April 26, 2022

A. A. BARAMULI YANG KUKENAL

Apalah hidup ini, makan saja bisa sepiring, mati pun tak membawa apa-apa, hanya meninggalkan nama. Manusia harus memberi dan memberi (Dr. A.A. Baramuli, SH).

A. A. Baramuli di usia 27 tahun, diangkat sebagai anggota Dewar Nasional. Sekitar tahun 1957, Presiden Soekarno sedang gigih mengenalkan konsep politiknya dalam istilah demokrasi terpimpin. Maka, demokrasi parlemen harus berakhir di Indonesia setelah Bung Karno membentuk dan kemudian memimpin sendiri Kabinet Karya dan Dewan Nasional yang semua menteri serta anggotanya, dia tunjuk secara langsung.

Tiga tahun sesudah itu, AA Baramuli biasa dipanggil dalam nama kesayangan Naldi, dikirim Bung Karno ke Manado sebagai Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah. Wilayah kerjanya meliputi Kepulauan Sangihe di Utara sampai Danau Poso di Selatan yang sekarang ini pecah menjadi tiga provinsi.

Sejak muda Naldi memang pemberani. Tanggal 1 Maret 1957 ketika Panglima TT IV Kolonel Ventje Sumual di Makassar memproklamirkan Permesta. Naldi, Kepala Kejaksaan Tinggi sekaligus Jaksa Tinggi Militer dengan pangkat Letkol untuk wilayah Indonesia Timur, meloloskan diri ke Jakarta, naik sampan lewat Pare-pare.

Permesta kemudian bergabung dengan PRRI. Namun, para pemberontak dukungan AS lupa. " Saya pernah dikirim ke Inggris bersama Oemar Senoadji, mengikuti pendidikan intelejen sehingga untuk mengecoh pemberontak soal sepele," kata Naldi mengisahkan pengalamannya melawan PRRI/Permesta.

Jejak perjalanan yang panjang dengan beragam pengalaman dalam politik, bisnis, kegiatan kemasyarakatan dan aktivitas sudah jalani. Tampil menjadi sanjungan masyarakat ketika Naldi sendiri membongkar skandal kredit macet di Bapindo yang dikenal sebagai kasus Eddy Tanzil. Sebaliknya, kecaman dan hujatan juga pernah menimpa dirinya akibat dugaan keterlibatan (yang tak pernah bisa dibuktikan di pengadilan) dalam kemelut Bank Bali menyangkut sejumlah nama oknum Golkar.

Sebagai anggota Komnas HAM, Naldi menyeledupkan korban penculikan,Pius Lustrilanang, lolos keluar negeri sehingga Pius bisa beraksi di dunia internasional mengenai buruknya rezim orde baru kepada rakyatnya sendiri.

Buku A. A. BARAMULI YANG KUKENAL berisikan kumpulan bahan-bahan yang berkaitan dengan beliau untuk mengenang jasa-jasanya selama hidupnya. Bermula dari sambutan Bupati Pinrang (Drs. H. A. Nawir Pasinringi, M.Si), sambutan H. Emir Baramuli, M.B.A., dan prolog Teguh Memegang Prinsip Drs. H.M. Jusuf Kalla (Wakil Presiden R.I), Komitmennya yang Tinggi bagi TI Prof. Dr. B.J. Habibie (Mantan Presdien R.I), hingga berbagai kenangan diantaranya dari berbagai tokoh yang mengenang beliau sebagai Tokoh nasional yang dicintai semua orang, Tak kenal putus asa, Tokoh kontroversial, Jalan pemikirannya Three In One, Membela kepentingan KTI, Tokoh masyarakat Sulsel, Sangat teguh memegang prinsip, Teguh memegang komitmen, Politisi kawakan yang humoris, Pembakar semangat anak muda, sangat cinta tenis, Pandai berkawan, Suka membantu, Memperhatikan sektor pendidikan daerah, Tokoh Indonesia Timur, Konsisten ucapan dan tindakan, Memperjuangkan kaum wanita, Bangsa Indonesia kehilangan tokohnya, Menjadi teladan masyarakat, Memimpin gerakan mahasiswa Djakarta, Berani mengatakan yang hak dan batil, Keras namun tak pendendam dan Masyarakat berduka.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


A. A. BARAMULI YANG KUKENAL
Penulis: Bachtiar Adnan Kusum, -(et al)
Penerbit: Yapensi
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 978-979-3274-3274-34-8



I MAKKULAU DAENG SERANG KARAENG LEMBANG PARANG

I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang adalah putra Raja Gowa XXXIII (1893-1895) I Mallikaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris dari hasil perkawinannya dengan We Tenri Padang Sultanah Aisyah Arung Barru. We Tenri Padang adalah saudara kandung dari Raja Bone XXIX (18601871) yang bernama La Singkeru Rukka MattinroE ri Topaccing dan cucu dari raja Bone XXIV (1812-1823) yang bernama La Mappatunru Sultan Muhammad Ismail MatinroE ri Lalebbata. Sedangkan I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka ialah putra Raja Gowa XXXII (1826-1893) I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid dari hasil perkawinannya dengan I Seno Karaeng Lakiung. 

Oleh karena itu, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang adalah merupakan bangsawan tinggi (Anak Pattola-Anak Ti'no) dan bukan saja sebagai pewaris akan tahta di kerajaan Gowa melainkan juga di kerajaan Bone dan Barru. Setelah Raja Gowa XXXIII I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris wafat pada tanggal 13 Mei 1895, ia kemudian digantikan oleh putra yang bernama I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sulran Husain (1895-1905), inilah Kerajaan Gowa terlibat perang dengan pasukan militer Belanda pada tahun 1905.

Dalam peperangan itu, Raja Gowa I Makkulau Daeang Serang Karaeng Lembang Parang memegang peranan amat penting, bukan karena merupakan tokoh utama atau tokoh kunci yang amat menentukan , melainkan juga karena keterlibatannya dalam memimpin secara langsung rakyatnya dalam melakukan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Perlawanan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang dalam menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda  dilatarbelakangi oleh akumulasi dari pertentangan-pertentangan antara pemerintah kerajaan Gowa dengan pemerintahan Hindia. Benih-benih pertentangan yang telah tumbuh sejak abad XVII dan redup setelah kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar yang amat dahsyat pada tahun 1667-1669, kembali mulai tampak ketika pemerintah Hindia Belanda mengajukan tuntutan dan memaksakan edisi baru Perjanjian Bungaya untuk ditandatangani kepada pemerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1895. 

Pertentangan antara kedua belah pihak, semakin tampak ketika pemerintah Hindia Belanda memperlakukan secara kurang hormat dan tidak sopan terhadap pembesar-pembesar kerajaan Gowa yang turut hadir pada upacara pemakaman Raja Sidenreng menjelang akhir tahun 1904. Sejak kejadian itu, Raja Gowa l Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang bersama para pembesar kerajaan Gowa semakin menunjukkan sikap permusuhannya terhadap pemerintahan Hindia Belanda.

Buku I MAKKULAU DAENG SERANG KARAENG LEMBANG PARANG muat uraian tentang perlawanan Gowa yang dipimpin oleh Raja Gowa I Makkulau Karaeng Lembang Parang Sultan Husain hadap Pemerintah Hindia Belanda. Perlawanan Gowa terhadap Belanda itu kemudian lebih di dengan Perang Gowa 1905. Peristiwa itu bukan saja merupakan satu perang terbesar yang pernah dilakukan Gowa dalam mentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga merupakan mata rantai perjuangan dalam menentang pendudukan militer Belanda di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-20. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BIOGRAFI RAJA GOWA KE-34
I MAKKULAU DAENG SERANG KARAENG LEMBANG PARANG
Penulis: Muhammad Amir
Editor: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Gowa dengan Yayasan Butta Gowa
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2005






April 22, 2022

EMPAT FIGUR YUSUF: Potret Pembelajaran Karakter

Nilai-nilai cultural Bugis-Makassar yang sangat khas mendasari pola tingkah lakunya, adalah sri'na pesse (Bugis) pacce (Makassar) - harga diri dan tenggang rasa-nilai tersebut kemudian menjadi pembatas mengenai apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Siri' membentuk pribadi getteng - gigih (tegas) pada sesuatu yang diyakin benar, lempu' (jujur) dan reso (kerja keras). 

Sikap pantang menyerah dan malu bila dianggap tidak berhasil atas sesuatu yang diusahakannya, bagi masyarakat Sulawesi Selatan merupakan refleksi dari nilai siri' tersebut sebagaimana tergambar dalam ungkapan “puru babbara, sompekku, pura tangkisi' gulikki, ulebbireng mui tellengngE natowaliЕ (Bugis) - punna allabbaʼmi sombalaka, kunlleangi tallanga natoalin (Makassar)” Kembang sudah lavarku, kemudi telah pula berputar, kupilih jua tenggelam daripada kembali ketepian.

Akumulasi pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki serta nilai--nilai kultural, sehingga tokoh-tokoh seperti Syekh Yusuf, Jenderal M. Jusuf, Baharuddin Jusuf Habibie dan Jusuf Kalla dapat diakui dan diterima sebagai pemimpin oleh bangsanya sendiri maupun bangsa lain. 

  • Syekh Yusuf
Agama Islam di Afrika Selatan selama dibawa oleh Syekh Yusuf pada abad ke-17. Syekh Yusuf hadir di negara tersebut sebagai orang buangan Belanda yang menjajah Indonesia ketika itu. Sebelum dibuang ke Afrika Selatan, syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon (sekarang Srilanka).

  • Jenderal M. Jusuf

Kesejahteraan tidak harus serba benda, tidak harus uang tapi sentuhan kasih sayang, perhatian, kedekatan, jarak yang dekat dengan anak buahnya. Dan itu semua ditunjukkan oleh Pak Jusuf ketika memimpin ABRI.

  • Prof. Dr. Ing. Baharuddin Jusuf Habibie
Model manusia yang mampu bekerja diberbagai bidang dengan kemampuan yang tinggi. Melihat ketaatannya dalam beragama, sebuah media terbitan Amerika Serikat Christian Science Monitor menjulukinya "Lambang Progrevitas Islam". 
  •  Muhammad Jusuf Kalla

Saudagar, politisi dan juru damai.

Buku EMPAT FIGUR YUSUF: Potret Pembelajaran Karakter menggambarkan keberhasilan Syekh Yusuf "Tuanta Salamaka", Jenderal M. Jusuf, Baharuddin Jusuf Habibie dan Jusuf Kalla dapat menjadi referensi penggalian nilai-nilai tentang kearifan lokal berkenaan dengan etos kerja bagi generasi muda yang bermuara pada penegakan siri'-harkat dan martabat-baik sebagai individu maupun siri'na tanneE-harkat dan martabat tanah tumpah darahnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


EMPAT FIGUR YUSUF: Potret Pembelajaran Karakter
Editor: Ama Saing
Penyunting: Siti Nuraeda, Lucia L. Barrung, Muslimin
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2008




April 21, 2022

POTRET PEDAGANG KAKI LIMA


Kendati perkembangan Kota Makassar dalam sektor ekonomi; khususnya dengan kian banyaknya bermunculan berbagai pasar modern namun keberadaan pasar tradisional masih terpelihara dengan baik Perkembangan ekonomi di Kota Makassar tentu bukan hanya diakibatkan banyaknya pemodal besar yang masuk, tetapi juga tidak terlepas dari salah satu pelaku ekonomi yang berada di pasar-pasar tradisional yakni pedagang kaki lima atau biasa juga disebut pedagang informal. Keberadaan pedagang kaki lima merupakan salah satu unsur penting dalam perputaran ekonomi, khususnya di pasar tradisional.

Kontribusi para pedagang kaki lima di Pasar Pusat Niaga Daya menurut catatan organisasi pengurus pedagang kaki lima kepada pemerintah daerah dalam bentuk retribusi sangat besar jika dibandingkan dengan pasar tradisional lain yang ada di Kota Makassar. Tetapi kontribusi itu tidak diikuti dengan pemberian fasilitas dan layanan yang memadai, bahkan memperlihatkan kecenderungan adanya perlakuan yang tidak adil. Padahal pedagang kaki lima patuh membayar retribusi secara teratur kepada petugas. Sehingga tidak heran jika pedagang kaki lima secara nasional dapat menanggulangi sampai 13% pengangguran Indonesia. Pedagang kaki lima juga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi yang ditarik oleh pemerintah dalam setiap harinya dengan ribuan pedagang kaki lima.

Para pedagang kaki lima tentu berada dalam pasar dengan jaringan-jaringannya, karena pasar sebagai tempat orang melakukan transaksi jual beli barang dan jasa. Pasar juga dianggap suatu pranata ekonomi dan sekaligus cara hidup, atau suatu gaya umum dari kegiatan ekonomi masyarakat, serta menjadi suatu dunia sosial-budaya. Di samping itu, pasar sebagai tempat terjadinya interaksi dan pembauran dari berbagai etnis, agama, kepentingan dan bahkan sebagai tempat memperoleh berbagai macam informasi dan hiburan. Sehingga pasar tradisional menjadi multi fungsi dan manfaat bagi masyarakat setempat, tetapi lambat laun semakin tergeser dengan berdirinya berbagai pasar-pasar modern, termasuk berdirinya berbagai supermarket, dan bahkan berdampingan dengan pasar-pasar tradisional.

Di dalam pasar tradisional inilah terjadi berbagai masalah yang mengitari para pedagang kaki lima untuk melangsungkan usahanya karena harus berhadapan dengan berbagai unsur-unsur yang ada dalam pasar. Mulai dari persoalan tempat atau lokasi lapak penjualan, adanya persaingan kepada para pedagang kaki lima, adanya retribusi yang dianggap terlalu tinggi, adanya sistem perkreditan dan eksploitasi terhadap pedagang kaki lima, adanya pungutan dari pihak keamanan pasar termasuk pungutan lainnya di pasar yang mewarnai para pedagang kaki lima, dan lain-lain.

Di dalam pasar tradisional inilah terjadi berbagai masalah yang mengitari para pedagang kaki lima untuk melangsungkan usahanya karena harus berhadapan dengan berbagai unsur-unsur yang ada dalam pasar. Mulai dari persoalan tempat atau lokasi lapak penjualan, adanya persaingan kepada para pedagang kaki lima, adanya retribusi yang dianggap terlalu tinggi, adanya sistem perkreditan dan eksploitasi terhadap pedagang kaki lima, adanya pungutan dari pihak keamanan pasar termasuk pungutan lainnya di pasar yang mewarnai para pedagang kaki lima, dan lain-lain.

Buku POTRET PEDAGANG KAKI LIMA mengkaji persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pedagang kali lima, mulai dari keberadaannya di Kota Makassar sebagai golongan miskin atau migrasi dari pedesaan  dan persoalan setalah menjadi pedagang kaki lima, termasuk kualitas hidup para pedagang kaki lima. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


POTRET PEDAGANG KAKI LIMA 
Pergulatan Ekonomi di Pasar Tradisional Makassar (1998-2006)

Penulis: Sahajuddin
Editor: Suriadi Mappangara
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-9248-22-7


April 20, 2022

RAHASIA MENJADI KAYA DENGAN PAPPAKEDO

Menjadi kaya adalah impian setiap manusia yang ingin diwujudkan, dengan asumsi bahwa dengan menjadi kaya seseorang dapat hidup tenang. Meskipun demikian, harus disadari bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama kehidupan manusia, akan tetapi menjadi kaya hanyalah tujuan sementara untuk menuju ke tujuan akhir yaitu kebahagiaan abadi di dalam surga yang telah dijanjikan oleh Allah.

PAPPAKEDO adalah salah satu jalan untuk menjadi kaya, karena dengan PAPPAKEDO orang dapat melakukan usaha dengan mudah, tentunya dengan cara halal.

PAPPAKEDO yang dalam bahasa ilmiahnya lebih dekat dengan istilah “kepekaan batin” mengandung unsur spiritual atau metafisik yang hanya dapat diperoleh melalui pendekatan batin yang diawali dengan kebersihan diri baik jasmani maupun rohani. Seseorang tidak akan dapat menemukan PAPPAKEDO apabila dalam dirinya masih terdapat percikan-percikan noda yang ditimbulkan oleh sikap dan perilakunya dalam kesehariannya.

Kekuatan PAPPAKEDO adalah bukan kekuatan sihir yang diperoleh melalui persekutuan dengan syaitan dan sebangsanya akan tetapi PAPPAKEDO merupakan kekuatan putih yang dapat di peroleh siapa saja dengan melakukan pendekatan-pendekatan kebatinan sebagaimana disyariatkan oleh Islam kekuatan PAPPAKEDO sangat membatu seseorang untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupannya, orang yang telah mengenal PAPPAKEDO mampu membaca kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi, sehingga sungguh sangat banyak orang yang mencapai kesuksesan baik sebagai pengusaha maupun sebagai pejabat di setiap tingkatan melalui PAPPAKEDO.

Prinsip PAPPAKEDO bersumber pada ketenangan, kesucian dan kepekaan panca indra. Oleh karena itu untuk menghadirkan PAPPAKEDO dalam diri harus dimulai dengan memelihara ketenangan jiwa. Sifat emosional harus dibuang jauh-jauh karena sifat emosional dalam padangan Islam disebut nafsu Ammarah yang didominasi oleh bisikan-bisikan syaitan. Hanya orang tenang yang dapat menemukan PAPPAKEDO. Kedua menjaga kesucian jasmani, makanan yang kita makan, jangan sampai makanan yang kita konsumsi telah tercemari oleh unsur-unsur riba, begitu pula pakaian yang kita pakai jangan sampai dibeli dari hasil uang haram atau uang korupsi. Hanya orang suci lahir dan batin yang dapat mengenal PAPPAKEDO. Orang yang hidupnya bergelimang dosa tentunya sangat jauh dari bisikan PAPPAKEDO.

Buku RAHASIA MENJADI KAYA DENGAN PAPPAKEDO mencakup dua puluh satu item yang dikembangkan melalui pendekatan psikologi, tasawuf, serta nilai-nilai religius yang mengakar di tengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat Bugis, Konjo dan Makassar. Buku ini bertema motivasi kehidupan berdasarkan kumpulan pengalaman yang berkaitan dengan fenomena sosial kemasyarakatan khususnya yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat dan keagamaan, dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


RAHASIA MENJADI KAYA DENGAN PAPPAKEDO 
Penulis: Safaruddin
Editor: Syamsuddin A. Ambang
Penerbit: The Safaruddin Center Po. BOX. No. 18 BLK
Tempat Terbit: Bulukumba
Tahun Terbit: 2005



April 19, 2022

SEJARAH HUBUNGAN KERAJAAN BUGIS - MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN DENGAN KERAJAAN MATARAM DI YOGYAKARTA

Tidak dapat dipungkiri bahwa  (hubungan) antara Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) dengan Jawa (Mataram) dimulai pada masa Kerajaan Majapahit. Akan tetapi, intensif hubungan tersebut dimulai pada masa kekuasaan Sultan Agung (Raja Mataram) dengan Sultan Alauddin (Raja Gowa). Hubungan antara kedua kerajaan tersebut, setidaknya dapat diklasifikasi ke dalam empat kategori, yaitu hubungan perdagangan, hubungan politik, hubungan militer, dan hubungan sosial budaya. 

  • Hubungan dagang 

Pada masa pemerintahan Tunipallangga Ulaweng (1546-1565), datang saudagar dari Jawa yang bernama Nahkoda Bonang sekaligus mewakili saudagar-saudagar dari Melayu menghadap menghadap kepada kepada raja, memohon untuk diizinkan menetap di Makassar. Pada saat itu hubungan Jawa dengan Makassar sudah terbangun, tetapi belum dapat dikatakan Mataram, karena Kerajaan Mataram baru muncul pada tahun 1575.

Setelah Sultan Agung, Raja Mataram III (16131645) berkuasa, beliau mengutus delegasi untuk menjalin persahabatan dengan Makassar, yang waktu itu di bawah kekuasaan Sultan Alauddin, Raja Gowa. Utusan tersebut meninggalkan Mataram pada tanggal 27 Januari 1633 di bawah pimpinan Ki Ngabehi Saradulla. Perjanjian persahabatan tersebut melahirkan kesepakatan untuk mengusir bangsa asing agar tidak  menguasai dan memonopoli perdagangan di Nusantara.

  • Hubungan politik

Hubungan politik yang terjalin antara Bugis-Makassar dengan Mataram juga berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung (Mataram) dan Sultan Alauddin (Makassar). Kehadiran Ki Ngabehi Saradulla yang membawa misi hubungan persahabatan, juga mengembangkan misi politik yang melahirkan kesepakatan agar kedua kerajaan tersebut saling kunjung mengunjungi dan saling memberi hadiah. 

Akibat hubungan tersebut memberi konsekuensi terhadap struktur ke tata negaraan negaraan masing-masing seperti, di Makassar dikenal adanya Patimataranna Gowa. Dalam perkembangan selanjutnya, pada pemerintahan Sultan Hameng Kubuwono VII dan VIII dikenal adanya prajurit Kesatuan Da(h)eng dan Kesatuan Bugis yang bertugas atas keselamatan Kraton Yogyakarta.

Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I, hubungan politik antara Bugis-Makassar dengan Mataram mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan karena adanya campur tangan Belanda yang selalu menginginkan agar hubungan persahabatan dan politik antara kedua kerajaan tersebut putus, kemudian melakukan permusuhan. Akan tetapi hal itu tidak berhasil, akibat masih banyak ikatan-ikatan dapat mempersatukan, termasuk ikatan emosional keagamaan (Islam). Adanya campur tangan Belanda tersebut disebabkan Sunan telah bersahabat dengan Belanda, disisi lain Makassar merupakan musuh bebuyutan Belanda.

  •  Hubungan militer

Hubungan militer yang terjadi antara BugisMakassar dengan Mataram juga terbentuk pada saat kehadiran utusan Mataram, Ki Ngabehi Saradulla pada tahun 1633. Hubungan persahabatan dan politik yang terjadi sebelumnya, juga mengandung nuansa hubungan militer. Salah satu bunyi perjanjian antara kedua kerajaan itu adalah "bersepakat untuk mempertahankan kemerdekaan masing-masing, dan mengusir kekuasaan bangsa asing yang hendak menguasai Nusantara”. Adanya kesepakatan itu membuat kedua kerajaan itu membangun dan memperkuat kemiliterannya seperti, membangun benteng-benteng pertahanan, memperluas wilayah kekuasaan mengadakan hubungan persahabatan, politik, dan militer dengan kerajaan-kerajaan lain yang berpengaruh di Nusantara.

  • Hubungan Sosial Budaya

Hubungan sosial budaya yang terjalin antara Bugis-Makassar dengan Mataram terwujud dalam hubungan kekerabatan dan hubungan keterlibatan secara aktif dalam berbagai upacara tradisional dan upacara kerajaan. Jaringan kekerabatan terbentuk, misalnya akibat hubungan pernikahan antara Karaeng Galesong dengan sepupu sekali Trunojoyo, yang neneknya (isteri Pangeran Cakraningrat I) adalah saudara Sultan Agung (Raja Mataram). Selain itu, dari silsilah Dr. Radjiman ditemukan bahwa beliau berasal dari Yogyakarta dan juga berdarah Makassar, yaitu keturunan Karaeng Nobo (Karaeng Naba), yang oleh Andi Zainal Abidin disebutnya sebagai Karaeng Daeng Manaba, Karaeng Galesong V.

Buku SEJARAH HUBUNGAN KERAJAAN BUGIS - MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN DENGAN KERAJAAN MATARAM DI YOGYAKARTA  merupakan salah satu peristiwa sejarah, budaya dan sosial-politik kerajaan nusantara masa lalu memiliki nilai penting dan dapat dimanfaatkan dalam upaya mengatasi pengembangan pembangunan di segala bidang serta keutuhan bangsa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH HUBUNGAN KERAJAAN BUGIS - MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN DENGAN KERAJAAN MATARAM DI YOGYAKARTA
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2003



PERGULATAN POLITIK DI MAKASSAR 1945 - 1966

Perjuangan untuk melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka. bersatu dan berdaulat ternyata melalui jalan yang panjang, terjal dan berliku dalam dinamika politik yang penuh pergulatan. Pergulatan politik di Makassar selama 21 tahun (1945 - 1966) juga melahirkan realitas historis yang memilukan hati, karena mereka yang awalnya memilih jalan hidup sebagai pejuang dan nasionalis di waktu mudanya, tiba-tiba pada masa kematangannya, berubah jadi pembangkang dan pemberontak yang harus ditumpas oleh negara dengan tuduhan penghianat bangsa. Ada yang dipecat dan dipenjarakan bertahun-tahun dan ada pula yang ditembak mati.

Menyatukan gagasan dan ideologi ternyata bukanlah hal mudah. Partisipasi politik dalam negara yang baru merdeka dari kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang, ternyata melahirkan tokoh dan aktor politik yang belum terbebas dari ikatan primordial (suku, agama, daerah, golongan, dan ideologi). Bahkan kedatangan Belanda untuk menjajah kembali, ternyata mendapat juga dukungan sejumlah pejuang dan aktor politik di Makassar yang memicu pergulatan dengan kaum nasionalis dalam mempertahankan kemerdekaan. 

Kekecewaan memenuhi obsesi pribadi, ternyata memicu juga pembangkangan, pemberontakan, dan/atau pengkhianat bangsa dan tanah air. Hal itu terjadi dalam pembentukan Negara Indonesia Timur, lahirnya Darul Islam, dan Tentara Islam Indonesia serta, munculnya Permesta, dan terjadinya Gerakan 30 September/P.K.I. Semua peristiwa itu, melukiskan pergulatan politik dalam bentuk perundingan dan "perang saudara" yang memakan korban jiwa yang tak sedikit. Bahkan di Makassar muncul angka simbolik, Korban 40 ribu jiwa. 

Buku PERGULATAN POLITIK DI MAKASSAR 1945 - 1966 memberikan pemahaman dan menilai peran masing-masing tokoh, pemimpin, dan aktor politik dalam melak pergulatan politik di Makassar. Mengapa dan bagaimana Ratulangie, Andi Pangerang, Andi Zainal Abidin, Andi Jemma dan kawan-kawan (republiken dan unitaris nonkooperatif) melaku pergulatan dengan Nadjamoeddin Daeng Malewa, Soekawati, Warrouw dan teman - temannya (federalis pro-Belanda)

Juga mengapa dan bagaimana Mr.Tadjuddin Noer, Lanto Daeng Pasewang, Anak Agung Gde Agung, Arnold Mononutu dan sekutunya (republieken yang kooperatif dengan Belanda) pada masa revolusi di Makakassar (1945 – 1950) terutama dalam pembentukan N.I.T yang digagas oleh Van Mook (Belanda). Juga dapat diamati pergulatan politik internal politisi atau aktor politik dalam N.I.T, yaitu politisi prorebublik (unitaris) versus politisi yang antirepublik (federalis).

Pergulatan politik, antara A. Pangerang dan Mayor M. Jusuf (Permesta damai) versus Kolonel Ventje Sumual dan Letkol Saleh Lahade (Pemesta Perang) dalam Gerakan Permesta dan posisi netral yang dipilih Letkol Andi Mattalatta dan Mayor Hertasning. Juga pergulatan politik Letkol M. Jusuf yang mantan ajudan Letkol Kahar Muzakkar dalam gerakan D.I – T.I.I, serta peran yang dimainkan Presiden Soekarno dan Kepala staf Angkatan Darat Mayjen A. H. Nasution dalam episode 1953 -1965.

Pergulatan politik yang berkaitan dengan Permesta maupun DIT.I.I. yang tidak terlepas dari politik primordial (kedaerahan suku, agama, dan ideologi). Hal itu memicu terjadinya pemekaran Provinsi Sulawesi (1945 – 1960) menjadi empat provinsi. Mula-mula Provinsi Sulawesi mekar menjadi dua provinsi (1960 -1964) yaitu Provinsi Sulawesi Selatan & Tenggara (Sulselra) dan Provinsi Sulawesi Utara & Tengah (Suluteng). Kemudian masing-masing provinsi itu pecah dua, sehingga terbentuk empat provinsi, yaitu Provinsi: Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERGULATAN POLITIK DI MAKASSAR 1945 - 1966
Penulis: Anwar Arifin
Penerbit: Pustaka IrVan
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-8286-49-7



April 18, 2022

BIOGRAFI K.H. MUHAMMAD AS'AD

K.H. Muhammad As'ad  adalah keturunan ulama besar, putra keturunan Wajo. Peran utamanya sebagai sentral peletak dasar jaringan pondok pesantren di Sulawesi Selatan yang dimulai pada tahun 1930, ketika mendirikan "al-Madrasah Wajo al-Arabiyah al-Islamiyah" (MAI), kemudian berkembang menjadi Pesantren As'adiyah Sengkang Wajo.

K.H. Muhammad As'ad (1907-1952) atau Anregurutta Haji Muhammad As'ad (Gurutta Sade') memiliki jaringan intelektual,  bermula dari santri-santri Anregurutta yang dikader menjadi dai, muallim, murabbi, dan qadhi; mereka pun melakukan hal serupa dengan mendidik santri-santri atau kader-kader pelanjut. Demikian seterusnya sampai hari ini dan mereka tersebar ke sebagian besar wilayah nusantara dan mancanegara.

Pada tahun 1928, Anregurutta As'ad memutuskan hijrah dari Mekah dan bermukim di Sengkang. Sejak itu, muncul energi baru bagi para ulama ketika itu. Tidak hanya di Sulawesi, namun juga berdampak ke kawasan lain di nusantara. Keputusannya tersebut bermula dari kabar tentang maraknya praktik kesyirikan, bid'ah, khurafat, dan takhayul di Tanah Bugis, terutama di Wajo. Keadaan itu memunculkan rasa risau dalam dirinya, sehingga ia mewakafkan sepenuhnya jiwa dan raganya dalam dakwah kepada Allah untuk memurnikan akidah tauhid, memperbaiki akhlak, dan membangun institusi pendidikan yang modern dan sistematis. Upayanya mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.

Dalam berdakwah, Anregurutta As'ad terkenal santun dan lembut. Sikapnya tegas, namun tidak kasar dan keras. Terhadap keragaman madzhab disikapinya dengan sangat bijak. Ini menunjukkan kehalusan budi, ketinggian ilmu, dan wawasannya yang luas. Prinsip yang ia pegang ialah hakikat kebenaran itu berkesesuaian dengan syariat Islam, bukan fanatisme mazhab ataupun tokoh.

Kefasihan, kecerdasan, dan keluwesan Anregurutta As'ad sangat menunjang kiprahnya dalam mengemban amanah sebagai pewaris para nabi. Berkat karunia Allah Ta'ala, di usia yang belia ia telah hafal Alqur'an (14 th), diangkat sebagai imam tarawih di Masjidil Haram (15 th), dan menjadi mufti (21 th). Meskipun wafat di usia 45 tahun, namun warisannya sangat melimpah dan amat berharga bagi kita semua. Seolah Anregurutta As'ad masih membimbing di hadapan santrinya memberi mauidzah hasanah di tengah ummatnya bahwa semua kemuliaan itu milik Allah dan yang pantas dipuji hanya Dia semata. 

Buku BIOGRAFI K.H. MUHAMMAD AS'AD mengungkapkan data dan informasi tentang Anregurutta K.H.M. As'ad yang memiliki prinsip "janganlah memandang aliran atau mazhab guru yang akan ditempati belajar, hal yang penting adalah ilmu guru tersebut, karena ilmu pengetahuan itu tidak mengenal aliran-aliran dan mazhab". Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


WARISAN INTELEKTUAL SANG MAHA GURU:
BIOGRAFI K.H. MUHAMMAD AS'AD

(Anreguruta Syekh Al-'Allamah Muhammad As'ad)
Penulis: Muh. Hatta Walinga
Editor: Husnul Fahimah Ilyas, Abdul Malik
Penerbit: Zadahaniva Publishing
Tempat Terbit: Solo
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-7826-27-7


April 14, 2022

TAFSIR KELONG

Kelong sebagai salah satu bentuk kesusastraan Makassar, di dalamnya mengandung renungan dan kearifan yang tergambar melalui kesatuan dan kepadatan makna. Kelong memiliki sifat-sifat nilai sebagai produk budaya masyarakat, di dalam Kelong Makassar terdapat beberapa nilai, di antaranya nilai religius dan nilai moral.

  • Kelong yang mempunyai kandungan nilai-nilai religius yang bersumber dari Rukun Islam

Paknassai syahadaknu
Sekreji Allah Taala 
Nakbi Muhammad
Suro matappak-Na

Terjemah:

Perjelas syahadatmu 
Allah itu satu 
Nabi Muhammad 
Rasul kepercayan-Nya

Makna/pesan kelong di atas adalah manusia hendaknya senantiasa memperbaharui syahadatnya, serta yakin bahwa Allah itu hanya satu dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
  • Kelong yang mempunyai kandungan nilai-nilai religius yang bersumber dari Rukun Iman
Boyai ri tae-Na
Assengi ni maniak-Na
Tenai antu
Namaknassaja niak-Na

Terjemah:

Carilah Dia dalam gaib 
Ketahuilah adanya
Dia tak tampak
Tetapi pasti Dia ada

Makna/pesan kelong di atas adalah agar manusia hendaknya menyadari bahwa Allah itu ada tetapi tidak tampak dan tidak dapat dilihat oleh mata, melainkan dengan iman.

Buku TAFSIR KELONG membahas tentang 34 Kelong Makassar yang memiliki/mempunyai nilai-nilai religius dan nilai moral, yang terdiri dari 5 buah Kelong yang termasuk dalam kategori rukun Islam, 6 buah kelong yang termasuk kategori rukun iman, dan 23 buah kelong yang termasuk ajakan moral. Nilai-nilai yang dimaksud adalah:

  1. Nilai moral yang terkandung pada kelong Makassar adalah nilai kejujuran, kesopanan, kedisiplinan, kebenaran, keadilan, ketaatan, nilai sosial kemasyarakatan, dan tata nilai bersosialisasi dengan sesama manusia.
  2. Nilai religius yang terkandung pada kelong Makassar meliputi nilai ketahuidan, yaitu pengakuan akan kebenaran Rasul Allah. Kemudian nilai syariah dan nilai akhlak.
Kelong Makassar memberikan kontribusi positif nilai religius dan nilai moral kelong terhadap pendidikan moral anak usia pendidikan dasar. Besarnya konstribusi tersebut adalah 39,5 %. Sedangkan sisanya 60,5 % dipengaruhi oleh faktor lain yang belum terungkap, menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Keraispan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TAFSIR KELONG
(Kajian Sastra Lisan Makassar)

Penulis: Chaeruddin Hakim
Penerbit: De La Macca
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 978 602 263 09020




April 12, 2022

BENDA-BENDA SEJARAH PENINGGALAN KERAJAAN WAJO DAN SOPPENG

Benda-benda peninggalan Kerajaan Wajo dan Soppeng sampai sekarang masih dipelihara dengan baik, salah satu penyebabnya adalah karena benda-benda tersebut masih dianggap mempunyai kekuatan magis yang sangat tinggi terutama karena dianggap sebagai benda-benda titisan dewa dan masyarakat menyebutnya gaukeng.

Benda-benda peninggalan Kerajaan Wajo dan Soppeng keseluruhannya disebut benda Arajang yang merupakan simbolisasi dari kewenangan dan kekuasaan sehingga yang diangkat menjadi raja dar kedua kerajaan tersebut harus memelihara dan memperlakukannya sebagai titisan dewa dan bila tidak, maka raja tersebut dianggap tidak mempunyai kekuatan untuk memimpin bahkan tidak mempunyai hak dan kedudukan sebagai raja. Berikut hasil temuan peninggalan benda-benda Kerajaan Wajo dan Soppeng.

Benda-benda peninggalan Kerajaan Wajo

  1. Alameng (Pedang), fungsinya sebagai  simbol kekuasaan raja.
  2. Tappi (Keris),  fungsi sebagai simbol kekuasaan raja dan dipakai sehari-hari.
  3. Tappi (Keris), fungsi sebagai simbol kekuasaan raja dan dijadikan sebagai benda keselamatan terutama bila raja mendapatkan kesulitan.
  4. Pao Jengki, .fungsi sebagai benda penginangan terutama oleh para bangsawan di Kerajaan Wajo.
  5. Cerek fungsinya sebagai alat perlengkapan upacara adat terutama upacara kebesaran Kerajaan Gowa.
  6. Cangkiri dan Alasnya, fungsinya sebagai alat perlengkapan upacara adat terutama pada perayaan pesta upacara adat dan dipergunakan sebagai tempat minum raja.
  7. Penginangan. fungsinya sebagai alat perlengkapan upacara adat terutama pada perayaan pesta upacara adat dan dipergunakan sebagai tempat sirih persembahan untuk raja.
  8. Baki, berfungsi sebagai alat perlengkapan upacara adat terutama pada perayaan pesta upacara adat dan dipergunakan sebagai alas tempat minum raja.
Peninggalan benda-benda Kerajaan Soppeng
  1. Cerek, fungsinya sebagai tempat air minum Raja Soppeng I yaitu Manurungnge.
  2. Kempu, fungsinya sebagai wadah penginangan dan dipergunakan oleh Raja Soppeng  I yaitu To
  3. Ammiccung, fungsinya sebagai wadah untuk meludah dan dipergunakan oleh Raja Soppeng I yaitu Manurungnge.
  4. Assalakeng Pelleng, fungsinya sebagai alat penerangan (pelita) dan dipergunakan oleh Raja Soppeng I yaitu Manurungnge.
  5. Assalakeng Pelleng Petti, fungsinya sebagai alat penerangan (pelita) dan dipergunakan oleh Raja Soppeng I yaitu Manurungnge.
  6. Abbisseng (tempat cuci tangan), fungsinya sebagai tempat mencuci tangan dan dipergunakan oleh Manurungnge pada saat sebelum dan sesudah makan.
  7. Onrang Otti, fungsinya sebagai tempat menyimpan buah-buahan terutama pisang yang dipersembahkan kepada Raja Soppeng I yaitu Manurungnge.
  8. Talang, fungsinya sebagai tempat penyimpan daun sirik dan dipergunakan oleh Raja Soppeng I yaitu Manurungnge.
  9. Alas Tempat Beras, fungsinya sebagai tempat menyimpan beras untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dipergunakan oleh keluarga bangsawan.
  10. Balubu, fungsinya sebagai wadah air minum untuk golongan bangsawan (raja)
  11. Balubu/Mangkok, fungsinya sebagai wadah sayur-sayuran yang digunakan oleh golongan bangsawan (raja).
  12. Kallo, fungsinya sebagai tameng dan digunakan pada masa perang antar kerajaan, kemungkinan dipergunakan oleh panglima perang Kerajaan Soppeng.
Benda-benda peninggalan kedua kerajaan tersebut pada dasarnya adalah produk masa lalu yang dikenal sebagai ornamen kerajaan sehingga perlindungannya di bawah kerajaan namun dipelihara dan dipertahankan serta diperbesarkah oleh masyarakat secara umum. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat memandang benda-benda itu berdasarkan kesadaran mistis, sebagai pelindung jiwa masyarakat dan pada sisi lain sebagai lambang status mereka. 



LAPORAN HASIL PENELITIAN KOLEKSI MUSEUM NEGERI 
PROVINSI SULAWESI SELATAN LA GALIGO
BENDA-BENDA SEJARAH PENINGGALAN KERAJAAN WAJO DAN SOPPENG
Penyusun: Baharuddin, Purnawati, A. Sainarwana, Osman Hamjah
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1997


BUDAYA SPIRITUAL MAKAM DATUK SULAEMAN

Makam Datuk Sulaeman atau yang juga dikenal dengan gelar "Waliyullah Al Arif Billah Al Imam Datuk Sulaeman" adalah merupakan salah satu makam tokoh penyiar Islam yang terletak di Desa Patimang, Kecamatan Malangke Kabupaten Luwu Utara. Makam tersebut hingga kini banyak dikunjungi masyarakat, baik masyarakat lokal maupun masyarakat dari luar kabupaten, bahkan provinsi.

Peziarah atau pengunjung yang datang berziarah ke Makam Datuk Sulaeman dilandasi beberapa persepsi atau pandangan, antara lain: 1) Makam Datuk Sulaeman merupakan tempat yang dapat memberi “arti” bagi peziarah, dengan kata lain bahwa berkat keyakinannya, seorang peziarah dapat menemukan "sesuatu" yang diharapkannya. 2) Makam Datuk Sulaeman adalah tempat yang bisa memberi harapan hidup yang lebih baik dari sekarang. Bagi peziarah yang percaya dan ternyata berhasil dalam menjalankan usahanya, maka persepsi tersebut semakin kuat. 3) Persepsi yang mengatakan bahwa Makam Datuk Sulaeman merupakan tempah untuk meminta rezeki, adalah keliru dan salah besar. Sebab jika sekiranya terdapat peziarah yang berhasil dalam usahanya setelah memanjatkan doa dan permohonannya di Makam Datuk Sulaeman, itu adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa, bukan karena makam tersebut. 4) Peziarah berkeyakinan, bahwa Makam Datuk Sulaeman merupakan tempat untuk mendoakan arwah atau leluhur yang telah meninggal agar diberi tempat yang layak di sisi Allah swt. 5) Makam Datuk Sulaeman merupakan tempat sakral dan suci. Karena itu, tujuan utama berkunjung ke makam tersebut hanyalah semata untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebab bagi mereka, mendoakan orang yang sudah meninggal merupakan perbuatan yang baik.

Dari berbagai persepsi atau pandangan peziarah yang telah dikemukakan itu, mendorong mereka berkunjung ke makam dengan berbekal motivasi tersendiri. Di antara mereka ada yang termotivasi dengan prinsip, bahwa berkunjung ke Makam Datuk Sulaeman karena sesuai sunnah nabi, bahwa orang-orang yang berziarah ke makam leluhur, orang tua dan para wali yang menyebarkan agama Islam, adalah merupakan pahala. Motivasi lainnya adalah, karena adanya getaran emosi keagamaan yang menuntun manusia melakukan aktivitas religius, termasuk melakukan ziarah. Di samping itu ada pula yang termotivasi karena adanya berbagai maksud atau tujuan, seperti untuk melakukan doa atau memohon kepada Allah SWT atas berbagai keinginan atau niat, seperti permohonan agar dibukakan pintu rezki dan dimudahkan dalam pekerjaan. Melaksanakan nazar atau melepas hajat sebagaimana yang pernah diucapkan sebelumnya, adalah juga merupakan motivasi tersendiri bagi mereka untuk melaksanakan ziarah.

Dengan adanya persepsi dan motivasi yang melandasi peziarah terhadap Makam Datuk Sulaeman, dari sisi spiritual membuktikan, bahwa manusia dalam melaksanakan upayanya, tidak hanya bermodal pada upaya jasmani. Namun upaya batiniyah menunjukkan bahwa manusia tidak berdaya dalam memenuhi kebutuhannya. Karena itulah manusia mencari hubungan dengan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam memenuhi kebutuhannya.

Mengenai dampak yang ditimbulkan dari keberadaan Makam Datuk Sulaeman terhadap kehidupan peziarah, juga beragam. Di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa kekuatan gaib yang dipancarkan oleh arwah tokoh atau leluhur yang berada pada makam itu dapat membantu melepaskan berbagai permasalahan hidup. Di sisi lain ada pula yang mengatakan, bahwa dampak yang sangat dirasakan setelah melakukan kunjungan ziarah adalah adanya rasa syukur yang mendalam, karena doa yang dilakukan di tempat makam dikabulkan Allah SWT.

Bagi masyarakat sekitar, keberadaan makam Datuk Sulaeman, juga telah membawa dampak yang sangat besar, hal mana terlihat dari adanya perkembangan pada wilayah bersangkutan yang semula dikategorikan sebagai desa yang sulit dijangkau karena prasarana jalannya yang kurang memadai, kini menjadi desa yang mudah diakses. Semua ini dapat dilihat dari adanya pembangunan infrastruktur jalan berupa jalan aspal maupun jalan beton yang menghubungkan pusat kecamatan dengan Desa Patimang. Demikian pula kondisi jalan menuju kompleks makam, juga sangat mudah diakses setelah dilakukannya pembangunan jalan beton.

Tumbuhnya rasa solidaritas atau rasa kebersamaan yang tinggi di kalangan masyarakat, juga merupakan salah satu dampak yang dirasakan masyarakat dari keberadaan makam tersebut. Ini terlihat ketika diselenggarakannya kegiatan adat Maggawe Samampa (ziarah ke Makam Datuk Sulaiman yang dihadiri oleh segenap lapisan masyarakat, khususnya masyarakat setempat). Pada acara tersebut, selain dilakukan pembacaan doa bersama, dzikir berjamaah dan tausyiah, di akhir acara sebagai simbol asseddi-seddingeng (kebersamaan) juga dilangsungkan acara makam bersama sebagai tanda ke syukuran kepada Allah SWT atas rezeki, rahmat dan hidayat yang diberikan.

Buku BUDAYA SPIRITUAL MAKAM DATUK SULAEMAN membahas sejarah singkat Datu Sulaeman dan makamnya, juga memaparkan bagaimana persepsi masyarakat sekitar terhadap Makam Datuk Sulaeman, serta motivasi peziarah berkunjung ke Makam Datuk Sulaeman dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat peziarah dan masyarakat sekitar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BUDAYA SPIRITUAL MAKAM DATUK SULAEMAN 
Di Kabupaten Luwu Utara

Penulis: Ansaar
Editor: Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Taun Terbit: 2016
ISBN: 978-979-3570-87-7

April 11, 2022

PANTUN MELAYU - MAKASSAR


Mula pertama bukuwang kana, 
Selamat Pembaca ikatte ngaseng, 
Buku ini pangharapanna, 
Pada Pembaca eró si-isseng.

Buku terlahir sanna tunana, 
Pantunnya miskin paré-paréna, 
Meski begitu niharap tonji, 
Mudah-mudahan anggappa baji.

Buku pantun tena ruanna, 
Edari tempat kale-kalenna, 
Diharap saja ri pambacana, 
Akan disuka ri pamai'na.

Ukuran kantong cadi-cadina, 
Gampang dibawa ri mangeanna, 
Bila dibaca kana-kananna, 
Orang terhibur ri-kasusanna.

Biarpun miskin kana-kananna, 
Kiranya cukup baji susunna, 
Semua terang eró kananna, 
Untuk menghibur ri minasanna.

Buku PANTUN MELAYU - MAKASSAR berisikan 199 pantun Melayu-Makassar yang pantun aslinya telah disesuaikan dengan ejaan baru agar lebih mudah di baca dan dimengerti. Buku ini diterbitkan dalam rangka In memorial ANG BAN TJIONG (1910-1938) yang merupakan pionir pengarang pantun Melayu Makassar, dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Makassar.


PANTUN MELAYU - MAKASSAR
Editor: Ang Ban Tjiong
Editor: Agnes Kwenang, Ang Heang Tek
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004




April 1, 2022

ALAT TANGKAP NELAYAN TRADISIONAL

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat nelayan di Kampung Padang Utara maupun di Kampung Padang Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar, lebih banyak memanfaatkan lingkungan alam laut. Bagi mereka ruang produksi yang dianggap paling potensial dan dapat memberikan harapan hidup adalah laut yang terbentang luas di hadapan mereka. Karenanya, tentu saja mereka mengharapkan dapat memperoleh hasil yang baik dalam setiap aktivitas melaut yang mereka lakukan.

  • Beberapa peralatan digunakan untuk mencari dan menangkap berbagai jenis biota laut oleh masyarakat nelayan di Kampung Padang Utara dan Kampung Padang Selatan, dapat dilihat dalam dua kategori besar, yang terkait dengan sarana transportasi melaut dan yang terkait dengan jenis-jenis alat tangkap yang digunakan dalam mencari sumber daya laut.
  • Sarana Transportasi Melaut
Karenanya, masih banyak yang mempertahankan alat penangkapan tradisional yang mereka dapatkan secara turun-temurun. Kendati demikian, karena ada interaksi dengan nelayan-nelayan yang berasal dari daerah luar dan didukung kreativitas para nelayan, maka mereka pun dapat melakukan inovasi-inovasi pada alat tangkap yang mereka miliki selama ini.

Beberapa alat tangkap yang mereka kembangkan masih menggunakan bahan-bahan yang selama ini mereka telah gunakan. Bahan-bahan tersebut dirangkai sedemikian rupa dan menggabungkannya dengan bahan lain. Hal ini dapat dilihat pada alat pancing yang sebelumnya hanya memiliki 1 (satu) kail, telah dirangkai dengan beberapa kail dalam 1 (satu) pancing. Demikian pula pada pancing yang biasanya memakai umpan ikan atau lainnya, telah berkembang pula penggunaan pancing dengan menggunakan umpan tiruan atau bahkan alat pancing tanpa umpan,

Perubahan lain dapat dilihat dari penggunaan alat tangkap bagang tancap yang berkembang menjadi bagang apung. Penggunaan perahu yang ukurannya lebih besar yang digabungkan dengan model penggunaan jaring pada bagang tancap telah memunculkan sebuah teknologi penangkapan yang sedikit maju yang mampu mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak dibanding bagang tancap.

Bukan hanya perubahan pada model alat tangkap, akan tetapi juga pada alat-alat lain yang digunakan pada bagang tancap. Misalnya, pada alat penerang yang selama ini menggunakan petromaks, pada bagang apung telah menggunakan bola lampu yang aliran listriknya bersumber dari genset.

Bukan hanya pada alat tangkap. Perubahan juga terjadi pada alat transportasi yang digunakan nelayan dalam melaut. Pada masa lalu, mereka hanya menggunakan perahu kecil (lepa-lepa). Namun dengan masuknya mesin, maka perahu yang mereka gunakan pun telah diberikan mesin. Dengan demikian, waktu dan jarak yang mereka dapat tempuh akan semakin jauh dan lebih cepat dalam beraktivitas di laut.

Buku ALAT TANGKAP NELAYAN TRADISIONAL membahas alat tangkap yang digunakan nelayan di Kampung Padang Utara dan Kampung Padang Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar, yang mayoritas masih menggunakan teknologi tradisional bukanlah karena ketidakmampuan masyarakat mengadopsi teknologi alat tangkap modern. Akan tetapi, untuk mendapatkan alat tangkap modern tentunya butuh dana yang besar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ALAT TANGKAP NELAYAN TRADISIONAL
Studi Kasus Nelayan Kampung Padang Utara dan Padang Selatan 
Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan
Penulis: Syamsul Bahri
Penerbit: Pustaka Sawerigading dan Balai Besar Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9248-16-6