Showing posts with label Budaya Bugis. Show all posts
Showing posts with label Budaya Bugis. Show all posts

November 24, 2025

Lontarak Pannessaenngi Bettuwanna Nippie

 


Judul                            : Lontarak Pannessaenngi Bettuwanna Nippie (Lanjutan)

Penulis                         : H. Ahmad Yunus, Pananrangi Hamid, Pammusu Raja, Tatiek Kartikasari

Penerbit                      : Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya Pusat - Jakarta

Tahun Terbit                : 1995

Bahasa                         : Bugis / Indonesia

Jumlah Halaman       : viii + 110

ISBN                               : -

Penulis Resensi           : Suharman, S.S., MIM.

Salah satu konsepsi pengetahuan budaya Bugis dari masa lampau yang masih ada sampai sekarang adalah konsepsi budaya yang berkaitan dengan tafsir atau takwil atau arti mimpi. Cukup banyak naskah kuno Bugis yang membahas tentang mimpi dan takwilnya, namun hanya sedikit yang telah diteliti dan dianalisis untuk ditulis ulang dalam bentuk buku. Salah satu nilai budaya Bugis berupa takwil mimpi dari naskah kuno Lontaraq telah terwujud dalam bentuk buku ini.

Konsepsi pengetahuan budaya masyarakat Bugis dimasa lampau, tertuang dalam bentuk takwil mimpi dalam naskah Lontara Pannessaenngi Bettuwanna Nippie. Dalam masyarakat Bugis, mimpi itu terbagi menjadi 2 jenis, yaitu mimpi yang tak punya takwil, yaitu mimpi tentang sesuatu yang ilusif, bayangan semu tanpa makna apa apa, yang kemungkinan karena pengaruh setan. Jenis mimpi ini disebut kaita-ita atau katulu-tulu dalam bahasa Bugis. Adapun jenis kedua, yaitu mimpi yang memiliki takwil atau makna. Jenis mimpi ini disebut nippi dalam bahasa Bugis. Jenis mimpi ini diyakini sebagai suatu petunjuk dari Allah Subhana Wataala kepada umat manusia.

Karena buku ini adalah hasil dari suatu proyek yaitu “Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya”, maka isinya juga disusun sesuai tatanan aturan suatu karya ilmiah. Para penulis buku ini membaginya menjadi 5 bab dengan diawali Prakata dari Pimpinan Proyek (Drs. Soimun), kemudian Sambutan dari Direktur Jenderal Kebudayaan waktu itu, yaitu Prof. Dr. Edi Sedyawati.

Selanjutnya, ada Pendahuluan di bab pertama yang berisi Latar Belakang dan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Ruang Lingkup, Metodologi, dan Pertanggungjawaban Penulisan. Pada bab II, Alih Aksara, yaitu dari sumber aksara Lontaraq pada naskah kuno, yang kemudian dialih-aksarakan menjadi aksara Latin pada buku ini. Sedangkan bab III adalah alih bahasa yaitu dari bahasa sumber Bugis dialih-bahasakan menjadi bahasa Indonesia.

Bab IV yaitu Kajian Isi Lontaraq dan Relevansinya dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional. Bab ini dibagi menjadi beberapa sub bagian yaitu analisa isi naskah, kajian nilai tradisional dan isi Lontaraq serta relevansi dan peranan Lontaraq dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Bagian terakhir buku ini ditutup dengan Bab Kesimpulan dan Saran, serta daftar pustaka bahan rujukan dalam penyusunan buku ini. 

Tercatat dalam buku ini ada 249 takwil mimpi yang semua ditulis dalam aksara Latin dan dalam dua bahasa yaitu Bugis dan Indonesia. Sayang sekali karena buku tua, ada 1 lembar yang sudah hilang, halaman 1 – 2. Buku ini pun adalah buku “lanjutan” artinya ada buku ‘pendahulu’nya atau edisi pertamanya, namun saya tidak menemukannya. Isi halaman bukunya juga sudah lepas dari sampulnya, sehingga sangat perlu direstorasi dan dikonservasi agar tetap dapat digunakan dalam pembinaan nilai nilai budaya tradisional khususnya Bugis. Buku ini juga jenis koleksi lokal yang sudah tidak terbit lagi, sehingga masyarakat kesulitan untuk membeli atau memiliki buku ini.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




October 7, 2025

Senjata Pusaka Bugis, Pamor dan Landasan Spiritual

 


Judul:                               Senjata Pusaka Bugis, Pamor dan Landasan Spiritual

Penulis:                            Ahmad Ubbe, Andi M. Irvan Zulfikar & Dray V. Senewe

Editor:                              Jimmy S. Harianto

Penerbit:                         PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:                 2011

Jumlah Halaman:        366

ISBN:                                978-979-22-7729-6

Penulis Resensi:            Suharman, S.S., MIM.

Bagi orang Bugis, badik memiliki makna yang sangat dalam. Masyarakat Bugis menganggap badik bukan sekedar senjata, namun juga menjadi simbol kehormatan, identitas dan harga diri (siri’). Orang Bugis zaman dulu membawa badik kemana pun mereka pergi, terutama jika melakukan perjalanan jauh. Selain untuk melindungi diri dari ancaman dan bahaya, juga biasanya dijadikan alat ‘penegak’ kehormatan jika merasa harga dirinya dilecehkan. 

Buku ini secara lengkap membahas tentang senjata pusaka tradisional Bugis, yang biasa disebut polo bessi. Segala hal yang berkaitan dengan senjata pusaka Bugis dibahas dalam buku ini, misalnya hubungannya dengan kebudayaan, strata sosial di masyarakat, masa kini, dan kekuatan dan landasan spritualnya.

Selain itu dijelaskan pula tentang pamor senjata pusaka tradisional Bugis, yaitu bentuk dasar, motif dan pola pola pamornya. Diuraikan juga dalam buku ini bahwa, gajang di terjemahkan sebagai ‘keris’,  kawali = badik, bessie = tombak, alameng = kelewang. Semua senjata tradisional ini juga lazim digunakan oleh ke empat suku bangsa di Sulawesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Setidaknya keempat suku ini memiliki kesamaan pada bilah senjata tradisionalnya.

Penelitian dan penyusunan buku ini juga menjadikan naskah Lontara sebagai bahan rujukan. Disebutkan dalam Lontara tentang tanda baik dan buruknya (sisi’) keris, badik, pedang dan parang.

Ternyata pada senjata tradisional Bugis terdapat corak atau motif yang disebut ‘pamor’. Disebutkan dalam Lontara nama dan arti Pamor pada keris, badik, pedang, dan parang. Misalnya kalau pamornya ‘La Ulengtepu’ (si bulan purnama) artinya ‘panjang umur’. Sedangkan yang pamornya ‘La Te’keana’ (si mandul) artinya ‘pemakainya tidak berketurunan’. Adapun pamor ‘Rakkapeng ri Ponna’ (anai anai di ujung bilah) artinya ‘berumur panjang’.

Buku ini dihiasi dengan ilustrasi foto foto yang sangat indah. Foto dokumentasi ini merupakan koleksi The Bugis Makassar Polo Bessi Club. Daftar Pustaka yang menjadi bahan rujukan penulisan buku ini juga sangat lengkap, mulai dari buku dengan penulis lokal Sulawesi Selatan seperti Mattulada, Fahruddin Ambo Enre, Abu Hamid, Halilintar Lathif, dan lain lain. Ada juga Penulis berskala nasional sampai penulis luar negeri juga ada seperti Leonard Andaya, Anthony Reid, Roger Toll, David van Duurens, Christian Pelras dan lain lain. Selain buku, ada naskah Lontara yang dijadikan bahan referensi. Koran juga dijadikan bahan rujukan, dan untuk memperkuat data wawancara dengan tokoh kebudayaan juga dilakukan.

Buku ini mengulas secara detail berbagai aspek senjata pusaka Bugis (Polo Bessi) mulai dari sejarah pembuatan, teknik pembuatan, pamor, jenis jenis senjata tradisional, termasuk juga aspek spiritual dan sosial budayanya. Foto foto dokumentasinya juga sangat jelas sehingga membantu pembaca memahami berbagai macam pamor pada senjata pusaka Bugis.

Meskipun buku ini ada kata Bugis pada judulnya, namun pada dasarnya senjata tradisional yang dibahas memiliki kesamaan pada empat suku yang ada di Sulawesi Selatan. Bahkan sebagian foto yang dijadikan ilustrasi buku adalah foto dari istana kerajaan Gowa (suku Makassar). Buku ini juga tebal, berat, hardcover (sampul tebal) dan ‘mewah’ sehingga mungkin masyarakat biasa mungkin akan kesulitan untuk memilikinya. Indeks tidak tersedia dalam buku ini sehingga pembaca mungkin kesulitan jika membutuhkan informasi topik tertentu.

Buku ini koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



October 6, 2025

Glosarium Petuah Leluhur Bugis

 


Judul:                             Glosarium Petuah Leluhur Bugis

Penulis:                          Faisal, Arisal & Syamsul Rijal

Editor:                            Muhlis Hadrawi

Penerbit:                       Ininnawa, Makassar

Tahun Terbit:               2022

Jumlah Halaman:      xviii + 181

ISBN:                              9786026176998

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan termasuk salah satu suku / ethnis yang memiliki kekayaan tradisi budaya lisan. Tradisi lisan ini termasuk diantaranya adalah petuah petuah leluhur atau pesan pesan (ppsE), ungkapan, peribahasa dan pepatah dari nenek moyang suku Bugis dari masa silam. Sebagian terekam dalam naskah Lontara, sebagian lagi dituturkan secara oral dari generasi ke generasi.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan berusaha mengumpulkan dan melestarikan nilai nilai budaya ini. Petuah petuah leluhur ini kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku. Buku inilah yang menjadi wujud akhir dari upaya pelestarian nilai budaya Bugis tersebut.

Buku ini diawali dengan kata pengantar dari Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, kemudian kata pengantar dari Penulis dan Editor serta pendahuluan. Selanjutnya isi pokok pembahasan yaitu kumpulan petuah, pepatah, pesan pesan dari leluhur Bugis di masa lampau, yang diurutkan sesuai abjad, mulai dari “A” sampai “Y”. Dalam buku ini, tidak ada entri untuk F, H, Q, V, W, X dan Z.

Ada ratusan petuah, ungkapan, dan pesan pesan leluhur Bugis yang berhasil dikumpulkan oleh tim, yang berhasil di kumpulkan dalam buku ini. Petuah dan ungkapan tersebut disusun secara alfabetis sesuai huruf awal petuah atau ungkapan tersebut. Misalnya entri awal dibawah huruf “A” adalah ‘Ada-adatta’mi nariasekki tahu’ ( adadtmi nriasEki tahu ) yang artinya dalam bahasa Indonesia ‘hanya berdasarkan perkataan seseorang dapat disebut manusia’. Jumlah entri untuk “A” ini yang paling banyak dibanding dengan entri “B”, “C” dan seterusnya. Selain petuah, ada juga banyak larangan atau hal hal yang tidak boleh dilaksanakan dalam suatu komunitas yang tercantum dalam entri “A” ini.

Petuah petuah ini ditulis atau dicetak dalam aksara Lontara Bugis, kemudian alih-aksara ke dalam aksara Latin untuk cara bacanya, kemudian artinya dalam bahasa Indonesia dan terakhir penjelasan tentang petuah, atau pesan pesan tersebut.

Penjelasan setiap entri petuah atau ungkapan ini sangat membantu pembaca dalam memahami arti sebenarnya petuah atau ungkapan Bugis tersebut. Bahkan orang asli Bugis pun, terutama generasi muda kemungkinan besar tidak mengerti dan tidak memahami arti setiap petuah dan ungkapan yang ada dalam buku ini. Bagian ‘penjelasan’ inilah yang diperlukan oleh pembaca agar mampu memahaminya.

Buku yang memuat ratusan petuah dan ungkapan Bugis ini menggunakan bahasa Bugis yang dapat mudah dipahami oleh orang orang Bugis dari daerah manapun. Meskipun bahasa Bugis itu sendiri memiliki beberapa varian yang berbeda untuk kosa kata tertentu, tergantung dari daerah mana berasal. Misalnya ada daerah yang menyebut “ogi” ada juga yang menyebut “ugi” untuk kata “Bugis”. Ada juga yang menyebut “Ceddi” dan yang lain menyebut “seddi” untuk angka 1. Namun dalam percakapan sehari hari semua saling memahami satu sama lainnya.

Kekurangan buku ini adalah tidak adanya nomor untuk setiap entri. Buku ini juga tanpa illustrasi, gambar atau foto foto yang bisa menambah daya tarik suatu buku. Akan lebih memudahkan lagi bagi pembaca seandainya ada Indeks pada buku ini. Indeks memudahkan pembaca dalam mencari topik tertentu yang ingin dibaca.

Buku ini koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



June 19, 2025

Suku Bugis, Pewaris Keberanian Leluhur

 



Judul:                          Suku Bugis, Pewaris Keberanian Leluhur

Penulis:                       Juma Darmapoetra

Editor:                         Aquarich

Penerbit:                    Arus Timur Makassar

Tahun Terbit:            2014

Jumlah Halaman:   viii + 128

ISBN:                           9786029057720

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Penulis buku ini adalah alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berasal dari Sumenep Madura. Menurut penulis, suku Bugis sangat menekankan adanya hubungan yang harmonis dengan sesama dalam kehidupan sehari hari. Suku Bugis juga dikenal sebagai pemberani dalam memperjuangkan haknya, sehingga dijuluki sebagai pewaris keberanian leluhur, sebagaimana judul buku ini.

Suku Bugis adalah suku bangsa yang menghuni sebagian besar daratan Sulawesi bagian Selatan. Selain itu hampir semua pulau dan provinsi di Indonesia juga dihuni oleh orang orang Bugis, termasuk di negeri jiran, Singapura, Malaysia, Brunei dan lain lain.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian, diawali dengan gambaran umum suku Bugis, dilanjutkan dengan sejarahnya, termasuk bagaimana suku Bugis dimasa kerajaan, konflik antar kerajaan, pada masa penjajahan Belanda dan masa masa kemerdekaan.

Suku Bugis dan kepercayaan yang dianutnya, dibahas pada bagian kedua. Pada bagian ini, diuraikan tentang kepercayaan orang Bugis pada masa pra-Islam dan pada masa setelah masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Aksara dan bahasa Bugis yang digunakan oleh orang orang Bugis. Aksara yang digunakan adalah aksara Lontara Sulapa Eppa atau Lontara Segi Empat yang merupakan simbol arah mata angin atau simbol 4 unsur utama kehidupan yaitu air, api, angin dan tanah.

Mata pencaharian orang Bugis yang sebagian besar adalah petani dan nelayan. Semangat kebaharian orang Bugis juga dibahas, dan disebutkan pula tentang hukum pelayaran dan perdagangan Bugis yang terkenal yaitu Ade Allopi-loping bicaranna pabbaluE yang disusun oleh Amanna Gappa pada abad ke-17.

Adat pernikahan suku Bugis juga diuraikan secara ringkas dalam buku ini. Sebelum pernikahan ada prosesi Lamaran, mengantar mahar, acara pernikahan dan lain lainnya. Ada pula tradisi Sabung Ayam, tradisi lainnya dan Pamali. Demikian pula jenis kesenian yang ada diantara orang orang Bugis. Ada alat musik, kecapi, suling, gendang atau ganrang. Berbagai jenis pakaian adat, tari-tarian menyambut tamu, dan senjata khas Bugis.

Jenis jenis perahu atau alat transportasi air juga diulas dalam buku in, misalnya pinisi, perahu pajala atau palorani, lambok, pa’dewakkang, sandeq, sampan, soppeng dan jarangka. Semangat melaut dan merantau orang Bugis telah menguatkan dan mengukuhkan suku Bugis dalam hal bertahan hidup terhadap perubahan.

Dalam buku ini diulas pula tentang falsafah hidup orang Bugis termasuk nilai dan tatanan tertentu yang telah menjadi bagian integral kehidupan masyarakat Bugis, misalnya Siri’ na Pacce, serta empat konsep utama dalam kehidupan mereka yaitu, keberanian (warani), kekayaan (asugireng), kejujuran (lempu’), dan kepintaran (amaccangeng).

Buku ini menyajikan ulasan yang mendalam tentang Suku Bugis, kelompok etnis terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Suku Bugis dikenal karena keberanian, kehormatan, dan daya juang mereka. Melalui pendekatan naratif dan reflektif, Juma Darmapoetra mengangkat nilai-nilai budaya Bugis yang diwariskan secara turun-temurun, dengan fokus utama pada sikap keberanian sebagai identitas utama suku ini. Tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga berani dalam merantau, dalam prinsip hidup, dan dalam mempertahankan harga diri (siri’) dan rasa empati (pesse).

Buku ini minim sumber referensi akademik, hanya ada 3 sumber referensi tercetak, lainnya berasal dari sumber informasi daring (online). Pemaparan topik pembahasan juga tidak terlalu sistematis. Illustrasi dan dokumentasi foto atau gambar pendukung sangat minim.

Buku Koleksi layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.



Perkawinan Bugis

 



Judul:                                Perkawinan Bugis

Penulis:                             Susan Bolyard Millar

Editor:                               -

Penerbit:                          Ininnawa, Makassar

Tahun Terbit:                  2009

Jumlah Halaman:        xxv + 288

ISBN:                                9786029523133

Penulis Resensi:           Suharman, S.S., MIM.

Buku yang membahas khusus tentang perkawinan suku Bugis sangat langka ditemukan. Buku ini adalah salah satu yang membahas perkawinan Bugis secara mendalam dan lengkap. Berbagai topik yang muncul sekitar perkawinan dalam suku Bugis dibahas satu persatu dalam buku ini. Mula dari pesta, ritual, hingga teks undangan diuraikan secara rinci. Bahkan aspek sosial politik suatu perkawinan juga dijelaskan dalam buku ini.

Terbagi menjadi 3 bagian, dan 8 bab,  diawali dengan pengantar alih bahasa, karena aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan (dialihbahasakan) kedalam bahasa Indonesia. Dilanjutkan dengan Pengantar penerbit, Prakata dan ucapan terimakasih penulis.

Pada bagian pertama diuraikan tentang latar belakang dan profil Sulawesi Selatan termasuk gambaran geopolitik, ekonomi dan politik Sulawesi Selatan. Organisasi Sosial dan jaringan kekerabatan orang Bugis dan jaringan Tau Matowa dalam sejarah Bugis juga di jelaskan secara rinci pada bagian pertama ini.

Mekanisme perkawinan Bugis diulas pada bagian kedua. Pada bagian ini dijelaskan tentang mekanisme perkawinan  misalnya bagaimana pesta perkawinan menjadi arena untuk menunjukkan status sosial. Prosedur perkawinan dan interaksi simbolis yang terjadi pada pesta perkawinan Bugis, dibahas pula pada bagian ini.

Millar (penulis) juga membahas tentang Studi Kasus yang ditelitinya selama tahun 1975 – 1976 di daerah Bugis terutama di kabupaten Soppeng. Bagaimana ritual-ritual pernikahan Bugis bukan sekadar seremoni personal atau keluarga, melainkan juga merupakan manifestasi simbolik dari posisi sosial, kehormatan, serta jaringan kekuasaan dalam masyarakat Bugis kontemporer.

Secara umum, buku ini memaparkan berbagai unsur dalam tradisi pernikahan Bugis, seperti: Penentuan jodoh yang melibatkan pertimbangan status sosial, genealogis, hingga kekayaan keluarga. Rangkaian tahapan upacara, mulai dari mappacci, akkorongtigi, hingga resepsi, yang sarat dengan makna simbolik. Peran penting keluarga dan komunitas, yang menandakan bahwa perkawinan adalah peristiwa kolektif, bukan hanya antar dua individu. Penggunaan simbol-simbol material, seperti pakaian adat, mahar, serta tata ruang, yang mencerminkan prestise dan pengaruh keluarga mempelai. Transformasi nilai-nilai tradisional dalam konteks modern, termasuk bagaimana masyarakat Bugis menegosiasikan antara adat, Islam, dan modernitas.

Penulis telah melakukan penelitian dan berpartisipasi langsung dalam berbagai upacara perkawinan Bugis terutama di Soppeng, sehingga data yang disajikan sangat kaya dan detail. Buku ini tidak sekadar menggambarkan upacara, tetapi juga menganalisis makna sosial di balik setiap praktik, menjadikannya bacaan yang reflektif dan kritis. Perkawinan Bugis yang dibahas dalam buku ini merupakan perpaduan Tradisi, Islam, dan Modernitas.

Sebagaimana karya tulis ilmiah yang diterbitkan menjadi buku, bahasa yang digunakan sangat akademik yang cenderung tidak mudah untuk dipahami bagi masyarakat umum, karena sangat formal dan teoritis.

Buku ini juga minim dokumentasi dan visualisasi fotonya. Illustrasi foto atau gambar akan memudahkan pembaca dalam memahami isi buku.

Koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.