March 17, 2021

PESAN SAKRAL TARI PAKARENA

Bagi orang-orang Bulutana di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan, Pakarena adalah tarian sakral.

Peneliti budaya Sulawesi Selatan, Shaifuddin Bahrun, mengungkapkan bahwa tarian agung ini mengajarkan keluhuran budi pekerti, orang menarikannya harus dengan segenap jiwa.

Menurut Shaifuddin, gerak gemulai para penari mencerminkan gerak gerik para wanita yang harus senantiasa lemah lembut serta menjaga sikap dan tutur kata. Karena itu, saat menari para penari Pakarena tak pernah mengangkat pandangannya. Pandangan mata mereka hanya diperkenankan sejauh sejengkal dari mata kaki,hal ini berbeda jika tarian dibawakan oleh penari modern, yang tak pernah menunduk, melainkan tersenyum kearah penonton, hal ini disebabkan oleh penari yang hanya diajarkan gerak tubuh, adapun nilai-nilai budayanya tidak diajarkan sama sekali, "yang terjadi, tarian ini seperti kehilangan ruhnya."

Tarian Pakarena memperoleh tempat istimewa di Kerajaan Gowa dimasa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Ibunda Sultan melestarikan tarian ini dan diambil alih oleh Permaisuri setelah ia wafat. Tarian ini juga disebut sebagai tari persembahan kepada raja, karena itu tarian yang dipentaskan dihadapan raja tentu para penari tidak sopan kalau tersenyum kepada raja sambil menari.

Nilai-nilai sakral dalam Pakarena ini masih dijaga kuat oleh masyarakat Bulutana, Malino, Gowa, salah seorang Penari Pakarena dari Bulutana yaitu Mak Cidda pada tahun 2011 silam telah dinobatkan sebagai Maestro Tari Pakarena Sulawesi Selatan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

(Tempo edisi 13-12-2012, Mak Cida-Maestro Tari Pakarena, KITLV)


Sumber asal manuskrip : Arung Ujung (Anggota Ade Pitue, Kerajaan Bone.
FB. an. Abbas Daming. Group Pecinta Sejarah Sulawesi Selatan



No comments:

Post a Comment