Penentangan kehadiran Belanda di Sulawesi Selatan menimbulkan peristiwa demi peristiwa yang melahirkan tokoh-tokoh pejuang yang tidak kenal menyerah antara lain, Haji Andi Sultan Daeng Raja.
Haji Andi Sultan Daeng Raja bukan saja tampil sebagai penentang hadirnya kembali Belanda di Sulawesi Selatan, tapi juga termasuk salah seorang pencetus ikrar yang merupakan perjanjian luhur bangsa Indonesia yaitu proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta bersama-sama dengan utusan bangsa Indonesia diseluruh wilayah Indonesia lainnya.
Bahkan bukan saja beliau memulai perjuangannya pada peristiwa 17 Agustus 1945 tapi jauh sebelumnya beliau (Haji Andi Sultan Daeng Raja) semasa diadakan Kongres Pemuda pertama 28 Oktober beliau turut hadir.
Haji Andi Sultan Daeng Raja dilahirkan pada tahun 1894 di Gantarang Bulukumba dalam kalangan keluarga yang sementara berkuasa masa itu. Masa kecil beliau ditempuh dengan segala suka-dukanya. Beliau dikenal termasuk anak yang patuh pada orang tua, serta mempunyai tabiat yang pendiam. Dikalangan teman-teman seangkatannya beliau dikenal sebagai anak yang keras pendirian serta senang pada pelajaran.
Pendidikan dasarnya dimulai dengan sekolah Bumiputra kelas dua atau sekolah Gubernement kelas dua. Setammat pada sekolah Bumiputra di Bulukumba beliau masuk sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda yang tinggal di Bulukumba yaitu "Eropesche Lagere Scholl type B", yaitu sekolah dimana bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda.
Setammat beliau dari E.L.S. di Bulukumba pada tahun 1907 beliau melanjutkan pendidikannya pada OSVIA yaitu sekolah lanjutan tingkat atas jaman penjajahan Belanda yang menerima murid khusus dari anak-anak kalangan bangsawan untuk dipersiapkan menduduki jabatan-jabatan negeri masa itu seperti Ajun Jaksa, lambau (pegawai pertanian) calon pamong praja dan sebagainya.
Sewaktu beliau berhasil menamatkan pendidikannya pada OSVIA di Ujung Pandang tahun 1914 dengan hasil memuaskan, selanjutnya beliau di benum (diangkat) menjadi pegawai di Ujung Pandang. Karier kepegawaian beliau dimasa penjajahan dijadikan sebagai alat penunjang cita-cita perjuangan yang ingin melenyatkan bangsa penjajah.
Beliau pernah ditangkap oleh sekutu (Australia) yang membuktikan dirinya sebagai salah satu tokoh perjuangan Sulawesi yang dianggap mampu menghambat kembalinya penjajahan Belanda di Indonesia sehingga ia disingkirkan dari tengah-tengah masyarakatnya.
Pada tanggal 17 Mei 1963 (hari Jum'at) usia 70 tahun, beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Pelamonia, setelah sakit beberapa lama, dan dimakamkan dibelakang Mesjid Raya Ponre, sesuai amanah beliau berdampingan dengan ayahandanya, walupun sebenarnya beliau berhak untuk dimakamkan pada Makam Pahlawan Bulukumba.
Dalam rangka mengabadikan nama beliau sebagai tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan, maka oleh panitia pemberi nama jalan pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bulukumba menetapkan jalan arteri (protokol) yang kebetulan membentang didepan rumah beliau dengan nama jalan Haji Andi Sultan Daeng Raja.
Buku BIOGRAFI PAHLAWAN HAJI ANDI SULTAN DAENG RAJA sebagai pejuang yang menentang Belanda sejak masih menjadi pegawai pemerintah Belanda di jaman kolonial. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penulis: M. Basri Padulungi
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1981

No comments:
Post a Comment