March 31, 2021

KEARIFAN LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA BUGIS: BERDASARKAN MEONG MPALOE

La Galigo biasa juga disebut Sureq Selleyang/Sureq Sennorang artinya kitab suci yang dinyanyikan karena memang La Galigo ditulis bukan untuk dibaca di dalam hati tapi untuk didendangkan di muka publik.

Meong Mpalo Bolongnge (MPB) dapat dilihat dalam 2 perspektif. Dari segi isinya masuk dalam salah satu episode sureq La Galigo, karena bercerita tentang tokoh-tokoh dalam La Galigo. Dari segi genre kesusastraan Bugis masuk kategori Toloq karena terdiri dari 8 suku kata seperti yang terdapat pada Toloq, sementara umumnya sureq galigo terdiri dari 5 suku kata .

Meong Mpalo Bolongnge menceritakan tentang petualangan Sangiang Serriq (Dewi Padi) bersama kucing dan pengawal-pengawalnya. MPB sebagai pegawal Sangiang Serriq disiksa oleh manusia, akibatnya tidak ada lagi yang menjaga dan mengawal Sangiang Serriq. Begitu pula perlakuan manusia terdapat Sangiang Serriq tidak dihargai oleh orang-orang Luwuq, ia tidak ditempatkan pada singgasananya (langkayan), penduduk tidak lagi mematuhi petuah pantangan dan larang-laranganny, dimakan tikus pada malam hari ditotok ayam pada siang hari, maka Sangiang Serriq sepakat dengan MPB dan pengawal-pengawalnya untuk pergi mengembara.

Mula-mula Sangiang Serriq dan rombongan tiba di Enrekang, lalu terdapar di Maiwa, kemudian berturut-turut ke Soppeng, Langkemme, terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai akhirnya tiba di Barru.

Perjalanan dari Enrekang sampai ke Lisu, penuh dengan berbagai derita dan tantangan, sikap dan perlakuan orang-orang yang tidak senonoh, kucing (MPB) disiksanya habis-habisan, ia dan rombongan tidak ditempatkan di langkayan. MPB bersama rombongan pun kelaparan, kehausan, belum lagi kepanasan yang menimpanya pada siang hari dan kedinginan pada malam hari. Tapi ketika tiba di Barru, ia menemukan sesuatu yang lain dari tempat-tempat yang telah dilaluinya. Sangiang Serriq dan rombongan disambut dengan penuh kehangatan, dijamu, diistirahatkan di langkayan, ditambah sikap keramah-tamahan penduduk, keadilan dan kebijaksanaan penguasa, membuat Sangiang Serriq dan rombongan betah.

Sayang sekali Sangiang Serriq sudah terlalu letih, lelah dan sedih mengingat suka duka perjalanannya, dan sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga ia bertekad untuk meninggalkan bumi, untuk kemudian kembali ke langit menemui kakeknya yang bertahta di Boting Langiq (kerajaan langit).

Tetapi sesampainya di langit, Sangiang Serriq beserta rombongan tidak diperkenankan oleh kakeknya untuk menetap di langit, sebab nasib dan kejadiannya telah ditakdirkan oleh Dewa untuk memberi kehidupan kepada orang-orang bumi. Akhirnya mereka terpaksa kembali ke bumi dan mereka sepakat memilih Barru sebagai tempat menetapnya.

Tujuh hari tujuh malam sesudah Sangiang Serriq tiba di Baru barulah ia memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat serta padangan-pandangan, khususnya yang berhubungan dengan pertanian dan norma-norma masyarakat Bugis, norma-norma itu menyangkut lapangan hidup pertanian, sikap-sikap yang patut dimiliki oleh manusia, sebagai pribadi dan anggota kelompok masyarakat dan menjaga hubungan dengan lingkungan, denganm dewa, dengan manusia, maupun dengan alam sekitar, agar masyarakat tetap makmur, tenteram dan sejahtera. Hal ini dimungkinkan karene Sangiang Serriq akan menetap di Barru, dan itu pertanda sebagai kemakmuran dan kesejahteraan.

Buku KEARIFAN LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA BUGIS: BERDASARKAN MEONG MPALOE merupakan cerita Datu Sangiang Serriq yang didampingi oleh MPB merupakan pappaseng yang sarat dengan petuah dan pepatah dalam berkehidupan dan berpenghidupan di alam raya ini, khususnya di wilayah Ajatappareng. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KEARIFAN LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA BUGIS: 
BERDASARKAN MEONG MPALOE
Penulis: Nurhayati Rahman
Pemeriksa Naskah: Marjan Mariani
Penerbit: La GAligo Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-9915-3-7

March 30, 2021

ISTILAH TORIOLO

Aksara Bugis hanya memiliki 19 huruf, karena aksara Bugis tidak mempunyai konsonan N atau NG. Membaca warkat atau surat dalam bahasa Bugis, selayaknya paham/mengerti bahasa Bugis atau mengerti maksudnya, sebab tulisan bisa persis sama tapi artinya berbeda.

Walau begitu, mempelajari huruf dan bahasa Bugis tidaklah sulit, yang penting kemauan, lebih-lebih bahasa Bugis banyak mengandung kata-kata mutiara, pepatah, nasehat-nasehat yang berasal dari pendahulu atau nenek moyang yang diistilahkan BOKONG TEMMAWARI (bekal tak basi) disingkat BT yang bersumber dari bahasa sehari-hari tapi jarang digunakan atau jarang kedengaran, tetapi berisikan nasehat atau pelajaran yang berguna untuk mengarungi hidup. Seperti Aja mupakasiri tauwe ritengana tau ega e, artinya: jangan mempermalukan orang lain ditengah banyak orang.

Ajak mucaro beangi padammu tau, artinya jangan anggap rendah sesama. Hormatilah setiap orang tanpa memandang pakaiannya atau luarnya. Allah SWT tidak menilai seorang hamba dari luarnya (cantik, buruk, putih, hitam, gemuk, kurus, dsb) melainkan dari bathinnya atau hatinya. Maka itu setiap hati harus baik. 

Buku ISTILAH TORIOLO: Dengan Aksara Bugis membahas 100 istilah-istilah asli seperti Ajak muabbeangngi nenenu, ambokmu, sibawa indokmu; Ajak muassola salaiwi agagae; Ajak muassola solaiwi sungekmu; Ajak mucabbang majjanci; Ajak mucabbang mattinjak; Ajak mucaro beangi padammu tau; Aja muengkalinga ada saraddasi; Aja mukalinja linja; Aja mukajilijili; Ajak mukakado kado, pikkirikiwi madeceng, dan lain sebagainya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ISTILAH TORIOLO 
Dengan Aksara Bugis
Penyusun: Muh. Armynal Patiroi
Tempat Terbit: Jambi
Tahun Terbit: 2014

March 29, 2021

MADDEWATA, LALOSU, PAJAGA: Perempuan dan Bissu dalam Lingkaran Pertunjukan Etnis Bugis

 


Maddewata berasal dari bahasa Bugus, “ma” artinya melakukan, “Dewata” dari dua kata “de” (tidak ada/tidak tampak) “watang” (fisik/tubuh/bentuk), yang bermakna sesuatu yang tidak tampak fisiknya/bentuknya/tubuhnya, dengan kata lain adalah Tuhan. Maddewata merupakan aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat Bugis Kuno untuk memohon berkah, restu, keberhasilan dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa/Dewata atas segala hajat yang dilakukan oleh manusia.

Maddewata (Sere Maddewata) kemudian lebih dikenal dalam masyarakat etnis Bugis, khususnya di wilayah Pammana sebagai Sere Bissu, karena keseluruhan rangkaian dari upacara Maddewata tersebut dipimpin dan diperankan oleh Bissu, yakni dimulai dari proses mattangnga esso (penentuan hari/persiapan hajatan) sampai dengan setelah berahirnya hajatan.

Bissu merupakan sebuah komunitas tradisional yang diyakini oleh masyarakat Bugis Wajo sebagai manusia suci, mempunyai kesaktian, tabib/dukun, penasehat dalam kerajaan sekaligus perantara dan penyampai kehendak antara makhluk di bumi (Alekawa/Butting lino) dengan makhluk di khayangan (Butting langi/buri’ langi’/dunia atas’) dan makhluk yang mendiami dasar laut (Butting ri Liu/Buri’ liu/dunia bawah) karena Bissu menguasai torilangi’, sekaligus penyambung lidah antara rakyat dengan Datu (Raja) yang memerintah dalam masyarakat Bugis Wajo.

Masyarakat Bugis Kuno meyakini, bahwa kehadiran Bissu di Bumi sebagai penyempurna dan penyeimbang dari kehadiran leluhur orang Bugis dibumi yakni Batara Guru (penghuni Buri langi’/kerajaan langit) yang kemudian mempersunting We Nyili Timo (penghuni dari Buri’ Liu/kerajaan dasar laut), sebagai penasehat dan pendidik putra-putri raja, sebagai pendeta kuno yang ditempati meminta nasehat tentang hari baik pelaksanaan hajatan, sebagai peramal baik-buruknya pertanian yang dilakukan oleh warga, menentukan hari baik membangun dan memidahkan rumah, dan segala seluk beluk aktifitas ritual keseharian masyarakat Bugis kuno.

Tugas dan tanggungjawab sebagai seorang Bissu sangatlah berat sebagimana syarat-syarat menjadi Bissupun melalui tahap yang sangat rumit, yakni harus suci dari hal-hal yang sifatnya duniawi, terutama harus menjaga syahwat baik terhadap perempuan maupun laki-laki dengan tidak melakukan hubungan intim layaknya suami-istri, harus berpola laku dan bertutur kata malebbi (mulia), tidak boleh cakkidi-kidi (genis dan menggoda), harus melempu/mabberekkada tongeng (jujur), memiliki sifat mappakatau (menghargai sesama manusia) nakututui alena (menjaga harkat dan martabat sebagai seorang Bissu), dan mampu memberi makan bagi orang banyak (bersedekah makanan baik kepada orang kesusahan maupun tidak sebagai tanda alabongeng ati/sifat dermawan), yang intinya Bissu senantiasa harus menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan manusia, alam dan makhluk lainnya.

Bissu yang kebanyakan berprofesi sebagai Indo Botting/inang pengantin (tukang make up pengantin sekaligus tukang masak dan tukang pasang tenda, pelaminan dan semua persiapan dan perlengkapan pengantin), hampir tiap saat terutama pada musim pengantin di desa Kampiri, Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo.

Buku MADDEWATA, LALOSU, PAJAGA: Perempuan dan Bissu dalam Lingkaran Pertunjukan Etnis Bugis membahas tentang Maddewata (Sere Bissu), Lalosu Makkunrai Wajo, Pajaga Makkunrai serta Perempuan dan Bissu dalam Lingkaran Seni Pertunjukan Etnis Bugis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang, Makassar.


MADDEWATA, LALOSU, PAJAGA: Perempuan dan Bissu dalam Lingkaran Pertunjukan Etnis Bugis
Penulis: Nurwahidah
Penerbit: Pusaka Almaida
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-5954-93-1

March 19, 2021

LONTARAK TELLUMPOCCOE

Naskah kuno lontarak Tellumpoccoe memuat informasi kesejarahan yang bersangkut paut dengan perkembangan pemerintahan dalam berbagai kerajaan lokal, mulai zaman kedatangan to-manurung lokal sekitar tahun 1326 sampai jatuhnya Kerajaan Gowa oleh kekuatan Kompeni Belanda pada tahun 1667.

Dalam lontarak tersebut tercatat beberapa kerajaan lokal yang terhitung cukup besar pengaruhnya di kawasan jazirah Sulawesi Selatan pada masa itu, antara lain Kerajaan Bone, Wajo, Soppeng, Luwu dan Kerajaan Gowa. Masing-masing kerjaan saling berhubungan antara satu sama lain, baik dalam bentuk hubungan damai maupun peperangan.

Dalam lontarak (transliterasi dan terjemahan No. 03 sd N0. 25) termuat keterangan bahwa sejak berakhirnya masa pemerintahan raja-raja yang tercatat namanya dalam epos Galigo maka di kawasan Tanah Bone dan sekitarnya tidak ada lagi kedamaian. Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun. Tidak ada ketertiban. Tidak ada hukum. Tidak ada keadilan dan peradilan.

Kalau ada hukum, maka satu-satunya hukum yang berlaku ketika itu hanya "hukum rimba", hukum kekerasan yang halalkan semua cara untuk mencapai tujuan tertentu. Keadaan ini tercermin secara nyata dalam lontarak (transliterasi/terjemahan No. 03 s/d 04).

Pemberitaan lontarak menunjukkan secara nyata, bahwa sejak berakhirnya masa pemerintahan raja-raja yang tercatat namanya dalam epos Galigo, maka di kawasan Tanah Bugis dan sekitarnya tidak ada lagi bentuk pemerintahan sama sekali. Selaku konsekuensi logis, masyarakat ketika itu tidak mengenal lagi kata mufakat dan musyawarah. Bahkan, mereka saling memangsa antara sesamanya. Mereka saling mengkhianati. Tidak lagi aturan dan peraturan, apalagi yang dinamakan keadilan dan peradilan. Jelas mereka hidup dalam masa kekacau-balauan di situ manusia saling memangsa bagaikan ikan. Keadaan seperti ini berlanjut selama tujuh angkatan, tujuh generasi yang dalam istilah lontarak disebut pitutureng (tujuh musim).

Setelah berlalu tujuh musim, keadaan yang serba kacau balau tersebut mengalami perubahan dengan datangnya tokoh to manurung yang kemudian disepakati oleh penduduk untuk dinobatkan menjadi pimpinan, sekaligus raja berdaulat di kawasan Tanah Bone. Dalam pengistilahan bahasa daerah Bugis to manurung merupakan kata jadian, berasal dari kata kerja; dan "turung" artinya turun. To-ma-nurung berarti orang yang turun (dari kahyangan: langit).

Pemahaman anggota masyarakat tentang to manurung merupakan cerita khayalan yang beralih secara turun-temurun dari satu generasi ke lain generasi. Kendati pun demikian terbentuknya pemerintahan kerajaan lokal di daerah Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari kehadiran to manurung sebagai tokoh pemimpin yang kemudian menjadi raja dengan kekuasaan penuh di wilayah pemerintahannya.

Gambaran tentang tokoh pemimpin yang disebut to manurung tercermin pula dalam lontarak Tellupoccoe yang menyatakan negeri Bone ketika itu sedang bertikai untuk memperoleh pengaruh, sekiligus pendukung dan pengikut. Dalam keadaan seperti itu, muncul tokoh pemimpin yang disebut Mata Silompok e Manurungnge ri Matajang. Tokoh ini disebut Manurungnge ri Matajang, karena muncul pertama kalinya di suatu tempat yang bernama Matajang (negeri Bone). 

Kedatangan sang to manurung (Mata Silompok e) ketika itu telah menimbulkan harapan baru bagi anggota masyarakat setempat, sehingga mereka sepakat mengangkat dan menobatkannya menjadi raja.

Dalam sejarah pemerintahan Kerajaan Bone dikenal adanya 34 raja dan 2 (dua) jennang yang pernah memegang tampuk pemerintahan, namun dalam lontarak Tellupoccoe hanya terdapat 15 raja dan 2 jennang. Jennang adalalah perwakilan raja Gowa yang ditempatkan di daerah Bone. Silsilah raja dan jennang tersebut:

  1. Manurungnge ri Matajang (Raja Bone - I)
  2. La Ummassa (Raja Bone - II)
  3. La Saliwu Kerampeluwak (Raja Bone - III)
  4. We Benrigau Makkaleppie (Raja Bone - IV)
  5. La Tenrisukki (Raja Bone - V)
  6. La Wulio Botek e ((Raja Bone - VI)
  7. La Tenrirawe Bongkae (Raja Bone - VII)
  8. La Iccak (Raja Bone - VIII)
  9. We Tenrituppu (Raja Bone - IX)
  10. La Tenriruwa Sultan Adam Matiroe ri Bantaeng (Raja Bone - X)
  11. La Tenripale Toakkeppeang (Raja Bone - XI)
  12. La Maddaremmeng Sultan M. Shaleh Matinroe ri Bukaka (Raja Bone - XII)
  13. Tosenrima Matinroe ri Siang (Raja Bone - XIII)
  14. Jenang Toballa dan Jenang Arung Amali
  15. La Tenritata To Unru Arung Palakka Sultan Sa'aduddin To Risompae Metinroe Ri Bontoala
Selain sebagai sumber sejarah berdirinya kerjaan Bone, naskah kuno lontarak memuat informasi yang bertalian dengan pembentukan Trialiansi Tellupoccoe. Trialiansi melibatkan tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng). Gagasan untuk melakukan trialiansi antara ketiga kerajaan itu pertamakali timbul dari pihak Kerajaan Bone. Trialiansi Tellupoccoe adalah suatu perjanjian persahabatan yang disebut Mallamumpatu e ri Timurung (Penanaman batu di Timurng).

Buku  LONTARAK TELLUMPOCCOE membahas tentang terbentuknya Kerajaan Bone, Biografi Raja-Raja Bone, Lahirnya Trialiansi Tellupoccoe serta pecahnya Trialiansi Tellupoccoe. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARAK TELLUMPOCCOE
Penulis: Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari
Penyunting: S. Sumardi, Sri Mintosih
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992



March 17, 2021

HAJI ANDI SULTAN DAENG RAJA: KARAENG GANTARANG BULUKUMBA


Penentangan kehadiran Belanda di Sulawesi Selatan menimbulkan peristiwa demi peristiwa yang melahirkan tokoh-tokoh pejuang yang tidak kenal menyerah antara lain, Haji Andi Sultan Daeng Raja. 

Haji Andi Sultan Daeng Raja bukan saja tampil sebagai penentang hadirnya kembali Belanda di Sulawesi Selatan, tapi juga termasuk salah seorang pencetus ikrar yang merupakan perjanjian luhur bangsa Indonesia yaitu proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta bersama-sama dengan utusan bangsa Indonesia diseluruh wilayah Indonesia lainnya.

Bahkan bukan saja beliau memulai perjuangannya pada peristiwa 17 Agustus 1945 tapi jauh sebelumnya beliau (Haji Andi Sultan Daeng Raja) semasa diadakan Kongres Pemuda pertama 28 Oktober beliau turut hadir.

Haji Andi Sultan Daeng Raja dilahirkan pada tahun 1894 di Gantarang Bulukumba dalam kalangan keluarga yang sementara berkuasa masa itu. Masa kecil beliau ditempuh dengan segala suka-dukanya. Beliau dikenal termasuk anak yang patuh pada orang tua, serta mempunyai tabiat yang pendiam. Dikalangan teman-teman seangkatannya beliau dikenal sebagai anak yang keras pendirian serta senang pada pelajaran.

Pendidikan dasarnya dimulai dengan sekolah Bumiputra kelas dua atau sekolah Gubernement kelas dua. Setammat pada sekolah Bumiputra di Bulukumba beliau masuk sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda yang tinggal di Bulukumba yaitu "Eropesche Lagere Scholl type B", yaitu sekolah dimana bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda.

Setammat beliau dari E.L.S. di Bulukumba pada tahun 1907 beliau melanjutkan pendidikannya pada OSVIA yaitu sekolah lanjutan tingkat atas jaman penjajahan Belanda yang menerima murid khusus dari anak-anak kalangan bangsawan untuk dipersiapkan menduduki jabatan-jabatan negeri masa itu seperti Ajun Jaksa, lambau (pegawai pertanian) calon pamong praja dan sebagainya.

Sewaktu beliau berhasil menamatkan pendidikannya pada OSVIA di Ujung Pandang tahun 1914 dengan hasil memuaskan, selanjutnya beliau di benum (diangkat) menjadi pegawai di Ujung Pandang. Karier kepegawaian beliau dimasa penjajahan dijadikan sebagai alat penunjang cita-cita perjuangan yang ingin melenyatkan bangsa penjajah.

Beliau pernah ditangkap oleh sekutu (Australia) yang membuktikan dirinya sebagai salah satu tokoh perjuangan Sulawesi yang dianggap mampu menghambat kembalinya penjajahan Belanda di Indonesia sehingga ia disingkirkan dari tengah-tengah masyarakatnya.

Pada tanggal 17 Mei 1963 (hari Jum'at) usia 70 tahun, beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Pelamonia, setelah sakit beberapa lama, dan dimakamkan dibelakang Mesjid Raya Ponre, sesuai amanah beliau berdampingan dengan ayahandanya, walupun sebenarnya beliau berhak untuk dimakamkan pada Makam Pahlawan Bulukumba.

Dalam rangka mengabadikan nama beliau sebagai tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan, maka oleh panitia pemberi nama jalan pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bulukumba menetapkan jalan arteri (protokol) yang kebetulan membentang didepan rumah beliau dengan nama jalan Haji Andi Sultan Daeng Raja.

Buku BIOGRAFI PAHLAWAN HAJI ANDI SULTAN DAENG RAJA sebagai pejuang yang menentang Belanda sejak masih menjadi pegawai pemerintah Belanda di jaman kolonial. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAENG GANTARANG BULUKUMBA
Penulis: M. Basri Padulungi
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1981


 



 

PESAN SAKRAL TARI PAKARENA

Bagi orang-orang Bulutana di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan, Pakarena adalah tarian sakral.

Peneliti budaya Sulawesi Selatan, Shaifuddin Bahrun, mengungkapkan bahwa tarian agung ini mengajarkan keluhuran budi pekerti, orang menarikannya harus dengan segenap jiwa.

Menurut Shaifuddin, gerak gemulai para penari mencerminkan gerak gerik para wanita yang harus senantiasa lemah lembut serta menjaga sikap dan tutur kata. Karena itu, saat menari para penari Pakarena tak pernah mengangkat pandangannya. Pandangan mata mereka hanya diperkenankan sejauh sejengkal dari mata kaki,hal ini berbeda jika tarian dibawakan oleh penari modern, yang tak pernah menunduk, melainkan tersenyum kearah penonton, hal ini disebabkan oleh penari yang hanya diajarkan gerak tubuh, adapun nilai-nilai budayanya tidak diajarkan sama sekali, "yang terjadi, tarian ini seperti kehilangan ruhnya."

Tarian Pakarena memperoleh tempat istimewa di Kerajaan Gowa dimasa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Ibunda Sultan melestarikan tarian ini dan diambil alih oleh Permaisuri setelah ia wafat. Tarian ini juga disebut sebagai tari persembahan kepada raja, karena itu tarian yang dipentaskan dihadapan raja tentu para penari tidak sopan kalau tersenyum kepada raja sambil menari.

Nilai-nilai sakral dalam Pakarena ini masih dijaga kuat oleh masyarakat Bulutana, Malino, Gowa, salah seorang Penari Pakarena dari Bulutana yaitu Mak Cidda pada tahun 2011 silam telah dinobatkan sebagai Maestro Tari Pakarena Sulawesi Selatan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

(Tempo edisi 13-12-2012, Mak Cida-Maestro Tari Pakarena, KITLV)


Sumber asal manuskrip : Arung Ujung (Anggota Ade Pitue, Kerajaan Bone.
FB. an. Abbas Daming. Group Pecinta Sejarah Sulawesi Selatan



ARCA PERUNGGU BUDHA DITEMUKAN DI PULAU SELAYAR

Kedua patung (gambar 1 dan 2) ditemukan dalam penggalian di dusun Sasara di kecamatan Bontoharu, di pulau Selayar, pada tahun 1974. Patung-patung, yang ditemukan bersama, dibuat dari perunggu, kondisi utuh meskipun sedikit berkarat. dibeli oleh mantan Camat Bontoharu, Raja Boma, yang masih memilikinya.


Patung-patung Selayar mewakili dewa kecil Buddha diperkirakan dibuat pada abad kesepuluh atau awal abad kesebelas.

Pada patung Selayar, tidak terlihat pola pada cawat (Ind.,sarung dan kain). Sebuah korset mungkin digambarkan pada sosok laki-laki kecuali pada sosok perempuan hanya menggambarkan tepi depan kain. Tidak ada selempang atau busur terlihat di kedua patung, baik ornamen maupun bentuk tubuhnya sederhana, mukanya kasar dan mulutnya dibuat dari bibir atas dan bawah sederhana, matanya besar dan setengah tertutup. Bagian atas rongga mata dan alisnya ditandai dengan lengkungan yang diiris, hidungnya panjang dan lurus, hanya ada sedikit perbedaan antara tubuh pria dan wanita; itu Taras memiliki pinggang yang lebih ramping, payudara kecil dengan lipatan di bawahnya (Klokke dan Scheurleer 1988: 34)

Hipotesis kami bahwa patung-patung itu adalah produk dari Sulawesi Selatan, kemungkinan besar terletak di dekat kota Benteng saat ini di Selayar di mana patung-patung itu ditemukan.

Meskipun tidak ada bukti langsung dalam bentuk tempat kerajinan arca/patung yang dapat dikonfirmasi secara arkeologis, pengecoran perunggu tampaknya memiliki sejarah panjang di pantai selatan dan barat daya Sulawesi Selatan. Ini dibuktikan dengan termos perunggu yang tidak biasa (Bellwood 1997: 283) dan perunggu unik patung-patung anjing, bertanggal antara akhir milenium pertama SM dan awal milenium kedua M (Glover 1997: 218-19) yang ditemukan di dekat Makassar. Teknologi yang dibutuhkan untuk pengecoran benda semacam itu relatif sederhana.

Temuan-temuan ini memberikan gambaran bukti perdagangan dan komunikasi antara pantai selatan Sulawesi Selatan dan bagian lain nusantara pada awal sampai pertengahan kedua milenium Masehi.

Selayar sudah lama menjadi tempat singgah kapal layar dalam perjalanan ke Maluku untuk perdagangan keramik tertua ditemukan di Sulawesi Selatan (Naniek 1983) . Banyak, jika tidak sebagian besar, keramik periode Sung dan Yuan Utara yang dijual hari ini di Makassar dikabarkan berasal dari Selayar. Pelabuhan Benteng mungkin berfungsi bukan hanya sebagai tempat persinggahan kapal dapat mengisi kembali persediaan penting, tetapi juga sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah dan produk lainnya dari nusantara timur. Mempertimbangkan buktinya, Tampaknya tidak terlalu berlebihan untuk menganggap bahwa kedua patung itu dicetak di Selayar.

(Three locally-made bronzes from South Sulawesi: possible evidence of cultural transfer from Java about AD 1000 - I. A. Caldwell and M. Nur)


FB. an. Abbas Daming. Group Pecinta Sejarah Sulawesi Selatan


MANUSKRIP BUGIS TENTANG MEMBANGUN KAPAL


Koleksi yang diterbitkan, B.F. Matthes menjelaskan asal muasal naskah dan mencantumkan isinya: "No. 125 (folio, 156 halaman) adalah manuskrip yang saya peroleh pada tahun 1861 dari Tomarilalëng anggota Ade Pitue yaitu Arung Ujung. Ini cukup baik tertulis, terbaca, sekurang-kurangnya, dan berisi:

  1. halaman 1 - 97. Berbagai kutipan dari Latoa penguasa Pëtta Pawëlaië ri Lariambangi, termasuk Undang-undang, atau dan kode maritim komersial, Amanna Gappa.
  2. halaman 97 - 104. Sebuah pekerjaan tentang membangun rumah.
  3. halaman 104 - 107. Sebuah pekerjaan tentang pembangunan kapal.
  4. halaman 107 - 108. Sebuah karya tentang mendirikan pagar.
  5. halaman 108 - 125. Konferensi perwakilan Bonê, Wajo ' dan Soppëng di Timurung di Bonë pada tanggal 26 dan 28 Mei, dan 4, 7, 14, 20 dan 23 Juni 1760 untuk membahas pembajakan melalui darat dan laut Aru Panêki, yang memerintah sebagai Aru Matoa di Wajo 'dari 1737 hingga 1754 dengan nama dari La Madukëllëng Aru Singkang, meskipun sebelum dan sesudah ini periode yang dia lakukan seperti bajak laut yang tepat.
  6. halaman 125 - 138. Sebuah karya tentang pertanian.
  7. halaman 138 - 156. Sebuah karya tentang berbagai jenis alat tangkap.

[Pekerjaan dimulai dengan baris terbawah halaman 104 dari naskah.]

1. Naia sukë'na lopië, patujuë. Nakko 1, tasukë '[halaman 105] lampë'na, kalëbisëangngë 2, rëkko 3 pitug: sa asëragi, rasiliwëng pannyambunna. Naia pannyambungngë, ritaroiwi, jiri '4, passauang. Naia rimunri, naia sakka'na, malappa 'kalë bisëangngë2, riolo mau sëuamua, sijakka'. Ianaro riasëng, paribisëangngi alëna.

Terjemahan.

Ini adalah ukuran perahu yang layak. Saat Anda mengukur panjang badan kapal, seharusnya baik tujuh atau sembilan [depa], tanpa perluasannya. Adapun perpanjangannya, Bagian depannya dibuat rata, meski hanya ada satu pompa dan palka. Di bagian buritan, lebar bodi kapal satu bentang. Ini adalah menyebut tubuhnya berada di atas kapal

2. Naia babana lopiê, makkêdua6 rëppana rikëkkëng, mpali-wali. Naia lampë'na sëppuloi dua rëppana, riwarëkkëng 7, matoi, wali-wali. Narêkko sirëppai, malatopa aie, sakka'na babana, asëratoisa rëppana lampë'na, malatopa aie.

Terjemahan.

Adapun lambung prau, [seharusnya] dua depa dengan kepalan tangan tertutup di kedua sisi dan panjangnya dua belas depa dengan tertutup tinju juga di kedua sisi. Jika lebar lambung sekitar satu depa, maka panjangnya [harus] sekitar sembilan depa.

3. Aja' mupattujuiwi sangkilanna8 pannyambung 9 papëngngë 10, pannyambung ° kalë bisëangngë 2. Aja' mupattujui bango, bango sompung papëngngë, sompung lunasa'ë n, napasuga

Terjemahan.

Jangan letakkan balok kemudi utama pada ekstensi papan [? s] [atau] pada perpanjangan tubuh kapal. Jangan tempatkan tulang rusuk [lambung] pada sambungan di papan, [atau] pada sambungan di lunas, [atau]bahkan pada simpul [di kayu].

4. Narëkko ëngka12 lopi-lopi, aja' muparisaliwëngngi. Parilalen lopiwi, narilalëng kurung, namariawa, silasa narapi'ë 13 uaë. Rëkko dë'lisë'na, tëasa rêkko tënnarapi'i 13 uaë, lopi-lopië.

Terjemahan.

Jika ada perahu kecil, jangan diletakkan di luar. Simpan itu di dalam prau, di dalam palka, di bawah, tempat [lambung kapal] berair harus mencapainya. Jika tidak ada kargo, tetap berhati-hatilah agar tidak ada air yang mencapai perahu kecil.

dst... sd nomor 37

(A BUGIS MANUSCRIPT ABOUT PRAUS by C.C. MACKNIGHT and MUKHLIS).

Sumber asal manuskrip : Arung Ujung (Anggota Ade Pitue, Kerajaan Bone.
FB. an. Abbas Daming

GAMBARA' TENUNAN TRADISIONAL BIRA KABUPATEN BULUKUMBA

Sulawesi Selatan mempunyai beraneka ragam tenunan dan bermacam-macam ragam hias. Hasil karya tenunan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan memiliki pengalaman historis serta penguasaan pengetahuan dan teknologi yang telah tumbuh dan berkembang. Hal ini tercermin benda-benda hasil kebudayaan yang dimiliki untuk mengolah sumber daya alam, yang langsung maupun tidak langsung dibutuhkan dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Proses menenun hingga kini, tidak mengalami perubahan kecuali pada bahan baku dan ragam hias yang berkembang. Jenis tenunan Bugis-Makassar yang dikenal salah satu diantaranya berasal dari Bira Kabupaten Bulukumba yang disebut Gambara', selain itu dikenal pula Sutra Bugis Makassar, Seko Mandi, Rendong lolo, Kain tenun Tator dan Kain tenun Mandar.

Gambara' diartikan sebagai gambar-gambar. Penamaan tersebut disebabkan karena kain tenunan ini memiliki gambar-gambar atau yang dikenal dengan ragam hias/motif. Arti Gambara' tidak hanya terbatas pada gambar-gambar dan tidak hanya bersifat dekoratif saja, tetapi merupakan simbol-simbol yang mengambarkan kehidupan masyarakat Bira. Gambaran kehidupan yang dimaksud erat kaitannya dengan penggunaan kain Gambara' pada peristiwa daur hidup manusia (life cycle), yaitu peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian. Peristiwa ini sangat disakralkan, karena terjadinya berdasarkan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Pemakaian Gambara' pada upacara-upacara tersebut merupakan suatu keharusan yang mengekspresikan suatu penghormatan bagi pelaku-pelaku upacara dan masyarakat yang terlibat. 

Buku GAMBARA' TENUNAN TRADISIONAL BIRA KABUPATEN BULUKUMBA memberikan gambaran tentang peralatan pengolahan bahan kain dan peralatan tenun, pengolahan tenun Gambara', jenis dan kegunaan tenun Gambara' serta ragam hias tenunan.Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar.


GAMBARA' TENUNAN TRADISIONAL BIRA KABUPATEN BULUKUMBA
Penulis: Suriasni, Nurhaedah, Mieke Lobo
Editor: H. St. Aminah Pabittei H
Penerbit: Bagian Proyek Penerbitan dan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1997





March 16, 2021

BOLA SOBA

Bola Soba merupakan bangunan tradisional dengan bentuk rumah panggung gaya Bugis Makassar adalah bekas rumah Panglima Besar Kerajaan Bone (Petta PunggawaE) pada masa pemerintahan Raja Bone XXX La Pawawoi Karaeng Sigeri. Rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1890 dan ditempati oleh Panglima Besar Kerajaan Bone (Petta PunggawaE) yang bernama Baso Pagilingi Abdul Hamid.

Selain sebagai Panglima Besar Kerajaan Bone Baso Pagilingi Abdul Hamid juga adalah putera mahkota Kerajaan Bone. Karena itu sebelum memangku jabatan sebagai Panglima Besar (Petta PunggawaE), maka lebih dahulu telah menjabat beberapa jabatan tinggi dilingkungan kerajaan seperti Arung Lita, Arung Macege, dan terakhir sebagai Petta PunggawaE atau Panglima Besar.

Sebagai Panglima Besar Kerajaan dan putera asli dari Kerajaan Bone bertekad bulat menentang hasrat dan rencana Belanda untuk menguasai Kerajaan Bone. Dihadapan Dewan Hadat Tujuh Panglima Besar (Petta BunggawaE) Bone Baso Pagilingi Abdul Hamid dengan lantang berucap:

"Saya telah bertekat bulat akan bertarung dan akan menghantamnya sebelum ia memasuki Cellu dan kalau saya mati karena itu, memang selalu berniat lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dibawah kekuasaan siputihmata, sehingga kematianku akan memberikan kesan bagi orang-orang kemudian lebih panjang dari usiaku dan akan sepanjang jalan".

Akhirnya Belanda berhasil menguasai Kerajaan Bone, maka rumah atau istana Panglima Besar Kerajaan Bone (Petta PunggawaE) diambilalih oleh pemerintahan Belanda dan dijadikan markas tentara Belanda. Kemudian pada tahun 1912 rumah atau istana Panglima Besar (Petta PunggawaE) yang tadinya dijadikan asrama tentara Belanda, bentuknya diubah dan difungsikan sebagai mess atau penginapan bagi tamu-tamu Belanda. Karena bentuk dan fungsinya sudah lama, maka orang pun memberi nama lain terhadap rumah tersebut dengan julukan Bola Soba yang artinya rumah persahabatan.

Pada masa Pemerintahan Raja Bone XXXI La Mappanyukki pada tahun 1931, Bola Soba pernah menjadi Istana sementara Raja Bone. Ketika pecah revolusi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 oleh kesatuann Gerilya Sulawesi Selatan, Bola Soba dijadikan markas KGSS dan terakhir menjadi asrama TNI pada tahun 1957.

Buku BOLA SOBA menjelaskan sejarah bangunan tradisional  Bola Soba dan sejarah pemiliknya (Panglima Besar Bone) serta arsitektur rumah adat Bugis dengan nama istilah bagian-bagian dari rumah adat tersebut.  Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi Jalan Sultan Alaudddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BOLA SOBA
Penulis: Abdul Muttalib M
Penerbit: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1984

                                                                                                                                                                                                                                                                                              6

SEJARAH DAERAH GOWA


Gowa adalah nama negeri orang Makassar sejak zaman silam. Dalam sejarah kerajaan lokal di daerah Sulawesi Selatan negeri ini dikenal sejak datangnya Tumanurung di abad ke-13. Sejak itu, negeri Gowa menjadi suatu kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja dengan Kasuwiyang Salapanga sebagai anggota hadat, pendamping raja.

Tampuk pemerintahan kerajaan Gowa selalu diwarisi, dari generasi ke generasi, hal mana berlanjut dari Tumanurunga sebagai raja-1 sampai kepada raja yang terakhir, yaitu raja Gowa ke-36.

Pada masa pemerintahan Gowa ke-9 negeri tersebut menjadi meluas wilayah kekuasaannya, kemudian semakin meluas lagi melalui penyiaran agama Islam sejak masa pemerintahan raja Gowa ke-14. Kekuasaan Gowa pada waktu itu tidak hanya meliputi wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara, melainkan melampau berbagai wilayah di luar Sulawesi.

Kejayaan Kerajaan Gowa kemudian mengalami kemunduran dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-16 (Sultan Hasanuddin), terutama karena pengambil alihan kekuasaan oleh pihak Belanda bersama dengan Arung Palakka melalui perjanjian Bungaya.

Sejak penanda tanganan Perjanjian Bungaya tersebut Gowa menjadi perselisihan antara rakyat dengan pihak-pihak bangsa-bangsa asing, terutama Belanda, Inggeris dan Jepang.

Pada tahun 1945 negeri Gowa, sebagaimana halnya setiap negeri di Sulawesi dan Indonesia umumnya lepas dari cengkeraman penjajah asing, namun demikian masih mengalami berbagai perjuangan untuk betul-betul mencapai kebebasan bagi seluruh rakyatnya, sebagai warga negara di bawah pemerintah Republik Indonesia merdeka.

Sekitar tahun 1950, negeri/daerah Gowa menjadi wilayah administrasi dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Setelah melalui sejarah yang sangat panjang, maka kini Gowa tidak lagi dengan status kerajaan seperti sediakala.

Buku SEJARAH DAERAH GOWA membahas tentang zaman pra sejarah sampai kedatangan Tomanurung, zaman kerajaan lokal, zaman kompeni Belanda sampai kemerdekaan. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH DAERAH GOWA
Penulis: Pananrangi Hamid
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional 
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1990


 

KESAMAAN BENTUK SHRINE at IZUMA DENGAN RUMAH ADAT SUKU MAKASSAR

Dalam sejarah tertulis bahwa pergerakan Budha di Indonesia dilakukan oleh Kerajaan Sriwijaya yang ibukotanya berada di Sumatera. Penemuan patung Budha yang terbuat dari perunggu di Celebes dengan gaya atau model Amarawati pada abad III dan IV serta bahan galian peninggalan agama Budha yang hingga sekarang masih sering ditemukan di Gowa, menandakan bahwa kerajaan ini pernah berhubungan dengan kerajaan lainnya pada zaman dahulu.

Selain barang galian peninggalan agama Budha, rumah/bangunan adat suku Makassar juga mempunyai kesamaan bentuk dengan rumah/bangunan adat yang ada di Jepang. Salah satunya adalah Shirine at Izumo. Namun sampai sekarang hal ini masih menjadi tanda tanya dan belum ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tentang sejauh mana hubungan kedua rumah/bangunan adat tersebut.

Dalam sejarah perkembangan rumah adat Makassar dikenal beberapa bentuk rumah adat diantaranya balla' sibatu, balla' akka'nyi, balla' appangka/ulu balla' akkambara serta balla' akkambara. Sedangkan Istana Kembar yang pernah ada di Kerajaan Gowa adalah Istana Maccini' Donggang (1631), Istana Maccini' Sombala (1650), Istana Mangngalle Kana (1684) dan Istana Balla Lompoa yang hingga kini masih berdiri dengan megahnya berdampingan dengan Istana Tamalate di Kota Sungguminasa-Sulawesi Selatan.




MENGENAL ISTANA TAMALATE RUMAH ADAT SUKU MAKASSAR SEBAGAI BUDAYA BANGSA

Sejak awal berdirinya abad XIII (tahun 1300 Masehi), Kerajaan Gowa sudah memiliki dan mengembangkan budaya yang tak ternilai serta mempunyai latar belakang sejarah tersendiri. Secara kronologis Kerajaan Gowa di Celebes mempunyai level periode yang sama dengan beberapa kerajaan tua di pulau Jawa dan Sumatera, seperti Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya serta dukungan kesamaan kepercayaan yaitu Hindu-Budha yang datang dari India melalui Malaya, Sumatera dan Jawa.

Kerajaan Gowa diprakarsai oleh para arsitek dari Kepala Pemerintah Sembilan Kerajaan Kecil bersama seorang Paccalla yang dapat mempertimbangkan segala hasil musyawarah dari ke sembilan Kepala Pemerintahan. Dalam Lontara' Patturioloanga ri Gowa serta diperkuat oleh salah satu tulisan berbahasa Belanda yang tidak diketahui nama penulisnya berjudul "Eenige Historische Stukken Uit den Ra'pang" disebut bahwa kesembilan Kepala Pemerintahan tersebut: "Kasuwiang ri Tombolo', Lakiyung, Samata, Parang-Parang, Data, Agang Je'ne, Bisei, Sero' dan Kalling" inilah yang disebut "Bate Salapang ri Gowa".

Bate Salapanga dan Paccallaya sangatlah sedih lantaran diantara mereka tidaka ada yang bersedia menjadi Kepala Pemerintahan (Raja). Namun kemasygulan hati mereka telah ditolong oleh Dewata dengan kehadiran "Tumanurunga" Putri Ratu Karaeng Bainea yang datang dengan tiba-tiba dan penuh teka-teki. Sejarah tidak pernah bercerita banyak tentang asal-usulnya, hanya dikatakan bahwa Tumanurung turun dari kayangan (langit) bersama Tokenna (kalung emas), Panne Jawana (piring Jawanya) serta rumahnya yang terdiri dari lima petak (bilik) didekat Taipa Jombe-jombea. Setelah berunding maka sepakatlah Bate Salapanga dan Paccallaya untuk mengangkat pemimpin yang dianggap Tumanurunga itu sebagai Raja (Somba) pertama di Gowa.

Setelah Gowa resmi menjadi sebuah kerajaan dan telah mempunyai Raja atau Somba, maka Paccallaya bersama Bate Salapanga (Kasuwiang Salapanga) membangun sebuah istana yang terdiri dari sembilan petak di Taka' Bassia untuk Tumanurunga Putri Ratu Karaeng Bainea Somba ri Gowa. Istana itu diberi nama "Tamalate" (tidak layu) karena daun-daun dari kayu katangka yang dijadikan tiang istana belum layu sewaktu istana tersebut selesai dibangun dan ditempati.

Istana Tamalate merupakan singgasana Tumanurunga yang dipersunting oleh Karaeng Bayo atas dukungan Paccallaya dan Bate Salapanga sebagai alternatif daripada kelangsungan turunan raja-raja dan para bangsawan serta masyarakat Gowa yang sampai saat ini tersurat dalam naskah Lontara' Patturioloanga ri Gowa dan naskah yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Inggris yang telah berhasil ditranskripsi.

Lokasi atau tempat Istana Tamalate yang kini tinggal kenangan sejarah berada disekitar makam raja-raja Gowa seperti Raja Gowa XV I Mannuntungi Daeng Mattola yang bergelar Sultan Malikussaid dan Putra Mahkotanya I Mallombasi Daeng Mattawang yang kita kenal bergelar Sultan Hasanuddin Raja Gowa XVI dan lain-lainnya. Tempat itu pula diberi nama "Bukit Tamalate". Setelah Sultan Hasanuddin memperoleh penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, maka kompleks makam raja-raja tersebut dinyatakan sebagai Kompleks Makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin.

Untuk pengembangan dan pelestarian sejarah serta budaya para leluhur dimasa silam, maka Pemda Tingkat II Gowa membangun duplikasi dan mengabadikan nama Istana Tamalate sebagai bukti dari kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya kepada generasi mendatang. Istana Tamalate yang kini berdiri dengan megahnya berdampingan dengan Museum Balla Lompoa di Kota Sungguminasa. 

Buku MENGENAL ISTANA TAMALATE RUMAH ADAT SUKU MAKASSAR SEBAGAI BUDAYA BANGSA membahas tentang konsep dasar pembangunan Istana Tamalate, luas dan ciri-ciri serta waktu pelaksanaan bangunan Istana Tamala, beberapa persamaan dan perbedaan Istana Balla Lompoa dan Istana Tamalate, ciri-ciri rumah adat Makassar, serta penertiban dan pengawasan bangunan rakyat. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


MENGENAL ISTANA TAMALATE RUMAH ADAT 
SUKU MAKASSAR SEBAGAI BUDAYA BANGSA 
Penyusun: Muh. Yusuf Pole, Abd. Chalik Mone, H. Hannabi Rizal
Editor: Abd. Samad Chalik
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 1998



March 15, 2021

JENIS DAN CIRI-CIRI PENYAKIT SERTA PENGOBATAN MASYARAKAT SULAWESI SELATAN



Konsepsi pengetahuan budaya masyarakat yang bersangkut paut dengan sistem pengobatan tradisional umumnya dihafalkan dan tersimpan dalam ingatan para tokoh dan pengobat penyembuhan tradisional. Namun setelah dikenalnya tradisi tulis menulis maka sebahagian pengetahuan budaya tentang jenis-jenis penyakit dan cara penyembuhannyapun sudah dicatatkan dalam naskah-naskah kuno yang disebut lontarak.

Lasa Watakkale atau penyakit badan merupakan salah satu jenis penyakit fisik, suatu gangguan kesehatan pada sosok tubuh manusia. Jenis-jenis penyakit watakkale adalah:
  1. Lasa Barabba (penyakit tumor)
  2. Lase Battukaje
  3. Lasa Bikung
  4. Lasa Bere-bere
  5. Lasa Baro
  6. Lasa Borok Lasek
  7. Lasa Celleang
  8. Lasa Cika
  9. Lasa Collong Pello (ambeien)
  10. Lasa Ekke (penyakit menggigil)
  11. Lasa Panong (sakit panu)
  12. Lasa Peddik Alekkek (sakit punggung)
  13. Lasa Peddi Babua (sakit perut)
  14. Lasa Peddi Mata (sakit mata)
  15. Lasa Peddi Massalawu (sakit mata rabun)
  16. Lasa Pella Rilaleng (sakit panas dalam)
  17. Lasa Pesok (lumpuh)
  18. Lasa Polo
  19. Lasa Puru (cacar)
  20. Lasa Ore (Batuk)
  21. Lasa Semmeng (demam)
  22. Lasa Semmeng Lasaulu (deman kepala)
  23. Lasa Tai-tai
  24. Lasa Tai Mamenjjeng (berak kejang)
  25. Lasa Talluwa Dara (sakit muntah darah)
  26. Lasa Tenre-tenre (gemetar)
  27. Lasa To-Kumping
  28. Lasa To Mawekko
  29. Lasa To-Mangilu (ngilu)
  30. Lasa To-Mateale (sejenis lumpuh)
Buku JENIS DAN CIRI-CIRI PENYAKIT SERTA PENGOBATAN MASYARAKAT SULAWESI SELATAN membahas tentang ciri-ciri dan pengobatan 30 macam lasa watakkale (penyakit badan). Buku ini merupakan koleksi layanan deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


JENIS DAN CIRI-CIRI PENYAKIT SERTA PENGOBATAN MASYARAKAT 
SULAWESI SELATAN
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara Makassar
Tempat Terbit: Makassar


March 9, 2021

KEKUATAN GAIB SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN


Menurut pandangan orang Bugis, setiap jenis senjata tradisional didalamnya mempunyai kekuatan sakti. Kekuatan sakti ini dapat mempengaruhi kondisi, keadaan dan proses kehidupan pemiliknya. Pandangan masyarakat Bugis mempercayai bahwa jenis senjata tertentu akan mengakibatkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran bagi pemiliknya. Merekapun percaya akan adanya jenis senjata tertentu yang menimbulkan kemelaratan, kemiskinan, duka nestapa dan penderitaan bagi siapapun yang memiliki dan menyimpannya, sehingga timbul konsepsi budaya orang Bugis yang menyangkut kepercayaan akan adanya jenis senjata yang dianggap ideal disamping senjata yang membawa naas.

Kategori senjata yang ideal dan naas atau sial itu dapat dikenal melalui tanda-tanda fisik (motive/pamor) yang mencerminkan dalam senjata alameng, keris dan badik. Buku KEKUATAN GAIB SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN membahas 24 jenis alameng yang dianggap yang dianggap ideal dan yang tidak ideal di daerah Bugis. 

Sebagaimana halnya alameng, maka keris bagi orang Bugis dipandang sebagai senjata yang dipercayai mempunyai kekuatan sakti yang dapat membawa kemaslahatan disamping bencana. Jenis-jenis tappi' (keris) yang mempunyai sifat baik ada 46 jenis. Sedangkan kawali (badik) yang mempunyai fungsi religius ada 15 jenis.

Buku ini menjelaskan tentang senjata tradisional bagi orang Bugis bukan hanya semata-mata berfungsi sebagai alat perang ataupun alat berburu dan membela diri saja, akan tetapi juga mempunyai fungsi sosial-religius. Fungsi-fungsi senjata dalam konteks sosial religius dalam kehidupan orang Bugis telah terpatri dalam naskah kuno lontarak. Buku ini salah satu layanan koleksi deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KEKUATAN GAIB SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT 
SULAWESI SELATAN
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara Makassar
Tempat Terbit: Makassar


SASTRA BUGIS (PANTUN)


Orang Bugis-Makassar yang selalu berkecimpung dengan air dan laut, maka sifat-sifat dinamis dari gelombang yang selalu bergerak dan tidak mau tenang itu, mempengaruhi juga jiwa dan pikirannya.

Timbulnya pepatah, syair dan pantun yang mempunyai hubungan dengan keadaan lau dan pelayaran diantaranya terpancar pada watak atau sifat suku bangsa Bugis-Makassar.

Berikut pantun Makassar

Takkunjungaq, bangun turu
Nakugunciri gulingku
Kualleangna
Tallangna natoalia

Artinya 

Saya tidak begitu saja mengikuti arah angin
Tidak begitu saja memutar kemudi saya
Saya lebih suka 
Tenggelam dari pada kembali

Merupakan salah satu syair (pantun) yang disadur secara bebas dalam puisi Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kalau layar sudah terbentang
Kalau kemudi sudah terpasang
Dalam mengharung samudera lepas
Meski dihembus ombak dan gelombang
Meski diserang badai dan topan
Biarkan itu kemudi patah
Biarkan layar itu robek
Lebih baik tenggelam
Berpantang membalik haluan pulang

Artinya

Pantun diatas menjelaskan sifat-sifat yang berpantang surut dalam mencapai sesuatu tujuan dari suku Bugis-Makassar. Mereka tidak akan berhenti melaksanakan pekerjaannya sebelum cita-citanya tercapai. Disini tampak jelas betapa besarnya etos kerja suku Bugis-Makassar.

Buku SASTRA BUGIS (PANTUN) berisikan pantung, pateppung, atteppu teppung, patteppung, weluwak, sokko bampa, bosi, bunga mawarak tappallak-pallak dan pantun Bugis yang banyak mempergunakan gaya bahasa, sanjak-sanjak bandingan, perumpamaan, metafora, personafikasi, sindiran dan lain-lain. 

Pantun merupakan salah satu jenis puisi Bugis yang berasal dari kampung bernama Bakkek di daerah Soppeng. Kata-kata yang dipergunakan menyusun puisi ini diberi nama "Bahasa to Bakkek". Pantun ini mula-mula berkembang diistana raja. Diciptakan oleh putra Raja Bakkek yang diberi gelar "Datu Bakkek", yang mempergunakan gaya bahasa, sanjak-sanjak bandingan, perumpamaan, metafora, personafikasi, sindiran dan lain-lain. Buku ini merupakan salah satu koleksi deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alaudddin km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SASTRA BUGIS (PANTUN)
Penyusun: Tim Aksara
Editor: Nonci
Penerbit: CV. AKSARA
Tempat Terbit: Makassar

March 8, 2021

CERITA RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN


Folkloor sebagai bagian tertentu dari masalah dan pengetahuan, kebudayaan meliputi: cerita rakyat, dongeng/fabel, permainan rakyat dan sastra rakyat yang isinya merupakan ungkapan, perbandingan, simbol/perlambang dan kiasan-kiasan yang mengandung arti dan nilai edukatif, religius, etis, moral dan lain-lain. Kesemuanya itu menggambarkan jiwa dan kepribadian serta pertumbuhan kebudayaan bangsa.

Buku CERITA RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN merupakan hasil perekaman dan pencatatan dari beberapa cerita rakyat diantaranya:

  1. Bungawallu dan Patirambanan, dituturkan kembali oleh Mahyuddin Notta
  2. Tobarani di Rompu, dituturkan kembali oleh Abd. Kadir M
  3. Lawerocco To Barani (Lawerocco Orang Berani), dituturkan kembali oleh B. Sibentang
  4. Bulu Pole, dituturkan kembali oleh Djumadi Syamsuddin
  5. Lamase-mase, dituturkan kembali oleh Thamrin Maja RA
  6. Batu Rappen (Batu Mebali), dituturkan kembali oleh Hairuddin
  7. Bulu Pala (Tapak Tangan Yang Berbulu), dituturkan kembali oleh Hairuddin
  8. Maruddani dan Malimongan Dalam Cerita Tak Sampai, dituturkan kembali oleh Simon Pakolo
  9. Wao Bulu, dituturkan kembali oleh M. Djunaid, BA
  10. I Tamba' Laulung Dikampung Tanrani Desa Sengka Kecamatan Bontonompo, dituturkan kembali oleh Kumi Sila
  11. Cindea sebagai alat Kebesaran Kare Pattsalassang, dituturkan kembali oleh Djohan Budiman S.

Buku ini merupakan koleksi layanan deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


CERITA RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN
Editor: L.T Tangdilintin, Muh. Yamin Data, Gunawan Yasid Anta
Penerbit: Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1982

UPACARA MAPPALILI SEBAGAI AWAL BEKERJA DI SAWAH

Upacara tradisional Mappalili yang lazim dilaksanakan di daerah Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Kabupaten Pangkajene Kepulauan oleh masyarakat merupakan salah satu adat masyarakat yang dilakukan setiap tahun, apabila mereka akan ke sawah.


Kata Mappalili mempunyai arti berkeliling. Menurut adat upacara mappalili perlu dilakukan masyarakat setiap akan turun ke sawah. Jadi pengertian mappalili adalah satu adat yang dilakukan oleh masyarakat di Sigeri dengan membawa arajang berkeliling kampung sampai ke sawah yang akan dibajak. Untuk membawa arajang perlu dilakukan suatu upacara, maka upacara disebut juga mappalili. Masyarakat Sigeri percaya bahwa tanpa upacara mappalili, maka segala yang akan diharapkan tidak akan tercapai. Berikut tahap-tahap upacara mappalili:
  • Matteddu’ Arajang (Membangunkan Arajang)
  • Mappalesso Arajang (Memindahkan Arajang)
  • Malekke Wae (Mengambil Air)
  • Mallekke Laulalle (Mengambil Laulalle)
  • Ma’dewata (Menyambut Kedatangan Dewa)
  • Ma’ bissu
  • Ma’giri
  • Mattena Sanro (Menjemput Dukun)
  • Ma’ balu Ota (Menjual Sirih)
  • Palili
Salah satu acara dalam matteddu arajang adalah maddewata. Dengan adanya acara ini, jelaslah bahwa upacara mappalili merupakan upacara pemujaan pada dewata sebagai tanda terima kasih atas pemberian berupa sebuah rakkala (bajak). Rakkala inilah yang kemudian memegang peranan dalam upacara mappalili yang selanjutnya dijadikan arajang. Selain itu juga merupakan untuk meminta harapan semoga padi dan seluruh tanaman yang ditanam pada tahun ini dapat berhasil dan jauh dari serangan hama. Mereka percaya bahwa rakkala yang mereka pakai sebagai alat membajak merupakan rakkala itu diangkat sebagai arajang. Disamping itu asal kedatangan rakkala tidak sama dengan rakalla yang lain hanya dibuat oleh manusia.

Buku UPACARA MAPPALILI SEBAGAI AWAL BEKERJA DI SAWAH membahas tentang upacara tradisional yang biasanya dilakukan pada waktu akan turun ke sawah mulai dari tahap-tahap upacara; waktu penyelenggara; tempat penyelenggara; teknis penyelenggara upacara; peserta upacara; penyelenggaraan upacara; jalannya upacara; pantangan-pantangan yang harus dihindari serta lambang-lambang atau makna yang terkandung dalam upacara mappalili. Buku ini merupakan koleksi layanan deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi dalam Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.
 

UPACARA MAPPALILI SEBAGAI AWAL BEKERJA DI SAWAH
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar


March 2, 2021

TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN LONTARA ATTORIOLONG

 


Lontarak adalah suatu karya sastra orang Bugis yang sudah memasyarakat ditengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Lontarak mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dan diperhatikan.

Transliterasi Lontarak Attoriolong adalah transliterasi dari lontarak yang berbahasa Bugis dengan huruf lontarak kehuruf latin. Bahasa Bugis dalam lontarak atau surek-surek itu adalah bahasa lama yang tidak menyerupai bahasa sehari-hari, maka timbullah beberapa masalah kebahasaan dalam perlambang bunyi dan pemisahan kata.

Transliterasi dimulai dengan memahami tulisan, karena tulisan lontarak tua biasa tidak jelas batas kata-katanya. Kemudian menulis ulang sambil memperbaiki kemungkinan letak spasinya. Ada kalanya tulisannya dianggap salah tulis, kekurangan dan kelebihan huruf. Oleh karena itu transliterasi harus saling sesuai bunyi tulisan aslinya disamping harus dibenarkan yang salah, ditambah yang kurang dan ditandai yang berlebih.

Buku TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN LONTARA ATTORIOLONG bersumber dari naskah tua koleksi Kantor Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional Kanwil Depdikbud Provinsi Sulawesi Selatan, yang berisikan tentang:
  • Hadat Timurung pergi ke Pammana
  • Peperangan antara Wajo dengan Sakkolik
  • Peperangan antara Wajo dengan Gilireng
  • Peperangan antara Wajo dengan Macanang, Palippu serta Lipuang
  • Perjanjian Arung Matowa dengan Luwu
  • Perselisihan Luwu dengan Sidenreng
  • Perang antara Luwu dengan Bone
  • Peneki minta seorang raja di Wajo
  • Bone didampingi Gowa menyerang Bone dan Soppeng
  • Perjanjian Tellumpoccoe, Bone anak sulung, Wajo anak tengah dan Soppeng yang bungsu
  • Adat kebiasaan dan adat ketetapan Wajo
  • Bone, Soppeng dan Wajo berikrar bersama
  • Kalau bicara baik, dua puluh macam kebaikan memasuki negeri
  • Permulaan membuka tanah di Kanyuarsa Sidenreng
  • Keturunan-keturunan Raja-Raja Pammana
  • Attoriolong di Bone
  • Harta warisan di Pammana
  • Pesan-pesan Loppoolu dengan To Addinae
  • Pesan-pesan To taba
  • Penyakit dan hama penyakit serta penyebabnya
  • Lima macam peraturan pinjam-meminjam yang dinamakan: bagi laba, utang terputus, samatula, piso tareng dan peloloang.
  • Pesan mengenai ketertiban
  • Pesan nenek Allomo kepada Addatuang Sidenreng
  • Perkebunan di Lapallawa, kebun Daeng Marakka di Tonrong Bellek
  • Pappasenna Datok Bandang, matinroe ri Nagauleng dan Arung Penra
  • Attoriolong di Pammana
  • Attoriolong di Mampu
  • Pusaran dan keadaan kayu yang baik dan tidak baik dijadikan bangunan atau perahu
  • Keadaan tanah perumahan yang baik dan tidak baik
  • Keadaan, tanda-tanda, perlengkapan dan pusaran kayu perahu yang baik dan tidak baik
  • Bermacam-macam penyakit serta obatnya
  • Pesan-pesan Puang ri Maggalatung
  • Susunan Arung Matowa di Wajo
Buku ini merupakan koleksi layanan deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi dalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar untuk melestariakan salah satu nilai budaya yang sudah hampir puna serta untuk memasyarakatkan kembali lontarak bagi masyarakat Bugis dan memperkenalkan kepada masyarakat luar.


TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN LONTARA ATTORIOLONG
Penulis: Muhammad Salim, Mappasere, Muhammad Ali Sakka, Nur Asia Rachman
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1996

SEKITAR NILAI-NILAI DEMOKRASI PADA EMPAT ETNIS DI SULAWESI SELATAN

 


Demokrasi asli dalam penyelenggaraan pemerintahan di Sulawesi Selatan terdapat empat suku bangsa. Beberapa ahli pada zaman kolonial berpendapat bahwa demokrasi asli di Sulawesi Selatan utamanya pada masa kerjaan, sejak abad ke-17 bukan tidak ada samanya di Asia Tenggara.

Seperti hanya orang Wajo mengatakan “Maradeka to Wajo-E, Ade’nami Napopuang”, artinya semua orang Wajo merdeka sebab hanya adat yang dipertuan. Bukan individu yang dipertuan tapi adat. Di Sulawesi Selatan, berakar kedaulatan rakyat yang asli . Bukan kedaulatan negara atau bukan kedaulatan penguasa atau kedaulatan hukum tapi kedaulatan rakyat.
Di dalam pemerintahan, rakyat juga memahami yang dikatakan:

Rusa’ taro Arung tenrusa’ taro Ade’
Rusa’ taro Ade’ tenrusa’ taro Anang
Rusa’ taro Anang tenrusa’ taro Tomaega

Artinya:

Batal pendapar raja tidak batal pendapat adat
Batal pendapat adat tidak batal pendapat penghulu adat
Batal pendapat penghulu adat tidak batal pendapat orang banyak.

Inilah demokrasi. Demokrasi kerakyatan. Bagi seorang pemimpin keterbukaan yang diutamakan. Sepertihanya di Bone, ada yang disebut “obbi” Obbi itu pengundangan, berarti segala sesuatu yang dibuat oleh pemerintahan harus diangngobbireng, diobbireng, artinya diundangkan atau diumumkan yang bermakna keterbukaan.
 
Buku SEKITAR NILAI-NILAI DEMOKRASI PADA EMPAT ETNIS DI SULAWESI SELATAN merupakan penelitian mengenai Nilai-Nilai Demokrasi pada 4 (empat) etnis di Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja) melalui Program Revitalisasi Budaya dalam upaya menciptakan komunitas budaya yang punya kesadaran kritis terhadap paradigma yang datang dari luar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar.

 
SEKITAR NILAI-NILAI DEMOKRASI PADA EMPAT ETNIS DI SULAWESI SELATAN 
Penulis: Andi Amriady Alie
Penerbit: FIK-LSM Sulawesi Selatan dan YAPPIKA
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 1999
 

March 1, 2021

SERI ULUADA (BEBERAPA PERJANJIAN YANG PERNAH DIIKRARKAN)

 


Istilah “uluada” secara etimologis terdiri dari dua dua kata yaitu “ulu” dan “ada”. Kata “ulu” sendiri berarti utama, terkemuka, penting tak dapat diabaikan; sedangkan kata “ada” berarti kata, ucapan. Jadi uluada dapat diartikan bahwa: “kata atau ucapan yang dikeluarkan itu merupakan pernyataan yang penting dan mengandung arti yang sangat hakiki serta mempunyai unsur mengikat, bila dilanggar akan mengakaibatkan malapetaka bagi siapa yang melanggarnya”.

Dengan demikian dapat difahami, bahwa uluada itu tidak sembarang waktu dapat dilakukan, dan tidak pula semua persoalan yang timbul harus diawali atau diakhiri dengan “uluada”. Begitu diyakininya oleh semua pihak yang mengadakan “uluada” itu, sehingga setiap “uluada” yang telah diikrakan bersama itu, sungguh-sungguh dipatuhi dan ditaati bersama tanpa keraguan. Uluada yang pertama terjadi seperti Calon raja/pemimpin yang lazim disebut Tumanurung (Bugis) atau Tumanurunga  (Makassar) di satu pihak dengan rakyat yang akan dipimpinnya di lain pihak.

Berbagai macam “Uluada/Ulukana” yang pernah dibuat orang tua-tua terdahulu. Dalam uluada itu ditegaskan beberapa butir janji dan sumpah yang mengandung arti  “pengikatan” yang harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat dalam uluada itu. Bahkan merupakan janji yang perlu dipegang teguh secara turun-temurun sampai keanak cucu dari yang bersangkutan.

Begitu “dikeramatkan” uluada itu, sehingga sulit sekali dilanggar. Bila sampai terjadi pelanggaran oleh karena suatu perbedaan pandangan, maka biasanya setalah mereka bertengkar (berperang), lalu mengadakan gencatan senjata maka kedua belah pihak bersepakat kembali berpegang pada uluada yang pernah ada (dibuat) di antara mereka dengan “menyuarakan” kembali kata demi kata yang tercantum dalam uluada itu. Dengan demikian kedua belah pihak kembali lagi hidup berdampingan, berdiri sama tegak atas dasar kehormatan masing-masing yang mendapat perlakuan menurut adat yang berlaku dari kedua pihak.

Buku  SERI ULUADA (BEBERAPA PERJANJIAN YANG PERNAH DIIKRARKAN berisikan uluada antar negeri/kerajaan dianataranya:

  1. Ulukana Karaeng Bayo dan Tumanurunga di satu pihak dengan Kasuwiyang Salapanga di lain pihak
  2. Akkaluadanganna Tomanurung ri Matajang dengan rakyat Bone
  3. Ulukanaya (UluadaE) ri Tamalate antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bone
  4. Polo MaleleE ri Unnyi (Uluada antara Bone dan Luwu)
  5. Uluada antara Bone dan Mampu “RI TELLIKNA MAMPU RI BONE”
  6. ULUKANAYA RI CALEPPA antara Gowa dengan perantaraan Raja Tallo dengan Bone
  7. ULUADA RI ATTAPANG-E “PINCARA LOPIE RI ATTAPANGE” antara To Bala dengan Arung Bila
  8. ULUADAE RI CINNOTABI
  9. AKKULUADANGENNA BATARA WAJO I LA TENRIBALI dengan Paddanreng
  10. ULUADAE RI LAPADDEPPA antara Paddanreng dengan Arung Battempola.
  11. AKKULUADANGENNA LUWO-WAJO
  12. AKKULUADANGENNA BONE-WAJO DAN SOPPENG dalam lontara disebut LAMUMPATUA RI TIMURUNG
  13. CAPPAE RI LANRISENG, satu uluada antara Bone-Soppeng dan Mandar
  14. AKKUADANGENNA BONE-GOWA dengan TORAJA di Morotebbu

Buku SERI ULUADA (BEBERAPA PERJANJIAN YANG PERNAH DIIKRARKAN) merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar


SERI ULUADA (BEBERAPA PERJANJIAN YANG PERNAH DIIKRARKAN)

Penyusun: A.A. Punagi

Penerbit: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan

Tempat Terbit: Ujung Pandang

Tahun Terbit: 1983