February 15, 2023

20 TOKOH SUKSES DUNIA YANG DULUNYA DIANGGAP BODOH

Mungkin banyak yang merasa gagal dan bodoh karena tidak juara di kelas atau juara perlombaan. Padahal gagal dalam mata pelajaran di sekolah tidaklah menggambarkan masa depan, masih banyak usaha yang dapat dilakukan agar nilai menjadi lebih baik, seperti mengikuti bimbingan atau belajar mandiri lebih giat lagi misalnya. Tokoh-tokoh sukses dunia juga tidak semuanya berasal dari kalangan yang berprivilase, bahkan ada diantara mereka yang sewaktu kecilnya dianggap bodoh dan tidak akan sukses oleh orang-orang di sekelilingnya. Namun, siapa yang sangka bahwa mereka akan menjadi salah satu orang-orang tersukses di dunia.

Abraham Lincoln yang dahulunya sering disebut gagal dan diejek oleh banyak orang pada akhirnya berhasil menjadi presiden terpilih Amerika. Ada juga kisah Adam Khoo, seorang pengusaha brilian yang ternyata pernah menjadi siswa dengan nilai terendah di kelasnya dan masih banyak tokoh hebat lainnya yang dimuat di dalam buku 20 TOKOH SUKSES DUNIA YANG DULUNYA DIANGGAP BODOH karya Inni Indarpuri. Koleksi ini berisi biografi tokoh-tokoh sukses dan kisah perjuangan mereka hingga berhasil, koleksi ini merupakan bacaan yang ditujukan untuk pembaca anak-anak sebagai bentuk motivasi dan pengembangan diri.

Koleksi 20 TOKOH SUKSES DUNIA YANG DULUNYA DIANGGAP BODOH merupakan salah satu koleksi Layanan Penyandang Disabilitas khususnya tuna netra yang dialih hurufkan ke dalam Braille oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso. Layanan Penyandang Disabilitas adalah salah satu bentuk layanan yang ada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Layanan ini melayankan banyak koleksi bacaan Braille yang bisa dibaca di Perpustakaan Umum yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM.7 Tala’salapang kota Makassar.

 

20 TOKOH SUKSES DUNIA YANG DULUNYA DIANGGAP BODOH

Penulis  :  Inni Indarpuri

Penerbit  :  Tiga Ananda

Kota Terbit  : Solo

Tahun Terbit  : 2016

ISBN  :  978-602-366-116-9

Pengalih Huruf  :  Kementerian Sosial Republik Indonesia BPBI Adiyoso

Pengetik  : Gunawan

Editor  :  Nulkifli

Penerbit  : Tiga Serangkai

Kota Terbit  :  Solo

Tahun  :  2018

February 8, 2023

BISSU DAN PERALATANNYA


Bissu pada umumnya adalah wadam yang dalam bahasa Bugis di sebut Calabai bahasa Makassar Kawe-kawe mulai dari gerakan pakaian, berbicara adalah seperti perempuan. Akan tetapi di daerah Bugis tidak semua Wadam adalah Bissu, karena yang menjadi Bissu ditasbikan terlebih dahulu (di Segeri dan Bone disebut Irebba) yaitu dalam keadaan tersebut barulah resmi menjadi Bissu.

Bissu mengetahui tata cara hidup, adat kerajaan di samping itu dialah sebagai penjaga dan pemelihara alat-alat kerajaan yang dalam bahasa Bugis di sebut Arajang. Bahasa mereka gunakan adalah bahasa suci (bahasa Dewa) dalam upacara-upacara, nyanyian-nyanyian, matra-matra dan sebagainya. Bissu di Sigeri dan Bone pada umumnya berjumlah 40 orang yang terdiri dari:
  1. Puang/Puwak Matowa
  2. Puang Lolo
  3. Bissu biasa
Berikut perbedaan Bissu di Segeri dan Bone: 
  1. Di Segeri para Bissu berperanan, turun ke sawah (Appalili) sedangkan di Bone, pada waktu turun ke sawah, Bissu tidak mempunyai peranan. 
  2. Bissu di Segeri pada umumnya terdiri dari Calabai (Wadam), sedangkan di Bone terdiri dari Calabai (Wadam) dengan Bissu wanita yang disebut Core-core yang tugasnya menjunjung baku panam pa, dapo Sadampa dll.
  3. Di Segeri Bissu pada waktu menari selalu maggiri (menancapkan keris dibadannya/lehernya) se dang di Bone sekarang ini tidak diadakan maggiri (menancapkan keris dibadan/lehernya).
Kalau Bissu menari di luar Lalebata (di luar Watampone) mereka memakai pakaian sanro (dukun) atau bermacam-macam warna pakaian, apabila di dalam Watampone (Lalebata) mereka berpakaian bajubodo. Peralatan Bissu di Bone yang dipakai dalam upacara di sesuaikan dengan derajat yang mengadakan upacara. Dan apabila orang yang mengadakan pesta tersebut berasal dari bangsawan tinggi, maka peralatannya terdiri dari dua kassera (dua kali sembilan) sedangkan daerah Palili (kerajaan kecil, yang tunduk di bawah pemerintahan Raja Bone) maka peralatannya dua kattuju (dua kali tuju).

Jumlah Bissu di Bone terdiri terdiri dari 40 orang (Bissu patappulo) dan pada waktu upacara tidak semua Bissu menari. Sesuai agama Islam masuk, peranan Bissu digantikan oleh Puang Kali (Kadi).

Buku BISSU DAN PERALATANNYA membahas cara pelaksanaan Matteddu Arajang (membangunkan Arajang), Mappalesso Arajang, dan Turung ke Sawah (Palili), serta peralatan Tari Bissu. Berikut peralatan tari Bissu:
  1. Alat-alat instrumen tari klasik
  2. Alat-alat tari klasik Bissu: Bessi Banranga, Teddung Buburu (Payung Buburu), Bendera Arajang, Lellu, Alameng, Alusu, Arumpigi, Oiye, Lae-Lae (Lea-Lea), Kancing, Ana' Baccing, Gendang, Pui-Pui, dan Gong.
  3. Kostum tari klasik Bissu
  4. Formansi/Komposisi
  5. Pemukulan Gendang Tari Bissu di Segeri
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar sebagai literatur pendukung untuk mengenal salah satu tradisi yang sudah hampir punah yaitu (Tari Klasik Bissu) yang peralatannya tersimpan di Museum La Gagaligo.


BISSU DAN PERALATANNYA
Penerbit: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1979



MAKASSAR ABAD XIX

Berdasarkan konvensi London 1814 dan Traktat London 1824. Pemerintah Hindia-Belanda dituntut melaksanakan perdagangan bebas sebagai syarat pengembalian Nusantara dari tangan Inggris. Pemerintah Hindia-Belanda tidak mematuhi kedua perjanjian tersebut, justru berniat melanjutkan kebijakan monopoli yang dijalankan VOC lebih dari 200 tahun.

Dalam Traktat London, Pemerintah Hindia-Belanda dipaksa menerima desakan Inggris untuk menerapkan perdagangan bebas dan melepaskan koloninya di Semenanjung Melayu (Malaka) dan mengakui kekuasaan Inggris di wilayah Melayu. Sebagai imbalannya Inggris bersedia melepaskan Hindia-Belanda dan mengakui kekuasaan Belanda atas kepulauan tersebut.

Sesuai perjanjian, Pemerintah Hindia-Belanda membuka sejumlah pelabuhannya di Hindia-Belanda bagi bangsa asing, tetapi tetap diikuti dengan sejumlah aturan yang menyimpang dari semangat perdagangan bebas. Pemerintah tetap memungut pajak perdagangan yang tinggi, melarang perdagangan peralatan perang, memonopoli perdagangan rempah-rempah, candu dan minuman keras, menetapkan bahwa semua kapal harus tunduk pada peraturan di bandar yang berada di bawah pengawasan pemerintah, serta menutup sejumlah pelabuhan bagi pelayaran niaga asing, seperti Ternate, Ambon dan Banda. 

"Politik pintu terbuka" ini mengakibatkan Pemerintah Hindia-Belanda gagal memikat pedagang asing untuk berniaga di kota-kota pelabuhannya. Pedagang dan pelaut dari wilayah jajahan pun, khususnya dari "kerajaan sekutu" lebih suka berniaga ke pelabuhan-pelabuhan Inggris di wilayah melayu.

Buku MAKASSAR ABAD XIX merupakan studi tentang kebijakan "perdagangan bebas" Makassar yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia-Belanda karena: Pertama, peran penting pedagang dan pelaut di Sulawesi Selatan dalam perdagangan di wilayah koloni. Kedua, dominasi Inggris atas sejumlah komoditas penting yang diperlukan oleh penduduk di wilayah Kepulauan Hindia-Belanda. Ketiga, sukses Inggris dalam menjalin hubungan niaga dengan pedagang dan pelaut dari Sulawesi Selatan.

Dalam konteks ini Pemerintah Hindia-Belanda menempuh beragam cara untuk memperkuat ekonomi dan politiknya, seperti: pertama, memperbanyak pemilikan kapal-terutama kapal api- melalui kontrak kerja sama dengan perusahaan pelayaran. Ketiga, melancarkan ekspedisi militer untuk menaklukkan kerajaan sekutu di Sulawesi Selatan. Berdasarkan hal tersebut jelas terlihat bahwa pemerintah Hindia-Belanda menata perdagangan Makassar lebih berdasarkan pada prinsip-prinsip merkantilisme ketimbang ekonomi liberal. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


MAKASSAR ABAD XIX
Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim

Penulis: Edward L. Poelinggomang
Penerbit: KGP (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan 
Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-9023-81-5


February 6, 2023

DAJJAL: Fitnah Besar Akhir Zaman

 

Dajjal yang dimaksud dalam bahasan ini adalah Dajjal akbar yang akan muncul menjelang hari kiamat di zaman Imam Mahdi dan Nabi Isa’ alaihis salam. Dajjal bermakna menutupi. Orang yang berdusta disebut Dajjal karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan. (Fath Al-Basri, 13:91)

Dajjal dinamakan Al-Masih karena salah satu matanya terusap/tertutup (buta sebelah). disebutkan pula bahwa ia dinamakan Al-Masih karena mengusap/melewati bumi selama empat puluh hari.

Keluarnya Dajjal merupakan diantara tanda datangnya kiamat. Fitnah (cobaan) yang ditimbulkan oleh Dajjal adalah seberat-beratnya ujian yang akan dihadapi manusia. Berita tentang Dajjal ini diriwayatkan dalam riwayat yang amat banyak, sampai derajat mutawatir. Hadits-hadits yang disebutkan oleh Imam Muslim dan selainnya mengenai kisah Dajjal benar-benar sebagai hujjah bagi madzhab yang berada diatas kebenaran bahwa ia benar adanya. 

Dajjal benar-benar manusia. Allah mendatangkannya untuk menguji para hamba-Nya. Allah memberikan pada Dajjal berbagai sifat ilahiyah (ketuhanan), yaitu dengan menghidupkan mayit yang sebelumnya ia mati-kan, menumbuhkan tanaman, menyuburkan tanah dan kebun, menjadikan api, dan dua macam sungai. Kemudian  Dajjal pun  akan mengeluarkan berbagai macam perbendaharaan dalam di dalam bumi, ia akan menurunkan hujan dari langit, dan tanah pun akan tumbuh tanaman. Ini semua dilakukan atas kuasa dan kehendak Allah. Kemudian setelah itu, Allah Ta’ala membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, tidak ada yang bisa membunuh Dajjal dan menghancurkan berbagai urusannya melainkan Isa alaihis salam.

Buku ini merupakan  salah satu koleksi Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Buku ini membahas tentang Dajjal yang merupakan fitnah besar yang sudah di ingatkan oleh nabi-nabi sebelumnya dan lebih dijelaskan lagi secara terperinci oleh Nabi kita Muhammah Shallallahu Alaihi Wassalam yang bertujuan untuk menjelaskan keimanan kepada rukun iman “beriman kepada hari kiamat” secara spesifik. Buku ini juga ingin meluruskan kesalahpahaman tentang Dajjal terutama yang terus disebarluaskan di berbagai media sosial, bahkan diajarkan oleh para ustadz yang dikenal dengan “Ustadz Akhir Zaman”.

DAJJAL: Fitnah Besar Akhir Zaman

Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal

Editor : Indra Ristianto

Tempat Terbit : Yogyakarta

Tahun Terbit : 2020

Penerbit : Rumaysho

February 3, 2023

PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS


Pappaseng pada hakikatnya merupakan himpunan pesan amanat, atau petuah dari para orang tua dan cendekiawan masa lalu yang mencerminkan pola pikir mereka tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kelangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pappaseng tersebut ditujukan kepada semua lapisan masyarakat dan disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi dari orang tua kepada anak cucunya atau kepada kerabatnya, dari pemerintah kepada masyarakat, dan tidak sedikit dari para penasihat raja kepada rajanya atau pemerintahnya. 

Isinya pappaseng berupa petunjuk tentang cara berkehidupan, bermasyarakat, dan bernegara serta menentukan sesuatu yang ideal bagaimana seseorang harus hidup, menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan Penciptanya. Pappaseng sebagai pedoman hidup, sarana transformasi nilai-nilai budaya, media kontrol sosial dan sekaligus berfungsi sebagai sarana pendidikan, yang bertujuan untuk memelihara kehidupan masyarakat Bugis yang serasi dan harmonis. 

Implementasi nilai-nilai papasseng sebagai strategi pendidikan tradisional masyarakat Bugis dilakukan dengan proses transmisi sebagai penerusan kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan nilai-nilai luhur melalui enkulturasi dan internalisasi secara konsisten dengan memberi keteladanan dan penanaman nilai sebagai tindakan keseharian seseorang atau kelompok masyarakat hingga terjadi penyerapan nilai, norma, atau aturan sampai terbentuknya suatu pola tingkah laku sosial dalam kepribadiannya. 

Proses pewarisan nilai-nilai luhur pappaseng yaitu jujur (lempu), cerdas (macca). Saling menghormati dan saling mengingatkan (sipakatau, sipakalebbi, sipakainge), usaha dan kerja keras (reso na tinulu) disertai sikap pasrah (appisona) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan transmisi nilai-nilai tersebut ke keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah, akan terbentuk manusia-manusia yang berkepribadian dan terpandang selaras dengan lingkungan alam sosial dan budayanya. Dalam istilah Bugis dikenal dengan tau tongeng atau to matanre siri. Transformasi nilai-nilai pappaseng diungkapkan dalam bentuk pangaja, elong, warekkada, dan bentuk percakapan atau diucapkan secara dialog.

Sedangkan strategi pendidikan tradisional, masyarakat Bugis mendidik dan membentuk karakter khas keturunannya dengan kedisiplinan, konsistensi agar senantiasa memiliki etika berinteraksi dengan sesama manusia, tata karma terhadap orang tua, tidak lepas dari fungsi dan peranan pappaseng. Demikian pula salah satu warisan budaya Bugis yang masih bertahan dalam konteks pendidikan nilai adalah pemali. Pemali masih memiliki peran dan fungsi sebagai media pendidikan untuk membentuk pribadi luhur masyarakat Bugis. 

Pappaseng Bugis juga sarat dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam pappaseng  memuat nilai pendidikan akidah, pendidikan ibadah serta pendidikan akhlak yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah rasulullah. Pappaseng yang mengandung nilai pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup kehidupan manusia, karena tidak hanya mengatur kehidupan manusia di akhirat saja, tetapi juga mengatur bagaimana seharusnya aktivitas hidup manusia di dunia. 

Buku PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS membahas tentang nilai-nilai budaya dalam pappaseng yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang sifatnya universal, yang sangat cocok dengan untuk generasi lalu, generasi kini dan generasi yang akan datang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAPPASENG DALAM LONTARA BUGIS
Perspektif Pendidikan Islam
Penulis: Susmihara
Editor: Syamsudhuha Saleh
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-602-328-390-3