May 31, 2021

AWAL KEBANGKITAN & KERUNTUHAN: PELABUHAN PALLIME DI BONE

 

Pelabuhan Pallime pada awalnya hanya berupa kawasan tepian. Pelabuhan ini berada di perairan Sungai Cenrana yang berhulu di Danau Tempe dan bermuara di Teluk Bone. Pelabuhan ini berada di perairan Sungai Cenrana yang berhulu di Danau Tempe dan bermuara di Teluk Bone. Sejak abad ke 16 Masehi, Sungai Cenrana telah menjadi jalur lalu lintas air yang menghubungkan antara daerah-daerah sekitar muara Teluk Bone dengan daerah-daerah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng.

Jalur tradisional ini merupakan cikal bakal terbentuknya Pelabuhan Pallime sebagai pintu masuk angkut dan muat hasil-hasil bumi di daerah-daerah Bugis. Pelabuhan ini mengalami perkembangan pesat setelah dikuasai oleh pemerintahan kolonial Belanda 1905. Perkembangan pelabuhan Pallime dapat dilihat dari segi perkembangan infrastruktur pelabuhan dan semakin meningkatnya komuditas yang diperdagangkan. Pada periode ini, Sungai Cenrana menjadi sarana infrastruktur yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Hasil-hasil bumi dari Soppeng, Wajo dan daerah sekitar Danau Tempe diangkut melalui Sungai Cenrana menuju Pelabuhan Pallime.

Kemunduran Pelabuhan Pallime disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, penguasaan pemerintah Jepan tidak lebih menekankan politik beras daripada pembangunan pelabuhan. Di samping itu, situasi keamanan regional pasca proklamasi kemerdekaan dengan adanya pergolakan daerah, seperti DI/TII dan Permesta menjadi daerah-daerah perdagangan laut dikuasai oleh DI/TII dan penyeludupan kopra, beras oleh militer sehingga pelabuhan rakyat mengalami kemunduran. Kemudian penurunan produksi pertanian pada tahun 1950an-60an juga ikut menyumang terjadinya kemunduran Pelabuhan Pallime.

Selain faktor makro ekonomi tersebut, persoalan geografis seperti pendangkalan Sungai Cenrana di Pallime kemudian perkembangan Pelabuhan BajoE yang beriring dengan perkembangan transportasi darat. Akibatnya jalur sungai tidak menjadi penting sehingga Pelabuhan Pallime lambat laun menjadi redup.

Buku AWAL KEBANGKITAN & KERUNTUHAN: PELABUHAN PALLIME DI BONE mengupas awal kebangkitan dan keruntuhan Pelabuhan Pallime dan pengaruh sosio-ekonomi, serta geo-politik masyarakat disekitarnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

AWAL KEBANGKITAN & KERUNTUHAN: PELABUHAN PALLIME DI BONE
Penulis: Taufik Ahmad, Syahrir Kila
Editor: Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-979-3570-90-7

May 25, 2021

KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI

Karampuang adalah nama sebuah kampung yang terletak sekitar 31 km arah barat Ibu Kota Kabupaten Sinjai yang memiliki sejarah panjang serta beberapa keunikan yang disandangnya. Kehadiran Karampuang berawal dari adanya suatu peristiwa besar yakni dengan munculnya seseorang yang tak dikenal, dan dikenal sebagai To Manurung.

To Manurung ini muncul di atas sebuah bukit yang saat ini dikenal dengan nama Batu Lappa. Dalam Lontara Karampuang dikisahkan bahwa asal mula adanya daratan di Sinjai, berawal di Karampuang. Dahulu daerah ini adalah merupakan wilayah lautan sehingga yang muncul tempurung yang tersembul di atas permukaan air. Di puncak Cimbolo inilah muncul To Manurung yang akhirnya digelar Manurung KrampuluE (seseorang yang karena kehadirannya menjadi bulu kuduk warga berdiri). Kata KrampuluE tadi akhirnya berubah menjadi Kampuang.

Penamaan selanjutnya adalah perpaduan antara karaeng dan puang akibat dijadikannya lokasi itu sebagai pertemuan antara orang-orang Gowa yang bergelar karaeng dan orang-orang Bone yang bergelar puang. Setelah Manurung KarampuluE diangkat oleh warga untuk menjadi raja, maka dia memimpin warga untuk membuka lahan-lahan baru. Tak lama kemudian dia mengumpulkan warganya dan berpesan, eloka tua, tea mate, eloka madeceng, tea maja: ungkapan ini adalah suatu pesan yang mengisyaratkan kepada warga pendukungnya untuk tetap melestarikan segala tradisinya.

Setelah berpesan maka tiba-tiba lenyap. Tak lama kemudian terjadi lagi peristiwa yang besar yakni dengan hadirnya tujuh to manurung baru yang awalnya muncul cahaya terang  di atas busa-busa air. Setelah warga mendatangi busa-busa itu, maka telah muncul tujuh to manurung tadi dan diangkat sebagai pemimpin baru. Pemimpin yang diangkat adalah seorang perempuan sedangkan saudara laki-lakinya diperintahkan untuk menjadi raja di tempat lain dan menjadi to manurung-to manurung baru. Dalam lontara dikatakan, "laocimbolona, monrocapengna". Pada saat melepaskan saudara-saudaranya, di berpesan, "nonnono makkale lembang, numaloppo kuallinrungi, numatanre kuaccinaungi, makkelo kuakkelori, ualai lisu". (Turunlah kedaratan, namun kebesaranmu kelak harus mampu melindungi Karampuang, raihlah kehormatan namun kehormatan itu kelak turut menaungi leluhurmu. Meskipun demikian segala kehendakmu atas kehendakku juga, kalau tidak, maka kebesaranmmu akan aku ambil kembali).

Akhirnya mereka menjadi raja di Ellung Mangenre, Bonglangi, Bontona Barua, Carimba, Lante Amuru dan Tassese. Dalam perjalanan masing-masing diamanahkan untuk membentuk dua gella. Dengan demikian maka terciptalah 12 gella baru, yaitu Bulu Biccu, Salohe, Tanete, Maroanging, Anakarung, Munte, Siung, Sulewatang Bulo, Sulewatang Salohe, Satengnga, Pangepena Satengna. Setelah saudaranya telah menjadi raja, saudara tertuanya yang tinggal di Karampuang pun lenyap dan meninggalkan sebuah benda. Kelak benda inilah yang dijadikan sebagai arajang dan sampai saat ini disimpan di rumah adat. Sedangkan untuk menghormati to manurung tertua ini, maka rumah adatnya, semua dilambangkan dengan simbol perempaun.

Buku KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI membahas tentang kampung tradisional Karampuang yang ditinjau dari pola hidup pendukungnya serta keberadaan lembaga adatnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI
Penulis: Muhannis
Editor: Zainal Abidin Ridwan
Penerbit: Ombak Yogyakarta
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-3837-28-4


May 24, 2021

LATOA: LONTARAK TANA BONE


Lontara Latoa berisi ajaran-ajaran moral, sejenis rapang dalam kepustakaan Bugis-Makassar sebagai kumpulan catatan dari ucapan-ucapan dan perbuatan raja-raja dan orang pandai dalam berbagai masalah. Lontara Latoa juga menjadi pedoman pemerintah di seluruh tanah Bugis dan Luwu sebagai pelengkap isi perjanjian antara raja dan rakyat. Terutama di Soppeng, mungkin karena dalam Latoa dituliskan juga ajaran moral pemerintah La Waniaga, Arung Bila, Mangkubumi Soppeng pada abad XVI (sezaman dengan La Mellong Kajao Laliddong, La Paturusi To Maddualeng (Wajo) dan La Pagala Nenek Mallomo (Sirenreng). 

Latoa juga juga dipergunakan di Wajo, sepanjang tidak bertentangan dengan perjanjian-perjanjian orang Wajo dan La Tiringeng To Taba' Arung Saotanre (abad XV) pada tahun 1476. Setelah Batara Wajo ke-3 La Pateddung To Samallangik dipecat, Wajo berbeda dengan kerajaan lain, karena Arung Matoa tidak boleh mewariskan/diwariskan, tetapi harus dipilih.  Lagi pula, Wajo mengenal konsep baru yaitu hak-hak asasi manusia, konsep public servant  (kerajaan adalah abdi rakyat) dan adek-lah yang dipertua. Arung Matoa tidak mempunyai kekuatan besar, juga Wajo tidak mempunyai arajang (yang dianggap sebagai pemilik kerajaan). Orang yang dianggap pemilik kerajaan di Wajo adalah arumpanua (raja dan rakyat semuanya). Pemegang kekuasaan tertinggi adalah Dewan Pemangku Adat yang anggotanya berjumlah empat puluh orang, diantaranya adalah wakil-wakil limpo daerah bagian. 

Buku LATOA: LONTARA TANA BONE membahas Latoa sebagai bahan utama lontarak hukum dan moral  adalah sejenis buku yang ditulis dengan huruf sulapak eppak, isinya meliputi ajaran kesusilaan, pemerintahan, hukum acara, perjanjian antara kerajaan dan petuah-petuah pada abad XV dan XVI yang telah diwariskan pada generasi berikutnya sampai sekarang. Penetapan naskah Latoa sebagai sumber data utama dipandang tepat, karena beberapa alasan:

  1. Karena Latoa sebagai Lontarak yang ditulis dalam bahasa Bugis, yang memuat sistem Pangngaderreng secara lengkap dan mengalami penulisan ulang setelah masuknya Islam.
  2. Karena unsur-unsur Pangngaderreng dalam Latoa lebih banyak mengandung konsep syariat Islam dibandingkan dengan konsep Lantarak Bugis lainnya.
  3. Karena Latoia adalah Lontarak orang Bugis Bone yang justru merupakan Kerajaan Bugis yang paling terkenal pada periode itu.
  4. Karena tokoh sumber yang terlibat dalam Latoa adalah tokoh-tokoh Bugis abad XV dan XVI (kecuali Nabi Muhammad SAW, dan Lukmanul Hakim).
Berdasarkan penetapan naskah Latoa sebagai data utama lontarak hukum dan moral, maka ditarik kesimpulan, bahwa Islam sudah dikenal dalam lapisan masyarakat tertentu di Tana Bone sebelum penerimaan Islam secara resmi oleh Raja Bone. Perhatian besar Raja Bone terhadap Islam tinggi, hingga beliau pegi ke Sidenreng untuk mendalami Islam sampai wafat di sana. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam Lontarak, terdapat subtansi-subtansi Islam yang sedemikian luas mewarnai pandangan-pandangan dalam Latoa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LATOA: LONTARA TANA BONE
Penulis: Hj. Andi Rasdiyanah
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-328-037-7


May 21, 2021

I TOLOK DAENG MAGASSING SI PITUNG DARI TANAH MAKASSAR

I Tolok Daeng Magassing adalah salah seorang tokoh pejuang legendaris dari Kampung Parapa yang melakukan gerakan perlawanan terhadap tentara Belanda dan orang-orang pribumi yang pro Belanda. I Tolok Daeng Magassing tak sudi melihat rakyat melihat rakyat kecil diombang ambingkan, diperas dan diintimidasi oleh tentara Belanda. Membuat ia bangkit untuk melakukan perlawanan, dengan gaya perlawanan seperti yang dilakukan oleh Robin Hood dari Inggeris atau si Pitung dari Betawi.

I Tolok melakukan perampokan, membuat Belanda pusing, tak heran bila Belanda mencap I Tolok sebagai Pagorra Patampuloa, dengan menggalang kekuatan dengan rekan seperguruan, jumlah anggotanya kurang lebih 40 orang. Dari kekuatan itulah, pasukan I Tolok kemudian bergerilya masuk hutan. I Tolok kemudian bergerilya masuk hutan dan melakukan perampokan terhadap orang-orang Belanda atau orang kaya pro Belanda, lalu hasil rampokannya dibagi ke orang miskin. I Tolok juga banyak melakukan sabotase penghadangan serta merampas senjata dan amnusi orang Belanda.

Gerakan yang dilakukan I Tolok, telah berhasil mengacaukan pemerintahan kolonial Belanda. Selain perampokan, juga sabotase yang paling dahsyat dilakukan adalah dengan meledakkan kereta api dengan dinamit di daerah Kalokko Boka. Kereta yang diledakkan itu, sarat  dengan hasil bumi dan banyak membunuh tentara Belanda.

Bagaimanapun lincahnya seorang tolok, tetapi akhirnya ia takluk. Lewat penghianatan dari rekan seperjuangannya, akhirnya Belanda mengetahui persembunyiannya. Dari situlah I Tolok berhasil ditangkap, kemudian ditembak mati hingga menemui ajalnya dan dimakamkan di kampung halamannya. 

Buku I TOLOK DAENG MAGASSING SI PITUNG DARI TANAH MAKASSAR membahas sepak terjang I Tolok dalam melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda. Selain sepak terjang I Tolok Daeng Magassing buku ini juga membahas I Maddi Daeng Ri Makka Ujung Buntuk Tau Rewa, yang berani tampil di medan perang dan mempertaruhkan nyawanya. Soal mati baginya, itu adalah resiko sebuah perjuangan, karena bila dirinya sudah dipermalukan, jika diinjak-injak siriknya, maka ia akan bangkit melawannya. Buku ini salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


I TOLOK DAENG MAGASSING SI PITUNG DARI TANAH MAKASSAR
Penulis: Zainuddin Tika, Adi Suryadi Culla, Hamzah Daeng Temba
Penerbit: Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan kerjasama dengan 
Dinas Perpustakaan Kota Makassar
Tahun Terbit: 2018



May 20, 2021

PERMAINAN RAKYAT TRADISIONAL KABUPATEN GOWA


Permainan rakyat merupakan salah satu bentuk tradisi lisan (folklore). Folklore adalah kebudayaan tradisional suatu kelompok masyarakat yang diwariskan secara lisan dan bersifat anonim, dalam artian tidak diketahui siapa penciptanya. Upaya pelestarian permainan rakyat tradisional Kabupaten Gowa sebagai salah satu unsur-unsur seni budaya dan diharapkan dapat menunjang daya tarik wisata ke Kabupaten Gowa. 

Berdasarkan perbedaan sifat permainan maka permainan rakyat tradisional Kabupaten Gowa dapat dibagi atas dua yaitu permainan untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Berikut identifikasi permainan rakyat di Kabupaten Gowa:

1. Permainan Bermain (Play)
  • Permainan Anak Balita
  • A'Padeko
  • A'Songko-Songko Jangang
  • A'Datte-Datte
  • A'Toweng-Toweng
2. Permainan Bertanding (Game)
    (a) Permainan bertanding yang bersifat kekuatan/keterampilan fisik (game of physical skill)
  • A'Gasing
  • A'Raga
  • A'Bole-Bole/A'Kandasse
  • A'Longga-Longga
  • A'Kaddaro atau A'Gale
  • A'Layang-Layang
  • A'Sempak
  • A'Lanja
  • Bambu Gila dari Jipang
    (b) Permainan bertanding yang bersifat siasat (Game of Strategy)
  • Asing atau A'Salo
  • A'Cokko-Cokkoang
  • A'Galacang/A'Kanraco
  • A'Dende
  • A'Santo
  • A'Cangke
  • A'Taruk
Perbedaan antar keduanya terlihat bahwa permainan untuk bermain (play) lebih bersifat untuk mengisi waktu senggang atau rekreasi, sedangkan permainan untuk bertanding mempunyai sifat khusus antara lain terorganisasi, perlombaan dimainkan dua orang atau lebih. Oleh karena itu perlu adanya penentuan urutan yang jadi. Di antaranya adalah dengan cara lemparan, Hompingpang, Cincinlojo, Cincing Banca, Pus, Sut, dan menunjuk sambil bernyanyi (counting-out time), yang dinyanyikan biasanya syair Cincing Banca. Selain itu pada permainan untuk bertanding ada kreteria menang atau kalah dan punya aturan permainan. Buku PERMAINAN RAKYAT TRADISIONAL KABUPATEN GOWA merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERMAINAN RAKYAT TRADISIONAL KABUPATEN GOWA
Penulis: Syaifuddin Nontji, Syarifuddin Tutu, Hj. Hasriah Hamzah
Editor: Alwi Arifin
Penerbit: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Gowa bekerjasama dengan Yayasan Bina Amaliyah Kabupaten Gowa
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2006

May 19, 2021

BOMBONNA LARIANG BANGNGI

Novel ini menceritakan sepasang kekasih yang melakukan kawin lari atau Silariang. Pada zaman dulu, kasus silariang biasanya dilakukan di waktu malam, disaat semua orang semua istirahat tidur terlelap. Bila seorang gadis cantik yang terkenal melakukan silariang di waktu malam, itulah sebabnya masyarakat mengistilahkan Bombonna Lariang Bangngi artinya gadis cantik dan manis diistilahkan dengan bombong (puncak) melakukan silariang bersama kekasihnya di waktu malam. Dengan peristiwa itulah, menjadi inspirasi bagi seniman untuk membuat lagu diantaranya berjudul Bombonna Lariang Bangngi.

Kisah ini menceritakan, seorang gadis cantik dan ia anak raja di Kerajaan Saumata benama Marawanting. Karena takut terhadap kawin paksa dari orang tuanya yang memilih laki-laki lain yang ia tidak sukai, membuat Marawanting nekat kabur bersama kekasihnya I Baso Ana Kondoa yang hanya dari kalangan rakyat biasa.

Perkawinan beda status ini merupakan sebuah gerakan bagi anak raja untuk menentang tradisi bagi kerajaan di zaman dahulu, dimana para raja hanya mau mengawinkan anaknya, bila status sosial mereka sederajat. Tujuannya adalah untuk mempertahankan darah biru atau status sosial yang tinggi. Mereka selalu menentang perkawinan yang beda status, apalagi kalau laki-laki dari kalangan rakyat jelata. Inilah yang ditentang oleh Marawanting sehingga nekat melakukan silariang bersama kekasihnya I Baso Anak Kondoa.

Buku BOMBONNA LARIANG BANGNGI bertujuan mengangkat budaya sirik na pacce dalam kasus silariang tempo dulu yang biasanya dilakukan pada saat tengah malam.  Budaya siri na pacce inilah yang akan melindungi setiap manusia dari perbuatan terhina. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BOMBONNA LARIANG BANGNGI 
Penulis: Zainuddin Tika, Adi Suyadi Culla, Hamzah Dg. Temba
Penerbit: Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan kerjasama dengan Madani Publishing
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tempat Terbit: 2018



May 18, 2021

SEJARAH TINGGIMONCONG

Kecamatan Tinggimoncong, banyak menyimpang situs sejarah dan budaya yang memiliki cerita sejarah, legenda atau mitos yang sangat unik. Situs sejarah dan budaya tersebut tersebar diberbagai daerah-daerah bekas kerajaan kecil dan pada masa pemerintahan Belanda disebut Pemerintahan Adat (Adat Gemeinschap), seperti di Gantarang, Buluttana, Bulo dan masih banyak lainnya.

Awal mula Kerajaan Gantarang diawali dengan datangnya Tumanurung dari negeri Kayangan bergelar Bulaengta. Kedatangan Bulaengta di Bumi Gantarang untuk mengatasi permasalahan, diantaranya menderita kelaparan, karena tanaman yang kekeringan, ternak banyak yang mati. Ketika Tumanurung Bulaengta datang ke negeri Gantarang, ia bermohon kepada Dewata, agar diturunkan hujan. Permintaannyapun dikabulkan, dan hujan mulai turun, tanah menjadi subur, padi dan palawija tumbuh subur, ternak mulai berkembang dan rakyat kian sejahtera. Makam Bulaengta kini berada di puncak Gantarang dan setiap tahunnya sering dilakukan acara panen di daerah itu.

Demikian halnya di Kerajaan Buluttana, bermula ketika Sawerigading mengembara ke Gunung Bawakaraeng. Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari warga Buluttana. Saweringading kemudian dinobatkan menjadi raja pertama di Buluttana yang berkelar Karaeng Sombaopu. Makam Karaeng Sombaopu kini ada di dekat Balla Jambua di Buttana.

Dikerajaan Bulo lain lagi ceritanya, pada zaman purba, rakyat Bulo banyak melakukan perbuatan melanggar norma agama, seperti main judi, minum minuman keras dan sebagainya. Ketika dewata menurunkan azab berupa kelaparan, barulah rakyat Bulo sadar atas perbuatannya. Kedatangan Tumanutung di Kerajaan Bulo untuk mengatasi masalah kelapan tersebut. Rakyat Bulo kemudian minta pada Tumanurung untuk menjadi raja dinegerinya. Rakyat kemudian membangun sebuah istana yang disebut Balla Barua, dimana bahan bagunannya kebanyakan dari bambu.   

Buku SEJARAH TINGGIMONCONG membahas tentang sejarah Kerajaan Gantarang, Kerajaan Buluttana, Kerajaan Bulo dan cerita lagenda obyek wisata di Kecamatan Tinggimoncong, seperti Lagenda Air Terjun Takapala, Air Terjun Ketemu Jodoh, Air Terjung Bulang, Gunung Bawakaraeng, Sejarah Gedung Konfrensi Malino, Meriam Peninggalan Jepang di Buluttana, Embun Pagi, dan masih banyak cerita unik lainnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH TINGGIMONCONG
Penulis: Zainuddin Tika, Hasbullah, Mas'ud Kasim, Arifin Manure
Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2013


May 10, 2021

LONTARA PATTURIOLOANNA TU GOWAYA

I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa adalah Raja Gowa ke XII. Walau dalam sejarah Gowa dijelaskan bahwa Islam masuk di Butta Gowa sejak abad XVI yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV I Mangnga'rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, namun berdasarkan tulisan dari Lontara Patturioloang, terungkap bahwa sebelum Sultan Alauddin memeluk Islam, sudah ada raja yang menyebarkan Islam, yakni Raja Gowa ke XII I Manggorai Daeng Mammeta.

Dalam lontara itu disebutkan, I Manggorai telah memerintahkan rakyatnya untuk membangun masjid di Katangka, juga menyuruh orang mengaji, naik haji serta kegiatan ibadah lainnya.

Baginda I Manggorai pula telah banyak melakukan hubungan persahabatan dengan beberapa kerajaan di Asia, bukan hanya di Sulawesi, juga di tanah Jawa, Banjar bahkan sampai ke Negeri Patani di Thailand.

Di masa Karaengta I Manggorai ini pula, industri mulai berkembang, ada yang disebut panrita balla (arsitek rumah), panrita kopi (perahu), pandai besi, pandai emas, tukang gurinda, tukang buat senjata meriam dan masih banyak laginya.

Salah satu keanehan yang dimiliki oleh Karaeng Bontolangkasa adalah, saat ia wafat dan dimakamkan di kampung Bontolangkasa Kecamatan Bontonompo, ketika jenasahnya mau diturunkan di liang lahat, tiba-tiba ada sinar pelangi memancar sangat terang, ketika pelangi menghilang, hilang pulalah jenasah Karaengta Bontolangkasa, jadi sisa yang dikuburkan saat itu hanyalah kain kafan.

Buku LONTARA PATTURIOLOANNA TU GOWAYA  tentang sejarah perjuangan Raja Gowa XII I  Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa yang dilengkapi terjemahan lontara menyangkut kejadian gempa bumi, gerhana, petir dan tanda alam lainnya. Peristiwa alam seperti itu oleh orang tua dahulu, dipakai untuk meramal apa-apa yang akan terjadi kemudian.


LONTARA PATTURIOLOANNA TU GOWAYA 
Penulis: Syarifuddin Kulle, Zainuddin Tika, Muh. Ridwan Syam
Penerbit: Proyek Pengembangan Minat dan Budaya Baca, Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Gowa
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2007


May 7, 2021

NILAI DEMOKRASI DALAM BUDAYA BUGIS-MAKASSAR


Kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang ideal, adalah didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi yang berlandaskan moralitas-religius. Pemimpin atau raja bukanlah penguasa yang berkuasa atas rakyatnya. Kekuasaan dalam budaya Bugis-Makassar memiliki makna pengayoman kepada rakyat. Penguasa atau raja adalah sebagai pengayom untuk memelihara dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. 

Dalam budaya Bugis-Makassar telah diadatkan, bahwa seseorang yang patut dijadikan pemimpin adalah orang yang di dalam dirinya terpelihara kata-kata yang dapat dipegang atau dipercaya; seseorang yang memiliki sifat yang mampu menyesuaikan antara kata dan perbuatan. Berikut nilai-nilai dasar yang melengkapi dan memberi nilai-nilai nafas-kultural Bugis-Makassar pada dasar dan ideologi negara:

  • ada tongeng (kata benar)
  • lempu' (kejujuran)
  • getteng (tegas/teguh pada prinsip yang benar)
  • sipakatau (saling menghormati antara sesama manusia) dan 
  • mappesona ri pawinru' seuwaE (berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa)
Hak untuk menyampaikan pendapat dan atau melancarkan kritik (tentu dengan batas-batas kewajaran dan kepatutan/asitinajang). Protes dan kritik rakyat tidak dapat diabaikan. Raja dan penegak hukum (pakkatenni ade' atau pabbicara) harus memberikan tanggapan positif. Kelalaian dalam menanggapi ketidak-puasan rakyat dianggap dapat menjadi penyebab terjadinya ketidak-seimbangan kosmos, terjadi malapetaka musim kemarau berkepanjangan dan dapat mengundang terjadinya kerusuhan berupa tindak-amuk rakyat kepada raja dan pejabat-pejabat kerajaa, sesuai ajaran para cerdik pandai (to acca) seperti Kajaolaliddong, To Ciung MaccaE ri Luwu, Petta MatinroE dan Nene' Mallomo.

NILAI DEMOKRASI DALAM BUDAYA BUGIS-MAKASSAR
Penyusun: Abdul Rahim, Anwar Ibrahim
Editor: Muhammad Masrury, Muhammad Ruslan
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2004


May 6, 2021

MONOGRAFI KEBUDAYAAN MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN


Suku Makassar seperti halnya suku bangsa lainnya di Nusantara ini berasal dari India Belakang, mereka datang ribuan tahun lalu secara bergelombang. Menurut penelitian para ethnolog, orang Makassar digolongkan dalam turunan orang Melayu Muda (Deutro Melayu) yang datang pada gelombang kedua. Selanjutnya dikatakan sebelum orang Melayu Tua (Proto Melayu) yang datang pada gelombang pertama. Orang Melayu Tua sebagai penghuni pertama daerah ini, terdesak daerahnya dari pesisir pantai.

Berdasarkan keterangan tersebut, maka diduga keturunan Melayu Muda didukung oleh suku bangsa Bugis, Makassar dan Mandar.

Menurut Mitos, bahwa yang pertama-tama meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan konsep kebudayaan di Sulawesi Selatan pada masa lampau adalah Tomanurung. Munculnya Tomanurung ini membawa suatu pandangan baru di bidang politik, kepemimpinan dan pemerintahan. Sebelum datangnya Tomanurung, kekacauan terjadi dimana-mana, kelompok-kelompok masyarakat tidak teratur, antara kelompok dengan kelompok lainnya saling bermusuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari suku Makassar umumnya masih terikat oleh sistem norma dan aturan adat yang dianggap luhur dan keramat. Keseluruhan sistim norma dan aturan-aturan ada itu disebut Pangngadakang.

Bahasa yang digunakan salah satu diantaranya bahasa Makassar (Mangkasara). Menurut lontarak Gowa, lontarak ini diciptakan oleh Daeng Pamatte, seorang pembesar Kerajaan Gowa dan syahbandar pertama di Gowa disaat pemerintahan Raja Gowa Tumapa'risi Kallona. Huruf ciptaan Daeng Pamatte ini dinamai Lontarak Gowa.

Kemudian lontarak ciptaan Daeng Pamatte mengalami perkembangan dan perubahan secara terus menerus sampai abad ke XIX. Huruf lontarak Makassar sekarang ini tetap terpakai disebut lontarak baru yang jumlahnya 18 buah ditambah satu huruf lagi yaitu HA, tambahan ini ada pada lontarak baru.

Pada abad ke XVII sesudah Agama Islam masuk di Sulawesi Selatan, disamping aksara lontarak tersebut digunakan juga aksara yang berasal dari huruf Arab dan aksara ini dinamai aksara serang (ukiri serang).

Adapun naskah-naskah lontarak dengan tulisan tangan orang Bugis-Makassar menurut himpunan kesusasteraan yang ragamnya bermacam-macam. Silsilah raja-raja disebut "patturioloang", himpunan peraturan disebut "rapang", himpunan amanat-amanat cendekiawan dan pemimpin-pemimpin ternama disebut "pappasang", himpunan untuk melihat waktu, hari, bulan dan tahun disebut "kutika", himpunan mengenai kejadian-kejadian penting, baik mengenai raja-raja maupun umum disebut "Lotarak Bilang".

Bahasa Makassar dapat dijumpai dalam beberapa turunan yang merupakan dialek yang hidup dan berkembang dalam kelompok dan dapat dibagi sebagai berikut:

  • Dialek Lakiung
  • Dialek Turatea
  • Dialek Bantaeng
  • Dialek Konjo
  • Dialek Bira Selayar.
Buku MONOGRAFI KEBUDAYAAN MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN mengemukakan gambaran umum kehidupan orang Makassar yakni adat istiadat; bahasa; mata pencarian; peralatan perlengkapan hidup, struktur organisasi sosial orang Makassar; kepercayaan dan sistem pengetahuan; kesenian serta obyek-obyek wisata budaya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


MONOGRAFI KEBUDAYAAN MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Racmah, dkk
Editor: Muhammad Nur Rasuly
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1984