June 30, 2025

Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peranan Bank Indonesia di Sulawesi Selatan


Sejak berabad-abad yang lalu, Makassar telah memainkan peran vital sebagai pusat kegiatan ekonomi maritim di kawasan timur Nusantara. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran Asia Eropa menjadikannya kota pelabuhan yang hidup dan berkembang pesat. Tak hanya sebagai tempat singgah, Makassar menjadi simpul utama dalam jaringan perdagangan internasional, menghubungkan dunia niaga dari berbagai penjuru, dari Tiongkok dan Jepang di utara, Australia di selatan, Malaka dan India di barat, hingga Maluku dan Papua di timur.

Daya tarik Makassar bukan hanya terletak pada posisinya di peta, tetapi juga pada sumber daya alam yang melimpah dan masyarakatnya yang memiliki tradisi maritim kuat. Orang-orang Bugis dan Makassar, dikenal sebagai pelaut tangguh dan saudagar ulung, telah membangun reputasi sebagai penggerak ekonomi laut sejak abad ke-16. Catatan sejarah menunjukkan bagaimana mereka menjalin relasi dagang yang luas hingga ke luar Nusantara, menjadikan mereka bagian penting dari peradaban maritim Asia Tenggara.

Perdagangan rempah-rempah, hasil bumi, serta komoditas seperti beras, kopi, dan terutama kopra, telah mendorong pertumbuhan pesat ekonomi Makassar. Pada masa kolonial, Makassar menjadi kota penghasil dan eksportir kopra terbesar di Hindia Belanda, menjadikannya penting dalam industri global, mulai dari sabun hingga otomotif. Hal ini turut memperkuat posisi Makassar sebagai pusat ekonomi yang sangat diperhitungkan di kawasan timur Indonesia.

Seiring meningkatnya volume perdagangan dan kompleksitas transaksi ekonomi, muncul kebutuhan akan sistem keuangan yang modern dan terorganisir. Di sinilah peran De Javasche Bank (DJB) bank sirkulasi dan komersial pertama di Hindia Belanda mulai hadir secara aktif. Melalui desakan para pengusaha lokal, cabang DJB akhirnya didirikan di Makassar pada 21 Desember 1864. Kehadiran lembaga ini memperlancar peredaran uang, memperkuat sistem kredit, dan mendorong pembangunan infrastruktur kota. Secara bertahap, Makassar berkembang sebagai kota pelabuhan modern yang terintegrasi dengan ekonomi global.

Buku Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peranan Bank Indonesia di Sulawesi Selatan mengajak pembaca menyelami perjalanan panjang Makassar sebagai pusat kegiatan maritim yang penuh dinamika. Disusun dengan pendekatan historis yang kuat dan didukung oleh data yang mendalam, buku ini menampilkan potret utuh tentang bagaimana Makassar memainkan peran penting dalam jalur perdagangan rempah dunia, serta bagaimana lembaga keuangan seperti Bank Indonesia yang berakar dari De Javasche Bank, turut menopang keberlanjutan ekonomi regional. Buku ini dapat di akses aplikasi ibilibrary.


Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peranan Bank Indonesia di Sulawesi Selatan
Peanggungjawab : Solikin M. Juhro
Penyusun : Arlyana Abubakar, Rita Krisdiana, Rasyid Asba, Yulianto Sumalyo, Allan Akbar, Mirza Ardi Wibawa 
Editor: Kasijanto Sastrodinomo
Penerbit : Bank Indonesia Institute
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit : 2019
ISBN: 978-623-9066-11-6


Evolusi Gadai ke Sanra dalam Budaya Ekonomi Bugis-Makassar


Dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar, tanah bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga simbol kehormatan dan identitas keluarga. Namun, berbagai kebutuhan hidup yang mendesak, seperti biaya pernikahan, pendidikan anak, pelunasan utang, hingga ibadah haji telah memaksa banyak keluarga untuk melepaskan hak kelola atas lahannya demi mendapatkan dana cepat. Di tengah keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal, muncul satu sistem tradisional yang menjembatani kebutuhan tersebut: mappasanra.

Mappasanra adalah praktik penyerahan hak kelola sementara atas lahan kepada seseorang yang bersedia memberikan sejumlah uang, dengan perjanjian bahwa lahan tersebut bisa ditebus kembali di masa depan. Transaksi ini tidak memindahkan kepemilikan tanah, tetapi memberikan hak kelola kepada pihak yang disebut pemegang sanra, minimal untuk satu musim tanam. Keunikan sistem ini adalah dasar kepercayaannya yang kuat berakar dalam nilai-nilai budaya dan kekeluargaan serta kesepakatan bersama yang sering kali dirundingkan dalam lingkup keluarga inti terlebih dahulu.

Praktik ini berkembang dari bentuk gadai tradisional yang dahulu tidak memiliki kejelasan waktu penebusan. Ketika belum ada aturan tertulis, konflik antara pemilik dan pemegang gadai kerap terjadi. Belajar dari pengalaman tersebut, lembaga adat kemudian menetapkan norma yang mengatur batas waktu penebusan, yaitu sebelum musim tanam berikutnya, sebagaimana diputuskan dalam forum adat bernama tudang sipulung. Di sinilah terlihat peran besar dewan adat dalam mengatur dan menjaga harmoni sosial melalui hukum tidak tertulis yang dihormati masyarakat.

Seiring waktu, transaksi sanra menjadi semakin terstruktur. Nilai uang yang digunakan dalam transaksi ini biasanya disetarakan dengan harga emas, sebagai upaya menjaga stabilitas nilai terhadap inflasi atau perubahan kurs. Maka tak heran jika sejak tahun 1970-an, masyarakat Sulawesi Selatan mulai menggunakan koin emas sebagai acuan dalam menentukan nilai sanra. Dalam praktiknya, sanra memiliki tiga jenis nilai: harga seang (normal), harga mahal, dan harga murah, tergantung dari perbandingan nilai transaksi dengan harga pasar lahan jika dijual secara permanen.

Namun, sistem ini juga memiliki sisi rentan. Ketika nilai transaksi terlalu tinggi dan kemampuan ekonomi pemilik lahan menurun—karena usia, kesehatan, atau usaha yang tak berkembang sering kali lahan yang disanrakan tidak berhasil ditebus kembali. Pada titik ini, lahan yang tadinya hanya diserahkan hak kelolanya secara sementara akhirnya dijual secara permanen, mengakhiri keterikatan emosional dan warisan keluarga atas tanah tersebut.

Transaksi sanra tidak hanya mencerminkan sistem ekonomi berbasis aset lokal, tetapi juga memperlihatkan cara masyarakat Bugis-Makassar mempertahankan nilai-nilai musyawarah, kepercayaan, dan tanggung jawab sosial. Meski berada di luar sistem keuangan modern, sanra telah membuktikan diri sebagai instrumen penting dalam mendukung keberlangsungan hidup masyarakat, sekaligus mencerminkan bagaimana hukum adat dan ekonomi tradisional dapat beradaptasi dalam lintas generasi.

Semua dinamika ini dijelaskan secara rinci dan mendalam dalam buku "Evolusi Gadai ke Sanra dalam Budaya Ekonomi Bugis-Makassar" yang dapat di akases di aplikasi ibilibrary, menjadi salah satu koleksi yang menelusuri perjalanan historis, sosial, dan ekonomi dari praktik gadai menuju sistem sanra yang masih hidup dan berkembang hingga hari ini di Sulawesi Selatan.


Evolusi Gadai ke Sanra dalam Budaya Ekonomi Masyarakat Bugis-Makassar
Penulis : Amal Said
Penerbit : Deepublish Digital
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit : 2023
ISBN: 978-623-753-7 (PDF)


June 23, 2025

Desain Ruang Perpustakaan yang Ramah dan Inklusif

 


Desain Ruang Perpustakaan yang Ramah dan Inklusif

Oleh: Suharman, S.S., MIM.

Pendahuluan

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan dan meminjam buku. Ia adalah ruang perjumpaan, ruang tumbuh, dan ruang pembelajaran yang terbuka untuk semua. Sebagai pustakawan, saya kerap merenung bagaimana desain ruang perpustakaan mampu memengaruhi pengalaman pemustaka. Apakah ruang yang kami ciptakan benar-benar mengundang semua kalangan untuk merasa nyaman dan diterima? Di tengah masyarakat yang semakin beragam, tuntutan terhadap ruang publik yang inklusif dan ramah kian besar—dan perpustakaan, sebagai jantung pengetahuan komunitas, harus menjadi yang terdepan dalam mewujudkannya.

Isi

Desain ruang perpustakaan yang ramah dan inklusif bukan sekadar menambahkan ramp untuk kursi roda atau menyediakan ruang baca anak. Ia mencakup pemikiran mendalam tentang bagaimana setiap orang—dari balita hingga lansia, dari siswa hingga penyandang disabilitas, dari pembaca pemula hingga peneliti—dapat mengakses informasi dan merasakan kenyamanan berada di dalam ruang perpustakaan. Prinsip "akses untuk semua" harus diterjemahkan secara konkret dalam tata letak, furnitur, pencahayaan, warna, dan bahkan kebijakan peminjaman serta layanan yang ditawarkan.

Pertama-tama, aksesibilitas fisik adalah syarat mutlak. Jalur masuk yang ramah bagi pengguna kursi roda, pencahayaan yang cukup bagi pengunjung dengan keterbatasan penglihatan, signage (penunjuk arah) yang jelas dan mudah dibaca, serta toilet yang ramah disabilitas harus menjadi bagian dari desain awal, bukan tambahan di belakang. Koleksi bahan bacaan dalam berbagai format—seperti huruf braille, audiobook, atau buku dengan font disleksia-friendly—merupakan bentuk nyata dari inklusi terhadap ragam kebutuhan pembaca. Saya ingat seorang pengunjung tunanetra yang begitu antusias saat kami menghadirkan buku braille baru di perpustakaan. Matanya—meskipun tak melihat—bercahaya oleh semangat. Dari situlah saya semakin sadar bahwa akses itu bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang harga diri dan penghargaan terhadap keberagaman.



Namun, ruang yang ramah tak cukup hanya fisik. Kita perlu menciptakan suasana yang akrab dan tidak mengintimidasi, terutama bagi mereka yang baru mengenal perpustakaan. Desain ruang yang terbuka, dengan pembagian area yang fleksibel, mampu menjembatani kebutuhan berbagai kelompok. Misalnya, area diskusi dengan sekat akustik untuk pengunjung yang ingin berdiskusi, sudut tenang bagi yang membutuhkan konsentrasi, ruang khusus anak yang penuh warna dan aman, serta pojok lansia dengan kursi ergonomis dan pencahayaan lembut. Kegiatan membaca dan belajar memiliki dinamika yang berbeda-beda, dan desain ruang yang cerdas harus mampu mengakomodasi hal itu.

Aspek lain yang penting adalah keberagaman budaya. Indonesia adalah negara multikultur, dan perpustakaan harus mencerminkan hal ini. Pemilihan dekorasi yang menghargai nilai lokal, koleksi buku dalam berbagai bahasa daerah, dan tampilan informasi yang menghormati keragaman dapat memperkuat rasa memiliki dari komunitas pengguna. Saya percaya, saat seorang anak menemukan buku dalam bahasa ibunya di rak perpustakaan, ia merasa diakui. Ketika seorang warga dari latar belakang minoritas menemukan buku yang mencerminkan kisah hidupnya, ia merasa tidak sendiri. Dan ketika komunitas melihat perpustakaan sebagai ruang yang aman untuk berekspresi dan belajar, maka di sanalah perpustakaan benar-benar menjadi milik semua.

Tidak kalah pentingnya adalah partisipasi. Sebagai pustakawan, saya belajar bahwa pengguna adalah mitra. Dalam merancang ruang yang inklusif, kita perlu melibatkan mereka—bertanya, mendengar, dan menyesuaikan. Survei kebutuhan, forum komunitas, atau bahkan sesi mendesain bersama dapat menjadi sarana membangun keterikatan dan menghasilkan solusi yang kontekstual. Anak-anak bisa diminta ikut memilih warna dinding ruang bacanya, pelajar bisa mengusulkan bentuk meja belajar yang ideal, dan komunitas disabilitas bisa memberikan masukan langsung tentang aksesibilitas. Ruang yang dibangun bersama akan lebih dihargai dan dijaga oleh semua pihak.

Penutup

Akhirnya, saya percaya bahwa desain ruang perpustakaan yang ramah dan inklusif adalah cerminan dari nilai kemanusiaan itu sendiri—menghormati perbedaan, membuka diri terhadap keberagaman, dan menyambut siapa pun tanpa syarat. Ini bukan proyek sekali jadi, melainkan proses yang terus bergerak seiring perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat. Sebagai pustakawan, tugas saya tidak berhenti pada menata koleksi, tapi juga menata ruang agar pengetahuan dapat tumbuh di hati setiap orang. Di dalam ruang perpustakaan yang ramah dan inklusif, tidak ada yang merasa asing, dan setiap orang merasa penting.

Referensi:

·         IFLA. (2022). Guidelines for Library Services to Persons with Dyslexia. International Federation of Library Associations and Institutions.

·         Ministry of Education and Culture. (2019). Pedoman Perpustakaan Inklusif Sosial.

·         American Library Association (ALA). (2018). Equity, Diversity, Inclusion: An Interpretation of the Library Bill of Rights.

·         Library Journal. (2021). Designing Inclusive Libraries: How Spaces Can Welcome All Users.




June 22, 2025

Memilih Buku daripada Gadget; Mengapa Membaca Lebih Bermanfaat untuk Anak-Anak


Pendahuluan

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan teknologi di era teknologi yang serba cepat ini.  Mereka telah mengenal gawai dari usia dini, seperti ponsel pintar, tablet, dan televisi cerdas.  Bahkan bagi balita, gadget seakan menjadi teman sehari-hari yang tak terpisahkan.  Orang tua juga sering memperkenalkan teknologi kepada anak mereka sejak dini untuk alasan praktis dan hiburan.  Namun, di balik semua kemajuan itu, satu aktivitas sederhana—membaca buku—mulai tergeser, meskipun manfaatnya sangat besar.

Membaca bukan hanya sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang; itu adalah dasar untuk perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Buku-buku ini mendorong anak-anak untuk berpikir kritis, berimajinasi, memahami emosi mereka, dan mempelajari dunia di luar diri mereka sendiri.  Sementara itu, penggunaan perangkat secara berlebihan, terutama tanpa pengawasan yang memadai, dapat membahayakan pertumbuhan optimal. 

Untuk alasan apa kita harus mendorong anak-anak untuk memprioritaskan buku daripada perangkat elektronik?  Apa keuntungan yang dapat diperoleh baik dalam jangka pendek maupun panjang?  Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh alasan mengapa membaca penting bagi anak-anak dan efek buruk yang harus diwaspadai ketika anak-anak terpapar teknologi yang tidak sesuai.

Isi

Untuk membangun dasar kognitif anak, buku adalah alat penting.  Anak-anak belajar kosa kata baru, struktur kalimat, dan alur berpikir yang runtut saat membaca atau dibacakan cerita.  Kemampuan bahasa mereka meningkat, daya ingat mereka meningkat, dan kemampuan berpikir logis mereka terasah secara alami.  Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa membaca sejak usia dini memiliki prestasi akademik yang lebih baik, kemampuan bahasa yang lebih baik, dan kemampuan untuk memahami instruksi dengan lebih mudah.

Membaca mengaktifkan bagian otak yang lebih kompleks daripada bermain perangkat yang biasanya pasif, seperti menonton video.  Anak-anak diminta untuk membayangkan situasi, memahami arti kata-kata, menghubungkan peristiwa, dan membuat kesimpulan.  Ini adalah proses yang memperkuat jaringan neural dan meningkatkan kecerdasan mereka secara keseluruhan.

Misalnya, buku cerita anak mengajarkan tokoh-tokoh, urutan peristiwa, dan pemahaman emosi.  Kecerdasan seperti kecerdasan linguistik, interpersonal, dan intrapersonal dibangun melalui aktivitas ini.  Akibatnya, membaca tidak hanya memperluas pengetahuan seseorang, tetapi juga membangun kecerdasan emosional dan sosial seseorang.

Membaca buku memungkinkan kita untuk merasa seperti orang lain. Ini adalah salah satu keuntungan membaca buku daripada menggunakan perangkat elektronik.  Anak-anak belajar tentang beragam nilai kemanusiaan, menghadapi dilema moral, dan memahami perasaan orang lain dari cerita fiksi atau kisah tokoh nyata.  Mereka tidak belajar menjadi orang baik dari perintah; sebaliknya, mereka mendapatkan pengalaman batin saat menyelami cerita.

Buku membantu anak-anak memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda.  Mereka bisa menjadi pahlawan yang berani, detektif yang cerdas, atau teman yang setia dengan hewan.  Mereka menjadi lebih kaya, lembut, dan terbuka terhadap perbedaan karena imajinasi ini.  Namun, konten yang ditampilkan oleh perangkat elektronik, terutama video viral atau media sosial, seringkali tidak memungkinkan untuk berpikir mendalam atau memahami emosi secara menyeluruh.

Empati adalah kunci karakter yang baik.  Anak-anak yang terbiasa membaca akan lebih peka terhadap lingkungannya, lebih mudah bergaul dengan orang lain, dan cenderung lebih bijak.  Ini akan membantu mereka dalam kehidupan sosial dan profesional mereka di masa depan.

Gadget memiliki kemampuan untuk mengajar, tetapi hanya jika digunakan secara terbatas dan dengan bantuan orang dewasa.  Sayangnya, banyak anak yang menggunakan gadget tanpa batas waktu dan tanpa mengawasi apa yang mereka gunakan.  Ini memiliki banyak bahaya, salah satunya adalah gangguan fokus.  Anak-anak yang terbiasa dengan dorongan cepat dari layar akan kesulitan berkonsentrasi pada tugas-tugas sederhana seperti membaca, menulis, atau mendengarkan pelajaran di kelas.

Ada banyak anak yang terpengaruh oleh layar, seperti rewel saat tidak menerima perangkat, kesulitan tidur, dan tantrum ketika diminta untuk berhenti bermain.  Kondisi ini dikenal sebagai gangguan ketergantungan pada layar, yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional anak.  Anak juga cenderung menjadi pasif, kurang bergerak, hingga mengalami obesitas karena terlalu lama duduk di depan layar.

Selain itu, paparan konten yang tidak sesuai usia, seperti iklan manipulatif, kekerasan, atau kata-kata kasar, sangat mungkin memengaruhi perilaku anak.  Gadget memungkinkan berbagai pengaruh luar yang tak terkendali masuk.  Di sinilah pentingnya kembali mempromosikan buku sebagai opsi yang lebih sehat, aman, dan membangun.

Membiasakan anak untuk mengutamakan buku daripada perangkat elektronik tidak akan terjadi dalam sekejap mata.  Dibutuhkan komitmen dan keteladanan dari orang tua, serta dukungan dari lingkungan.  Anak-anak sangat pandai meniru orang tua mereka.  Kebiasaan kecil yang dapat membantu menumbuhkan cinta membaca termasuk membaca bersama sebelum tidur, menyediakan rak buku yang mudah dijangkau, dan memberikan buku untuk hari ulang tahun.

Perpustakaan dan sekolah juga sangat penting.  Untuk membiasakan anak-anak untuk mencintai buku, program membaca pagi, ruang baca yang menarik, dan kegiatan mendongeng rutin dapat menjadi cara. Taman bacaan masyarakat juga dapat menjadi tempat alternatif di mana anak-anak dapat menikmati buku tanpa tergantung pada perangkat elektronik.

Lebih jauh lagi, pemerintah daerah dan lembaga pendidikan harus membuat kebijakan untuk mendorong literasi sejak usia dini.  Kampanye seperti "Satu Hari Satu Buku" dan "Gerakan Literasi Sekolah" adalah contoh nyata dari upaya untuk mendorong budaya membaca.  Agar anak-anak kita tidak kehilangan masa muda yang penuh imajinasi karena terlalu asyik menatap layar, semua pihak harus bekerja sama.

Penutup

Di tengah gempuran teknologi saat ini, membeli buku daripada perangkat elektronik adalah investasi yang sangat berharga dalam jangka panjang. Anak-anak yang dibesarkan dengan buku akan menjadi individu yang berempati, berpikir kritis, dan cerdas. Mereka dapat memahami dunia luar, bukan hanya melihatnya lewat layar. Karena karakter dan pemahaman yang mendalam, mereka juga akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan.

Kita tentu tidak bisa menghindari anak-anak dari teknologi sepenuhnya, karena melek digital akan sangat penting untuk masa depan. Namun, kita dapat mengajarkan mereka keterampilan literasi yang kuat untuk membantu mereka menyaring informasi, mengelola waktu, dan menjaga kesehatan mental.  Membiasakan diri membaca buku adalah kuncinya.

Sebagai orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat, mari kita mendorong anak-anak untuk membuka buku bagian demi bagian, bukan hanya membuka layar.  Karena dalam setiap halaman buku ada dunia yang dapat mereka gunakan untuk meningkatkan masa depan mereka.



June 19, 2025

ALIH BAHASA LONTARA’ PALLOPI-LOPIANG: SIASAT MENAKLUKKAN LAUT

Buku Alih Bahasa Lontara’ Pallopi-lopiang: Siasat Menaklukkan Laut adalah sebuah karya filologis dan etnografis yang bersumber dari naskah kuno dari masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Naskah Lontara’ Pallopi-lopiang bukan sekadar dokumen pelayaran, melainkan pancaran utuh dari cara hidup, sistem kepercayaan, dan strategi bertahan hidup masyarakat pesisir yang telah diwariskan lintas generasi.

Naskah ini ditulis tahun 1936 di tengah kondisi sosial dan alam yang mengguncang: lembong tallu, gelombang bencana dahsyat yang menyerang kawasan Tinambung dan meninggalkan luka kolektif dalam ingatan masyarakat Mandar. Di tengah krisis itu, manuskrip ini lahir sebagai respons kultural dan spiritual terhadap laut, yang di satu sisi adalah sumber kehidupan, namun di sisi lain menyimpan potensi ancaman mematikan. Dalam konteks itu, Lontara’ Pallopi-lopiang hadir sebagai "siasat" dalam makna yang paling dalam: seni bertahan hidup dengan memahami alam semesta dan kehendak Tuhan.

Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami proses alih bahasa naskah ke dalam Bahasa Indonesia modern, disertai transliterasi teks dalam aksara Lontara’, Arab dan Latin, serta penerjemahan isi yang memuat doa-doa, tata cara pelayaran, dan etika spiritual nelayan Mandar. Dibalut dengan pendekatan tafsir budaya, buku ini menjelaskan bagaimana setiap tindakan seorang ponggawa lopi (nakhoda) dari melangkah keluar rumah, menyentuh badan perahu, membaca doa, hingga menentukan arah pelayaran  merupakan bagian dari kesatuan spiritual yang mendalam.

Ritual-ritual yang dimuat dalam naskah ini menunjukkan keyakinan bahwa perahu bukan sekadar alat transportasi, melainkan entitas hidup yang memiliki “batin”. Seorang ponggawa tidak bisa sembarang menurunkan atau menjalankan perahunya. Ia harus meraba, merasakan, dan mendengarkan “bahasa perahu” apakah ia sudah "bangun" atau belum. Jika belum, pelayaran akan tertunda, karena memaksakan diri diyakini akan mengundang bencana.

Lebih jauh, buku ini memperlihatkan bagaimana Islam sufistik dan kepercayaan lokal terjalin erat dalam kehidupan masyarakat Mandar. Doa-doa yang dilafalkan penuh khidmat, seperti:

“Bismillahir Rahmanir Rafii’ir Rahiimi yuharrisuni min kulli maa yu’dzinii”

dan:

“Alhamdu lillahil ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin. Wa innaa ilaa Rabbinaa lamunqolibuun”

tidak hanya berfungsi sebagai mantra keselamatan, tetapi juga simbol kepasrahan, ikhtiar, dan hubungan transenden dengan Sang Pencipta. Sementara itu, elemen lokal seperti pamali dan ussul memperkaya aspek kultural dan kosmologis naskah ini, menunjukkan bahwa dalam melaut, tidak ada yang boleh disepelekan semuanya menyatu dalam siklus spiritual yang rumit namun bermakna.

Selain sebagai warisan sastra dan spiritual, naskah ini juga merupakan bentuk pengetahuan ekologis. Melalui ritual-ritual dan tafsir perahu, orang Mandar sejatinya telah memiliki sistem pengamatan terhadap cuaca, musim, arah angin, dan tanda-tanda alam yang mereka pelajari secara turun-temurun. Semua itu direkam dalam simbol dan bahasa metaforis yang hanya bisa dimengerti dalam konteks budaya yang mendalam.

Buku ini menghidupkan kembali teks yang nyaris dilupakan, dan mengajak kita untuk melihat laut dengan mata batin, bukan sekadar sebagai medan ekonomi, tetapi sebagai ruang spiritual dan kultural yang mengandung pengetahuan, kebijaksanaan, dan peringatan. Ia juga menjadi bukti bahwa masyarakat tradisional kita memiliki sistem pengetahuan yang kompleks, yang tak kalah dengan sains modern—hanya saja diekspresikan dalam bahasa dan keyakinan yang berbeda.

Alih Bahasa Lontara’ Pallopi-lopiang: Siasat Menaklukkan Laut adalah ajakan untuk membaca ulang peradaban bahari Indonesia dengan cara yang lebih dalam dan menghormati kearifan lokal. Sebuah kontribusi penting bagi dunia filologi, sejarah maritim, kajian Islam lokal, dan tentu saja—budaya Indonesia.

Buku ini dapat diakses secara digital melalui aplikasi iPusnas atau melalui laman resmi: https://ipusnas2.perpusnas.go.id


ALIH BAHASA LONTARA’PALLOPI-LOPIANG: SIASAT  MENAKLUKAN LAUT 
Penulis : Husnul Fahimah Ilyas
Penerbit : Perpusnas PRESS
Tahun Terbit : 2023
ISBN: 978-623-313-936-6 

Syair Sihir Penyair Penyihir

Syair Sihir Penyair Penyihir adalah sebuah mahakarya puitik yang melampaui batas puisi konvensional. Ditulis dengan ketelitian seorang pemahat makna dan imajinasi seorang dukun kata, Ballodi Lawwing menyuguhkan sebuah karya yang bukan hanya berbicara, tetapi berbisik, berteriak, merapal, bahkan menyihir. Buku ini adalah perjamuan kata-kata dalam ruang magis antara dunia nyata dan dunia batin; sebuah kitab puisi yang terasa seperti mantra dari dimensi lain, sekaligus refleksi terdalam dari manusia yang mencari hakikat hidup melalui bahasa.

Dalam setiap bait dan baris, Lawwing menciptakan atmosfer yang mengguncang dan mempesona. Puisinya bukan sekadar lukisan rasa, melainkan ramuan dari unsur-unsur primal: api hasrat, air kesedihan, tanah kenangan, dan angin ilusi. Sang penyair menjadi penyihir yang memanggil makna dari balik kabut simbolisme, menyusun jalinan kata-kata yang bukan hanya indah, tetapi sarat muatan spiritual, eksistensial, dan kerap kali profetik. Ia menyibak batas antara tubuh dan ruh, antara luka dan keindahan, antara kegelapan dan wahyu, menghadirkan puisi-puisi yang hidup dan berdenyut di luar halaman-halaman kertas.

Syair Sihir Penyair Penyihir juga merupakan kritik tersembunyi terhadap kebekuan makna dalam masyarakat modern. Dalam dunia yang semakin dangkal, buku ini menjadi oasis bagi jiwa-jiwa yang haus akan kedalaman. Lawwing menolak puisi yang datar dan jinak; ia menghidupkan kembali puisi sebagai kekuatan subversif, sebagai ritual, sebagai alat pembebasan. Pembaca tidak hanya diajak menikmati keindahan larik-lariknya, melainkan turut diajak masuk dalam arus bawah sadar yang liar dan penuh kejutan. Setiap puisi terasa seperti mantra yang membuka gerbang ke dunia yang lain—dunia di mana bahasa adalah kekuatan kosmis.

Dengan gaya bahasa yang padat, kompleks, dan penuh lapisan makna, buku ini menuntut pembacaan yang intens dan reflektif. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia menantang, menguji, bahkan menggetarkan. Syair Sihir Penyair Penyihir bukan hanya buku untuk dibaca; ia adalah pengalaman. Sebuah pengalaman puitik yang tak terlupakan, yang akan terus membekas dalam ingatan pembaca, seperti sihir yang bekerja pelan-pelan, namun pasti. Pembaca bisa membaca buku ini secara lebih lengkap di Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan KM.7 Tala'salapang kota Makassar. 


Judul: Syair Sihir Penyair Penyihir

Penulis: Ballodi Lawwing

Penerbit: Sampan Institute

Kota Terbit: Parepare

Tahun Terbit: 2019

Subjek: Puisi

ISBN: 978‑602‑60457‑8‑2


Suku Bugis, Pewaris Keberanian Leluhur

 



Judul:                          Suku Bugis, Pewaris Keberanian Leluhur

Penulis:                       Juma Darmapoetra

Editor:                         Aquarich

Penerbit:                    Arus Timur Makassar

Tahun Terbit:            2014

Jumlah Halaman:   viii + 128

ISBN:                           9786029057720

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Penulis buku ini adalah alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berasal dari Sumenep Madura. Menurut penulis, suku Bugis sangat menekankan adanya hubungan yang harmonis dengan sesama dalam kehidupan sehari hari. Suku Bugis juga dikenal sebagai pemberani dalam memperjuangkan haknya, sehingga dijuluki sebagai pewaris keberanian leluhur, sebagaimana judul buku ini.

Suku Bugis adalah suku bangsa yang menghuni sebagian besar daratan Sulawesi bagian Selatan. Selain itu hampir semua pulau dan provinsi di Indonesia juga dihuni oleh orang orang Bugis, termasuk di negeri jiran, Singapura, Malaysia, Brunei dan lain lain.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian, diawali dengan gambaran umum suku Bugis, dilanjutkan dengan sejarahnya, termasuk bagaimana suku Bugis dimasa kerajaan, konflik antar kerajaan, pada masa penjajahan Belanda dan masa masa kemerdekaan.

Suku Bugis dan kepercayaan yang dianutnya, dibahas pada bagian kedua. Pada bagian ini, diuraikan tentang kepercayaan orang Bugis pada masa pra-Islam dan pada masa setelah masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Aksara dan bahasa Bugis yang digunakan oleh orang orang Bugis. Aksara yang digunakan adalah aksara Lontara Sulapa Eppa atau Lontara Segi Empat yang merupakan simbol arah mata angin atau simbol 4 unsur utama kehidupan yaitu air, api, angin dan tanah.

Mata pencaharian orang Bugis yang sebagian besar adalah petani dan nelayan. Semangat kebaharian orang Bugis juga dibahas, dan disebutkan pula tentang hukum pelayaran dan perdagangan Bugis yang terkenal yaitu Ade Allopi-loping bicaranna pabbaluE yang disusun oleh Amanna Gappa pada abad ke-17.

Adat pernikahan suku Bugis juga diuraikan secara ringkas dalam buku ini. Sebelum pernikahan ada prosesi Lamaran, mengantar mahar, acara pernikahan dan lain lainnya. Ada pula tradisi Sabung Ayam, tradisi lainnya dan Pamali. Demikian pula jenis kesenian yang ada diantara orang orang Bugis. Ada alat musik, kecapi, suling, gendang atau ganrang. Berbagai jenis pakaian adat, tari-tarian menyambut tamu, dan senjata khas Bugis.

Jenis jenis perahu atau alat transportasi air juga diulas dalam buku in, misalnya pinisi, perahu pajala atau palorani, lambok, pa’dewakkang, sandeq, sampan, soppeng dan jarangka. Semangat melaut dan merantau orang Bugis telah menguatkan dan mengukuhkan suku Bugis dalam hal bertahan hidup terhadap perubahan.

Dalam buku ini diulas pula tentang falsafah hidup orang Bugis termasuk nilai dan tatanan tertentu yang telah menjadi bagian integral kehidupan masyarakat Bugis, misalnya Siri’ na Pacce, serta empat konsep utama dalam kehidupan mereka yaitu, keberanian (warani), kekayaan (asugireng), kejujuran (lempu’), dan kepintaran (amaccangeng).

Buku ini menyajikan ulasan yang mendalam tentang Suku Bugis, kelompok etnis terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Suku Bugis dikenal karena keberanian, kehormatan, dan daya juang mereka. Melalui pendekatan naratif dan reflektif, Juma Darmapoetra mengangkat nilai-nilai budaya Bugis yang diwariskan secara turun-temurun, dengan fokus utama pada sikap keberanian sebagai identitas utama suku ini. Tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga berani dalam merantau, dalam prinsip hidup, dan dalam mempertahankan harga diri (siri’) dan rasa empati (pesse).

Buku ini minim sumber referensi akademik, hanya ada 3 sumber referensi tercetak, lainnya berasal dari sumber informasi daring (online). Pemaparan topik pembahasan juga tidak terlalu sistematis. Illustrasi dan dokumentasi foto atau gambar pendukung sangat minim.

Buku Koleksi layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.



Perkawinan Bugis

 



Judul:                                Perkawinan Bugis

Penulis:                             Susan Bolyard Millar

Editor:                               -

Penerbit:                          Ininnawa, Makassar

Tahun Terbit:                  2009

Jumlah Halaman:        xxv + 288

ISBN:                                9786029523133

Penulis Resensi:           Suharman, S.S., MIM.

Buku yang membahas khusus tentang perkawinan suku Bugis sangat langka ditemukan. Buku ini adalah salah satu yang membahas perkawinan Bugis secara mendalam dan lengkap. Berbagai topik yang muncul sekitar perkawinan dalam suku Bugis dibahas satu persatu dalam buku ini. Mula dari pesta, ritual, hingga teks undangan diuraikan secara rinci. Bahkan aspek sosial politik suatu perkawinan juga dijelaskan dalam buku ini.

Terbagi menjadi 3 bagian, dan 8 bab,  diawali dengan pengantar alih bahasa, karena aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan (dialihbahasakan) kedalam bahasa Indonesia. Dilanjutkan dengan Pengantar penerbit, Prakata dan ucapan terimakasih penulis.

Pada bagian pertama diuraikan tentang latar belakang dan profil Sulawesi Selatan termasuk gambaran geopolitik, ekonomi dan politik Sulawesi Selatan. Organisasi Sosial dan jaringan kekerabatan orang Bugis dan jaringan Tau Matowa dalam sejarah Bugis juga di jelaskan secara rinci pada bagian pertama ini.

Mekanisme perkawinan Bugis diulas pada bagian kedua. Pada bagian ini dijelaskan tentang mekanisme perkawinan  misalnya bagaimana pesta perkawinan menjadi arena untuk menunjukkan status sosial. Prosedur perkawinan dan interaksi simbolis yang terjadi pada pesta perkawinan Bugis, dibahas pula pada bagian ini.

Millar (penulis) juga membahas tentang Studi Kasus yang ditelitinya selama tahun 1975 – 1976 di daerah Bugis terutama di kabupaten Soppeng. Bagaimana ritual-ritual pernikahan Bugis bukan sekadar seremoni personal atau keluarga, melainkan juga merupakan manifestasi simbolik dari posisi sosial, kehormatan, serta jaringan kekuasaan dalam masyarakat Bugis kontemporer.

Secara umum, buku ini memaparkan berbagai unsur dalam tradisi pernikahan Bugis, seperti: Penentuan jodoh yang melibatkan pertimbangan status sosial, genealogis, hingga kekayaan keluarga. Rangkaian tahapan upacara, mulai dari mappacci, akkorongtigi, hingga resepsi, yang sarat dengan makna simbolik. Peran penting keluarga dan komunitas, yang menandakan bahwa perkawinan adalah peristiwa kolektif, bukan hanya antar dua individu. Penggunaan simbol-simbol material, seperti pakaian adat, mahar, serta tata ruang, yang mencerminkan prestise dan pengaruh keluarga mempelai. Transformasi nilai-nilai tradisional dalam konteks modern, termasuk bagaimana masyarakat Bugis menegosiasikan antara adat, Islam, dan modernitas.

Penulis telah melakukan penelitian dan berpartisipasi langsung dalam berbagai upacara perkawinan Bugis terutama di Soppeng, sehingga data yang disajikan sangat kaya dan detail. Buku ini tidak sekadar menggambarkan upacara, tetapi juga menganalisis makna sosial di balik setiap praktik, menjadikannya bacaan yang reflektif dan kritis. Perkawinan Bugis yang dibahas dalam buku ini merupakan perpaduan Tradisi, Islam, dan Modernitas.

Sebagaimana karya tulis ilmiah yang diterbitkan menjadi buku, bahasa yang digunakan sangat akademik yang cenderung tidak mudah untuk dipahami bagi masyarakat umum, karena sangat formal dan teoritis.

Buku ini juga minim dokumentasi dan visualisasi fotonya. Illustrasi foto atau gambar akan memudahkan pembaca dalam memahami isi buku.

Koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 



June 16, 2025

Katalog Naskah Bugis-Makassar

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyimpan ribuan naskah kuno dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk koleksi langka berbahasa Bugis-Makassar yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan. Sedikitnya 127 judul naskah kuno dalam bahasa tersebut telah dikatalogkan, menjadikannya sebagai salah satu khazanah budaya tulis paling penting dari kawasan timur Nusantara.

Naskah-naskah ini ditulis dalam beragam aksara tradisional seperti Lontaraq Sulapaq Eppaq, Jangang-jangang, Arab Serang, hingga aksara Latin. Media penulisan pun bervariasi, mulai dari lontar, daluang, hingga kertas, yang menggambarkan dinamika dan perkembangan peradaban tulis masyarakat Bugis-Makassar sejak masa lampau.

Dalam katalog resmi Perpusnas, tercatat sejumlah karya monumental, antara lain Sureq Baweng, Assitanga Bicaranna Arung Palakka, Sejarah Bone dan Hukum, Perjanjian Bongaya, hingga berbagai versi dari karya epik La Galigo—sebuah naskah panjang yang oleh banyak sarjana dianggap sebagai salah satu epos terbesar di dunia.

Tak hanya berisi karya sastra dan sejarah, koleksi ini juga memuat catatan harian, ilmu falak, mantra, doa-doa, hingga naskah keagamaan seperti terjemahan Al-Qur’an, syariat Islam, dan ajaran tarekat. Beberapa judul seperti Nur Al-Hadi, Tarekat Khalwatiah Samman, hingga Fath Ar-Rahman menunjukkan kedalaman spiritual masyarakat Bugis-Makassar sejak berabad-abad lalu.

Menurut data katalog, beberapa naskah penting di antaranya adalah:

  • VT 81-01: Assitanga Bicaranna Arung Palakka

  • VT 125 J: La Galigo

  • NB 2605: Catatan Harian tentang Kerajaan Bone

  • NB 2612: Tarekat Khalwatiah Samman

  • A 620: Fath Ar-Rahman

Buku Katalog Naskah Bugis-Makassar Koleksi Perpustakaan Nasional RI dapat diakses secara digital melalui https://ipusnas2.perpusnas.go.id. Koleksi ini tidak hanya menjadi sumber kajian filologi dan sejarah, tapi juga pintu menuju pemahaman lebih dalam mengenai identitas, nilai, dan peradaban masyarakat Bugis-Makassar


Katalog Naskah Bugis-Makassar Koleksi Perpustakaan Nasional RI
Penulis: Anggraini Abu, Munasriana 
Buku Katalog Naskah Bugis-Makassar Koleksi Perpustakaan Nasional RI
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tempat Terbit: 2023 
ISBN: 978-623-313-781-2

June 10, 2025

I Tolok Dg. Magassing, Si Pitung dari Makassar

 


Judul:                           I Tolok Daeng Magassing, Si Pitung dari Tanah Mangkasara

Penulis:                        Zainuddin Tika, Adi Suryadi Culla, Hamzah Daeng Temba

Editor:                          Dr. H. Abd. Rahim, S.E., M.Pd. & H. Abd. Haris Daeng Ngasa

Penerbit:                     Dinas Perpustakaan Kota Makassar

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    148

ISBN:                            -

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Nama tokoh ini, I Tolok Daeng Magassing mungkin tidak banyak dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Kemungkinan hanya dikenal disekitar kota Makassar dan Gowa. Itupun hanya orang orang tua zaman dulu saja. Inilah yang menjadi alasan utama dari penulis (3 orang) untuk mendokumentasikan tokoh ini dalam bentuk buku. Diharapkan agar generasi muda akan lebih banyak mengenal tokoh tokoh bersejarah, pahlawan, maupun tokoh yang kontroversi di masa lalu.

Ada 2 bagian buku ini, bagian pertama adalah kisah hidup I Tolok Dg. Magassing dan bagian kedua adalah kisah I Maddi Dg. Rimakka. Buku ini tanpa ada pendahuluan maupun kata pengantar. Hanya ada Sekapur Sirih sebagai pengantar. Kisah pertama tentang I Tolok Dg. Magassing. Tokoh ini hidup pada berjuang pada awal abad ke-20 dan dianggap sebagai pejuang, berasal dari kampung Parapa, yang berjuang melawan penjajahan. Caranya berjuang termasuk unik, karena secara gerilya masuk hutan, dan menghadang pasukan Belanda dan menyerangnya, atau bersama kelompoknya yang berjumlah 40 orang merampok orang Belanda atau pribumi yang pro-Belanda, dan kemudian hasil rampokannya dibagikan kepada rakyat miskin. Orang Belanda menyebutnya Pagorra Patampuloa (perampok yang beranggotakan 40 orang).

I Tolok ini mirip dengan si Pitung dari Betawi yang terkenal, sama dengan Robinhood yang juga berjuang dengan cara merampok dan kemudian membagi hasil rampokannya kepada rakyat miskin. I Tolok menguasai seni beladiri pencak silat. Perjuangannya didukung oleh raja Gowa ke-34 yaitu I Makkulau Dg. Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Muhammad Hussein.

Setelah kelompok I Tolok Dg. Magassing meledakkan dan merampok kereta api dari Takalar ke Makassar, Belanda semakin gusar dan membuat sayembara penangkapan I Tolok. Meskipun rakyat lebih banyak yang membela I Tolok, namun pengkhianatan anak buah I Tolok yang menyebabkan dia akhirnya ditangkap oleh pasukan Belanda. I Tolok dan kedua teman seperjuangannya yaitu I Basareng dan I Rajamang dihukum tembak mati oleh pasukan Belanda. Jenazah ketiga pejuang tersebut kemudian diarak keliling kampung oleh Belanda untuk menakuti para pejuang lainnya. I Tolok kemudian di makamkan di kampungnya sendiri yaitu kampung Parapa.

Kisah kedua dalam buku ini adalah I Maddi Dg. Ri Makka seorang pejuang juga. I Maddi juga berjuang sezaman dengan I Tolok yaitu pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. I Maddi memiliki ilmu kekebalan tubuh dan menguasai seni beladiri pencak silat, sehingga dia dengan mudah masuk menjadi anggota Prajurit Kerajaan Gowa pada posisi Pengawal Pribadi Raja Gowa atau dikenal dengan istilah Paklapak Barambangna Sombayya ri Gowa. Sebagai pengawal pribadi, I Maddi sering konflik dengan pasukan Belanda yang selalu ingin turut campur urusan kerajaan, sehingga I Maddi bersama para pengikutnya memberontak terhadap penjajah Belanda.

Pasukan Belanda yang semua dilengkapi dengan senjata akhirnya dapat menangkap I Maddi, dan memenjarakannya selama beberapa tahun. Selama I Maddi dipenjara, Belanda semakin leluasa mencapuri urusan kerajaan Gowa, karena tidak ada lagi penghalangnya.

I Maddi menjalani hukum penjara selama beberapa tahun, lalu kemudian dilepaskan. Bebas dari penjaara, Raja Gowa kemudian mengembalikan I Maddi ke kampung halamannya yaitu Binamu. Di kerajaan Binamu, I Maddi juga bertugas sebagai pengawal pribadi Karaeng  Binamu yang juga merupakan paman I Maddi yang bernama Karaeng Bonto Tangnga. Namun kemudian terjadi konflik antara I Maddi dengan pamannya, Karaeng Binamu. I Maddi kemudian meninggalkan Binamu dan diangkat menjadi Raja Turatea.

Kerajaan Binamu dan Turatea pada awalnya bersahabat, namun karena politik Belanda yang suka memecah belah, akhirnya terjadi konflik diantara kedua kerajaan. Puncaknya adalah terbunuhnya I Maddi oleh serangan tombak sekutu Karaeng Bonto Tangnga. I Maddi kemudian dimakamkan di Tonro Kassi, Kecamatan Tamalate.

Buku ini memuat kisah dua pejuang yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Sulawesi Selatan yaitu I Tolok Dg. Magassing dan I Maddi Dg. Ri Makka. Kedua kisah ini dapat menambah pengetahuan para generasi muda tentang kisah hidup dan perjuangan tokoh zaman dahulu.  Sayangnya, buku ini banyak sekali typo atau salah ketik. Illustrasi gambarnya banyak yang tidak sesuai topik yang ditampilkan.

Buku koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




June 4, 2025

Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang


Dalam khazanah budaya Bugis, terdapat sebuah tradisi lisan yang sarat makna spiritual dan historis, dikenal dengan nama Lontara Matutu. Istilah ini berasal dari akar kata tuttung dalam bahasa Bugis, yang berarti “membaca”, sebagaimana dalam ungkapan narituttunngi surekna, yang berarti "dibacakan suratnya." Maka, Matutu secara harfiah dapat dimaknai sebagai tindakan membaca lontara, yakni manuskrip beraksara Bugis yang memuat pelbagai nilai, termasuk ajaran tentang kematian.

Tradisi Matutu dahulu sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Pinrang, Sulawesi Selatan, terutama dalam konteks menghadapi duka. Ketika seseorang wafat, keluarga dan masyarakat akan melantunkan teks-teks Matutu sebagai bagian dari prosesi perpisahan. Namun seiring waktu, tradisi ini perlahan memudar dan kini hanya bertahan di lingkungan terbatas, seperti komunitas pesantren di Kaballangan.

Informasi mengenai tradisi ini dapat ditemukan dalam sebuah flyer berjudul Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang, yang merupakan salah satu koleksi dari Layanan BI Corner Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam flyer tersebut dijelaskan bahwa Matutu bukan sekadar pembacaan teks, melainkan dilantunkan dalam bentuk nyanyian kelompok, di mana para lelaki dan perempuan bergantian menyanyikan syair yang mengandung petuah spiritual. Biasanya, nyanyian ini dimulai pada malam pertama setelah penguburan, seusai ceramah takziah, dan berlangsung hingga larut malam—bahkan hingga fajar menyingsing.

Tidak ada kewajiban untuk menuntaskan seluruh teks dalam satu malam; yang utama adalah proses perenungan yang disampaikan dengan kelembutan dan ketenangan hati. Menurut kesaksian salah seorang pembaca Matutu, yang mengenang pengalaman masa kecilnya, nyanyian ini dahulu dilangsungkan selama tiga malam, tujuh malam, bahkan sampai empat belas malam, tergantung pada tradisi keluarga dan semangat pelantunnya.

Teks Matutu berisi nasihat-nasihat mendalam mengenai kematian dan kehidupan setelahnya. Ia mengajak para pendengarnya untuk menyadari kefanaan dunia, dan menyiapkan diri menghadapi hari akhir. Diceritakan pula tentang detik-detik perpisahan antara roh dan jasad—momen yang senantiasa mengejutkan meskipun telah berkali-kali terjadi. Dalam syair-syair ini termuat pula ungkapan-ungkapan bernuansa sufistik, yang mencerminkan pemahaman tarekat yang berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat Bugis.

Yang menarik, ajaran tarekat dalam tradisi ini tidak disampaikan secara elitis atau eksklusif. Sebaliknya, ia ditawarkan secara terbuka melalui simbol-simbol budaya, seperti nyanyian Matutu itu sendiri. Inilah bentuk dakwah yang halus namun mendalam: mengajak masyarakat mengenal kematian, bukan dengan ratapan, melainkan dengan perenungan. Matutu menolak ekspresi duka yang berlebihan. Sebagai gantinya, ia menawarkan jalan untuk mengendalikan kesedihan dengan mengenali makna kematian lewat syair-syair yang menguatkan jiwa.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam berbagai tradisi daerah lain di Indonesia. Misalnya, Male-Male di Ciacia, Andung pada masyarakat Batak Toba, Munaba di Waropen, Papua, Katoneng-Katoneng dalam upacara adat Karo, hingga Hau dalam ritual kematian di lingkungan Buddhis Go Hock Keng. Bahkan, dalam tradisi Kristen Aluk Todolo di Toraja, nyanyian kematian juga memegang peran sentral. Semua ini menunjukkan bahwa nyanyian kematian adalah warisan budaya lintas etnik yang berakar pada spiritualitas dan kemanusiaan.

Dalam konteks keagamaan, nyanyian ini merupakan ekspresi iman dan bentuk penghormatan terhadap takdir kehidupan. Di sisi lain, secara kemanusiaan, ia menjadi sarana solidaritas, empati, dan pengingat akan kefanaan. Maka tak heran jika nyanyian-nyanyian ini menciptakan ruang untuk refleksi spiritual, sekaligus mempererat ikatan sosial. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, Matutu dan tradisi serupa menjadi jangkar yang meneguhkan nilai-nilai etika dan spiritual, sekaligus menandai kesinambungan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.


Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang
Penyusun: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX
Tahun Terbit: 2024

Ramang Legenda Sepakbola Nasional asal Makassar

 


Judul:                           Ramang, Macan Bola

Penulis:                        M. Dahlan Abubakar

Editor:                         -

Penerbit:                     Identitas, Universitas Hasanuddin Makassar

Tahun Terbit:             2011

Jumlah Halaman:    cix + 523

ISBN:                            9789790431843

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Nama ”Ramang” sudah sangat populer dan melegenda di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan sekitarnya. Bahkan di Indonesia, karena pernah menjadi anggota tim Sepakbola Olimpade Indonesia yang berlaga di Olimpiade Melbourne, Australia 1956. Tim Indonesia waktu itu mengguncang dunia persepakbolaan dunia, karena berhasil menahan tim Uni Soviet dengan 0 – 0 pada perempat final Sepakbola Olimpiade XVI di Melbourne.   

Mungkin tidak ada yang tidak kenal namanya sebagai anggota tim sepakbola PSM (Persatuan Sepak Bola Makassar). Bahkan namanya menjadi sebuah frasa atau istilah yang biasa merujuk ke seseorang yang sudah mulai berkurang kekuatan atau prestasinya karena usia yang menua. Orang orang akan menyebutnya ‘toa mi Ramang’ (‘Ramang sudah tua’), meskipun faktanya beliau telah wafat sejak 1987, namun istilah itu masih digunakan sampai sekarang.  

Buku ini cukup tebal, halaman pendahualuannya (preliminer) saja ada 109 halaman, ditambah halaman utamanya 523 halaman. Bagian awal diisi dengan sambutan sambutan, mulai dari sambutan penulis, M. Dahlan Abubakar, Penyair Toha Muhtar, Jusuf Kalla, Andi Alfian Mallarangeng (Menteri Pemuda & Olahraga, waktu diterbitkan buku ini), dan Walikota Makassar yang sekaligus Ketua Umum PSM Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Bagaimana penulis memburu para narasumber penulisan, juga diuraikan pada bagian awal.   

Pembahasan utama terdiri dari 4 bagian, dimana bagian pertama adalah Rekam Jejak. Diuraikan pada bagian ini masa kecil Ramang di Sumpang BinangaE Barru, kelahirannya tanggal 24 April 1928, tentang keluarganya, kebiasannya main bola dengan menggunakan jeruk, bola gulungan kain karung, dan bola rotan, dan awal masuknya ke klub Sepakbola di Barru.

Atas ajakan Mayjen H. A. Mattalatta, Ramang kemudian pindah ke Makassar dan pada 1947 mulai bergabung dengan PSM yang pada masa itu namanya MVB (Makassar Voetbal Bond). 1952 Ramang ke Jakarta untuk berlatih karena menggantikan pemain lain yang sakit, dan akhirnya masuk tim inti PSSI. 1954 PSSI melawat ke berbagai negara Asia yaitu Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia, dimana PSSI memenangkan seluruh pertandingan tersebut. Dari keempat laga tersebut tim PSSI berhasil menciptakan 25 gol, dan 19 diantaranya lewat kaki Ramang.

Karir Ramang sebagai Pelatih juga dibahas. Ramang pernah menjadi pelatih PSM Makassar, PSBI Blitar dan PersiPal Palu. Disebutkan juga, Ramang pernah melatih di Bau Bau Buton Sulawesi Tenggara.

Ramang wafat di rumahnya yang sederhana di Jalan Andi Mappanyukki Makassar pada 26 September 1987 akibat penyakit paru paru yang dideritanya, dan dimakamkan di TPU Panaikang Makassar. Untuk mengabadikan namanya, patung Ramang pernah menghiasi salah satu pintu gerbang lapangan Karebosi, namun diruntuhkan pada saat program Revitalisasi Karebosi. Rencananya Pemda Kota Makassar akan membangun penggantinya di Stadion Barombong.

Bagian kedua adalah Kisah (tentang) Mereka, mengulas pengalaman para mantan pemain PSM yang pernah dilatih oleh Ramang, dan yang pernah bermain bersama Ramang di klub PSM. Mereka yang berkisah antara lain Baco Ahmad, Dony Pattinasarani, Harry Tjong, Keng Wie, Kusnadi Kamaluddin, Machful Umar, Maulwi Saelan, M. Basri, Najib Latandang, Piet Tio, Syamsuddin Umar dan lain lain.

Pada bagian ketiga yang diberi judul ‘Dokumen Terlacak’ berisi pengalaman pengalaman Ramang sebagai pemain bola baik di PSM maupun di PSSI, pelatih, kepala keluarga, prestasi PSM dan berbagai topik lainnya. Bagian terakhir adalah Testimoni dari orang orang yang pernah berinteraksi dengan Ramang, ada pemain PSM, wasit sepakbola, dan lain lain.

Buku ini sangat lengkap membahas tentang pesepakbola legend asal Makassar, Ramang. Mulai dari riwayat hidupnya, permainannya, debutnya di kancah Nasional, prestasinya, kepelatihannya bahkan testimoni dari orang yang pernah bersama beliau. Namun karena ditulis oleh seorang jurnalis, bahasanya lebih informatif daripada literer. Dokumentasi fotonya juga kurang sehingga pembaca yang lebih suka visual mungkin merasa terlalu datar. Dinamika persepakbolaan nasional pada masa itu juga tidak terlalu banyak dibahas.  

Buku ini Koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.