Showing posts with label Pasompe. Show all posts
Showing posts with label Pasompe. Show all posts

June 4, 2020

Pesan Pesan Moral Pelaut Bugis


Buku : Pesan pesan Moral Pelaut Bugis

Penulis : Prof. Dr. H. Abu Hamid

Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar, 2007

Jumlah Halaman : vii + 88

ISBN : 979-3570-04-0

Pada pelantikan Presiden tahun lalu, sebuah kata penyemangat dalam bahasa Bugis dilontarkan oleh Pak Jokowi, yaitu, “Pura Babbara Soppekku, pura tangkisi gulikku” yang artinya adalah “Layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang”.  Meskipun kata motivasi Bugis yang diungkapkan Presiden tidaklah lengkap, namun sebagai orang Bugis, saya merasa bangga Presiden memilih kata motivasi Bugis, diantara ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia. Hal ini tentu karena orang Bugis dan Makassar sudah lama terkenal sebagai pelaut ulung. Nenek moyang orang Bugis telah mengarungi samudra sejak ratusan tahun lalu. Mereka berlayar dan berdagang sampai negara tetangga dan negeri jauh lainnya. Selain ke pulau pulau yang ada di Nusantara, pelaut Bugis dan Makassar juga tercatat dalam sejaran sampai ke Australia, Thailand, Singapura, Malaysia, Philippina, Vietnan, Kamboja dan Cina.

Buku ini salah satu yang banyak membahas tentang pesan pesan moral pelaut Bugis. Ditulis oleh Prof. Dr. H. Abu Hamid, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin Makassar dan mantan Rektor Universitas 45 (sekarang Universitas BOSOWA) Makassar.

Buku ini terdiri dari 4 (empat) bagian, diawali dengan Kata Pengantar dari penerbit, kemudian berlanjut ke bagian pertama, Orang Bugis dan Makassar Melawan Badai. Pada bagian ini, penulis mengutip beberapa pendapat beberapa peneliti asing tentang kehebatan dan keberanian  orang orang  Bugis, misalnya Gervaise, Christian Pelras, Noorduyn dan L.J.J. Caronm Juga diungkapkan tentang sumber informasi Lontara Bilang Raja raja Gowa yang membahas tentang pelayaran.  

Pada bagian pertama ini juga dibahas tentang Perahu yang identik sebagai sebuah Desa, symbol simbol kepercayaan, baik itu tentang hari baik dan hari buruk, juga tentang perbintangan, atau astronomi yang banyak digunakan pelaut Bugis dalam pelayaran. Bahkan sejak ratusan tahun lalu, orang Bugis sudah mengenal rasi bintang yang menjadi petunjuk arah dan musim dalam sistem maritime mereka.

Pada bagian kedua, penulis membahas tentang salah satu penggalan Epos I La Galigo, yaitu Sawerigading Terdampar di Desa Ara. Dari cerita legenda ini, maka sampai sekarang, orang orang Ara di Bulukumba terkenal sebagai Panrita Lopi, atau pakar pembuat perahu. Ditambahkan juga tentang mitos mitos dan unsur magis dalam pelayaran. Dimulai dari memilih jenis kayu yang akan dijadikan perahu, dan mantra mantra yang dibacakan saat akan memulai pembuatan perahu. Juga dibahas hal hal yang terlarang dilakukan dalam proses pembuatan perahu maupun saat pelayaran, kelompok kelompok kerja dan peralatannya, permodalan, dan upacara ritual.  

Bagian ketiga membahas tentang Pasompe bagi Orang Bugis. Pasompe itu arti sebenarnya adalah “orang yang berlayar”.  Namum maknanya jauh lebih luas dari itu yaitu “pelaut-pedagang yang berlayar dari pulau ke pulau atau dari suatu negeri ke negeri lainnya”. Pasompe juga bisa berarti pengembara atau perantau ke negeri orang yang dihubungkan dengan kegiatan migrasi. Pada bagian ini, juga dibahas tentang aturan dan peraturan tradisional, budaya maritime dan struktur sosial, sistem teknologi perahu phinisi, alam pikiran mistis, teknologi tradisional pembuatan perahu, dan kelemahan dan kelebihan perahu Phinisi.

Pada bagian terakhir, Pesan Pesan Panrita Lopi, menjelaskan tentang pesan pesan saat pembuatan perahu, dan saat berlayar, kebiasaannya, tradisi budaya, motorisasi dan perubahan sosial dan terakhir prospek perahu tradisional.

Buku bagus untuk menambah pengetahuan tentang kebaharian orang Bugis.   


February 25, 2020

PASOMPE, Pengembaraan Orang Bugis




Buku : Pasompe, Pengembaraan Orang Bugis
Penulis : Prof. Dr. H. Abu Hamid
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar, 2004
Jumlah Halaman  : viii + 95
ISBN : 979-3570-04-0

Pasompe adalah sosok manusia yang melakukan perantauan ke negeri seberang, demikian kata pengantar buku ini. Menjadi Pasompe adalah kebanggaan manusia Bugis dan Makassr sejak zaman dahulu kala. Kepiawaian manusia Bugis dan Makassar mengarungi samudra luas, berniaga dengan para penduduk negeri seberang, menginpor dan mengekspor barang barang komoditas dan aspek aspek maritime lainnya, Inilah inti pambahasan buku ini. 

Bagian awal dari buku ini membahas tentang “Orang Bugis dan Makassar Menentang Badai”. Pada bagian ini banyak dibahas tentang kejayaan Orang Bugis dan Makassar dimasa lalu dalam dunia maritime, palayaran dan pengembaraan. Terdapat kutipan dari banyak pakar misalnya Gervaise (1988), CH. Pelras (!973), catatan Lontara Bilang Gowa dan Tallo, ada tulisan L.J.J. Caron dan  Noorduyn. Disebutkan bahwa pada 21 April 1659,  Raja Gowa menuju Mandar dengan diiringi sebanyak 1183 Kapal dalam rombongannya. Bisa dibayangkan betapa besar dan jayanya kekuatan armada yang dimiliki pada masa itu. 

Hubungan kerja didalam sebuah kapal / perahu dagang juga dibahas pada bagian ini. Ada organisasi dalam pelayaran itu. Ada Ponggawa, Nakhoda, Juragam, Jurumudi, Sawi, Jurubatu, Jurutulis, Juru masak, awak kapal dan lain lain. 

Pengetahuan Astronomi dan Oceanologi juga dijelaskan pada bagian ini. Sejak zaman dulu, orang Bugis sudah mengenal rasi bintang sebagai petunjuk pelayaran, arah angin, cuaca dan musim. Ada bintang Sulo BawiE, Wara-waraE, TanraE, ManuE, WorongporongE, LumbaruE,  dan Tellu-telluE. 

Bagian kedua adalah “Sawerigading Terdampar Desa Ara”. Pada bagian ini dikisahkan tentang pelayaran Sawerigading yang merupakan salah satu penggalan kisah legenda I La Galigo. Kemudian ada mantra mantra magis dan religious dalam pembuatan perahu phinisi, misalnya ada mantra khusus ketika menebang pohon yang akan dijadikan perahu phinisi, ada mantra ketika memotong motongnya, ketika meluncurkannya kelaut dan lain lain. Dibahas pula tentang banyak persyaratan teknis ketika membuat perahu phinisi, serta perang para pembuat perahu juga bahkan kebutuhan dan harga bahan dan peralatan juga ada dalam buku ini. Nama nama teknis bagian perahu juga dijelaskan satu persatu.

Bagian ketiga, “Pasompe Bagi Orang Bugis”.  Pada bagian ini dijelaskan tentang arti dan makna kata “Pasompe”, juga dikisahkan kembali kehebatan para pasompe Bugis yang bahkan keturunannya banyak yang menjadi penguasa dan raja di negeri seberang. Juga dibahas buku karya Prof. Ph. O. L. Tobing tentang “Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa” pada tahun 1961. Dalam buku tersebut dijelaskan tentang jalur jalur pelayaran orang Bugis, Makassar dan Mandar sesuai dengan musimnya. 

Pada bagian ketiga ini pula dijelaskan tentang aturan aturan tradisional dalam suatu pelayaran. Ada aturan kerja antara Ponggawa (pemilik kapal), nakhoda, jurumudi, jurutulis, sawi, penumpang, dan lain lain. Begitu pula ada aturan tentang bagis hasil setelah pulang dari berlayar dan berniaga. Yang menarik disini, ada kepercayaan para pasompe itu tentang eksistensi atau keberadaan sang penguasa laut yaitu Nabi Khedere (nabi Khaidir) dan juga adanya Hantu Laut yang bisa menimbulkan masalah dalam pelayaran. 

Terakhir adalah pesan pesan para Panrita Lopi (pakar pembuat perahu). Salah satu pesannya antara lain: piring dan gelas suami yang dipakai makan selama dalam lingkungan keluarganya, harus diamankan. Gelas diisi dengan air, maksudnya agar kesehatan suami selama dalam pelayaran senantiasa terjamin. 

Salah satu buku terbaik tentang dunia maritime orang Bugis yang pernah saya baca. Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.