Buku : Pesan pesan Moral Pelaut Bugis
Penulis : Prof. Dr. H. Abu Hamid
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar, 2007
Jumlah Halaman : vii + 88
ISBN : 979-3570-04-0
Pada pelantikan Presiden tahun lalu, sebuah kata
penyemangat dalam bahasa Bugis dilontarkan oleh Pak Jokowi, yaitu, “Pura Babbara Soppekku, pura tangkisi gulikku”
yang artinya adalah “Layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang”. Meskipun kata motivasi Bugis yang diungkapkan
Presiden tidaklah lengkap, namun sebagai orang Bugis, saya merasa bangga
Presiden memilih kata motivasi Bugis, diantara ratusan bahasa daerah yang ada
di Indonesia. Hal ini tentu karena orang Bugis dan Makassar sudah lama terkenal
sebagai pelaut ulung. Nenek moyang orang Bugis telah mengarungi samudra sejak
ratusan tahun lalu. Mereka berlayar dan berdagang sampai negara tetangga dan
negeri jauh lainnya. Selain ke pulau pulau yang ada di Nusantara, pelaut Bugis
dan Makassar juga tercatat dalam sejaran sampai ke Australia, Thailand,
Singapura, Malaysia, Philippina, Vietnan, Kamboja dan Cina.
Buku ini salah satu yang banyak membahas tentang pesan
pesan moral pelaut Bugis. Ditulis oleh Prof. Dr. H. Abu Hamid, seorang dosen
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin Makassar dan mantan Rektor Universitas
45 (sekarang Universitas BOSOWA) Makassar.
Buku ini terdiri dari 4 (empat) bagian, diawali dengan
Kata Pengantar dari penerbit, kemudian berlanjut ke bagian pertama, Orang Bugis
dan Makassar Melawan Badai. Pada bagian ini, penulis mengutip beberapa pendapat
beberapa peneliti asing tentang kehebatan dan keberanian orang orang Bugis, misalnya Gervaise, Christian Pelras,
Noorduyn dan L.J.J. Caronm Juga diungkapkan tentang sumber informasi Lontara
Bilang Raja raja Gowa yang membahas tentang pelayaran.
Pada bagian pertama ini juga dibahas tentang Perahu yang
identik sebagai sebuah Desa, symbol simbol kepercayaan, baik itu tentang hari
baik dan hari buruk, juga tentang perbintangan, atau astronomi yang banyak
digunakan pelaut Bugis dalam pelayaran. Bahkan sejak ratusan tahun lalu, orang
Bugis sudah mengenal rasi bintang yang menjadi petunjuk arah dan musim dalam
sistem maritime mereka.
Pada bagian kedua, penulis membahas tentang salah satu
penggalan Epos I La Galigo, yaitu Sawerigading Terdampar di Desa Ara. Dari
cerita legenda ini, maka sampai sekarang, orang orang Ara di Bulukumba terkenal
sebagai Panrita Lopi, atau pakar
pembuat perahu. Ditambahkan juga tentang mitos mitos dan unsur magis dalam pelayaran. Dimulai dari memilih jenis kayu yang akan
dijadikan perahu, dan mantra mantra yang dibacakan saat akan memulai pembuatan
perahu. Juga dibahas hal hal yang terlarang dilakukan dalam proses pembuatan
perahu maupun saat pelayaran, kelompok kelompok kerja dan peralatannya,
permodalan, dan upacara ritual.
Bagian
ketiga membahas tentang Pasompe bagi Orang Bugis. Pasompe itu arti sebenarnya
adalah “orang yang berlayar”. Namum
maknanya jauh lebih luas dari itu yaitu “pelaut-pedagang yang berlayar dari
pulau ke pulau atau dari suatu negeri ke negeri lainnya”. Pasompe juga bisa
berarti pengembara atau perantau ke negeri orang yang dihubungkan dengan
kegiatan migrasi. Pada bagian ini, juga dibahas tentang aturan dan peraturan
tradisional, budaya maritime dan struktur sosial, sistem teknologi perahu
phinisi, alam pikiran mistis, teknologi tradisional pembuatan perahu, dan
kelemahan dan kelebihan perahu Phinisi.
Pada bagian
terakhir, Pesan Pesan Panrita Lopi, menjelaskan tentang pesan pesan saat pembuatan
perahu, dan saat berlayar, kebiasaannya, tradisi budaya, motorisasi dan
perubahan sosial dan terakhir prospek perahu tradisional.
Buku bagus
untuk menambah pengetahuan tentang kebaharian orang Bugis.



