Showing posts with label Karaeng Galesong. Show all posts
Showing posts with label Karaeng Galesong. Show all posts

July 29, 2022

KARAENG GALESONG MELAWAN VOC DI JAWA TIMUR

Karaeng Galesong adalah salah satu anak dari Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa dari istri keempat, yaitu I Loqmoq Toboq. Nama asli Karaeng Galesong adalah 1 Maninrorie dan memiliki nama istana I Kare Tojeng. Nama Karaeng Galesong adalah sebuah gelar yang berarti raja di negeri atau di daerah Galesong yang telah diberikan kepada I Maninrorie setelah terpilih menjadi Karaeng oleh rakyat Galesong.

Buku KARAENG GALESONG MELAWAN VOC DI JAWA TIMUR membahas tentang latar belakang dan perjuangan serta akhir perjuangan Karaeng Galesong di Jawa Timur untuk melawan VOC. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

Latar Belakang Karaeng Galesong Berjuang Melawan VOC di Jawa Timur:

  • Pada tanggal 18 November 1667, Kerajaan Gowa secara resmi ditaklukkan oleh VOC dan Arung Palakka dengan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya. Karaeng Galesong dan tokoh-tokoh Makassar lainnya yang tidak menyetujui perjanjian tersebut pergi dari Makassar untuk tetap melawan VOC dan Arung Palakka, dengan melakukan peperangan dan perompakan di lautan.
  • Pada tahun 1673, Karaeng Galesong dan pasukannya menyerang Sumbawa yang merupakan wilayah 'milik' VOC berdasarkan Perjanjian Bungaya, dan mereka tinggal di sana sampai tahun 1674.
  • Pada tahun 1674, orang-orang Makassar mendapatkan Demung, sebagai wilayah basisnya.
  • Tahun 1674, orang-orang Makassar yang ada di Demung melakukan aksi penyerangan pertama di Gresik, namun dapat dipukul mundur oleh VOC.
  • Pada akhir 1674, Karaeng Galesong dan beserta pasukannya pindah ke Bali setelah kematian teman seperjuangannya, Karaeng Tallo.
  • Tahun 1675, Karaeng Galesong dan pasukannya tiba di Jawa Timur dan bergabung dengan orang-orang Makassar di Demung untuk merencanakan aksi penyerangan kedua.
Perjuangan Karaeng Galesong Melawan VOC di Jawa Timur

  • Pada awal 1675, Karaeng Galesong dan pasukannya ke Jawa Timur dan bergabung dengan orang-orang Makassar yang menuju ke Jawa Timur sebelumnya, dan menetap di Demung, Besuki.
  • Pada tahun 1675, Karaeng Galesong memutuskan untuk karena bekerja sama dengan Trunojoyo, mereka memiliki musuh yang sama yaitu VOC dan Mataram. Setelah itu, aliansi ini berhasil menguasai wilayah-wilayah penting, seperti Surabaya, Gresik, Pajarakan, Gerongan, Pasuruan dan lainnya.
  • Tahun 1676, VOC bekerja sama dengan Mataram berhasil menghancurkan kapal-kapal Makassar dan membuat Karaeng Galesong dan pasukannya keluar dari Demung dan menuju ke Madura untuk membentuk kekuatan bersama Trunojoyo.
  • Akhir tahun 1676, aliansi Karaeng Galesong dan Trunojoyo banyak mendapatkan kemenangan. Bisa dikatakan seluruh Jawa Timur, Semarang, Demak sampai Cirebon dapat dikuasai aliansi ini, kecuali Jepara. 5. Desember 1676, Karaeng Galesong dan Trunojoyo mulai muncul perselisihan karena mereka telah berbeda tujuan.
  • Pertengahan Januari 1677, perselisihan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo tetap berlanjut, meskipun begitu Karaeng Galesong tetap netral dan tidak mau memihak VOC.
Akhir dari Perjuangan Karaeng Galesong Melawan VOC di Jawa Timur
  • Pertengahan Januari 1677, perselisihan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo terus berlanjut.
  • Perselisihan tersebut dimanfaatkan oleh Laksamana Speelman merebut Surabaya dari Trunojoyo pada Mei 1677.
  • Pada peristiwa jatuhnya Surabaya, Karaeng Galesong dan pasukannya sudah pindah ke Pasuruan karena Demung tidak aman lagi.
  • Agustus 1677, Karaeng Galesong dan pasukannya menemukan tempat pertahanan yang kuat dan bagus, yaitu di Kakaper atau Keper.
  • VOC dan Arung Palakka bekerjasama untuk mengalahkan pertahanan orang-orang Makassar di Kakaper. Mereka berhasil menjatuhkan benteng Kakaper pada tahun 1679. Karaeng Galesong dan pasukannya melarikan diri di Ngantang. 
  • Di Ngantang, Karaeng Galesong wafat pada tanggal 21 November 1679.


SEJARAH PERJUANGAN
KARAENG GALESONG MELAWAN VOC DI JAWA TIMUR ABAD 17
Penyusun: Melda Amelia Rohana
Penerbit: Universitas Negeri Malang'
Tempat Terbit: Malang
Tahun Terbit: 2017




May 24, 2022

PERANAN KARAENG GALESONG DALAM MEMBANTU PERJUANGAN TRUNOJOYO

Banyak yang mengira bahwa setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani, Kerajaan Gowa mungkin sudah bertekuk lutut dan Belanda sudah menguasai Kerajaan Gowa. Dugaan serupa itu tidak tepat. “Penandatanganan Perjanjian Bungaya tidak identik dengan kekalahan raja dan rakyat Gowa secara total" (Pananrangi Hamid, 1990:147). Hal ini terbukti dengan berkobarnya kembali pertempuran antara Belanda untuk pasukan Gowa dengan pasukan mempertahankan Benteng Sombaopu.

Setelah melalui pertempuran yang sengit, barulah pada tanggal 24 Juni 1669 seluruh Benteng Sombaopu dapat direbut dan dikuasai oleh Belanda. Sebagai akibatnya, maka pada tanggal 29 Juni 1669 Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari tahta Kerajaan Gowa dan digantikan oleh puteranya yakni Sultan Amir Hamzah yang baru berusia 13 tahun.

Pembesar Kerajaan Gowa lainnya ada yang meninggalkan tanah tumpah darahnya untuk meneruskan perjuangannya di luar Sulawesi Selatan. Di antara mereka adalah Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong. Awal kerjasama Karaeng Galesong dengan Trunojoyo (Raja Madura) pada bulan Februari 1674, telah mencapai persepakatan untuk bersama-sama melawan kekuasaan Mataram dan Komponi. 

Buku PERANAN KARAENG GALESONG DALAM MEMBANTU PERJUANGAN TRUNOJOYO merupakan hasil penelitian yang mengungkapkan latar belakang kerjasama Karaeng Galesong dengan Trunojoyo karena keduanya memiliki tujuan yang sama yakni menentang kekuasaan mutlak dan penjajahan Belanda. Peranan Karaeng Galesong dalam membantu perjuangan Trunojoyo adalah sebagai pemimpin pasukan yang ikut mengatur siasat perang. Dengan gagalnya cita-cita perjuangan Trunojoyo dan Karaeng Galesong, membawa pengaruh positif bagi Belanda dan sebaliknya pengaruh negatif bagi Kerajaan Mataram, sedangkan bagi Kerajaan Gowa, pengaruh tidak langsung. 

Peran Karaeng Galesong membantu perjuangan Trunojoyo, terbukti dengan direbutnya daerah-daerah pesisir Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta berjuang sampai akhir hayatnya. Sehingga sepatutnyalah apabila Badan Pembina Pahlawan Nasional mengangkat 1 Maninrori Karaeng Galesong sebagai Pahlawan Nasional. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERANAN KARAENG GALESONG DALAM MEMBANTU PERJUANGAN TRUNOJOYO
Penulis: Hj. Hawani
Editor: Abdul Jalil Mattewakkang
Penerbit: PT. Media Pena Patorani
Tempat Terbit: Galesong
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-623-92206-1-7

November 5, 2020

KARAENG GALESONG



Pertentangan antara Sultan Hasanuddin dan Belanda semakin tegang. Hal itu disebabkan karena pihak Belanda berambisi untuk menguasai perdagangan. Di pihak lain Kerajaan Gowa-Tallo mempertahankan diri sebagai kerajaan yang berdaulat pada zaman itu. Akhirnya, ketegangan yang memuncak, maka pihak Belanda mengadakan serangan terhadap Makassar. Peperangan tersebut diakhiri dengan ditandatangani suatu perjanjian perdamaian, yaitu Perjanjian Bungaya atau Cappaya ri Bungaya.

Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) merupakan kerajaan yang merdeka dan berdaulat. Sektor politik tertata rapi, sektor ekonomi (perdagangan) berjalan lancar. Belanda (VOC) sebagai bangsa yang datang mulanya berdagang. Gowa sebagai daerah yang sangat strategis dalam menghubungkan dengan kerajaan lain. Belanda menganggap penting menguasai Gowa, karena sebagai penguasa di kawasan timur nusantara saat itu. Akhirnya Belanda melakukan berbagai macam cara untuk menguasai Gowa.

Gowa-Tallo dan Belanda terjadi kontak perang, mengakibatkan banyak korban kedua belah pihak, yang selanjutnya ditandatangani Perjanjian Bungaya. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani oleh Speelmen dan pihak Belanda dan Sultan Hasanuddin dari pihak Kerajaan Gowa, beberapa pembesar dan pendukung Kerajaan Gowa tidak menyetujuinya. Akibatnya pembesar-pembesar kerajaan tersebut bersama-sama pasukan dan pendukungnya masih tetap melakukan gerakan dan perlawanan, sebab dalam isi Perjanjian Bungaya tersebut sangat merugikan pihak Kerajaan Gowa dan sekutunya.

Perjanjian Bungaya sangat merugikan pihak kerjaan Gowa-Tallo (Makassar), sebaliknya sangat menguntungkan Belanda (VOC). Peristiwa tersebut mengundang beberapa pembesar kerjaan melakukan gerakan, yaitu Karaeng Bontomarannu, Karaeng Karunrung, Karaeng Tallo, Datu Luwu, Arung Matowa Wajo dan Karaeng Galesong.

Dalam menghadapi kompeni Belanda, Karaeng Galesong menggunakan taktik gerilya dan aliansi. Stategi gerilya diterapkan dengan menyerang posisi Belanda secara tiba-tiba dan kemudian "menghilang"dan konsisi tertentu menyerang lagi. Karena menghadapi tekanan yang cukup berat, Karaeng Galesong bersama pasukannya menuju ke Jawa Timur. Di Jawa Timur Karaeng Galesong tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan melakukan aliansi dengan Raden Trunojoyo di Madura, Jawa Timur.
Karaeng Galesong bersama pendukungnya meninggalkan tanah Gowa menuju tanah Jawa semata-mata untuk berjuang melawan Belanda, sebab di mana-mana Belanda selalu menjadi penguasa dalam bidang ekonomi dan politik. Karaeng Galesong sempat bersekutu dengan Raden Trunojoyo di Madura Jawa Timur, aliansi ini dilakukan untuk menyusun kekuatan besar dalam mengusir penjajah kompeni Belanda dan memerangi orang-orang yang bersekutu dengan Belanda saat itu.

Persekutuan Karaeng Galesong dengan Raden Trunojoyo awalnya dimulai dengan jalinan pernikahan, yaitu antara Karaeng Galesong dengan putri kemenakan Raden Trunojoyo. Surutnya kemenangan Karaeng Galesong bersama Trunojoyo ketika kompeni Belanda memanggil bala bantuan Kapten Joncker dari Ambon dan Arung Palakka dari Bugis. Pada akhirnya Karaeng Galesong meninggal dunia di Ngantang 1679 dan Raden Trunojoyo ditangkap kemudian ditusuk dengan keris oleh Raja Mataram, Amangkura II pada tanggal 2 Januari 1680.

Perjuangan Karaeng Galesong dilakukan sampai akhir hayatnya. Kematian Karaeng Galesong mengakibatkan para pasukannya tidak bisa berbuat banyak. Sisa-sisa pasukan Karaeng Galesong dengan dukungan orang Makassar, Wajo, Luwu, dan pasukan Madura tetap malakukan perlawanan. Tetapi perlawanan yang dilakukan selalu/dapat dibendung dan diparahkan oleh Belanda dan pasukannya.

Buku KARAENG GALESONG sebagai Biografi sang Tokoh Karaeng Galesong (Imannindori Kare Tojeng), anak laki-laki Sultan Hasanuddin, raja Gowa ke enam belas. Karaeng Galesong beraliansi dengan Raden Trunojoyo dari Tanah Madura untuk menentang Belanda dari ambisi dominasi dalam bidang politik dan ekonomi di nusantara ini. Buku ini  merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar.


KARAENG GALESONG
Tumenanga Ri Tappa'na

Penulis: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Buana
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2005