Nama Opu Daeng, itu merupakan perpaduan dua nama gelar
bangsawan di Sulawesi Selatan, yakni “Opu” adalah gelar bangsawan dari Kerajaan
Luwu, sedangkan “Daeng” biasanya dipakai oleh gelar bangsawan dari Kerajaan Gowa
atau suku Makassar.
Petualangan 5 pendekar bangsawan Bugis Makassar ke negeri
Melayu, telah banyak mengundang simpati dari masyarakat dan pemerintah
setempat. Atas keberanian membela kaum tertindas membuat mereka disegani oleh
lawan dan dihormati oleh kawan.
Lima pendekar dimaksud adalah: Opu Daeng Parani yang menjadi
Panglima Perang di Kerajaan Selangor, Opu Daeng Manambung menjadi Raja Mempawah
di Kalimatan Barat, Opu Daeng Marewa menjadi Yam Amtuan Muda pertama di
Kerajaan Johor, Opu Daeng Cellak menjadi Yam Amtuan Muda kedua Kerajaan Johor,
dan Opu Daeng Kamase menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.
Kisah pendekar Opu Daeng ini bermula ketika salah seorang
putra Datu Luwu ke 24 dan 26 La Tenri Leleang bernama La Maddusila, yang
diangkat menjadi Raja Tanete Barru. La Maddusila kawin dengan putri Datu
Soppeng ke 23 bernama I Seno Tanribali Datu Citta. Hasil perkawinannya
membuahkan seorang anak bernama Opu Tenriborong Daeng Lekka.
Opu Tenriborong itu kawin dengan gadis bangsawan dari Kerajaan
Gowa. Dari hasil perkawinannya ini, membuah lima orang, yakni Daeng Parani,
Daeng Manambung, Daeng Marewa, Daeng Cellak dan Daeng Kamase. Kelima bersaudara
ini memiliki jiwa ksatria.
Dari modal keberanian tersebut, mereka merantau ke negeri
Melayu. Sampai di sana mereka membantu perjuangan rakyat dan pemerintah tempat
ia datangi. Beberapa negeri yang pernah dibantu diantaranya, membantu Sultan
Zainuddin di Negeri Matan, Sultan Sulaiman di Negeri Johor, Sultan Adil di Sambas
juga beberapa negara Melayu lainnya seperti Selangor, Keda dan Johor.
Dari hasil perjuangan itu, kelimanya selain diangkat menjadi
raja juga sekaligus diangkat menjadi menantu. Seperti halnya Opu Daeng
Manambung kawin dengan putri Kesumba yang merupakan anak sulung Raja Matan
Sultan Zainuddin sekaligus menjadi raja di Mempawah bergelar Pangeran Emas
Surga Negara. Daeng Parani kawin dengan putri bangsawan Kerajaan Siantan, salah
satu kerajaan kecil di negeri Johor, dan sekaligus menjadi panglima perang
Kerajaan Selangor dan Kedah. Daeng Marewa kawin dengan Ongku Encik Ayu anak
dari Tumenggung Kerajaan Johor dan sekaligus menjadi Yam Amtuan Kerajaan Riau
pertama, Daeng Cellak kawin dengan Tengku Tengah, adik dari Yam Amtum Kerajaan
Johar dan sekaligus menjadi Yam Antum Kerajaan Riu kedua. Terakhir Opu Daeng
Kamase yang merupakan adik bungsu kelima Opu Daeng ini, kawin dengan adek Raja
Sambas bernama Urau Tengah atau Raden Tengah dan sekaligus menjadi Pangeran
Mangkubumi Kerajaan Sambas.
Turunannya kemudian banyak menjadi pembesar, seperti putra
Daeng Cellak bernama Raja Ali Haji yang menjadi pujangga terkenal di negeri
Melayu dan kini dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Bahkan awal kedatangan
Opu Daeng Manambung di Mempawah, yang ditandai dengan acara pesta Robo-robo
setiap Rabu terakhirbulan Syawal setiap tahunnya.
Buku LIMA PENDEKAR OPU DAENG DINEGERI MELAYU membahas
tentang kisah pendekar Opu Daeng yakni Opu Daeng Manambung, menjadi raja
pertama Mempawa; Opu Daeng Marewa, Raja Muda Kerajaan Johor; Opu Daeng Cellak
Yam Tuan Muda Kerajaan Riau; Opu Daeng Parani, panglima perang Kerajaan
Selangor & Kedah serta Opu Daeng Kamase, Panglima Mangkubumi Kerajaam
Sambas. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan
Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makasssar.
LIMA PENDEKAR OPU DAENG DINEGERI MELAYU
Penulis: Zainuddin Tika, Mas’ud Kasim, Rosdiana
Editor: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Lembaga Kajian & Penulisan Sejarah Budaya
Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011