Kata Patuntung secara bahasa berarti tuntunan penuntun, penuntungi (bahasa daerah = sesuatu yang memberi tuntunan). Menurut istilah patungtung adalah suatu kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di sekitar lereng gunung Bawokaraeng bagian Timur, Kecamatan Sinjai Barat, dan di Balagana Kecamatan Kajang, Bulukumba Timur. Masyarakat yang menganut kepercayaan Patuntung di Balagana masih mempertahankan kehidupannya secara tradisional dan terpisah (exclucive) dari masyarakat sekitarnya, berpakaian adat serba hitam serta keadaan sehari-harinya sangat kehalaman dan menyatu dengan alam.
Para pengunjung harus berpakaian hitam atau kehitam-hitaman tidak boleh merusak tanaman yang ada di dalam area tanah adat, tidak boleh berbicara sembarangan. Pokoknya banyak pantangan yang termasuk tidak boleh memakan dan menggunakan alat-alat transportasi dan alat-alat komunikasi modern, serta tidak memakai listrik sementara listrik menyala dengan terang di sekitarnya.
Masyarakat Sinjai Barat yang kepercayaannya Patuntung tidak seketat dan tidak tertutup seperti itu lagi mungkin karena telah mengalami beberapa fase perkembangan, namun dalam beberapa hal tingkah laku mereka masih menampakkan persamaan. Kelompok individu atau masyarakat yang menamakan dirinya berkepercayaan Patuntung sudah ada kepercayaan ketuhanannya. Berarti sistem budaya mereka telah berasimilasi atau berkulturasi dengan ajaran Islam, tetapi kepercayaan lamanya sebelum Islam masih dipercayainya.
Berikut ini dikemukakan hal-hal yang mendorong mereka menyucikan gunung Bawokareng, karena diyakini tidak pernah disentuh oleh air asin ketika bumi ini seluruhnya tenggelam. Mungkin saja di bumi ini ada gunung yang lebih tinggi daripada Bawokareng, tetapi gunung itu sudah pernah tersentuh oleh air asin. Hal lain yang diyakini mereka adalah Gunung Bawokaraeng itu dihuni oleh tujuh orang wali. Ketujuh wali ini mempunyai kelebihan masing-masing; ada yang ahli magic, ahli dalam penyembuhan penyakit, ahli kekebalan dan kekuatan dalam, dan seterusnya. Pokoknya pusat kebaikan dan pengobatan ada pada gunung Bawokaraeng karena merupakan pusat tanah di bumi ini. Bahkan sebagian besar penduduk Makassar, khususnya berdiam di sekitar lereng gunung Bawokaraeng, terutama di bagian Timur mempercayai bahwa Bawokaraeng itu adalah Kiblat. Oleh sebab itu, maka hingga hari ini masih ada antara mereka yang beranggapan bahwa sekalipun seseorang telah menunaikan hajinya di Mekkah tidak sempurna ibadah haji itu, kecuali telah naik dan bertapa di gunung Bawokaraeng minimal tiga malam lamanya. Bahkan ada yang lebih ektrim lagi, bahwa ada yang mempercayai kesucian gunung Bawokaraeng sama dengan Mekkah Al Mukaramah, sedangkan ajaran Islam smasuk dan berkembang di Sulawesi Selatan pada abad ke-17.
Buku Patuntung di Sinjai Barat: Suatu Tinjauan Sosio-Kultural mengemukakan tinjau dari segi agama Islam, karena di celah-celah ritualnya masih melakukan hal-hal yang dipercayakan sebelum mereka menganut agama Islam.
A. Pandangan Patuntung dan Ajaran Islam
Patuntung menganut banyak Tuhan dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pertama; tuhan mereka utama adalah Karaeng Ampatana, tuhan yang paling berkuasa, karena Dia yang menciptakan dan sesudah menciptakan bersemayamlah di langit. Kedua, Karaeng Kaminang Kammaya, tuhan ini adalah pemelihara alam yang telah diciptakan Ampatana. Ketiga, Karaeng Patanna Lino atau Karaeng Patanna Pa'rasangang, tuhan ini bertugas membantu Kaminang Kammaya untuk memelihara alam secara mendetail.
Sedangkan keimanan dalam ajaran Islam Tuhan itu hanya satu-satunya yakni Allah SWT dan tidak ada sekutu dengan-Nya dalam hal apapun. Oleh sebab itu, jika seseorang sudah menganut Islam kewajiban yang pertama adalah mengikrarkan dua kalimat syahadat secara sungguh-sungguh yakni "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan-Nya".
B. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Alam
Pandangan kepercayaan Patuntung tentang alam hanya terbatas pada dunia atau bumi dan langit, serta hunian di bawah bumi yang mereka sebut paratihi. Mereka beranggapan bahwa alam ini hanya tiga benua yakni; benua atas (langit), benua tengah (bumi=lino) dan, benua di bawah bumi.
Pandangan Islam tentang alam adalah semua yang ada atau yang berwujud selain Allah itu adalah alam, baik alam nyata maupun yang gaib. Alam nyata saja masih bagian sangat kecil yang diketahui oleh manusia, sedangkan alam gaib diketahui melalui wahyu (Alquran dan Hadis Rasul SAW).
C. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Manusia
Pandangan kepercayaan Patuntung tentang manusia seperti disebutkan terdahulu bahwa diciptakan oleh Karaeng Ampatana di gunung Bawokaraeng yang biasa juga disebut Tompo Tikka (bahasa Konjo). Tompo artinya puncak, tikka artinya tidak hujan, kering atau kemarau.
Pandangan mereka yang lain bahwa manusialah yang ciptakan oleh Ampatana lebih dahulu daripada semua kebutuhannya, seperti makanan dan sayur-sayuran, serta binatang ternak, yang ada sebelum manusia hanya bumi, gunung-gunung, langit dan binatang-binatang.
Pandangan Islam tentang manusia sangat jelas bahwa diciptakan oleh Allah sebagaimana makhluk lain. Hanya saja manusia dijelaskan diciptakan oleh Allah dari tanah yakni Adam A.S, lalu anak cucunya kemudian tercipta dari saripati tanah melalui proses suami-istri.
Hal lain, menurut Islam sebelum penciptaan manusia semua benda kebutuhan hidupnya telah tersedia. Oleh karena itu, kelihatannya manusialah sebagai makhluk terakhir diciptakan oleh Allah SWT.
D. Pandangan Kepercayaan Patuntung dan Islam tentang Kelahiran
Kepercayaan Patuntung pada pra kelahiran ada yang disebut appasili atau ajjappu battang yakni upacara kehamilan pertama, bagi seorang calon ibu. Hal ini diupacarakan dengan menyembeli hewan (seekor kambing dan sejumlah ayam dan seterusnya) sebagai kegembiraan bagi kedua keluarga besar dari suami istri yang bersangkutan. Hal ini dilakukan kira-kira kehamilan enam bulan, dan setalah bayi lahir, diupacarakan lagi yang disebut attompolo yakni dipotongkan kambing lagi yang tidak ada batas waktu tertentu dari kelahirannya. Pada pelaksanaan itu bayi diberi nama, diberi obat kekebalan, dipotong sebagaian rambutnya oleh sanro atau Anrong Pabballe Lompoa dan potongan rambut tersebut dimasukkan ke dalam kelapa muda.
Islam mengajarkan tidak ada upacara kehamilan seperti appasili, justu yang ada adalah ketika anak lahir dituntunkan sebagai berikut:
- Setelah dibersihkan oleh petugas (bidan, dukun bersalin atau dokter bersalin), maka dibersihkan langit-langit mulutnya dengan kurma (kapas) dan didoakan dengan doa berkah.
- Aqiqah yakni anjuran yang afdal pelaksanaannya bagi setiap anak oleh orang tua yang bersangkutan. Pelasanaan ini ketika hari ketujuh kelahiran bayi. Jika bayi laki-laki, maka disembeli dua ekor kambing, dan jika bayi perempuan hanya seekor kambing saja. Pada saat anak diaqiqah, di beri nama yang baik, dicukur rambutnya seluruhnya atau tidak dicukur sama sekali.
E. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Khitan
Masyarakat berkepercayaan Patuntung di Sinjai Barat tidak dikenal khitanan sebelum Islam, tetapi ada kebiasaan a'rungrung baju (memakai baju bagi perempuan menjelang remaja). Oleh karena perempuan dahulu kala tidak mudah dilihat oleh orang lain sebab dipingit di rumah, maka secara adat a'rungrung baju ini menjadi moment memperkenalkan kepada keluarga besar bahwa si anu anak si anu telah dewasa.
Setelah Islam datang membawa ajaran khitan, lalu dikombinasikan pelaksanaannya dengan adat a'rungrung baju. Artinya acara a'rungrung baju dan pengkhitanan dilakukan secara bersamaan dan dipestakan, serta pestanya kadang-kadang dirmaikan seperti pesta perkawinan.
Pandangan Islam tentang khitanan adalah salah satu keharusan tiap Muslim adalah khitan bagi laki-laki. Seseorang Muslim diperbedapahamkan, ada yang menyatakan hanya laki-laki saja.
F. Pandangan Patuntung tentang Nazar
Menurut kepercayaan Patuntung ada yang disebut ammolong tinja (bahasa setempat, Konjo), appole tinja (bahasa Bugis). Di kalangan masyarakat sangat diperhatikan penuaian hajat seperti ini, karena sangat takut akan berulang musibah atau kesusahan besar seperti penyakit yang pernah diderita atau salah satu anggota keluargannya. Tetapi pelaksanaannya, oleh masyarakat Patuntung dalam bentuk upacara dengan sesajen tertentu seperti membawa makanan ke laut, gunung, dan tempat-tempat tertentu lainnya.
Pandangan Islam nazar yaitu "janji untuk melakukan sesuatu kebaktian terhadap Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya baik dengan syarat maupun tidak. Hal lain menurut Islam diarahkan kepada ibadah seperti puasa tiga hari, bersedekah, memberi makan kepada beberapa orang, jika mereka lepas dari suatu kesulitan atau mencapai sesuatu yang diinginkan, serta dilarang pada hal-hal yang menyusahkan dan berbau syirik.
G. Pandangan Patuntung dan Islam tentang Syukuran
Pandangan kepercayaan Patuntung tentang syukuran, juga sangat diperhatikan adanya, misalnya selesai panen pasti ada syukuran yang dilakukan yang mereka namakan angnganre pare beru (bahasa setempat atau Konjo). Jadi pengertiannya adalah makan-makan bersuka ria, dalam rangka selesai panen, dilakukan baik setiap rumah tangga maupun perlindungan setempat. Jika dilakukan atas nama lingkungan, maka mereka memotong hewan seperti kerbau, sapi, dan kuda sebagai lauknya, dan jika perorangan (rumah tangga) saja cukup mereka menyembeli kambing dan ayam. Pada penyajian makanan pasti ada yang di bawa ke kebun atau sawahnya untuk Karaeng A'lilikia atau Patanna Lino atau Patanna Pa'rasangang.
Pandanga Islam tentang kesyukuran harus secara terus menerus kesyukuran itu dibaharui atas segala nikmat Allah SWT yang tiada terhingga, baik yang lahir maupun yang batin. Caranya mulai dengan nikmat batin, mengucapkan kata alhamdu lillah, sujud syukur, bersedekah, memberi makan handai tolan dan anak-anak yatim sampai berumrah dan berhaji.
I. Masyarakat Patuntung dan Pembaharuan
Sesungguhnya masyarakat yang berkepercayaan Patuntung cenderung tidak suka dengan pembaruan, karena ingin selalu mempertahankan pesan-pesan masa lalu yang diagung-agungkan, dan apa yang datang kemudian cenderung tidak dipercaya. Namun tetap mengalami pergeseran secara evolusi, minimal dari seni budaya terjadi enkulturasi, yang terjadi sejak Islam datang.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. yang menggambarkan tentang kepercayaan yang dianut oleh beberapa kelompok individu yang pada umumnya bermukim di lereng gunung Bawokaraeng, dimana beberapa hal dan tingkah laku sosial mereka sudah banyak berasimilasi dengan kebudayaan Islam.
Patuntung di Sinjai Barat: Suatu Tinjauan Sosio-Kultural
Penulis: abdullah Renre
Editor: Syamsudduha Sewang
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-237-448-0