Showing posts with label Kerajaan Gowa. Show all posts
Showing posts with label Kerajaan Gowa. Show all posts

January 3, 2023

Tuan Anwar, Sang Penasihat

 



Buku : Sang Penasihat (judul asli : De Raadsman)

Penulis : H.J. Friedericy

Penerjemah : H. B. Jassin

Penerbit : P.T. Pustaka Utama Grafiti

Tempat : Jakarta

Tahun : 1990

Jumlah Halaman : xii + 104

Ukuran : 10,5 x 17 cm

ISBN : 979-444-094-9

Tidak banyak novel sejarah atau roman sejarah yang mengambil setting daerah Gowa pada masa kolonial Belanda. Bahkan mungkin novel ini satu satunya. Ditulis oleh seorang ilmuwan, seniman dan sastrawan berkebangsaan Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi Selatan sebagai Pangreh Praja, Herman Jan Friedericy. H.J. Friedericy  juga menulis salah satu novel sejarah De Laatste Generaal van Bontorihu yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul “Sang Jenderal”.

Novel ini diawali dengan kata pengantar oleh Dr. Mattulada, kemudian dibagi dalam 17 bagian. Setiap bagian diberi judul sesuai topik yang dikisahkan. Namun tokoh utamanya adalah Sang Penasihat yang bernama Tuan Anwar. Tokoh lainnya adalah Tuan Petoro, seorang Belanda yang ditugaskan di Sungguminasa. Tuan Anwar memiliki anak bernama Musa. Ada juga tokoh Karaeng Manuju, Karaeng Katangka, opas yang bernama Badawi, dan pembantu yang bernama Prins tapi asli Makassar dan banyak tokoh masyarakat lain dengan nama khas Makassar.

Membaca novel ini seakan membawa kita ke masa masa pendudukan kolonial Belanda. Masa ketika raja atau sultan Gowa masih ada namun tidak lagi memerintah seperti dulu. Dikisahkan bahwa pada masa itu sering terjadi ada orang mengamuk yang biasanya menyebabkan banyak nyawa melayang. Dikisahkan pula, kegemaran para bangsawan mengikuti kegiatan berburu rusa di hutan dan pegunungan selama berhari hari.

Dikisahkan pula konflik antara Sang Penasihat (Tuan Anwar) dengan anaknya sendiri yaitu Musa yang pada masa itu baru berusia 17 tahun namun sikapnya menentang Belanda dan tidak menginginkan ayahnya bekerja dibawah pemerintah kolonial Belanda. Kelak kemudian hari, Musa diangkat menjadi Menteri setelah Indonesia merdeka, sementara ayahnya dianggap sebagai pengkhianat bangsa. 

Novel sejarah ini memang hanyalah sebuah karya fiksi hasil olah pikir penulisnya, namun penulis biasanya merujuk pada apa yang dialami dan dirasakan pada masa hidupnya disuatu daerah.  Kisah yang terjalin dalam novel sejarah atau novel lain adalah cerminan dari suatu budaya tertentu. Biasanya budaya dimana penulisnya tinggal atau budaya dari etnis sang penulis.

Pada bagian akhir novel juga sempat disebutkan tentang kapal “Van Der Wijck” yang juga pernah dijadikan novel oleh Hamka dengan judul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.

Sangat menarik membaca kisah dalam novel sejarah ini. Banyak hal yang terjadi dimasa lampau dikisahkan dalam buku ini. Sangat direkomendasikan bagi anda yang ingin mengetahui kehidupan di Gowa dan Sulawesi Selatan pada umumnya pada masa masa pra kemerdekaan, masa kolonisasi Belanda di Indonesia.

 



 


April 26, 2022

I MAKKULAU DAENG SERANG KARAENG LEMBANG PARANG

I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang adalah putra Raja Gowa XXXIII (1893-1895) I Mallikaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris dari hasil perkawinannya dengan We Tenri Padang Sultanah Aisyah Arung Barru. We Tenri Padang adalah saudara kandung dari Raja Bone XXIX (18601871) yang bernama La Singkeru Rukka MattinroE ri Topaccing dan cucu dari raja Bone XXIV (1812-1823) yang bernama La Mappatunru Sultan Muhammad Ismail MatinroE ri Lalebbata. Sedangkan I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka ialah putra Raja Gowa XXXII (1826-1893) I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid dari hasil perkawinannya dengan I Seno Karaeng Lakiung. 

Oleh karena itu, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang adalah merupakan bangsawan tinggi (Anak Pattola-Anak Ti'no) dan bukan saja sebagai pewaris akan tahta di kerajaan Gowa melainkan juga di kerajaan Bone dan Barru. Setelah Raja Gowa XXXIII I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris wafat pada tanggal 13 Mei 1895, ia kemudian digantikan oleh putra yang bernama I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sulran Husain (1895-1905), inilah Kerajaan Gowa terlibat perang dengan pasukan militer Belanda pada tahun 1905.

Dalam peperangan itu, Raja Gowa I Makkulau Daeang Serang Karaeng Lembang Parang memegang peranan amat penting, bukan karena merupakan tokoh utama atau tokoh kunci yang amat menentukan , melainkan juga karena keterlibatannya dalam memimpin secara langsung rakyatnya dalam melakukan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Perlawanan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang dalam menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda  dilatarbelakangi oleh akumulasi dari pertentangan-pertentangan antara pemerintah kerajaan Gowa dengan pemerintahan Hindia. Benih-benih pertentangan yang telah tumbuh sejak abad XVII dan redup setelah kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar yang amat dahsyat pada tahun 1667-1669, kembali mulai tampak ketika pemerintah Hindia Belanda mengajukan tuntutan dan memaksakan edisi baru Perjanjian Bungaya untuk ditandatangani kepada pemerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1895. 

Pertentangan antara kedua belah pihak, semakin tampak ketika pemerintah Hindia Belanda memperlakukan secara kurang hormat dan tidak sopan terhadap pembesar-pembesar kerajaan Gowa yang turut hadir pada upacara pemakaman Raja Sidenreng menjelang akhir tahun 1904. Sejak kejadian itu, Raja Gowa l Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang bersama para pembesar kerajaan Gowa semakin menunjukkan sikap permusuhannya terhadap pemerintahan Hindia Belanda.

Buku I MAKKULAU DAENG SERANG KARAENG LEMBANG PARANG muat uraian tentang perlawanan Gowa yang dipimpin oleh Raja Gowa I Makkulau Karaeng Lembang Parang Sultan Husain hadap Pemerintah Hindia Belanda. Perlawanan Gowa terhadap Belanda itu kemudian lebih di dengan Perang Gowa 1905. Peristiwa itu bukan saja merupakan satu perang terbesar yang pernah dilakukan Gowa dalam mentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga merupakan mata rantai perjuangan dalam menentang pendudukan militer Belanda di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-20. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BIOGRAFI RAJA GOWA KE-34
I MAKKULAU DAENG SERANG KARAENG LEMBANG PARANG
Penulis: Muhammad Amir
Editor: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Gowa dengan Yayasan Butta Gowa
Tempat Terbit: Sungguminasa
Tahun Terbit: 2005






February 10, 2022

SEJARAH PERJUANGAN RAJA-RAJA DI SUL-SEL TERHADAP VOC


Walaupun bangsa Belanda tiba di Indonesia sejak tahun 1596, tetapi barulah tahun 1601 dapat mengadakan hubungan dengan Raja Gowa. Raja Gowa ketika itu Sultan Alauddin, belum memberikan kepastian. Kemudian di dalam tahun 1607, oleh Laksamana Belanda Cornelis Matelief mengirim seorang Belanda yang bernama Abraham Mathesz ke Sombaopu untuk mengadakan hubungan dagang dan mengajak Gowa untuk bersama-sama Belanda, tetapi ditolak oleh Sultan. Keinginan Belanda untuk bekerja sama dengan Gowa belum berhasil, sehingga berbagai macam cara dibuat Belanda, antara lain tentara-tentara kompeni selalu menghalang-halangi perahu niaga Gowa yang pulang-pergi Maluku.

Keinginan Belanda untuk mengadakan hubungan dagang dengan Gowa tidak pernah mundur, bahkan usahanya tidak semata-mata hubungan dagang melainkan ingin menguasai Kerajaan Gowa dengan bermacam-macam taktiknya. 

Falsafah Sultan Hasanuddin rupanya jauh sebelum pemerintahannya (sejak masuknya Islam di Gowa) sudah menjadi kepribadian masyarakat Gowa tidak mudah ditundukkan oleh orang luar atau bangsa asing. Karena itu, setiap yang datang mengganggu kebebasan dan kemerdekaannya akan dilawannya.

Berikut perlawanan Kerajaan Gowa terhadap VOC  

  • Perlawanan bangsawan/pembesar Kerajaan Gowa dalam tahun 1615
  • Pelawan tahun 1616 
  • Perlawanan dalam tahun 1627
  • Perlawanan dalam tahun 1634
  • Perlawanan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Said
  • Perlawanan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin
  • Perlawanan sesudah perjanjian Bungaya

Sebagai sekutu, Wajo banyak membantu Gowa untuk menghadapi musuhnya, seperti hanya dalam tahun 1643, Wajo membantu Gowa menyerang Bone. Akibat serangan ini, Raja Bone La Maddaremmeng dapat diangkat dan di tawan di Gowa. Kerajaan Wajo dan Gowa yang lebih penting ialah pada waktu bersama-sama menghadapi Belanda/VOC.

Berikut perlawanan Kerajaan Wajo terhadap VOC 

  • Perlawanan tahun 1667
  • Perlawanan tahun 1670
Buku SEJARAH PERJUANGAN RAJA-RAJA DI SUL-SEL TERHADAP VOC membahas tentang perlawanan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Wajo dalam menghadapi Belanda/VOC disebabkan karena (1) adanya usaha monopoli VOC dalam perdagangan, baik dengan kekuatan militer maupun dengan jalan damai; (2) kepribadian masyarakat dan bangsawan-bangsawan Gowa yang tidak mau diganggu kebebasan dan kemerdekaannya; (3) merasa dipermalukan, mengurangi harga diri dan martabatnya; (4) ketaatan dan kecintaan rakyat Gowa kepada rajanya dengan landasan falsafahnya akkanama' nu mammio (= saya bersabda engkau mengiya). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH PERJUANGAN RAJA-RAJA DI SUL-SEL TERHADAP VOC
Penulis: Tim Aksara
Editor: Nonci
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-602-97216-6-9

December 8, 2021

Sultan Hasanuddin


 
Judul : Sultan Hasanuddin

Penulis : Sutrisno Kutoyo & Drs. Mardanas Safwan

Penerbit : Mutiara Sumber Widya

Tempat Terbit : Jakarta

Tahun : 2010

Jumlah Halaman : iv+52

Ukuran 14,5 x 21 cm

ISBN : 978-979-9331-14-10

Buku ini merupakan salah satu judul dari Seri Pahlawan, yang telah diterbitkan bersama pahlawan pahlawan nasional lainnya. Sultan Hasanuddin adalah salah seorang pahlawan nasional asal Sulawesi Selatana, tepatnya dari Gowa. Beliau adalah Raja (Sultan) yang pernah memerintah Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa pada masa Sultan Hasanuddin, termasuk salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, yang kekuasaanya meliputi sebagian besar pulau Sulawesi, sebagian Nusa Tenggara dan sebagian daerah di Kalimantan.

Terdiri dari 7 bagian, diawali dengan kata pengantar dari Penerbit, kemudian disusul bagian pertama tentang kedatangan bangsa bangsa barat ke Indonesia yaitu bangsa Portugis dan Spayol. Kedatangan mereka yang juga bermaksud memonopoli perdagangan, mendapat tantangan dari kerajaan kerajaan Islam yang ada dikepulauan Nusantara waktu itu. Selanjutnya diuraikan tentang keberadaan Kerajaan Gowa di Sulawesi bagian selatan. Raja raja yang pernah berkuasa dijabarkan, meskipun tidak semua. Hanya raja ke-9, ke-10, dan ke-15. Pada masa pemerintahan raja ke-15 inilah tercatat masuknya agama Islam. Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam adalah I Mangngarangi yang kemudian mengubah namanya menjadi Sultan Alauddin yang memerintah dari tahun 1593-1639.

Bagian ketiga adalah Riwayat Hidup Sultan Hasanuddin yang merupakan raja Gowa ke-16. Diuraikan pada bagian ini mulai dari kelahiran I Mallombasi (nama kecil Sultan Hasanuddin), masa kecilnya, masa masa remaja saat mengaji dan mengubah namanya menjadi Muhammad Bakir. Muhammad Bakir juga mempelajari cara dan teknik penggunaan senjata, serta bagaimana mempelajari ilmu pelayaran, bahasa halus yang harus dikuasai sebagai seorang calon raja, juga cara berdiplomasi, penguasaan undang undang dan hukum tata Negara.  Sejarah bangsa Gowa dan silsilah kerajaan juga dikaji secara mendalam. Penobatan Muhammad Bakir sebagai raja ke-16 kerajaan Gowa juga dibahas pada bagian ini. Penobatannya dihadiri oleh para pembesar, penguasa dari berbagai kerajaan, termasuk Gubernur Spayol di Manila, Raja Muda Portugis di Goa (India) dan wakil dari Kerajaan Saudi Arabia.

Perlawanan Sultan Hasanuddin melawan Belanda diuraikan pada bagian selanjutnya. Persoalan Belanda dan Gowa sebenarnya lebih disebabkan oleh masalah perdagangan. Belanda mengingkan Gowa hanya berdagang dengan para pedagan Belanda, tidak boleh dengan pedagang dari Portugis atau bangsa lainnya. Tentu saja, Raja Gowa tidak bisa terima dan merasa sebagai Negara berdaulat, Gowa tidak mau Belanda ikut campur dalam hal perdagangan dengan bangsa lain. Banyak peristiwa penting lainnya yang diuraikan dalam bagian ini, misalnya penyerangan kerajaan kerajaan Bone oleh pasukan Gowa. Gowa juga menyatukan kerajaan kerajaan Bone, Soppeng, Wajo dan Bonthain.

Aru Palakka juga cukup banyak dibahas pada buku ini. Mulai dari penahanan orangtuanya oleh pasukan Gowa, sampai bersekutunya dengan pasukan Belanda untuk membebaskan dirinya dari kerajaan Gowa.

Bagian akhir adalah kekalahan Gowa dari Belanda, terbitnya Perjanjian Bungayya, dan jatuhnya Benteng Somba Opu ketangan Belanda,  Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari pemerintahan kerajaan, dan hari mangkatnya sang Raja pada tanggal 12 Juni 1670 dalam usia 39 tahun. Penghargaan yang diberikan kepada Sultan Hasanuddin setelah beliau wafat, diantaranya pemberian gelar sebagai Haantje van Oosten (Ayam Jantan dari Timur) oleh Belanda, di Makassar, nama Bandara dan nama Universitas diambil dari nama beliau. Di Jakarta dan diberbagai kota di Indonesia selalu ada nama Jalan Sultan Hasanuddin. Semua itu berkat kebesaran jasa Sultan Hasanuddin dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.






November 16, 2021

I FATIMAH DAENG TAKONTU: SRIKANDI DARI TIMUR

I Fatimah Daeng Takontu adalah putra dari Raja Gowa ke-XVI I Mallobasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin dari istrinya I Daeng Talele, salah seorang bangsawan dari Sanrobone. I Fatimah lahir pada 10 September 1659. I Fatimah Daeng Takontu, setalah beranjak dewasa, sifat keberaniannya ayahnya juga telah ia miliki.

Ilmu bela diri yang diturunkan oleh Sultan Hasanuddin kepada I Fatimah Daeng Takontu  maupun kepada Tubarani adalah Tunrun Tallua, Ilmu Bombang Tallua serta Ilmu Tallunlamaka Nammattung, Silamaka Nassa'ra Talang.

I Fatimah sejak masa pemerintahan ayahandanya (1653-1669) telah bangkit sebagai pelopor pergerakan kaum wanita dalam membela wilayah kekuasaannya kerajaan dari pengaruh penjajah Belanda. I Fatimah kala itu, diangkat sebagai pimpinan pasukan Srikandi yang terkenal dengan nama pasukan Balira.

Pasukan Balira ini, bersenjatakan balira yakni salah satu alat yang dipakai orang-orang tua dulu untuk bertenun kain. Panjangnya sekitar 1,5 meter, mirip pedang, tapi tidak tajam, namun keistimewaan balira ini, mampu menembus ilmu kebal dari musuh.

Konon, menurut kepercayaan dari masyarakat Gowa, senjata balira ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Senjata ini tidak melukai, hanya saja bila mana seseorang terkena pukulan balira, mereka tidak mendapatkan keselamatan dan akan terus menderita sakit seumur hidup. Itulah sebabnya, musuh yang tahu tentang senjata balira ini, mereka lebih takut berhadapan pasukan bersenjata balira dibanding dibanding dengan senjata tajam atau senjata api.

Setiap menghadapi pertempuran, pasukan balira ini juga selalu diikutkan. Hanya saja, mereka selalu dikawal oleh pasukan Tubarani yang didominasi oleh kaum lelaki. Pasukan Srikandi ini, tak hanya bersenjata balira, tapi dilengkap dengan senjata tajam atau senjata api bila ada. Di pinggangnya terselip sebilah keris pusaka atau badik dan bilamana pertempuran dari jarak dekat, maka senjata tajam ini bisa digunakan untuk melukai lawan.

I Fatimah Daeng Takontu  yang memimpin pasukan balira, telah berhasil melalukan penyerangan di berbagai tempat di wilayah Kerajaan Gowa. Walaupun semuanya dari kaum hawa, tetapi mereka terlihat gagah berani dalam menghadapi musuh-musuhnya, sehingga salah seorang penyair Belana menjuluki I Fatimahg dengan julukan "Garuda Betina dari Timur". Sedangkan ayahnya Sultan Hasanuddin dijuluki sebagai "Ayam Jantan dari Timur".

I FATIMAH DAENG TAKONTU: SRIKANDI DARI TIMUR membahas perjuangan I Fatimah  anak Mallobasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI untuk memimpin pasukan Srikandi yang ingin menguasai perdagangan di kawasan timur nusantara dengan senjata khusus balira. Beku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


I FATIMAH DAENG TAKONTU: SRIKANDI DARI TIMUR 
Penulis: Syarifuddin Kulle, Zainuddin Tika
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 979-3570-48-2


November 15, 2021

SEJARAH BORONGLOE

Awal mula pemerintahan di Butta Gowa mengenal Karaeng Tumanurung Bainea sebagai Raja Gowa pertama, maka di daerah Gallarrang Borongloe juga mengenal istilah Tumanurunga ri Songkolo bernama I Saunia Daeng Singara yang turun di salah satu batu yang sekarang dikenal dengan istilah Batu Naparana Songkolo. 

Borongloe dulunya bernama Sokkolia, Sokkolia diambil dari kata Sokko yang berarti daratan yang berdekatan dengan sungai Jeneberang sering kena iar sungai pasang seiring dengan pasang surutnya laut di perairan Makassar. Air pasang menurut orang Makassar disebut Bonang, tapi  menurut orang Borongloe disebut Nisokko (air pasang). Mulai saat itulah daerah yang dilalui Sungai Jeneberang disebut Sokkolia.

Pada zaman pemerintahan Raja Gowa VI Karaeng Tunatangkalopi, Sokkolia berubah nama menjadi Bontomanai Iraya yang berdekatan dengan Sungai Jeneberang dan Bontomanai I Lau berada disebelah barat. Namun pada tahun 1900, nama Bontomanai kemudian berubah menjadi Borongloe, karena dalam wilayah itu, terdapat beberapa nama perkampungan yang memaki nama borong, seperti Borong Rappo, Borong Bulo, Borong Kaluku, Borong Unti, Borong Taipa dan sebagainya. Karena banyak daerah memakai nama Borong, sehingga daerah tersebu di berinama Borongloe artinya banyak borong.

Borongloe pada zaman kerajaan merupakan salah satu daerah pemerintahan adat yang bergelar Gallarrang. Selain itu, Borongloe juga termasuk salah satu anggota Bate Salapanga dalam wilayah Kerajaan Gowa. Bate Salapanga ini punya peran yang sangat besar dalam memilih dan mengangkat Raja Gowa serta pengawasan terhadap berbagai kebijakan raja.

Borongloe sebagai anggota Bate Salapanga juga sangat berperan dalam pengambilan keputusan seorang raja. Dalam lontara disebutkan Karaenga Tena Nakkulle Nappu kana punna tena passamaturukanna Bate Salapanga (raja tidak bisa mengambil suatu keputusan sebelum adanya ada persetujuan dari Bate Salapanga) ini menandakan bahwa di Gowa pada zaman dulu menganut sistem demokrasi. Bate Salapanga merupakan wakil rakyat dari kesembilan wilayah dalam Kerajaan Gowa.

Ketika Borongloe masuk anggota Bate Salapanga, posisinya sejajar dengan Kerajaan Gowa. Itulah sebabnya Borongloe dulu dikenal dengan nama Remba-rembaya ri Gowa. Remba-rembaya berarti kalompoang atau kebesaran Kerajaan Gowa berupa salokoa sama derajatnya dengan kalompoang (lambang kebesaran) di Borongloe berupa bendera pusaka.

Di daerah Gallarang Borongloe (sekarang Kecamatan Bontomarannu) memiliki banyak obyek wisata bersejarah, antara lain obyek wisata Danau Mawang, Batu Naparana Songkolo, Makam Salangketo, Biseang Labboro, dan masih banyak lainnya.

Danau Mawang dimana dalam sejarah disebutkan, bahwa Danau Mawang merupakan kawasan industri batu bata untuk memperkuat benteng pertahanan, antara lain bernama Somba Opu, Banteng Anak Gowa, Benteng Barombong dan masih banyak benteng lainnya. Semuanya menggunakan batu bata yang di produksi dari Mawang. Danau Mawang juga merupakan tempat pemancingan ikan oleh tiga orang ulama, yaitu Syekh Yusuf, Dato ri Panggentungan dan Lukmuk ri Antang. Di Danau Mawang, ketiga ulama itu saling mengadu ilmu. Demikian halnya dalam lagenda Danau Mawang, merupakan tempat kubangan kerbau besar yang bernama I Tambak Laulung.

Buku SEJARAH BORONGLOE membahas sejarah Borongloe pada masa pemerintahan Dewa-Dewi, masa hingga menjadi Kecamatan Bontomarannu serta dilengkapi dengan lagenda objek wisata. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-MAkassar.


SEJARAH BORONGLOE 
Penulis: Zainuddin Tika, Abd. Azis, Hj. Dahlia
Penerbit: Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-14794-3-8


December 4, 2020

Karaeng Pattingalloang, Raja Tallo


Judul : Karaeng Pattingalloang

Penulis : Zainuddin Tika dan M. Ridwan Syam

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat terbit : Makassar

Tahun terbit : 2007

Jumlah halaman : ix + 87

ISBN : 979-3570-52-0

Karaeng Pattingalloang adalah sosok negarawan dan cendekiawan dari kerajaan Gowa yang hidup pada abad ke 16 silam. Beliau adalah mangkubumi kerajaan Gowa pada masa Raja Sultan Malikussaid Raja ke-15 Gowa berkuasa. Selain sebagai Mangkubumi, beliau juga seorang Raja yaitu Raja Tallo. Pada masa itu, kerajaan Gowa mencapai puncak masa masa kejayaannya, karena berhasil menguasai banyak kerajaan kerajaan lain di Nusantara. Pada masa itu, didalam istana kerajaan Gowa, juga berkembang ilmu pengetahuan dari barat berkat Karaeng Pattingalloang. Beliau menguasai bahasa Inggris dengan baik, juga bahasa asing lainnya seperti Portugis, Arab, Belanda dan China.

Buku ini adalah kisah hidup cendekiawan asal Gowa Karaeng Pattingalloang. Kisah hidup namun tidak perlu dibaca secara berurutan, karena setiap poin pembahasan adalah topik tersendiri yang bisa dibaca tanpa perlu membaca bagian sebelumnya.

Pengantar Penerbit dan Pengantar Penulis merupakan 2 pembahasan awal pada buku ini. Selanjutnya, susunan bagian dari buku ini adalah sebagai berikut :

1.      Asal Usul Karaeng Pattingalloang

2.      Gowa sebelum Karaeng Pattingalloang

3.      Gowa dimasa Karaeng Pattingalloang

4.      Karaeng Pattingalloang, Islam atau Katolik?

5.      Hubungan Luar Negeri

6.      Haus Dengan llmu Barat

7.      Kuasai Beberapa Bahasa Asing

8.      Pesan pesan Karaeng Pattingalloang

9.      Falsafah Anrong Jangang

10.  Pelaki Tallua Passala

11.  Pembagian Waktu seorang Pemimpin

12.  Kongtu Tojeng

13.  Wejangan Karaeng Pattingalloan

14.  Pesan pesan Daeng Palallo Karaeng Bontorita

15.  Karaeng Tumapa’risi Kallonna

Bagian akhir buku ini memuat Daftar Pustaka dan biografi ringkas penulis buku.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan

 

 


 

November 30, 2020

Profil Raja Raja Gowa

 

Judul : Profil Raja Raja Gowa

Penulis : Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam, Rosdiana Z.

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2008

Jumlah Halaman : viii + 94

ISBN : 979-3570-54-7

Kerajaan Gowa adalah kerajaan terbesar di Nusantara bagian timur pada zaman dulu. Daerah kekuasaannya bahkan sampai ke Kutai, Mindanao (Philipina sekarang), Sumbawa dan pulau Marege di Australia bagian utara. Sepanjang masa kejayaan kerajaan Gowa, telah silih berganti para pemimpinnya, raja raja yang pernah memerintahnya. Ada yang terkenal, namun ada pula yang tidak begitu dikenal. Ada yang dapat ditulis biografi kehidupannya sampai beberapa buku, namun ada pula yang bahkan tidak ada informasi berarti yang dapat diungkap. Buku ini berusaha merangkum profil para raja Gowa yang pernah berkuasa, sejak awal berdirinya sampai berakhirnya masa kerajaan dengan bergabungnya kerajaan dan kesultanan kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam buku ini ada 36 raja yang pernah memerintah di kerajaan Gowa. Hanya ada satu perempuan yaitu raja (ratu) pertama yaitu Tumanurung Bainea. Selanjutnya raja kedua sampai raja terakhir semua laki laki. Adapun susunan nama nama Raja yang pernah memerintah kerajaan Gowa adalah sebagai berikut:

1.      Raja Gowa I                 Tumanurung Bainea

2.      Raja Gowa II                Tumasalangga Baraya

3.      Raja Gowa III               I Puang Loe Lembang

4.      Raja Gowa IV             I Tuniata Banri

5.      Raja Gowa V               Kalampang Ri Gowa

6.      Raja Gowa VI              Tunatangkalopi

7.      Raja Gowa VII             Batara Gowa

8.      Raja Gowa VIII                        I Pakere’ Tau

9.      Raja Gowa IX               Karaeng Tu’mapa’risi Kallonna

10.  Raja Gowa X                Karaeng Tunipallangga Ulaweng

11.  Raja Gowa XI               I Taji Barani Daeng Marompa

12.  Raja Gowa XII              I Manggorai Daeng Mammeta

13.  Raja Gowa XIII             I Tepu Karaeng Daeng Parabbung

14.  Raja Gowa XIV                        I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin

15.  Raja Gowa XV             Sultan Malikussaid

16.  Raja Gowa XVI                        I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin

17.  Raja Gowa XVII           I Mappasomba Daeng Nguraga

18.  Raja Gowa XVIII          I Mappaossong Daeng Mangewai

19.  Raja Gowa XIX             I Mappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil

20.  Raja Gowa XX              La Pareppa To Sappewalie

21.  Raja Gowa XXI             I Mappaurangi Sultan Sirajuddin

22.  Raja Gowa XXII            Sultan Najamuddin

23.  Raja Gowa XXIII           Sultan Sirajuddin

24.  Raja Gowa XXIV          I Mallawagau Karaeng Bontolangkasa

25.  Raja Gowa XXV           I Mappababbasa Sultan Abdul Quddus

26.  Raja Gowa XXVI          Batara Gowa II

27.  Raja Gowa XXVII         Malisujawa Daeng Riboko

28.  Raja Gowa XXVIII        I Temmassongeng Karaeng Katangka

29.  Rajna Gowa XXIX         I Mannawari Karaeng Bontolangkasa

30.  Raja Gowa XXX            I Mappatunru Karaeng Lembang Parang

31.  Raja Gowa XXXI           La Oddang Riu Karaeng Katangka

32.  Raja Gowa XXXII          I Kumala Sultan  Abdul Kadir Muhammad Aidit

33.  Raja Gowa XXXIII         I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka

34.  Raja Gowa XXXIV        I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang

35.  Raja Gowa XXXV         I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo

36.  Raja Gowa XXXVI        Andi Idjo Karaeng Lalolang

Sebagai penutup, ada Daftar Kutipan yaitu sumber sumber informasi yang dikutip oleh penulis dalam penyusunan buku ini. Kemudian Daftar Pustaka, yaitu bahan rujukan yang digunakan oleh penulis dan terakhir Tentang Penulis, yaitu biodata Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam, dan Rosdiana Z.

Buku ini sangat penting untuk dijadikan bahan rujukan dalam penulisan atau penelitian tentang kerajaan Gowa khususnya atau kerajaan kerajaan lain di Sulawesi Selatan pada umumnya.

Koleksi Referensi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.                                                                                                                                                                                                                                                                 


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

 

 

Riwayat Perjuangan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI

 

Judul : Riwayat Perjuangan Sultan Hasanuddin

Penulis : Moh. Alwi Hamu

Penerbit : Bhakti Baru

Kota tempat terbit : Makassar

Tahun Terbit: 1985

Jumlah Halaman : 48

ISBN : -

Tujuan penulisan buku ini menurut penulisnya adalah untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda, sebagai pelanjut perjuangan bangsa. Buku ini merupakan serangkaian buku seri Tokoh Perjuangan Nasional. Sultan Hasanuddin adalah seorang tokoh perjuangan bangsa Indonesia dari Sulawesi Selatan yaitu kerajaan Gowa. Beliau adalah raja Gowa ke-16 dan memerintah dikerajaan Gowa dari tahun 1653-1699.

Buku ini cukup detail mengisahkan kisah kehidupan Sultan Hasanuddin, mulai dari lahir sampai turun tahta dan wafatnya. Meskipun tipis, namun buku ringkas ini cukup lengkap. Buku ini dibagi dalam 12 bagian dan diawali dengan Pendahuluan. Adapun urutan bagian bagian pada buku ini sebagai berikut:

1.      Pendahuluan

2.      Lahir dan Remaja

3.      Dinobatkan menjadi Raja Gowa

4.      Masa Jaya Kerajaan Gowa

5.      Awal Masa Perang

6.      Benteng Pertahanan

7.      Masa Perang Perlawanan

8.      Politik Memecah Belah

9.      Perang Terbuka Diumumkan

10.  Perang Menentukan

11.  Perang Terakhir

12.  Turun Tahta dan Wafat.

Buku ini yang paling ringkas yang membahas tentang Sultan Hasanuddin. Bagi siswa atau mahasiswa atau siapa saja yang tertarik membaca kisah Sultan Hasanuddin yang ringkas, maka buku inilah yang dibutuhkan.

Koleksi Referensi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.