Kapri (Pisum sativum) dan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) merupakan sayuran polong yang berasal dari keluarga yang sama yaitu Fabaceae. Memang masih banyak sayuran polong lainnya. Tetapi Kapri dan Kecipir mempunyai nilai gizi dan nilai ekonomi yang tinggi.
Ragam Telusur merupakan kumpulan Artikel Kepustakawanan, Resensi Buku Koleksi Lokal Sulawesi Selatan dan buku umum lainnya Sulawesi Selatan yang ditulis oleh Pustakawan DPK Provinsi Sulawesi Selatan
May 30, 2020
TEKNIK SUKSES BUDI DAYA KECIPIR DAN KAPRI
Kapri (Pisum sativum) dan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) merupakan sayuran polong yang berasal dari keluarga yang sama yaitu Fabaceae. Memang masih banyak sayuran polong lainnya. Tetapi Kapri dan Kecipir mempunyai nilai gizi dan nilai ekonomi yang tinggi.
HAMA TANAMAN SAYURAN DAN CARA PENGENDALIANNYA
May 29, 2020
Sejarah Wajo
Buku :
Sejarah Wajo
Penulis :
Abdurrazak Daeng Patunru
Penerbit :
Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar 1983
Jumlah
halaman : 86
ISBN : -
Wajo adalah salah
satu kerajaan Besar di Sulawesi Selatan dan dibagian timur Nusantara, bersama
kerajaan lain seperti Bone, Gowa, Luwu, Buton, Soppeng dan kerajaan lainnya.
Dari berbagai sumber informasi tertulis misalnya Lontara, penulis berhasil
mengumpulkan berbagai informasi penting untuk penulisan sejarah Wajo. Bukan
hanya itu, penulis juga sempat dua kali berkunjung ke Wajo untuk bertanya dan
mewawancarai para tokoh masyarakat, pemangku adat, para bangsawan Wajo untuk
penyelesaian buku ini. Abdurrazak Daeng Patunru, penulis buku ini juga pernah
menjadi Pamongpraja di Wajo selama 2 kali dengan periode waktu yang berbeda,
yaitu tahun 1929-1932 dan 1935-1938.
Buku ini
pertama kali diterbitkan tahun 1964, ketika bangsa Indonesia sedang giat
giatnya berusaha mendapatkan kembali kepribadian aslinya dan jati dirinya,
sebagaimana disebut dalam pengantar buku ini.
Buku ini
terdiri dari 5 bab, diawali dengan pengantar dari Penerbit, kata sambutan dari Prof.
Ph. O. L. Tobing yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra dan Filsafat,
Universitas Hasanuddin waktu itu, dan Kata Pengantar dari Penulis, Abdurrazak
Daeng Patunru.
Bab pertama adalah
Pengantar, membahas tentang beberapa ceritera ceritera. Ceritera atau kisah kisah yang dibahas mulai
dari kisah La Paukke, putra dari Datu Cina yaitu kerajaan yang sudah lama
berdiri sebelum Wajo ada, dan kerajaan itu sekarang bernama Pammana. Dikatakan
bahwa La Paukke inilah yang menjadi perintis berdirinya atau terbentuknya
kerajaan Wajo.
Ada juga
kisah putri Datu Luwu yang bernama We Tadampali yang menderita sakit kulit yang
kemudian diasingkan ke Wajo karena dikhawatirkan akan menularkan penyakitnya.
Sang putri bersama pengikutnya tinggal di daerah Akkotongeng, Wajo, dekat pohon
kayu yang dinama pohon Bajo. Ketika sang putri sembuh, dia bertemu dengan putra
raja Bone yang kebetulan berburu sampai di hutan tempat putri We Tadampali
tinggal, dan akhirnya menikah dan memiliki banyak keturunan. Ada kisah lainnya
yaitu putri Datu Luwu bernama We Tenriapungeng. Kisah lainnya tentang La Banra
dari Soppeng, dan banyak kisah lainnya yang semua tentang awal mula
terbentuknya kerajaan Wajo. Pada bagian pertama ini juga dibahas tentang
Struktur Pemerintahan di Wajo.
Bab kedua
dibahas tentang Permulaan Kerajaan Cinnotabi disertai perjanjian dengan
rakyatnya. Pada bagian ini juga ada kisah kisah awal terbentuknya kerajaan
Wajo. Ada kisah perjanjian antara La Rajallangi disatu pihak dengan Matowa
Pabbicara bersama rakyat dipihak lain. Selanjutnya dibahas tentang Runtuhnya
kerajaan Cinnotabi.
Bagian ketiga
adalah beberapa sub bagian lagi yaitu :
1.
Permulaan
Kerajaan Wajo; Perjanjian di Majauleng antara Batara Wajo I La Tenribali dengan
ketiga Padanreng dan Rakyat Wajo.
2.
Pemerintahan
Batara Wajo III La Pateddungi Tosammalangi.
3.
Peranan
Arung Saotanre La Tiringeng Totaba dan perjanjiannya dengan rakyat Wajo di
kampung Lapaddeppa.
4.
Pengangkatan
La Palewo Topalipung menjadi Arung Mataesso di Wajo dengan gelaran Arung
Matowa.
5.
Peranan
dan pengangkatan La Taddampare Puang Ri Maggalatung menjadi Arung Matowa Wajo.
6.
La
Mumpatue Ri Timurung diantara Bone, Wajo dan Soppeng
7.
Peperangan
antara Wajo bersama Gowa dengan Bone
Bab keempat
terdiri dari 4 sub bagian yaitu ;
1.
Bantuan
aktif dari Arung Matowa Wajo La Tenrilai Tosengngeng kepada Raja Gowa Sultan
Hasanuddin dalam peperangannya melawan Belanda dan kawan kawannya dalam tahun
1667.
2.
Arung
Matowa Wajo La Salewangeng Totenriruwa memperkuat persenjataan dan ekonomi Wajo
untuk menghadapi peperangan Belanda bersama kawan kawannya.
3.
Arung
Matowa Wajo La Maddukkelleng berperang melawan Beladan dan kawan kawannya.
4.
Masa
pemerintahan di Wajo kemudian dari Arung Matowa La Maddukkelleng, yaitu dari
tahun 1754 -1905
Bab kelima
atau yang terakhir ini terdiri dari 9 sub bagian yaitu ;
1.
Permulaan
penjajahan yang sungguh sungguh di Wajo oleh Belanda
2.
Pengangkatan
La Oddang Datu Larompong menjadi Arung Matowa Wajo dan permulaan modernisasi
kerajaan Wajo
3.
Pendudukan
Jepang di Wajo
4.
Belanda
kembali di Wajo
5.
Negara
Indonesia Timur Berdiri
6.
Permulaan
bubarnya RIS dan NIT, Republik Indonesia bentuk kesatuan menjadi kenyataan
7.
Wajo
menjadi bahagian dari daerah otonoom Bone
8.
Wajo
menjadi daerah otonoom tingkat II
9.
Pembentukan
kecamatan kecamatan baru di Wajo. Ada 10 kecamatan yang dibentuk yaitu
Sabamparu, Pammana, Tempe, Tanasitolo, Maniangpajo, Belawa, Majauleng, Takkalalla,
Sajoanging, dan Pitumpanua.
Pada bagian
akhir ada daftar nama nama para penguasa (Batara dan Arung Matowa) Wajo yang
pernah berkuasa, mulai dari Batara Wajo pertama La Tenribali, mantan Arung
Cinnotabi dan mantan Arung Penrang yang memerintah sekitar pertengahan abad ke-15, sampai Arung Matowa Wajo terakhir
Andi Mangkona Datu Mario Riwawo, kemenakan dari La Oddang Datu La Rompong, yang
dilantik 23 April 1933 dan berhenti dengan hormat dari jabatannya pada tanggal
21 November 1949. (1933 – 1949)
Ada beberapa
kekurangan buku ini, mungkin karena terbitan lama, diantaranya tidak ada daftar
isi, banyak sub bagian yang tidak berurutan nomornya, dan ada yang dobel
nomornya. Tata bahasanya juga ada beberapa yang perlu disesuaikan dengan tata
bahasa Indonesia sekarang ini.
Buku ini
sangat menarik dibaca dan penting bagi siapapun yang hendak mengkaji tentang
sejarah Wajo, atau sejarah Sulawesi Selatan pada umumnya.
BUDI DAYA CABAI PANEN SETIAP HARI
May 28, 2020
BUDI DAYA KEMANGI
Sejarah Gowa
Buku : Sejarah Gowa
Penulis : Abdul Razak Daeng Patunru
Penerbit : Yayasan Kebudayaan Sulawesi
Selatan, Makassar 1993
Jumlah Halaman : iv + 152 + 4
ISBN : -
Gowa adalah salah satu kerajaan terbesar
di Indonesia bagian timur pada masa lalu. Sejarahnya sangat panjang, dari masa
kejayaan dan keemasaannya sampai masa keruntuhan dan masa bergabungnya dengan
Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca kemerdekaan. Tahun ini, tepatnya pada
tanggal 17 November 2020, Gowa akan memperingati hari jadinya yang ke-700. Gowa
merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara.
Buku ini sebenarnya ditulis pada tahun
1967 oleh Abdurrazak Daeng Patunru, seorang pensiunan Residen Sulawesi pada
waktu itu. Sebelumnya beliau juga telah menulis “Sejarah Wajo” pada tahun 1965
(akan saya bahas pada review buku selanjutnya). Kemudian buku ini diterbitkan
tahun 1969, dan diterbitkan ulang pada tahun 1993. Pada waktu itu Yayasan
Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara dipimpin oleh Andi Pangerang Daeng
Rani yang juga mantan Gubernur Sulawesi. Beliau sangat mendukung penerbitan
buku buku sejarah daerah di Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan.
Buku ini terdiri dari 17 bab (bagian) dan diawali dengan Pendahuluan pada
bagian pertama. Pada bagian ini dijelaskan tentang 4 raja/ratu yang memimpin
Gowa pada awal berdirinya. Yang pertama disebutkan bahwa yang pertama memimpin
Gowa adalah seorang perempuan yang disebut “Tumanurung” atau orang yang turun
dari Kahyangan. Namun tidak diketahui dari masa asal muasal para raja dan ratu
Gowa tersebut. Gowa pada masa itu
terdiri dari 9 kerajaan kecil yaitu Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-Parang,
Data, Agang-Jeqne, Bisei, Kalling dan Sero. Pada bagian pertama ini juga
dibahas tentang awal mula penunjukan Tumanurung sebagai pemimpin kerajaan Gowa
yang pertama.
Kemudian bab bab selanjutnya membahas :
Bab ke-2 : Bagaimana Tallo menjadi sebuah kerajaan berotonomi di dalam
kerajaan Gowa
Bab ke-3 : Perkembangan Kerajaan Gowa setelah Tallo menjadi sebuah
kerajaan di dalam lingkungan kerajaan Gowa
Bab ke-4 : Permulaan masuknya bangsa bangsa Asing di Sulawesi Selatan
Bab ke-5 : Masa Pemerintahan Raja Gowa yang ke-15; Sultan Malikussaid
Bab ke-6 : Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Pada bagian ini dibahas
isi Perjanjian Bungayya (Cappaya Ri Bungayya) atau dalam bahasa Belanda di
sebut Het Bongaisch Verdrag, yang menjadi dasar pendudukan Belanda yang semakin
kokoh di Sulawesi Selatan dan Tenggara dan wilayah timur Nusantara pada
umumnya.
Bab ke-7 : Perkembangan Kerajaan Gowa kemudian dari Sultan Hasanuddin
Bab ke-8 : Batara Gowa II Amas
Madina. Amas Madina ini dibuang ke Sailan (Ceylon) atau Srilangka sekarang, dan
beliau berkali kali meminta kepada penguasa Belanda dan Inggris agar
dikembalikan ke tanah airnya Gowa, namun ditolak sampai beliau wafat disana
pada tahun 1795.
Bab ke-9 : Perang Batara Gowa I-Sangkilang. Tentang I-Sangkilang, ada satu
buku yang juga membahasnya dan saya telah review beberapa waktu lalu.
Bab ke-10 : Usaha usaha dari Kerajaan –kerajaan di Sulawesi melepaskan
diri dari kekuasaan Belanda
Bab ke-11 : Masa pemerintahan I-Kumala Sultan Abdul Kadir Muhammad
Bab ke-12 : Masa pemerintahan Sultan Muhammad Idris I-Mallingkaang Daeng
Nyonri Karaeng Katangka. Pada masa ini, Perjanjian Bungayya diperbarui. Isi
perjanjian itu semakin membatasi dan mempersempit daerah kekuasaan kerajaan
Gowa.
Bab ke-13 : Masa pemerintahan Sultan Husain I-Makkulau Karaeng Lembang Parang (1895-1906)
Bab ke-14 : Akhir kerajaan Gowa setelah perang berakhir tahun 1905-1906
Bab ke-15 : Susunan Pemerintahan di Gowa dahulu kala mulai dari zaman raja
Gowa yang pertama, “Tumanurung”.
Bab ke-16 : Kasta kasta di Gowa
Bab ke-17 : Watak orang Gowa.
Pada bagian akhir juga dilampirkan ;
1. Nama nama raja yang
pernah memerintah di Gowa
2. Literatur yang
dipergunakan didalam menyusun buku
Sejarah Gowa ini
3. Catatan
4. Peta peta
5. Silsilah Raja Raja
Gowa.
Buku ini wajib dibaca dan menjadi bahan
rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mengkaji atau meneliti tentang
kerajaan Gowa secara khusus dan kerajaan kerajaan lain di Sulawesi selatan pada
umumnya.
Buku koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Sulawesi Selatan.
BUDI DAYA LOBAK
BUDI DAYA JAMUR MERANG
May 27, 2020
LELE PELUANG BISNIS DAN KISAH SUKSES
May 23, 2020
MEMPRODUKSI SARANG WALET KUALITAS ATAS
MEMPRODUKSI SARANG WALET KUALITAS ATAS
CARA MUDAH MEMBUAT PESTISIDA ORGANIK UNTUK PENGENDALIAN HAMA
May 21, 2020
AYAM ELBA KAMPUNG PETELUR SUPER
Teruslah Belajar ! (Keep Learning!)
Sebuah kata
kata hikmah mengatakan “Tuntutlah Ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”.
Kata kata hikmah ini sering kali kita dengar sebagai penyemangat dan pemberi
motivasi agar kita tidak pernah berhenti untuk belajar. Bukan hanya ditujukan
kepada yang masih muda usia, tetapi juga kepada yang sudah dewasa dan bahkan
yang sudah usia lanjut. Belajar disini bukan hanya merujuk kepada proses
pendidikan di sekolah atau kampus, tapi juga pada pendidikan non-formal seperti
kursus, seminar, workshop, belajar online, belajar mandiri dan lain lain. Bahkan
saat anda menonton cara bikin kue pada chanel Youtube-nya Farah Quin, lalu anda
menjual hasil pembelajaran anda, ini sudah masuk kategori belajar.
Beberapa
waktu lalu, viral diacara Kick Andy dimana seorang perempuan bernama ibu Diana
Patricia Hasibuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada usia
69 tahun, kemudian lulus pasca sarjana (S2) usia 73 tahun dan terakhir lulus
Doktor (S3) pada usia 77 tahun. Fakta ini berhasil memecahkan rekor MURI
sebagai perempuan tertua di Indonesia yang berhasil menyelesaikan pendidikan
sarjana dan pasca sarjananya. Di Negara maju, jauh lebih banyak lagi manusia
usia lanjut yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Peran
perpustakaan juga dibutuhkan dalam proses pembelajaran usia lanjut ini. Salah
satu contohnya dengan tersedianya buku buku large print (buku cetakan besar) di
perpustakaan. Bukan hanya buku fiksi tapi juga non-fiksi yang dibutuhkan. Akses
ke perpustakaan juga harus ramah terhadap para manusia lanjut usia. Misalnya
harus ada lift, elevator atau escalator untuk menuju ke lantai yang lebih
tinggi di perpustakaan tersebut, karena para pemustaka lanjut usia ini
kemungkinan sudah tidak kuat lagi menggunakan tangga biasa.
Di
Perpustakaan Lionel Bowen, di Randwick City, New South Wales, tersedia program
kursus computer dan kursus bahasa Inggris bagi para warga senior (manusia
lanjut usia, manula). Program apa saja yang dipelajarinya di perpustakaan?
Perpustakaan tidak mengajarkan sistem operasi, operator program word, excel,
powerpoint, access dan lain lainnya.
Program yang
diajarkan kepada para manula ini hanya program program yang bisa membantu para
manula tersebut menikmati masa masa pensiun dan masa tuanya. Misalnya diajarkan
bagaimana menulis dan mengirim email, bagaimana cara melampirkan foto pada
email, bagaimana mengembangkan hobi mereka dengan melihat video video hobbi di
youtube dan lain lainnya. Kebanyakan para manula ini, sudah tinggal sendiri
atau berdua dengan pasangan, karena anak anak sudah besar dan tinggal di rumah
mereka sendiri. Anak anak mereka seringkali kesulitan jika ingin mengirim email
atau foto foto atau dokumen digital kepada orangtua mereka.
Adapun
pelajaran bahasa Inggris, juga diajarkan di perpustakaan ini. Di kota Sydney,
banyak imigran dari berbagai Negara yang tidak menguasai atau malah tidak bisa
sama sekali berbahas Inggris ketika tiba di Australia. Misalnya karena anak
anak mereka sudah lama menetap di Australia. Disinilah peran perpustakaan,
memberikan kursus bahasa Inggris gratis kepada para orang tua atau orang dewasa
yang belum menguasai bahasa Inggris.
Perpustakaan
juga banyak menyediakan bahan pustaka berbahasa asing lain selain bahasa
Inggris. Bukan hanya bahan bacaan, tetapi juga CD music dari berbagai Negara ada di perpustakaan ini.
Saya sempat melihat salah satu koleksinya adalah CD music Sabilulungan dari Sunda.
Majalah dan fiksi berbahasa asing juga disediakan di perpustakaan ini.
Pelajaran
bahasa asing seperti bahasa Arab, Spanyol, Yunani, Mandarin, Vietnam, Thailand
dan lain lain, semua disertai dengan CD-nya supaya dalam belajar bahasa secara
mandiri di rumah bisa lebih akurat lagi, juga banyak tersedia disini. Karena
sangat multi etnik dan multi bahasa, banyak penduduk yang antusias belajar
bahasa asing lain secara mandiri dirumah.
Di Indonesia
mungkin situasinya agak berbeda, namun
peran perpustakaan tetap penting dalam rangka pembelajaran sepanjang
hayat seperti yang disebutkan dalam Undang Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang
Perpustakaan pada Bab I, Pasal 1, poin 6 yang menyebutkan bahwa “Perpustakaan
Umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana
pembelajaran sepanjang hayat tanpa
membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi”.
Kata Henry Ford, “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or
eighty” (Siapapun yang berhenti belajar, akan menjadi tua, apakah dia berusia
duapuluh atau delapanpuluh tahun). So keep learning guys…..!


















