June 24, 2021

PAHLAWAN PONG TIKU

Almarhum pahlawan Pong Tiku alias Ne' Baso' (nama yang diberikan oleh orang-orang Bugis) dilahirkan pada tahun 1846 di Kampung Tondon Negeri Panga'la Kecamatan Rinding Allo Kabupaten Tana Toraja Propinsi Sulawesi Selatan.

Beliau adalah putra bungsu dari 6 (enam) bersaudara dari Penguasa Adat Pangala' dan sekitarnya bernama Siambo' KaraEng dengan ibunya bernama Le'bok, dan saudara-saudaranya yang laki-laki bernama, Palulin, Ampang Allo, Toding dan Tendeng serta seorang perempuan bernama Banaa.

Pong Tiku adalah satu-satunya putera Siambe' KaraEng yang mewarisi sifat-sifat kepemimpinan dan kepatriotan KaraEng sebagai penguasa Adat, maka kemudian setelah beliau dewasa selalu diserahi tanggung jawab sebagai pendahuluan akan mengantikan ayahandanya kalau Siambe' KaraEng meninggal dunia sebagai penguasa adat Pangala' dan sekitarnya untuk membantu Negeri Pangala' sebagai negeri yang aman dan sentosa untuk kemajuan dalam segala hal.

Buku SEJARAH PERJUANGAN PAHLAWAN PONG TIKU mengenai nilai dan luhurnya cita-cita perjuangan Pong Tiku yang tidak ingin diperintah oleh Belanda. Beliau nanti dijajah oleh Belanda setelah disergap oleh tentara Belanda di dalam persembunyiannya pada tanggal 30 Juni 1907, kemudian beliau di tawan di markas tentara Belanda di Rantepao, dan pada tanggal 10 Juli 1907 harus menjalani hukuman mati diujung peluru tentara Belanda di pinggir sungai Sa'dah. Berikut skets TUGU PERINGATAN PAHLAWAN PONG TIKU:

  • 1846 Pong Tiku dilahirkan di Rindingallo
  • 1906 Maret, Belanda menduduki Rantepao dengan mengirim ultimatum supaya Pong Tiku menyerah dan Pong Tiku membalas lebih baik mati daripada menyerah
  • 1906 April, Pertempuran di Tondon Pangala'
  • 1906 Juni, Pertempuran di Benteng Lali'londong
  • 1906 Juni, Permintaan Belanda berunding di tolak
  • 1906 Juli, Pertempuran di Benteng-Benteng Bustu Asu, Ka'do dado dan Tondok
  • 1906 Agustus, Pertempuran di Benteng Rindingallo
  • 1906 Oktober, Gencatan senjata di Benteng Buntu Batu
  • 1906 November, Belanda dengan siasat liciknya melucuti semua senjata dari pasukan Pong Tiku
  • 1907 Januari, Pong Tiku dengan pasukan menggabung dengan Pasukan Bombing di Alla'
  • 1907 Maret, Benteng Alla' jatuh Pong Tiku kembali ke Pangalla'
  •  1907 Juni 30, Pong Tiku di tangkap dan di tahan di Rantepao
  • 1907 Juli 10, Pong Tiku di tembak mati di tempat.
Buku SEJARAH PERJUANGAN PAHLAWAN PONG TIKU membahas tentang Riwayat Hidup Pong Tiku', Perang Bone serta Gowa dan Sawitto memberi syarat pada Perang Pong Tiku melawan Belanda, Perang Pong Tiku melawan Belanda, Perlawanan Pong Tiku yang kedua terhadap tentara Belanda, Api Perjuangan Pong Tiku menyalah kembali dan Pong Tiku dikenal sebagai pahlawan pembela tanah air dan pembela bangsa. Selain itu juga disertai lampiran peta daerah peperangan Pong Tiku dan peta panorama benteng yanhg pertama direbut Belanda. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH PERJUANGAN PAHLAWAN PONG TIKU
Penulis: L. T. Tangdilintin
Penerbit: Yayasan Lepongan Bulan (YALBU)
Tempat Terbit: Tana Toraja
Tahun Terbit: 1976


June 17, 2021

TIRO KERAJAAN KONJO PESISIR BULUKUMBA


Kata KONJO berarti "di situ". Masyarakat Konjo mendiami daerah perbatasan desa-desa yang berbahasa yang berbahasa Bugis dan Makassar. Masyarakat suku Konjo terdiri atas dua kelompok yaitu KONJO PEGUNUNGAN, mendiami daerah pegunungan Kabupaten Barru, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Gowa, Kabupaten Sinjai dan Bulukumba di sekitar pegunungan Latimojong Bulukumba di pesisir teluk Bone.

Tiro adalah salah satu Kerajaan Konjo yang memegang peranan dalam bidang ekonomi, pariwisata, sosial dan politik, karena Tiro mempunyai pelabuhan transito yaitu muara sungai Basokeng dan Para-para/Biropa, menjadi tempat lalu lintas barang perdagangan dan orang.

Kerajaan Tiro mempunyai Kalompoang/Arajang berupa:

  1. Bendera merah kuning hitam
  2. Tombak bermata dua
  3. Tongkat berkepala burung elang
  4. Boneka burung nuri berlapis emas
  5. Perangkat makan, sirih berlapis emas
Kerajaan Tiro mempunyai tujuh hadat yaitu:
  1. Lompo Erelebu
  2. Gallarag Kalumpang
  3. Anrong Tau Caramming
  4. Kepala Hila-Hila
  5. Karadepa Salamunte
  6. Karabica Salu-Salu
  7. MaToa Basokeng

Setelah ulama Islam menyiarkan agama Islam di Tiro, ulama tersebut diberi gelar "Dato atau Datuk Tiro.  Berdasarkan hal itu Kerajaan Tiro dipilih KHATIB BUNGSU DATUK RI TIRO menjadi pusat penyebaran Agama Islam. Pelabuhan di Tiro menjadi salah satu tempat bertolaknya pemuda-pemuda Sulawesi untuk berjuang melawan Belanda di Jawa. Putra-putera Tiro gugur dalam melawan Belanda/Westerling.

Setelah kemerdekaan, pemerintah memajukan bidang pertanian dan pendidikan serta kesehatan. Tiro menghasilkan tanaga guru dan dosen. Hampir setiap kabupaten di Sulsel ada orang Tiro menjadi guru, begitu pula tenaga dosen di Makkar, Palu, Kendari dan Perguruan tinggi di Kalimantan. Tiro menjadi model pembangunan desa gaya baru. Tiro menjadi tempat wisata religi Dato Tiro, wisata pantai Samboang serta Limbua.


TIRO KERAJAAN KONJO PESISIR BULUKUMBA
Penulis: Mudassir Sabarrang
Penerbit: De La Macca
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978 602 263 1132


June 16, 2021

SEJARAH KERAJAAN BORISALLO DAN MANUJU


Kerajaan Borisallo dan Kerajaan Manuju, adalah dua kerajaan Gowa yang masuk menjadi anggota Bate Salapang sejak tahun 1565 yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa XII I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, keanggotaan Boorisallo dan Manuju dalam Bate Salapanga diperkuat pada masa pemerintahan I Mallingkaang Daeng Nyonri (1894) hingga sekarang

Kedua kerajaan ini telah banyak menghasilkan Tubarani yang bisa memperkuat posisi pertahanan Kerajaan Gowa di masa silam, seperti hanya Bela Punranga yang dijadikan sebagai pemimpin pasukan Paklapak Barambang (pasukan elit) dan ahli stategi perang I Mannyanderi Daeng Pasawi. I Mannanggongan Daeng Mattawang, Andi Lomba Daeng Mattawang, Malagganni Karaeng Bila dan masih banyak laginya tokoh-tokoh pejuang dari daerah itu. Inilah yang membuktikan bahwa Kerajaan Borisallo dan Manuju punya andil yang besar terhadap kebesaran dan kejayaan Kerajaan Gowa di masa silam.

Disamping itu, Borisallo dan Manuju dijadikan sebagai tempat persembunyian bagi para pejuang yang menentang pemerintahan Kolonial Belanda, seperti hanya I Mappasempak Daeng Mamaro Karaeng Bontolangkasa dan Batara Gowa II atau I Sangkilang Karaengta Data yang menjadikan kedua wilayah kerajaan itu sebagai basis perjuangannya, kedua tokoh makamnya ada di Kecamatan Parangloe. 

Buku SEJARAH KERAJAAN BORISALLO DAN MANUJU membahas tentang Kerajaan Borisallo dan Manuju yang ikut memperkuat barisan pertahanan Kerajaan Gowa, juga kisah sejarah atau cerita lagenda yang terdapat dalam situs sejarah seperti kisah I Mappasempak Daeng Mamaro Karaeng Bontolangkasa, I Manyandari Daeng Pasawi Sangkilang Karaengta Data, I Mannanggongan Daeng Mattawang dan masih banyak lainnya. Buku ini juga menceritakan lagenda pada objek wisata seperti Rumah Adat di Pakko Lompo, kisah Belapunranga, kisah Gallarrang Kunjung dan Istana Benteng Sipappaka ri Tassese. Buku ini koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH KERAJAAN BORISALLO DAN MANUJU 
Penulis: Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam, Marham Dg. Sila
Penerbit: Lembaga Kajian dan Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2008




June 14, 2021

IYANAE PAODA ADAENGNGI ATTORIOLONGNGE RI TANETE


Naskah Iyanae Paoda Adaengngi Attoriolongnge Ri Tanete adalah salah satu naskah lama (lontarak) yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Bugis dengan aksara lontarak.

Naskah ini berisi uraian tentang sejarah kebudayaan Tanete yang dimulai dengan kisah pertemuan To Sangiang dengan Arung Pangi dan Arung Alekale, cerita tentang terbentuknya Kerajaan Agganionjong, perang antara Kerajaan Agganionjong dengan Raja Sawito dan Raja Wajo, dan tentang masuknya Agama Islam di Kerajaan Tanete.

Adapun nilai-nilai luhur yang dapat diungkapkan dari lontara ini diantaranya adalah nilai kasih sayang di antara sesama manusia, nilai persatuan dan kesatuan, nilai patriotan, nilai kegotongroyongan, dan berbagai nilai lainnya. Seperti nilai solidaritas, hal ini dapat dilihat pada peristiwa pertemuan Arung Pangi dengan To Sangiang di atas puncak gunung Jangang-Jangang. Kedua raja tersebut menyatakan rasa simpatinya dengan mengundang To Sangiang untuk berdiam bersama di kampung yang memungkinkan mereka dapat hidup bersama, merasakan suka dan duka.

Masyarakat Tanete dapat dijumpai di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan, yang merupakan kelompok masyarakat yang hidup dan berkebang dari suatu perjalanan sejarah yang panjang dalam suatu wilayah. Masyarakat ini tumbuh dari suatu sumber yang menjadi cikal bakal mereka yakni Raja-raja Tanete yang memiliki kekuasaan di daerah itu. Sedangkan wilayah Kerajaan Tanete sendiri membawahi beberapa wilayah-wilayah kecil yang disebut akkarungeng, sehingga dapat dikatakan Kerajaan Tanete sebenarnya dikuasai oleh mereka yang memiliki garis keturunan atau garis kekerabatan sendiri.

Patriotisme, merupakan aspek lain dalam sejarah orang Tanete. Nilai patriotisme ini banyak diungkapkan dalam peristiwa peperangan antara Raja Tanete dengan raja-raja lainnya. Seperti peperangan melawan Addatuang Sawitto, Raja Wajo maupun dengan pihak Belanda. Nilai patriotisme ini, banyak mendukung orang-orang Tanete dalam usaha mempertahankan kekuasaannya di masa lalu. Misalnya pada masa Addatuang Sawitto hendak melakukan peperangan dengan Raja Gowa, Raja Tanete yang sebelumnya di kenal Raja Agganionjong berusaha menetralisasi agar peperangan itu tidak terjadi. Tetapi Addatuang Sawitto tidak mau peduli pada usaha-usaha Raja Tanete, maka peperangan tidak terelakkan lagi.

Dari peristiwa peperangan tersebut, sesungguhnya bukan hanya nilai patriotisme, tetapi juga nilai solidaritas yang tinggi. Karena pada waktu itu, Kerajaan Tanete memang masih merupakan suatu bagian yang integral atau termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa.

Selain aspek kesejarahan yang mengandung nilai solidaritas yang tinggi, nilai patriotisme dan aspek identitas kelompok, naskah ini juga mengandung nilai pendidikan maupun keagamaan. Dalam naskah inipun diungkapkan, bagaimana Raja Tanete menerima Agama Islam sebagai suatu agama baru saat itu dan bagaimana raja tersebut mengembangkannya.

Buku IYANAE PAODA ADAENGNGI ATTORIOLONGNGE RI TANETE membahas tentang Sejarah Budaya Tanete, sebuah daerah bekas kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


IYANAE PAODA ADAENGNGI ATTORIOLONGNGE RI TANETE
Penulis: Abd. Gaffar Musa, M. Taufik, Agussalim, Musyawir
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta 
Tahun Terbit: 1990

June 10, 2021

LONTARAK PANNESSAENGNGI BETTUWANNA NIPPIE

Naskah kuno pada hakekatnya bukan hanya merupakan salah satu kecermatan dan kemampuan masyarakat Bugis untuk mengungkapkan pengalaman dan pengetahuannya dalam bentuk karya tulis, melainkan lontarak itu sendiri termasuk sumber informasi nilai-nilai luhur yang amat potensial bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Salah satunya Lontarak Pannessaengngi Bettuwanna Nippie (lontara yang menerangkan takwil mimpi).

Sejak lama masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan memiliki perangkat pengetahuan budaya, berkenaan dengan berbagai peristiwa mimpi yang dialami hampir setiap orang dalam tidurnya. Sesuai dengan pengetahuan budaya tersebut, masyarakat setempak mengkonsepsikan adanya empat puluh tujuh bagian dari keseluruhan mimpi yang dikenal dalam kehidupan.

Dari keseluruhan mimpi tersebut hanya sebagian saja diekspresikan, selebihnya yakni empat puluh enam bagian diturunkan melalui nabi-nabi. Kendatipun demikian cakupan aneka ragam mimpi yang dialami manusia itu bukan hanya menyangkut kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi, melainkan memuat kedua bidang kehidupan tersebut secara seimbang.

Dalam sistem pengistilahan bahasa daerah Bugis dikenal ada tiga jenis mimpi, masing-masing adalah: nippi, katulu-tulu, dan kaita-ita. Menurut lontarak Pannessaengngi Bettuwanna Nippie mencakup ribuan mimpi, dengan ratusan kelompok utama. Namun karena berbagai faktor keterbatasan hanya disajikan sekitar tigaratusan mimpi dan takwilnya yang terwujud dalam beberapa kelompok utama yakni;

  1. Mimpi tentang Allah Taala
  2. Mimpi tentang Al Qur'an
  3. Mimpi tentang Nabi, Malaikat, dan sebagainya
  4. Mimpi tentang matahari, bulan, bintang dan lain sebagainya
  5. Mimpi tentang sanggama dan lain-lain
  6. Mimpi tentang orang mati
  7. Mimpi tentang orang atau binatang buas
  8. Mimpi tentang qamat, surga, neraka dan lain-lain meliputi aneka macam peristiwa rohaniah
  9. Mimpi tentang pakaian  dan tikar
  10. Mimpi tentang tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, telur
Buku LONTARAK PANNESSAENGNGI BETTUWANNA NIPPIE adalah salah satu arsip kebudayaan daerah Sulawesi Selatan yang bukan hanya memuat catatan kuno tentang aneka ragam jenis mimpi beserta takwilnya. Lontara ini juga memuat berbagai informasi budaya yang bertalian dengan sistem sosial di samping jaringan sistem nilai budaya tradisional.


LONTARAK PANNESSAENGNGI BETTUWANNA NIPPIE
Penanggung jawab: H. Ahmad Yunus
Ketua: Pananrangi Hamid
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1993