama nama Hadat Sanrabone dan lain lain, terbit 1970)

Bab IV  : Kekaraengan Dalam Kabupaten Pangkajeneq Kepulauan (Sejarah  distrik kekaraengan yaitu Mandallaq, Bungoroq, Segeri, Maqrang, Labbakkang, Pangkajeneq dan Balocciq, terbit 1970).

Bab V  : Tanete (Sejarah kerajaan Tanete yang dulunya bernama kerajaan Agang Nionjoq, terbit tqhun 1967)

Bab VI : Sidenreng (Sejarah daerah Sidenreng, tanah tanah milik kerajaan, hubungan kekerabatan antara kerajaan Sidenreng dengan kerajaan Gowa, gabungan Ajattappareng pasca kemerdekaan, diterbitkan tahun 1968)

Bab VII: Soppeng (Awal mula Soppeng, perkembangan kerajaan Soppeng sejak 1905, terbit tahun 1967 -1968)

Bab VIII: Orang Orang Melayu di Makassar (Sejarah perkembangan Islam dan penyebarannya oleh 3 Datok, perjanjian dengan orang Melayu, diterbitkan tahun 1967).

Buku ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi yang ingin meneliti sejarah kerajaan kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, unit Perpustakaan.

 


November 12, 2020

SYEKH YUSUF MENUNTUN KITA KE SURGA (1)


Kisah ini dimulai dari kehidupan semasa muda di Kerajaan Gowa tempatnya dilahirkan, menuntut ilmu dan mengaji pada guru kerajaan yang bernama Daeng Tasammeng dan Jalaluddin al-Aidit. Yusuf Daeng Mangago meninggalkan Kerajaan Gowa tepat pada umur 18 tahun, mengembara di Yaman tepatnya di Kota Zubaid untuk menuntut ilmu Allah dan mencari jalan menuju Allah pada seorang guru bernama Syakh Abu abd Allah Muhammad Abd Baqi al-Nazjaji al-Yamani al-Zaidi al-Naqsyabandi, tamat di Yaman, Yusuf melanjutkan pengembaraan sufinya ke Mekkah berguru pada Imam Syafei Imam mesjidil Haram dan jiwa Syekh Sayyid Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir Jailani. Tamat di Mekkah sebagai seorang zalik, lalu Yusuf mengembara di Madinah berguru pada Syekh Burhan pada Syakh Burhan al-Din al-Mulla Bin al-Syekh Ibrahim bin Husain Syihab al-Din al--Kurdi al-Kaurani al-Madani.

Dari Madinah Syekh Yusuf melanjutkan pengembaraan sufinya dan berguru pada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi di Damascus. Dari Damascus kembali ke Mekkah menjadi seorang guru besar tanah Arab, kawin dengan putri Imam mesjid Haram bernama Sitti Chadijah. Lima tahun menjadi sufi besar di Mekkah, Syekh Yusuf kembali ke Banten berjuang bersama dengan Sultan Banteng Sultan Abd al-Fattah bin Abu al-Ma'ali bin Abu al-Mufakir Sultan Ageng Tirtayasa.

Buku SYEKH YUSUF MENUNTUN KITA KE SURGA (1), mengupas pengembaraan spiritual Syekh Yusuf, mulai di kampung halaman Gowa, Banten, lalu ke Negeri Arab. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Umum yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


SYEKH YUSUF MENUNTUN KITA KE SURGA (1)
Penulis: H.M. Sirajuddin Bantang
Penerbit: Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-17-2


July 21, 2020

MENGISLAMKAN DARATAN SULAWESI (SUATU TINJAUAN METODE PENYEBARAN)


Proses Islamisasi mulai merambat daratan pulau Sulawesi sejak awal abad XVII M, dengan tokoh-tokoh utamanya: Khatib Sulaiman dan berkiprah di Kerajaan Luwu, kemudian bergelar Datuk ri Pattimang; Khatib Makmur, bergelar Datuk ri Bandang, yang berdakwah di daerah kerajaan kembar Gowa/Tallo, yang mengembangkan Islam di daerah Tiro dan Kajang Bulukumban Timur.

Dari kerajaan Gowa Agama Islam dikembangkan ke seluruh daratan Sulawesi sejak tahun 1603 M. penyebaran Agama Islam ditempuh oleh raja Gowa I Mangnga’rangi Daeng Manrabbiyah/Sultan Alauddin dengan cara damai, meskipun beberapa tempat di tempuh pendekatan keras.

Masyarakat Sulawesi enggan menerima suatu ajaran baru atau pembaharuan tanpa jalur pemerintahan. Dengan kata lain mereka akan menerima perubahan kalau dimulai dari pihak pimpinan atau orang yang dituakan.

Metode penyebaran Islam yang ditempuh oleh Abdul Makmur Khatib Tunggal dan dua orang rekannya yang dilanjutkan oleh Syekh Yusuf Tajul Khawati adalah melalui pendekatan kepada penguasa atau istana, jalur politik, melalui perdagangan, pendekatan budaya atau adat istiadat, melalui dialog dan kesaktian, melalui suri teladan, membentuk pegawai syata’, melalui siklus kehidupan dan perkawinan.

Aspek ajaran yang dikembangkan pada awal penyebaran Islam di daratan Sulawesi adalah aspek tauhid atau keimanan, aspek syari’ah , dan aspek tasawuf.

Titik tumpa metode dakwah Islam pada awal berkembangnya di daratan Sulawesi adalah kesaktian para ulama, da’i kelana, suri teladan, dan lain-lain supaya agama Islam dapat cepat diterima atau dianut oleh manusia. Oleh karena itu, hubungan Umara’ dan ulama pada awal perkembangan Islam di daratan Sulawesi selalu menjadi contoh teladan di dalam kehidupan umat.

Buku MENGISLAMKAN DARATAN SULAWESI (SUATU TINJAUAN METODE PENYEBARAN) mengkaji sejarah di lihat pada masa lampu, masa kini dan masa depan. Menjelaskan penerimaan Islam di Daratan Sulawesi (Tanah Makassar, Tanah Luwu, Tanah Mandar, Tanah Bugis, Tanah Gorontalo-Lomboto Sulawesi) dengan metode penyebarannya. Dakwah Islam Dewasa Ini (melalui lembaga pendidikan, lembaga pendidikan dan kebudayaan, organisasi keagamaan, pendekatan ekonomi). Serta relevansi metode penyebaran Islam pada masa awal dan masa kini.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa sangat bernilai untuk mengatasi kelangkaan literatur tentang Islam di daerah.


MENGISLAMKAN DARATAN SULAWESI
(SUATU TINJAUAN METODE PENYEBARAN)
x, 90 hlm; 18 cm
Penulis: H. Bahaking Rama
Penerbit: Paradotama Wiragemilang
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2000
ISBN: 979-95641-7-4

April 23, 2020

KARAENG BONTOLANGKASA, LA MADDUKKELLENG DAN I SANGKILANG


Mahkota Salakoa dari Gowa-Makassar, abad ke-16. Kepemilikan pusaka seperti ini menjadi salah satu faktor kuat dalam merebut takhta.

Belanda mengambil alih Makassar (Ujung Pandang) murni alasan perdagangan dan tidak atau pun memiliki kemampuan untuk mengendalikan daerah pedalamannya. Campur tangan Belanda dalam perebutan takhta hanya dilakukan untuk mencegah munculnya kembali kekuatan pengaruh kekuasaan Bugis dan Makassar. Berikut penguasa Sulawesi Selatan setelah Arung Pallakka (1672-1696).

KARAENG BONTOLANGKASA
Sengketa pemilihan pengganti pemimpin Gowa Tahun 1709 menunjukkan keretakan hebat dalam masyarakat. Belanda dan La Patau (1697-1714) mencalonkan seorang bangsawan Gowa dan anggota dewan yang dikenal sebagai Bate Salapang. Pertikaian terjadi di Makassar, dikenal sebagai perang saudara (bundu pammanakang), namun segera diatasi  dengan persetujuan pada pilihan Belanda dan Bone.

Pengusa terpilih tenyata tidak disukai Belanda dan diturunkan dari takhta tahun 1712. Penguasa baru yang terpilih tidak disetujui pemimpin Gowa, diantaranya Karaeng Bontolangkasa, seorang bangsawan kelas tinggi, yang terpukul karena tidak menduduki takhta.

Ia meninggalkan Sulawesi Selatan dan tinggal di Sumbawa. Ketika akhirnya ia kembali ke Sulawesi pada tahun 1723, Gowa tidak berubah. Belanda tetap menentukan penobatan raja. Bontolangkasa mengambil kesempatan atas kekecewaan dan ketidaksenangan masyarakat Gowa dan memimpin gerakan untuk mengusir Belanada. Ia menduduki Gowa dan berkuasa pada April 1739.

LA MADDUKKELLENG
Saat mulai menata rakyat Gowa, Bontolangkasa mendapat dukungan dari Bone dan Wajo melalui gerakan yang sama. Arung Kaju dari Soppeng berencana menggulingkan istrinya, Ratu Bone, tetapi rencananya tercium dan ia menyelamatkan diri. Ia dan pengikutnya membentuk kelompok pertempuran mendampingi Bontolangkasa. Meski demikian sekutu terkuatnya adalah La Maddukkelleng Arung Sengkang dari Wajo.

Seperti Bontolangkasa, ia lama dipengasingan karena dituduh menghina keluarga Raja Bone. Ia dipanggil dari pengasingan di Pasir, pantai timur Kalimantan, dan tiba di Wajo tahun 1963, menjadi Arung Matoa (pemimpin) Wajo.

La Maddukkelleng kemudia berkampanye mengusir penduduk Bone dari Wajo. Sementara itu Bontolangkasa dan Arung Kaju melanjutkan menyerahkan kedudukan Belanda di Maros, lumbung padi utara Makassar. Dengan demikian dimulai serangkaian pertempuran: rakyat Wajo dan Gowa, ditambah oleh orang Bone tertentu yang kecewa, memanfaatkan penindasan panjang rakyat untuk akhirnya berjuang mengusir Belanda dari Sulawesi Selatan.

Meski semula berhasil, mereka tidak mampu menahan gabungan kekuatan Bone dan Belanda. Gowa direbut tahun 1739 dan dua bulan kemudian Bontolangkasa meninggal karena luka-luka dalam pertempuran. La Maddukkelleng meneruskan perjuangan sampai kematiannya tahun 1765.

I SANGKILANG
Meski kampanye Bontolangkasa dan La Maddukkelleng kurang berhasil, ketangguhannya membekas dalam ingatan orang Sulawesi Selatan. Pada tahun 1776, orang Gowa yang dikenal sebagai I Sangkilang, muncul dan menyatakan diri sebagai pemimpin daerah ini sebelum diasingkan ke  Srilanka.

Ceritanya mengenai kapal yang membawanya ke Srilanka rusak diragukan. Rakyak ingin mempercayainya karena ia berjanji mengusir Belanda dari tanah air merdeka. Seruan ini terbukti tepat-guna bagi Bontolangkasa dan La Maddukkelleng, dan kini bagi I Sangkilang karena rakyat mencari sebab penderitaan sejak kekalahan Gowa di tangan Belanda tahun 1667.

I Sangkilang berhasil menyerbu Belanda di Maros, dan berhasil melipatgandakan pengikutnya. Walau segera dipaksa mundur dari Maros. I Sangkilang merebut ibukota Gowa, menurunkan raja, dan menjadi penguasa baru pada tahun 1777. Usaha Belanda merebut Gowa gagal karena dukungan kuat penduduk. Dengan kedatangan Inggris ke perairan Indonesia timur, Belanda sibuk dengan masalah barunya dan tidak memusatkan pikiran untuk bertempur. I Sangkilang mempertahankan kedudukannya sampai meninggal tahun 1785.

Setelah I Sangkilang meninggal, Belanda menyita lambang kebesar Gowa dan memberikannya kepada Raja Bone. Dengan dua lambang kebesaran, Raja Bone ingin menyatukan dua kerajaan, tetapi Belanda khawatir bahwa persatuan akan sulit untuk dikendalikan. 

Menjelang pergantian abad, Belanda mulai kehilangan sikap tenggang rasa pada lawan apa pun yang terjadi karena mereka takut campur tangan Inggris. Oleh karena itu, Belanda menentukan bahwa siapa saja yang dipilih menjadi raja dari salah satu kerajaan Sulawesi Selatan harus mematuhi keinginan Belanda.

Pendudukan Inggris (1811-1816) sedikit mengubah keadaan dan perlawanan terhadap Belanda sampai abad ke-19 terutama datang tokoh seperti I Sangkilang, yang mengatakan kepada rakyat bahwa dahulu mereka "jagoan".

INDONESIA HERITAGE: SEJARAH MODERN AWAL
Penyusun: Anthony Reid (Research School of Pacific and Asian Studies, Australia
National University, Cambera)
Penulis: Taufiq Abdullah, Ibrahim Alfian, Hasan M. Ambary, etc.
Tim Penerjemah: Karsono H. Saputra, Susanto Zuhdi, Maya Soerahman
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier Internasional, Inc.
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-16-1


March 23, 2020

MASA KEJAYAAN MAKASSAR

Pada awal abad ke-16, seorang pendatang Portugis menyebutkan bahwa “daerah yang khusus memakai nama Makassar sangat kecil”, tetapi pada akhir abad ke-16 Makassar diubah oleh keberhasilan ekonomi dan politik spektakuler dari kerajaan kembar Gowa dan Tallo. Melalui penataan besar-besaran kedua kerajaan yang dikenal orang luar sebagai Makassar menjadi negara terkuat di daerah timur Nusantara sejak akhir abad ke-16  dan hampir sepanjang abad ke-17.

Keterangan Gambar: Kota Makassar ± 638
Makassar membangun tiga benteng kota utama, yang terpenting Sombaopu, hanya berupa kediaman keluarga raja dan para hamba.  Di sebalah kanan kota Bandar Makassar sekitar Benteng Sombaopu adalah muara sungai Jeneberang yang merupakan tempat perahu kerajaan berlabuh. Ke arah kiri terhampar tanah yang dipakai sebagai pasar selatan utama (1), dan Benteng Sombaopu (2), dengan istana kayu yang berada di depannya, ditopang dengan tiang-tiang yang kokoh. Bangunan bundar ditengah, ke arah kanan benteng, adalah Mesjid Agung (3). Sebelah kiri benteng adalah tempat tinggal orang Gojarat dan Portugis, dan kemudian sebuah sungai kecil sengaja di bendung. Letak pasar besar utara berada di agak jauh di sebelah kiri (4), dikelilingi. Dari Valentya ‘Oud en nieuw Oost Indien’ (dterbitkan Dordrecht, 1724-26).















Asal-Usul Makassar
Kerajaan Makassar Gowa dimulai dari masyarakat keci di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini memiliki tumanurung  “keturunan dari surga” yang menjadi dasar garis keturunan raja: gaukang “benda keramat” yang membentuk lambing kerajaan, dan Bate Salapang “Sembilang Lambang-lambang desa asal-usul” inti Dewan Negara.

Sekitar paruh pertama abad ke-16, kerajaan ini mengalami penataan besar-besaran di bawah raja kesembilan. Tumapa “risi” Kallona. Ia merencanakan penyatuan kerajaan Makassar Gowa dan Tallo, menerapkan hukum baru, dan menata pemungutan pajak di bawah badan baru, syahbandar. Tindakan ini pun dilakukan oleh penggantinya, Tunipallangga (1546-1565), yang bukan hanya meneruskan penataan pemerintahan, namun juga merombak perang tradisional. Ia raja pertama yang memperkenalkan meriam di benteng setempat, pembuatan peluru, dan menggunakan temeng lebih kecil dan ringan, serta pembuatan tombak lebih kecil  agar pergerakan lebih lincah dalam perang. Pembaharuannya, dipadu dengan kecerdasan sebagai pengatur siasat perang, menghasilkan kemenangan Gowa menaklukkan Sulawesi, Banggai, Butung, Sula, dan Sumbawa.

Benteng Rotterdam dibangun di Makassar oleh Belanda tahun 1670-an. Litograf ini dibuat oleh Temminck (1839-144).
Perkembangan Kota Bandar
Perahu dagang Gowa mulai hilir mudik di perairan  Maluku, dan merebut sebahagian besar perdagangan cengkeh, pala, dan bunga pala. Bandar Makassar menjadi gudang internasional, menarik pedangan Cina, India, Eropa, Asia Tenggara daratan, dan kerajaan lain Nusantara. Gowa menunjukkan kecanggihan dan gaya internasional yang mengagumkan pengamat Eropa. Seorang Pastor Jesuit Prancis menyebutkan menyebutkan bahwa salah satu penguasa Makassar, Karaeng Pattingalloang, memiliki “keingintahuan sangat besar sehingga ia membaca sejarah raja-raja Eropa… memiliki buku yang kita kuasai, terutama yang menyangkut matematika … (dan) sangat menggemari seluruh cabang pengetahuan ini ditekuninya siang malam”.

Kemunduran Gowa
Kekayaaan Gowa meningkat rempah, VOC memandang perkembangan itu dengan was was. Untuk melindungi monopoli rempah, kompeni merangkul orang Bugis dan memintah bantuan mereka. Sakit hati karena harus tunduk pada Makassar, orang Bugis membantu Belanda menyerang Gowa dan menudukkannya  (1666). Sultan Hasanuddin (1653-69) dan pasukannya melawan dengan gigih, tetapi akhirnya kalah dan dipaksa menandatangani perjanjian menyerah di Bugaya, 18 November 1667.

Gowa tak pernah lagi menguasai daerah dinikmati saat kejayaan abad ke-16 sampai abad ke-17. Meski demikian Bandar Makassar tetap berperan penting sebagai pusat pergudangan internasional untuk penguasa barunya, VOC. (Indonesia Heritage, Sejarah Modern Awal, 2002: 58-59).

INDONESIA HERITAGE: SEJARAH MODERN AWAL
Penyusun: Anthony Reid (Research School of Pacific and Asian Studies, Australia
National University, Cambera)
Penulis: Taufiq Abdullah, Ibrahim Alfian, Hasan M. Ambary, etc.
Tim Penerjemah: Karsono H. Saputra, Susanto Zuhdi, Maya Soerahman
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier Internasional, Inc.
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-16-1

January 28, 2020

Shaykh Yusuf (Syekh Yusuf)




Buku : Shaykh Yusuf (foto  copy)
Penulis : Suleman Essop Dangor
Penerbit : Iqra’ Research Committee, Mobeni, South Afrika 1982
Jumlah Halaman : vi + 78
ISBN : 0 949947 49 0
Bahasa : Inggris 

Buku ini adalah karya ilmiah (Thesis) dari Suleman Essop Dangor  sebagai bagian dari persyaratan kelulusan program Master dalam bidang Studi Islam di Universitas Durban-Westville, Afrika Selatan. Syekh Yusuf adalah pahlawan nasional Indonesia asal Gowa (dibuku ini ditulis Goa) Sulawesi Selatan yang  juga dianggap pahlawan, pembawa Islam dan tokoh terkemuka di Afrika Selatan pada masanya. Mr. Dangor (penulis) selain meneliti di Afrika Selatan, juga banyak melakukannya di Leiden Belanda dalam rangka penulisan thesis ini. Buku ini adalah hasil dari penelitian itu dan menjadi bahan rujukan bagi para peneliti lainnya yang berminat mengkaji sejarah Islam di Afrika Selatan. 

Terdiri dari 5 bagian, buku ini diawali bab (chapter) 1 dengan pembahasan tentang kelahiran Syekh Yusuf, masa kanak kanak, orangtua dan keluarganya, hubungannya dengan para penguasa, pelaksanaan ibadah haji, perkawinan pertama, perkawinan kedua, khidupannya di Banten (dibuku ini ditulis “Bantam”), perkawinan ketiga, nama nama istri dan anak anak Syekh Yusuf. 

Bagian ke-2 mengisahkan tentang perlawanan Syekh Yusuf menghadapi penjajah Belanda, terjadinya konflik dengan Sultan Ageng dan Sultan Haji, gerakan Anti-Belanda, peranan Yusuf dalam konf;ik yang ada, penangkapan Yusuf, dan puisi puisi Jawa.

Masa masa hukuman pengasingan/ pembuangan Syekh Yusuf ke Cape Town dibahas pada bagian ke-3 di dalam buku ini. Mulai diasingkan ke Sailan (Ceylon) atau Srilangka, kemudian di asingkan lagi ke Cape Town sebagai tempat pembuangan terakhir, kedatangan Syekh Yusuf beserta rombongan ke Cape Town, kegiatan kegiatan selama di Cape Town, permintaan agar Syekh Yusuf kembali, wafatnya Syekh Yusuf, makam di Faure, peninggalan Syekh Yusuf, dan makam kedua.
Pengaruh Syekh Yusuf di Cape Town (Afrika Selatan) dibahas pada bagian ke-4 ini, sedangkan bagian terakhir berisi hasil pemikiran dari Syekh Yusuf, dilanjutkan dengan kesimpulan, daftar pustaka dan indeks. 

Buku ini dilengkapi dengan foto foto (illustrasi) makam Syekh Yusuf dan pengikutnya, Masjid di Cape Town, monumen yang berukir kata kata tentang kedatangan Syekh Yusuf dan rombongan dari Sailan ke Cape Town, serta foto kapal laut yang membawa rombongan dan foto foto lainnya.

Buku koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.



January 16, 2020

Batara Gowa, Messianisme dalam Gerakan Sosial di Makassar


Buku "Batara Gowa, Messianisme dalam Gerakan Sosial di Makassar"
Penulis: Dr. Mukhlis PaEni., Dr. Edward L. Poelinggomang, M.A., Dra. Ina Mirawati.
Penerbit: Arsip Nasional RI dan Gajah Mada University Press
Tempat: Jakarta dan Yogyakarta
Tahun: 2002
ISBN : 979-420-514-1

Batara dalam bahasa Bugis dan Makassar berarti 'Tuhan" atau "Dewa" yang menguasai kehidupan manusia. Namun jika Batara ini disematkan pada nama seorang manusia maka manusia itu dianggap sebagai titisan dewa yang memiliki sifat sifat kedewaan atau ketuhanan. Pada tahun 1776 di kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) seorang tokoh hasil perkawinan politik lintas darat dan laut, muncul dan memperkenalkan diri sebagai Batara Gowa I Sangkilang. Inilah inti pokok pembahasan pada buku ini.

Buku setebal 292 halaman ini merupakan hadiah dari penulis buku (Dr. Mukhlis PaEni) kepada Prof. Ryas Rasyid pada Idul Fitri 1423 H. Terdiri dari 8 bab diawali dengan pendahuluan dan latar belakang sosio-ekonomi, dan perkembangan politik di Kerajaan Gowa. Bagaimana campur tangan Belanda dan hubungan pejabat dan pengurus bumiputra dengan kompeni Belanda juga dibahas disini.

Pada bab bab selanjutnya dikisahkan tentang muculnya gerakan gerakan perlawanan terhadap kompeni Belanda, misalnya gerakan Karaeng Bontolangkasa, Batara Gowa Anas Madina, dan munculnya Batara Gowa I Sangkilang. Pemberontakan Batara Gowa I Sangkilang inilah yang mendapat porsi utama dalam pembahasan buku ini. Bagaimana serangan yang dilakukan, bagaimana beliau memerintah dan hal hal menarik lainnya dalam pemberontakannya semua dikisahkan dalam buku ini.

Selajutnya dibahas bagaimana pemberontakan I Sankilang ini bisa ditumpas, pasukan VOC yang menduduki Kerajaan Gowa, sampai mangkatnya Batara Gowa, pemulihan kedudukan Kerajaan Gowa, dan penumpasan Gerakan Karaeng Data

Bagian akhir membahas bagaimana gerakan messianistis di daerah Makassar, dan sumber sumber Arsip tentang pemberontakan Batara Gowa I Sankilang, termasuk surat surat penting mengenai Pemberontakan Batara Gowa I Sangkilang tahun 1778 - 1779, laporan Residen Bima, Jacob Bikkers tentang Penampakan Batara Gowa pada tahun 1767. Pada bagian akhir juga dicamtumkan Isi Perjanjian Bongayya dalam bahasa aslinya Belanda.

Buku ini bisa dijadikan rujukan bagi anda yang ingin meneliti tentang kerajaan Gowa, pemberontakan dimasa lalu, khususnya Batara Gowa I Sangkilang.