Judul : Lontarak
Pannessaenngi Bettuwanna Nippie (Lanjutan)
Penulis : H. Ahmad Yunus,
Pananrangi Hamid, Pammusu Raja, Tatiek Kartikasari
Penerbit : Proyek Pengkajian dan
Pembinaan Nilai Nilai Budaya Pusat - Jakarta
Tahun Terbit : 1995
Bahasa : Bugis / Indonesia
Jumlah Halaman : viii + 110
ISBN :
-
Penulis Resensi : Suharman, S.S., MIM.
Salah satu konsepsi
pengetahuan budaya Bugis dari masa lampau yang masih ada sampai sekarang adalah
konsepsi budaya yang berkaitan dengan tafsir atau takwil atau arti mimpi. Cukup
banyak naskah kuno Bugis yang membahas tentang mimpi dan takwilnya, namun hanya
sedikit yang telah diteliti dan dianalisis untuk ditulis ulang dalam bentuk
buku. Salah satu nilai budaya Bugis berupa takwil mimpi dari naskah kuno
Lontaraq telah terwujud dalam bentuk buku ini.
Konsepsi pengetahuan
budaya masyarakat Bugis dimasa lampau, tertuang dalam bentuk takwil mimpi dalam
naskah Lontara Pannessaenngi Bettuwanna Nippie. Dalam masyarakat Bugis, mimpi
itu terbagi menjadi 2 jenis, yaitu mimpi yang tak punya takwil, yaitu mimpi
tentang sesuatu yang ilusif, bayangan semu tanpa makna apa apa, yang
kemungkinan karena pengaruh setan. Jenis mimpi ini disebut kaita-ita atau
katulu-tulu dalam bahasa Bugis. Adapun jenis kedua, yaitu mimpi yang memiliki
takwil atau makna. Jenis mimpi ini disebut nippi dalam bahasa Bugis. Jenis
mimpi ini diyakini sebagai suatu petunjuk dari Allah Subhana Wataala kepada
umat manusia.
Karena buku ini
adalah hasil dari suatu proyek yaitu “Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai
Nilai Budaya”, maka isinya juga disusun sesuai tatanan aturan suatu karya
ilmiah. Para penulis buku ini membaginya menjadi 5 bab dengan diawali Prakata
dari Pimpinan Proyek (Drs. Soimun), kemudian Sambutan dari Direktur Jenderal
Kebudayaan waktu itu, yaitu Prof. Dr. Edi Sedyawati.
Selanjutnya, ada
Pendahuluan di bab pertama yang berisi Latar Belakang dan Masalah, Tujuan dan
Kegunaan Penelitian, Ruang Lingkup, Metodologi, dan Pertanggungjawaban
Penulisan. Pada bab II, Alih Aksara, yaitu dari sumber aksara Lontaraq pada
naskah kuno, yang kemudian dialih-aksarakan menjadi aksara Latin pada buku ini.
Sedangkan bab III adalah alih bahasa yaitu dari bahasa sumber Bugis
dialih-bahasakan menjadi bahasa Indonesia.
Bab IV yaitu Kajian
Isi Lontaraq dan Relevansinya dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan
Nasional. Bab ini dibagi menjadi beberapa sub bagian yaitu analisa isi naskah,
kajian nilai tradisional dan isi Lontaraq serta relevansi dan peranan Lontaraq
dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Bagian terakhir buku ini
ditutup dengan Bab Kesimpulan dan Saran, serta daftar pustaka bahan rujukan
dalam penyusunan buku ini.
Tercatat dalam buku
ini ada 249 takwil mimpi yang semua ditulis dalam aksara Latin dan dalam dua
bahasa yaitu Bugis dan Indonesia. Sayang sekali karena buku tua, ada 1 lembar
yang sudah hilang, halaman 1 – 2. Buku ini pun adalah buku “lanjutan” artinya ada
buku ‘pendahulu’nya atau edisi pertamanya, namun saya tidak menemukannya. Isi halaman
bukunya juga sudah lepas dari sampulnya, sehingga sangat perlu direstorasi dan
dikonservasi agar tetap dapat digunakan dalam pembinaan nilai nilai budaya
tradisional khususnya Bugis. Buku ini juga jenis koleksi lokal yang sudah tidak
terbit lagi, sehingga masyarakat kesulitan untuk membeli atau memiliki buku
ini.
Buku ini koleksi Layanan
Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Sulawesi Selatan.











