September 7, 2023

Catatan Harian: LA PATAU MATNANNA TIKKA

Kerajaan Bone dikenal sebagai kerajaan utama di Sulawesi Selatan, telah merangkai cerita sejarahnya yang panjang termasuk pada jaman Raja Bone XVI dan Datu Soppeng XVIII, La Patau Matanna Tikka yang memerintah pada tahun 1696-1714. La Patau Matanna Tikka adalah tokoh pemersatu di Sulawesi Selatan, yang dari beberapa perkawinannya melahirkan anak dan cucu yang kemudian hari menjadi Raja di Kerajaan Bone, Gowa, Luwu dan Soppeng.

Menurut Andaya (1991) diawali naiknya raja baru (La Patau) istana Bone senantiasa berada dalam keadaan yang luar biasa damai dan memperlihatkan dirinya sebagai seorang sopan dan baik hati. Yang oleh La Tenri Tatta Arung Palakka menciptakan sebuah keluarga kerajaan tunggal yang berhubungan darah lewat penggatinya La Patau. Peristiwa demi peristiwa penting hampir semua terekam dan tertulis dengan apik di dalam bentuk catatan harian yang sering disebut sebagai lontara Vilang atau Sure'Bilang.

Buku Catatan Harian La Patau Matanna Tikka merupakan hasil penelusuran naskah-naskah yang berkaitan dengan agenda penyusunan Lontara Bilang Bone difokuskan pada naskah-naskah Sulawesi Selatan dalam negeri seperti naskah koleksi Arsip Nasional Provinsi Sulawesi Selatan, naskah koleksi Perpustakaan Nasional RI di Jakarta. Khusus koleksi di luar negeri, penelusuran naskah dilakukan di Perpustakaan Nasional Inggris yang dikenal sebagai Bristih Library yang berhasil ditemukan naskah lontara Bilang dari jaman Raja Bone ke -15 La Tenri Tatta (1672-1696) sampai Raja Bone ke-23 La  Tenri Tappu (1775-1812).

Buku Catatan Harian: LA PATAU MATNANNA TIKKA merupakan alih bahasa dan terjemahan dari naskah lontara Bilang Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka Arung Palakka. Berisi berbagai peristiwa penting dalam kurun waktu dari bulan Januari 1692 hingga September 1714.

Buku ini merupakan salah satu koleki Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang-Makassar yang disertai lampiran Raja Bone (Arumpone)  

  1. Mata Silompoe [Manurungnge-ri Matajang] (1392-1424). 
  2. La Ummasa Petta Panre BessiE [Tomulaie Panreng] (1424-1441). 
  3. La Saliyu Kerrampelua' Arung Palakka (1441-1470). 
  4. We Banri Gau Daeng Marowa Arung Majang Makalappi'e Bissu ri Lalengpili Patta-ri Lawelareng (Malajangnge-ri Cina] (1470-1490).
  5. La Tenri Sukki MappajungngE (1490-1517). 
  6. La Ulio Bote'E [MatinroE-ri Itterung] (1517-1542). 
  7. La Tenri Rawe Bongkangnge [MatinroE-ri Gucina] (1542-1584). 
  8. La Inca' [MatinroE-ri Addenenna] (1584-1595). 
  9. La Pattawe Daeng Soreang[MatinroE-ri Bettung] (15xx - 1590). 
  10. We Ténri Patuppu [Matinroe ri Sidenrengl (1590-1607).
  11. La Ténri Rua' Sultan Adam [Matinroe ri Bantaeng] (1607-1608)
  12. La Ténri Pale' Sultan Abdullah [Matinroe ri Tallo] (1608-1626)
  13. La Ma'darémméng Sultan Saleh Matinroe ri Bukaka (1626-1672) 
  14. La Tenri Aji To Senrima Matinroe ri Siang (1643) a. Toballa', Arung Tanete Riawang, dijadikan Jennang oleh Gowa (1643 1660). b. La Sekkati Arung Amali, dijadikan Jennang oleh Gowa (1660-1667). 
  15. La Ténri Tatta Sultan Saaduddin Matinroe ri Bontoala' (Arung Palakka) (1672-1696). 
  16. La Patau Matanna Tikka Sultan ldris Azimuddin Matinroe ri Nagauléng (1696-1714). 
  17. Batari Toja Daeng Talaga Arung Timurung Datu ri Citta Sultana Zainab Zakiyatuddin [MatinroE-ri Tipuluna] (1714-1715) (masa jabatan pertama)
  18. La Padang Sajati To Appaware' Arung Palakka Sultan Sulaiman [MatinroE ri Beula] (1715-1720) dan Datu Soppeng. 
  19. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zainab Zakiatuddin [MatinroE-ri Tipuluna] (1715) (masa jabatan kedua)
  20. La Parappa To Sappewali Karaeng Ana' moncong Sultan Shahabuddin Matinroe ri Sombaopu (1720-1721). la menjadi penguasa Gowa [Tumennanga-ri Sombaopu], Arumpone Bone dan Datu Soppeng 
  21. La Panaongi To' Pawawoi Arung Mampu Karaeng Bisei Sultan Abdullan Mansur [Matinroe ri Bisei] (1724). 
  22. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zaine Zakiatuddin [MatinroE-ri Tipuluna) (1741-1749) dan Datu jabatan ketiga). dan Datu Luwu (masa jabtan ke tiga)
  23.  La Temmassonge' To appaweling Sultan Abdul Razzaq Jalaluddin [MatinroE ri-Malimongeng] (1749-1775)

Lontara Bilang
Catatan Harian: LA PATAU MATNANNA TIKKA
Raja Bone XVI & Datu Soppeng XVIII
Ranreng Tua Wajo XVIII 

Januari 1962 - September 1714
Alih Aksara & Terjemahan: Andi Sofyan Hady
Editor: Muhammad Sapri Andi Pamulu, Muhlis Hadrawi
Penerbit: Yayasan Turikalengna
Tempat Terbit: Makassar
 Tahun Terbit: 2022
ISBN: 978-623-95721-50



September 6, 2023

CITA-CITA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI

Oleh: Fitriani

Bagaikan suatu perjalanan sentimental, membicarakan Islam dan politik di Indonesia melibatkan kekhawatiran dan harapan lama yang mencekam. Daerah itu penuh dengan ranjau kepekaan dan kerawanan, serta harapan-harapan Indonesia, harus dilakukan dengan penuh hati-hatian. Inilah yang bisa kita liat dan rasakan dalam wacana maupun aksi politik Islam dewasa ini.

Di masa reformasi ini, Islam di Indonesia memang dituntut untuk dapat mewujudkan nilai-nilai peradabannya, sebagaimana pernah terwujud dalam masa kesalehan Islam di zaman Rasul dan empat khalifah pertama. Umat Islam ditantang merealisasi Hadits Nabi, "Kamu adalah sebaik-baik umat yang diketengkan untuk manusia, karena kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah kejahatan, lagi pula kamu percaya kepada Tuhan." Islam menuntut ditegakkannya nilai-nilai hubungan sosial yang luhur, seperti keadilan, demokrasi, keterbukaan, toleransi, dan pluralisme yang semua itu adalah kelanjutan dari tegaknya nilai-nilai yang berasal dari ikatan keadaban (bond of civility).

Buku CITA-CITA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI yang sangat tepat kehadirannya ini, menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia memiliki semua perlengkapan yang diperlukan untuk menegakkan apa yang disampaikan "masyarakat madani" ini atau dalam istilah moderen civil society, yang tidak lain adalah nilai-nilai Islam tetapi mampukah umat Islam mewujudkan panggilan politik, yang sebenarnya adalah juga panggilan keagamaan? Inilah tantangan terbesar cita-cita politik Islam di Era Reformasi Sekarang ini.

Buku ini koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


CITA-CITA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI

Penulis : Dr.Nurcholish Madjid
Penerbitan : Jakarta Pramadina 1999
Tempat Terbit : Jl. Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan
Tahun Terbit : Maret 1999
Jumlah Halaman : 265 halaman