Judul: Kapitalisme Bugis, Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Wajo
Penulis: Ahmadin
Editor: -
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tahun
Terbit: 2008
Jumlah
Halaman: 106
ISBN: 979-3570-85-7
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Kapitalisme Bugis
menurut penulis buku ini adalah paham kemodalan , yakni orientasi usaha atau
produksi yang mengejar keuntungan atau bentuk kehidupan bersendikan modal. Suku
Bugis yang dimaksud dalam buku ini adalah Bugis Wajo, yang terkenal sebagai pedagang
diberbagai daerah di Indonesia.
Buku ini dibagi dalam
7 (tujuh) bagian, dimana bagian pertama adalah pembahasan tentang generalisasi
kapitalisme dan spesifikasi kebugisan. Pada bagian ini dijelaskan defenisi
kapitalisme, konsep dan sejarahnya, juga batasan ruang lingkup kajiannya. Pada
bagian ini ada penjelasan tentang perbandingan antara kapitalisme di daerah
Bugis dengan kapitalisme di Eropa.
Pada bagian kedua,
dibahas tentang profil Bugis Wajo, mulai dari sejarah awal asal mula orang
Bugis Wajo. Salah satu versi mengatakan bahwa orang Wajo sesungguhnya adalah
mereka yang berdomisili dilingkungan tempat tinggal We Taddampali yang
disimbolkan dengan pohon Bajo atau Wajo’E, sehingga lama kelamaan disebutlah
Wajo. Ada pula pembahasan Struktur Spasial Wajo, yaitu keadaan daerah Wajo,
sebagaimana digambarkan dalam Lontara Sukkuna Wajo. Warisan sejarah dan budaya
Wajo juga dijelaskan, mulai dari situs Tosora, Gua Nippong, Saoraja Mallangga,
beberapa makam raja raja zaman dulu. Stratifikasi sosial dan sistem
kekerabatan, kesusastraan dan seni juga dibahas pada bagian ini.
Pada bagian ketiga,
pokok bahasannya adalah falsafah hidup sebagai sumber motivasi. Ada pembahasan
tentang Pangngadereng atau adat istiadat dalam masyarakat Bugis, masuknya
pengaruh Islam dalam pangngadereng dan kemampuan merespon perubahan zaman oleh
orang Bugis, pesan pesan Puang Ri Maggalatung dan kesan kesan negatif dalam
diri orang Bugis.
Bagian keempat yaitu
makna Siri’ sebagai spirit usaha dan motivasi kerja. Siri’ disini dijelaskan
secara luas, termasuk juga Passe atau Pesse. Makna hidup bagi orang Bugis,
fungsi kerja, kemapaman ideal, dasar keberhasilan usaha dan penggunaan uang
lebih juga dibahas secara ringkas pada bagian ini.
Bagian kelima adalah
merantau sebagai modal peluang dan strategi ekonomi dan bagian keenam tentang eksistensi dan prospek jiwa
kapitalis, serta bagian ketujuh adalah penutup.
Buku ini sangat
informatif dan menambah pengetahuan pembaca dalam memahami bagaimana sistem
ekonomi dalam masyarakat Bugis khususnya dari daerah Wajo. Isinya ditulis dan
diuraikan dengan jelas dan faktual, serta mudah dipahami oleh pembaca.
Ada beberapa
penjelasan atau pembahasan dalam buku ini yang mungkin tidak terlalu terkait
dengan topik dan judul buku, misalnya, soal pangngaderreng, atau soal masuknya
Islam. Ada pula dibahas tentang perbandingan antara kapitalisme Bugis dengan
kapitalisme Eropa yang mungkin tidak setaraf. Perbandingan yang mungkin lebih
berimbang misalnya perbandingan antara kapitalisme Bugis dengan kapitalisme
Jawa, kapitalisme Sunda, Batak, Ambon, Papua dan lain lain.
Ada pula dijelaskan
tentang pesan pesan leluhur yaitu Puang Ri Maggalatung yang mungkin juga tidak
relevan dengan pembahasan topik. Judul yang dituliskan adalah “Kapitalisme
Bugis” namun yang dibahas terutama hanya yang menyangkut kapitalisme Bugis asal
daerah Wajo. Kapitalisme Bugis Wajo, mungkin saja tidak persis sama dengan
kapitalisme Bugis Bone, Soppeng, Sidrap. Luwu dan lain lain.
Buku ini koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



