Perjuangan Haji Andi Sultan Daeng Raja menentang kehadiran alat-alat pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan telah dilakukan sejak beliau masih menjadi siswa pada Opleiding School Voor Indlandsche Ambtenar (OSVIA) di Makassar.
Buku HAJI ANDI SULTAN DAENG RAJA: KARAENG GANTARANG BULUKUMBA membahas tentang riwayat perjuangan Haji Andi Sultan Daeng Raja sebelum proklamasi, sesudah proklamasi, ditangkap dan diasingkan, kembali dari pengasingan dan akhir hayatnya.
Haji Andi Sultan Daeng Raja ikut andil terhadap pelaksanaan peristiwa kemerdekaan, dengan hadirnya beliau sebagai anggota panitia persiapan kemerdekaan menjelang momentum bersejarah tersebut mewakili rakyat Sulawesi.
Beliau pernah ditangkat oleh sekutu (Australia) karena dianggap mampu menghambat kembalinya penjajah Belanda di Indonesia sehingga ia disingkirkan dari tengah-tengah masyarakatnya. Nilai perjuangannya bukan saja bernilai daerah tapi sudah taraf nasional dengan duduknya sebagai anggota konstituante, dan hadirnya pada detik-detik proklamasi serta kongres pemuda 28 Oktober 1928.
Untuk kita semua, beliau berpesan lewat puteranya Andi Sappewali dan Kolonel M. Yusuf antara lain:
- Pelihara kejujuran
- Lindungi orang-oraang yang tertindis
- Tidak usah mekamkan saya pada Makam Pahlawan
- Tanda jasa pahlawan dari Presiden R.I Tahun 1958 yang ditanda tangani oleh Sukarno.
- Piagam tanda kehormatan dari presiden dalam kedudukannya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI tahun 1962 yang ditanda tangani oleh Menteri pertama Juanda
- Piagam tanda kehormatan dari presiden dalam kedudukannya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI tahun 1964 yang ditanda tangani oleh Dr. J. Leimena selaku menteri pertama II.
KARAENG GANTARANG BULUKUMBA
Penyusun: M. Basri Padulungi
Penerbit: Pemerintah Daerah TK. 1 Provinsi Sulawesi
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1981
.jpeg)
