Di kalangan orang Bugis, sejak zaman dahulu lontarak mempunyai peranan yang penting sekali dalam kehidupannya, karena lontarak mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi yang menjadi pedoman hidup dan kehidupan. Lontarak mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dan diperhatikan. Untuk memahami lontarak perlu pengetahuan khusus, karena lontarak juga merupakan naskah sastra budaya mempunyai sifat-sifat tertentu sebagaimana sastra budaya bahasa-bahasa lain.
Transliterasi lontara Budiistiharah adalah transliterasi dari lontara yang berbahasa Bugis dengan huruf lontarak ke dalam huruf latin. Karena bahasa yang ada dalam lontara itu adalah sebahagian bahasa lama yang tidak merupakan lagi bahasa sehari-hari. Naskah tua ini koleksi Bidang Jarahnitra Kanwil Depdikbud Provinsi Sulawesi Selatan. Naskah pembanding yang sejenis dan hampir sama isinya adalah copy naskah koleksi pribadi Drs. Muhammad Salim di Ujung Pandang.
Buku TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN LONTARA BUDIISTIHARAH merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan mengandung berbagai macam surat Bugis, dan peristiwa serta berbagai adat istiadat daerah Sulawesi Selatan, seperti:
- Pasal ke lima belas, orang yang diberi amanah rahasia
- Mulut biasa memotong leher
- Pasal ke enam belas, orang yang mempunyai akal pikiran
- Dua belas macam tanda orang yang tak berakal pikiran
- Nasehat Nabi Daut kepada anaknya
- Nasehat Lukmanulhakim
- Pasal ketujuh belas, ilmu Kiyapat dan Pirasat, tentang tanda-tanda bentuk dan keadaan tubuh serta tafsirannya
- Kadli yang masuk surga dan neraka
- Pasal ke delapan belas, lima macam pesan sifakir
- Munculnya kisah Budiistiharah
- Syarat pengawasan keluarga seisi rumah
- Usaha perempuan supaya lepas dari kejahatan laki-laki
- Yang menandakan penyesalan diri
- Delapan macam syarat yang harus dijaga sewaktu mengabdi kepada raja
- Syarat yang harus dimiliki bendahara raja
No comments:
Post a Comment