Pintu keluar beras di bagian tengah jazirah Sulawesi Selatan ke Parepare pada 1926, adalah tonggak penting yang mengakselerasi aktivitas perdagangan beras di pelabuhan. Puncaknya ialah berlangsung sepanjang dekade 1930, di mana pelabuhan Parepare memainkan peran sebagai pusat perniagaan beras di kawasan Selat. Pada gilirannya, peranan itu telah menggeser posisi Makassar sebagai pelabuhan utama ekspor untuk komoditas beras di Sulawesi Selatan.
Realitas historis yang ditemukan bahwa aktivitas pelayaran dan perdagangan di Sulawesi bagian selatan pada paruh pertama abad ke-20 tidak selalu didominasi ramainya hilir mudik kapal dan perahu di pelabuhan Makassar dengan komoditas kopranya. Sepanjang dekade 1930, Parepare justru mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan komoditas primadonanya, yakni beras. Bisa dikatakan bahwa posisi Sulawesi Selatan sebagai daerah surplus beras selama dekade 1930 tidak terlepas dari peran Parepare sebagai pelabuhan utama ekspor. Dengan demikian, selama periode tersebut, suplai beras dari Sulawesi Selatan ke daerah seberang bukanlah terutama diekspor dari pelabuhan Makassar, sebagaimana umum diungkapkan dalam historiografi sejauh ini, melainkan sebagian besar dikapalkan dari pelabuhan Parepare.
Komoditas beras juga mewarnai kedudukan pelabuhan Parepare dalam konteks fungsi perdagangan. Merujuk pada tipologi pelabuhan g diperkenalkan oleh Leong Sau Heng, Parepare dapat dikategorikan sebagai collecting centre (pelabuhan pengumpul), yakni salah satu tipe pelabuhan yang berperan sebagai penyuplai komoditas bagi entrepot (pelabuhan utama). Dalam aturan itu, pengapalan barang-barang ekspor di Parepare yang berasal dari daerah pedalaman (wanua ri laleng) atau pelabuhan pengumpan (feeder points) umumnya diangkut ke Makassar atau entrepot lainnya, seperti Surabaya.
Komoditas beras di Parepare dikapalkan langsung ke wamua laeng dengan perahu layar dan kapal KPM (Koninklijke Pakketvaart Maatschappij). Hal ini sebenarnya telah nampak di awal abad ke-20 dan semakin tampak jelas seiring peran Parepare dalam perdagangan beras di Selat Makassar pada 1930-an. Berdasarkan kondisi tersebut, bisa diutarakan bahwa Parepare tidak selamanya bertindak sebagai collecting centre. Dengan kata lain, Parepare telah melampaui fungsinya dalam perdagangan (over- collecting centre) yang disokong dengan kedudukannya sebagai pusat perniagaan beras di kawasan selat, khususnya selama dekade 1930.
Tesis DARI WANUA RI LALENG KE WANUA LAENG: PERAN PELABUHAN PAREPARE DALAM PERDAGANGAN BERAS DIKAWASAN SELAT MAKASSAR (1905-1939) membahas tentang :
- Perkembangan pelabuhan Parepare ditopang oleh berbagai keadaan. Dalam hal faktor internal, letak dan kondisi geografis pelabuhan adalah pendukung utama bagi perkembangan Parepare sebagai pintu gerbang di pantai barat Sulawesi. Selain keterlibatannya dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran di pelabuhan, hal itu juga tampak dari adanya pembuatan perahu di kawasan teluk, seperti Kampung Ujung dan Ujung Lero. Sedangkan faktor eksternal yang menentukan perkembangan pelabuhan. Dalam hal ini kebijakan pemerintah kolonial Belanda seperti pengembangan infrastruktur pelabuhan.
- Pasang surut peran pelabuhan Parepare dalam perdagangan beras di kawasan Selat Makassar yang dibagi ke dalam dua bentuk, yakni faktor penghambat dan faktor pendukung. Faktor penghambat ialah sawah tadah hujan, kualitas beras dan kebijakan pasar bebas, kualitas beras yang rendah, serta kebijakan pasar bebas. Faktor pendukung peranan pelabuhan dalam perdagangan beras yakni intensifikasi pertanian di wanua ri laleng, pengembangan jaringan jalan, perkembangan teknologi, struktur ekonomi, serta kontrol negara.
- Dampak perdagangan terhadap perkembangan kota pelabuhan Parepare seperti pasar, penginapan, perbankan, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas lainnya.











