Showing posts with label Takalar. Show all posts
Showing posts with label Takalar. Show all posts

March 17, 2022

PONGGAWA-SAWI

Struktur lembaga Ponggawa-sawi pada masyarakat nelayan di Desa Tamasaju memiliki struktur organisasi yang sama dengan lembaga nelayan yang ada di daerah lain di Sulawesi Selatan, yang terdiri dari ponggawa/pappalele sebagai pemilik modal dan peralatan tangkap membawahi juragan/pinggawa dan sawi sebagai pelaksana dalam operasi penangkapan ikan. Lembaga ini terdiri atas kelompok-kelompok sosial (social groups) yang mengoperasikan berbagai alat tangkap seperti rengge (Purse seine), re’re (drift gill net), lanra (gill net), Jolloro ( motor tempel dengan alat tangkap pancing). Kelompok kerja nelayan terbagi atas dua kelompok kerja yaitu kelompok kerja nelayan dalam bidang penangkapan atau eksploitasi hasil laut, dan kelompok kerja nelayan dalam pemasaran yang terbentuk dalam kelompok kerja di TPI Beba.

Pappalele, pinggawa dan sawi menjalin hubungan kerja sesuai dengan peranan dan fungsi masing-masing. Pappalele menyediakan modal usaha yaitu perahu/kapal dan peralatan tangkap dan biaya operasional penangkapan, pinggawa memimpin operasi penangkapan dan dibantu beberapa orang sawi. Hubungan pappalele dengan pinggwa dan sawi merupakan hubungan timbal balik atau patron klien, di mana pembagian penghasilan dari kelompok kerja nelayan ini diatur dalam suatu perbandingan yang bersifat tetap, menimbulkan rasa keadilan dan kepuasaan masing-masing pihak yang terlibat. 

Kelompok nelayan yang terorganisir dalam bidang pemasaran dan distribusi hasil tangkapan nelayan melibatkan pappalele, pacato, pakulontong, dan pabissa yang menggunakan sarana Tempat Pelelangan ikan (TPI) Beba. Pappalele mendistribusikan dan memasarkan hasil tangkapan kelompok nelayan yang dipimpinnya kepada pacato (pedagang ikan di TPI yang membeli dalam partai besar) secara lelang, kemudian pacato menjual kepada pakulontong/pagandeng juku (penjual ikan keliling). Dalam melakukan aktivitas pemasaran ikan di TPI pappalele, pacato, dan pakulontong menggunakan jasa pabissa sebagai buruh angkut dan pengambil air.

Tempat pelelangan ikan (TPI) Beba mengalami perkembangan setelah Pemerintah daerah Takalar melalui Dinas Perikanan dan Kelautan membangun TPI di samping bangunan lama. Walaupun TPI Beba belum berstandar nasional, namun aktivitas masyarakat nelayan di TPI lebih padat dibanding TPI Bodia yang sudah dilengkapi fasilitas berstandar nasional. Kelompok nelayan lebih banyak menggunakan TPI Beba sebagai tempat pendaratan ikan, karena telah ditunjang oleh berbagai faktor yaitu lingkungan dan prasarana, sumber daya manusia dan faktor keamanan. Lancarnya sarana transportasi angkot yang ditunjang dengan akses jalan yang menghubungkan lokasi TPI dengan kota Makassar dan Sungguminasa, sehingga TPI ini ramai dikunjungi oleh masyarakat luar wilayah Takalar. Faktor keamanan merupakan pilihan para kelompok nelayan untuk mempergunakan sarana TPI Beba sebagai tempat pendaratan ikan, terutama apabila mereka melakukan aktivitas di malam hari.

Berkembangnya modernisasi dan motorisasi dibidang peralatan tangkap dan perahu yang bermesin, sehingga masyarakat nelayan dapat mengeksploitasi sumber daya hayati laut lebih besar yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan. Dengan demikian memberi pilihan sebagian masyarakat di Desa Tamasaju untuk berusaha menekuni sektor perikanan dengan membentuk kelompok-kelompok nelayan dalam lembaga ponggawa sawi. Lembaga ini telah memberi kontribusi berupa lapangan kerja bagi nelayan yang hanya memiliki tenaga dan pengetahuan tapi tidak memiliki modal dalam beraktivitas. Bagi masyarakat yang tidak terlibat dalam sektor perikanan mendapat peluang untuk berusaha dibidang pedagang dengan membuka pertokoan dan rumah makan untuk melayani kebutuhan logistik kelompok nelayan dan masyarakat pengguna TPI Beba.

Buku PONGGAWA-SAWI: Lembaga Ekonomi Nelayan Tradisional Makassar membahas tentang kelembagaan lokal masyarakat nelayan Bugis-Makassar yang tetap eksis, di tengah arus modernisasi sebagai organisasi perekonomian masyarakat nelayan, baik pada kelompok yang mengeksploitasi sumber daya hayati laut maupun pada kelompok nelayan yang beraktivitas di tengah pelelangan ikan. (TPI). 

Lembaga tradisional ini bukan hanya menjalin hubungan bisnis di antara anggotanya akan tetapi bersifat kekeluargaan di mana pappalele sebagai pemimpin unit kerja mengayomi nelayan paboya dan keluarganya dari kesulitan ekonomi dan keamanan. Siri na pacce menjadi motto dalam lembaga ponggawa-sawi menjadi satu kesatuan dalam mengarungi kehidupan masyarakat nelayan tradisional di Desa Tamasuja Kabupaten Takalar. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

 

PONGGAWA-SAWI
LEMBAGA EKONOMI NELAYAN TRADISIONAL MAKASSAR

Penulis: Raodah
Penerbit: de la macca
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-263-045-6




March 9, 2022

POLONGBANGKENG DALAM LINTAS SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN RI


Polongbangkeng di Kab Takalar,Sulawesi Selatan, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi pusat perjuangan mendukung dan mempertahankan proklamasi oleh para pejuang Sulawesi Selatan.

Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang menjadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), dan tentu saja Pahlawan Nasional, pimpinan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Dg. Romo putra asli dari Polongbangkeng.

Adapun nilai-nilai kejuangan yang dapat digali dari sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng dalam perang kemerdekaan adalah sebagai berikut:

Nilai Kesetiaan

  • Nilai ini dijabarkan dalam tindakannya sebagai pejuang mempertahankan dan membela kemerdekaan itu, walaupun jiwanya yang menjadi taruhannya 
  • Nilai kesetiaan kepada amanat penderitaan rakyat, yang dalam pengabdiannya dinyatakan sebagai suatu tekad untuk membela kebenaran dan keadilan.

Nilai Integratif

  • Adanya kesamaan dalam berbagai hal dalam diri sikap pejuang, maka ia mampu menggerakkan kekuasaan perjuangan yang lebih besar dalam menghadapi setiap tantangan 
  • Dari sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng tercermin adanya kesamaan (1) Adanya kesamaan perasaan, adat istiadat, sehingga mudah menciptakan rasa keakraban dan solidaritas (2) Adanya perasaan antipati terhadap segala bentuk penindasan oleh banyak orang.
Nilai Musyawarah

Baik secara perorangan maupun secara kelompok-kelompok dalam menentukan garisgaris dan pola perjuangan senantiasa berpedoman kepada “Musyawarah Untuk Mufakat".

Disamping itu juga menunjukkan adanya kesatuan dan persatuan antar sesama pejuang yang terpadu seperti semboyan yang sangat terkenal di daerah Makassar ialah 'A'BULO SIBATANG”.

Nilai Kepeloporoan dan Kepemimpinan 

Keberhasilan perjuangan ditentukan oleh sikap keteladanan, kebijaksanaan, kewibawaan dan sifat kejujuran dari seorang pemimpin. 

Dari sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng dapat ditampilkan sikap hidup pemimpin yang demikian:
  • Keberanian sebagai pelopor, yakni berani mengambil inisiatif dan keputusan serta kebijakan yang tepat, cepat dan tegas 
  • Kewibaan yang mampu menggerakkan massa rakyat maupun para pejuang 
  • Ketauladanan yang mampu menjadi panutan dan contoh bagi rakyat.
Kepeloporan dan kepemimpinan mempunyai dampak timbulnya kesediaan diri untuk berkorban, rasa tanggung jawab, sehingga mencerminkan adanya kewibawaan.

Nilai Patriotisme

Motivasi ini mampu menggerakkan untuk ikut serta berjuang bersama-sama untuk mengusir penjajah :
  • Percaya pada kekuatan diri sendiri
  • Memiliki semangat juang yang tidak mengenal menyerah
Buku POLONGBANGKENG DALAM LINTAS SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN RI membahas tentang sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng dalam perang integral dari seluruh perjuangan bangsa Indonesia. Demikian pula peranannya dalam mewariskan nilai-nilai luhur dan suci kepada generasi penerus bangsa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


POLONGBANGKENG DALAM LINTAS SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN RI
Penulis: H. Tajuddin M Kr Lewa
Penyunting: Bachtiar Adnan Kusuma
Penerbit: Yapensi
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2007



December 28, 2021

H. PADJONGA DAENG NGALLE, KARAENG POLONGBANGKENG PAHLAWAN NASIONAL DARI KAB. TAKALAR

Perlawanan rakyat menentang penjajahan Belanda dan Jepang di Sulawesi Selatan merupakan ragam fakta sejarah yang panjang. Ragam fakta sejarah itu ada yang berbentuk diplomasi, ada pula yang berupa gerakan perlawanan bersenjata. Sebagian sudah cukup dikenal, sebagian lagi jarang dibicarakan. Bahkan ada diantaranya yang hampir terlupakan. Adalah H. Padjonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng, seorang putra terbaik Butta Panrannuang. Karaeng Polongbangkeng ini memiliki catatan perjuangan yang panjang dalam sejarah perlawanan rakyat Sulawesi Selatan.

Tanpa pamrih ia membangkitkan gelora semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air rakyatnya, sebagaimana hal itu tersurat dalam petikan pidatonya yang sangat terkenal “...Buntuli sikamma bija pammanakangku, tabbala tubarania, nanupauang angkanaya, narapi’mi anne kamma, nipacinikang paccea siagang sirika ri pa'rasanganta.” Artinya, sampaikan kepada sanak keluargaku dan para satria bahwa saatnyalah kini kita menunjukkan kecintaan kita terhadap bangsa dan tanah air.

H. Padjonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng sudah memimpin berbagai organisasi perjuangan sejak usia yang relatif muda. Ia memprakarsai pembentukan organisasi perjuangan Gerakan Muda Bajeng (GMB) yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1945 di Palleko, dalam rangka mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakan Muda Bajeng ini merupakan gerakan terorganisir usaha perlawanan rakyat yang dipelopori oleh kaum muda Bajeng. Peranannya sangat strategis dalam membangkitkan jiwa dan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan usaha menentang keinginan Belanda untuk kembali menancapkan kekuasaannya di Sulawesi Selatan.

Kepiawaian H. Padjonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng dalam menggalang dan mengorganisir kekuatan perlawanan rakyat sangat dihormati kawan dan disegani lawan-lawannya. Disegani karena kesatriaannya, dihormati karena kecendikiaannya yang ia buktikan dalam mengorganisir kekuatan rakyat dalam Laskar Lipan-Bajeng dan Laskar Pemberontak Rakyat Sulawesi (LAPRIS). 

Secara tersirat, H. Padjonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng juga telah menunjukkan kepada kita bahwa jauh dibalik sikap rela berkorban dan semangat kebangsaannya itu, tersembunyi sebuah kekuatan pendorong yang dahsyat yang mendasarinya yakni prinsip luhur yang agung yaitu kesadaran budaya yang tinggi yang kita kenal dengan kata “Siri na Pacce".

Buku H. PADJONGA DAENG NGALLE, KARAENG POLONGBANGKENG PAHLAWAN NASIONAL DARI KAB. TAKALAR membahas semangat juang yang dimilikinya senantiasa menjadi inspirasi bagi kaum muda dan rakyatnya dalam menggalang kekuatan merebut mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2006. 


H. PADJONGA DAENG NGALLE, KARAENG POLONGBANGKENG 
PAHLAWAN NASIONAL DARI KAB. TAKALAR 

Penulis/Penyunting: Ilham Rifai Hasan
Editor: I Wayan S. Natha Dg. Nai, H. Tajuddin M. Kr. Lewa
Penerbit: The Sentinel A Research & Publication Syndicate
Tempat Terbit: Takalar
Tahun Terbit: 2011


February 18, 2021

KENDI DI SULAWESI SELATAN


Tradisi pemakaian kendi sebagai wadah menyimpan air hampir terdapat disetiap daerah wilayah nusantara seperti halnya di daerah Sulawesi Selatan, terbukti dengan ditemukannya benda-benda gerabah di Kalumpang dan di Minanga Sippaka.

Daerah Kalumpang Kabupaten Mamuju adalah salah satu daerah pembuatn gerabah tertua karena 90% gerabah yang ditemukan menunjukkan ciri-ciri kebudayaan Neolitik antara lain dari motif yang ditampilkan berupa geometris, yang hampir menyamai dengan yang ditemukan di Kalumpang adalah yang didapatkan di Gua Batu Ejaya daerah Bantaeng, Takalar, Pammana daerah Wajo, dan Selayar hanya usianya relatif muda.

Dalam tradisi pemakaian kendi erat kaitannya dengan siklus kehidupan manusia, di Sulawesi Selatan sendiri terutama sekali yang tinggal didaerah pedesaan kendi dipergunakan sebagai wadah menyimpan air untuk kebutuhan minum sehari-hari.

Kebiasaan ini didasari oleh selain karena aroma tertentu dari air dalam kendi juga karena adanya kepercayaan masyarakat dimana kendi yang bahan dasarnya dari tanah liat dipandang suci. Ditinjau dari segi keagamaan, tanah adalah asal mula kejadian manusia sehingga sehala sesuatu yang berasal dari tanah dipandang suci, disamping api, udara dan air. Keempat unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Kendi di Sulawesi Selatan pada mulanya hanya memiliki bentuk seperti buah labu kemudian berkembang selanjutnya ada yang memakai pegangan, cerat dan leher yang panjang. Demikian pula ragam hias kendi telah beragam, namun pada dasarnya tetap mengalami motif yang berhubungan dengan alam sekitar mereka seperti motif floralistis, zomorfis dan geometris. 

Khusus motif geometris yaitu motif berupa kotak-kotak biasanya lebih menonjol, ini berkaitan dengan pandangan kosmologis masyarakat yang menganggap dunia ini segi empat "sulapa appa" yang dimaksudkan adalah arah mata angin, yaitu Utara, Timur, Selatan dan Barat. Keempat mata angin tersebut masing-masing mempunyai makna tertentu seperti misalnya arah timur adalah sumber kehidupan dan sebagainya.

Kendi dalam pelaksanaan upacara tradisional di Sulawesi Selatan telah mengalami suatu pergeseran nilai. Produk benda gerabah berupa kendi tidak lagi diproduksi sebagai wadah air minum atau untuk menyimpan air suci tetapi telah beralih fungsi sebagai benda seni untuk menghias ruangan-ruangan tertentu atau sebagai benda pajangan.

Buku KENDI DI SULAWESI SELATAN membahas tentang sejarah kendi, bahan dan proses pembuatan kendi, bentuk-bentuk kendi dan fungsinya, serta kendi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Buku ini  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa kendi merupakan salah satu koleksi benda-benda budaya serta untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya bangsa


KENDI DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: A. Sainarwana, Purmawati, Sairah
Editor: Sahriah Muhammading
Penerbit: Proyek Pembinaan dan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1997


 


November 5, 2020

RANGGONG DAENG ROMO



Ranggong Daeng Romo (1915) adalah putra Takalar yang teguh pendirian, tegas, berani dan penuh disiplin. Dibalik itu, Ranggong Daeng Romo ternyata memiliki hati yang lembut dan sangat mencintai rakyat. Beliau telah masa mudanya untuk berjuang membela rakyat. seorang pemimpin pergerakan rakyat Indonesia dalam masa penjajahan Belanda  dan Jepang. Dia adalah seorang pahlawan Nasional Indonesia dari Bumi Takalar. Dia rela berkorban demi mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam diri Ranggong Daeng Romo mengalir darah pejuang. Dia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pejuang. Kisah tentang perjuangan Tikolla Daeng Malleo dan Cincing Daeng Tompo yang pernah diasingkan oleh Belanda, telah meresap dalam pikiran Ranggong Daeng Romo.

Setelah kemerdekaan republik Indonesia di kumandangkan, tanggal 16 Oktober 1945 Ranggo daeng Romo dinobatkan menjadi salah satu tokoh  yang memprakarsai berdirinya organisasi perjuangan di Polongbangkeng oleh Karaeng Pajonga Daeng Ngalle, yang dikenal dengan nama Gerakan Muda Bajeng (GMB).

Setelah bergabung dengan Gerakan Muda Bajeng, Ranggo daeng Romo diangkat menjadi komandan barisan pertahanan pada wilayah Moncokomba serta kepala wilayah Ko'mara. pada tahun 1946 tepatnya pada saat Ranggo Daeng Romo diangkat menjadi pemimpin, Gerakan Muda Bajeng mengalami perubahan nama menjadi Laskar Lipan Bajeng dengan tujuan menegakkan,membela,dan mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia. Ranggo Daeng Romo mempunyai istri yang bernama Bungatubu Daeng Lino yang dimana dengan restu sang istri Ranggo Daeng Romo berani melawan para penjajah. Di sebuah pertemuan yang mempertemukan laskar-laskar yang ada di seluruh Sulawesi Selatan. Laskar Lipan Bajeng dan seluruh laskar di Sulawesi Selatan memutuskan untuk bergabung menjadi Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dan Ranggo Daeng Romo di beri kepercayaan penuh untuk memimpin organisasi tersebut.

Pria dengan slogan "Se're pacce se're siri' sipapappaccei sipassiriki" yang artinya senasib sepenanggungan berdasarkan semangat kekeluargaan ini pun mulai tidak tahan dengan sikap penjajah belanda dan memutuskan menyerang benteng Belanda bersama Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia. Tepatnya pada 21 Februari 1946, kurang lebih 100 pasukan Lapris yang di pimpin beliau pergi menyerang benteng Belanda. Banyak tokoh Lapris yang meninggal pada peperangan itu, termasuk Ranggo daeng Romo pada tanggal 27 Februari 1946. Beliau di kebumikan di Bangkala dan di angkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 2001.

Buku RANGGONG DAENG ROMO mengungkapkan perjalanan masa kecil dan bakat sebagai seorang pemimpin, juga mengisahkan perjuangan Ranggong Daeng Romo melawan penjajah Belanda di masa revolusi fisik merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Buku ini  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar.


RANGGONG DAENG ROMO
PAHLAWAN NASIONAL DARI TAKALAR
Penulis: Usman Nukma & A. Wanua Tangke
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-96731-8-6



KARAENG GALESONG



Pertentangan antara Sultan Hasanuddin dan Belanda semakin tegang. Hal itu disebabkan karena pihak Belanda berambisi untuk menguasai perdagangan. Di pihak lain Kerajaan Gowa-Tallo mempertahankan diri sebagai kerajaan yang berdaulat pada zaman itu. Akhirnya, ketegangan yang memuncak, maka pihak Belanda mengadakan serangan terhadap Makassar. Peperangan tersebut diakhiri dengan ditandatangani suatu perjanjian perdamaian, yaitu Perjanjian Bungaya atau Cappaya ri Bungaya.

Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) merupakan kerajaan yang merdeka dan berdaulat. Sektor politik tertata rapi, sektor ekonomi (perdagangan) berjalan lancar. Belanda (VOC) sebagai bangsa yang datang mulanya berdagang. Gowa sebagai daerah yang sangat strategis dalam menghubungkan dengan kerajaan lain. Belanda menganggap penting menguasai Gowa, karena sebagai penguasa di kawasan timur nusantara saat itu. Akhirnya Belanda melakukan berbagai macam cara untuk menguasai Gowa.

Gowa-Tallo dan Belanda terjadi kontak perang, mengakibatkan banyak korban kedua belah pihak, yang selanjutnya ditandatangani Perjanjian Bungaya. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani oleh Speelmen dan pihak Belanda dan Sultan Hasanuddin dari pihak Kerajaan Gowa, beberapa pembesar dan pendukung Kerajaan Gowa tidak menyetujuinya. Akibatnya pembesar-pembesar kerajaan tersebut bersama-sama pasukan dan pendukungnya masih tetap melakukan gerakan dan perlawanan, sebab dalam isi Perjanjian Bungaya tersebut sangat merugikan pihak Kerajaan Gowa dan sekutunya.

Perjanjian Bungaya sangat merugikan pihak kerjaan Gowa-Tallo (Makassar), sebaliknya sangat menguntungkan Belanda (VOC). Peristiwa tersebut mengundang beberapa pembesar kerjaan melakukan gerakan, yaitu Karaeng Bontomarannu, Karaeng Karunrung, Karaeng Tallo, Datu Luwu, Arung Matowa Wajo dan Karaeng Galesong.

Dalam menghadapi kompeni Belanda, Karaeng Galesong menggunakan taktik gerilya dan aliansi. Stategi gerilya diterapkan dengan menyerang posisi Belanda secara tiba-tiba dan kemudian "menghilang"dan konsisi tertentu menyerang lagi. Karena menghadapi tekanan yang cukup berat, Karaeng Galesong bersama pasukannya menuju ke Jawa Timur. Di Jawa Timur Karaeng Galesong tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan melakukan aliansi dengan Raden Trunojoyo di Madura, Jawa Timur.
Karaeng Galesong bersama pendukungnya meninggalkan tanah Gowa menuju tanah Jawa semata-mata untuk berjuang melawan Belanda, sebab di mana-mana Belanda selalu menjadi penguasa dalam bidang ekonomi dan politik. Karaeng Galesong sempat bersekutu dengan Raden Trunojoyo di Madura Jawa Timur, aliansi ini dilakukan untuk menyusun kekuatan besar dalam mengusir penjajah kompeni Belanda dan memerangi orang-orang yang bersekutu dengan Belanda saat itu.

Persekutuan Karaeng Galesong dengan Raden Trunojoyo awalnya dimulai dengan jalinan pernikahan, yaitu antara Karaeng Galesong dengan putri kemenakan Raden Trunojoyo. Surutnya kemenangan Karaeng Galesong bersama Trunojoyo ketika kompeni Belanda memanggil bala bantuan Kapten Joncker dari Ambon dan Arung Palakka dari Bugis. Pada akhirnya Karaeng Galesong meninggal dunia di Ngantang 1679 dan Raden Trunojoyo ditangkap kemudian ditusuk dengan keris oleh Raja Mataram, Amangkura II pada tanggal 2 Januari 1680.

Perjuangan Karaeng Galesong dilakukan sampai akhir hayatnya. Kematian Karaeng Galesong mengakibatkan para pasukannya tidak bisa berbuat banyak. Sisa-sisa pasukan Karaeng Galesong dengan dukungan orang Makassar, Wajo, Luwu, dan pasukan Madura tetap malakukan perlawanan. Tetapi perlawanan yang dilakukan selalu/dapat dibendung dan diparahkan oleh Belanda dan pasukannya.

Buku KARAENG GALESONG sebagai Biografi sang Tokoh Karaeng Galesong (Imannindori Kare Tojeng), anak laki-laki Sultan Hasanuddin, raja Gowa ke enam belas. Karaeng Galesong beraliansi dengan Raden Trunojoyo dari Tanah Madura untuk menentang Belanda dari ambisi dominasi dalam bidang politik dan ekonomi di nusantara ini. Buku ini  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar.


KARAENG GALESONG
Tumenanga Ri Tappa'na

Penulis: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Buana
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2005