Apalah hidup ini, makan saja bisa sepiring, mati pun tak membawa apa-apa, hanya meninggalkan nama. Manusia harus memberi dan memberi (Dr. A.A. Baramuli, SH).
A. A. Baramuli di usia 27 tahun, diangkat sebagai anggota Dewar Nasional. Sekitar tahun 1957, Presiden Soekarno sedang gigih mengenalkan konsep politiknya dalam istilah demokrasi terpimpin. Maka, demokrasi parlemen harus berakhir di Indonesia setelah Bung Karno membentuk dan kemudian memimpin sendiri Kabinet Karya dan Dewan Nasional yang semua menteri serta anggotanya, dia tunjuk secara langsung.
Tiga tahun sesudah itu, AA Baramuli biasa dipanggil dalam nama kesayangan Naldi, dikirim Bung Karno ke Manado sebagai Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah. Wilayah kerjanya meliputi Kepulauan Sangihe di Utara sampai Danau Poso di Selatan yang sekarang ini pecah menjadi tiga provinsi.
Sejak muda Naldi memang pemberani. Tanggal 1 Maret 1957 ketika Panglima TT IV Kolonel Ventje Sumual di Makassar memproklamirkan Permesta. Naldi, Kepala Kejaksaan Tinggi sekaligus Jaksa Tinggi Militer dengan pangkat Letkol untuk wilayah Indonesia Timur, meloloskan diri ke Jakarta, naik sampan lewat Pare-pare.
Permesta kemudian bergabung dengan PRRI. Namun, para pemberontak dukungan AS lupa. " Saya pernah dikirim ke Inggris bersama Oemar Senoadji, mengikuti pendidikan intelejen sehingga untuk mengecoh pemberontak soal sepele," kata Naldi mengisahkan pengalamannya melawan PRRI/Permesta.
Jejak perjalanan yang panjang dengan beragam pengalaman dalam politik, bisnis, kegiatan kemasyarakatan dan aktivitas sudah jalani. Tampil menjadi sanjungan masyarakat ketika Naldi sendiri membongkar skandal kredit macet di Bapindo yang dikenal sebagai kasus Eddy Tanzil. Sebaliknya, kecaman dan hujatan juga pernah menimpa dirinya akibat dugaan keterlibatan (yang tak pernah bisa dibuktikan di pengadilan) dalam kemelut Bank Bali menyangkut sejumlah nama oknum Golkar.
Sebagai anggota Komnas HAM, Naldi menyeledupkan korban penculikan,Pius Lustrilanang, lolos keluar negeri sehingga Pius bisa beraksi di dunia internasional mengenai buruknya rezim orde baru kepada rakyatnya sendiri.
Buku A. A. BARAMULI YANG KUKENAL berisikan kumpulan bahan-bahan yang berkaitan dengan beliau untuk mengenang jasa-jasanya selama hidupnya. Bermula dari sambutan Bupati Pinrang (Drs. H. A. Nawir Pasinringi, M.Si), sambutan H. Emir Baramuli, M.B.A., dan prolog Teguh Memegang Prinsip Drs. H.M. Jusuf Kalla (Wakil Presiden R.I), Komitmennya yang Tinggi bagi TI Prof. Dr. B.J. Habibie (Mantan Presdien R.I), hingga berbagai kenangan diantaranya dari berbagai tokoh yang mengenang beliau sebagai Tokoh nasional yang dicintai semua orang, Tak kenal putus asa, Tokoh kontroversial, Jalan pemikirannya Three In One, Membela kepentingan KTI, Tokoh masyarakat Sulsel, Sangat teguh memegang prinsip, Teguh memegang komitmen, Politisi kawakan yang humoris, Pembakar semangat anak muda, sangat cinta tenis, Pandai berkawan, Suka membantu, Memperhatikan sektor pendidikan daerah, Tokoh Indonesia Timur, Konsisten ucapan dan tindakan, Memperjuangkan kaum wanita, Bangsa Indonesia kehilangan tokohnya, Menjadi teladan masyarakat, Memimpin gerakan mahasiswa Djakarta, Berani mengatakan yang hak dan batil, Keras namun tak pendendam dan Masyarakat berduka.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penulis: Bachtiar Adnan Kusum, -(et al)
Penerbit: Yapensi
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 978-979-3274-3274-34-8
.jpeg)











