Showing posts with label Senjata Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Senjata Tradisional. Show all posts

October 7, 2025

Senjata Pusaka Bugis, Pamor dan Landasan Spiritual

 


Judul:                               Senjata Pusaka Bugis, Pamor dan Landasan Spiritual

Penulis:                            Ahmad Ubbe, Andi M. Irvan Zulfikar & Dray V. Senewe

Editor:                              Jimmy S. Harianto

Penerbit:                         PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:                 2011

Jumlah Halaman:        366

ISBN:                                978-979-22-7729-6

Penulis Resensi:            Suharman, S.S., MIM.

Bagi orang Bugis, badik memiliki makna yang sangat dalam. Masyarakat Bugis menganggap badik bukan sekedar senjata, namun juga menjadi simbol kehormatan, identitas dan harga diri (siri’). Orang Bugis zaman dulu membawa badik kemana pun mereka pergi, terutama jika melakukan perjalanan jauh. Selain untuk melindungi diri dari ancaman dan bahaya, juga biasanya dijadikan alat ‘penegak’ kehormatan jika merasa harga dirinya dilecehkan. 

Buku ini secara lengkap membahas tentang senjata pusaka tradisional Bugis, yang biasa disebut polo bessi. Segala hal yang berkaitan dengan senjata pusaka Bugis dibahas dalam buku ini, misalnya hubungannya dengan kebudayaan, strata sosial di masyarakat, masa kini, dan kekuatan dan landasan spritualnya.

Selain itu dijelaskan pula tentang pamor senjata pusaka tradisional Bugis, yaitu bentuk dasar, motif dan pola pola pamornya. Diuraikan juga dalam buku ini bahwa, gajang di terjemahkan sebagai ‘keris’,  kawali = badik, bessie = tombak, alameng = kelewang. Semua senjata tradisional ini juga lazim digunakan oleh ke empat suku bangsa di Sulawesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Setidaknya keempat suku ini memiliki kesamaan pada bilah senjata tradisionalnya.

Penelitian dan penyusunan buku ini juga menjadikan naskah Lontara sebagai bahan rujukan. Disebutkan dalam Lontara tentang tanda baik dan buruknya (sisi’) keris, badik, pedang dan parang.

Ternyata pada senjata tradisional Bugis terdapat corak atau motif yang disebut ‘pamor’. Disebutkan dalam Lontara nama dan arti Pamor pada keris, badik, pedang, dan parang. Misalnya kalau pamornya ‘La Ulengtepu’ (si bulan purnama) artinya ‘panjang umur’. Sedangkan yang pamornya ‘La Te’keana’ (si mandul) artinya ‘pemakainya tidak berketurunan’. Adapun pamor ‘Rakkapeng ri Ponna’ (anai anai di ujung bilah) artinya ‘berumur panjang’.

Buku ini dihiasi dengan ilustrasi foto foto yang sangat indah. Foto dokumentasi ini merupakan koleksi The Bugis Makassar Polo Bessi Club. Daftar Pustaka yang menjadi bahan rujukan penulisan buku ini juga sangat lengkap, mulai dari buku dengan penulis lokal Sulawesi Selatan seperti Mattulada, Fahruddin Ambo Enre, Abu Hamid, Halilintar Lathif, dan lain lain. Ada juga Penulis berskala nasional sampai penulis luar negeri juga ada seperti Leonard Andaya, Anthony Reid, Roger Toll, David van Duurens, Christian Pelras dan lain lain. Selain buku, ada naskah Lontara yang dijadikan bahan referensi. Koran juga dijadikan bahan rujukan, dan untuk memperkuat data wawancara dengan tokoh kebudayaan juga dilakukan.

Buku ini mengulas secara detail berbagai aspek senjata pusaka Bugis (Polo Bessi) mulai dari sejarah pembuatan, teknik pembuatan, pamor, jenis jenis senjata tradisional, termasuk juga aspek spiritual dan sosial budayanya. Foto foto dokumentasinya juga sangat jelas sehingga membantu pembaca memahami berbagai macam pamor pada senjata pusaka Bugis.

Meskipun buku ini ada kata Bugis pada judulnya, namun pada dasarnya senjata tradisional yang dibahas memiliki kesamaan pada empat suku yang ada di Sulawesi Selatan. Bahkan sebagian foto yang dijadikan ilustrasi buku adalah foto dari istana kerajaan Gowa (suku Makassar). Buku ini juga tebal, berat, hardcover (sampul tebal) dan ‘mewah’ sehingga mungkin masyarakat biasa mungkin akan kesulitan untuk memilikinya. Indeks tidak tersedia dalam buku ini sehingga pembaca mungkin kesulitan jika membutuhkan informasi topik tertentu.

Buku ini koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



March 9, 2021

KEKUATAN GAIB SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN


Menurut pandangan orang Bugis, setiap jenis senjata tradisional didalamnya mempunyai kekuatan sakti. Kekuatan sakti ini dapat mempengaruhi kondisi, keadaan dan proses kehidupan pemiliknya. Pandangan masyarakat Bugis mempercayai bahwa jenis senjata tertentu akan mengakibatkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran bagi pemiliknya. Merekapun percaya akan adanya jenis senjata tertentu yang menimbulkan kemelaratan, kemiskinan, duka nestapa dan penderitaan bagi siapapun yang memiliki dan menyimpannya, sehingga timbul konsepsi budaya orang Bugis yang menyangkut kepercayaan akan adanya jenis senjata yang dianggap ideal disamping senjata yang membawa naas.

Kategori senjata yang ideal dan naas atau sial itu dapat dikenal melalui tanda-tanda fisik (motive/pamor) yang mencerminkan dalam senjata alameng, keris dan badik. Buku KEKUATAN GAIB SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN membahas 24 jenis alameng yang dianggap yang dianggap ideal dan yang tidak ideal di daerah Bugis. 

Sebagaimana halnya alameng, maka keris bagi orang Bugis dipandang sebagai senjata yang dipercayai mempunyai kekuatan sakti yang dapat membawa kemaslahatan disamping bencana. Jenis-jenis tappi' (keris) yang mempunyai sifat baik ada 46 jenis. Sedangkan kawali (badik) yang mempunyai fungsi religius ada 15 jenis.

Buku ini menjelaskan tentang senjata tradisional bagi orang Bugis bukan hanya semata-mata berfungsi sebagai alat perang ataupun alat berburu dan membela diri saja, akan tetapi juga mempunyai fungsi sosial-religius. Fungsi-fungsi senjata dalam konteks sosial religius dalam kehidupan orang Bugis telah terpatri dalam naskah kuno lontarak. Buku ini salah satu layanan koleksi deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KEKUATAN GAIB SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT 
SULAWESI SELATAN
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara Makassar
Tempat Terbit: Makassar


February 3, 2021

BADIK

(1) Panggulu; (2) Kallasa; (3) Badi/Bassi (bilah); (4) Banoang/Banua (warangka)

Badik adalah senjata tradisional suku Makassar, Bugis dan Mandar yang berukuran pendek, yang tidak hanya memiliki nilai fungsional, namun juga nilai artistik yang membawa kebanggaan tersendiri bagi pemegangnya. Badik terdapat dalam dua jenis yaitu yang mempunyai mata lurus dan yang berkeluk seperti keris. Bentuknya menyerupai tumbuk lada, tetapi panjang matanya antara 18-20 cm dengan tebal 2 cm.

Senjata ini juga dikenal oleh Patani di Thailand Selatan dengan nama badek. Bentuknya serupa badik Bugis, sehingga diduga badek Patani berasal dari Bugis. Hal ini berdasarkan pada tradisi merantau rakyat Bugis yang diwariskan secara turun menurun. Dengan tradisi itu, mereka selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain di sekitar nusantara, seperti Patani di Thailand. Perpindahan itu menyebabkan adanya pertukaran kebudayaan dari satu daerah dengan daerah yang lain terutama pada benda-benda peninggalannya.

Meskipun memiliki kemiripan, baik bentuk maupun namanya, tetapi tetap ada yang membedakannya dari masing-masing bentuk tersebut, seperti badik Makassar yang disebut badik sari karena memiliki bentuk kale (bilah) yang pipih. Batang perut yang buncit dan tajam, seperti cappa (ujung) yang runcing. Badik sari terdiri atas bagian pangulu (gagang badik), sumpa' kale (tubuh badik), dan bancang (sarung badik).

Lain halnya dengan Badik di Bugis yang disebut badik kawali. Seperti halnya kawali Raja (Bone) dan kawali Rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri atas bessi (bilah) yang pipih, bagian ujungnya yang agak melebar dan runcing. Sedangkan kawali luwu terdiri atas bessi (bilah) yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian-bagian: pangulu (ulu), bessi (bilah) dan warca (sarung).

Badek patani terbuat dari bahan besi, baja dan pamor. Panjang bilahnya antara 20-23 cm, belum termasuk ulunya. Senjata ini diberi sarung (warangka) kayu lunak sederhana yang dilapisi lempengan emas atau perak, begutu juga dengan ulunya. Bahkan ada pula ulu senjata ini dihiasi dengan permata.

Dalam masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara dikenal dua jenis badik, yaitu badik saroso dan badik pateha. Badik saroso dibuat dengan bahan pamor, diberi kayu berukir dan diberi sarung yang berlapis perak, sementara badik pateha dibuat dengan bentuk sederhana, terkadang tidak berpamor dan sarungnya terbuat dari kulit atau kayu biasa.

Pada umumnya, badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini berdasarkan pada budaya siri dengan makna untuk mempertahankan martabak suatu keluarga. Konsep siri sudah menyatu dengan tingkah laku, sistem sosial dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar. Selain itu, ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Adapula sebahagian orang yang menyakini, bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk.

Buku SENJATA KHAS NUSANTARA membahas tentang 46 jenis senjata tajam tradisional khas daerah-daerah di Indonesia, salah satunya BADIK. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SENJATA KHAS NUSANTARA
Penulis: Murni Irian Ningsih
Penerbit: CV. Alfarisi Putra
Tempat Terbit: Bandung 
Tahun Terbit: 2008