February 28, 2025

Silariang (Kawin Lari)

 



Judul:                           SILARIANG

Penulis:                        Zainuddin Tika & M. Ridwan Syam

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2005

Jumlah Halaman:        xiv + 304

ISBN:                            9793570148

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Topik utama pembahasa buku ini adalah Silariang. Silariang adalah istilah bahasa Bugis dan Makassar yang sepadan dengan ‘Kawin Lari’ dalam bahasa Indonesia. Silariang, menurut penulis buku ini, tidak hanya terjadi pada masyarakat Bugis dan Makassar, tapi hampir pada semua suku bangsa yang ada di Indonesia. Namun yang membedakannya adalah sanksi hukum adat yang terjadi pada masyarakat Bugis dan Makassar, seringkali berakhir fatal dan menimbulkan korban jiwa.

Silariang umumnya terjadi karena tidak adanya restu dari orangtua salah satu atau kedua pasangan yang saling mencintai yang ingin mengikat tali pernikahan. Tidak adanya restu dari orangtua biasanya karena adanya perbedaan suku, ras, agama, strata sosial dan perbedaan lain antara kedua orang yang saling mencintai itu. Akhirnya pihak laki laki membawa pergi  pihak perempuan untuk dinikahi di suatu tempat yang tidak diketahui oleh keluarga pihak perempuan. Biasanya, pasangan tersebut akan menetap di tempat baru tersebut sampai ada kabar ‘perdamaian’ dari keluarga kedua pihak.

Namun yang kadang terjadi adalah, pihak perempuan merasa dipermalukan atau “siri’” dalam bahasa Bugis dan Makassar, sehingga timbul keinginan untuk balas dendam kepada pihak laki laki. Biasanya keluarga pihak perempuan akan membunuh laki laki yang membawa lari anak atau keluarganya. Tetapi jika kedua pihak bernegosiasi dan berhasil mencapai kata sepakat perdamaian, maka pasangan yang kawin lari itu bisa kembali ke kampungnya lagi dan hidup bahagia.

Buku ini mengupas berbagai aspek yang menyertai peristiwa Silariang. Diawali dengan pengertian atau definisi Silariang menurut beberapa pakar, sebab sebab terjadinya Silariang, akibat yang bisa timbul, cara menghindari sanksi adat, siri’ dan silariang, perselingkuhan dan Silarian, Silariang pada era modern sekarang ini, dan Silarian dalam KUHP dan aspek aspek kriminologinya.

Pada bagian akhir buku diulas berbagai peristiwa kisah nyata yang terjadi dalam masyarakat Bugis dan Makassar akibat Silariang. Ada istri yang tewas ditangan suami sendiri, ada yang tewas karena perselingkuhan dan peristiwa sadis lainnya.

Buku ini cukup informatif membahas tentang Silariang atau Kawin lari. Dalam menyusun buku ini penulis menggunakan pendekatan mendalam terhadap Budaya Lokal.  Penulis berhasil mengangkat topik yang sensitif dan penting dalam budaya Bugis dan Makassar, memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai adat dan konsekuensi dari pelanggarannya.

Buku ini tidak hanya membahas konsep umum Silariang, tetapi juga menguraikan berbagai jenisnya, seperti silariang, nilariang, dan erangkale, lengkap dengan sanksi adat yang menyertainya.

Buku ini sebenarnya adalah karya tulis ilmiah penulis saat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sebagai seorang sejarawan dan budayawan yang telah menulis banyak buku tentang sejarah dan budaya Sulawesi Selatan, Zainuddin Tika dan Ridwan Syam membawa perspektif yang kaya dan autentik ke dalam karyanya.

Namun demikian ada keterbatasan Informasi Publik dalam buku ini, misalnya Informasi mengenai buku ini cukup terbatas sumber-sumber onlinenya, terutama diera digital sekrang ini, dimana cukup banyak sumber informasi online yang terpercaya dan akurat.

Kemungkinan buku ini tidak tersedia secara luas di toko buku nasional, mengingat fokusnya yang spesifik pada budaya lokal, sehingga pembaca di luar Sulawesi Selatan mungkin kesulitan untuk mendapatkannya. Apalagi buku ini terbit pertama kali  lebih dari 2 dekade yang lalu sehingga semakin sulit menemukan buku ini di Toko Buku.

Secara keseluruhan, "Silariang" karya Zainuddin Tika dan Ridwan Syam ini  menawarkan wawasan berharga tentang praktik kawin lari dalam masyarakat Bugis dan Makassar, meskipun akses terhadap buku ini mungkin memerlukan usaha lebih bagi sebagian pembaca.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





February 27, 2025

Catatan Harian La Patau Matanna Tikka, Raja Bone XVI

 

Judul:                           Catatan Harian La Patau Matanna Tikka

Penulis:                        -

Penerjemah:                Andi Sofyan Hady

Editor:                         Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D. & Dr. Muhlis Hadrawi

Penerbit:                     Yayasan Turikalenna

Tahun Terbit:               2022

Jumlah Halaman:         xiv + 731

ISBN:                         9786239572150

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

La Patau Matanna Tikka adalah Raja Bone ke-16, juga Datu Soppeng ke-18 dan Ranreng Tua Wajo ke-18. Nama lengkapnya adalah La Patau Matanna Tikka Sultan Idris Azimuddin Matinroe ri Nagauleng, memerintah kerajaan Bone dari tahun 1692 – 1714. Beliau menggantikan Arung Palakka (La Tenri Tatta Sultan Saaduddin Matinroe ri Bontoala).

Selama masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka, selalu ada catatan untuk merekam dan mendokumentasikan semua peristiwa yang terjadi dan kegiatan kegiatannya sebagai Raja Bone. Kemungkinan catatan harian ini tidak ditulis sendiri oleh sang Raja, karena ada profesi zaman dulu yang disebut  ’jurutulisi’ atau semacam sekretaris pada masa sekarang. La Patau Matanna Tikka, bukanlah satu satunya Raja Bone yang memiliki Catatan Harian. Raja Bone yang memerintah sesudahnya juga membuat catatan harian.   

Buku setebal 731 halaman ini termasuk catatan harian yang lengkap. Hampir setiap hari dicatat dalam aksara lontara Bugis. Buku ini adalah hasil alihaksara (transliterasi) dan hasil terjemahan (translasi) Catatan Harian La Patau Matanna Tikka. Catatan harian yang asli menggunakan aksara Lontara Bugis dan berbahasa Bugis, dan buku ini menggunakan aksara Latin dan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Bugis juga disertakan dalam aksara Latin.    

Bagian awal buku diisi dengan kata pengantar dari Bupati Bone, Kepala Dinas Pariwisata Bone, dan Kepala Dinas Kebudayaan Bone. Selanjutnya, catatan harian dibagi pertahun, mulai tahun 1692 – 1714. Bagian akhir buku berisi lampiran daftar nama Raja raja Bone mulai dari yang pertama Matasilompoe Manurungnge ri Matajang (1392-1424) sampai Raja ke-23, La Temmasonge’To Appawelling Sultan Abdurrazak Jalaluddin Matinroe ri Mallimongeng (1749-1775).

Peristiwa apa saja yang catat dalam Catatan Harian ini? Ternyata sang Raja mencatat banyak hal dan berbagai jenis peristiwa. Ada banyak catatan penting misalnya kedatangan Raja atau keluarga kerajaan lain, peristiwa perang antar kerajaan, kedatangan orang Belanda, perayaan Maulid dan hari keagamaan lainnya, hari kelahiran (Ulang Tahun) dan hari kematian anggota kerajaan, peristiwa perburuan rusa di daerah, gerhana bulan, dan lain lain. Namun ada juga peristiwa yang mungkin dapat dianggap tidak terlalu penting, misalnya, sang Raja sakit demam (meriang), bisul atau giginya tanggal, saat berangkat ke kebun, ketika tumbuh uban di janggutnya, ketika beliau memberikan ikat pinggangnya pada orang lain dan peristiwa lainnya.

Begitu banyak informasi terekam dalam buku catatan harian ini. Misalnya di daerah Sulawesi Selatan pada masa itu begitu banyak Rusa di hutan. Pada suatu kesempatan berburu, sang Raja dan rombongannya berhasil menangkap 333 ekor rusa, bahkan di hari lain, sampai 700an ekor.

Pada masa lebih 300 tahun lalu, kuda dan kereta kuda serta perahu dan sampan adalah alat transportasi yang banyak digunakan. Tercatat pada buku ini:  Selasa 1 Januari 1692 bertepatan dengan 11 Rabiul Akhir 1103 H ”saya (mulai) mendayung di Palopo kembali ke Cenrana”. Selanjutnya 3 Januari 1692 ”saya berlabuh di Cenrana”. Artinya butuh 3 hari 2 malam naik perahu dari Palopo ke Cenrana. 

Catatan lainnya: Sabtu 15 Agustus 1699 (17 Safar  1111 H) ”kami pergi mandi / rekreasi di Bantimurung”.  Sabtu 26 September 1669 (30 Rabiul Awwal 1111 H) ”Istri Gubernur VOC (Isaac Van Thije) datang”. Bahkan tanggal peristiwa kedatangan kerangka jenazah Syech Yusuf dari Afrika Selatan juga ada dalam catatan harian ini.

Namun ada beberapa nama tempat yang masih perlu informasi lanjutan, misalnya catatan perjalanan dari Palopo ke Cenrana yang ditempuh dalam 3 hari 2 malam, namun tidak dijelaskan Cenrana yang mana yang dimaksud, karena ada beberapa nama Cenrana di Sulawesi Selatan. Cenrana yang dimaksud mungkin yang ada di Bone karena ini Catatan Harian raja Bone.

Nomor halaman pada Daftar Isi juga banyak yang tidak sesuai. Pada Daftar Isi, peristiwa awal tahun 1693 menyebutkan halaman 28, tapi dalam buku peristiwanya pada halaman 43.

Buku sangat direkomendasikan untuk dibaca terutama bagi para pencinta sejarah, khususnya sejarah kerajaan Bone.

Buku koleksi Pribadi.



February 25, 2025

Biografi Perjuangan H.M. Daeng Patompo

 


Judul:                         H.M. Dg. Patompo, Biografi Perjuangan

Penulis:                      Abdurrazak Mattaliu & Andhy Pallawa

Editor:                       -

Penerbit:                    Yayasan Pembangunan Indonesia

Tahun Terbit:              1997

Jumlah Halaman:        xiii + 304

ISBN:                        -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

H. Muhammad Daeng Patompo adalah mantan Walikota Ujungpandang (sekarang Makassar) pada masa Orde Lama sampai Orde Baru yaitu dari tahun 1962 – 1976. Pada masa pemerintahan beliau, kota Ujungpandang memperoleh Anugerah Pataka Parasamya Purnakarya Nugraha pada tahun 1974, suatu penghargaan pemerintah pusat yang diberikan kepada daerah yang berhasil dalam pembangunan. Kota Ujungpandang merupakan kota pertama di Sulawesi Selatan yang menerima penghargaan tersebut. Walikota H.M. Dg. Patompo juga pernah menerima Lencana Bintang Pembangunan

Buku ini adalah biografi perjuangan H.M. Dg. Patompo yang merekam perjalanan hidup dan perjuangan serta karirnya dalam militer dan pemerintahan. Dibagi dalam 11 bab, diawali dengan kisah kehidupan H.M. Dg. Patompo pada masa kanak kanak di kampung halamanya disebuah lembah bernama Binuang di Polewali Mamasa (sekarang Polewali Mandar dan masuk wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Barat).

Kehidupan masa remaja dan masa pra-kemerdekaan serta masa pernikan dan perjuangan juga duraikan pada bagian awal buku ini. Selanjutnya masa masa perjuangan kemerdekaan dan masa konsolidasi serta masa pemerintahan beliau sebagai Walikota, dibahas pada bagian berikutnya. Termasuk yang dibahas adalah pembangunan kota baru Ujungpandang, dan ide penataan kembali kota dengan program GMK (Gerakan Masuk Kampung), serta pemukiman ideal dan bahkan program Lotto yaitu perjuadian yang dilegalkan untuk pembangunan yang kontroversial pada masa itu.

Kota Ujungpandang (Makassar) pada masa pemerintahan Walikota H.M. Dg. Patompo pernah menerima penghargaan sebagai “Kota Terbersih di Indonesia” pada tahun 1967. Pada masa itu belum ada penghargaan ADIPURA seperti sekarang ini yang diberikan kepada kota yang bersih. Pada masa beliau pula, kota Ujungpandang dicanangkan dengan program “Kota 5 Dimensi yaitu Kota Dagang, Kota Budaya, Kota Industri, Kota Akademi dan kota Pariwisata”.

H.M. Dg Patompo juga adalah pencetus lomba baca Al-Quran atau (MTQ) di Indonesia, dan Musbaqah Tilawatil Quran Nasional pertama kali dilaksanakan di kota Ujungpandang pada tahun 1968. Sejak penyelenggaraan MTQ pertama ini, telah menumbuhkan semangat masyarakat dalam berkehidupan yang lebih positif. Pada masa itu mulai tumbuh banyak Perguruan Al-Quran, Pesantren Al-Quran, Taman Kanak Kanak Al-Quran, dan Taman Pendidikan Al-Quran dalam masyarakat.

Dalam buku ini juga berisi kesan kesan para tokoh terhadap H.M. Dg. Patompo. Tokoh yang memberikan testimoni adalah : Mr. Dr. H. Andi Abidin Farid, seorang Professor Emeritus, Drs. H. M. Yusuf Kalla, Ny. M. Towoliu Harmanses, S.H., L.E. Manuhua, Prof. Dr. H. A. Mattulada, Prof. Dr. H. Halide, Abu Husein, Prof. Drs. Burhamzah, M.B.A., Kol (Purn). H.M. Jasin Limpo, Hj. Nursina Sipato, S.H., Prof. Dr. A.S. Achmad, Andi Moein MG., Prof. Dr. H.A. Muis, S.H., Drs. Ishak Ngeljaratan, M.Sc., Drs. M. Said Sutte, Dr. Hafied Cangara, M.Sc., Prof. Dr. Paturungi Parawangsa, H. Ahmad Zaiyani, H.M. Noeh Halyb, H. Fahmy Myala, H.A. Latief Makka, Prof. Dr. H. Anwar Arifin, SIP., H. Ma’mun Hasanuddin, S.H., M.H., Sahabuddin Gading, Prof. Dr. Darmawan MR., M.Sc., Letkol (Purn) A. Rasjid Aliah, Drs. H.M. Arsyad Pana, Prof. Dr. Sadly AD, M.P.A., Ir. Muh. Nur Abdurrahman, dan Harun Rasyid Djibe.

Buku ini dilengkapi dengan foto dokumentasi H.M. Dg. Patompo selama menjabat Walikota Ujungpandang, saat menerima kunjungan dan juga foto keluarganya. Foto piagam penghargaan yang diterimanya juga ada dalam buku ini.

Sebagaimana buku biografi lainnya, keungkinan adanya bias subjektif dimana Penulis mungkin memiliki kedekatan personal atau pandangan tertentu terhadap tokoh yang dibahas, yang dapat mempengaruhi objektivitas penulisan. Namun demikian kehidupan sang mantan Walikota cukup lengkap dibahas dalam buku ini.

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



February 24, 2025

Patuntung di Sinjai Barat: Suatu Tinjauan Sosio-Kultural

Kata Patuntung secara bahasa berarti tuntunan penuntun, penuntungi (bahasa daerah = sesuatu yang memberi tuntunan). Menurut istilah patungtung adalah suatu kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di sekitar lereng gunung Bawokaraeng bagian Timur, Kecamatan Sinjai Barat, dan di Balagana Kecamatan Kajang, Bulukumba Timur. Masyarakat yang menganut kepercayaan Patuntung di Balagana masih mempertahankan kehidupannya secara tradisional dan terpisah (exclucive) dari masyarakat sekitarnya, berpakaian adat serba hitam serta keadaan sehari-harinya sangat kehalaman dan menyatu dengan alam.

Para pengunjung harus berpakaian hitam atau kehitam-hitaman tidak boleh merusak tanaman yang ada di dalam area tanah adat, tidak boleh berbicara sembarangan. Pokoknya banyak pantangan yang termasuk tidak boleh memakan dan menggunakan alat-alat transportasi dan alat-alat komunikasi modern, serta tidak memakai listrik sementara listrik menyala dengan terang di sekitarnya.

Masyarakat Sinjai Barat yang kepercayaannya Patuntung tidak seketat dan tidak tertutup seperti itu lagi mungkin karena telah mengalami beberapa fase perkembangan, namun dalam beberapa hal tingkah laku mereka masih menampakkan persamaan. Kelompok individu atau masyarakat yang menamakan dirinya berkepercayaan Patuntung sudah ada kepercayaan ketuhanannya. Berarti sistem budaya mereka telah  berasimilasi atau berkulturasi dengan ajaran Islam, tetapi kepercayaan lamanya sebelum Islam masih dipercayainya.  

Berikut ini dikemukakan hal-hal yang mendorong mereka menyucikan gunung Bawokareng, karena diyakini tidak pernah disentuh oleh air asin ketika bumi ini seluruhnya tenggelam. Mungkin saja di bumi ini ada gunung yang lebih tinggi daripada Bawokareng, tetapi gunung itu sudah pernah tersentuh oleh air asin. Hal lain yang diyakini mereka adalah Gunung Bawokaraeng itu dihuni oleh tujuh orang wali. Ketujuh wali ini mempunyai kelebihan masing-masing; ada yang ahli magic, ahli dalam penyembuhan penyakit, ahli kekebalan dan kekuatan dalam, dan seterusnya. Pokoknya pusat kebaikan dan pengobatan ada pada gunung Bawokaraeng karena merupakan pusat tanah di bumi ini. Bahkan sebagian besar penduduk Makassar, khususnya berdiam di sekitar lereng gunung Bawokaraeng, terutama di bagian Timur mempercayai bahwa Bawokaraeng itu adalah Kiblat. Oleh sebab itu, maka hingga hari ini masih ada antara mereka yang beranggapan bahwa sekalipun seseorang telah menunaikan hajinya di Mekkah tidak sempurna ibadah haji itu, kecuali telah naik dan bertapa di gunung Bawokaraeng minimal tiga malam lamanya.  Bahkan ada yang lebih ektrim lagi, bahwa ada yang mempercayai kesucian gunung Bawokaraeng sama dengan Mekkah Al Mukaramah, sedangkan ajaran Islam smasuk dan berkembang di Sulawesi Selatan pada abad ke-17.

Buku Patuntung di Sinjai Barat: Suatu Tinjauan Sosio-Kultural mengemukakan tinjau dari segi agama Islam, karena di celah-celah ritualnya masih melakukan hal-hal yang dipercayakan sebelum mereka menganut agama Islam.

A. Pandangan Patuntung dan Ajaran Islam

Patuntung menganut banyak Tuhan dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pertama; tuhan mereka utama adalah Karaeng Ampatana, tuhan yang paling berkuasa, karena Dia yang menciptakan dan sesudah menciptakan bersemayamlah di langit. Kedua, Karaeng Kaminang Kammaya, tuhan ini adalah pemelihara alam yang telah diciptakan Ampatana. Ketiga, Karaeng Patanna Lino atau Karaeng Patanna Pa'rasangang, tuhan ini bertugas membantu Kaminang Kammaya untuk memelihara alam secara mendetail. 

Sedangkan keimanan dalam ajaran Islam Tuhan itu hanya satu-satunya yakni Allah SWT dan tidak ada sekutu dengan-Nya dalam hal apapun. Oleh sebab itu, jika seseorang sudah menganut Islam kewajiban yang pertama adalah mengikrarkan dua kalimat syahadat secara sungguh-sungguh yakni "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan-Nya".

B. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Alam

Pandangan kepercayaan Patuntung tentang alam hanya terbatas pada dunia atau bumi dan langit, serta hunian di bawah bumi yang mereka sebut paratihi. Mereka beranggapan bahwa alam ini hanya tiga benua yakni; benua atas (langit), benua tengah (bumi=lino) dan, benua di bawah bumi. 

Pandangan Islam tentang alam adalah semua yang ada atau yang berwujud selain Allah itu adalah alam, baik alam nyata maupun yang gaib. Alam nyata saja masih bagian sangat kecil yang diketahui oleh manusia, sedangkan alam gaib diketahui melalui wahyu (Alquran dan Hadis Rasul SAW).

C. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Manusia

Pandangan kepercayaan Patuntung tentang manusia seperti disebutkan terdahulu bahwa diciptakan oleh Karaeng Ampatana di gunung Bawokaraeng yang biasa juga disebut Tompo Tikka (bahasa Konjo). Tompo artinya puncak, tikka artinya tidak hujan, kering atau kemarau.

Pandangan mereka yang lain bahwa manusialah yang ciptakan oleh Ampatana lebih dahulu daripada semua kebutuhannya, seperti makanan dan sayur-sayuran, serta binatang ternak, yang ada sebelum manusia hanya bumi, gunung-gunung, langit dan binatang-binatang.

Pandangan Islam tentang manusia sangat jelas bahwa diciptakan oleh Allah sebagaimana makhluk lain. Hanya saja manusia dijelaskan diciptakan oleh Allah dari tanah yakni Adam A.S, lalu anak cucunya kemudian tercipta dari saripati tanah melalui proses suami-istri.

Hal lain, menurut Islam sebelum penciptaan manusia semua benda kebutuhan hidupnya telah tersedia. Oleh karena itu, kelihatannya manusialah sebagai makhluk terakhir diciptakan oleh Allah SWT.

D. Pandangan Kepercayaan Patuntung dan Islam tentang Kelahiran

Kepercayaan Patuntung pada pra kelahiran ada yang disebut appasili atau ajjappu battang yakni upacara kehamilan pertama, bagi seorang calon ibu. Hal ini diupacarakan dengan menyembeli hewan (seekor kambing dan sejumlah ayam dan seterusnya) sebagai kegembiraan bagi kedua keluarga besar dari suami istri yang bersangkutan. Hal ini dilakukan kira-kira kehamilan enam bulan, dan setalah bayi lahir, diupacarakan lagi yang disebut attompolo yakni dipotongkan kambing lagi yang tidak ada batas waktu tertentu dari kelahirannya. Pada pelaksanaan itu bayi diberi nama, diberi obat kekebalan, dipotong sebagaian rambutnya oleh sanro atau Anrong Pabballe Lompoa dan potongan rambut tersebut dimasukkan ke dalam kelapa muda.

Islam mengajarkan tidak ada upacara kehamilan seperti appasili, justu yang ada adalah ketika anak lahir dituntunkan sebagai berikut:

  • Setelah dibersihkan oleh petugas (bidan, dukun bersalin atau dokter bersalin), maka dibersihkan langit-langit mulutnya dengan kurma (kapas) dan didoakan dengan doa berkah.
  • Aqiqah yakni anjuran yang afdal pelaksanaannya bagi setiap anak oleh orang tua yang bersangkutan. Pelasanaan ini ketika hari ketujuh kelahiran bayi. Jika bayi laki-laki, maka disembeli dua ekor kambing, dan jika bayi perempuan hanya seekor kambing saja. Pada saat anak diaqiqah, di beri nama yang baik, dicukur rambutnya seluruhnya atau tidak dicukur sama sekali.
E. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Khitan
Masyarakat berkepercayaan Patuntung di Sinjai Barat tidak dikenal khitanan sebelum Islam, tetapi ada kebiasaan a'rungrung baju (memakai baju bagi perempuan menjelang remaja). Oleh karena perempuan dahulu kala tidak mudah dilihat oleh orang lain sebab dipingit di rumah, maka secara adat a'rungrung baju ini menjadi moment memperkenalkan kepada keluarga besar bahwa si anu anak si anu telah dewasa.

Setelah Islam datang membawa ajaran khitan, lalu dikombinasikan pelaksanaannya dengan adat a'rungrung baju. Artinya acara a'rungrung baju dan pengkhitanan dilakukan secara bersamaan dan dipestakan, serta pestanya kadang-kadang dirmaikan seperti pesta perkawinan.

Pandangan Islam tentang khitanan adalah salah satu keharusan tiap Muslim adalah khitan bagi laki-laki. Seseorang Muslim diperbedapahamkan, ada yang menyatakan hanya laki-laki saja. 

F. Pandangan Patuntung tentang Nazar
Menurut kepercayaan Patuntung ada yang disebut ammolong tinja (bahasa setempat, Konjo), appole tinja (bahasa Bugis). Di kalangan masyarakat sangat diperhatikan penuaian hajat seperti ini, karena sangat takut akan berulang musibah atau kesusahan besar seperti penyakit yang pernah diderita atau salah satu anggota keluargannya. Tetapi pelaksanaannya, oleh masyarakat Patuntung dalam bentuk upacara dengan sesajen tertentu seperti membawa makanan ke laut, gunung, dan tempat-tempat tertentu lainnya.

Pandangan Islam nazar yaitu "janji untuk melakukan sesuatu kebaktian terhadap Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya baik dengan syarat maupun tidak. Hal lain menurut Islam diarahkan kepada ibadah seperti puasa tiga hari, bersedekah, memberi makan kepada beberapa orang, jika mereka lepas dari suatu kesulitan atau mencapai sesuatu yang diinginkan, serta dilarang pada hal-hal yang menyusahkan dan berbau syirik.

G. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Syukuran
Pandangan kepercayaan Patuntung tentang syukuran, juga sangat diperhatikan adanya, misalnya selesai panen pasti ada syukuran yang dilakukan yang mereka namakan angnganre pare beru (bahasa setempat atau Konjo). Jadi pengertiannya adalah makan-makan bersuka ria, dalam rangka selesai panen, dilakukan baik setiap rumah tangga maupun perlindungan setempat. Jika dilakukan atas nama lingkungan, maka mereka memotong hewan seperti kerbau, sapi, dan kuda sebagai lauknya, dan jika perorangan (rumah tangga) saja cukup mereka menyembeli kambing dan ayam. Pada penyajian makanan pasti ada yang di bawa ke kebun atau sawahnya untuk Karaeng A'lilikia atau Patanna Lino atau Patanna Pa'rasangang.

Pandanga  Islam tentang kesyukuran harus secara terus menerus kesyukuran itu dibaharui atas segala nikmat Allah SWT yang tiada terhingga, baik yang lahir maupun yang batin. Caranya mulai dengan nikmat batin, mengucapkan kata alhamdu lillah, sujud syukur, bersedekah, memberi makan handai tolan dan anak-anak yatim sampai berumrah dan berhaji.

I. Masyarakat Patuntung dan Pembaharuan
Sesungguhnya masyarakat yang berkepercayaan Patuntung cenderung tidak suka dengan pembaruan, karena ingin selalu mempertahankan pesan-pesan masa lalu yang diagung-agungkan, dan apa yang datang kemudian cenderung tidak dipercaya. Namun tetap mengalami pergeseran secara evolusi, minimal dari seni budaya terjadi enkulturasi, yang terjadi sejak Islam datang.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. yang menggambarkan tentang kepercayaan yang dianut oleh beberapa kelompok individu yang pada umumnya bermukim di lereng gunung Bawokaraeng, dimana beberapa hal dan tingkah laku sosial mereka sudah banyak berasimilasi dengan kebudayaan Islam.

                                                                                                                                                                       
Patuntung di Sinjai Barat: Suatu Tinjauan Sosio-Kultural
Penulis: abdullah Renre
Editor: Syamsudduha Sewang
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-237-448-0

Tragedi Patriot & Pemberontakan Kahar Muzakkar

 


Judul:                         Tragedi Patriot & Pemberontakan Kahar Muzakkar

Penulis:                      Syafaruddin Usman Mhd

Editor:                       Ari Pranowo

Penerbit:                    Narasi

Tahun Terbit:              2009

Jumlah Halaman:       158

ISBN:                        9789791681902

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku “Tragedi Patriot dan Pemberontakan Kahar Muzakkar” adalah satu dari sekian banyak buku yang membahas tokoh kontroversial dari Sulawesi Selatan. Penulis buku ini berusaha menggambarkan sosok Kahar Muzakkar dari berbagai sisi kehidupannya; mulai dari kelahiran, masa kecilnya, kampung halamannya, pedidikannya, karirnya dalam militer, pemberontakannya kepada negara, dan aspek kehidupan lainnya.

Diuraikan pula dalam buku ini tentang tokoh tokoh yang terlibat dalam pemberontakan dan penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar, seperti Sjamsul Bachri, Andi Muhammad Yusuf Amir, JW (DEE) Gerungan, Andi Selle Mattola, Andi Sose, Joop F Warouw, Muhammad Bahar Mattalioe, dan Muhammad Saleh Lahade.

Nama nama anggota kabinet Negara Republik Islam Indonesi (RII) Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DII/TII) 1957-1959 juga dicantumkan pada bagian Lampiran buku ini. Ternyata nama nama Menterinya, ada juga nama yang sepertinya non-muslim dari bagian timur Indonesia.

Pada bagian awal buku, digambarkan suasana kampung Lanipa dekat kota Palopo tempat kelahiran Kahar Muzakkar yang nama kecilnya “La Domeng”. Selanjutnya Kahar Muzakkar melanjutkan pendidikanya ke Jawa dan kemudian masuk militer dan membentuk organisasi perjuangan. Pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dan keadaan Sulawesi Selatan pada masa itu juga diuraikan pada bab kedua dan ketiga. Pertentangan ideologi dan dan sentimen kedaerahan juga dibahas pada bab keempat dan kelima. Pada bagian kelima ini dikisahkan tentang tertembaknya Kahar Muzakkar pada 3 Februari 1965.

Bab bab selanjutnya menggambarkan terjadinya pemberontakan anti-Belanda di Sulawesi Selatan, misalnya Gerakan Muda Bajeng yang diprakarsai oleh Karaeng Haji Pajonga Daeng Ngalle. Ada juga LAPRIS yang dipimping oleh anak muda Robert Wolter Monginsidi. Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), KRIS Muda, dan Pasukan Laskar Harimau adalah sebagian dari organisasi yang terbentuk pada masa itu.   

Buku ini tidak terlalu banyak mengupas kehidupan pribadi Kahar Muzakkar. Organisasi Organisasi Militer, gerakan pemuda anti Belanda, konflik dalam organisasi militer adalah topik yang banyak dibahas dibuku ini.

Buku ini sangat informatif terutama jika pembaca ingin mengetahui banyak tentang pemberontakan militer pada masa masa pasca kemerdekaan. Pendekatan Komprehensif dari buku yang berupaya menyajikan gambaran lengkap tentang Kahar Muzakkar, termasuk latar belakang, motivasi, dan pandangannya, sehingga pembaca dapat memahami kompleksitas tokoh ini.

Sumber Referensi cukup banyak dan beragam dalam penyusunan buku ini. Penulis menggunakan berbagai sumber, termasuk tulisan pribadi Kahar Muzakkar sendiri "Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia” yang terbit tahun 1961. Bahkan ada beberapa sumber referensi buku tentang Kahar Muzakkar dan DI/TII  yang ditulis oleh penulis dari luar negeri  seperti Barbara Sillars Harvey, Herbert Feith, Daniel S. Lev dan C Van Dijk.

Namun demikian, ada juga kekurangan buku ini misalnya sangat terbatas ulasannya dari pembaca, sehingga  sulit untuk mendapatkan gambaran umum tentang penerimaan dan kritik terhadap isi buku. Semakin banyak ulasan dari suatu buku akan semakin bagus penerimaan dan juga pemikiran kritis dari pembacanya.

Hal lain yang dapat dikatakan kekurangan buku ini adalah, jumlah edisi yang tercetak dan yang dijual sangat terbatas. Terbit tahun 2009 dan 2010, namun sangat susah untuk dapat membeli atau memiliki buku ini. Beberapa toko buku daring (online) menunjukkan bahwa stok buku ini tidak tersedia, yang dapat menyulitkan pembaca yang ingin memperoleh buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini menawarkan wawasan mendalam tentang sosok Kahar Muzakkar dan peristiwa pemberontakan di Sulawesi Selatan, meskipun keterbatasan ulasan dan ketersediaan mungkin menjadi pertimbangan bagi calon pembaca.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



February 7, 2025

Belajar Bahasa Bugis Lontara

 


Judul:                          Belajar Bahasa Bugis Lontara

Penulis:                       Ir. Syahruddin Wahid & Baso Ikhwan.

Editor:                         -

Penerbit:                     Badan Penerbit UNM

Tahun Terbit:               2022

Jumlah Halaman:        77

ISBN:                         9786233870481

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Tujuan utama penerbitan buku ini adalah untuk memenuhi kebutuhan bahan pengajaran bahasa Bugis untuk tingkat SMA/SMK dan MAN di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan juga sebagai perwujudan himbauan Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Sulawesi waktu itu, Andi Sudirman Sulaiman untuk menggalakkan pembelajaran bahasa daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal.

Diharapkan pula oleh penulis agar para siswa SMA dan yang sederajat dapat membaca dan memahami bahasa Bugis Lontara, tahu dan bisa menulis ejaan bahasa Bugis Lontara, dan agar ejaan bahasa Bugis dapat dilestarikan sebagai salah satu aspek kebudayaan lokal Sulawesi Selatan. Buku ini ditujukan untuk siswa kelas X dan XI SMA/SMK atau yang sederajat.

Buku pelajaran ini terdiri dari 10 bab, diawali dengan sambutan Gubernur, sambutan Kadis Pendidikan Sulawesi Selatan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XI Palopo, Luwu dan Toraja Utara, dan juga sambutan dari penulis sendiri.

Bab bab selanjutnya diuraikan satu persatu materi pembelajaran. Bab 1 adalah Appamulang atau Pembukaan. Pada bab pertama ini dijelaskan tentang  kedudukan bahasa Bugis yang merupakan salah satu dari 4 bahasa utama yang digunakan di Sualwesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar  dan Toraja. Bahasa Bugis merupakan yang terbesar penuturnya diantara ke empat bahasa yang ada.

Bab selanjutnya diuraikan tentang ejaan bahasa Bugis , penyebutan angka angka dalam bahasa Bugis, cara penulisan aksara Lontara Bugis dan ada pula percakapan antara Lamappa dan Latuwo, dua orang remaja Bugis yatim piatu yang membicarakan tentang rencana mereka jalan jalan ke pantai pada hari minggu depan.

Selanjutnya ada pula kisah atau hikayat Daeng Manrapi, seorang kepala kampung yang disukai oleh masyarakat setempat karena orangnya sabar, ramah dan dermawan. Ada juga contoh beberapa idiom, kata majemuk, kata kata bijak dan kata motivasi yang sering digunakan dalam percakapan sehari hari masyarakat Bugis.  

Dalam buku pelajaran bahasa Bugis ini, juga ada pelajaran agama yaitu yang membahas tentang waktu waktu shalat dalam Islam, termasuk juga waktu beribadah umat lainnya seperti Nasrani, Budha, Hindu dan Konghucu.

Selanjutnya ada pelajaran sejarah tentang kerajaan kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Selatan. Kerajaan atau Kesultanan yang dibahas dalam buku ini adalah Kerajaan Luwu, Bone, Gowa, Soppeng, Sengkang, Pinrang, Toraja, Enrekang, Selayar, Wotu, Cerekang, Masamba dan Baebunta.

Setiap topik pembahasan dalam buku ini ditampilkan dalam 3 bagian, pertama adalah bagian yang ditulis dalam aksara Lontara, kemudian disusul transliterasi bahasa Bugis dalam aksara Latin, kemudia artinya dalam bahasa Indonesia.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi berupa foto hitam putih berukuran kecil.

Buku pelajaran Bahasa Bugis ini cukup menarik dibaca oleh masyarakat umum, meskipun sebenarnya ditujukan untuk siswa SMA atau SMK kelas X atau XI.

Namun ada beberapa kekurangan dalam buku ini, misalnya, ada beberapa kesalahan ketik (typo) yang cukup mengganggu, baik ketikan Aksara Lontaranya, maupun ketikan aksara Latinnya. Ada juga transliterasi aksara Lontara ke Latin tidak sesuai. Penggunaan aplikasi Aksara Lontaranya juga ada beberapa yang tidak sesuai, misalnya satu kata ada yg aksara Lontara bergabung dengan aksara Latin.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.