October 27, 2021

PERLAWANAN LA PALOGE WATAN LIPU KERAJAAN SOPPENG


Semenjak kedatangan Belanda di Soppeng (25 September 1905), Kolonel Van Loenen sebagai Panglima Belanda Ekspedisi Sulawesi Selatan. Tiga hari kemudian (28 September 1905) panglima Belanda mengajak Datu Soppeng ke-35 Sitti Zainab Arung Lapajung bersama beberapa pembesar dan raja-raja bawahannya. Pembesar lainnya tidak senang atas kehadiran Belanda tidak menghadiri pertemuan tersebut, seperti Sulle Datu Soppeng Baso Balusu (wakil datu Soppeng), Watan Lipu La Palloge (menteri/panglima Kerajaan Soppeng), Datu Mario ri Awa La Mappe dan beberapa bawahan lainnya. 

Dalam usaha mempertahankan kedaulatan Kerajaan Soppeng terhadap campur tangan pemerintah Kolonial Belanda, maka La Palloge selaku Menteri/Panglima Kerajaan Soppeng sangat menentang kehadiran Belanda dalam daerah kekuatan Kerajaan Soppeng. Hal ini didasarkan oleh beberapa faktor, seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.

La Palloge dalam menghadapi Belanda menggunakan tiga macam perlawanan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiga macam bentuk perlawanan tersebut adalah penggalangan massa, taktik dan strategi perang gerilya serta bekerja sama dengan raja-raja terutama dari daerah-daerah terdekat.

Buku PERLAWANAN LA PALOGE WATAN LIPU KERAJAAN SOPPENG (Panglima Soppengg melawan Belanda) membahas tentang pahlawan dari Soppeng yang berjasa dan berkorban demi membela dan mempertahankan bangsa dan daerahnya dari serangan-serangan kerajaan lain atau bangsa lain. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERLAWANAN LA PALOGE WATAN LIPU KERAJAAN SOPPENG
(PANGLIMA KERAJAAN SOPPENG MELAWAN BELANDA)

Penyusun: H. Nonci
Penyunting: Suhartono
Penerbit: Aksara
Tempat Terbit: Ujung Pandang





PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO SEJARAH TALLO


Naskah atau lontarak "Patturioloanga ri tu Talloka" atau "Sejarah Tallo" adalah naskah yang ditulis dengan tulisan tangan dengan mempergunakan lontarak atau huruf lontarak Makakassar pada tahun 1930. Naskah ini memuat sejarah Kerajaan Tallo serta silsilah beberapa orang raja yang pernah berkuasa di Tallo, selain itu juga memberikan keterangan mengenai keberanian nenek moyang mengarungi lautan serta kepandaiannya baik di bidang teknik maupun kerajinan tangan lainnya seperti membuat perahu. Berikut hasil penelitian dan pengkajian naskah kuno sejarah Tallo.

  •  Pada zaman dahulu di daerah Makassar berdiri dua kerajaan yang merupakan kerajaan kembar ialah Kerajaan Tallo dan Kerajaan Goa. Kedua kerajaan ini sangat erat kekeluargaannya sehingga pejabatnya sering merangkap tugas (Raja Tallo juga merangkap sebagai Mangkubumi Kerajaan Goa).
  • Dalam naskah ini disebutkan tentang masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan dimulai dari kerajaan kembar ini ± 1605. Setelah kedua rajanya memeluk agama Islam, maka menyusul para pejabat kerajaan bahkan seluruh rakyat dari kedua kerajaan ini. Dengan demikian maka diumumkanlah bahwa agama Islam adalah agama kedua kerajaan ini.

  • Kerajaan kembar ini (Tallo dan Goa) sudah dapat mempersenjatai dirinya dengan senjata-senjata tajam dan senjata api macam-macam ukuran hasil buatan mereka sendiri. Mereka pun telah sanggup membuat kapal perang yang disebut Gallo untuk armada mereka.
  • Kerajaan kembar ini setelah menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan pada waktu itu mereka pun melebarkan sayapnya ke luar. Ada pun kerajaan-kerajaan yang dapat dikuasai selain kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan antara lain: Sumbawa, Bali, Ende, Timor dan sebagainya.
  • Pada zaman itu beberapa negara asing telah pula menempatkan perwakilannya berupa Konsul Dagang di ibu kota kerajaan ini.
  • Kerajinan tangan seperti menenun kain bersulam, mengukir kayu, menuang timah dan emas untuk perhiasan dan membuat mata uang sudah dikenal di kerajaan ini.
Persahabatan atau persaudaraan kedua kerajaan ini bukan ikatan janji atau kata-kata belaka, tetapi ikatan persahabatan dan persaudaraan mereka dibuktikan dengan tindakan ikatan kawin-kawin, pejabat atau Raja Tallo yang merangkap sebagai Mangkubumi Kerajaan Goa semua ini bertujuan untuk ikatan persaudaraan antara kedua kerajaan ini. Begitu eratnya persaudaraan mereka dapat kita liat dari semboyan atau ungkapan sebagai berikut: "Sekreji ata narua karaeng", yang artinya " Namun dua raja (kerajaan) tetapi hanya satu hamba (rakyat)". Malah lebih memperkuat lagi barang siapa yang bermaksud akan memisahkan maka ia akan di bunuh.

Buku PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO SEJARAH TALLO bertujuan mengkaji dan mengungkapkan latar belakang nilai dan isi naskah "Sejarah Tallo" dari daerah Sulawesi Selatan. Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO SEJARAH TALLO 
Peneliti: Abdurahim Mone, A. Gani
Editor: H. Ahmad Yusuf, Suradi, I Made Purna
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit:  Jakarta
Tahun Terbit: 1988

October 26, 2021

LONTARA BUDIISTIHARAH

Di kalangan orang Bugis, sejak zaman dahulu lontarak mempunyai peranan yang penting sekali dalam kehidupannya, karena lontarak mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi yang menjadi pedoman hidup dan kehidupan. Lontarak mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dan diperhatikan. Untuk memahami lontarak perlu pengetahuan khusus, karena lontarak juga merupakan naskah sastra budaya mempunyai sifat-sifat tertentu sebagaimana sastra budaya bahasa-bahasa lain.

Transliterasi lontara Budiistiharah adalah transliterasi dari lontara yang berbahasa Bugis dengan huruf lontarak ke dalam huruf latin. Karena bahasa yang ada dalam lontara itu adalah sebahagian bahasa lama yang tidak merupakan lagi bahasa sehari-hari. Naskah tua ini koleksi Bidang Jarahnitra Kanwil Depdikbud Provinsi Sulawesi Selatan. Naskah pembanding yang sejenis dan hampir sama isinya adalah copy naskah koleksi pribadi Drs. Muhammad Salim di Ujung Pandang.

Buku TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN LONTARA BUDIISTIHARAH merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan  mengandung berbagai macam surat Bugis, dan peristiwa serta berbagai adat istiadat daerah Sulawesi Selatan, seperti:

  • Pasal ke lima belas, orang yang diberi amanah rahasia
  • Mulut biasa memotong leher
  • Pasal ke enam belas, orang yang mempunyai akal pikiran
  • Dua belas macam tanda orang yang tak berakal pikiran
  • Nasehat Nabi Daut kepada anaknya
  • Nasehat Lukmanulhakim
  • Pasal ketujuh belas, ilmu Kiyapat dan Pirasat, tentang tanda-tanda bentuk dan keadaan tubuh serta tafsirannya
  • Kadli yang masuk surga dan neraka
  • Pasal ke delapan belas, lima macam pesan sifakir
  • Munculnya kisah Budiistiharah
  • Syarat pengawasan keluarga seisi rumah
  • Usaha perempuan supaya lepas dari kejahatan laki-laki
  • Yang menandakan penyesalan diri
  • Delapan macam syarat yang harus dijaga sewaktu mengabdi kepada raja
  • Syarat yang harus dimiliki bendahara raja

TRANSLITERASI DAN TERJEMAH LONTARA BUDIISTIHARAH III
Penyusun: Muhammad Salim
Editor: Muhammad Arfah
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1993




PAKARENA SAMBORI'NA DALAM ETNIS MAKASSAR


Tari pakarena sambori'na merupakan tari tradisional peninggalan masa lampau di Makassar. Kehadiran ini tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi masyarakat etnis Makassar meyakini bahwa tari pakarena terkait dengan kemunculan tu manurung di bumi. Kisah tu manurung ini merupakan seorang manusia jelmaan (bidadari) yang turun dari langit dengan menggunakan selendang yang melambai tertiup angin. Bidadari tersebut turun di awal malam dan meninggalkan bumi ketika matahari mulai muncul dari ufuk timur, karena pakarena sebagai simbol dari gerakan tu manurung/manusia jelmaan (bidadari) yang datang ke bumi untuk mengajarkan pada manusia tentang tata krama dan tata kehidupan dalam masyarakat.

Penamaan pakarena sambori'na oleh Angrong guru pakarena Daeng Serang Dakko lebih memiliki makna yang lebih luas dan rasa kekeluargaan, yakni kita semua adalah satu ikatan darah, satu keluarga dan kerabat, dibanding pakarena paulu jaga dengan pakarena sambori'na

Kebiasaan masyarakat Makassar dalam setiap hajatan, misalnya upacara melepas nasar, pabbuntingan (pernikahan), khitanan adalah dengan mempertunjukkan pakarena semalaman. Hajatan bersifat sakral, terlebih dahulu melakukan appalili (pemotongan hewan, biasanya seekor kerbau dengan menyimpan kepalanya dalam wala suji), kemudian i-salonrengi. Setelah prosesi appalili dan salonreng selesai dilanjutkan dengan paula jaga dengan menampilkan pakarena sambori'na/samboritta dan pada pertengahan malam pakarena bisei ri lauk dan ditutup dengan jangan lea-lea.

Adapun ragam gerak tari pakarena sambori'na akan dideskripsikan sesuai dengan teknik volume (ukuran fisik) yang digunakan sebagai berikut:

  1. Ragam Bunga Karena (penghormatan)
  2. Ragam Amme'lu (meliuk)
  3. Ragam Ammempo (duduk rapat)
  4. Ragam Tile (seretan kaki diikuti lirik mata)
  5. Ragam Alleko Bo'dong (melingkar sempurna)
  6. Ragam Kipasa Ta'sungke (kipas terbuka)
  7. Ragam Sitaklei (berganti tempat)
  8. Ragam Appalakkana (mohon pamit/izin)
Masyarakat tradisional Makassar yang mempercayai keberadaan pakarena, tidak sekedar menampilkan pakarena sebagai ajang tontonan dalam sebuah hajat yang mereka sebut a'jaga atau appaenteng jaga (pesta jaga), melainkan menempatkannya sebagai sebuah keharusan bahkan kewajiban untuk dilaksanakan dalam daur hidup. Mereka mempercayai bahwa manakala kebiasaan leluhurnya tidak dilaksanakan, maka kelak akan ditimpa ketidaktentraman dalam menjalani hidup dan penghidupan. Akan tetapi bagi masyarakat yang mempercayai ajaran islam secara murni, pakarena ditempatkan sebagai hiburan, sekaligus sebagai prestise bagi status sosial penyelenggara, serta penanda adanya ikatan leluhur sebagai pewaris pakarena.

Buku PAKARENA SAMBORI'NA DALAM ETNIS MAKASSAR membahas tentang pakarena dalam masyarakat etnis Makassar, pakarena sambori'na dalam bentuk gerak serta Daeng Serang Dakko sebagai Angrong guru pakarena dan Maestro gendang Makassar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin, Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAKARENA SAMBORI'NA DALAM ETNIS MAKASSAR
Penulis" Nurwahidah
Penerbit: Pustaka Almaida
Tempat Terbit: Gowa
ISBN: 978-602-5954-95-5

October 22, 2021

TOKOH-TOKOH DI BALIK NAMA-NAMA JALAN KOTA MAKASSAR


Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengenang jasa seseorang. Ada yang memberi nama seorang tokoh pujaannya kepada anaknya karena kekagumannya terhadap tokoh tersebut. Ambil contoh, nama Hasanuddin yang merujuk kepada Sultan Hasanuddin. Nama ini sangat populer dan diharapkan mereka yang bernama Hasanuddin, dapat meniru atau bersikap seperti yang dilakukan Sultan Hasanuddin yang berpendirian 'satu kata dengan perbuatan'.

Demikian pula nama jalan yang menggunakan nama orang di kota Makassar cukup banyak. Dari sejumlah nama itu, ada yang sudah sangat kita kenal dan demikian pula sebaliknya. Penggunaan nama orang untuk jalan adalah bagian dari rasa hormat kita atas jasa-jasa yang pernah dilakukan. 

Penggunaan nama orang untuk satu jalan bukanlah dimaksud semata-mata untuk mengenang nama tokoh tersebut, tetapi diharapkan masyarakat dapat mencontoh atau setidaknya dapat menarik pelajaran dari apa yang telah diperbuat tokoh tersebut di masa hidupnya.

Kota Makassar terdiri dari 14 kecamatan dan 144 kelurahan. Berikut 17 struktur utama anatomi jalan di Kota Makassar:

  1. Jalan dengan nama Baji atau kebaikan, seperti: Jalan Baji Dakka, Bahi Gau, Baji Ateka, Baji Bicara, Baji Gio, Baji Minasa dan lainnya.
  2. Jalan dengan karakter binatang yang hidup di darat, seperti: Jalan Serigala, Rusa, Badak, Landak, Kelinci, Beruang, Gajah dan lainnya.
  3. Jalan yang berbasis nama burung atau binatang yang memiliki kemampuan terbang, seperti: Jalan Kakak Tua, Belibis, Cendrawasih, Gagak, Rajawali, dan sejenisnya.
  4. Jalan dengan nama tumbuhan yang berguna untuk menjadi sayur, seperti: Jalan Labu, Sawi, Kangkung, dan sejenisnya.
  5. Jalan dengan nama tanjung, seperti: Jalan Tanjung Bunga, Tanjung Alang, dan sejenisnya.
  6. Jalan dengan nama karakter spirit, seperti Jalan Kebangkitan, Kesatuan, Kemajuan, Sepakat, Sehati, dan sejenisnya.
  7. Jalan dengan karakter nama pulau, seperti Jalan Banda, Sangir, Bali, Timor, Sumba, dan sejenisnya.
  8. Jalan dengan nama binatang-binatang laut, seperti: Jalan Sunu, Cumi-Cumi, Titang, Baronang, Cakalang, Bete-Bete, dan sejenisnya.
  9. Jalan dengan nama unsur "hati" atau sifat kemuliaan jiwa, seperti Jalan Hati Suci, Hati Mulia, Hati Senang, Hati Gembira, Hati Murni, dan sejenisnya.
  10. Jalan dengan nama-nama bunga, seperti: Jalan Matahari, Dahlia, Seruni, Tulip, Mawar dan Bunga Eja.
  11. Jalan dengan nama kampung bukit atau bonto, seperti: Jalan Bonto Langkasa, Bonto Bantaeng, Bonto Marannu, Bonto Nompo, Bonto Mangape, Mappala, Tidung dan semacamnya.
  12. Jalan dengan nama pohon atau jenis kayu, seperti: Jalan Meranti, Cemara, Kelapa, dan sejenisnya.
  13. Jalan dengan basis nama awal pada kata suka, seperti: Sukaria, Sukamaju, dan sejenisnya.
  14. Jalan dengan identifikasi aktivitas dan kampung, seperti: Jalan Penghibur, Pasar Ikan, Dakwah, dan semacamnya.
  15. Jalan yang berbasis ke nama sungai, seperti: Jalan Sungai Limboto, Cerekang, Saddang, dan sejenisnya.
  16. Jalan yang menggunakan nama gunung, seperti: Jalan Gunung Merapi, Gunung Latimojong, Gunung Bawakaraeng, Gunung Rinjani dan Gunung Lompobattang.
  17. Jalan yang menggunakan nama tokoh-tokoh penting, baik dalam sejarah Nusantara, nasional dan sejarah lokal.
Buku TOKOH-TOKOH DI BALIK NAMA-NAMA JALAN KOTA MAKASSAR merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Buku ini sebagai panduan tentang nama-nama jalan yang berasal dari tokoh-tokoh penting, sehingga setiap warga Kota Makassar yang bermukim, melintas, atau beraktivitas di suatu jalan yang menggunakan nama tokoh, dapat mengetahui siapa dan apa spirit dari tokoh itu yang dapat di kenang, diteladani dan diceritakan. Buku ini membahasa 70 tokoh-tokoh penting, baik dalam sejarah Nusantara, nasional dan sejarah lokal.
  • Jalan yang berkarakter tokoh lokal, baik yang heroik di masa pra-Republik Indonesia, seperti: Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, Karaeng Patingalloang, Petta Ponggawae, Kajao Lalidong, La Madukelleng dan sebagainya.
  • Jalan yang berkarakter tokoh-tokoh pada masa perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan, seperti: Jalan Sam Ratulangie, Wolter Monginsidi, Ali Malaka, Arief Rate, dan sejenisnya
  • Jalan yang berkarakter tokoh-tokoh pahlawan nasional, seperti: Sutomo, Ahmad Yani, Jenderal Soedirman dan Gatot Subroto
  • Jalan yang berkarakter tokoh berlatar keagamaan atau ulama, seperti: Abdullah Daeng Sirua, KH. Ramli, Muctar Lutfi, dan lainnya.
  • Jalan yang berkarakter tokoh legenda dan mitologis lokal, seperti: Datu Museng, Lagaligo dan Saweringading..

October 21, 2021

ANDI PANGERANG PETTA RANI: PEMIMPIN YANG JUJUR


Sobbui assalemu, risappakpo muompok, artinya: Sembunyikan asal kebangsawananmu, dan kalau dicari barulah engkau tampil. Demikian pesan Andi Pangerang Petta Rani kepada anaknya.

Bila diperhatikan dari silsilah Andi Pangerang Petta Rani, neneknya Pangerang atau ibu dari Andi Mappanyukki bernama I Cella We Tenripada Arung Alita. Dia anak Raja Bone XXVII bergelar La Parengrengi Ahmad Saleh Arumpoungi Matinrowe ri aja Benteng, dan istrinya bernama Pancai Tana Basse Kajuara Tenriwaru Matinrowe ri Majannang. Pancaitana Basse kemudian menggantikan suami dan sekaligus sepupunya menjadi raja (Ratu) Bone XXVII.

Andi Pangerang Petta Rani, oleh sesama bangsawan Bugis Makassar disebut La Pangerang Daeng Rani berasal dari keluarga heroik dan patriotik. Kalau ditelusuri asal usulnya, beliau berdarah campuran Makassar, Bugis, Luwu, Buton, Arab Iran, Jawa dan Sangalak (Tana Toraja). 

Buku ANDI PANGERANG PETTA RANI: PEMIMPIN YANG JUJUR membahas tentang kepemimpinan Andi Pangerang Petta Ranin yang sangat sederhana. Tidak mau menggunakan kekuasaan untuk hidup mewah atau menjadikan jarak pemisah dengan rakyat yang dipimpinnya, selain itu juga membahas sisi lain beliau diantaranya suka berpakai putih serta gemar makan pallubutung, 

Ia juga tidak senang kalau ada rakyatnya yang memberikan hadiah tanpa diketahui asal kebenarannya. Walaupun si pemberi itu melakukan secara ikhlas, tetapi Andi Pangerang Petta Rani, kebiasaan menerima hadiah seperti itu, akan sangat besar pengaruhnya dalam dunia kepemimpinan, dan pada akhirnya dapat menjerumuskan seseorang ke perbuatan yang tak jujur atau penyelewengan. Buku ini juga membahas sekilas empat pahlawan Sulsel: Andi Mappanyukki, Andi Jemma Datu Luwu, Andi Abdullah Bau Massepe dan Andi Makkasau Datu Suppa, menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala;'salapang-Makassar. 


ANDI PANGERANG PETTA RANI: PEMIMPIN YANG JUJUR
Penulis: Rimba Alam A. Pangerang, Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 979-3570-35-0


SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA


Cerita lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, dicatat pertama kali oleh penulis dari Puang Mangatta alias Puang To'lamba' pada tahun 1957. Versi tersebut adalah sebuah mitos yang memuat data-data sejarah lokal. Jamallomo, anak Sawerigading adalah "pangngala tondok" 'pendiri desa' Kandora. Tradisi dalam desa Kandora tersebut menunjukkan titik peralihan dari sejarah kekuatan "tomakaka" (semacam 'Urdemokratie')  kepada kekuasaan "kapuangan" (semacam 'Aristokratis') di daerah maqkale, Tana Toraja dan di daerah Duri, Enrekang dahulu kala. Pemimpin daerah Tallu Batupapan (Allaq, Sangngallaq, Mengkendek) di Duri, Enrekang dahulu kala menganggap dirinya Puang Pindakati (dalam cyclus Bugis disebut We Pinrakati) di Kandora, Tana Toraja. 

Versi lisan Saweringading di Kandora, Tana Toraja itu bagaimanapun juga menunjukkan hubungan prasejarah Tana Toraja dengan prasejarah suku Bugis dahulu kala. Prasejarah suku Toraja, khususnya sejarah "pangngala tondok", 'pendiri desa yang pertama' dahulu kala di daerah ini, antara lain pendirian desa Kandora di Kecamatan Mengkendek Tana Toraja. Pokok pikiran orang Toraja yang melatar belakangi kepercayaan mereka terhadap arwah yang ditemukan dalam "kada tomaqkayo" 'mada petugas upacara kematian' pada mengantarkan arwah jenazah orang mati ke dunia puya tersebut, dan juga dalam "badong ossoran" 'mada dukacita' yang dilagukan pada upacara kematian di daerah ini.

Versi lisan Sawerigading diceritakan pada upacara syukuran "merok", terkenal dengan sebutan "merok Sawerigading". Tradisi ini berbeda dengan upacara "merok" yang berlaku umum di seluruh Tana Toraja. Upacara merok yang berlaku umum di Tana Toraja acaranya dilaksanakan berhari-hari, bahkan harus didahului oleh acara-acara tertentu yang dilaksanakan setahun dua tahuna atau lebih sebelumnya. Upacara "merok Saweringading" tersebut acaranya dilakukan hanya sehari semalam saja, tanpa didahului acara-acara lainnya.

Upacara ini dilaksanakan dengan mempersembahkan seekor kerbau hitam, putih bulu ekornya, putih warna kuku kedua kaki belangnya. Dalam bahasa Toraja kerbau seperti itu disebut "tedong samara". Upacara itu dipusatkan pada kediaman Puang Parranan. Dalam melaksanakan upacara itu, beberapa buah batu keramat yang bergelar " Puang Parranan" penjelmahan "Puang Pindakati", istri pertama Sawerigading, diturunkan dari atas rumah, lalu dimandikan dan diberi pakaian baru (maksudnya diberi bungkusan yang baru). Persembahan, dalam bahasa Toraja disebut "pesung" diletakkan oleh petugas di depan rumah kediaman Puang Parranan, di depan 3 buah batu. Sebuah batu itu berbentuk seekor angsa yang sedang duduk menengadah ke langit. Dua buah yang lain terletak bersusun dalam bentuk lingga-yoni, lambang kekuasaan dan kesuburan, semacam phallus cultus. Upacara "merok Saweringading" tersebut dimeriahkan dengan tari-tarian kesukaan seperti: maqgellunq, maqdandan, manimbong dan maqbugiq yang dilaksanakan pada malam mendahului upacara. Sepanjang malam itu juga, "tominaa' 'ahli dan petugas' upacara menyanyikan hymne "passomba tedong" pujaan pada kerbau. Versi Sawerigading dicaritakan malam itu juga.

Bahagian cylus I La Galigo versi Bugis tersebut menunjukkan persejajaran antara kepercayaan suku Toraja dan suku Bugis dahulu kala terhadap alam arwah orang mati yang disebut "pamasareng" dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Toraja tersebut "punya". Kepercayaan inilah yang menjadi latar belakang pemotongan hewan, terutama kerbau, pada upacara penguburan jenazah orang mati di Tana Toraja.

Buku SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA, DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA membahas tentang versi lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, Tana Toraja dan terjemahannya serta prasejarah Tana Toraja dan beberapa aspek sosio-religio-kultural versi lisan Sawerigading Tana Toraja. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SAWERIGADING SEBUAH VERSILISAN BAHASA TORAJA, 
DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA

Penyusun: C. Salombe




October 18, 2021

LIMA PENDEKAR OPU DAENG DI NEGERI MELAYU

 


Nama Opu Daeng, itu merupakan perpaduan dua nama gelar bangsawan di Sulawesi Selatan, yakni “Opu” adalah gelar bangsawan dari Kerajaan Luwu, sedangkan “Daeng” biasanya dipakai oleh gelar bangsawan dari Kerajaan Gowa atau suku Makassar.

Petualangan 5 pendekar bangsawan Bugis Makassar ke negeri Melayu, telah banyak mengundang simpati dari masyarakat dan pemerintah setempat. Atas keberanian membela kaum tertindas membuat mereka disegani oleh lawan dan dihormati oleh kawan.

Lima pendekar dimaksud adalah: Opu Daeng Parani yang menjadi Panglima Perang di Kerajaan Selangor, Opu Daeng Manambung menjadi Raja Mempawah di Kalimatan Barat, Opu Daeng Marewa menjadi Yam Amtuan Muda pertama di Kerajaan Johor, Opu Daeng Cellak menjadi Yam Amtuan Muda kedua Kerajaan Johor, dan Opu Daeng Kamase menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.

Kisah pendekar Opu Daeng ini bermula ketika salah seorang putra Datu Luwu ke 24 dan 26 La Tenri Leleang bernama La Maddusila, yang diangkat menjadi Raja Tanete Barru. La Maddusila kawin dengan putri Datu Soppeng ke 23 bernama I Seno Tanribali Datu Citta. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak bernama Opu Tenriborong Daeng Lekka.

Opu Tenriborong itu kawin dengan gadis bangsawan dari Kerajaan Gowa. Dari hasil perkawinannya ini, membuah lima orang, yakni Daeng Parani, Daeng Manambung, Daeng Marewa, Daeng Cellak dan Daeng Kamase. Kelima bersaudara ini memiliki jiwa ksatria.

Dari modal keberanian tersebut, mereka merantau ke negeri Melayu. Sampai di sana mereka membantu perjuangan rakyat dan pemerintah tempat ia datangi. Beberapa negeri yang pernah dibantu diantaranya, membantu Sultan Zainuddin di Negeri Matan, Sultan Sulaiman di Negeri Johor, Sultan Adil di Sambas juga beberapa negara Melayu lainnya seperti Selangor, Keda dan Johor.

Dari hasil perjuangan itu, kelimanya selain diangkat menjadi raja juga sekaligus diangkat menjadi menantu. Seperti halnya Opu Daeng Manambung kawin dengan putri Kesumba yang merupakan anak sulung Raja Matan Sultan Zainuddin sekaligus menjadi raja di Mempawah bergelar Pangeran Emas Surga Negara. Daeng Parani kawin dengan putri bangsawan Kerajaan Siantan, salah satu kerajaan kecil di negeri Johor, dan sekaligus menjadi panglima perang Kerajaan Selangor dan Kedah. Daeng Marewa kawin dengan Ongku Encik Ayu anak dari Tumenggung Kerajaan Johor dan sekaligus menjadi Yam Amtuan Kerajaan Riau pertama, Daeng Cellak kawin dengan Tengku Tengah, adik dari Yam Amtum Kerajaan Johar dan sekaligus menjadi Yam Antum Kerajaan Riu kedua. Terakhir Opu Daeng Kamase yang merupakan adik bungsu kelima Opu Daeng ini, kawin dengan adek Raja Sambas bernama Urau Tengah atau Raden Tengah dan sekaligus menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.

Turunannya kemudian banyak menjadi pembesar, seperti putra Daeng Cellak bernama Raja Ali Haji yang menjadi pujangga terkenal di negeri Melayu dan kini dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Bahkan awal kedatangan Opu Daeng Manambung di Mempawah, yang ditandai dengan acara pesta Robo-robo setiap Rabu terakhirbulan Syawal setiap tahunnya.

Buku LIMA PENDEKAR OPU DAENG DINEGERI MELAYU membahas tentang kisah pendekar Opu Daeng yakni Opu Daeng Manambung, menjadi raja pertama Mempawa; Opu Daeng Marewa, Raja Muda Kerajaan Johor; Opu Daeng Cellak Yam Tuan Muda Kerajaan Riau; Opu Daeng Parani, panglima perang Kerajaan Selangor & Kedah serta Opu Daeng Kamase, Panglima Mangkubumi Kerajaam Sambas. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makasssar.

 

LIMA PENDEKAR OPU DAENG DINEGERI MELAYU
Penulis: Zainuddin Tika, Mas’ud Kasim, Rosdiana
Editor: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Lembaga Kajian & Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011


October 13, 2021

KAHAR MUZAKKAR MASIH HIDUP (Sebuah Misteri)


Mengorek pembuktian-pembuktian sebagai refleksi masih hidupnya Kahar Muzakkar, memang membuka peluang untuk sebuah keyakinan. Kontroversial yang menyelimuti perjalanan pejuang Islam yang memilih langkah-langkah radikal itu tak akan mungkin hilang. Boleh jadi sejumlah saksi sejarah dari teman-teman Kahar Muzakkar sudah tiada, namun muncul generasi baru yang terus mendengungkan sikap kontroversial tersebut.

Mungkin Kahar Muzakkar sudah meninggal, tapi tidak menutup kemungkinan dia juga masih hidup. Simpulan itu mencuat lantaran adanya sejumlah catatan sejarah yang mengarah ke kedua pilihan tersebut. Pertama, Kahar Muzakkar sudah meninggal. Alasannya, pihak pemerintah Soekarno bersama TNI telah mengumunkan Kahar Muzakkar meninggal terkena peluru di pinggir sungai Lasolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara pada 2 Februari 1965. Peristiwa pengepungan itu dilakukan oleh personil Operasi Kilat di bawah perintah Panglima Kodam XIV, Brigjen TNI M. Jusuf. 

Pejuang Islam kelahiran Kabupaten Luwu itu ditembak oleh seorang prajurit, Kopral Sadeli dari kesatuan Siliwangi. Atas perintah M. Jusuf, sang mayat dinaikkan ke helikopter milik tentara lalu dibawa ke Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Ada juga informasi, mayat yang disebut-sebut Kahar Muzakkar itu sempat diperlihatkan kepada Presiden Soekarno di Jakarta lantaran sang presiden ingin sekali melihat mayat Kahar Muzakkar. Begitulah catatan sejarah yang lahir dari versi pemerintah.

Kedua, Kahar Muzakkar masih hidup. Alasannya, sejak dinyatakan telah meninggal pada trahun 1965 oleh pemerintah, ternyata hingga kini tahun 2001 belum pernah ada satu orang pun yang melihat kuburan Kahar Muzakkar. Bahkan saat dinyatakan telah tertembak, Hj. Corry van Stevanus istri Kahar Muzakkar yang sangat setia mendampingi suaminya di hutan belantara bermaksud melihat langsung mayat Kahar Muzakkar, tidak diizinkan oleh M. Jusuf juga orang-orang dekat ketika berjuang dalam gerakan DI/TII tidak ada yang mengaku pernah melihat mayat Kahar Muzakkar.

Cerita lain muncul berkaitan dengan peristiwa penembakan di pinggir Sungai Lasolo. Katanya, yang tertembak saat itu bukan Kahar Muzakkar, tapi seorang anggota DI/TII yang mirip wajah Kahar Muzakkar.  Strategi itu sudah diatur oleh M. Jusuf dengan Kahar Muzakkar dalam pertemuan khususnya di Bone Pute, sebelum penyerbuan Operasi Kilat digelar di salah satu markas DI/TII di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kolaka.

Informasi tersebut boleh jadi benar lantaran kedekatan M. Jusuf dengan Kahar Muzakkar tidak diragukan. Kedua tokoh asal Sulsel ini dalam banyak kesempatan selalu memperlihatkan sebuah persekutuan yang akrab. Ketika M. Jusuf nikah, Kahar Muzakkar-lah yang menikahkannya. Kahar Muzakkar juga membawa M. Jusuf dari Sulawesi ke tanah Jawa. Hubungan mereka seperti keluarga. Karena itu perundingan tertutupnya di Bone Pute, antah apa simpulannya. Seorang anggota DI/TII mengungkapkan dalam pertemuan itu M. Jusuf menasihati 'saudaranya' Kahar Muzakkar agar meninggalkan negeri ini, sebelum Operasi Kilat digelar di markas DI/TII di Kolaka. Bila ini benar, maka yang tertembak oleh Kopral Sadeli di pinggir sungai Lasolo bukan sosok Kahar Muzakkar. Sebuah strategi penyelamatan.

Buku KAHAR MUZAKKAR MASIH HIDUP (Sebuah Misteri) membahas tentang catatan-catatan penggalan sejarah mengenai Kahar Muzakkar masih hidup dan diamnya Jenderal Jusuf  yang melahirkan sebuah refleksi di kalangan pengikut dan simpatisan perjuangan Kahar Muzakkar yang menjadi dasar keyakinan bahwa Kahar Muzakkar masih hidup. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KAHAR MUZAKKAR MASIH HIDUP (Sebuah Misteri)
Penulis: A.Wanua Tangke
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-96731-1-9

Mengenang Perjuangan Bersama Abdul Qahhar Mudzakkar dan J.W. Gerungan

 

Buku : Mengenang Perjuangan Bersama Abdul Qahhar Mudzakkar dan J.W. Gerungan

Penulis: Jo’Kojongiang

Penerbit: La Galigo Multimedia

Tempat Terbit: Sungguminasa Gowa

Tahun: 2010

Jumlah Halaman: vi + 114

Ukuran: 12,5 x 17,5 cm

ISBN: 978-602-98273-2-3

Satu lagi buku perpustakaan tentang Kahar Muzakkar. Buku ini ditulis langsung oleh mantan pengawal pribadi Abdul Qahhar Mudzakkar, nama lengkap dan resmi dari Kahar Muzakkar. Bukan hanya mengawal Kahar Muzakkar namun juga terhadap beberapa istri beliau. Buku ini tentu lain dari yang lain karena penulisnya terlibat  dan berinteraksi langsung dengan Kahar Muzakkar, baik dalam kehidupan sehari hari beliau maupun dalam urusan pemerintahan dan kemiliteran saat memimpin pertempuran.

Selain Kahar Muzakkar, buku ini juga membahas tentang J.W. Gerungan salah seorang pencetus lahirnya Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957. Nama J.W. Gerungan sendiri tidak begitu dikenal dan tidak banyak dicatat dalam buku buku sejarah perjuangan. Selain sebagai pimpinan Permesta di Sulawesi Tengah, J.W. Gerungan juga pernah menjadi Komandan Resimen ANOA,  sampai akhirnya menjadi Menteri Pertahanan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII).

Karena perjuangan kedua tokoh ini dianggap bertentangan dengan pemerintah Republik Indonesia, akhirnya pemerintah berusah menumpas segala perjuangan mereka. Sampai akhir hayatnya, kedua tokoh ini tidak diketahui dimana jasadnya dikuburkan.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, Kata Pengantar dan Daftar isi pada bagian awal sebelum Bab pertama yaitu Pendahuluan. Pada bagian ini, penulis membahas tentang kepemimpinan Kahar Muzakkar yang kharismatik, juga ketokohan J.W. Gerungan. Penulis menganggap, buku buku tentang Kahar Muzakkar kebanyakan ditulis berdasarkan sumber informasi dari pemerintah, sehingga dengan buku ini, pembaca secara umum akan mendapatkan informasi dari sisi lain kehidupan Kahar Muzakkar dan J.W. Gerungan.

Bab kedua membahas tentang Pasukan Permesta di Sulawesi Tengah dibawah pimpinan J.W. Gerungan. Diawali dengan terbentuknya pasukan Permesta, Resimen Infatri ANOA, saat pasukan Permesta meninggalkan kota Poso. Juga tentan Kapten V.O.P. Sumilat di Ngapu dan saat pasukan Permesta meninggalkan kota Bada. Bab ketiga tentang pertemuan pasukan Permesta dengan DI/TII, perjalanan pasukan Permesta menuju Sulawesi Selatan, penyerangan Pos polisi di Malili, Staf Gabungan Pimpinan Militer Bersama (SPGMB), penghianatan Kapten V.O.P. Sumilat, penyerangan pasukan Permesta oleh Momoc Ansharullah bersama DI/TII di markas Mendula, dan juga pembahasan tentan Mami Cory (panggilan khusus pada salah seorang istri Kahar Muzakkar, yaitu Corry Van Stenus).

Bab IV diuraikan tentang pasukan Permesta setelah di Islamkan, Kahar Muzakkar dan J.W. Gerungan menjadi Dwi-Tunggal Republik Persatuan Islam Indonesia, Kahar Muzakkar meninggalkan Imam Karto Suwiryo, serta saat Kahar Muzakkar menuju Sulawesi Tenggara.

Operasi militer penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar dibahas pada bab V. Selanjutnya keunikan Lompobulo pada bab keenam. Bagian ketujuh kembali dibahas pribadi Kahar Muzakkar yang sangat teguh pada keyakinannya, yang tidak pernah mengutamakan kepentingan keluarganya.  Bagian terakhir masih tentang perjuangan Kahar Muzakkar yang perjuangannya dijiwai oleh ajaran agama Islam, dan perlunya rehabilitasi nama baik Kahar Muzakkar dan J.W. Gerungan.  

Buku koleksi Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




October 11, 2021

BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA


Keberadaan tempat-tempat spiritual di Kabupaten Gowa, sampai saat ini masih tetap menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat pendukungnya. Budaya spiritual ini telah berlangsung lama dan sebagian masyarakat menjadikan tempat-tempat yang dikeramatkan sebagai kunjungan rutin dan menjadi agenda tahunan. Berbagai bentuk pemujaan yang dilakukan melalui media makam-makam tua, saukang, batu bikulung dan rumah-rumah adat yang dianggap memiliki kekuatan supranatural yang memberi manfaat dan keberkahan dalam kehidupan mereka yang memujanya. 

Bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa dan makam Raja-raja Gowa dianggap keramat dan dijadikan sebagai wasilah untuk bermunajat dan melaksanakan ritual, serta melepas nazar setelah mereka merasa memperoleh berkah semisal rezeki, jodoh, jabatan dan kesembuhan dari penyakit, serta berbagai keinginan dan maksud peziarah. Pemujaan terhadap roh-roh  leluhur bagi sebagian masyarakat pendukung kepercayaan tersebut, sampai saat ini masih berlangsung, walaupun perbuatan tersebut menyimpang dari aqidah Islam.

Pengunjung yang datang berziarah ke tempat-tempat spiritual yang ada di Kabupaten Gowa, bukan hanya masyarakat setempat, melainkan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, bahkan dari luar provinsi. Ada dua makam tua yang tidak pernah sepi dari peziarah yaitu makam Syekh Yusuf dan makam Dato ri Pa'gentungan, keduanya adalah ulama besar penyiar agama Islam di Sulawesi Selatan.

Berikut contoh tempat-tempat yang dianggap keramat dan dianggap dapat memberi keberkahan, seperti:

  • Saukang
Tempat pemujaan yang berlokasi di dusun Sanrangan Desa Je'ne Ta'lasa Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, tepatnya di samping SD Sanrangan jalan Benteng Sombaopu sekitar 3 Km dari jalan poros Sungguminasa-Takalar. Saukang ini berada di bawah pohon kenari besar yang sudah berusia ratusan tahun.

Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat di sekitarnya bahwa dahulu saukang itu berbentuk rumah panggung kecil, namun seiring dengan waktu rumah tersebut sudah lapuk dimakan usia, sehingga tak dapat digunakan lagi. Oleh sebab itu masyarakat yang masih tetap mempercayai keberadaan tempat tersebut sebagai tempat pemujaan maka mereka membuat bangunan permanen dan diberi atap seng yang didalamnya dibuat kuburan agak nampak lebih sakral.

  • Batu Bikulung.
Batu Bikulung merupakan salah satu tempat keramat yang berlokasi di jalan Karaeng Loe I Kampung Sero Kelurahan Pao-Pao Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Sungguminasa. Bentuk Batu Bikulung menyerupai siput menggulung yang dalam bahasa Makassar disebut bikulung = biku berarti siput, gulung = menggulung. Karena bentuknya yang aneh sehingga masyarakat penganut paham sinkretisme menganggap bahwa batu ini memiliki kekuatan supranatural yang dapat mempengaruhi pola pikir penganutnya. Batu Bikulung ini dipercaya oleh masyarakat setempat dikuasai oleh pakkammik sejenis roh halus yang menguasai tempat tersebut.
  • Balla Lompoa di Sungguminasa
Balla Lompoa terletak di pusat kota Sungguminasa berdampingan dengan bangunan Istana Tamalate dalam kawasan sejarah dan budaya lapangan Bungaya. Balla Lompoa dulunya dijadikan Istana Kerajaan Gowa, kini berubah fungsi menjadi museum tempat peninggalan benda-benda pusaka Kerajaan Gowa, termasuk benda peninggalan Raja Gowa pertama Tumanurunga (1320) yaitu Salokoa berupa mahkota yang telah dipakai oleh raja-raja Gowa seperti Ponto Janga-jangaya (gelang naga melingkart) yang terbuat dari emas seberat 985,5 gram, Pedang Sudanga (pedang sakti peninggalan Karaeng Bayo), Rante Kalompoang (kalung kebesaran) yang terbuat dari emas seberat 2,182 gram. Tamadakkaya (mata tombak tiga buah), Subang (anting-anting yang terbuat dari emas murni beratnya 287 gram jumlahnya 4 buah) Tatarapang (keris yang bersarung emas), Kancing Gaukang (perlengkapam kerajaan), Kolara (Rante Manila, kalung emas beratnya 270 gram perlengkapan upacara) medali emas, penning emas (pemberian dari Kerajaan Inggris), Cincin Gaukang yang terbuat dari emas murni.

Balla lompoa mempunyai dua kamar yang digunakan pula untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan, namun ada satu kamar yang dianggap kamar khusus yaitu tempat menyimpang barang-barang peninggalan raja pertama Kerajaan Gowa yaitu Tumanurung, selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan, kamar ini digunakan pula sebagai tempat suci untuk melaksanakan ritual, dimana selalu tersedia sesajen dan beberapa peralatan makan yang tertata rapi di atas sebuah meja kecil yang digunakan para pengunjung untuk menjamu penguasa roh halus yang diyakini oleh sebagian masyarakat tetap setia menghuni tempat tersebut. Hal ini melambangkan bahwa istana Balla Lompoa memiliki suatu kekuatan magis yang dapat mendatangkan keberkahan bagi orang-orang yang mempercayainya.

Buku BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA mengambarkan beberapa perilaku peziarah pada beberapa tempat dan makam yang dianggap keramat yang terdapat di Kabupaten Gowa, seperti Saukang, Batu Bikulung, Balla Lompoa di Sungguminasa, Batu Pallantikkang, Makam Sultan Hasanuddin, Makam Aru Palakka, Balla Lompoa di Bajeng, Makam syekh Yusuf, Makam Dato ri Pa'gentungang dan Makam Daeng Paccalayya. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA 
Penulis: Raodah
Editor: Abdul Hafid
Penerbit: Pustaka Refleksi bekerjasama Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit:  2014
ISBN: 978-979-3570-75-4






UNGKAPAN TRADISIONAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN SILA-SILA DALAM PANCASILA

Nilai-nilai budaya pada berbagai suku bangsa di Indonesia banyak sekali, ungkapan tradisional sebagai salah satu sistem informasi kebudayaan dan sebagai simbol kehidupan dan kebudayaan dari masing-masing suku bangsa yang mempunyai kaitan dengan sila-sila dalam Pancasila. Berikut salah satu ungkapan tradisional suku Makassar dan suku Mandar:

Abbulo sibatang paki antu, mareso tamattappu nanampa nia sannang ni pusakai. (Ungkapan Tradisional suku Makassar)

Seperti satu batang bambu kita kerja terus sama-sama akan kita dapati kesenangan.

"Bekerja dengan jujur dan bersatu akan menghasilkan pekerjaan yang tak terhenti sebagai tugas memberi kesenangan dan keberuntungan".

Ungkapan ini sangat bermanfaat sebagai ungkapan yang arti dan makna kejujuran dalam bersekutu yang mempunyai kaitan dengan sila III dari Pancasila untuk membina kesatuan dan kesepakatan, musyawarah dan mufakat dalam melakukan suatu pekerjaan yang berkaitan dengan sila IV serta membina kejujuran yang berkaitan dengan sila ke V dari Pancasila.

Ammungi tang mu baq barang uru pau paraloa. (Ungkapan tradisional suku Mandar)

Genggamlah dan tidak engkau kembangkan kata yang sudah semula ditetapkan. 

"Berpeganglah teguh kepada kata atau pembicaraan yang telah disepakati".

Sudah menjadi adat bagi kehidupan di masyarakat, bahwa apa yang telah dibicarakan atau disepakati pada mulanya haruslah dipegang seterusnya, dan jikalau terjadi pelanggaran atau penyimpangan, maka dikatakan melanggar adat. Tetapi apabila melakukan keputusan atau hasil musyawarah tersebut sesuai yang telah disepakati, maka akan mendapatkan simpati serta dikatakan sebagai orang beradat oleh masyarakat.

Ungkapan ini benar-benar berfungsi sebagai pengayom atau mendidik melakukan berbagai kesepakatan serta membina kepribadian dalam berkomunikasi antara sesama anggota masyarakat pada kelompok lingkungannya.

Ungkapan ini juga menggambarkan betapa tingginya nilai dari pada suara terbanyak sebagai hasil kesepakatan yang mempunyai kaitan dengan sila ke IV dari Pancasila, yang membina sifat menerima dan mengakui pendapat orang lain dalam hubungan musyawarah dan mufakat.

Buku UNGKAPAN TRADISIONAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN SILA-SILA DALAM PANCASILA PROPINSI SULAWESI SELATAN berisikan 100 buah ungkapan tradisional untuk dua kelompok suku (Makassar dan Mandar) yang masih sering dipakai dalam masyarakat pendukungnya, serta ungkapan tradisional yang belum pernah dipublikasikan. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang bertujuan untuk pembangunan kepribadian bangsa Indonesia serta memperkaya kebudayaan nasional.


UNGKAPAN TRADISIONAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN SILA-SILA DALAM PANCASILA PROPINSI SULAWESI SELATAN 
Penulis: L.T. Tangdilinting, Darwas RAsyid, Basri Abdullah, Zakariah.
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1991


BUSANA ADAT PADA MASYARAKAT DI SULAWESI SELATAN

 

Masyarakat daerah Sulawesi Selatan merupakan masyarakat yang terdiri atas 4 (empat) suku bangsa, yaitu: Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Setiap suku bangsa mempunyai latar belakang sejarah, agama dan adat-istiadat yang spesifik sesuai dengan spesifikasi lingkungan alam, sosial dan kebudayaan masing-masing. Kebudayaan, sebagai hasil tanggapan aktif manusia terhadap tantangan lingkungan, terutama dalam proses adaptasi telah memungkinkan setiap masyarakat suku-suku bangsa bersangkutan untuk memanfaatkan potensi sumber kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu kebutuhan hidup yang termasuk mendasar, ialah kebutuhan akan pakaian, perhiasan kelengkapannya.

Jenis-jenis pakaian tradisional Bugis antara lain seperti kain sarung (palekat dan sutera); jas tutup; baju bodo; baju rawan dan lain sebagainya. Hasil kerajinan yang masih dapat ditemukan ada di daerah Wajo itupun terbatas, yaitu hanya berupa sarung yang di sebut lipa’. Masyarakat suku Bugis di Wajo mengenal jenis-jenis lipa’ seperti: lipa’ sabbe cure’ renni, lipa’ sabbe cure’ lobang, lipa’ sabbe cure’ subbi’, lipa’ sabbe cure’ rebbung dan lipa’ sabbe cure’ bombang. Pengrajian yang menghasilkan produksi kain sarung itu dikenal sebagai pa’tennung.

Pakaian tradisional masyarakat suku Makassar banyak persamaannya dengan suku bangsa Bugis, misalnya kedua suku bangsa tersebut mengenal, sekaligus menggunakan jenis-jenis pakaian seperti: baju bodo; jas tutup; sarung sutera; songkok yang berhiaskan emas ataupun perak pada bahagian listnya. Masyarakat suku Makassar di Gowa mengenal jenis-jenis lipa’ seperti: lipa’ sabbe cura’ caddi, lipa’ sabbe cura’tangga, lipa’ sabbe cura’labba’, lipa’ sabbe cura’ akkalu’ dan lipa’sabbe cura’ menteng.

Pakaian tradisional masyarakat suku Mandar, terdapat perbedaan dengan pakaian suku Bugis dan Makassar. Perbedaannya tercermin, antara lain dalam tata warna serta motif dari sarung yang diciptakan, antara lain dalam tata warna serta motif dari sarung yang diciptakan. Dalam hal ini sarung Mandar mempunyai warna dasar yang lebih dominan menggunakan warna terang, demikian pula motifnya rata-rata berbentuk kotak mulai dari yang amat kecil sampai kepada kotak-kotak lebih besar.

Pakaian tradisional suku Toraja, seperti sambu’, seppa’, bayu pokkok, bayu toraya, passapu dan salembang sedangkan perhiasannya berupa manikkata, manikrarak, ponto lola, kandaure, sassan,

Buku BUSANA ADAT PADA MASYARAKAT DI SULAWESI SELATAN membahas tentang jenis-jenis busana; perhiasan dan kelengkapannya, pengrajin busana, perhiasan dan kelengkapan tradisional; bahan dan proses pembuatannya; ragam hias dan arti simbolik serta fungsi pakaian, perhiasan dan kelengkapan tradisional.

 

BUSANA ADAT PADA MASYARAKAT DI SULAWESI SELATAN 
Penyusun: Wiwiek P. Yoesoef, Rachma, Mulyati Tahir, at.al
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1990


 

 

October 8, 2021

ALAT ALAT PENANGKAP IKAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

 

Alat-alat penangkapan ikan tradisional Sulawesi Selatan, baik bentuknya maupun bahannya sangat dipengaruhi oleh keadaan alam setempat. Hal ini dapat dilihat pada peralatan yang digunakan dilaut dan di danau, walaupun namanya sama namun bentuk dan bahannya sering berbeda. Berikut berbagai jenis alat penangkap ikan di Sulawesi Selatan.

  • Memakai alat pengait: pangawang (Bugis), pakadok (Bugis) = pancing tancap, campak = bibbi (Bugis), meng (Bugis) = pancing,
  • Memakai jaring: juluk (Bugis) = jaring kantong, lanrak (Bugis), jala buang, dakkang (Bugis) = jaring kepiting, bunre salo (Bugis) = jaring kecil, bunre loppo (Bugis) = jaring kantong yang lebih besar.
  • Memakai klep: bubu, lawak (Bugis), salakka/salekko (Bugis), bellek
  • Memakai alat tusuk: pamulu (Bugis), kanjai (Bugis), seppu (Bugis) = sumpitan
  • Memakai Racun: Tua (Bugis) = racun ikan

Menangkap ikan sebagai salah satu bagian mata pencarian hidup di Sulawesi Selatan erat hubungannya dengan sistim kepercayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada rentetan upacara yang harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu oleh seorang nelayan. Berikut sistim upacara sebelum, sesudah selesai musim penangkapan dan pemmali (pantangan).

Sebelum penangkapan dimulai (sebelum turun ke danau)

Maccera Tappareng

Maccera tappareng ialah suatu upacara makan bersama yang diadakan pada bulan januari setiap tahun oleh para nelayan danau si Salo Wette Kampung WeteE Kecamatan Panca Lautan Kabupaten Sidenreng Rappang. Tujuannya ialah memohon doa restu kepada Tuhan (dewata) agar selama masa penangkapan ikan diberi rezeki dan keselamatan.

Attoana Turungan (Makassar) = Maccera Tasik (Bugis)

Attoana Tutungan yaitu upacara makan bersama di perahu dipinggir pelabuhan tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan. Maksud dan tujuan upacara ini ialah sebagai doa bersama agar selama musim penangkapan ikan yang akan berlangsung diberi reski berupa ikan yang banyak dan keselamatan di laut.

Mappanre Lopi/Biseang

Mappanre lopi adalah makan bersama di perahu yang akan digunakan pada musim penangkapan ikan yang akan berlangsung. Ini merupakan upacara mohon restu dari Tuhan agar diberi reski dan keselamatan selama melaksanakan penangkapan ikan.

Sesudah selesai musim penangkapan

Setelah selesai musim penangkapan ikan baik di laut maupun di danau, maka diadakan upacara syukuran yaitu memanjatkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala reski yang telah diberikan selama turun ke danau.

Pemmali (pantangan)

Pemmali bagi seorang nelayan, yang akan berangkat kelaut/kedanau: Makan sokko pulu bolong (ketan hitam) dan mendengar kata-kata yang mengandung pengertian hampa atau kosong atau habis, seperti: degaga (tidak ada), leppe (lepas), cappu (habis), dsb.

Pammali bagi seorang istri nelayan pada saat suaminya berangkat menangkap ikan (maddilau) tidak boleh putuskan hubungan batinnya, tetapi sebaliknya dia harus jalin terus hubungan itu seerat mungkin, karena sesungguhnya mereka itu adalah satu.

Oleh karena itu bila suami sedang bertugas, maka istri berkewajiban pula menjaga pantangan menurut adat pakkaja/pajukua yaitu:

  • Si istri tidak boleh membuka rambutnya didekat pintu rumah
  • Tidak boleh membakar tempurung kelapa
  • Tidak boleh membelah atau memotong kayu atau tali
  • Saji nasi tidak boleh jatuh ke lantai
  • Tidak boleh memasak pada waktu sore hari
  • Tidak boleh mengosongkan rumah
Buku ALAT ALAT PENANGKAP IKAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN membahas berbagai jenis alat penangkap ikan di Sulawesi Selawesi dan sistem upacara. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, dalam penggunaan alat-alat tersebut diatas sangat membutuhkan ketekunan dan ketangkasan dari nelayan. Orang Sulawesi Selatan juga sejak dahulu kala telah menganut sistem pasangan berlawanan, hal ini dapat dilihat seperti adanya hari baik dan hari buruk, hari berisi, hari kosong dan sebagainya.  


ALAT ALAT PENANGKAP IKAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penulis: Muh. Yamin Data, Muh. Arfah
Penerbit: Direktorat Pemuseuman Museum La Galigo
Tahun Terbit: 1980 

October 4, 2021

BENTENG UJUNG PANDANG

 

Benten Ujung Pandang adalah sebuah benteng kecil Kerajaan Gowa yang tembok lingkarnya masih utuh. Bentuk ini dibangun pada kira-kira tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke X yang bergelar Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Kalaupun ada unsur-unsur atau pengaruh gaya bangunan Portugis pada Benteng Ujung Pandang maka hal itu bukan mustahil, karena pada masa itu bangsa Portugis telah hadir di tanah air kita dan orang-orang Portugis memang berhubungan baik, bahkan bersahabat dengan Raja Gowa. Pada masa itu orang-orang Makassar (Gowa) memang banyak berhubungan dengan orang-orang Portugis. Jadi kalau ada unsur atau pengaruh Portugis pada bangunan-bangunan benteng atau alat persenjataan Kerajaan Gowa, maka hal itu bukanlah hal mustahil. Namun Benteng Ujung Pandang adalah benteng asli Kerajaan Gowa, bukan benteng rampasan atau benteng yang direbut dan kemudian diduduki oleh Kerajaan Gowa.

Benteng Ujung Pandang mempunyai bentuk yang khas, yakni menyerupai seekor penyu yang sedang merayap seolah-olah hendak terjun ke laut. Itu pulalah sebabnya mengapa Benteng Ujung Pandang oleh orang Makassar sering juga disebut “Benteng Panywa” artinya “Benteng Sang Penyu” (panyyu=penyu). Dinding Benteng Ujung Pandang mula-mula memang terbuat dari tanah liat. Akan tetapi kemudian, yakni kira-kira pada tahun 1634 pada jaman pemerintahan Raja Gowa yang ke XIV yang bergelar Sultan Alauddin Tumengnga ri Gaukanna, dinding Benteng Ujung Pandang diberi batu.

Setelah perjanjian Bungaya ditanda-tangani pada tanggal 18 Nopember 1667, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada Belanda (VOC). Kemudian Belanda (VOC) merombak bangunan-bangunan yang ada di dalam Benteng Ujung Pandang. Bangunan-bangunan itu aslinya adalah rumah-rumah khas Makassar dengan tiang-tiang yang tinggi dan terbuat dari kayu, bambu dan atap sirap atau daun nipa. Belanda (VOC) mengganti rumah-rumah Makassar itu dengan bangunan-bangunan yang bahan-bahannya lebih kokoh dan lebih tanah lama. Bangunan-bangunan yang didirikan oleh Belanda (VOC) itu merupakan gedung-gedung yang bergaya Eropa (Belanda) pada jaman abad ketujuh belas seperti yang dapat kita lihat sekarang setelah Benteng Ujung Pandang oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian Belanda mempergunakan Benteng Ujung Pandang yang semenjak itu diganti namanya menjadi Fort Rotterdam, sebagai benteng pertahanan dan pusat kekuatan serta pusat kegiatan pemerintah untuk Sulawesi Selatan, bahkan untuk Indonesia bagian timur. Perubahan nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Roterdam diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Janszoon Speelman yang memimpin serangan Belanda (VOC) terhadap Kerajaan Gowa.

Buku BENTENG UJUNG PANDANG membahas tentang Benteng yang menjadi bukti sejarah dan sejarah perlawanan menentang penjajah bangsa asing, serta menjadi bukti bahwa pahlawan-pahlawan Indonesia di Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad ke tujuh belas rela mengorbankan jiwa raganya dengan membelah dan mempertahankan setiap jengkal bumi tanah airnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

BENTENG UJUNG PANDANG
Penuslis: Sagimun M.D.
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992


 

October 1, 2021

GLOSARIUM SULAWESI SELATAN: Daftar Istilah Budaya

 


Salah satu kesulitan yang dialami oleh para peneliti, baik mereka yang berasal dari Sulawesi Selatan maupun yang dari luar Sulawesi Selatan adalah bahasa. Di Sulawesi Selatan dihuni oleh empat suku-bangsa ini memiliki bahasa dan aksara yang dikenal dengan nama lontarak. Warisan sejarah dan budaya masa lalu mereka diwariskan dalam lontarak.

Dalam lontarak ditemukan berbagai macam istilah yang memiliki arti dan makna yang tersendiri, yang dapat menyesatkan jika pengetahuan tentang budaya daerah ini tidak dimengerti. Buku GLOSARIUM SULAWESI SELATAN: Daftar Istilah Budaya memuat bermacam-macam istilah arti dan makna tersendiri, yang tersusun sesuai abjad (A-W) seperti:

Abanrongang. Cikal bakal bagang. Alat ini digunakan untuk menangkap ikan dengan menyusun bambu.

Abale-baleng; kampo. Wadah bundar terbut dari kuningan yang berisi beraneka macam lauk-pauk.

Abboya Juku. Mencari ikan dengan kata lain nelayan; secara konsepsional abboya juku menunjukkan tentang lapangan kerja yang bergerak di bidang perikanan, antara lain seperti: pabbagang (nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bagang), pajjala (nelayan yang menggunakan jala), ppekang (pengail).

Worong-worong. Nama gugus bintang yang berkelompok tujuh (Pleiades).

Wuna bawang. Membunuh sewenang-wenang (tanpa alasan).

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin, Km. 7 Tala’salapang-Makassar, sebagai upaya untuk memberi kemudahan bagi siapa saja yang ingin meneliti atau memahami budaya Sulawesi Selatan khususnya budaya Bugis, Makassar dan Toraja.

 

 GLOSARIUM SULAWESI SELATAN: Daftar Istilah Budaya

Penyusun: Suriadi Mappangara
Penerbit: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 979-8980-43-3