Kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang ideal, adalah didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi yang berlandaskan moralitas-religius. Pemimpin atau raja bukanlah penguasa yang berkuasa atas rakyatnya. Kekuasaan dalam budaya Bugis-Makassar memiliki makna pengayoman kepada rakyat. Penguasa atau raja adalah sebagai pengayom untuk memelihara dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Dalam budaya Bugis-Makassar telah diadatkan, bahwa seseorang yang patut dijadikan pemimpin adalah orang yang di dalam dirinya terpelihara kata-kata yang dapat dipegang atau dipercaya; seseorang yang memiliki sifat yang mampu menyesuaikan antara kata dan perbuatan. Berikut nilai-nilai dasar yang melengkapi dan memberi nilai-nilai nafas-kultural Bugis-Makassar pada dasar dan ideologi negara:
- ada tongeng (kata benar)
- lempu' (kejujuran)
- getteng (tegas/teguh pada prinsip yang benar)
- sipakatau (saling menghormati antara sesama manusia) dan
- mappesona ri pawinru' seuwaE (berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa)
Penyusun: Abdul Rahim, Anwar Ibrahim
Editor: Muhammad Masrury, Muhammad Ruslan
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2004

No comments:
Post a Comment