Showing posts with label Naskah Kuno. Show all posts
Showing posts with label Naskah Kuno. Show all posts

June 23, 2022

The Birth of I La Galigo

Buku : The Birth of I La Galigo, A Poem Inspired by Bugis Legend of the same name

Penulis : Sapardi Djoko Damono (Versi Indoenesia) dan John H. McGlynn (versi Inggris)

Penerbit : The Lontar Foundation

Tempat : Jakarta

Tahun : 2005

Bahasa : Indonesia dan Inggris

ISBN : 979-8083-56-3

 Buku ini diterbitkan dalam rangka promosi salah satu tradisi sastra lama Bugis. Suku Bugis adalah salah satu dari sedikit suku bangsa di Nusantara yang memiliki tradisi tulis menulis, dan bukan hanya tradisi lisan. Sumber asli buku ini adalah buku adaptasi hasil terjemahan dari Mohammad Salim, salah seorang penerjemah naskah naskah kuno Bugis, khususnya naskah I La Galigo. Naskah terjemahan I La Galigo sudah diterbitkan dan dapat dibaca pada berbagai perpustakaan yang ada di Indonesia.

The Birth of I La Galigo ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Penerjemah untuk bahasa Indonesia adalah Sapardi Djoko Damono, sedangkan penerjemah dalam bahasa Inggris adalah John H. McGlynn. Buku ini menggunakan kertas dengan watermark naskah beraksara lontara Bugis kuno, dengan bagian kiri untuk naskah bahasa Indonesia sedangkan bagian kanan adalah naskah bahasa Indonesia.

Secara umum, buku ini mengisahkan tentang asal muasal I La Galigo, yang ditulis dalam bentuk puisi. Naskah I La Galigo dalam bahasa Bugis disebut Sureq Galigo atau Sureq Selleang. Pemahaman orang Bugis kuno tentang kosmologi membaginya menjadi 3 bagian yaitu Langit, Bumi dan Dunia Bawah. Hubungan ke-3 dunia itu sangat rumit dengan tokoh tokohnya masing masing. Bagian awal Sureq Galigo membahas tentang bagaimana proses penciptaan alam. Kemudian adanya perkawinan antara penghuni langit dengan penghuni dunia bawah sampai kepada lahirnya I La Galigo.

Dibagi menjadi 9 bagian, dan masing masing bagian terdiri dari beberapa bait puisi Bugis I La Galigo. Diawali dengan Ucapan terimakasih (Acknowledgement) dan Prakata (Foreword) kemudian berturut mulai dari

Prolog : Doa Bissu (Prologue : The Bissu’s Prayer)

Batara Guru Turun dari Langit (Batara Guru Descends from the Sky)

Munculnya We Nyilik Timo (The Coming of We Nyilik Timo)

Sawerigading dan We Tenriabeng (Sawerigading and We Tenriabeng)

Sawerigading Jatuh Cinta (Sawerigading Falls in Love)

Pohon Welenreng Ditebang (The Felling of Welenreng Tree)

Perang di Laut (Battles at Sea)

Melamar I We Cudai (Proposing to I We Cudai)

I La Galigo Lahir (The Birth of I La Galigo)

Secara umum buku ini adalah kisah ringkas epos Bugis kuno I La Galigo yang disusun dalam bentuk puisi.

 




June 10, 2021

LONTARAK PANNESSAENGNGI BETTUWANNA NIPPIE

Naskah kuno pada hakekatnya bukan hanya merupakan salah satu kecermatan dan kemampuan masyarakat Bugis untuk mengungkapkan pengalaman dan pengetahuannya dalam bentuk karya tulis, melainkan lontarak itu sendiri termasuk sumber informasi nilai-nilai luhur yang amat potensial bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Salah satunya Lontarak Pannessaengngi Bettuwanna Nippie (lontara yang menerangkan takwil mimpi).

Sejak lama masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan memiliki perangkat pengetahuan budaya, berkenaan dengan berbagai peristiwa mimpi yang dialami hampir setiap orang dalam tidurnya. Sesuai dengan pengetahuan budaya tersebut, masyarakat setempak mengkonsepsikan adanya empat puluh tujuh bagian dari keseluruhan mimpi yang dikenal dalam kehidupan.

Dari keseluruhan mimpi tersebut hanya sebagian saja diekspresikan, selebihnya yakni empat puluh enam bagian diturunkan melalui nabi-nabi. Kendatipun demikian cakupan aneka ragam mimpi yang dialami manusia itu bukan hanya menyangkut kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi, melainkan memuat kedua bidang kehidupan tersebut secara seimbang.

Dalam sistem pengistilahan bahasa daerah Bugis dikenal ada tiga jenis mimpi, masing-masing adalah: nippi, katulu-tulu, dan kaita-ita. Menurut lontarak Pannessaengngi Bettuwanna Nippie mencakup ribuan mimpi, dengan ratusan kelompok utama. Namun karena berbagai faktor keterbatasan hanya disajikan sekitar tigaratusan mimpi dan takwilnya yang terwujud dalam beberapa kelompok utama yakni;

  1. Mimpi tentang Allah Taala
  2. Mimpi tentang Al Qur'an
  3. Mimpi tentang Nabi, Malaikat, dan sebagainya
  4. Mimpi tentang matahari, bulan, bintang dan lain sebagainya
  5. Mimpi tentang sanggama dan lain-lain
  6. Mimpi tentang orang mati
  7. Mimpi tentang orang atau binatang buas
  8. Mimpi tentang qamat, surga, neraka dan lain-lain meliputi aneka macam peristiwa rohaniah
  9. Mimpi tentang pakaian  dan tikar
  10. Mimpi tentang tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, telur
Buku LONTARAK PANNESSAENGNGI BETTUWANNA NIPPIE adalah salah satu arsip kebudayaan daerah Sulawesi Selatan yang bukan hanya memuat catatan kuno tentang aneka ragam jenis mimpi beserta takwilnya. Lontara ini juga memuat berbagai informasi budaya yang bertalian dengan sistem sosial di samping jaringan sistem nilai budaya tradisional.


LONTARAK PANNESSAENGNGI BETTUWANNA NIPPIE
Penanggung jawab: H. Ahmad Yunus
Ketua: Pananrangi Hamid
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1993

 

April 7, 2020

Silasa, Setetes Embun Di Tanah Gersang



Buku : Silasa, Setetes Embun di Tanah Gersang
Penulis : A. Hasan Machmud
Editor : Drs. H. A. Ahmad Saransi, M.Si.
Penerbit : Pustaka Sawerigading bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Selatan, Makassar 2015
Jumlah Halaman : xiv + 174
ISBN : 978-602-9248-21-0

Sulawesi Selatan termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan naskah naskah (manuscripts) kuno. Naskah naskah kuno ini disebut juga naskah Lontara, berisi berbagai macam tema atau topik. Ada naskah lontara tentang pertanian, astrologi, pengobatan, silsilah, maritim, peperangan, pendirian rumah, fragmen epos I La Galigo, dan lain lain. Naskah naskah ini sebagian tersimpan di Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, dan sebagian lagi disimpan sendiri oleh masyarakat.

Pada perkembangan selanjutnya, naskah lontara telah banyak dijadikan sumber informasi dan inspirasi penulisan berbagai bidang penelitian. Salah satunya adalah naskah lontara yang berisi ajaran moral, pappaseng (pesan-pesan/nasehat), petuah,  yang dikumpulkan dan kemudian diolah dan dijadikan satu buku, seperti buku ini yang berjudul “Silasa, Setetes Embun di Tanah Gersang”.

Buku ini berisi 177 pesan pesan, petuah dan ajaran moral yang dirangkum dalam 20 bagian sesuai tema masing masing. Pesan pesan itu pertama ditulis dalam aksara lontara Bugis, kemudian di transliterasi (alih aksara) ke aksara latin, dan kemudian di translasi (diterjemahkan/dialihbahasakan) ke bahasa Indonesia. Penulis dengan penguasaan materi lontara yang luarbiasa, mampu menjelaskan dan menguraikan pesan pesan itu dengan baik sehingga pembaca dapat  memahami buku ini dengan baik pula. Dari buku ini kita dapat menyelami kedalaman pemikiran para cendekiawan Bugis dimasa lalu.

Diawali dengan kata Pengantar dari Penerbit, Sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Pengantar dari Editor, dan Pengantar dari Penulis. Kemudian pesan pesan, petuah dan ajaran moral itu dibahas satu persatu sesuai dengan tema/topik sebagai berikut:

1.      Hati-Nafsu-Nurani,  salah satu contohnya adalah:  alitutuaiwi aGolon atimu . aj muaminsaiyGi rijea pdmu rup tau nsb mtEtuai aiko mti nerwEki jn . ap rituruGEGi ritu gau medeceG riati mjea neds nrituruGE ati medec rigau mjea. ag naiy tau mj klwi atiea lEtu rimuRi jn. (Alitutuiwi angngolonna atimmu, aja’ muamminasaiyangngi ri ja’e padammu rupa tau, nasaba mattentui iko matti nareweki ja’na, apa riturungengngi ritu gau’ madecengnge ri ati maja’e na de’sa nariturungeng ati madecengnge ri gau’ maja’e. Aga naiya tau maja’ kalawing atie lettu’ rimunri ja’na.)  Terjemahannya : Jagalah arah hatimu; janganlah meniatkan hal hal buruk sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima kembali akibatnya, karena terpengaruh perbuatan baik oleh hati yang buruk, bukan hati yang baik terpengaruh ke perbuatan yang buruk. Karena orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya kelak.
2.      Pikiran-Akal-Kecakapan
3.      Kejujuran
4.      Ketegasan-Keteguhan
5.      Biacara
6.      Usaha-Pekerjaan
7.      Pria-Wanita
8.      Hubungan dengan Orang lain
9.      Tanggungjawab-Harga Diri
10.  Siri’-Berani-Penakut
11.  Semangat Hidup-Takdir-Nasib
12.  Waspada-Tenang
13.  Bijaksana-Lapang Dada
14.  Serakah-Ambisi
15.  Mengendalikan Diri
16.  Balas Budi
17.  Beberapa Hal yang Baik
18.  Beberapa Hal yang Buruk
19.  Serba-Serbi
20.  Petuah-Petuah Lukmanul Hakim

Pada bagian akhir buku ini dibahas sedikit tentang riwayat hidup penulis dan editor.

Buku ini sangat bagus untuk menambah wawasan kita tentang pappaseng toriolo (pesan orang dulu) dari para pemikir Bugis yang hidup ratusan tahun yang silam.

Buku koleksi Perpustakaan Khusus, Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.