June 28, 2024

DARI WANUA RI LALENG KE WANUA LAENG

Pintu keluar beras di bagian tengah jazirah Sulawesi Selatan ke Parepare pada 1926, adalah tonggak penting yang mengakselerasi aktivitas perdagangan beras di pelabuhan. Puncaknya ialah berlangsung sepanjang dekade 1930, di mana pelabuhan Parepare memainkan peran sebagai pusat perniagaan beras di kawasan Selat. Pada gilirannya, peranan itu telah menggeser posisi Makassar sebagai pelabuhan utama ekspor untuk komoditas beras di Sulawesi Selatan. 

Realitas historis yang ditemukan bahwa aktivitas pelayaran dan perdagangan di Sulawesi bagian selatan pada paruh pertama abad ke-20 tidak selalu didominasi ramainya hilir mudik kapal dan perahu di pelabuhan Makassar dengan komoditas kopranya. Sepanjang dekade 1930, Parepare justru mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan komoditas primadonanya, yakni beras. Bisa dikatakan bahwa posisi Sulawesi Selatan sebagai daerah surplus beras selama dekade 1930 tidak terlepas dari peran Parepare sebagai pelabuhan utama ekspor. Dengan demikian, selama periode tersebut, suplai beras dari Sulawesi Selatan ke daerah seberang bukanlah terutama diekspor dari pelabuhan Makassar, sebagaimana umum diungkapkan dalam historiografi sejauh ini, melainkan sebagian besar dikapalkan dari pelabuhan Parepare.

Komoditas beras juga mewarnai kedudukan pelabuhan Parepare  dalam konteks fungsi perdagangan. Merujuk pada tipologi pelabuhan g diperkenalkan oleh Leong Sau Heng, Parepare dapat dikategorikan sebagai collecting centre (pelabuhan pengumpul), yakni salah satu tipe pelabuhan yang berperan sebagai penyuplai komoditas bagi entrepot (pelabuhan utama). Dalam aturan itu, pengapalan barang-barang ekspor di Parepare yang berasal dari daerah pedalaman (wanua ri laleng) atau pelabuhan pengumpan (feeder points) umumnya diangkut ke Makassar atau entrepot lainnya, seperti Surabaya. 

Komoditas beras di Parepare dikapalkan langsung ke wamua laeng dengan perahu layar dan kapal KPM (Koninklijke Pakketvaart Maatschappij). Hal ini sebenarnya telah nampak di awal abad ke-20 dan semakin tampak jelas seiring peran Parepare dalam perdagangan beras di Selat Makassar pada 1930-an. Berdasarkan kondisi tersebut, bisa diutarakan bahwa Parepare tidak selamanya bertindak sebagai collecting centre. Dengan kata lain, Parepare telah melampaui fungsinya dalam perdagangan (over- collecting centre) yang disokong dengan kedudukannya sebagai pusat perniagaan beras di kawasan selat, khususnya selama dekade 1930. 

Tesis DARI WANUA RI LALENG KE WANUA LAENG: PERAN PELABUHAN PAREPARE DALAM PERDAGANGAN BERAS DIKAWASAN SELAT MAKASSAR (1905-1939) membahas tentang :

  • Perkembangan pelabuhan Parepare ditopang oleh berbagai keadaan. Dalam hal faktor internal, letak dan kondisi geografis pelabuhan adalah pendukung utama bagi perkembangan Parepare sebagai pintu gerbang di pantai barat Sulawesi. Selain keterlibatannya dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran di pelabuhan, hal itu juga tampak dari adanya pembuatan perahu di kawasan teluk, seperti Kampung Ujung dan Ujung Lero. Sedangkan faktor eksternal yang menentukan perkembangan pelabuhan. Dalam hal ini kebijakan pemerintah kolonial Belanda seperti pengembangan infrastruktur pelabuhan.
  • Pasang surut peran pelabuhan Parepare dalam perdagangan beras di kawasan Selat Makassar yang dibagi ke dalam dua bentuk, yakni faktor penghambat dan faktor pendukung. Faktor penghambat ialah sawah tadah hujan, kualitas beras dan kebijakan pasar bebas, kualitas beras yang rendah, serta kebijakan pasar bebas. Faktor pendukung peranan pelabuhan dalam perdagangan beras yakni intensifikasi pertanian di wanua ri laleng, pengembangan jaringan jalan, perkembangan teknologi, struktur ekonomi, serta kontrol negara.
  • Dampak perdagangan terhadap perkembangan kota pelabuhan Parepare seperti pasar, penginapan, perbankan, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas lainnya.

Dari ketiga poin tersebut menjadi bukti bahwa komoditas beras merupakan motor penggerak sejarah pelabuhan Parepare pada periode kolonial. Tesis ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


DARI WANUA RI LALENG KE WANUA LAENG 
PERAN PELABUHAN PAREPARE DALAM PERDAGANGAN BERAS 
DIKAWASAN SELAT MAKASSAR (1905-1939)
Penulis: Syafaat Rahman Musyaqqat
Penerbit: Universitas Indonesia
Tempat Terbit: Depok
Tahun Terbit: 2021


June 25, 2024

PINTU-PINTU KEBAIKAN



 

"Buku 'Pintu-Pintu Kebaikan' karya Dr. Faishal Al Hulaibi, cetakan tahun 2015, merupakan sebuah panduan yang mendalam tentang bagaimana mencapai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dr. Faishal Al Hulaibi, seorang penulis dan pendakwah terkemuka, menggali konsep-konsep kebaikan dari sudut pandang Islam yang praktis dan relevan.

 

Buku ini terdiri dari serangkaian pintu atau bab yang masing-masing membahas aspek tertentu dari kebaikan, mulai dari kualitas pribadi seperti kesabaran dan kejujuran, hingga hubungan sosial dan spiritualitas. Setiap bab disusun dengan bahasa yang mudah dipahami namun tetap mengandung kedalaman filosofis, memungkinkan pembaca untuk mengaplikasikan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.

 

Dr. Faishal Al Hulaibi juga menyajikan argumen yang kuat dan cerita-cerita yang menginspirasi untuk mendukung setiap konsep yang dibahasnya, menjadikan buku ini tidak hanya sebagai panduan praktis, tetapi juga sebagai sumber motivasi dan refleksi spiritual bagi pembacanya.

 

Dengan penekanan pada pengembangan karakter dan perbaikan diri, 'Pintu-Pintu Kebaikan' menawarkan pandangan yang holistik tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang bermakna dan berarti, sesuai dengan nilai-nilai Islam. Buku ini sangat cocok bagi siapa pun yang mencari inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berkontribusi positif dalam masyarakat."

 

Buku Pintu-Pintu Kebaikan dengan judul asli Hadaiqul ma'ruf merupakan salah satu koleksi Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Buku ini menjelaskan 15 pintu kebaikan yang memiliki segudang keutamaan, selain itu buku ini juga memberikan peringatan akan bahaya penyakit futur. Penyakit yang dapat menyerang siapa saja termasuk alim ulama dan ustadz sekalipun. Penyakit ini bisa menurunkan kuantitas bahkan kualitas ibadah seseorang. Di dalam buku ini penulis akan memaparkan apa saja penyebabnya, bagaimana tanda-tandanya, juga memberikan solusi terapinya.

 

PINTU-PINTU KEBAIKAN

Penulis           : Faishal bin Su'ud Al-Hulaibi

Alih Bahasa    : Arif Muhamudi

Penerbit          : Istanbul

Tempat Terbit  : Solo

Tahun Terbit    : 2015

ISBN                : 978-979-039-342-4

 


June 22, 2024

Mengenal Monumen Perjuangan di Sulawesi Selatan

 


Judul:                           Monumen Sejarah Perjuangan Bangsa Sulawesi Selatan Seri 2

Penulis:                        Muh. Arfah, Siti Nuraedah dan Muh. Amir

Editor:                         -

Penerbit:                     Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:               2005

Jumlah Halaman:        xvi + 230

ISBN:                        979-97153-2-6

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Pernahkah anda berada disuatu daerah di Sulawesi Selatan dan melihat sebuah monumen berdiri megah di salah satu sudut kota namun tidak memiliki  informasi sedikitpun tentang monumen tersebut? Bisa jadi buku inilah jawaban rasa keingintahuan anda. Inilah tujuan penulisan buku ini, untuk dessiminasi atau penyebarluasan informasi tentang monumen monumen yang ada di beberapa kota di Sulawesi Selatan.

Berbagai peristiwa bersejarah telah dilalui oleh bangsa Indonesia, termasuk Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai upaya untuk mendokumentasikan dan melestarikan peristiwa bersejarah tersebut, pemerintah telah membangun monumen monumen peringatan di berbagai kota di Sulawesi Selatan. Selain untuk mengabadikan peristiwa bersejarah, monumen juga memiliki nilai warisan perjuangan bangsa dalam menghadapi dan mengusir penjajah untuk meraih kemerdekaan.

Sebagaimana halnya buku buku terbitan pemerintah, buku ini diawali dengan Sambutan Gubernur H. M. Amin Syam (Gubernur Sulawesi Selatan waktu buku ini diterbitkan), Kata Pengantar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Kata Pengantar dari Tim Penyusun buku. Kemudian ada daftar istilah dan singkatan yang digunakan dalam buku.

Ada 25 Monumen Perjuangan yang dibahas dalam buku ini. Setiap monumen diuraikan secara ringkas namun detail tentang latar belakang sejarahnya, lokasi monumen, tanggal dan tahun peresmiannya, siapa yang meresmikan, ukuran lahan dan bangunan, bahkan jumlah anggaran yang digunakan dalam pembangunannya.

Monumen monumen perjuangan yang diuraikan dalam buku ini terdapat pada 5 kabupaten, masing- masing adalah :

1.      Kabupaten Pinrang, ada 9 moumen yaitu :

a.      Monumen Perjuangan La Sinrang

b.      Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS Letnan Abdul Latif, dkk.

c.       Monumen Pendaratan TRIPS Letnan M. Said dan Letnan Murtala

d.      Monumen Pertempuran TRIPS Letnan M. Said dan Letnan Murtala

e.      Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS Mayor M. Saleh Lahade dan Letnan Andi Oddang

f.        Monumen Pendaratan / Pertempuran Ekspedisi TRI dari Kalimantan

g.      Monumen Perjuangan 45 Pinrang

h.      Monumen Taman Makam Pahlawan Palia, Pinrang

i.        Monumen Taman Makam Pahlawan Suppa (Bau Massepe) di Majennang

2.      Kota Pare Pare, yaitu :

a.      Monumen Korban 40.000 Jiwa di Pare Pare

b.      Monumen Taman Makam Pahlawan Laberru (TMP Kusuma)

c.       Monumen Korban 40.000 Jiwa Bacukiki

d.      Monumen Taman Makam Pahlawan  45/TMP Paccekke

3.      Kabupaten Sidenreng Rappang, yaitu :

a.      Monumen Barisan Pemberontak Ganggawa

b.      Monumen Perjuangan Bambu Runcing Rappang

c.       Monumen Perjuangan Andi Cammi

d.      Monumen Taman Makam Pahlawan Ganggawa

4.      Kabupaten Barru, yaitu :

a.      Monumen Perjuangan Rakyat Barru

b.      Monumen Pendaratan Mayor Andi Mattallatta

c.       Monumen Pendaratan Kapten Andi Muhammad Sarifin

d.      Monumen TRI Divisi Hasanuddin

e.      Monumen Pernjuangan Tompo

f.        Monumen Tugu Pahlawan 1945 TMP Barru

5.      Kabupaten Enrekang, yaitu ;

a.      Monumen Perjuangan BPRI dan HI

b.      Monumen TMP Massenrempulu

Pada bagian akhir buku, terdapat kesimpulan dan saran saran serta Daftar Pustaka yang merupakan bahan rujukan dalam penyusunan buku ini.

Buku ini kurang dilengkapi dengan illustrasi gambar ataupun foto yang menarik bagi pembaca. Perlu juga adanya indeks dibagian akhir buku yang dapat memudahkan pembaca menemukan topik topik tertentu yang ingin dibacanya.

Buku Koleksi layanan Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




Upacara Kematian Masyarakat Tana Toraja

 


Judul:                           Upacara Kematian Masyarakat Tana Toraja

Penulis:                        Drs. H. Nontji, S.Pd.

Editor:                         -

Penerbit:                     CV. Aksara Makassar

Tahun Terbit:               -

Jumlah Halaman:        iv + 68

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Tujuan utama pariwisata Sulawesi Selatan adalah Tana Toraja. Berbagai destinasi wisata di Tana Toraja telah dikembangkan sejak lama. Wisata alam, wisata budaya, dan wisata religi dapat di temukan di Tana Toraja. Salah satu jenis wisata budaya yang terkenal di Tana Toraja adalah Upacara Kematian. Bagi sebagian wisatawan, upacara kematian di Tana Toraja, jauh lebih meriah dari upacara perkawinan.

Buku ini adalah salah satu yang mendokumentasikan proses upacara kematian di Tana Toraja. Terdiri dari 4 bab  atau bagian. Bagian pertama adalah Pendahuluan dimana dibahas tentang aspek aspek yang melatarbelakangi pelaksanaan Upacara Kematian. Disebutkan ada 3 latarbelakang pelaksanaan upacara itu, yaitu: yang pertama adalah faktor religi, dimana masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan nenek moyang yang disebut Aluk Todolo. Kedua adalah faktor prestise, bahwa semakin banyak yang dikorbankan untuk arwah orang yang meninggal akan semakin baik kehidupannya dialam fana. Ketiga adalah ekonomi, berkaitan dengan sistem pembagian warisan yang berpengaruh pada pelaksanaan upacara adat kematian.

Bagian kedua membahas ketentuan dan proses umum upacara, mulai dari pelaksanaan upacara saat jenazah masih di rumah sampai hari penguburan diantaranya Ma’dio Tomate atau memandikan orang meninggal, Ma’doya, Ma’balun, Ma’bolong dan Meaa. Setelah penguburan ada acara Kumande, Untoe Sero, Mambase. Acara terakhirnya adalah Pembalikan Tomate dan Ma’nene, 

Tingkatan tingkatan upacara kematian dibahas pada bagian ketiga. Mulai dari Upacara Di Silli terdiri dari Dipasilamun Toninna, Didedekan Palungan, Dipasilamun Tallu Manuk, Disampanan Bai. Pada Upacara Di Pasambongi terdiri dari Dibai A’Pa, Ditedong Tunggai, Diisi dan Dipata’ Patomali.  Upacara Di Doya adalah duduk dan tidur semalaan. Terakhir Upacara Dirapai yang disebut juga upacara rampasan dimana jenazah disimpan ditempat penyimpanan atau peti sampai jenazah kering.

Pada bagian terakhir diuraikan secara ringkas tentang Upacara Pemakaman Rasapan yang terdiri dari Persiapan Upacara, Pertemuan Keluarga, pembuatan pondok pondok, tahap tahap upacara dan para petugas Upacara.

Buku ini diakhiri dengan daftar pustaka yaitu berbagai sumber rujukan dalam menyusun buku ini secara lengkap.

Cukup informatif karena membahas cukup lengkap aspek aspek penting dalam upara kematian di Tana Toraja. Hal hal yang mungkin kita kurang mengetahui tentang upacara kematian di Tana Toraja, kemudian dapat diketahui dari buku ini. Bukan hanya bagi orang Toraja, semua suku bangsa dan masyarakat luas perlu membacanya untuk menambah pengetahuan dan memperkaya khasanah budaya bangsa yang ada di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur. Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca, dan uraikan secara runut dan jelas.

Buku ini kurang dokumentasi foto fotonya, baik yang hitam putih maupun yang berwarna. Illustrasi baik gambar, foto ataupun sketsa dapat menarik perhatian pembaca, sehingga informasi yang hendak disampaikan akan semakin banyak yang mengaksesnya. Buku yang berisi muatan lokal sangat penting melengkapinya dengan illustrasi yang menarik, sehingga pembaca akan semakin bersemangat dalam mengakses bukunya.

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




Jenderal M. Yusuf, Panglima Para Prajurit



Judul:                           Jenderal M. Yusuf, Panglima Para Prajurit

Penulis:                        Atmadji Sumarkidjo

Editor:                         -

Penerbit:                     Kata Hasta Pustaka

Tahun Terbit:               2006

Jumlah Halaman:        xxx + 458

ISBN:                        979-99473-7-5

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah yang paling lengkap membahas tentang kisah pejuangan dan karir Jenderal M. Yusuf. Buku yang digagas penerbitannya oleh Jusuf Kalla, Mar’ie Muhammad dan A.M. Fatwa ini diterbitkan 2 tahun setelah wafatnya Jenderal M. Yusuf pada 7 September 2004. Mar’ie Muhammad sebagai ketua Panitia Penerbitan buku ini dan sebagai penulis adalah Atmadji Sumarkidjo, seorang wartawan Hankam yang selama bertahun tahun mengikuti perjalanan dan kunjungan Jenderal M. Yusuf ke berbagai daerah di Indonesia.

Ucapan terimakasih dari Penulis, dan Pengantar dari Jusuf Kalla mengawali buku ini. Selanjutnya ada Sekapur Sirih dari ketua penerbitan buku, Mar’ie Muhammad, mantan Menteri Keuangan, dan Prakata dari A.M. Fatwa, Wakil Ketua MPR RI waktu itu. Juga ada sambutan dari Penerbit.

Buku setebal 458 halaman ini dibagi menjadi 9 bab, dimana setiap bab dibagi lagi menjadi beberapa sub bab atau sub bagian.

Bab pertama berjudul “Penerbangan Terakhir Sang Panglima” dimana dikisahkan tentang penerbangan sang Jenderal saat kunjungan kerja ke berbagai daerah, kesehatannya, dan momen ketika M. Yusuf mengunjungi makam para sahabatnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Pada bagian pertama ini juga ada kisah tentang pembangunan Masjid terbesar di kawasan timur Indonesia, Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar.

Masa masa ketika Jenderal M. Yusuf bertugas di Makassar diuraikan dalam bab kedua dengan judul “Panglima Militer di Kampung Sendiri”. Ada kisah tentang suasana Sulawesi Selatan pada masa itu yang masih rawan pemberontakan. Ada pemberontakan Abdul Qahhar Mudzakkar, ada konflik dengan Andi Selle, dan penandatangangan Piagam Permesta.

Bab bab selanjutnya diuraikan tentang “cetak biru” Industri Nasional saat M. Yusuf diangkat menjadi Menteri perindustrian pada masa Orde Baru. Gaya kepemimpinan sang Jenderal saat memimpin Departemen Perindustrian. Bagian yang menarik lainnya adalah Bab 4 yag membahas khusus tentang Surat Perintah 11 Maret 1966 yang sering menjadi polemik terutama saat menjelang atau sesudah tanggal 11 Maret. Bagi pembaca yang ingin mencari rujukan atau referensi tentang ‘Supersemar’ maka bagian ini sangat pantas dijadikan bahan referensi.

Masa masa jabatan M. Yusuf sebagai Menteri Perindustrian lalu kemudian menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan / Panglima Angkatan Bersenjata (Menhankam Pangab) diuraikan dibagian lain. Termasuk juga saat memperkenalkan istilah “Kemanunggalan ABRI dan Rakyat”.

Topik pembahasan lainnya, adalah issu issu sensitif dalam pemilihan Kepala Staf Angkatan Darat, Kesejahteraan Prajurit, Pembangunan di Timor Timur sebelum lepas dari NKRI, kunjungan beliau ke Luar Negeri, masa masa menjabat sebagai Ketua Bepeka (Badan Pemeriksa Keuangan), kebiasaan beliau yang selalu sederhana.

Membaca buku membawa kita seakan akan mengikuti jejak jejak langkah Jenderal M. Yusuf  dalam menapaki karir di TNI sampai menjabat Menteri dan masa masa terakhir beliau. Banyak hal hal penting diuraikan dalam buku ini, namun juga banyak kisah kisah lucu dan humor yang menyertai kegiatan sehari hari sang Panglima.

Tidak banyak sisi kehidupan pribadi Jenderal M. Yusuf yang dibahas dalam buku ini. Sebagian besar hanyalah karier dan kegiatan beliau selama menjalani kehidupan militer dan juga tugas tugas negara yang pernah di emban.

Buku ini juga dilengkapi dengan sejumlah foto dokumentasi hitam putih kegiatan Jenderal M. Yusuf. Akan lebih menarik sekiranya foto foto dokumentasi yang ditampilkan adalah foto berwarna.. Sebagian foto tersebut sudah agak buram, sehingga perlu di edit dan diperbaiki tanpa mengurangi nilai foto itu sendiri. Sebagian foto dokumentasi masih cukup jelas.

Bagian akhir di lampirkan daftar kepustakaan dan Indeks. Indeks digunakan untuk mencari topik tertentu yang dilengkapi dengan halaman tempat topik yang kita inginkan.

Buku ini sangat menyenangkan dibaca.

Buku koleksi Pribadi. 




The Heritage of Arung Palakka

 


Judul:                           The Heritage of Arung Palakka

Penulis:                        Leonard Y. Andaya

Editor:                         -

Penerbit:                     Martinus Nijhoff

Tahun Terbit:               1981

Jumlah Halaman:        xiv + 367

ISBN:                            90.247.2463.5

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku yang berjudul The Heritage of Arung Palakka, A History of South Sulawesi (Celebes) In The Seventeenth Century (Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi Selatan pada Abad ke-17), ditulis oleh Leonard Y. Andaya. Beliau adalah seorang Professor Sejarah Asia Tenggara di Universitas Hawaii di Manoa, Hawaii Amerika Serikat. Andaya juga peneliti di Universitas Malaya, di Malaysia, Universitas Nasional Australia di Canberra, dan di Universitas Auckland di Selandia Baru.  Konsentrasi kepakarannya adalah sejarah Asia Tenggara terutama tentang Malaysia, Indonesia, Filipina Selatan dan Thailand Selatan.

Buku ini ditulis setelah penulisnya melakukan serangkaian penelitian di Sulawesi Selatan selama beberapa tahun, membahas tentang Arung Palakka secara khusus dan sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-17 secara umum. Buku ini sangat menarik karena membahas seorang tokoh kontrovesial Bugis dari masa lalu. Kontroversial karena sebagian masyarakat sampai kini meyakini beliau sebagai pahlawan, namun sebagian lain menilainya sebagai pengkhianat.

Terbagi menjadi 12 chapter (bab atau bagian) dan diawali dengan Daftar Peta (List of Maps), Acknowledgement (Pengantar), A Note on the Spelling, Notes and Maps (catatan atas Ejaan, Catatan, dan Peta), Abbreviations (singkatan) dan Introduction (Pendahuluan). Selanjutnya bab bab dibagi sebagai berikut:

Bab pertama : State and Society in South Sulawesi in the 17th Century (Negara dan Masyarakat di Sulawesi Selatan pada abad ke-17).

Bab kedua :  Road to Conflict (Jalan menuju konflik)

Bab ketiga : The Makassar War (Perang Makassar)

Bab keempat : The Treaty (Pernjanjian)

Bab kelima : The Unfinished War (Perang yang tak selesai)

Bab keenam : The new Overlords (Penguasa penguasa baru)

Bab ketujuh : Trials of overlordship (ujian bagi para penguasa baru)

Bab kedelapan : The Refugees (Para Pengungsi)

Bab kesembilan : Challenge from Within (tantangan dari dalam)

Bab kesepuluh: Securing the Succession (mengamankan suksesi)

Bab kesebelas : The Peace of Arung Palakka (Perdamaian Arung Palakka)

Bab keduabelas : The Legacy (Warisan)

Pada bagian selanjutnya adalah Appendix A dan appendix B. Appendix A memuat daftar nama nama Raja yang berkuasa dibeberapa kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad ke-17, dan Appendix B adalah daftar Pernjanjian Bungayya 18th November 1667. Kemudian ada Glossari yang membahas tentang kata kata yang sulit dipahami. Pada bagian akhir juga ada Notes (catatan catatan), Bibliography dan Indeks. Penulis banyak menggunakan Bibliografi yang berupa naskah naskah Bugis kuno, monograf, dan sumber lainnya.

Hal menarik dibuku ini adalah tersedia Indeks pada bagian akhir, jadi para pembaca tidak perlu membaca secara berurutan sampai mendapatkan topik yang dibutuhkan. Cukup mencarinya di Indeks saja topik yang ingin dibaca atau yang dibutuhkannya. Setiap entri kata pada indeks disertai dengan angka halaman, dimana topik tertentu dapat ditemukan.

Buku ini masih berbahasa Inggris, sehingga kemungkinan banyak pemustaka yang susah memahaminya, namun jika anda kesulitan memahami isi bukunya, anda bisa mencari versi terjemahannya yang ditebitkan oleh Ininnawa (2013). Buku ini terbitan lama yaitu tahun 1981, sampul bukunya (hardback) sudah mulai rapuh, sebagian halaman buku juga sudah mulai menguning. Perlu diterbitkan ulang baik edisi aslinya yang berbahasa Inggris maupun yang terjemahan berbahasa Indonesia.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




Kapitalisme Bugis

 


Judul:                           Kapitalisme Bugis, Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Wajo

Penulis:                        Ahmadin

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2008

Jumlah Halaman:        106

ISBN:                         979-3570-85-7

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Kapitalisme Bugis menurut penulis buku ini adalah paham kemodalan , yakni orientasi usaha atau produksi yang mengejar keuntungan atau bentuk kehidupan bersendikan modal. Suku Bugis yang dimaksud dalam buku ini adalah Bugis Wajo, yang terkenal sebagai pedagang diberbagai daerah di Indonesia.

Buku ini dibagi dalam 7 (tujuh) bagian, dimana bagian pertama adalah pembahasan tentang generalisasi kapitalisme dan spesifikasi kebugisan. Pada bagian ini dijelaskan defenisi kapitalisme, konsep dan sejarahnya, juga batasan ruang lingkup kajiannya. Pada bagian ini ada penjelasan tentang perbandingan antara kapitalisme di daerah Bugis dengan kapitalisme di Eropa.

Pada bagian kedua, dibahas tentang profil Bugis Wajo, mulai dari sejarah awal asal mula orang Bugis Wajo. Salah satu versi mengatakan bahwa orang Wajo sesungguhnya adalah mereka yang berdomisili dilingkungan tempat tinggal We Taddampali yang disimbolkan dengan pohon Bajo atau Wajo’E, sehingga lama kelamaan disebutlah Wajo. Ada pula pembahasan Struktur Spasial Wajo, yaitu keadaan daerah Wajo, sebagaimana digambarkan dalam Lontara Sukkuna Wajo. Warisan sejarah dan budaya Wajo juga dijelaskan, mulai dari situs Tosora, Gua Nippong, Saoraja Mallangga, beberapa makam raja raja zaman dulu. Stratifikasi sosial dan sistem kekerabatan, kesusastraan dan seni juga dibahas pada bagian ini.

Pada bagian ketiga, pokok bahasannya adalah falsafah hidup sebagai sumber motivasi. Ada pembahasan tentang Pangngadereng atau adat istiadat dalam masyarakat Bugis, masuknya pengaruh Islam dalam pangngadereng dan kemampuan merespon perubahan zaman oleh orang Bugis, pesan pesan Puang Ri Maggalatung dan kesan kesan negatif dalam diri orang Bugis.

Bagian keempat yaitu makna Siri’ sebagai spirit usaha dan motivasi kerja. Siri’ disini dijelaskan secara luas, termasuk juga Passe atau Pesse. Makna hidup bagi orang Bugis, fungsi kerja, kemapaman ideal, dasar keberhasilan usaha dan penggunaan uang lebih juga dibahas secara ringkas pada bagian ini.

Bagian kelima adalah merantau sebagai modal peluang dan strategi ekonomi dan bagian keenam  tentang eksistensi dan prospek jiwa kapitalis, serta bagian ketujuh adalah penutup.

Buku ini sangat informatif dan menambah pengetahuan pembaca dalam memahami bagaimana sistem ekonomi dalam masyarakat Bugis khususnya dari daerah Wajo. Isinya ditulis dan diuraikan dengan jelas dan faktual, serta mudah dipahami oleh pembaca.

Ada beberapa penjelasan atau pembahasan dalam buku ini yang mungkin tidak terlalu terkait dengan topik dan judul buku, misalnya, soal pangngaderreng, atau soal masuknya Islam. Ada pula dibahas tentang perbandingan antara kapitalisme Bugis dengan kapitalisme Eropa yang mungkin tidak setaraf. Perbandingan yang mungkin lebih berimbang misalnya perbandingan antara kapitalisme Bugis dengan kapitalisme Jawa, kapitalisme Sunda, Batak, Ambon, Papua dan lain lain.

Ada pula dijelaskan tentang pesan pesan leluhur yaitu Puang Ri Maggalatung yang mungkin juga tidak relevan dengan pembahasan topik. Judul yang dituliskan adalah “Kapitalisme Bugis” namun yang dibahas terutama hanya yang menyangkut kapitalisme Bugis asal daerah Wajo. Kapitalisme Bugis Wajo, mungkin saja tidak persis sama dengan kapitalisme Bugis Bone, Soppeng, Sidrap. Luwu dan lain lain.

Buku ini koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.