May 30, 2020

TEKNIK SUKSES BUDI DAYA KECIPIR DAN KAPRI



Kapri (Pisum sativum) dan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) merupakan sayuran polong yang berasal dari keluarga yang sama yaitu Fabaceae. Memang masih banyak sayuran polong lainnya. Tetapi Kapri dan Kecipir mempunyai nilai gizi dan nilai ekonomi yang tinggi.

Buku TEKNIK SUKSES BUDI DAYA KECIPIR DAN KAPRI, memberikan informasi mengenai sayuran keluarga fabaceae yang menyehatkan, kandungan nutrisi dan manfaat kecipir dan kapri, sifat botani kecipir dan kapri, syarat tumbuh dan teknik budi daya, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen, olahan kecipir dan kapri, serta prosepek agribisnis kecipir dan kapri.

Kapri mempunyai nilai komersial paling tinggi dibanding kecipir. Sayuran kapri juga dianggap sangat prestisius, hingga hanya digunakan untuk acara-acara istimewa. Dalam event penting, polong kapri akan disayur dengan udang, potongan hati sapi, tahu yang dipotong kecil-kecil, dan lain-lain.

Kapri termasuk dalam golongan sayur buah yang mengandung vitamani A, vitamin B1, dan vitamin C. Di pasaran ada dua jenis kapri yaitu snow pea (berbiji pipih) dan snap pea atau sugar snap pea (berbiji bulat) yang disebut kapri gendut/kapri manis.

Lain kapri lain pula kecipir. Kecipir mempunyai nilai gizi protein yang tinggi. Namun demikian kecipir masih belum dikelola secara baik untuk meningkatkan nilai komersialnya. Sebab itu kecipir pada umumnya baru ditanam sebagai tanaman pekarangan dan pemanfaatannya sebatas pada konsumsi rumah tangga. Padahal bila melirik negara lain yang sudah membudidayakan kecipir secara intensif dapat memberikan hasil yang luar biasa. Misalnya Myammar dan Nigeria, kecipir dapat memberikan potensi hasil 35,50 – 40 ton polong muda/ha atau setara dengan 4,50 ton biji kering/ha.

Nilai ekonomi kapri dan kecipir dapat ditingkatkan dan memberikan kesejahteraan pada petani bila pengelolaan budi daya kedua komoditi sayuran polong tersebut dilakukan dengan baik.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, untuk memberikan informasi yang dibutuhkan yang menjadi panduan dalam melakukan budi daya kapri dan kecipir secara berhasil.


TEKNIK SUKSES BUDI DAYA KECIPIR DAN KAPRI
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visa Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit: 2016         
ISBN: 978-602-317-262-7

HAMA TANAMAN SAYURAN DAN CARA PENGENDALIANNYA



Sayur-sayuran secara ekonomi dapat memberikan keuntungan. Sebab itu sayur-sayuran diusahakan secara komersial. Hasil panen ditujukan untuk dijual ke pasar. Luas usaha tani juga diakukan pada sebidang tanah yang cukup luas dengan jumlah tanaman yang lebih banyak dibandingkan di pekarangan. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara intensif dengan memperhitungkan biaya produksi dan perkiraan pendapatan usaha tani. 

Budi daya tanaman sayur yang dilakukan dalam berbagai skala, banyak menghadapi kendala. Salah satu kendala utama yang dapat menyebabkan menurunnya tingkat produksi sayuran para petani adalah serangan hama.

Buku HAMA TANAMAN SAYURAN DAN CARA PENGENDALIANNYA menyajikan informasi yang jelas dan lengkap mengenai hama-hama utama tanaman sayuran seperti hama pada tanaman sawi-sawian (Brassica), terung-terungan (solanaceae), bawang-bawangan (liliiacea), dan tanaman sayuran polong-polongan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa. pembaca dapat memperoleh nformasi lebih luas mengenai aspek pengendaliannya.



HAMA TANAMAN SAYURAN DAN CARA PENGENDALIANNYA
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visa Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit: 2016         
ISBN: 978-602-317-291-7

May 29, 2020

Sejarah Wajo


Buku : Sejarah Wajo

Penulis : Abdurrazak Daeng Patunru

Penerbit : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar 1983

Jumlah halaman : 86

ISBN : -

Wajo adalah salah satu kerajaan Besar di Sulawesi Selatan dan dibagian timur Nusantara, bersama kerajaan lain seperti Bone, Gowa, Luwu, Buton, Soppeng dan kerajaan lainnya. Dari berbagai sumber informasi tertulis misalnya Lontara, penulis berhasil mengumpulkan berbagai informasi penting untuk penulisan sejarah Wajo. Bukan hanya itu, penulis juga sempat dua kali berkunjung ke Wajo untuk bertanya dan mewawancarai para tokoh masyarakat, pemangku adat, para bangsawan Wajo untuk penyelesaian buku ini. Abdurrazak Daeng Patunru, penulis buku ini juga pernah menjadi Pamongpraja di Wajo selama 2 kali dengan periode waktu yang berbeda, yaitu tahun 1929-1932 dan 1935-1938.

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1964, ketika bangsa Indonesia sedang giat giatnya berusaha mendapatkan kembali kepribadian aslinya dan jati dirinya, sebagaimana disebut dalam pengantar buku ini.

Buku ini terdiri dari 5 bab, diawali dengan pengantar dari Penerbit, kata sambutan dari Prof. Ph. O. L. Tobing yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Hasanuddin waktu itu, dan Kata Pengantar dari Penulis, Abdurrazak Daeng Patunru.

Bab pertama adalah Pengantar, membahas tentang beberapa ceritera ceritera.  Ceritera atau kisah kisah yang dibahas mulai dari kisah La Paukke, putra dari Datu Cina yaitu kerajaan yang sudah lama berdiri sebelum Wajo ada, dan kerajaan itu sekarang bernama Pammana. Dikatakan bahwa La Paukke inilah yang menjadi perintis berdirinya atau terbentuknya kerajaan Wajo.

Ada juga kisah putri Datu Luwu yang bernama We Tadampali yang menderita sakit kulit yang kemudian diasingkan ke Wajo karena dikhawatirkan akan menularkan penyakitnya. Sang putri bersama pengikutnya tinggal di daerah Akkotongeng, Wajo, dekat pohon kayu yang dinama pohon Bajo. Ketika sang putri sembuh, dia bertemu dengan putra raja Bone yang kebetulan berburu sampai di hutan tempat putri We Tadampali tinggal, dan akhirnya menikah dan memiliki banyak keturunan. Ada kisah lainnya yaitu putri Datu Luwu bernama We Tenriapungeng. Kisah lainnya tentang La Banra dari Soppeng, dan banyak kisah lainnya yang semua tentang awal mula terbentuknya kerajaan Wajo. Pada bagian pertama ini juga dibahas tentang Struktur Pemerintahan di Wajo.

Bab kedua dibahas tentang Permulaan Kerajaan Cinnotabi disertai perjanjian dengan rakyatnya. Pada bagian ini juga ada kisah kisah awal terbentuknya kerajaan Wajo. Ada kisah perjanjian antara La Rajallangi disatu pihak dengan Matowa Pabbicara bersama rakyat dipihak lain. Selanjutnya dibahas tentang Runtuhnya kerajaan Cinnotabi.

Bagian ketiga adalah beberapa sub bagian lagi yaitu :

1.      Permulaan Kerajaan Wajo; Perjanjian di Majauleng antara Batara Wajo I La Tenribali dengan ketiga Padanreng dan Rakyat Wajo.

2.      Pemerintahan Batara Wajo III La Pateddungi Tosammalangi.

3.      Peranan Arung Saotanre La Tiringeng Totaba dan perjanjiannya dengan rakyat Wajo di kampung Lapaddeppa.

4.      Pengangkatan La Palewo Topalipung menjadi Arung Mataesso di Wajo dengan gelaran Arung Matowa.

5.      Peranan dan pengangkatan La Taddampare Puang Ri Maggalatung menjadi Arung Matowa Wajo.

6.      La Mumpatue Ri Timurung diantara Bone, Wajo dan Soppeng

7.      Peperangan antara Wajo bersama Gowa dengan Bone

Bab keempat terdiri dari 4 sub bagian yaitu ;

1.      Bantuan aktif dari Arung Matowa Wajo La Tenrilai Tosengngeng kepada Raja Gowa Sultan Hasanuddin dalam peperangannya melawan Belanda dan kawan kawannya dalam tahun 1667.

2.      Arung Matowa Wajo La Salewangeng Totenriruwa memperkuat persenjataan dan ekonomi Wajo untuk menghadapi peperangan Belanda bersama kawan kawannya.

3.      Arung Matowa Wajo La Maddukkelleng berperang melawan Beladan dan kawan kawannya.

4.      Masa pemerintahan di Wajo kemudian dari Arung Matowa La Maddukkelleng, yaitu dari tahun 1754 -1905

Bab kelima atau yang terakhir ini terdiri dari 9 sub bagian yaitu ;

1.      Permulaan penjajahan yang sungguh sungguh di Wajo oleh Belanda

2.      Pengangkatan La Oddang Datu Larompong menjadi Arung Matowa Wajo dan permulaan modernisasi kerajaan Wajo

3.      Pendudukan Jepang di Wajo

4.      Belanda kembali di Wajo

5.      Negara Indonesia Timur Berdiri

6.      Permulaan bubarnya RIS dan NIT, Republik Indonesia bentuk kesatuan menjadi kenyataan

7.      Wajo menjadi bahagian dari daerah otonoom Bone

8.      Wajo menjadi daerah otonoom tingkat II

9.      Pembentukan kecamatan kecamatan baru di Wajo. Ada 10 kecamatan yang dibentuk yaitu Sabamparu, Pammana, Tempe, Tanasitolo, Maniangpajo, Belawa, Majauleng, Takkalalla, Sajoanging, dan Pitumpanua.

Pada bagian akhir ada daftar nama nama para penguasa (Batara dan Arung Matowa) Wajo yang pernah berkuasa, mulai dari Batara Wajo pertama La Tenribali, mantan Arung Cinnotabi dan mantan Arung Penrang yang memerintah sekitar pertengahan  abad ke-15, sampai Arung Matowa Wajo terakhir Andi Mangkona Datu Mario Riwawo, kemenakan dari La Oddang Datu La Rompong, yang dilantik 23 April 1933 dan berhenti dengan hormat dari jabatannya pada tanggal 21 November 1949. (1933 – 1949)

Ada beberapa kekurangan buku ini, mungkin karena terbitan lama, diantaranya tidak ada daftar isi, banyak sub bagian yang tidak berurutan nomornya, dan ada yang dobel nomornya. Tata bahasanya juga ada beberapa yang perlu disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia sekarang ini.

Buku ini sangat menarik dibaca dan penting bagi siapapun yang hendak mengkaji tentang sejarah Wajo, atau sejarah Sulawesi Selatan pada umumnya.


BUDI DAYA CABAI PANEN SETIAP HARI


Tanaman cabai merupakan tanaman perdu yang sudah berabad-abad ditanam di Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak ragam bentuk mulai dari bulat, lonjong, hingga panjang. Keragamannya juga terdapat pada warna buah cabai. Ada yang berwarna merah, ungu, hijau, kuning, dan putih.

Tanaman cabai termasuk family Solanaceae, genus Capsicum. Capsicum annuum L. merupakan salah satu spesies dari 20 – 30 spesies dalam genus tersebut. Spesies yang paling luas dibudidayakan dan penting secara ekonomis. Pusat asal (penyebaran primer) spesies ini di Meksiko, kemudian menyebar ke daerah Amerika Selatan dan Tengah dan ke Eropa. Kini spesies tersebut telah tersebar luas di daerah tropis dan subtropis.

Buah capai tidak tahan lama dan selalu dikonsumsi segar membuatnya harus tersedia setiap saat. Itulah sebabnya setiap saat permintaan da kebutuhan canai selalu tinggi, baik skala rumah tangga mapun industri. 

Untuk mengatasi permintaan dan kebutuhan cabai yang semakin meningkat, perlu usaha agar dapat memproduksi cabai dalam skala besar maupun rumah tangga. Agar cabai dapat tersedia setiap saat, panen cabai harus rutin setiap hari. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengaturan sistem tanam.

Pengaturan sistem tanam sebaiknya didukung oleh pengetahuan tentang budi daya cabai di musim hujan maupun musim kemarau sehingga dapat menjamin ketersediaan buah cabai yang berkualitas tinggi setiap hari. Dengan demikian, panen capai tiap hari dapat mengatasi fluktuasi harga cabai yang tinggi dan menguntungkan setiap pihak.

Buku  BUDI DAYA CABAI PANEN SETIAP HARI, menyajikan informasi yang mudah dipahami, mulai dari persiapan bibit, persiapan lahan dan penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga panen dan pascapanen serta trik jitu tembus produktivitas cabai 15 ton per hektar. Buku ini juga dilengkapi dengan pemeliharaan varietas cabai unggul, memproduksi benih sendiri, agar panen setiap hari, serta analisis usaha.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, sebagai pengantar untuk menjadi pengusaha cabai yang sukses.


BUDI DAYA CABAI PANEN SETIAP HARI
iv + 148 hlm; ilus; 23 cm
Penulis: Muhammad Syukur, Rahmi Yunianti, Rahmansyah Darmawan
Penerbit: Penebar Swadaya
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit:2016          
ISBN: 979-002-705-2


May 28, 2020

BUDI DAYA KEMANGI


Kemangi, tanaman yang memiliki nama latin Ocimum sanctum L. ini biasanya disajikan sebagai lalapan atau bumbu penyedap masakan. Daun yang beraroma khas ini dipercaya berkhasiat menangkal radikal bebas, juga menghilangkan bau badan dan mulut. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kemangi mengandung antioksidan alami berkhasiat menjaga kesehatan badan.

Selain daunnya menjadi lalapan, biji kemangi pun bisa sebagai bahan baku makanan. Bahkan, bisa pula dijadikan minyak untuk kosmetik. Daun kemangi dapat digunakan untuk mengobati deman, batuk, selesma, encok, urat syaraf, air susu kurang lancar, sariawan, panu, radang telinga, muntah-muntah dan mual, peluruh kentut, peluruh haid, pembersih darah setelah bersalin, borok, dan untuk memperbaiki fungsi lambung. Oleh karena itu, permintaan kemangi cukup tinggi. Jika serius di garap, budidaya kemangi bisa menghasilkan omzet puluhan juta.

Buku BUDI DAYA KEMANGI, menyajikan informasi mengenai budi daya kemangi mulai dari syarat tumbuh; menanam kemangi dalam ruangan; peluang usaha dan analisis usaha tani; serta kandungan gizi dan manfaat kemangi.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, untuk memperoleh informasi mengenai analisis usaha tani kemangi, manfaat serta teknik budi daya kemangi secara benar.


BUDI DAYA KEMANGI
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visi Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-317-145-3

Sejarah Gowa


Buku : Sejarah Gowa

Penulis : Abdul Razak Daeng Patunru

Penerbit : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar 1993

Jumlah Halaman : iv + 152 + 4

ISBN : -

Gowa adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia bagian timur pada masa lalu. Sejarahnya sangat panjang, dari masa kejayaan dan keemasaannya sampai masa keruntuhan dan masa bergabungnya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca kemerdekaan. Tahun ini, tepatnya pada tanggal 17 November 2020, Gowa akan memperingati hari jadinya yang ke-700. Gowa merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara.

Buku ini sebenarnya ditulis pada tahun 1967 oleh Abdurrazak Daeng Patunru, seorang pensiunan Residen Sulawesi pada waktu itu. Sebelumnya beliau juga telah menulis “Sejarah Wajo” pada tahun 1965 (akan saya bahas pada review buku selanjutnya). Kemudian buku ini diterbitkan tahun 1969, dan diterbitkan ulang pada tahun 1993. Pada waktu itu Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara dipimpin oleh Andi Pangerang Daeng Rani yang juga mantan Gubernur Sulawesi. Beliau sangat mendukung penerbitan buku buku sejarah daerah di Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan.

Buku ini terdiri dari 17 bab (bagian) dan diawali dengan Pendahuluan pada bagian pertama. Pada bagian ini dijelaskan tentang 4 raja/ratu yang memimpin Gowa pada awal berdirinya. Yang pertama disebutkan bahwa yang pertama memimpin Gowa adalah seorang perempuan yang disebut “Tumanurung” atau orang yang turun dari Kahyangan. Namun tidak diketahui dari masa asal muasal para raja dan ratu Gowa tersebut.  Gowa pada masa itu terdiri dari 9 kerajaan kecil yaitu Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-Parang, Data, Agang-Jeqne, Bisei, Kalling dan Sero. Pada bagian pertama ini juga dibahas tentang awal mula penunjukan Tumanurung sebagai pemimpin kerajaan Gowa yang pertama.

Kemudian bab bab selanjutnya membahas :

Bab ke-2 : Bagaimana Tallo menjadi sebuah kerajaan berotonomi di dalam kerajaan Gowa

Bab ke-3 : Perkembangan Kerajaan Gowa setelah Tallo menjadi sebuah kerajaan di dalam lingkungan kerajaan Gowa

Bab ke-4 : Permulaan masuknya bangsa bangsa Asing di Sulawesi Selatan

Bab ke-5 : Masa Pemerintahan Raja Gowa yang ke-15; Sultan Malikussaid

Bab ke-6 : Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Pada bagian ini dibahas isi Perjanjian Bungayya (Cappaya Ri Bungayya) atau dalam bahasa Belanda di sebut Het Bongaisch Verdrag, yang menjadi dasar pendudukan Belanda yang semakin kokoh di Sulawesi Selatan dan Tenggara dan wilayah timur Nusantara pada umumnya.

Bab ke-7 : Perkembangan Kerajaan Gowa kemudian dari Sultan Hasanuddin

Bab ke-8 : Batara Gowa II  Amas Madina. Amas Madina ini dibuang ke Sailan (Ceylon) atau Srilangka sekarang, dan beliau berkali kali meminta kepada penguasa Belanda dan Inggris agar dikembalikan ke tanah airnya Gowa, namun ditolak sampai beliau wafat disana pada tahun 1795.

Bab ke-9 : Perang Batara Gowa I-Sangkilang. Tentang I-Sangkilang, ada satu buku yang juga membahasnya dan saya telah review beberapa waktu lalu.

Bab ke-10 : Usaha usaha dari Kerajaan –kerajaan di Sulawesi melepaskan diri dari kekuasaan Belanda

Bab ke-11 : Masa pemerintahan I-Kumala Sultan Abdul Kadir Muhammad

Bab ke-12 : Masa pemerintahan Sultan Muhammad Idris I-Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka. Pada masa ini, Perjanjian Bungayya diperbarui. Isi perjanjian itu semakin membatasi dan mempersempit daerah kekuasaan kerajaan Gowa.

Bab ke-13 : Masa pemerintahan Sultan Husain  I-Makkulau Karaeng Lembang Parang (1895-1906)

Bab ke-14 : Akhir kerajaan Gowa setelah perang berakhir tahun 1905-1906

Bab ke-15 : Susunan Pemerintahan di Gowa dahulu kala mulai dari zaman raja Gowa yang pertama, “Tumanurung”.

Bab ke-16 : Kasta kasta di Gowa

Bab ke-17 : Watak orang Gowa.

Pada bagian akhir juga dilampirkan ;

1.      Nama nama raja yang pernah memerintah di Gowa

2.      Literatur yang dipergunakan didalam menyusun buku  Sejarah Gowa ini

3.      Catatan

4.      Peta peta

5.      Silsilah Raja Raja Gowa.

  Buku ini wajib dibaca dan menjadi bahan rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mengkaji atau meneliti tentang kerajaan Gowa secara khusus dan kerajaan kerajaan lain di Sulawesi selatan pada umumnya.

Buku koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 


BUDI DAYA LOBAK


Lobak dalam beberapa kepercayaan disebut-sebut sebagai makanan pembawa keberuntungan. Saat perayaan Tahun Baru Cina sajian lobak menjadi wujud harapan baru untuk beruntung di tahun selanjutnya yang akan dijalani. Sebutan itu sangatlah layak karena lobak termasuk sayuran yang bernutrisi tinggi meskipun warnanya yang kurang menyegarkan.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, lobak kurang dikenal sebagai masakan. Padahal diluar negeri, justru sayuran yang satu ini menjadi primadona. Inilah peluang yang hendaknya disambut sebagai pembudidayaan lobak. Pembudidayaan lobak yang menyasar pasar internasional sangatlah terbuka. Dengan hal tersebut, tentunya membawa keuntungan yang besar. Ditambah lagi produksi lobak yang dirasa kurang untuk memenuhi pasar.

Dalam pembudidayaan, tanaman ini cukup mudah. Lobak dapat tumbuh di daerah yang beriklim dingin, dengan kelembaban berkisar 70 – 90%, sinar matahari yang cukup serta curah hujan yang tidak terlalu tinggi. Media tanam yang dibutuhkan cukup mudah ditemukan di sekitar kita seperti sekam padi.

Buku BUDI DAYA LOBAK, menjelaskan tentang teknik dan keuntungan yang akan didapatkan dari usaha pembudidayaan lobak sehingga dapat meminimalisir kerugian pada saat melakukan usaha tani.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, untuk  membantu para pemula dalam membudidayakan lobak.


BUDI DAYA LOBAK
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visi Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-317-121-7

BUDI DAYA JAMUR MERANG



Jamur merang (Volvariella volvaceae) merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai masa depan cerah untuk dikembangkan. Hingga kini sudah semakin banyak orang yang mengetahui nilai gizi jamur merang dan manfaat bagi kesehatan manusia. Di lain pihak, produksi jamur merang di Indonesia masih sangat terbatas sehingga nilai ekonomi jamur merang semakin meningkat.

Usaha budi daya jamur merang sangat cocok diusahakan, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Namun demikian, mengusahaan jamur merang bukan tanpa kendala, dibutuhkan lokasi yang sesuai, teknik budi daya yang benar, serta bibit yang berkualitas. 

Buku BUDI DAYA JAMUR MERANG, memaparkan teknik budi daya jamur merang, cara menghasilkan bibit jamur berkualitas serta kiat-kiat untuk meningkatkan keberhasilan dalam melakukan budi daya jamur merang.

Buku Budi Daya Jmaur Merang merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Buku ini membantu mengembangkan budi daya jamur di Indonesia. Penulis juga melihat pengalaman Dr. T.H. Quimio dalam memajukan jamur merang di Filipina (bahkan pada taraf Internasional). 


BUDI DAYA JAMUR MERANG
Iv + 100 hlm; ilus; 23 cm
Penulis: Meity Suradji Sinaga
Penerbit: Swadaya
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-979-002-492-2

May 27, 2020

LELE PELUANG BISNIS DAN KISAH SUKSES



Lele menjadi salah satu komoditas perikanan air tawar unggulan karena permintaan pasarnya yang selalu tinggi. Tidak heran jika pasokannya terus menimgkat setiap harinya. Alasannya, tentu saja karena kandungan gizinya tinggi serta harganya yang relative murah sehingga bisa dinikmati hampir oleh semua kalangan .

Pasokang lele yang tinggi tersebut belum mampu dipenuhi oleh para peternak. Tentu saja ini menjadi kendala tersendiri di bidang budi daya yang harus dipecahkan. Seiring dengan berkembangnya teknologi, saat ini lele sudah dapat dipijahkan dengan berbagai metode sehingga memudahkan peternak untuk membudidayakannya. Di sisi lain, tidak hanya budi dayanya saja yang banyak diminati, agribisnisnya pun serupa. Olahan dan kuliner yang terbuat dari lele semakin marak dan mudah ditemukan. Kreativitas dibutuhkan untuk menciptakan produk baru yang laku di pasaran.

Bisnis budi daya lele bisa menghasilkan keuntungan sekitar 20% per masa panen jika syarat budi dayanya dapat dipenuhi.permintaan benih lele di dalam negeri terus mengalir setiap harinya. Tidak heran usaha pembenihan masih memiliki prospek yang besar di pasaran. Oleh karena itu dibutuhkan pengetahuan yang cukup untuk menjalankannya, jika perlu belajar langsung dari ahlinya.

Buku LELE PELUANG BISNIS DAN KISAH SUKSES membahas segala hal tentang lele, dimulai dari sejarah penyebaran lele di dunia hingga tanah air, jenis leleh unggu, pembenihan dan pembesaran lele, prospek bisnis, potret lele mancanegara hingga aneka olahannya, juga dilengkapi dengan fakta unik seputar lele, opini para pakar, dan kisah sukses para peterna lele.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, sebagai harapan bisa menginspirasi untuk bergelut di dunia bisnis lele.


LELE PELUANG BISNIS DAN KISAH SUKSES
Iv + 200 hlm; ilus; 22 cm
Penyusun: Tim Penulis AgriFlo
Penerbit: AgriFlo
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-979-002-569-1

May 23, 2020

MEMPRODUKSI SARANG WALET KUALITAS ATAS



Harga yang lumayan tinggi menyebabkan banyak orang mengusahakan sarang wallet. Namun, tanpa pengetahuan yang baik mengenai burung wallet maupun teknik budi dayanya, sarang yang dihasilkan dapat berkualitas rendah. Karena sebahagian besar peternak masih melakukan pola penanganan yang tradisional.

Padahal, dalam budi daya burung walet tujuan akhirnya bukan sekedar terdapat sarang walet di rumah atau gedung. Namun, lebih dari itu, bagaimana rumah atau gedung tersebut produktif dengan hasil sarang yang berkuaitas. Pada sisi lain, kelestarian populasi walat tetap terjamin dan terjaga kelangsungannya.

Buku MEMPRODUKSI SARANG WALET KUALITAS ATAS, berisi pengetahuan dan keterampilan mengenai kualitas sarang dan bentuk sarang yang sempurna sangat menentukan nilai jual sarang, serta cara memperbaiki sarang yang keropos, tidak utuh, bahkan hancur hingga bentuknya sempurna.

Buku Memproduksi Sarang Walet Kualitas Atas ini, mudah-mudahan dapat menjadi salah satu referensi di dunia perwaletan yang terus berkembang yang kesemuanya memberikan bukti-bukti pada hasil yang lebih baik dalam budi daya walet.  Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa.



MEMPRODUKSI SARANG WALET KUALITAS ATAS
Viii + 80 hlm; 20,5 cm
Penyusun: Arief Budiman
Penerbit: PT. Penebar Swadaya
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2011

CARA MUDAH MEMBUAT PESTISIDA ORGANIK UNTUK PENGENDALIAN HAMA



Petani telah terbiasa menggunakan pestisida kimia buatan pabrik untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Petani mengalami kerugiansekitar 20% dari hasil panennya akibat serangan hama dan penyakit. Sebab itu, potensi produksi tanaman tak dapat diperoleh karena adalah faktor pembatasan produksi yaitu hama dan penyakit tanaman.

Dalam pengalaman, pengendalian hama dan penyakit tanaman menggunakan pestisida kimia dalam jangka waktu pendek dapat mengatasi hama dan penyakit. Tetapi dalam jangka panjang akan merugikan petani. Karena berbagai persoalan hama akan muncul seperti resurjensi, resistensi hama terhadap pestisida, dan terjadinya ledakan hama sekunder.

Selain itu penggunaan pestisida kimia juga membawa serta dampak lain pada kesehatan manusia dan ternak, pencemaran lingkungan, dan adanya residu pestisida dalam jaringan tanaman yang menjadi bahan pangan. Hal-hal yang disebutkan ini merupakan dampak negatif dan penggunaan pestisida kimia.

Buku CARA MUDAH MEMBUAT PESTISIDA ORGANIK UNTUK PENGENDALIAN HAMA, mengajak masyarakat terutama petani mulai berpaling pada alam mencari tanaman-tanaman yang memiliki kandungan zat yang bersifat racun pada serangga hama dan penyakit tetapi aman bagi manusia, ternak, tidak mencemari lingkungan. Inilah yang sekarang disebut sebagai pestisida organik karena berasal dari bahan organik yaitu tanaman untuk diracik menjadi racun pembunuh hama atau penolak (repelen) atau panarik hama (attactan).

Buku CARA MUDAH MEMBUAT PESTISIDA ORGANIK UNTUK PENGENDALIAN HAMA memperkenalkan tanaman yang bisa diolah menjadi pestisida organik untuk mengendalikan hama pada tanaman pangan seperti pestisida organic ekstrak jahe, kunyit, papaya, bengkuang, brotowali, bunga piretrum, cabe merah, bawang putih dan cengkeh. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

CARA MUDAH MEMBUAT PESTISIDA ORGANIK UNTUK PENGENDALIAN HAMA
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visa Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-317-216-0


May 21, 2020

AYAM ELBA KAMPUNG PETELUR SUPER



Ketika ayam arab petelur populer di era 1995-2000-an, ayam kampung petelur lokal  dikesampingkan karena alasan kurang produktif. Setelah itu, budi daya ayam arab pun menjadi semakin intensif. Namun, setelah tahun 2000 produktivitas ayam arab petelur menjadi menurung, karena inbreeding. Produktivitas yang semula 70-80% sekarang 40-50%. Gaktor inbreeding tersebut menyebabkan penurunan faktor genetik sehingga produktivitasnya menurun.

Menurunnya produktivitas ayam arab petelur menyebabkan banyak peternakan yang gulung tikar, terutama di daerah Temanggung. Namun semua itu berbalik arah ketika di akhir tahun 2000 muncul ayam kampung petelur baru yang disebut ayam elba. Disebut ayam kampung karena karakteristiknya yang menyerupai ayam kampung pada umumnya.

Produktivitasnya sangat tinggi, yaitu 25-28 butir per bulan. Jadi, dalam setahun mampu menghasilkan sekitar 300 butir. Selain itu, ayam ini tidak memiliki sifat mengeram sehingga cepat berproduksi. Tentu saja hal itu juga harus diimbangi dengan faktor pemeliharaan yang intensif.

Sebagai petelur elba lebih unggul disbanding dengan ayam arab karena produksi telurnya lebih banyak dan lebih besar. Sosok dan tipe ayam elba pun semakin menarik. Potensinya sebagai petelur sangat andal. Keandalannya itulah membuat ayam mulai banyak diburaskan oleh peternak kecil yang rata-rata memiliki 100-300 ekor/keluarga.

Dalam bidang produksi, mata rantai usaha peternakan ayam elba dapat dipecah menjadi beberapa sub-usaha. Misalnya peternakan yang khusus menghasilkan telur konsumsi atau telur tetas, peternakan yang menghasilkan induk (ayam dara). Pebagian usaha ini penting karena peternak belum tentu mampu melakukan seluruh usaha itu secara terpadu. Manfaatnya jelas yaitu efesiensi kerja akan meningkat. Budi daya ayam elba pun akan sangat tepat jika dibandingkan melalui program (intensifikasi Ayam Buras).

Buku AYAM ELBA KAMPUNGP PETELUR SUPER berisi tentang seluk beluk dan teknik budi daya ayam elba. Diterapkan pula kiat sukses pemeliharaan dari DOC sampai menjadi ayam siap produksi (pullet). Selain itu, buku ini dilengkapi pula dengan teknik pengelolaan produksi, penetasan telur, manajemen pakan, sampai analisis usaha.

Buku Ayam Elba Kampung Petelur Super merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, diharapkan sebagai bentuk kepeduliaan terhadap bidang peternakan, khusunya ayam.

AYAM ELBA KAMPUNG PETELUR SUPER
Penulis: Syahrul Kholis, B. Sarwono
Iv+132 hlm, illus, 23 cm
Penerbit: Swadaya
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-979-002-587-5

Teruslah Belajar ! (Keep Learning!)


Sebuah kata kata hikmah mengatakan “Tuntutlah Ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”. Kata kata hikmah ini sering kali kita dengar sebagai penyemangat dan pemberi motivasi agar kita tidak pernah berhenti untuk belajar. Bukan hanya ditujukan kepada yang masih muda usia, tetapi juga kepada yang sudah dewasa dan bahkan yang sudah usia lanjut. Belajar disini bukan hanya merujuk kepada proses pendidikan di sekolah atau kampus, tapi juga pada pendidikan non-formal seperti kursus, seminar, workshop, belajar online, belajar mandiri dan lain lain. Bahkan saat anda menonton cara bikin kue pada chanel Youtube-nya Farah Quin, lalu anda menjual hasil pembelajaran anda, ini sudah masuk kategori belajar.

Beberapa waktu lalu, viral diacara Kick Andy dimana seorang perempuan bernama ibu Diana Patricia Hasibuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada usia 69 tahun, kemudian lulus pasca sarjana (S2) usia 73 tahun dan terakhir lulus Doktor (S3) pada usia 77 tahun. Fakta ini berhasil memecahkan rekor MURI sebagai perempuan tertua di Indonesia yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dan pasca sarjananya. Di Negara maju, jauh lebih banyak lagi manusia usia lanjut yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Peran perpustakaan juga dibutuhkan dalam proses pembelajaran usia lanjut ini. Salah satu contohnya dengan tersedianya buku buku large print (buku cetakan besar) di perpustakaan. Bukan hanya buku fiksi tapi juga non-fiksi yang dibutuhkan. Akses ke perpustakaan juga harus ramah terhadap para manusia lanjut usia. Misalnya harus ada lift, elevator atau escalator untuk menuju ke lantai yang lebih tinggi di perpustakaan tersebut, karena para pemustaka lanjut usia ini kemungkinan sudah tidak kuat lagi menggunakan tangga biasa.

Di Perpustakaan Lionel Bowen, di Randwick City, New South Wales, tersedia program kursus computer dan kursus bahasa Inggris bagi para warga senior (manusia lanjut usia, manula). Program apa saja yang dipelajarinya di perpustakaan? Perpustakaan tidak mengajarkan sistem operasi, operator program word, excel, powerpoint, access dan lain lainnya.

Program yang diajarkan kepada para manula ini hanya program program yang bisa membantu para manula tersebut menikmati masa masa pensiun dan masa tuanya. Misalnya diajarkan bagaimana menulis dan mengirim email, bagaimana cara melampirkan foto pada email, bagaimana mengembangkan hobi mereka dengan melihat video video hobbi di youtube dan lain lainnya. Kebanyakan para manula ini, sudah tinggal sendiri atau berdua dengan pasangan, karena anak anak sudah besar dan tinggal di rumah mereka sendiri. Anak anak mereka seringkali kesulitan jika ingin mengirim email atau foto foto atau dokumen digital kepada orangtua mereka.  

Adapun pelajaran bahasa Inggris, juga diajarkan di perpustakaan ini. Di kota Sydney, banyak imigran dari berbagai Negara yang tidak menguasai atau malah tidak bisa sama sekali berbahas Inggris ketika tiba di Australia. Misalnya karena anak anak mereka sudah lama menetap di Australia. Disinilah peran perpustakaan, memberikan kursus bahasa Inggris gratis kepada para orang tua atau orang dewasa yang belum menguasai bahasa Inggris.

Perpustakaan juga banyak menyediakan bahan pustaka berbahasa asing lain selain bahasa Inggris. Bukan hanya bahan bacaan, tetapi juga CD music  dari berbagai Negara ada di perpustakaan ini. Saya sempat melihat salah satu koleksinya adalah CD music Sabilulungan dari Sunda. Majalah dan fiksi berbahasa asing juga disediakan di perpustakaan ini.

Pelajaran bahasa asing seperti bahasa Arab, Spanyol, Yunani, Mandarin, Vietnam, Thailand dan lain lain, semua disertai dengan CD-nya supaya dalam belajar bahasa secara mandiri di rumah bisa lebih akurat lagi, juga banyak tersedia disini. Karena sangat multi etnik dan multi bahasa, banyak penduduk yang antusias belajar bahasa asing lain secara mandiri dirumah.

Di Indonesia mungkin situasinya agak berbeda, namun  peran perpustakaan tetap penting dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat seperti yang disebutkan dalam Undang Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pada Bab I, Pasal 1, poin 6 yang menyebutkan bahwa “Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi”. Kata Henry Ford, “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty” (Siapapun yang berhenti belajar, akan menjadi tua, apakah dia berusia duapuluh atau delapanpuluh tahun). So keep learning guys…..!


CARA PRAKTIS BUDI DAYA IKAN KERAPU


Ikan kerapu dengan nama ilmiah Epinephelus fuscoguttatus dikenal sebagai ikan konsumsi yang bercita rasa lezat dan nikmat. Kelezatan daging ikan kerapu dan lama proses produktivitasnya menjadikan ikan ini sangat diminati oleh konsumen meskipun harganya tergolong mahal.

Para petani tambak di Desa Labuhan, Lamongan memulai membudidayakan ikan terapu sejak 1999, dengan omzet yang menggiurkan. Keuntungan sekali panen bisa mencapai Rp. 150 juta, sementara biaya produksinya Rp. 72 juta. Harga kerapu cantan misalnya, untuk ukuran konsumsi dalam negeri harganya bisa mencapai Rp. 95 ribu – Rp. 105 ribu per kg. Sementara kerapu ekspor bisa mencapai Rp. 350 ribu per kg.

Tingginya permintaan ikan terapu menyebabkan ikan ini banyak dibudidayakan. Ikan terapu bisa diekspor dalam keadaan hidup kebeberapa negara seperti Singapura, Jepang, Hongkong, Taiwan, Malaysia, dan Amerika Serikat. Harga ikan terapu di tingkat nelayan saat ini Rp. 50.000-Rp. 55.000 per kg, bahkan untuk spesies tertentu yang lebih langka bisa dihargai jauh lebih mahal.

Buku CARA PRAKTIS BUDI DAYA IKAN KERAPU, menyajikan informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan budi daya ikan kerapu secara praktis dan berhasil serta aneka olahan ikan kerapu. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

CARA PRAKTIS BUDI DAYA IKAN KERAPU
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visa Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-317-254-2


PANEN RUPIAH DARI BUDI DAYA IKAN MAS “RAJADANU”



Budi  daya ikan sudah lama berkembang di Indonesia. Namun, di tahun 2000-an muncul wabah penyakit yang oleh serangan bakteri Aeromonas hydrophila dan KHV (Koi Herpes Virus), diperparah dengan mulai tidak terkontrolnya kualitas benih-benih yang beredar sehingga berimbas pada semakin menipisnya margin keuntungan, bahkan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Badan Litbang Kelautan dan Perikanan berupaya melakukan perbaikan melalui pembentukan varietas unggul, dalam hal pertumbuhan maupun ketahanan terhadap serangan penyakit. Varietas ikan mas tersebut dikenal dengan nama “Rajadanu”, program kerja sama dengan lembaga internasional IDRC (International Development Research Centre) yang berpusat di Kanada.

Kepopuleran jenis ikan mas Rajadanu tidak hanya terbatas di dalam negeri. Ikan ini telah dikirim ke India dan juga digunakan di Bangladesh dan Tiongkok sebagai salah satu varietas ikan mas yang diunggulkan.

Buku PANEN RUPIAH DARI BUDI DAYA IKAN MAS “RAJADANU” merupakan Seri Teknologi Tepat Guna membahas tentang potensi dan proses produksi ras Rajadanu; manajemen pembesaran dengan budi daya intensif; sistem panen dan pengangkutan; penanggulangan penyakit; dan analisis usaha budi daya Rajadanu.

Buku Budi Daya Ikan Mas “Rajadanu” merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Buku ini dapat menjadi pedoman praktik bisnis yang nyata bagi masyarakat dan menambah khazanah ilmu pengetahuan di bidang perikanan dan mendukung program pemerintah dalam industrialisasi perikanan nasional.


PANEN RUPIAH DARI BUDI DAYA IKAN MAS “RAJADANU”
Penulis: H. Estu Nugroho
Editor: Ratri Riyadi
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-7596-83-2

May 20, 2020

BUDI DAYA IKAN KOLAM TERPAL


Indonesia merupakan negara maritime dengan kekayaan sektor perikanan yang sangat melimpah. Selain hasil perikanan laut, potensi dari sector perikanan air tawar juga tidak kalah. Aneka komoditas air tawar baik yang merupakan hasil budidaya maupun tangkapan alam setidaknya menyumbang hingga 1,1 juta ton dari total keseluruhan 12 juta ton produksi perikanan nasional.

Dari total produksi perikanan air tawar, lebih dari 70% masih diserap konsumsi dalam negeri, yaitu untuk pasar tradisional. Itupun masih belum dapat memenuhi seluruh permintaan yang ada. Hal ini menunjukkan jika pasar perikanan air tawar di Indonesia masih terbuka lebar. Sehingga hal ini seharusnya menjadi cambuk untuk mendorong pertumbuhan bisnis perikanan air tawar untuk bisa digarap dengan lebih maksimal lagi. Padahal ada banyak komoditas air tawar yang memiliki nilai jual tinggi, seperti Nila, Bawal, Gurame, Ikan Mas, Belut, dan masih banyak lagi.

Buku Budi Daya Ikan Kolam Terpal: Kiat sukses budidaya ikan konsumsi dengan kolam terpal, penulis Tim Agro Mandiri membahas tentang persiapan dan kiat-kiat sukses budidaya ikan dengan kolam terpal.

Buku Budi Daya Ikan Kolam Terpal mengajak para pemula, para pencinta ikan, para pelaku bisnis ikan air tawar untuk menjawab peluang pasar di sektor perikanan. Salah satunya, dengan penggunaan teknologi kolam terpal untuk menekan biaya operasional dan mendatangkan keuntungan yang besar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Buku ini terdiri dari delapan bab.
Bab 1. Nilai Gizi Ikan
Bab 2. Ada Apa dengan Kolam Terpal, membahas tentang kelebihan kolan terpal, kelemahan kolam terpal, dan kolam terpal, kolam tembok, kolam tanah?
Bab 3. Persipan kolam terpal.
Bab 4. Budidaya Ikan dengan Kolam Terpal, membahas tentang Ikan Nila, Ikan Patin, dan Ikan Lele
Bab 5. Hama dan Penyakit pada Ikan Air Tawar
Bab 6. Kiat Sukses Budidaya Ikan dengan Terpal
Bab 7. Serba Serbi Kolam Terpal.

BUDI DAYA IKAN KOLAM TERPAL
Kiat Sukses Budidaya Ikan Konsumsi dengan Kolam Terpal
Penulis: Tim Agro Mandiri
Penerbit: Visa Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta       
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-317-141-5