January 11, 2022

SINOPSIS TARI KREASI

Sinopsis tari adalah pengantar atau penjelasan singkat dari sebuah garapan tari yang disebut. Isi sinopsis berupa gambaran gagasan, jalan cerita, penata tari, penata musik, dan data seluruh penari atau pendukung musik. Tujuan pembuatan sinopsis tersebut merupakan salah satu agar orang lain lebih memahami karya tari yang dibuat. Berikut gambaran dua puluh empat tari kreasi baru sebagai hasil karya lima penata tari, yakni karya Ny. Andi Nurhani Sapada, karya We Tenrisau A. Sapada, karya Nyonya Munasiah Najamuddin, karya Farid Hamid, karya Andi Abu Bakar Hamid dan karya Abdi Bashit.

Karya Ny. Andi Nurhani Sapada: Tari Bosara, Tari Pabbekkenna Makjina, Tari Patennung, Tari Anging Mammiri, Tari Sulawesi Pakrasanganta, Tari Tomassenga, Tari 

  • Tari Bosara memberikan gambaran tentang adat istiadat dan tata krama Bugis Makassar menerima tamu agung dengan suguhan kue-kue tradisional yang diletakkan dalam wadah yang disebut Bosara ini.
  • Tari Pabbekkenna Makjina, pertanda tibanya musim tanam bagi para petani. Anak-anak berkejaran kesana kemari di bawah guyuran hujan sambil bersenandung dengan munculnya pelagi pada saat hujan akan berhenti.
  • Tari Patennung (1962), melukiskan ketekunan dan kesabaran perempuan Bugis-Makassar menenun kain sutra mulai dari mappali (memintal) benang sampai pada massau (memasukkan benang ke alat tenun) dan seterusnya menenum dari selembar benang menjadi selembar kain dengan motif khas tenunan Sulawesi Selatan yang banyak digemari.
  • Tari Anging Mammiri (1963), tari Anging Mammiri melukiskan kerinduan/kecintaan seorang data kepada sang kekasihnya yang tak kunjung datang. Untuk melampiaskan kerinduannya itu, diajaklah angin bersemilir dengannya, dab menyampaikan pesan agar angin semilir yang bertiup sepoi-sepoi itu dapat mengetuk pintu hati sang kekasih.
  • Tari Tomassenga, melukiskan ketegaran masyarakat Mandar menerima cobaan, dan tanpa kenal lelah, baru membahu membangun kembali negerinya tercinta. Tari Tomassenga bertujuan pula mengingatkan kembali kepada tragedi bencana alam tersebut.
  • Tari Marellau Pammase Dewata, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan atas segala jerih payah yang mendapat rahmat Ilahi Rabbi.

Karya We Tenrisau A. Sapada: Tari Mallattu Kopi (1968)
  • Tari Mallattu Kopi, mengambarkan kecekatan tangan sang gadis memetik buah kopi dari tangkai ke tangkai dalam suasana riang sang gadis beraksi masgul dengan biji-biji kopi yang dipermainkan oleh jari jemari yang lentik sambil menggendong bakul.
Karya Nyonya Munasiah Najamuddin: Tari Batara
  • Tari Batara, merupakan tari pemujaan kepada Batara yang Maha Rahman atas rahmatNya kepada hambaNya yang berikhtiar. Tari Batara ini di samping sebagai hiburan, sering pula difungsikan sebagai Tari Penjemputan.
Karya Farid Hamid: Tari Makdongik
  • Tari Makdongik menggambarkan suasana masyarakat petani dalam menyambut musim petik. Takkal bulir-bulir padi mulai berisi, si burung pipit datang mengusik. Para remaja putera-puteri bergantian menunggu sang padi sampai menguning bagaikan emas dan siap untuk dituai. Lappa-lappa bersahut-sahutan di tangan para remaja belia penunggu di dango-dango, si pipit merasa terusik dan terbanglah ia menjauh dan menjauh, maka hatipun menjadi lega, lega yang memberi kesejukan, menghapus dahaga, mengantar senyum dan sorak sorai.
Karya Andi Abu Bakar Hamid: Tari Tomepare (1979), Tari Dodeng, Tari Abatireng Ripolippukku (1985), Tari Ritebbanna Wellengrengnge, Tari Anak Dara (1988), Tari Topandoang (1993),  Tari Suara-Suara (1994), Tari Meoly (1995)
  • Tari Tomepare (1979), menggambarkan kegembiraan masyarakat Toraja dalam menyambut hasil panen yang melimpah ruah. Mereka menari sambil bernyanyi sebagai perwujudan rasa syukur dan terima kasih atas limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
  • Tari Dodeng, mengisahkan seorang raja dan panglima perangnya turun ke gelanggang bersama prajuritnya untuk memberantas gerombolan pengacau yang selalu mengganggu ketenteraman rakyatnya. Usai perang, tak mendapati isterinya tercinta di istana, tetapi yang ditemukan hanyalah tumpukan pusara sang isteri.
  • Tari Abatireng Ripolippukku (1985), Abatireng Ripolippukku yang berarti "kesetiaan kepada tanah air". Mengisahkan tentang sumpah setia sang raja Bone yang bernama Imanneng Arungpata yang tidak tega melihat rakyatnya dijajah, ditindas; kata beliau "Iya atama ripadatta rupa" artinya Saya hanya hamba bagi rakyatku".
  • Tari Ritebbanna Wellengrengnge, mengisahkan proses penciptaan perahu Sawerigading. Wellengrengnge adalah sebuah pohon yang dalam Sure Galigo dilambangkan sebagai pohon keramat dengan ketinggian sampai langit ketujuh.
         Penebangan pohon wellengrengnge adalah menjelang kemauan dari Sawerigading yang ingin                 berlayar ke Tanah Cina menjumpai puteri I Wecudai, rebahnya pohon bumi pertiwi kemudian                 diterima oleh Opu Talaga, lengkap dengan ahli pembuat perahu. Sebelum siri pecah, muncullah             wellengrenge di atas busa menerangi laut samudera. Lima belas perahu lengkap dengan layar yang          bergambar naga, dan ribuan tangkai beta menjadi perahu semua.
  • Tari Anak Dara (1988), Tari Topandoang (1993) melukiskan kegembiraan gadis-gadis Bugis-Makassar dalam bermain dan menari. Mereka bercanda dalam suka dan duka walaupun rintangan kadang datang silioh berganti.
  • Tari Suara-Suara (1994), menggambarkan suara-suara. Diangkat dari naskah puisi "Tuding" karya Rahman Arge. Bergemalah suara dan adakah kalian tahu dari mana sumbernya suara-suara terdengar terlontar bahwa ada suara yang bau. Adakah kalian tahu dari mana datangnya ? ......... kepala mereka menggeleng-geleng saling tuding menuding terseret jauh dari kepastian suara-suara. Keangkuhan manusia mengalahkan suatu yang kita yakini ..........
  • Tari Meoly (1995), menggambarkan sikap kegotong-royongan masyarakat Toraja yang dengan teriakan Meoly secara bersahut-sahutan mereka dengan penuh semangat mengekspresikan lewat gerakan badan, menghentakkan kaki dan tangan, meliukkan badan dengan gerakan spontanitas dan kepala yang mewujudkan gerak yang mengandung nilai estetika.    
Karya Abdi Bashit: Tari Padendang, Tari Kananak (1988), Tari A .... I ..... U (1992), Tari Makkaddaro (1993), Tari Kalemu (1993), Tari Pamasari (1994)

  • Tari Padendang, menggambarkan ungkapan rasa syukur pasca-panen dalam wujud mappadendang alu yang dipermainkan oleh remaja putri menimbulkan irama yang membuat suasana riang tetapi syahdu diselingi gerak akrobatik remaja putra.
  • Tari Kananak (1988), menggambarkan kelakuan sang anak perempuan bermain dengan boneka kesayangannya bercanda, bernyanyi, menari dan pada akhirnya anak larut dalam bonekanya dan tanpa sadar mereka menjadi Kananak.               
  • Tari A .... I ..... U (1992), mengambarkan proses pembinaan/pendidikan mental, keterampilan bagi anak syah dari dunia oleh orang-orang tua, harus ditangani dengan ketelatenan, kebijaksanaan sehingga anak akan tumbuh dalam dirinya sendiri sehingga kelak akan mampu menghadapi tantangan hidup.
  • Tari Makkaddaro (1993), menggambarkan sebuah permainan anak negeri Sulawesi Selatan yang menggunakan tempurung dan disebut "Makkaddaro". Makkaddaro didominasi oleh anak laki-laki, namun anak perempuan tidak ingin ketinggalan dan larut dalam kegembiraan.
  • Tari Kalemu (1993), menggambarkan keberadaan sarung bagi masyarakat Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan sehari-hari, juga daerah pariwisata Tana Toraja pada khususnya, budaya memakai sarung lebih dominan. Fungsi sarung ini bukan hanya untuk bermain dan bergurau saja, tetapi diupayakan selalu bermanfaat. Dengan kata lain, tidak hanya menjadi teman santai seharian. Makkalemu (menyelimuti diri dengan sarung), bermalas-malasan menyia-nyiakan waktu secara percuma.
  • Tari Pamasari (1994), merupakan tari pergaulan masyarakat Bugis Makassar khususnya masyarakat yang berdiam di daerah pesisir pantai. Tari ini biasanya dipentaskan pada acara pesta rakyat. Pada mulanya tarian ini ditarikan oleh banci yang berpakaian wanita. Namun kini tarian ini digarap kembali dengan tidak melupakan pola aslinya dan disertai kejenakaan yang komunikatif.

Buku SINOPSIS TARI KREASI berisikan dua puluh empat tari kreasi baru sebagai hasil karya penata tari, selain sinopsis juga juga membahas tentang kesejarahan, jumlah penari, waktu penyajian, bentuk tari, kostum, perhiasan, properti dan iringan musik. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



SINOPSIS TARI KREASI 
Penerbit: Taman Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1996

No comments:

Post a Comment