Showing posts with label Kapitalisme Bugis. Show all posts
Showing posts with label Kapitalisme Bugis. Show all posts

June 22, 2024

Kapitalisme Bugis

 


Judul:                           Kapitalisme Bugis, Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Wajo

Penulis:                        Ahmadin

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2008

Jumlah Halaman:        106

ISBN:                         979-3570-85-7

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Kapitalisme Bugis menurut penulis buku ini adalah paham kemodalan , yakni orientasi usaha atau produksi yang mengejar keuntungan atau bentuk kehidupan bersendikan modal. Suku Bugis yang dimaksud dalam buku ini adalah Bugis Wajo, yang terkenal sebagai pedagang diberbagai daerah di Indonesia.

Buku ini dibagi dalam 7 (tujuh) bagian, dimana bagian pertama adalah pembahasan tentang generalisasi kapitalisme dan spesifikasi kebugisan. Pada bagian ini dijelaskan defenisi kapitalisme, konsep dan sejarahnya, juga batasan ruang lingkup kajiannya. Pada bagian ini ada penjelasan tentang perbandingan antara kapitalisme di daerah Bugis dengan kapitalisme di Eropa.

Pada bagian kedua, dibahas tentang profil Bugis Wajo, mulai dari sejarah awal asal mula orang Bugis Wajo. Salah satu versi mengatakan bahwa orang Wajo sesungguhnya adalah mereka yang berdomisili dilingkungan tempat tinggal We Taddampali yang disimbolkan dengan pohon Bajo atau Wajo’E, sehingga lama kelamaan disebutlah Wajo. Ada pula pembahasan Struktur Spasial Wajo, yaitu keadaan daerah Wajo, sebagaimana digambarkan dalam Lontara Sukkuna Wajo. Warisan sejarah dan budaya Wajo juga dijelaskan, mulai dari situs Tosora, Gua Nippong, Saoraja Mallangga, beberapa makam raja raja zaman dulu. Stratifikasi sosial dan sistem kekerabatan, kesusastraan dan seni juga dibahas pada bagian ini.

Pada bagian ketiga, pokok bahasannya adalah falsafah hidup sebagai sumber motivasi. Ada pembahasan tentang Pangngadereng atau adat istiadat dalam masyarakat Bugis, masuknya pengaruh Islam dalam pangngadereng dan kemampuan merespon perubahan zaman oleh orang Bugis, pesan pesan Puang Ri Maggalatung dan kesan kesan negatif dalam diri orang Bugis.

Bagian keempat yaitu makna Siri’ sebagai spirit usaha dan motivasi kerja. Siri’ disini dijelaskan secara luas, termasuk juga Passe atau Pesse. Makna hidup bagi orang Bugis, fungsi kerja, kemapaman ideal, dasar keberhasilan usaha dan penggunaan uang lebih juga dibahas secara ringkas pada bagian ini.

Bagian kelima adalah merantau sebagai modal peluang dan strategi ekonomi dan bagian keenam  tentang eksistensi dan prospek jiwa kapitalis, serta bagian ketujuh adalah penutup.

Buku ini sangat informatif dan menambah pengetahuan pembaca dalam memahami bagaimana sistem ekonomi dalam masyarakat Bugis khususnya dari daerah Wajo. Isinya ditulis dan diuraikan dengan jelas dan faktual, serta mudah dipahami oleh pembaca.

Ada beberapa penjelasan atau pembahasan dalam buku ini yang mungkin tidak terlalu terkait dengan topik dan judul buku, misalnya, soal pangngaderreng, atau soal masuknya Islam. Ada pula dibahas tentang perbandingan antara kapitalisme Bugis dengan kapitalisme Eropa yang mungkin tidak setaraf. Perbandingan yang mungkin lebih berimbang misalnya perbandingan antara kapitalisme Bugis dengan kapitalisme Jawa, kapitalisme Sunda, Batak, Ambon, Papua dan lain lain.

Ada pula dijelaskan tentang pesan pesan leluhur yaitu Puang Ri Maggalatung yang mungkin juga tidak relevan dengan pembahasan topik. Judul yang dituliskan adalah “Kapitalisme Bugis” namun yang dibahas terutama hanya yang menyangkut kapitalisme Bugis asal daerah Wajo. Kapitalisme Bugis Wajo, mungkin saja tidak persis sama dengan kapitalisme Bugis Bone, Soppeng, Sidrap. Luwu dan lain lain.

Buku ini koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.




February 26, 2020

Kapitalisme Bugis




Buku : Kapitalisme Bugis, Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Wajo
Penulis : Ahmadin
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2008
Jumlah Halaman : xii + 94
ISBN : 979-3570-85-7

Kapitalisme Bugis menurut penulis buku ini adalah paham kemodalan , yakni orientasi usaha atau produksi yang mengejar keuntungan atau bentuk kehidupan bersendikan modal. Suku Bugis yang dimaksud dalam buku ini adalah Bugis Wajo, yang terkenal sebagai pedagang diberbagai daerah di Indonesia. 

Buku ini dibagi dalam 7 (tujuh) bagian, dimana bagian pertama adalah pembahasan tentang generalisasi kapitalisme dan spesifikasi kebugisan. Pada bagian ini dijelaskan defenisi kapitalisme, konsep dan sejarahnya, juga batasan ruang lingkup kajiannya. Pada bagian ini ada penjelasan tentang perbandingan antara kapitalisme di daerah Bugis dengan kapitalisme di Eropa. 

Pada bagian kedua, dibahas tentang profil Bugis Wajo, mulai dari sejarah awal asal mula orang Bugis Wajo. Salah satu versi mengatakan bahwa orang Wajo sesungguhnya adalah mereka yang berdomisili dilingkungan tempat tinggal We Taddampali yang disimbolkan dengan pohon Bajo atau Wajo’E, sehingga lama kelamaan disebutlah Wajo. Ada pula pembahasan Struktur Spasial Wajo, yaitu keadaan daerah Wajo, sebagaimana digambarkan dalam Lontara Sukkuna Wajo. Warisan sejarah dan budaya Wajo juga dijelaskan, mulai dari situs Tosora, Gua Nippong, Saoraja Mallangga, beberapa makam raja raja zaman dulu. Stratifikasi sosial dan sistem kekerabatan, kesusastraan dan seni juga dibahas pada bagian ini. 

Pada bagian ketiga, pokok bahasannya adalah falsafah hidup sebagai sumber motivasi. Ada pembahasan tentang Pangngadereng atau adat istiadat dalam masyarakat Bugis, masuknya pengaruh Islam dalam pangngadereng dan kemampuan merespon perubahan zaman oleh orang Bugis, pesan pesan Puang Ri Maggalatung dan kesan kesan negatif dalam diri orang Bugis. 

Bagian keempat yaitu makna Siri’ sebagai spirit usaha dan motivasi kerja. Siri’ disini dijelaskan secara luas, termasuk juga Passe atau Pesse. Makna hidup bagi orang Bugis, fungsi kerja, kemapaman ideal, dasar keberhasilan usaha dan penggunaan uang lebih juga dibahas secara ringkas pada bagian ini. 

Bagian kelima adalah merantau sebagai modal peluang dan strategi ekonomi dan bagian keenam  tentang eksistensi dan prospek jiwa kapitalis, serta bagian ketujuh adalah penutup.