February 26, 2021

ARAH KIBLAT MASJID IBUKOTA KABUPATEN/KOTA DI SULAWESI SELATAN

 


Kiblat adalah pusat, aspek yang sangat mendasar dalam melaksanakan ibadah shalat. Mesjid adalah tempat rumah ibadah yang ciri khasnya harus mengarah ke Ka’bah (kiblat) tetapi kebanyakan orang membangun masjid asal menghadap ke Barat tanpa memperhitungkan prinsip-prinsip kebenaran empirisnya.

Kiblat bermakna Ka’bah, posisinya terletak dalam Masjidil Haram di Kota Makkah Almukarramah. Bagi orang yang shalat dalam Masjidil Haram, tidak ada masalah mengenai arah kiblatnya. Karena langsung berhadapat dengan materialnya kiblat yaitu Ka’bah. Secara realitas, orang shalat dalam Masjidil Haram, mengelilingi Ka’bah atau shaf melingkar. Itu artinya, bagi tempat yang jauhnya seperti Sulawesi Selatan memerlukan kegiatan normatif untuk bisa tembus pas mengarah ke Kiblat.

Buku ARAH KIBLAT MASJID IBUKOTA KABUPATEN/KOTA DI SULAWESI SELATAN membahas tentang hasil pengukuran arah kiblat, yakni
  1. Masjid Raya-Makassar
  2. Masjid Syach Yusuf-Gowa
  3. Masjid Agung-Takalar
  4. Masjid Al Markaz-Maros
  5. Masjid Agung-Pangkep
  6. Masjid Agung-Jeneponto
  7. Masjid agung-Bantaeng
  8. Masjid Agung-Bulukumba
  9. Masjid Agung-Sinjai
  10. Masjid Agung-Bone
  11. Masjid Agung-Barru
  12. Masjid Agung-Palopo

Sesuai hasil pengukuran arah kiblat masjid pada ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Selatan baru ditemukan 3 masjid yang sesuai dengan prinsip-prinsip ukurannya, selebihnya harus ditata ulang agar dapat sesuai dengan prinsip-prinsip pengukuran arah kiblat masjid.

Adapun 3 denah arah kiblat yang benar adalah:
  1. Denah arah kiblat Masjid Raya Makassar
  2. Denah arah kiblat Masjid Maros
  3. Denah arah kiblat Masjid Agung Pangkep
 
Sedangkan 9 denah arah kiblat yang tidak tepat arahnya (kemencengannya tidak sama besar) yakni:
  1. Denah Arah Masjid Agung Syach Yusuf Gowa
  2. Denah Arah Kiblat Masjid Agung Takalar
  3. Denah Arah Kiblat Masjid Agung Jeneponto
  4. Denah Arah Kiblat Masjid Agung Abdul Gani Bantaeng
  5. Denah arah Kiblat Masjid Agung Bulukumba
  6. Denah Arah Kiblat Masjid Agung Sinjai
  7. Denah arah Kiblat Masjid agung Bone
  8. Denah Arah Kiblat Masjid Agung Barru
  9. Denah Arah Kiblat Masjid Agung Palopo
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar.

 
ARAH KIBLAT MASJID IBUKOTA KABUPATEN/KOTA DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: Tim Hisab Rukyat IAIN Alauddin Makassar didukung oleh Biro KAPP Sulsel
Penerbit: Lamacca Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2002

MAKNA SIMBOL DAN FUNGSI TATA RIAS PENGANTIN PADA SUKU BANGSA BUGIS DI SULAWESI SELATAN

 


Sistem pengetahuan tentang tata rias pengantin suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan, bukan suatu bentuk pengetahuan yang bersifat umum, tetapi sebaliknya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang ahli dibidang tersebut. Merek ini dikenal sebagai Indo Botting. Para juru rias tersebut adalah wanita tetapi diantara mereka ada kau adam dan banci.

Tata rias pengantin orang Bugis-Makassar merupakan suatu tradisi budaya. Sebagai suatu tradisi budaya, tata rias pengantin tersebut boleh dipandang hanya sebagai hasil kebudayaan material belaka yang tidak memiliki makna apa-apa, kecuali akan makna estetika tetapi juga memiliki makna yang kaya akan arti dan simbolik tentang kehidupan masyarakat.

Dari sekian banyaknya arti simbolik yang teraktualisasi dari bahan, bentuk, warna dan nama tata rias (perhiasan) dan perlengkapan upacara perkawinan, terdapat 3 (tiga) golongan utama, yaitu:

  • Simbol pengayoman dan perlindungan
Simbol ini dapat dijumpai pada perlengkapan perkawinan seperti payung dan peralatan perlengkapan lainnya. Sesungguhnya yang terkait dalam hal ini, adalah hubungan patro-klient antara raja dengan rakyatnya yang harus diayomi dan dilindungi sebagai anggota masyarakat sebagaimana yang terdapat dalam konsep “masseddi sirik”.

Konsep masseddi sirik dapat pula dikaitkan dalam hidup rumah tangga, dimana seorang suami harus mengayomi seluruh anggota keluarganya, dan sebaliknya anggota keluarganya harus selalu merasa dirinya sebagai bagian dari self (diri) kepala rumah tangga (ayah-ibu), sehingga kesetiaan timbal balik dalam kehidupan rumah tangga itu senantiasa dapat ditegakkan.

  • Simbol kebesaran dan kekuasaan
Simbol ini terlihat pada bahan dan bentuk perhiasan dan perlengkapan pengantin yang umumnya terbuat dari bahan yang bertahtakan emas permata, yang memberikan pemahaman bahwa suku bangsa Bugis pada zaman dahulu adalah suku bangsa yang memiliki adat istiadat yang amat kuat dengan masyarakatnya yang berstratifikasi. Ini tercermin pada unsur budaya pangadereng/panadakkang yang isi dan pengoperasiannya dapat dianggap sebagai inti dari kebudayaan orang Bugis itu sendiri

Masyarakat berstratifikasi dalam konteks kerajaan lokal masa lalu adalah bagian dari struktur sosial dimana kedudukan raja dan keluarga raja serta para bangsawan tinggi, memperoleh tempat terhormat dari rakyat, bahkan rakyat rela mengorbankan apapun yang mereka miliki, selama sang raja dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya demikian pula sebaliknya, rakyat tidak segan-segan meninggalkan rajanya apabila sifat-sifat kedewaan yang agung tidak terdapat pada diri raja.

Sebagai masyarakat berstratifikasi, maka adat telah menetapkan bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga raja, termasuk hal-hal yang mengatur cara berbusana. Pakaian pengantin, sesungguhnya  merupakan bagian dari pakaian sehari-hari keluarga istana yang akan dikawinkan harus memakai pakaian itu secara semarak sebagai paccappu bello. Saat terakhir ia memakainya pakaian dan perhiasan anak-anak gadis sebelum ia menjadi ibu rumah tangga.

  • Simbol kesucian dan kesetiaan serta kebahagiaan
Simbol ini tentang kesucian, kesetiaan, serta kebersamaan dalam menciptakan kehidupan keluarga yang Bahagia, yang nampaknya banyak terdapat sebagai arti simbol dari tata rias pengantin.

Buku MAKNA SIMBOL DAN FUNGSI TATA RIAS PENGANTIN PADA SUKU BANGSA BUGIS DI SULAWESI SELATAN membahas tentang tata rias pengantin suku Bugis yang mempunyai makna, simbol dan fungsi yang bermakna dan merupakan rangkaian pesan yang hendak disampaikan kepada masyarakat lewat lambang-lambang yang dikenal dalam tradisi budaya masyarakat suku Bugis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar.


MAKNA SIMBOL DAN FUNGSI TATA RIAS PENGANTIN
PADA SUKU BANGSA BUGIS DI SULAWESI SELATAN
Penulis: M. Yamin, Makmun Badaruddin
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-878-18390-4-4


February 23, 2021

LONTARAK PABBURA (SUATU KAJIAN TENTANG MEDIS ORANG BUGIS)

Sistem pengetahuan orang Bugis mengenai pengobatan dan penyembuhan penyakit, cukup memadai dapat ditemukan dalam naskah-naskah lontarak. Praktek-praktek kedukunan berdasarkan apa yang terlukis dalam lontarak, agaknya sudah mulai langka dilakukan, namun praktek-praktek tersebut sudah menjadi milik umum, sehingga masih dilakukan sebagai pertolongan bagi penanggulangan penyakit.

Sistem pengobatan dan cara-cara penyembuhan tersusun secara sistematika dalam lontarak, dimulai dari penyakit di kepala dan berakhir di kaki, serta bahan-bahan yang digunakan terdiri atas bahan-bahan nabati, hewani dan bahan-bahan kimiawi lainnya yang terdapat dalam lingkungan alamnya.

Sistem medis orang Bugis berpangkal pada prinsip harmonisasi dalam tellu sulapa eppa, yaitu:

  1. Komponen-komponen asal kejadian manusia
  2. Komponen kwalitas alam sekitar manusia seperti hawa panas, dingin, keringat dan lembab
  3. Komponen substansi cairan dalam tubuh manusia, yaitu cairan darah, lendir (flegma), empedu kuning dan empedu hitam.
Ketiga satuan komponen ini merupakan dimensi segi empat yang senantiasa harus terjalin secara harmonis untuk disebut sehat. Cara pengobatan terhadap penyakit yang dialami, pada hakekatnya mencari ramuan obat yang akan mengembalikan harmonisasi itu, jika tadinya penyakit membuat is-harmonis (tidak seimbang) bagi tubuh manusia.  Cara penyembuhan, sementara dicari hukum kausalitas, yaitu hal-hal tertentu yang menyebabkan penyakit, dilakukan tindakan-tindakan penyembuhan dengan berbagai cara, misalnya membuat ramuan obat, membaca doa-matra atau mengadakan upacara-upacara yang berhubungan dengan penyembuhan.

Buku LONTARAK PABBURA (SUATU KAJIAN TENTANG MEDIS ORANG BUGIS) berisi kajian tentang sistem medis orang Bugis, yaitu terdiri atas a) konsep medis; b) klasifikasi ramuan dan cara penyembuhannya menurut lontarak Wajo dan Bone; c) klasifikasi ramuan dan cara penyembuhan menurut lontarak Wajo dan Bone serta diuraikan nama-nama bahan-bahan dan tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai obat-obatan orang Bugis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar yang membahas tentang sistem pengobatan dan cara-cara meramu bahan-bahan yang dapat diperoleh dari lingkungan hidup bagi setiap jenis penyakit.


LONTARAK PABBURA 
(SUATU KAJIAN TENTANG MEDIS ORANG BUGIS) 
Penelitih: Abu Hamid, Ambo Gani, Mulyati Tahir, Mappasere
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

February 22, 2021

SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SULAWESI SELATAN


Kebudayaan bersifat dinamis, berkembang dan mengalami pengaruh lingkungan yang menjadikan kebudayaan berubah dari waktu ke waktu. Perubahan itu menyebabkan beberapa unsur kebudayaan universal yang tetap eksis mencapai puncak orbitasi dan mempunyai nilai semakin tinggi. Nilai tersebut menjadi kebanggan dan merupakan jati diri suku yang bersangkutan.

Etnis atau suku Bugis Makassar mencapai puncak kebudayaannya ketika ditemukan aksara lontara. Lontara telah memberikan informasi bahwa kebudayaan Sulawesi Selatan telah dikenal sejak Zaman La Galigo, Tomanurung dan zaman Islam. Pewarisan nilai-nilai utama kebudayaan melalui panngadereng, paseng dan ulu ada, telah membentuk kepribadian masyarakat memiliki dan menghormati karakter terpuji, seperti lempu (jujur), getteng (tegas), acca (cendekia), warani (berani), tongeng (benar), siri' (harga diri) dan assitinajang (kepantasan) menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam buku Pappasenna To Maccae ri Luwu sibawa Kajoa Laliddong ri Bone, disebutkan bahwa ada empat hal yang memperbaiki negara, barulah menjadi lima pada zaman ke-Islaman, maka dimasukkan juga sara'. Pertama ade (adat kebiasaan), kedua rapang (perumpamaan-ibarat), ketiga wari' (pelapisan sosial), keempat bicara (peradilan), kelima sara' (syariat Islam). Dengan diterimanya sara' menjadi bagian integral dari panngadareng, maka pranata-pranata kehidupan sosial orang Bugis-Makassar memperoleh warna baru.
 
Ketaatan mereka pada sara' sama dengan ketaatan mereka pada aspek-aspek panngadareng lainnya. Keadaan seperti ini terjadi karena penerimaan mereka kepada Islam (sebagai agama) tidaklah terlalu banyak mengubah nilai-nilai dan kaidah-kaidah kemasyarakatan dan kebudayaan yang telah ada. Karena sifat-sifat penyesuaiannya, maka penerimaan sara' ke dalam panngadareng menjadi sarana utama berlangsungnya proses sosialisasi dan enkulturasi Islam ke dalam kebudayaan orang Bugis-Makassar. 

Proses itu berlangsung begitu intensifnya sehingga dikalangan orang Bugis-Makassar terjadi pengidentikkan diri dengan Islam. Sangat janggal bagi bagian terbesar orang Bugis-Makassar apabila diantara mereka ada yang bukan Islam, karena orang yang demikian itu menyalahi panngadareng. Karena panngadareng memberi identitas pada mereka, maka orang yang seperti itu biasanya dianggap bukan orang Bugis-Makassar lagi, dia akan diperlakukan secara asing dalam kehidupan sosial budaya dalam lingkungan panngadareng.

Imbas dan integrasi Islam dalam panngadareng tercermin dalam sikap sehari-hari orang Bugis-Makassar, yang tidak boleh disebut ia bukan orang Islam. Apabila ia dikatakan bukan orang Islam sama halnya dengan melanggar martabat dirinya yang konsekuensinya adalah nyawa. Sederajat dengan itu, jika orang Bugis-Makassar yang ditegur sebagai tidak punya siri', juga dirasakan suatu penghinaan. Sebutan Islam, adalah identifikasi sara' dan sebutan siri'adalah identifikasi adat, bagi orang Bugis-Makassar.

Buku SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SULAWESI SELATAN membahasa periode kebudayaan Sulawesi Selatan (periode La Galigo, periode Tomanurung dan periode Islam); nilai-nilai utama kebudayaan Sulawesi Selatan serta budaya lokal di Sulawesi Selatan (lempu, acca, getteng dan assitinajang); sumber nilai kebudayaan Sulawesi Selatan (pannadereng, paseng, ulu ada) serta budaya lokal di Sulawesi Selatan (tolotang di Amparita-Sidrap, Patuntung di Kajang-Bulukumba dan Aluk Todolo di Tanah Toraja). Buku ini merupakan Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar untuk menambah bahan-bahan bacaan tentang Sejarah Islam dan Kebudayaan.


SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SULAWESI SELATAN
Penulis: Wahyuddin G
Editor: Surayah Rasyid
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-237-823-5

February 18, 2021

TARI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN


Sulawesi Selatan terdiri dari empat suku yakni Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja. Masing-masing suku ini dibedakan dari bahasa, kostum yang meliputi cara berpakaian dan warna khas baju dan sarung, ciri-ciri tari dan sebagainya.

Seni tari di daerah Sulawesi Selatan erat hubungannya dengan kehidupan adat istiadat dalam lingkungan pergaulan, terutama yang berhubungan dengan pergaulan antara lawan jenis dalam batas-batas dan aturan-aturan tersendiri yang dipatuhi turun temurun. Aturan-aturan tersebut menjadi sumber penilaian sikap di dalam tari:

  1. Seluruh jenis tari di daerah ini dibawakan secara berombongan atau secara massal, hal mana mengandung makna filosofis bahwa apa pun yang dilakukan selalu menghendaki cara kegotong-royongan seia sekata.
  2. Dalam seluruh jenis seni tari selalu mengandung sikap yang mencerminkan perwatakan yang memegang teguh aturan pergaulan melindungi dan mengangkat martabat wanita, karena itu dalam kehidupan tari di daerah ini tidak pernah ditemukan adanya satu pun tarian yang dibawakan oleh pria dan wanita secara bersamaan.
  3. Lagu-lagu yang mengiringi tarian pada umumnya mengandung nasehat ataupun pesan-pesan agar manusia di dalam pergaulan hidup hendaknya selalu saling hormat menghormati dan saling memperhatikan satu dengan lainnya.
Adapun warna kostum yang dipakai dalam tari klassik tradisional Sulawesi Selatan adalah warna merah, hijau dan kuning. Kostum atau baju "balla dada" bagi pria pada umumnya warna merah, biru dan warna hitam. Warna-warna ini merupakan warna dasar yang juga melambangkan perwatakan orang-orang Bugis Makassar. 

Buku TARI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN membahas lima tari tradisional daerah Sulawesi Selatan berdasarkan rumpun daerahnya yaitu:
  1. Tari Pakarrena: berasal dari rumpun daerah Gowa meliputi pula daerah Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Bulukumba dan Makassar.
  2. Tari Pajaga: berasal dari rumpun daerah Bugis, meliputi daerah Wajo, Soppeng, Luwu dan Pinrang.
  3. Tari Pa'tuddu: Berasal dari rumpun daerah Mandar meliputi daerah Polmas, Majene dan Mamuju.
  4. Tari Paggelu: berasal dari rumpun daerah Toraja meliputi daerah Enrekng, Toraja dan sebagian daerah perbatasan Mamasa (Polmas) dan perbatasan Luwu.
  5. Tari Pajoge: berasal dari rumpun daerah Bugis Bone.
Selain tari-tari tradisional yang lima,, yaitu lima buah tari yang dijadikan dasar dan sumber inspirasi , penciptaan makna masih banyak tari-tari tradisional lainnya, seperti:
  • Rumpun Makassar
  1. Pakarena Bura'ne
  2. Pamasari
  3. Pasempa
  4. Ganrang Bulo
  5. Pasere
  6. Pasalonreng
  7. Atraksi Paraga
  8. Pakarena Sikru
  9. Pakondo Buleng
  10. Tari Padekko
  11. Tari Passempa
  12. Tari Pangaru
  13. Tari Galaganji
  14. Tari Pujuk
  15. Tari Rebana
  16. Tari Adengbu Panai
  17. Pamingkik
  • Rumpun Bugis
  1. Pajaga Gilireng
  2. Pajaga Welado
  3. Tari Lanceng
  4. Tari Pasere
  5. Tari Lelen Bau
  6. Tari Pangayo
  7. Tari Kaliao
  8. Tari Salonreng
  9. Tari Pabisse Passapu
  10. Tari Rebana
  11. Tari Katia
  12. Tari Mareja-Eja
  13. Tari Ma'jaga
  14. Tari Pandengara
  15. Tari Pajoge Makkunrai
  16. Tari Bissu
  17. Tari Lamondu
  18. Tari Parado
  • Rumpun Toraja
  1. Tari Burake Gendang
  2. Tari Dao Bulon
  3. Tari Panandingan
  4. Tari Samajo
  5. Tari Pa' Boneballa
  6. Tari Pa' Burake 
  7. Tari Pa' Katia
  8. Tari Manganda
  9. Tari Panimbong
  10. Tari Mapapangan
  • Rumpun Mandar
  1. Tari Pattuddu Dego
  2. Tari Bunake
  3. Tari Sayo
  4. Tari Saliliya
  5. Tari To Eran Batu
  6. Tari Paddego
  7. Tari Pattuddu Muane.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar untuk keperluan mengajar atau melatih serta mengerti sejarah singkat seni tari tradisional Sulawesi Selatan.


TARI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penyusun: Ny. Munasih Najamuddin
Penerbit: Bhakti Baru-Berita Utama
Tahun Terbit: 1983

KENDI DI SULAWESI SELATAN


Tradisi pemakaian kendi sebagai wadah menyimpan air hampir terdapat disetiap daerah wilayah nusantara seperti halnya di daerah Sulawesi Selatan, terbukti dengan ditemukannya benda-benda gerabah di Kalumpang dan di Minanga Sippaka.

Daerah Kalumpang Kabupaten Mamuju adalah salah satu daerah pembuatn gerabah tertua karena 90% gerabah yang ditemukan menunjukkan ciri-ciri kebudayaan Neolitik antara lain dari motif yang ditampilkan berupa geometris, yang hampir menyamai dengan yang ditemukan di Kalumpang adalah yang didapatkan di Gua Batu Ejaya daerah Bantaeng, Takalar, Pammana daerah Wajo, dan Selayar hanya usianya relatif muda.

Dalam tradisi pemakaian kendi erat kaitannya dengan siklus kehidupan manusia, di Sulawesi Selatan sendiri terutama sekali yang tinggal didaerah pedesaan kendi dipergunakan sebagai wadah menyimpan air untuk kebutuhan minum sehari-hari.

Kebiasaan ini didasari oleh selain karena aroma tertentu dari air dalam kendi juga karena adanya kepercayaan masyarakat dimana kendi yang bahan dasarnya dari tanah liat dipandang suci. Ditinjau dari segi keagamaan, tanah adalah asal mula kejadian manusia sehingga sehala sesuatu yang berasal dari tanah dipandang suci, disamping api, udara dan air. Keempat unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Kendi di Sulawesi Selatan pada mulanya hanya memiliki bentuk seperti buah labu kemudian berkembang selanjutnya ada yang memakai pegangan, cerat dan leher yang panjang. Demikian pula ragam hias kendi telah beragam, namun pada dasarnya tetap mengalami motif yang berhubungan dengan alam sekitar mereka seperti motif floralistis, zomorfis dan geometris. 

Khusus motif geometris yaitu motif berupa kotak-kotak biasanya lebih menonjol, ini berkaitan dengan pandangan kosmologis masyarakat yang menganggap dunia ini segi empat "sulapa appa" yang dimaksudkan adalah arah mata angin, yaitu Utara, Timur, Selatan dan Barat. Keempat mata angin tersebut masing-masing mempunyai makna tertentu seperti misalnya arah timur adalah sumber kehidupan dan sebagainya.

Kendi dalam pelaksanaan upacara tradisional di Sulawesi Selatan telah mengalami suatu pergeseran nilai. Produk benda gerabah berupa kendi tidak lagi diproduksi sebagai wadah air minum atau untuk menyimpan air suci tetapi telah beralih fungsi sebagai benda seni untuk menghias ruangan-ruangan tertentu atau sebagai benda pajangan.

Buku KENDI DI SULAWESI SELATAN membahas tentang sejarah kendi, bahan dan proses pembuatan kendi, bentuk-bentuk kendi dan fungsinya, serta kendi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Buku ini  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa kendi merupakan salah satu koleksi benda-benda budaya serta untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya bangsa


KENDI DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: A. Sainarwana, Purmawati, Sairah
Editor: Sahriah Muhammading
Penerbit: Proyek Pembinaan dan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1997


 


February 16, 2021

Romeo dan Juliet, oleh William Shakespeare

 

Judul : Romeo & Juliet

Pengarang : William Shakespeare

Penerjemah : Manda Milawati A.

Penerbit : Buku Bijak

Tempat Terbit : Yogyakarta

Tahun Terbit : 2020

Jumlah Halaman : xxii + 166

Ukuran : 13 x 19 cm

Call No. :  808.3  WIL r

ISBN : 978-623-92430-9-8

Kisah percintaan Romeo dan Juliet adalah salah satu kisah kasih paling termasyur di dunia. Kisah drama ini telah diterjemahkan kedalam ratusan bahasa di seluruh dunia dan menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa sastra Inggris dibeberapa Negara. Kisah percintaan ini hampir sama dengan kisah Layla Majnun yang juga pernah saya bahas. Keduanya mengisahkan kisah cinta yang sedih, memilukan dan juga tragis. Kalau dibandingkan, kisah Layla Majnun lebih menyedihkan, karena baik Layla maupun Qays (Majnun) meninggal dalam kesedihan. Sedangkan  kisah Romeo Juliet lebih tragis, karena kedua berakhir dengan bunuh diri, Romeo meninggal dunia karena minum ramuan racun, sedangkan Juliet menikam dirinya sendiri sampai mati.

Kisah kasih tak sampai ini ditulis oleh William Shakespeare, seorang sastrawan atau pujangga  Inggris pada tahun 1595. Banyak kata kata kutipan dari Shakespeare yang terkenal dan sering dikutip baik dalam karya karya fiksi maupun dalam karya non fiksi (ilmiah). Dari buku ini kata kata sang Pujangga yang terkenal adalah “Apalah arti sebuah nama, sekuntum mawar tetap memiliki keharuman yang sama meskipun disebut dengan nama lain”.  

Format kisah ini dulu yang saya baca adalah drama, dimana naskahnya ada nama pelakon, dan kata kata yang diucapkannya. Ditulis dalam bahasa Inggris abad pertengahan yang sekarang sudah cukup sulit dipahami. Buku ini sudah dalam bentuk novel dan dibagi menjadi beberapa bagian, mungkin kalau dalam bentuk drama, dibagi dalam beberapa babak. Disusun dalam 12 bagian, mengisahkan sejak awal kehidupan di Verona, Italia tempat tinggal keluarga Montague dan Capulet, kemudian tentang pertemuan Romeo Montague dan Juliet Capulet pada suatu pesta, kisah cinta mereka secara sembunyi sembunyi karena takut ketahuan oleh keluarga mereka yang bermusuhan, pernikahan yang juga dilaksanakan secara diam diam di Gereja, pertempuran antara kedua keluarga, sampai akhirnya Romeo harus diasingkan kesuatu negeri yang jauh dari Verona, kemudian Juliet kemudian akan dinikahkan dengan bangsawan lain yang bernama County Paris dan seterusnya sampai Romeo dan Juliet bunuh diri diujung kisah yang akhirnya kematian keduanya membawa perdamaian antara kedua keluarganya.

Kisah cinta yang sangat menarik untuk dibaca. Membaca kisah ini, seakan membawa kita ke suasana kota Verona (Italia) pada abad pertengahan (1500an).

Buku ini koleksi Perpustakaan Ibu dan Anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Jl. Lanto Dg. Pasewang Makassar.  

MENGAWAL TIGA GUBERNUR: CATATAN HUMAS SULSEL

Tiga gubernur mempercayakan Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel kepada Devo Khaddafi yang bertanggungjawab atas marwah dan citra positif dari pimpinan daerah dan Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan. Ketiga gubernur tersebut adalah pertama, Gubernur Sulsel periode 2008-2018 Dr. H. Syahrul Yasin Limpo (SYL), SH, M. Si, Pejabat (Pj) Gubernur Sulsel 2018, Dr. Sumarsono dan Gubernur Sulsel Periode 2018-2024, Prof. Dr. Ir. H.M.Nurdin Abdullah, M. Agr. 

Buku MENGAWAL TIGA GUBERNUR: CATATAN HUMAS SULSEL menggambarkan tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh khalayak mengenai karakter kepemimpinan tiga gubernur, juga mengenai peran Bagian Humas dalam mendampingi pimpinan dalam menjalankan tugas-tugas kehumasan seperti mencitrakan pemerintah dan pimpinan, stategi agar informasi sampai dengan cepat dan tepat sasaran, hingga upaya melawan hoaks. Selain itu juga terungkap peranan Humas dalam memfasilitasi kebutuhan media dari nara sumber yang berkompeten dan sebagai jembatan yang menghubungkan antara pemerintah dengan pers, serta pemerintah dengan masyarakat umum. 

Berikut catatan Humas Sulsel mengawal tiga gubenur serta Program dan Prestasi Humas Sulse dari Tahun 2017-2019:

The Energizer Syahrul Yasin Limpo

  • Sang Penjaga Silaturrahmi
  • Balaka'
  • Tak Ada Meja Punggungpun Jadi
  • Maaf Jika Ada Yang Kecewa
  • Warning Untuk PLN
  • Penggemar Freestyle
  • Pemimpin Adalah Dirijen
  • Rakyat Tak Boleh Lapar
  • Sidang MPR Berubah Jadi Panggung Sulsel
  • Prestasi Gemilang
  • Off The Record
  • Pemberi Solusi
  • Kenikmatan di Kaki Lima
  • Peradaban Baru
  • Tak Kapok Mendarat Darurat
  • Strategi Urai Kemacetan
  • Belanja ke Pasar Butung
  • Idealisme Warung Kopi
  • Terimakasih Untuk 10 Tahun Ini
The Mediator Soni Sumarsono
  • Pelukan Hangat SYL-Soni
  • Diplomasi Ala Soni
  • Tongkat Estafet Gubernur
  • Mengawal Pilkada Sulsel
  • Lawan Monster Hoaks
  • Saksi Peradaban Baru Indonesia
  • KM Lestari Maju Kandas
  • Misteri Hilangnya Obor Asia Games
  • Tawa dan Busur Panah
  • Sumarsono Jembatan SYL ke NA
The Professor Nurdin Abdullah
  • Selamat Datang Prof Andalan
  • Nongkrong Asyik di Humas Corner
  • Perhumas, Sutopo dan Mitigasi Bencana
  • Kepala Biro Humas Terbaik
  • NA Tokoh Inovasi Pembangunan Indonesia
  • Didadak Moderator
  • Tenang Stok Beras Aman
  • Coffee Morning Menjawab Polemik TP2D
  • Karpet Merah untuk investor
  • Biro Humas Jadi Contoh
  • Gubernur Ehime Pencinta Badminton
  • Bentuk Media Crisis Center
  • Logo Humas Milenial Banget
  • Kontribusi Untuk Komunikasi Unhas
  • Gubernur Tokoh Trend Setter
  • Ajang Kreativitas Insan Humas
  • Romantisme Beautiful Malino
  • Memimpim Pemakaman Sahabat
  • Tenang Penyusug di 17 Agustus
  • Catatan Satu Tahun Prof Andalan
Program Humas Sulsel
  • Majalah Kareba
  • 'Forum Humas Sulse
  • Humas Reaksi Cepat
  • Humas Expo
  • Humas Coffee Morning
  • Humas Corner
  • Digitalisasi Publikasi Kehumasan Biro Humas Sulsel
  • Crisis Media Centre
Prestasi Humas Pemprov Sulsel
  • Pemerintah Provinsi Terpopuler di Media (2017)
  • Best Communicator 2017 dari PR Indonesia
  • Pemenang Utama Kategori Media Relation 2017
  • Provinsi Terpopuler di Media Versi PRIA 2017
  • Kepala Biro Humas Terbaik INSAN Publik Relation (PR) 2018
  • 50 Public Relations Pilihan PR Indonesia 2019
  • Industry Marketing Championship Makassar 2019 pada Sektor Goverment
  • Anuhgerah Humas Indonesia Ketegori Terpopuler di Media Online Sub Kategori Pemerintah Provinsi (2019.
Serta Humas Sulsel di mata Tubagus Irfan Farhan (Vice Presiden Sales & Service NAM AIR); Eko Wahyu Prasongko (Manager PLN UIW Sulselbar); Asmono Wikan (Founder & CEO PR INDONESIA); Andi Suruji (Pimpinan Umum Tribun-Timur); Anggiat Sinaga (Ketua PHRI Sulse dan CEO Phinise Hospitality Indonesia); Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. 


MENGAWAL TIGA GUBERNUR: CATATAN HUMAS SULSEL 
Penulis: Mudrikan Hidayat Nacong
Editor: Dewi Yuliani
Penerbit: Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2019

February 15, 2021

HEMBUSAN TOPO TAWUI DALAM PERSALINAN ETNIK KAILI DA'A-MAMUJU UTARA

Desa Wulai adalah desa yang mayoritas penduduknya adalah etnik Kaili Da'a yang berasal dari Sulawesi Tengah. Awalnya etnik Kaili Da'a adalah masyarakat yang tertutup, hidup secara nomaden dan menganut animisme. Orang luar sering menyebut mereka dengan sebutan binggi atau bunggu dimana mereka sendiri tidak menyukai sebuatan itu. Saat ini kehidupan mereka sudah mulai berubah. Mereka sudah banyak yang tinggal di perkampungan dan kebanyakan menganut agama Kristen Protenstan.

Tidak semua ritual adat etnik Kaili Da'a masih dilaksanakan oleh penduduk Desa Wulai karena adanya larangan dari pihak gereja yang menganggap ritual tertentu termasuk menyekutukan Tuhan. Hukum adat masih mereka gunakan untuk mengatur perilaku masyarakat. Pengobatan tradisional juga masih dilakukan masyarakat Kaili Da'a Wulai. Mereka akan mendatangi topo (dukun) terlebih dahulu dibanding tenaga kesehatan apabila mereka sakit, seperti melahirkan di rumah dengan bantuan topo tawui (orang yang bisa bertiup). 

Topo tawui adalah orang yang dapat menyembuhkan penyakit, ada yang laki-laki dan perempuan, namun tidak semua topo tawui dapat membantu persalinan. Peranannya dianggap sangat penting oleh masyarakat setempat terkait kepercayaan dan adat istiadat. Di sebut opo tawui karena kemampuannya bertiup dalam penyembuhan penyakit hingga mempelancar proses persalinan serta memotong tali pusat bayi dengan menggunakan bambu. Hembusan demi hembusan penuh mantera menjadi penyembuh bagi masyarakat Kaili Da'a, Kehadirannya dalam setiap proses persalinan seolah menjadi sesuatu hal yang wajib. 

Buku HEMBUSAN TOPO TAWUI DALAM PERSALINAN ETNIK KAILI DA'A-MAMUJU UTARA untuk menyikap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun agar dapat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan upaya pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kearrifan lokal. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


HEMBUSAN TOPO TAWUI DALAM PERSALINAN ETNIK KAILI DA'A
MAMUJU UTARA

Penulis: Sri Handayani, Lia Churniawati, Salahuddin, Niniek Lely Pratiwi
Penerbit: Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat dengan 
Lembaga Penerbitan BALITBANGKES
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2014






ARCA MEGALITIK BERWAJAH MONYET DI MAMUJU



Periode prasejarah Sulawesi Selatan ditandai oleh satu tradisi yang disebut Megalitik (lithos: batu, mega: besar atau tradisi batu besar). Sekalipun tradisi ini disebut dengan tradisi batu besar tetapi tidak selamanya meninggalkan monumen dari batu besar, terkadang batu berukuran kecil juga dipergunakan, bahkan benda dari bahan lain juga dimanfaatkan, misalnya benda dari kayu dan tanah.

Penelitian arkeologi yang dilakukan di Sulawesi Selatan, khususnya berkenaan dengan peninggalan tradisi Megalitik telah berhasil menguat ragam dan persebarannya. Jenis peninggalan dari tradisi tersebut, ialah menhil, batu bergores, batu dakon, lumpang batu, altar, arca dan lain-lain. Khusus temuan arca yang memiliki unsur megalitik ditemukan dibeberapa daerah, seperti Toraja (Kete, Lemo, Loko, Mata, Londa, Mangkepe, Suaya). Jeneponto, Polmas dan Mamuju.

Khusus tiga arca megalitik berwajah monyet secara tidak sengaja ditemukan di daerah pantai oleh penduduk Kampung Dayanggina, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju. Penelitian yang dilakukan oleh SPSP Ujung Pandang berhasil mengidentifikasi ciri-ciri ikonolgrafis sebagai arca Megalitik atau arca tipe Polinesia. Ketiga arca tersebut dari jenis batuan beku dan memiliki roman muka yang kekar menyerupai monyet.

Ketiga arca yang ditemukan di Mamuju tersebut fisik telah mengalami keausan. Oleh sebab iti SPSP Ujung Pandang sebagai lembaga yang bertanggungjawab atau pelestarian, perlindungan dan penyelamatan benda cagar budaya yang telah melakukan konservasi. Arca-arca tersebut sekarang disimpan di Kantor SPSP Ujung Pandang.

Buku KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII mengenai permuseuman dan kepurbakalaan, salah satunya Arca Megalitik Berwajah Monyet di Mamuju. Buku ini salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA IX
Penanggung Jawab: Edi Sedyawati
Penerbit: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan 
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1997
ISBN: 979-95068-3-2

 

February 11, 2021

UPAYA PERLINDUNGAN GOA HUNIAN MANUSIA PRASEJARAH DI KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN

Maros adalah salah satu nama kabupaten di daerah Sulawesi Selatan yang memiliki banyak potensi cagar budaya, di antaranya bekas-bekas peninggalan manusia prasejarah. Bekas peninggalan ini hanya ditemukan di deretan perbukitan pegunungan kapur dalam bentuk goa dan ceruk. Situs goa di Kabupaten Maros perlu diadakan suatu tindakan penyelamatan untuk menjaga kelestariannya, karena mengandung peninggalan budaya, dan goa tersebut dapat dimanfaatkan untuk pariwisata karena memiliki bentuk tata ruang yang indah dan alami.

Salah satu usaha perlindungan terhadap goa yang merupakan situs prasejarah, yaitu penentuan batas wilayah dengan membuat zona pemanfaatan yang bertingkat. Pembuatan batas zonasi atau perwilayahan dapat dilakukan dengan cara penarikan garis batas yang ditentukan berdasarkan pertimbangan arkeologis maupun non arkeologis, sehingga terbentuk sejumlah satuan wilayah di sekitar situs. Berdasarkan data geomorfologi, geologi, bahan galian, penggunaan lahan dan arkeologis, diusulkan suatu wilayah yang sama sekali tidak dapat diganggu sampai dengan wilayah dimana kegiatan tertentu masih dapat dilakukan. Berikut aspek dalam pembentukan zona prasejarah di goa Kabupaten Maros:

Zona 1, dibuat berdasarkan letak situs, dimana di pusat zona ada suatu bentuk bangunan alami dan mempunyai nilai arkeologis dan memenuhi syarat sebagai situs. Karena situs berupa goa dan ceruk umumnya terletak dilereng tebing, maka kegiatan dilereng kiri-kanan situs dan bagian punggung bukit atas goa, perlu mendapat perhatian. Selain itu perlu memperhatiakan juga sifat batuan yang membentuk bukit barupa batu gamping yang secara fisik sangat mudah terganggu, maka dapat diperkirakan luas areal yang harus dipisahkan dan diselematkan  dari semua upaya pengembangan. Daerah ini termasuk zona yang tidak layak ditambang.

Zona 2, atau zona penyangga yang berperan sebagai peyangga yang dijamin tidak adanya gangguan terhadap zona 1 (inti). Di daerah ini kegiatan masih dibatasi, yaitu kegiatan yang secara fisik kurang mempengaruhi zona inti. Dalam kegiatan dengan penambangan, penggunaan alat dan bahan yang menghasilkan getaran tinggi dan debu berlebihan yang secara langsung akan mempengaruhi keamanan zona inti, harus ditiadakan. Kawasan ini termasuk zona yang layak tambang, namun bersyarat.

Zona 3, merupakan zona pengembangan. Disini semua kegiatan yang berkaitan dengan usaha penambangan dapat dilakukan sepanjang mengacu kepada peraturan yang ada.

Perikehidupan manusia prasejarah di dalam goa dan lingkungannya merupakan suatu yang berlangsung pada masa lampau. Pada masa kini semua hanya dihargai sebagai sejarah, namun dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya, maka sejarah ini menjadi penting. Pengetahuan mengenai perikehidupan dan lingkungan hidup manusia prasejarah dapat digunakan sebagai dasar dalam membangun karakter bangsa.

Buku KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII mengenai permuseuman dan kepurbakalaan, salah satunya Perlindungan Goa Hunian Manusia Prasejarah di Kabupaten Maros. Buku ini salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII
Penyusun: Tim Koordinasi Siaran dan Ditjen Kebudayaan
Penerbit: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan 
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1996 


ARCA BUDDHA DIPANGKARA DARI SULAWESI SELATAN

Di Sulawesi Selatan telah ditemukan sebuah arca Buddha dari bahan perunggu. Tempat temuannya di muara sungai Karama, Desa Karama, Kecamatan Sempaga, Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Selatan. Penemuan ini sebagai akibat penggalian tanah di tebing dekat muara Sungai Karama dalam rangka pembuatan jalan.

Diduga arca Buddha ini dari Srilangka (berdasarkan banyaknya ditemuka arca-arca dari seni Amarawati). Dipangkara dibawa berlayar hingga tiba di Sulawesi Selatan. Menurut pendapat pakar arkeologi, arca ini dipasang menghadap kearah laut dengan maksud agar sang dewi dapat melindungi para pelaut yang mencari nafkah di lautan dan sekaligus juga melindungi keluarga yang tinggal di darat dari ancaman musuh sebagaimana yang bisa dilakukan masyarakat Budha di daratan India.

Arca Buddha Dipangkara adalah wali pelindungan bagi para pelaut yang beragama Buddha. Arca Buddha perunggu yang tingginya 75 cm ini digambarkan berdiri, memakai juba yang kainnya berlipat-lipat dan transparan, lehernya bergaris tiga, bentuk mukanya bulat, mulutnya kecil, bibir tebal dan pundak kiri tertutup kain hingga ke lengan. Yang istimewa ialah jubah sang Buddha yang dibuat berlipat-lipat sebagai ciri seni Amarawati.

Tangan yang patah itu diperkirakan yang kiri memegang ujung jubah dan tangan kanan dalam sikap Abhayamudra, artinya menolak bahaya yaitu telapak tangan kanan terbuka dan diarahkan ke depan seolah-oleh menolak sesuatu. Sekarang arca ini disimpang di Museum Nasional Jakarta.

Di ujung selatan pulau Sulawesi tempatnya di Bantaeng, juga ditemukan 3 buah arca yang gayanya mirip dengan arca Dwarawati dari daratan Asia dan diduga berasal dari abad ke-6 M. Diduga 3 buah arca ini juga didatangkan dari luar Sulawesi karena daerah Bantaeng tidak ditemukan bangunan suci Hindu-Buddha dari bahan permanen, selain itu gaya seninya juga berasal dari tempat lain. Arca pertama digambarkan dengan dua tangan ke atas dan mirip dengan Arca Buddha gaya Dwarawati Muang Thai. Arca kedua mirip dengan arca Buddha dari Sumatera; Arca ketiga mirip dengan gaya Sriwijaya dari Thailand. Dari 3 arca Buddha jelas berasal dari Thailand dan hanya sebuah dari Sumatera. Arca-arca Buddha dari Sumatera dilaporkan oleh F.M. Schnitger dalam The Archaccology of Hindoo Sumatera 1973.

Buku KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII mengenai permuseuman dan kepurbakalaan, salah satunya Arca Budha Dipangkara Sulawesi Selatan. Buku ini salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII
Penyusun: Tim Koordinasi Siaran dan Ditjen Kebudayaan
Penerbit: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan 
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1996


MENYINGKAP LUKISAN CAP TANGAN SUKU TOALA DI GOA-GOA SULAWESI SELATAN

Hasil pengamatan terhadap goa-goa, tenyata manusia pada masa prasejarah, khususnya di Sulawesi Selatan sudah mempunyai kreteria untuk memilih goa sebagai tempat hunian, seperti goa harus luas, kering, intensitas cahaya dan dekat dengan sumber daya alam (fauna, flora dan air). Bekas-bekas tinggalan budaya yang telah ditinggalkan oleh manusia masa prasejarah di Sulawesi Selatan, yang menarik perhatian adalah lukisan. Keberadaan lukisan di goa dimulai pada masa berburu dan mengumpulkan makanan hingga sampai masa perunggu besi.

Adanya ide untuk melukis di dinding goa dan ceruk, awalnya merupakan suatu permohonan kepada kekuatan tertentu agar apa yang dikehendaki dapat tercapai. Van Heekeren (1952) mengatakan lukisan goa yang menggambarkan cap-cap tangan dihubungkan dengan upacara kematian. Jadi mengait kepada kehidupan setelah mati. Cara menempatkan lukisan tempatnya dipilih pada bagian yang sulit dijangkau. Ada anggapan bahwa semakin sulit, maka dianggap memiliki nilai lebih.

Lukisan yang terdapat pada dinding goa dan ceruk di Sulawesi Selatan umumnya dilukis pada tempat yang sulit dijangkau, seperti lukisan babi hutan yang terdapat di goa Leang-leang Kabupaten Maros dan goa Garunggung Kabupaten Pangkep yang didiami Suku Toala.  Lukisan tersebut letaknya di bagian paling atas dari atap goa. Begitupula dengan lukisan dengan lukisan cap telapak tangan, sangat sulit dijangkau.

Lukisan cap telapak tangan yang ditemukan di Sulawesi Selatan merupakan lukisan yang paling dominan dibandingkan dengan lukisan lainnya. Bentuk coraknya bervariasi, dikerjakan dengan menggunakan telapak tangan sebagai objek yang ditempelkan pada dinding goa atau ceruk, kemudian disemprotkan dengan cairan merah yang dibuat dari jenis oker (haematite). Jenis lukisan tangan ini ada yang berupa tangan laki-laki, tangan perempuan dan tangan anak-anak dengan bentuk berbeda-beda seperti ada yang memperlihatkan hanya telapak tangan, telapak sampai siku, bahkan ada juga yang memperlihatkan cap tangan yang salah satu jarinya dipotong.

Van Heekeren (1952) mengaitkan antara cap tangan dengan religi. Ia menyatakan bahwa cap tangan menggambarkan suatu perjalanan arwah yang telah meninggal, yaitu dianggap sebagai gambaran arwah yang meraba-raba dalam menuju ke alam arwah.

Tradisi yang masih hidup pada suku Irian Jaya misalnya, masih ada suatu kebiasaan adat yang sampai sekarang masih melakukan upacara pemotongan jari dengan menggunakan alat pemotong dari batu yang berbentuk pahat. Beberapa puluh tahun terakhir ini masih ada yang melaksanakan upacara tersebut di dalam goa, yaitu setelah salah satu jarinya dipotong barulah dibuat cap tangan pada dinding goa dengan cara menyemprotkan cat merah pada telapak tangan. Upacara ini dilaksanakan apabila salah satu keluarga yang sangat ia cintai meninggal dunia. Melihat hal tersebut diatas, maka tidak mengherankan jika pada dinding goa di Sulawesi Selatan banyak ditemukan cap tangan yang salah satu jarinya hilang. Ini merupakan kesimpulan sementara yang mendekati kebenaran, menyimpulkan bahwa cap-cap tangan yang terdapat di goa-goa Sulawesi Selatan merupakan suatu tanda belasungkawa.

Buku KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA IX mengenai objek atau sesuatu yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata budaya, salah satunya LUKISAN CAP TANGAN SUKU TOALA DI GOA-GOA SULAWESI SELATAN. Buku ini salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA IX
Penanggung Jawab: Edi Sedyawati
Penerbit: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan 
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1997
ISBN: 979-95068-3-2





February 10, 2021

Kitab Masakan, Kumpulan Resep Sepanjang Masa

 

Judul : Kitab Masakan, Kumpulan Resep Sepanjang Masa

Penulis : Tim Dapur Demedia

Penyunting : Ayu Kharie

Penerbit : Demedia Pustaka

Tempat Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman : 1104

Ukuran : 15 x23 cm

Call No.: R 641.5 KIT

ISBN : 978-979-082-292-4

Buku resep sangat bermanfaat terutama bagi yang suka memasak, orang orang yang baru membangun rumahtangga, anak anak mahasiswa yang kost, dan siapapun yang ingin mencoba memasak berbagai hidangan. Kehadiran buku resep yang sangat lengkap ini tentu akan sangat memudahkan menyusun menu menu masakan, baik itu menu sehari hari, menu akhir pekan, menu pesta, kudapan dan makanan ringan lainnya. Buku ini memuat 1377 resep dari berbagai daerah di Nusantara dan bahkan juga dari luar negeri.

Buku setebal 1104 halaman ini, oleh tim penulis dibagi menjadi 19 bagian. Bagian bagian sesuai dengan jenis resep, misalnya pada bahian pertama adalah resep Salad, dimana terdapat 50 jenis resep Salad. Ada salad buah manis, salad alpukat, salad pepaya, salad buncis, chicken salad, pasta salad saus yougnes dan lain lain. Pada bagian kedua, adalah resep resep berbahan Ayam misalnya Ayam Goreng Kalasan, Ayam Bumbu Hijau, Ayam Panggang Gorontalo, Ayam Penyet, Ayam Taliwang (Lombok), Ayam Rica Rica, Ayam Isi Dibulu (Manado), Ayam Budu Budu (Makassar) dan lain lainnya.

Adapun pembagian jenis jenis resep dalam buku ini adalah sebagai berikut :

Bagian I    :  Resep Salad (50 resep)

Bagian II   :  Resep berbahan daging Ayam (80 resep)

Bagian III  :  Resep berbahan daging Bebek (70 resep)

Bagian IV  :  Resep berbahan daging Sapi (80 resep)

Bagian V   :  Resep berbahan daging Kambing (65 resep)

Bagian VI  :  Resep berbahan Ikan (99 resep)

Bagian VII :  Resep berbahan Seafood (75 resep)

Bagian VIII : Resep berbahan Telur (65 resep)

Bagian IX   : Resep berbahan Tahu dan Tempe (80 resep)

Bagian X    : Resep berbahan Sayur-sayuran (50 resep)

Bagian XI   : Resep Sambal (50 resep)

Bagian XII  : Resep berbahan Nasi (50 resep)

Bagian XIII : Resep berbahan Mi (50 resep)

Bagian XIV:  Resep Hidangan Asia (106 resep)

Bagian XV  : Resep Kue Tradisional (78 resep)

Bagian XVI : Resep Cake (47 resep)

Bagian XVII: Resep Kue Kering (50 resep)

Bagian XVIII: Resep Puding (48 resep)

Bagian XIX   : Resep Aneka Minuman Segar (50 resep)

Selain itu ada Bonus tambahan sebagai berikut :

1.      Resep Lauk Lezat Tanpa Penyedap (22 resep)

2.      Resep Masakan Padang Populer (22 resep)

3.      Resep Paket Sayur dan Lauk Sehari hari (90 resep) 

Pada bagian akhir buku dibahas tentang Tips Tips Memasak yaitu :

1.      Istilah istilah Memasak

2.      Tips memanggang dan mengukus

3.      Tips memilih, menyimpan dan memasak bahan olahan

4.      Tips membuat Kue Kering

5.      Tips membuat Cake

6.      Tips membuat Kaldu yang sehat, harum dan lezat

7.      Tips membuat Puding

8.      Tips memilih dan menyimpan Bumbu

9.      Tips membuat Bandeng Duri Lunak/Ayam Tulang Lunak

10.  Waktu memasak dengan Panci Tekan/Presto

11.  Tips membersihkan Jerohan Sapi

12.  Tips memilih, menyimpan dan memasak Daging

13.  Tips memasak Steak yang benar

14.  Tingkat Kematangan Daging Steak

15.  Tips membuat Sayur Lodeh yang enak

16.  Tips memilih Ikan

Buku ini adalah koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Jalan Lanto Dg. Pasewang, Makassar.