Showing posts with label I La Galigo. Show all posts
Showing posts with label I La Galigo. Show all posts

October 4, 2022

I LA GALIGO : CERITA BUGIS KUNO

Cerita Galigo dimulai pada waktu dewa-dewa di Kayangan mufakat dalam satu pertemuan untuk mengisi waktu (dunia tengah = Peretiwi) dengan mengirim Batara Guru anak Patotoe di langit dan We Nyili'timo anak Guru ri Selleng di Peretiwi untuk menjadi suami istri. Dari perkawinan keduanya ini lahirlah putra mereka yang bernama Batara Lattu', yang kelak menggantikan ayahnya menjadi penguasa Luwu'. Dari perkawinan Batara Guru dengan beberapa pengiringnya dari Langit serta pengiring We Nyili'timo dari Peretiwi, lahirlah beberapa orang putra mereka yang kelak diangkat menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu' sekaligus pembantu Batara Guru.

Setelah Batara Lattu' cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Senngeng, anak La Urumpessi bersama We Padauleng di Tompo'tikka. Sesudah itu Batara Guru bersama istri kembali lagi ke Langit. Dari perkawinan keduanya itu lahirlah Sawerigading dan Tenriabeng sebagai anak kembar, seorang lelaki dan seorang perempuan. Berdasarkan pesan Batara Guru, kedua anak kembar itu harus dibesarkan terpisah agar kelak bila mereka berangkat remaja tidak akan saling jatuh cinta.

Namun demikian, suratan menentukan yang lain, sebab di rantau Sawerigading mendapat keterangan bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar wanita yang sangat cantik, We Tenriabeng namanya. Sejak itu hatinya resah selalu hingga pada suatu waktu ia berhasil melihatnya dan langsung jatuh cinta serta ingin mengawininya. Maksudnya itu mendapat tantangan kedua orang tuanya bersama rakyat banyak, karena kawin bersaudara merupakan pantangan yang jika dilanggar akan terjadi bencana terhadap negeri, rakyat dan tumbuh-tumbuhan. Seluruh negeri bersedih kebingungan.

Melalui suatu dialog yang panjang, berhasil juga We Tenriabeng membujuk saudaranya untuk berangkat ke negeri Cina menemui jodohnya di sana, I We Cudai namanya. Wajah dan perawakannya sama benar dengan We Tenriabeng. Pada waktu Sawerigading berangkat ke Cina, We Tenriabeng sendiri naik ke Langit dan kawin dengan tunangannya di sana bernama Remmang ri Langi. Dengan mengatasi hambatan demi hambatan, akhirnya berhasil juga Sawerigading mengawini I We Cudai, yang tunangannya (Settia Bonga) sudah lebih dahulu ia kalahkan dalam satu pertempuran di tengah laut dalam perjalanannya menuju Cina. Mereka hidup rukun dan bahagia dan memperoleh tiga orang anak, yaitu I La Galigo, Tenridio dan Tenribalobo. Dari seorang selirnya (I We Cimpau) Sawerigading beroleh seorang anak yang diberinya nama We Tenriawaru.

Dalam pada itu La Galigo pun menjadi dewasa, merantau, menyabung, kawin, berperang dan memperoleh anak. Pada suatu ketika inginlah I We Cudai berkunjung ke negeri suaminya menjumpai mertua yang belum pernah dilihatnya. Sawerigading bimbang mengingat akan sumpahnya dahulu ketika hendak bertolak ke Cina, bahwa seumur hidupnya ia tidak akan menginjakkan kaki lagi di tanah Luwu'. Tetapi sayang akan istri, anak dan cucu dibiarkan berlayar sendiri tanpa ditemani, akhirnya ia pun menetapkan akan ikut serta. Mereka lalu berangkat. Tiba di. Cina, dengan alasan kasihan akan mertua ditinggalkan sendiri, ia lalu memutuskan untuk kembali ke Cina. Belum juga lama di Cina, ia pun merasa gelisah mengingat anak, istri, orang tua dan kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan. Akhirnya dengan sembunyi-sembunyi ia berangkat menyusul istri dan anak cucunya. Tidak berapa lama setelah Sawerigading tiba di Luwu', Patotoe menetapkan akan menghimpun segenap keluarganya di Luwu'. Dalam pertemuan keluarga besar itulah ditetapkan bahwa keturunan dewa-dewa yang ada di Kawa (Bumi) harus segera kembali ke Langit atau Peretiwi, dengan meninggalkan masing-masing seorang wakil.

Tidak lama setelah para kaum keluarga pulang ke negerinya masing-masing, Sawerigading pun bersama anak, istri dan cucunya pulang ke Cina. Di tengah jalan tiba-tiba perahunya meluncur turun ke Peretiwi. Di sana ternyata ia disambut dengan gembira, karena memang sudah lama ia ditunggu untuk menggantikan neneknya sebagai penguasa di sana. Di Peretiwi ia masih memperoleh seorang anak yang kemudian kawin dengan anak We Tenriabeng di Langit, yang selanjutnya dikirim ke Luwu' untuk menjadi raja di sana. Akhirnya tibalah saatnya pintu Langit ditutup, sehingga penguasa yang ada di Peretiwi tidak lagi leluasa pulang pergi, dengan ketentuan sewaktu-waktu kelak akan dikirim utusan untuk membaharui darah mereka sebagai penguasa.

Mudah-mudahan penerbitan ini dapat mencapai sasarannya, sekurang-kurangnya mengundang hasrat yang lebih besar untuk membaca naskah cerita Galigo dan membangun citra yang lengkap mendekati yang sesungguhnya.

Buku I LA GALIGO merupakan cerita Bugis yang memiliki dua jenis tradisi tulis dan tradisi lisan. Penyebaran cerita Galigo dalam bentuk tradisi lisan tidak hanya didapati di kalangan masyarakat berbahasa Bugis saja, melainkan meluas pada beberapa daerah yang masyarakatnya menggunakan bahasa daerah yang berbeda-beda, seperti misalnya Toraja, Enrekang, Mandar, Wolio (Sulawesi Tenggara), Kaili (Sulawesi Tengah) dan Gorontalo (Sulawesi Utara). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


I LA GALIGO
Penulis: R. A. Kern
Penerjemah: La Side, Sagimun
Penerbit: Gadjah Mada University Press
Tempat Terbit: Jakarta


July 21, 2022

MUSU MARANAKNA LA GALIGO

Trasliterasi Surek Galigo yang berjudul "Musu Maranakna I La Galigo" ini adalah transliterasi dari Surek Galigo yang berbahasa Galigo huruf Latin. Karena bahasa yang ada dalam Surek Galigo itu adalah sebahagian bahasa kuno yang tidak lagi merupakan bahasa sehari-hari, maka timbullah beberapa masalah kebahasaan dalam perlambangan bunyi dan pemisahan kata. Sure Galigo dijadikan bacaan mulia dan menjadi buku tuntunan hidup oleh sebagaian masyarakat Bugis karena mengandung nilai luhur, antara lain: nilai rasa kasih; nilai moral; nilai seni serta nilai kepemimpinan.

Berikut ringkasan Surek Galigo yang berjudul "Musu Maranakna I La Galigo": Sewaktu La Galigo pergi berlayar, dia singgah di Pujananti memperisterikan Karaeng Tompo anak raja To Rumpang Megga raja Pujananti. La Galigo meneruskan pelayarannya meninggalkan Karaéng Tompo dalam keadaan hamil tiga bulan. 

Waktu melahirkan, anaknya diberi nama La Mappanganro. La Mappanganro pergi berlayar menelusuri jejak orang tuanya. Dalam pelayarannya dia berperang tujuh kali di tengah laut. Dia selalu menang dalam peperangan. Peperangan yang terakhir melawan Guttu Patalo anak We Tenriabeng, sepupu sekali La Galigo. Peperagannya sangat seru, tetapi akhirnya saling mengenal sebagai seorang paman dan kemanakan. Sesampai di Cina, La Mappanganro melawan ayah dan paman-pamannya dan kemanakan. Sesampai di Cina, La Mappanganro melawan ayah dan paman pamannya menyabung ayam. 

Ayam La Mappanganro selalu menang, tetapi La Galigo yang tidak mengetahui anaknya, beserta sepupu sepupunya, yaitu anak datu tujuh puluh, curang dalam perjudian. Akhirnya perang besar terjadi antara La Mappanganro dengan ayahnya. Pasukan La Galigo terdesak mundur. Untung Sawerigading cepat mengetahui bahwa La Mappanganro itu adalah cucunya sendiri. Perang berkelanjutan sudah diberhentikan. La Mappanganro dijemput oleh ayahnya dan raja-raja Cina naik naik di istana.

Karaeng Tompo sudah rindu kepada anaknya, karena sudah tiga tahun tidak kembali. We Tenriabeng di langit menurunkan perahu keemasan kepada Karaeng Tompo supaya pergi ke Cina jemput anaknya, dengan cara ke semua pengiringnya harus bangsawan perempuan semua yang berpakaian laki-laki. Pesan We Tenriabeng supaya berperang dengan suami dan anaknya kalau La Galigo dan anaknya curang dalam mengadu ayam di Cina. Karaeng Tompo gembira sekali melihat anaknya. Tetapi dia menuruti pesan Wé Tenriabeng agar diri kepada anak, memperkenalkan diri kepada agar tidak suami dan Sawerigading sebelum mengadakan perang.

Buku TRANSLITERASI/TERJEMAHAN NASKAH KLASIK "MUSU MARANAKNA I LA GALIGO" berasal dari naskah foto copy koleksi pribadi Muhammad Salim dari naskah A. Masulon La Marauna keturunan Raja Banawa/Pujananti, Donggala Sulawesi Tengah, naskah Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, naskah Arsip Nasional. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TRANSLITERASI/TERJEMAHAN NASKAH KLASIK 
MUSU MARANAKNA I LA GALIGO
Penulis: Muhammad Salim, A. Anton Pangerang
Penerbit: Pemdan Kabupaten Luwu
Tahun Terbit: 2009


June 23, 2022

The Birth of I La Galigo

Buku : The Birth of I La Galigo, A Poem Inspired by Bugis Legend of the same name

Penulis : Sapardi Djoko Damono (Versi Indoenesia) dan John H. McGlynn (versi Inggris)

Penerbit : The Lontar Foundation

Tempat : Jakarta

Tahun : 2005

Bahasa : Indonesia dan Inggris

ISBN : 979-8083-56-3

 Buku ini diterbitkan dalam rangka promosi salah satu tradisi sastra lama Bugis. Suku Bugis adalah salah satu dari sedikit suku bangsa di Nusantara yang memiliki tradisi tulis menulis, dan bukan hanya tradisi lisan. Sumber asli buku ini adalah buku adaptasi hasil terjemahan dari Mohammad Salim, salah seorang penerjemah naskah naskah kuno Bugis, khususnya naskah I La Galigo. Naskah terjemahan I La Galigo sudah diterbitkan dan dapat dibaca pada berbagai perpustakaan yang ada di Indonesia.

The Birth of I La Galigo ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Penerjemah untuk bahasa Indonesia adalah Sapardi Djoko Damono, sedangkan penerjemah dalam bahasa Inggris adalah John H. McGlynn. Buku ini menggunakan kertas dengan watermark naskah beraksara lontara Bugis kuno, dengan bagian kiri untuk naskah bahasa Indonesia sedangkan bagian kanan adalah naskah bahasa Indonesia.

Secara umum, buku ini mengisahkan tentang asal muasal I La Galigo, yang ditulis dalam bentuk puisi. Naskah I La Galigo dalam bahasa Bugis disebut Sureq Galigo atau Sureq Selleang. Pemahaman orang Bugis kuno tentang kosmologi membaginya menjadi 3 bagian yaitu Langit, Bumi dan Dunia Bawah. Hubungan ke-3 dunia itu sangat rumit dengan tokoh tokohnya masing masing. Bagian awal Sureq Galigo membahas tentang bagaimana proses penciptaan alam. Kemudian adanya perkawinan antara penghuni langit dengan penghuni dunia bawah sampai kepada lahirnya I La Galigo.

Dibagi menjadi 9 bagian, dan masing masing bagian terdiri dari beberapa bait puisi Bugis I La Galigo. Diawali dengan Ucapan terimakasih (Acknowledgement) dan Prakata (Foreword) kemudian berturut mulai dari

Prolog : Doa Bissu (Prologue : The Bissu’s Prayer)

Batara Guru Turun dari Langit (Batara Guru Descends from the Sky)

Munculnya We Nyilik Timo (The Coming of We Nyilik Timo)

Sawerigading dan We Tenriabeng (Sawerigading and We Tenriabeng)

Sawerigading Jatuh Cinta (Sawerigading Falls in Love)

Pohon Welenreng Ditebang (The Felling of Welenreng Tree)

Perang di Laut (Battles at Sea)

Melamar I We Cudai (Proposing to I We Cudai)

I La Galigo Lahir (The Birth of I La Galigo)

Secara umum buku ini adalah kisah ringkas epos Bugis kuno I La Galigo yang disusun dalam bentuk puisi.

 




December 22, 2020

PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI


Sawerigading salah tokoh hero karena membawa pesan moral sehingga dianggap perwakilan dan ditinggikan dari sejarah suatu peradaban, seperti masyarakat Bugis tokoh. Tokoh hero dalam epos I La Galigo seperti Sawerigading, We’Cudai, La Galigo, We’ Tenriabeng, We’ Opu Sengngeng, dll. 

Kisah Sawerigading untuk menikahi adiknya We’ Tenriabeng, membuat Sawerigading harus keluar untuk mendapatkan perempuan lain dalam hal ini telah ditentukan bernama I we’ Cudai yang juga merupakan sepupunya yang merupakan keturunan dewa. I We’ Cudai bertempat di negeri Cina yang mana harus di tempuh dengan pelayaran yang jauh. Kisah perjalanan tersebut diwarnai dengan kisah heroik tokoh Sawerigading dengan memenangkan tujuh kali peperangan dalam pelayarannya belum lagi ketika sampai di negeri Cina. Sawerigading harus menaklukkan negeri tersebut untuk mendapatkan cinta I We’ Cudai.

Akhirnya, Sawerigading menikahi We Cudai. Dari perkawinannya, melahirkan anak pria bernama I La Galigo yang bergelar Datunna Kelling. Anak inilah, yang akhirnya menjadi penerus Kerajaan Luwu. Dan dari masa kejayaan I La Galigo, ia membuat karya sastra monumentar tentang silsilah keluarganya sendiri. 

Buku PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI menceritakan kisah peminangan, penyerahan mahar, acara pernikahan, perkawinan Sawerigading dengan We Cimpau, I We Cudai melakukan I La Galigo, usia I La Galigo genap tiga tahun, I La Galigo menerima payung kebesaran atas kekuasaan Cina, serta We Cudai hamil lagi. 


PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI 
Penyusun: Drs. Nonci, S. Pd
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar



November 19, 2020

I LA GALIGO


I La Galigo, karya sastra klasik lahir di tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Merupakan karya sastra terpanjang di dunia, melebihi Mahabarata dari India dan karya Homeros dari Yunani. Pada tahun 2011 Badan Dunia UNESCO menetapkan naskah klasik I La Galigo ini sebagai Warisan Dunia dan diberi anugerah Memory of The Word (MOW). Di samping sebagai karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo juga mengandung nilai-nilai luhur yang amat bermanfaat bagi pembinaan karakter bangsa, khususnya kalangan generasi muda di tengah arus globalisasi yang dalam banyak segi terasa 'mengancam' keberadaan budaya nasional dan daerah.

Kisah klasik I La Galigo menyuguhkan keindahan dan nilai-nilai luhur, yang mengisahkan jejak-jejak panjang petualangan Sawerigading, yang diwarnai dengan suka duka kisah pengembaraan. Buku I La Galigo terdiri dari Edisi kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam. Berikut pembahasan dalam setiap edisi dalam I La Galigo.

I La Galigo edisi pertama

  • Batara Guru Diturunkan ke Kolong Langit
  • Batara Guru, We Nyiliktimo, dan Anak-Anaknya
  • Lahirnya Batara Lattuk, Sang Putra Mahkota
  • Malapetaka di Tompo Tikka
  • Pelayaran Batara Lattuk Mencari Jodoh
  • Pernilahan Batara Lattuk dengan We Datu Sengngeng
  • Pernikahan We Adi Luwuk dengan I La Jiriwu dari Bottilangi
  • Meninggalkan We Tenrijellok
  • Batara Lattuk Memboyong Isterinya Pulang ke Negerinya
  • We Datu Sengngeng Bermimpi Melahirkan Anak Kembar Siang
I La Galigo edisi kedua
  • We Datu Sengngeng Mengidam
  • Kelahiran Sawerigading dan We Tenriabeng
  • Sawerigading dan We Tenriabeng Dinaikkan ke Ayunan
  • Batara Guru dan We Nyiliktimo ke Bottilangi Kembali
  • Upacara Injak Tanah Sawerigading
  • Sawerigading dan Para Sepupunya Naik ke Langit
  • Pernikahan Sawerigading
  • Sawerigading Meramaikan Sabung Ayam
  • Sawerigading Menikahi Sepupu-Sepupuhnya
  • Sawerigading Menjelajahi Seluruh Kerjaan Pamannya
  • Pelayanan Saweringading ke Negeri-Negeri Seberang
  • Sawerigading Menanggalkan Tanda Berkabung Bibinya di Tompo Tikka
  • Sawerigading Berlabuh di Wadeng Menjenguk We Tenrirawe
  • Sawerigading Berlayar di Maloku.
I La Galigo edisi ketiga
  • Sawerigading Berlayar ke Negeri-Negeri Asing
  • Sawerigading Berlayar ke Negeri Keliling
  • Pelayaran Sawerigading ke Tessililu
  • Pelayaran Sawerigading ke Marapettang
  • Sawerigading Berlayar Kembali ke Sama
  • Sawerigading Kembali ke Luwuk
  • We Panangngareng Dibawa Keliling Dunia
  • Sawerigading Menghilang di Aleluwuk
  • Upacara Perbaikan Nisan di Tompo Tikka
  • Pelayaran Sawerigading ke Pammasareng Menemui Wellericina
  • Pasukan Sawerigading Berperang di Possitana
  • Sawerigading Berdamai dengan Batara Wero
  • Dettiapajang Menyerah kepada Sawerigading
I La Galigo edisi keempat
  • Peperangan Melawan Daeng Lebbi
  • Pertemuan dengan Wellericina
  • Sawerigading Berjumpa dengan Adik Batara Guru Kakeknya
  • Pelayaran Kembali ke Aleluwuk
  • Rahasia Besar Mulai Terungkap
  • Sawerigading ingin Menikahi Adik Kembarnya
  • Ditebangnya Pohon Welenreng
  • Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina
  • Perang Melawan Bannyakpaguling
  • Peran Melawan La Teppusolok Toapunnge
  • Peran Melawan La Tuppugellang dari Jawa Timur
  • Perang Melawan La Togektana Pajulimpo Seseuraik
  • Perang Melawan La Tenripula dari Jawa Barat
  • Perang Melawan Ia Tenrinyiwik La Ngirisompa dari Malaka
I La Galigo edisi kelima
  • Pernikahan La Masseguni dengan Daeng Risobbu
  • Perang Melawan Settiyabonga Lompeng Rijawa
  • Berlabunya Sawerigading di Negeri Cina
  • La Dunrunsereng Mengintai Istana Latanete
  • Penyamaran Saweringading menjadi La Orokelling
  • I We Cudai Dilamar untuk Sawerigading
  • Diangkutnya Mas Kawin I We Cudai
  • I We Cudai Membatalkan Perjodohan
  • Perang Melawan Opunna Cina
  • Persyaratan Pernikahan I We Cudai
  • Perkawinan dengan Perantaraan Angin (Botting Ranenring)
  • Sawerigading Menikahi I We Cimpau
I La Galigo edisi keenam
  • Kehamilan I We Cimpau dan I We Cudai
  • Lahirnya I La Galigo Putra I We Cudai
  • I La Galigo Dibawa ke Mario
  • Perayaan Upacara Menghadiri Sabungan di Alecina
  • Dendam I We Cudai pada I We Cimpau
  • Kelahiran We Tenridio
  • Kelahiran We Tenribalobo
  • I La Galigo Berlayar ke Luwuk
  • I La Galigo Memboyong I Rajeng Risompa ke Cina

Buku ini merupakan koleksi Layanan Perpustakaan Umum yang berlokasi, jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang, Makassar.


I LA GALIGO 
Penyusun: Nurding Ram, Yusuf, Lely Yuliani Said, A.B. Takko Bandung
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011

March 31, 2020

La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia




Buku : La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia
Editor : Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar
Penerbit : Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin berkerjasama dengan Pemerintah daerah Kabupaten Barru, Makassar 2003
Jumlah Halaman : xxvii + 558
ISBN : 979-97666-0-5

La Galigo adalah sebuah karya sastra yang sarat makna dan bernuansa kearifan budaya masa lalu dari Sulawesi Selatan. Karya sastra yang konon terpanjang didunia. Karya sastra yang telah mendunia dan telah menjadi obyek pembahasan dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dan pertemuan ilmiah lainnya. Banyak penulis dan peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri yang telah mengkaji dan menulis tentang La Galigo. Karya karya mereka sudah banyak tersebar diberbagai forum, lembaga perndidikan, perpustakaan, lembaga penelitian dan pusat pusta informasi lainnya di berbagai negara. 

Buku ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Internasional  La Galigo yang dilaksanakan pada tanggal 15- 18 Maret 2002 di Desa Pancana, Kabupaten Barru. Diawali dengan “Sekapur Sirih” dari Andi Muhammad Rum (Bupati Barru waktu itu), “Catatan Editor” , “Pengantar” oleh Anhar Gongngong, dan “Pendahuluan” oleh Nurhayati Rahman. 

Ada 4 bagian dan masing masing bagian terdiri dari beberapa Sub-bagian lagi. Sub-bagian ini adalah Makalah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Internasional ini. 

Berikut ini saya uraikan masing masing bagian dan makalah makalah yang dibahas dan nama penulis makalah. 

Bagian I. Di Cengkeram La Galigo 

1.      The ‘La Galigo’ A Bugis Encynclopedia and its Growth  (Sirtjo Koolhof)
2.      Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim)
3.      Ibuku Magali-Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim)
4.      Pengembaraan La Galigo ke Washington DC. – Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura (Roger Tol)
5.      Seduced By La Galigo, - A Film Maker Journey (Rhoda Grauer) 

Bagian II.  Pengembangan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara

1.      La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli)
2.      Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang)
3.      Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara, - Ingatan Masa Lalu dan Tafsir Masa Kini (Susanto Zuhdi)
4.      La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau); Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu’jizah dan Dewaki Kramadibrata)
5.      Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan. (Cornelis Salombe)
6.      Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abdul Latief)
7.      Sawerigading dalam La Galigo – Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina. (Abdul Rahman Al Ahmady)

Bagian III. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi

1.      La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia. (Nirwan Ahmad Arsuka)
2.      La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka)
3.      Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras)
4.      La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian)
5.      Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah-Daerah di Sulawesi  (James Danandjaja)
6.      Nature and Culture – Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo. (Darmawan Mas’ud dan Gufran D. Dirawan)
7.      Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo. (Widya Nayati)
8.      Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre)
9.      Persfektif Gender Dalam Naskah Galigo (Nurnaningsih)
10.  Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim)
11.  La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight)
12.  Berlayar ke Tompoq Tikkaq: sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner)
13.  Solusi Konflik dalam La Galigo (Muhammad Tang)
14.  Nilai Nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

Bagian IV. Dunia Dalam La Galigo dan Realitas Masyarakat Kekinian

1.      Sawerigading dalam Identitas dan analisis (Mattulada)
2.      Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo  (A. Anton Pangerang)
3.      “Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi”: Arkeologi Bersejarah dan Pusat Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell)
4.      The Archaeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck)
5.      Kepercayaan dan Upacara dai Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic)
6.      Bissu in La Galigo (Sharyn Graham)
7.      Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Latief)

Pada bagian akhir buku ini ada Biodata para penulis makalah, kemudian Indeks (untuk memudahkan pembaca dalam menemukan topik tertentu dalam buku ini) dan lampiran foto foto kegiatan selama berlangsungnya Seminar Internasional tersebut. 

Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


February 25, 2020

PASOMPE, Pengembaraan Orang Bugis




Buku : Pasompe, Pengembaraan Orang Bugis
Penulis : Prof. Dr. H. Abu Hamid
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar, 2004
Jumlah Halaman  : viii + 95
ISBN : 979-3570-04-0

Pasompe adalah sosok manusia yang melakukan perantauan ke negeri seberang, demikian kata pengantar buku ini. Menjadi Pasompe adalah kebanggaan manusia Bugis dan Makassr sejak zaman dahulu kala. Kepiawaian manusia Bugis dan Makassar mengarungi samudra luas, berniaga dengan para penduduk negeri seberang, menginpor dan mengekspor barang barang komoditas dan aspek aspek maritime lainnya, Inilah inti pambahasan buku ini. 

Bagian awal dari buku ini membahas tentang “Orang Bugis dan Makassar Menentang Badai”. Pada bagian ini banyak dibahas tentang kejayaan Orang Bugis dan Makassar dimasa lalu dalam dunia maritime, palayaran dan pengembaraan. Terdapat kutipan dari banyak pakar misalnya Gervaise (1988), CH. Pelras (!973), catatan Lontara Bilang Gowa dan Tallo, ada tulisan L.J.J. Caron dan  Noorduyn. Disebutkan bahwa pada 21 April 1659,  Raja Gowa menuju Mandar dengan diiringi sebanyak 1183 Kapal dalam rombongannya. Bisa dibayangkan betapa besar dan jayanya kekuatan armada yang dimiliki pada masa itu. 

Hubungan kerja didalam sebuah kapal / perahu dagang juga dibahas pada bagian ini. Ada organisasi dalam pelayaran itu. Ada Ponggawa, Nakhoda, Juragam, Jurumudi, Sawi, Jurubatu, Jurutulis, Juru masak, awak kapal dan lain lain. 

Pengetahuan Astronomi dan Oceanologi juga dijelaskan pada bagian ini. Sejak zaman dulu, orang Bugis sudah mengenal rasi bintang sebagai petunjuk pelayaran, arah angin, cuaca dan musim. Ada bintang Sulo BawiE, Wara-waraE, TanraE, ManuE, WorongporongE, LumbaruE,  dan Tellu-telluE. 

Bagian kedua adalah “Sawerigading Terdampar Desa Ara”. Pada bagian ini dikisahkan tentang pelayaran Sawerigading yang merupakan salah satu penggalan kisah legenda I La Galigo. Kemudian ada mantra mantra magis dan religious dalam pembuatan perahu phinisi, misalnya ada mantra khusus ketika menebang pohon yang akan dijadikan perahu phinisi, ada mantra ketika memotong motongnya, ketika meluncurkannya kelaut dan lain lain. Dibahas pula tentang banyak persyaratan teknis ketika membuat perahu phinisi, serta perang para pembuat perahu juga bahkan kebutuhan dan harga bahan dan peralatan juga ada dalam buku ini. Nama nama teknis bagian perahu juga dijelaskan satu persatu.

Bagian ketiga, “Pasompe Bagi Orang Bugis”.  Pada bagian ini dijelaskan tentang arti dan makna kata “Pasompe”, juga dikisahkan kembali kehebatan para pasompe Bugis yang bahkan keturunannya banyak yang menjadi penguasa dan raja di negeri seberang. Juga dibahas buku karya Prof. Ph. O. L. Tobing tentang “Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa” pada tahun 1961. Dalam buku tersebut dijelaskan tentang jalur jalur pelayaran orang Bugis, Makassar dan Mandar sesuai dengan musimnya. 

Pada bagian ketiga ini pula dijelaskan tentang aturan aturan tradisional dalam suatu pelayaran. Ada aturan kerja antara Ponggawa (pemilik kapal), nakhoda, jurumudi, jurutulis, sawi, penumpang, dan lain lain. Begitu pula ada aturan tentang bagis hasil setelah pulang dari berlayar dan berniaga. Yang menarik disini, ada kepercayaan para pasompe itu tentang eksistensi atau keberadaan sang penguasa laut yaitu Nabi Khedere (nabi Khaidir) dan juga adanya Hantu Laut yang bisa menimbulkan masalah dalam pelayaran. 

Terakhir adalah pesan pesan para Panrita Lopi (pakar pembuat perahu). Salah satu pesannya antara lain: piring dan gelas suami yang dipakai makan selama dalam lingkungan keluarganya, harus diamankan. Gelas diisi dengan air, maksudnya agar kesehatan suami selama dalam pelayaran senantiasa terjamin. 

Salah satu buku terbaik tentang dunia maritime orang Bugis yang pernah saya baca. Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.